Nama lain untuk ” Al-Qur’an al-Karim “


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah (swt) Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.


إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ ﴿٧٧

77. sesungguhnya Al Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia,

 

فِي كِتَابٍ مَّكْنُونٍ ﴿٧٨

78. pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh),


لَّا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ ﴿٧٩

79. tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan.


تَنزِيلٌ مِّن رَّبِّ الْعَالَمِينَ ﴿٨٠

80. Diturunkan dari Tuhan semesta alam.


أَفَبِهَذَا الْحَدِيثِ أَنتُم مُّدْهِنُونَ ﴿٨١

81. Maka apakah kamu menganggap remeh saja Al Qur’an ini?,

# Al-Waki’ah -77 s/d 81 #

 

 

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Apabila kamu membaca Al Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.

 

Al-Balagh (penyampaian/kabar)

هَـذَا بَلاَغٌ لِّلنَّاسِ وَلِيُنذَرُواْ بِهِ وَلِيَعْلَمُواْ أَنَّمَا هُوَ إِلَـهٌ وَاحِدٌ وَلِيَذَّكَّرَ أُوْلُواْ الأَلْبَابِ ﴿٥٢

52. (Al Qur’an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengannya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.

QS-Ibrahim #

 

Al-Bayan (penerangpenjelas)

هَـذَا بَيَانٌ لِّلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِّلْمُتَّقِينَ ﴿١٣٨

138. (Al Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.

# QS- Al-Imran #

 

Al-Basha’ir (pedoman)

هَذَا بَصَائِرُ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّقَوْمِ يُوقِنُونَ ﴿٢٠

20. Al Qur’an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.

# QS- Al-Jaatsiyaah #

 

Al-Busyra (kabar gembira)

قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِن رَّبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُواْ وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ ﴿١٠٢

102. Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Qur’an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.

# QS- An-Nahl #

 

Adz-Dzikr (pemberi peringatan)

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ ﴿٩

9. Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur’an), dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.

# QS- Al-Hijr #

 

Al-Furqan (pembeda yang benar dan yang salah)

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيراً ﴿١

1. Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam,

# QS- Al-Furqaan #

 

Al-Hikmah (kebijaksanaan)

ذَلِكَ مِمَّا أَوْحَى إِلَيْكَ رَبُّكَ مِنَ الْحِكْمَةِ وَلاَ تَجْعَلْ مَعَ اللّهِ إِلَهاً آخَرَ فَتُلْقَى فِي جَهَنَّمَ مَلُوماً مَّدْحُوراً ﴿٣٩

39. Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhan kepadamu. Dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu dilemparkan ke dalam neraka dalam keadaan tercela lagi dijauhkan (dari rahmat Allah).

# QS- Al-Israa #

 

Al-Huda (petunjuk)

وَأَنَّا لَمَّا سَمِعْنَا الْهُدَى آمَنَّا بِهِ فَمَن يُؤْمِن بِرَبِّهِ فَلَا يَخَافُ بَخْساً وَلَا رَهَقاً ﴿١٣

13. Dan sesungguhnya kami tatkala mendengar petunjuk (Al Qur’an), kami beriman kepadanya. Barangsiapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan.

# QS- Al-Jin #

 

Al-Hukm (peraturan/hukum)

وَكَذَلِكَ أَنزَلْنَاهُ حُكْماً عَرَبِيّاً وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءهُم بَعْدَ مَا جَاءكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللّهِ مِن وَلِيٍّ وَلاَ وَاقٍ ﴿٣٧

37. Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Qur’an itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah.

# QS- Ar-Raad #

 

Al-Kalam (ucapan/firman)

وَإِنْ أَحَدٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلاَمَ اللّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لاَّ يَعْلَمُونَ ﴿٦

6. Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.

# QS- At-Taubah #

 

Al-Kitab (buku)

ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ ﴿٢

2. Kitab (Al- Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,

# QS- Al-Baqarah #

 

Al-Mau’idhah (pelajaran/nasehat)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاء لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ﴿٥٧

57. Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.

# QS- Yunus #


An-Nur (cahaya)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءكُم بُرْهَانٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَأَنزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُوراً مُّبِيناً ﴿١٧٤

174. Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mu`jizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al- Qur’an).

# QS- An-Nisaa’ #

 

Al-Qaul (perkataan/ucapan)

وَلَقَدْ وَصَّلْنَا لَهُمُ الْقَوْلَ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ ﴿٥١

51. Dan sesungguhnya telah Kami turunkan berturut-turut perkataan ini (Al- Qur’an) kepada mereka agar mereka mendapat pelajaran.

# QS-Al-Qashash #

 

Ar-Rahmat (karunia)

وَإِنَّهُ لَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ﴿٧٧

77. Dan sesungguhnya Al- Qur’an itu benar-benar menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.

# QS-An-Naml #

 

Ar-Ruh (ruh)

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحاً مِّنْ أَمْرِنَا مَا كُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِن جَعَلْنَاهُ نُوراً نَّهْدِي بِهِ مَنْ نَّشَاء مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ ﴿٥٢

52. Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al- Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al- Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al- Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

# QS-Asy-Syuura #

 

Asy-Syifa’ (obat/penyembuh)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاء لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ﴿٥٧

57. Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.

QS-Yunus #


At-Tanzil (yang diturunkan)

وَإِنَّهُ لَتَنزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿١٩٢

192. Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam,

QS-Asy-Syuaraa’ #


فَبِأَيِّ آلَاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka ni`mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan

Shadaqallaahu al’azhim al’aliy al hakim

SIFAT DUA PULUH – سبحانه و تعالى‎ الله‎ ( 2 ) sifat wajib.


Sifat Dua Puluh

.

Majelis Rasulullah

Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

Kasih sayang dan Rahmat Nya swt semoga selalu menerangi hari hari anda dg kebahagiaan,

Saudaraku yg kumuliakan,
1. tentunya ada kelebihan dan kekurangannya, namun jumhur ulama kita merujuk pada fatwanya, hal ini tak akan terjadi jika fatwa beliau masih banyak kekurangannya, hal ini terjadi tentunya karena tsiqah dan terpercayanya fatwa fatwa beliau hingga diakui oleh para Imam kita.

2. banyak saudaraku, namun Imam imam kita lebih merujuk pada Imam Asy’ariy.

3. cukup jika ia memahami dg seksama, karena tauhid tak perlu diperluas, ia adalah Iman dan bukan syarah dan dalil.
pernah seorang Imam besar yg dikenal dapat mengeluarkan 1000 ayat Alqur’an yg membuktikan keberadaan Allah, maka ketika ia lewat bersama murid muridnya ada seorang nenek tua yg sedang menyapu jalan, orang orang memerintahkannya minggir, maka ibu itu berkata : “engkaukah yg mampu mengeluarkan dalil keberadaan Allah dg 1000 ayat dari Alqur’an?”, maka Imam itu berkata : “Betul”, maka ibu itu berkata lagi : “apakah keberadaan Allah butuh dalil..?”, maka Imam itu tertunduk malu seraya menangis.., ia malu akan dirinya sendiri..

sebenarnya keberadaan Allah swt tak butuh dalil

karena Dialah Allah Yang Maha Ada, Dialah yg paling berhak untuk tidak diingkari, Dialah yg paling berhak dipercaya, dalil adalah bagi yg tak dipercaya, dalil adalah untuk yg diingkari, dan Allah Maha Suci dari itu semua.

hanya kalangan wahabi saja yg memperpanjang masalah tauhid, karena jiwa mereka mengingkari, merreka butuh setumpuk dalil aqli dan naqli untuk beriman pada Allah,

beda dengan kita dan para sahabat Nabi saw, yg beriman kepada Allah swt tanpa perlu setumpuk dalil Aqli dan Naqli, dan Rasul saw pun tak menumpukkan seratus dalil tentang keberadaan Allah, beliau menyingkat makna makna tauhid, lalu mereka bersyahadat maka sah lah keislamannya.

4. tidak saudaraku, itu sudah cukup, namun untuk memperjelas maka boleh sedikit diperluas dg mempelajari sifat dua puluh, dan boleh saja dipelajari, jika tidak pun tauhid kita tetap sah.

Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga sukses dg segala cita cita, semoga dalam kebahagiaan selalu,

Wallahu a’lam

http://www.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=28&func=view&catid=7&id=16084

.

Wajib bagi setiap mukallaf dan muslim mempercayai bahwa terdapat beberapa sifat kesempurnaan yang tidak terhingga bagi Allah. Maka, wajib juga dipercayai akan sifat Allah yang dua puluh dan perlu diketahui juga sifat yang mustahil bagi Allah. Sifat yang mustahil bagi Allah merupakan lawan kepada sifat wajib.

Sifat wajib pula terbahagi juga empat bagian iaitu nafsiah, salbiah, ma’ani atau ma’nawiah.

Sifat Wajib

Tulisan Arab

Maksud

Sifat

Sifat Mustahil

Tulisan Arab

Maksud

Wujud

ﻭﺟﻮﺩ

Ada Nafsiah Adam

ﻋﺪﻡ

Tiada
Qidam

ﻗﺪﻡ

Sedia Salbiah Haduth

ﺣﺪﻭﺙ

Baharu
Baqa

ﺑﻘﺎﺀ

Kekal Salbiah Fana

ﻓﻨﺎﺀ

Akan binasa
Mukhalafatuhu lilhawadith

ﻣﺨﺎﻟﻔﺘﻪ ﻟﻠﺤﻮﺍﺩﺙ

Bersalahan Allah Ta’ala dengan segala yang baharu Salbiah Mumathalatuhu lilhawadith

ﻣﻤﺎﺛﻠﺘﻪ ﻟﻠﺤﻮﺍﺩﺙ

Menyamai atau bersamaan bagi-Nya dengan suatu yang baru
Qiamuhu binafsih

ﻗﻴﺎﻣﻪ ﺑﻨﻔﺴﻪ

Berdiri-Nya dengan sendiri Salbiah Qiamuhu bighairih

ﻗﻴﺎﻣﻪ ﺑﻐﻴﺮﻩ

Berdiri-Nya dengan yang lain
Wahdaniat

ﻭﺣﺪﺍﻧﻴﺔ

Esa Allah Ta’ala pada dzat,pada sifat dan pada perbuatan Salbiah Ta’addud

ﺗﻌﺪﺩ

Berbilang-bilang
Qudrat

ﻗﺪﺭﺓ

Berkuasa Ma’ani Ajzun

ﻋﺟﺰ

Lemah
Iradat

ﺇﺭﺍﺩﺓ

Berkehendak menentukan Ma’ani Karahah

ﻛﺮﺍﻫﻪ

Benci iaitu tidak menentukan
Ilmu

ﻋﻠﻢ

Mengetahui Ma’ani Jahlun

ﺟﻬﻞ

Bodoh
Hayat

ﺣﻴﺎﺓ

Hidup Ma’ani Al-Maut

ﺍﻟﻤﻮﺕ

Mati
Sama’

ﺳﻤﻊ

Mendengar Ma’ani As-Summu

ﺍﻟﺻﻢ

Pekak
Basar

ﺑﺼﺮ

Melihat Ma’ani Al-Umyu

ﺍﻟﻌﻤﻲ

Buta
Kalam

ﻛﻼ ﻡ

Berkata-kata Ma’ani Al-Bukmu

ﺍﻟﺑﻜﻢ

Bisu
Kaunuhu qaadiran

ﻛﻮﻧﻪ ﻗﺎﺩﺭﺍ

Keadaan-Nya yang berkuasa Ma’nawiyah Kaunuhu ajizan

ﻛﻮﻧﻪ ﻋﺎﺟﺰﺍ

Keadaan-Nya yang lemah
Kaunuhu muriidan

ﻛﻮﻧﻪ ﻣﺮﻳﺪﺍ

Keadaan-Nya yang berkehendak menentukan Ma’nawiyah Kaunuhu kaarihan

ﻛﻮﻧﻪ ﻛﺎﺭﻫﺎ

Keadaan-Nya yang benci iaitu tidak menentukan
Kaunuhu ‘aliman

ﻛﻮﻧﻪ ﻋﺎﻟﻤﺎ

Keadaan-Nya yang mengetahui Ma’nawiyah Kaunuhu jahilan

ﻛﻮﻧﻪ ﺟﺎﻫﻼ

Keadaan-Nya yang bodoh
Kaunuhu hayyan

ﻛﻮﻧﻪ ﺣﻴﺎ

Keadaan-Nya yang hidup Ma’nawiyah Kaunuhu mayitan

ﻛﻮﻧﻪ ﻣﻴﺘﺎ

Keadaan-Nya yang mati
Kaunuhu sami’an

ﻛﻮﻧﻪ ﺳﻤﻴﻌﺎ

Keadaan-Nya yang mendengar Ma’nawiyah Kaunuhu asamma

ﻛﻮﻧﻪ ﺃﺻﻢ

Keadaan-Nya yang pekak
Kaunuhu basiiran

ﻛﻮﻧﻪ ﺑﺼﻴﺭﺍ

Keadaan-Nya yang melihat Ma’nawiyah Kaunuhu a’maa

ﻛﻮﻧﻪ ﺃﻋﻤﻰ

Keadaan-Nya yang buta
Kaunuhu mutakalliman

ﻛﻮﻧﻪ ﻣﺘﻜﻠﻤﺎ

Keadaan-Nya yang berkata-kata Ma’nawiyah Kaunuhu abkam

ﻛﻮﻧﻪ ﺃﺑﻜﻢ

Keadaan-Nya yang kelu

Sifat kesempurnaan

Dua puluh yang tertera di atas yang wajib bagi Allah terkandung di dalam dua sifat kesempurnaan. Sifat tersebut adalah:

  • Istigna’ ( ﺇﺳﺘﻐﻨﺎﺀ )

·         Kaya Allah daripada sekelian yang lain daripada-Nya iaitu tidak berkehendak ia kepada sesuatu. Maksudnya, Allah tidak mengkehendaki yang lain menjadikan-Nya dan tidak berkehendakkan tempat berdiri bagi zat-Nya. Contohnya, Allah tidak memerlukan dan tidak mengkehendaki malaikat untuk menciptakan Arasy.

·         Maka, Maha suci Tuhan daripada tujuan pada sekelian perbuatan dan hukum-hukumnya dan tidak wajib bagi-Nya membuat sesuatu atau meninggalkan sesuatu.

·         Sifatnya: wujud, qidam, baqa’, mukhalafatuhu lilhawadith, qiamuhu binafsih, sama’, basar, kalam, kaunuhu sami’an, kaunuhu basiran, kaunuhu mutakalliman.

  • Iftiqar ( ﺇﻓﺘﻘﺎﺭ )

·         Yang lain berkehendakkan sesuatu daripada Allah iaitu yang lain berkehendakkan daripada Allah untuk menjadikan dan menentukan mereka dengan perkara yang harus. Contohnya, manusia memohon kepada Allah melancarkan hidupnya.

·         Sifatnya: wahdaniat, qudrat, iradat, ilmu, hayat, kaunuhu qadiran, kaunuhu muridan, kaunuhu hayyan.

Sifat yang harus

Sifat harus atau sifat jaiz juga dimiliki oleh Allah. Harus bagi Allah memperbuatkan sesuatu yang harus ada atau tiada atau meninggalkannya. Contohnya, harus bagi Allah menciptakan langit, bumimatahari dan yang lain dan harus juga bagi Allah untuk tidak menciptakannya. Tidak wajib bagi Allah membuat sesuatu seperti menghidupkan atau mematikan bahkan itu harus pada hak Allah.

Sifat-Sifat Allah

Sifat-sifat Allah terbagi menjadi dua bagian.

Bagian pertama

adalah sifat dzatiyah

yakni sifat yang senantiasa melekat denganNya. Sifat ini tidak berpisah dari DzatNya

Seperti

 الْعِلْمُ

(ilmu)

 الْقُدْرَةُ

(kekuasan)

 السَّمْعُ

(mendengar)

 الْبَصَرُ

(melihat)

 الْعِزَّةُ

(kemuliaan)

 الْحِكْمَةُ

(hikmah)

 الْعُلُوَّ

(ketinggian)

 الْعَظَمَةُ

(keagungan)

 الْوَجْهُ

(wajah)

 الْيَدَيْنِ

(dua tangan)

 الْعَيْنَيْنِ

(dua mata)

Bagian kedua

adalah sifat fi’liyah

Yaitu sifat yang Dia perbuat jika berkehendak

Seperti

bersemayam di atas ‘Arsy

turun ke langit dunia ketika tinggal sepertiga akhir dari malam

  datang pada hari Kiamat.
Berikut ini kami sebutkan sejumlah sifat-sifat Allah dengan dalil dan keterangannya, apakah ia termasuk dzatiy atau fi’liy?!

 Al-qudrah (berkuasa)

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:

“… dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu…”

( Al-Maidah: 120 )

” Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.”

( Al-Baqarah: 20 )

” Dan adalah Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”

( Al-Kahfi: 45 )

” Katakanlah: ‘Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu’.”

( Al-An’am: 65 )

” Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembali-kannya (hidup sesudah mati).”

( Ath-Thariq: 8 )

.
Dia telah menetapkan sifat qudrah, kuasa untuk melakukan apa saja, sebagaimana Dia juga menafikan dari DiriNya sifat ‘ajz (lemah) dan lughub (letih).

.
Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:

” Dan tiada sesuatu pun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.”

(Fathir: 44)

” Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikit-pun tidak ditimpa keletihan.”

 ( Qaf: 38 )

Dia memiliki qudrah yang mutlak dan sempurna sehingga tidak ada sesuatu pun yang melemahkanNya. Tidaklah ada penciptaan makhluk dan pembangkitan mereka kembali kecuali bagaikan satu jiwa saja.

” Sesungguhnya perintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ maka terjadilah ia.”

( Yasin: 82 )

Maka seluruh makhlukNya, baik yang di atas maupun yang di bawah, menunjukkan kesempurnaan qudrah-Nya yang menyeluruh. Tidak ada satu partikel pun yang keluar dariNya. Cukuplah menjadi dalil bagi seorang hamba manakala ia melihat kepada penciptaan diri-nya; bagaimanakah Allah menciptakannya dalam bentuk yang paling baik, membelah baginya pendengaran dan penglihatannya, mencipta-kan untuknya sepasang mata, sebuah lisan dan sepasang bibir? Kemudian apabila ia melayangkan pandangannya ke seluruh jagat raya ini maka ia akan melihat berbagai keajaiban qudrah-Nya yang menunjuk-kan keagunganNya.

Al-iradah ( berkehendak )

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:

” Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendakiNya.”

( Al-Maidah: 1 )

” Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.”

( Al-Hajj: 14 )

” Mahakuasa berbuat apa yang dikehendakiNya.”

( Al-Buruj: 16 )

” Sesungguhnya perintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ maka terjadilah ia.”

( Yasin: 82 )

Ayat-ayat ini menetapkan iradah untuk Allah Subhannahu wa Ta’ala yakni di antara sifat Allah yang ditetapkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ahlus-Sunnah wal Jama’ah menyepakati bahwa iradah itu ada dua macam:

Iradah Kauniyah

sebagaimana yang terdapat dalam ayat:

” Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit …”

( Al-An’am: 125 )

Yaitu iradah yang menjadi persamaan masyi’ah (kehendak Allah), tidak ada bedanya antara masyi’ah dan iradah kauniyah.

 Iradah Syar’iyah,

sebagaimana terdapat dalam ayat:

” Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.”

( Al-Baqarah: 185 )

Perbedaan antara keduanya ialah:
Iradah kauniyah pasti terjadi, sedangkan iradah syar’iyah tidak harus terjadi; bisa terjadi bisa pula tidak.

Iradah kauniyah meliputi yang baik dan yang jelek, yang bermanfaat dan yang berbahaya bahkan meliputi segala sesuatu. Sedangkan iradah syar’iyah hanya terdapat pada yang baik dan yang bermanfaat saja.

Iradah kauniyah tidak mengharuskan mahabbah (cinta Allah). Terkadang Allah menghendaki terjadinya sesuatu yang tidak Dia cintai, tetapi dari hal tersebut akan lahir sesuatu yang dicintai Allah. Seperti penciptaan Iblis dan segala yang jahat lainnya un-tuk ujian dan cobaan. Adapun iradah syar’iyah maka di antara konsekuensinya adalah mahabbah Allah, karena Allah tidak menginginkan dengannya kecuali sesuatu yang dicintaiNya, seperti taat dan pahala.

 Al-’Ilmu ( Ilmu )

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:

“… Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata …”

( Al-Hasyr: 22 )

“… Yang mengetahui yang ghaib. Tidak ada tersembunyi dari-padaNya seberat zarrah pun yang ada di langit dan yang ada di bumi …”

( Saba’: 3 )

“. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan di bumi.”

( Al-Hujurat: 18 )

Yang dimaksud dengan ghaib adalah yang tidak diketahui oleh manusia, tetapi Allah mengetahuinya.

“. Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satu pun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit.”

( Ali Imran: 5 )

Yang dimaksud dengan syahadah adalah apa yang disaksikan dan dilihat oleh manusia. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:

“… dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah …”

( Al-Baqarah: 255 )

“. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak menge-tahui.”

( An-Nahl: 74 )

Di antara dalil yang menunjukkan atas ilmuNya yang luas adalah firman Allah Subhannahu wa Ta’ala :

“… agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmuNya benar-benar meliputi segala sesuatu…”

( Ath-Thalaq: 12 )

Di antara dalilnya yang lain ialah hasil ciptaanNya yang sangat teliti dan sempurna. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:

“…Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan)…?”

( Al-Mulk: 14 )

Karena mustahil bisa menciptakan benda-benda di alam ini de-ngan sangat teliti dan sempurna kalau bukan Yang Maha Mengetahui. Yang tidak mengetahui dan tidak mempunyai ilmu tidak mungkin menciptakan sesuatu, seandainya ia menciptakan tentu tidak akan teliti dan sempurna. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:

“…Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula) …”

( Al-An’am: 59 )

” Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, dan menge-tahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati.”

( At-Taghabun: 4 )

Dan masih banyak lagi ayat-ayat tentang masalah ini. Syaikh Ibnu Taimiyah berkata,

 Muslimin memahami, sesungguhnya Allah mengetahui segala sesuatu sebelum benda-benda itu ada dengan ilmuNya dan qadim azaliy yang merupakan salah satu dari konsekuensi DiriNya yang Mahasuci. Dan Dia tidak mengambil ilmu tentang benda itu dari benda itu sendiri.

“Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui?”

( Al-Mulk: 14 )

Al-Hayat (Hidup)

Yaitu sifat dzatiyah azaliyah yang tetap untuk Allah, karena Allah bersifat dengan ‘ilmu, qudrat dan iradah; sedangkan sifat-sifat itu tidaklah ada kecuali dari yang hidup. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:

” Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya) …”

( Al-Baqarah: 255 )

“Dialah Yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia …” ( Ghafir: 65 )

” Dan bertawakkallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati …”

( Al-Furqan: 58 )

Ayat-ayat di atas menetapkan sifat hayat bagi Allah. Dan bahwa Al-Hayyul Qayyum adalah “Al-Ismul A’zham” (nama yang paling agung) yang jika Allah dipanggil dengannya pasti Dia mengabulkan, jika Dia dimintai dengannya pasti Dia memberi; karenanya hayat menunjukkan kepada seluruh sifat-sifat dzatiyah, dan qayyum menun-jukkan kepada seluruh sifat-sifat fi’liyah.

Jadi seluruh sifat kembali kepada dua nama yang agung ini. BagiNya adalah kehidupan yang sempurna; tidak ada kematian, tidak ada kekurangan, tidak ada kantuk dan tidak ada tidur. Dialah Al-Qayyum, yang menegakkan yang lainNya dengan memberinya sebab-sebab kelangsungan dan kebaikan.

5. As-Sam’u (Mendengar) Dan Al-Bashar (Melihat)

Keduanya termasuk sifat dzatiyah Allah. Allah menyifati diriNya dengan kedua-duanya dalam banyak ayat, seperti firmanNya:

” Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

( Asy-Syura: 11 )

” Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

( An-Nisa’: 58 )

“… Sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat.”

( Thaha: 46 )

Pendengaran Allah Subhannahu wa Ta’ala menangkap semua suara, baik yang keras maupun yang pelan; mendengar semua suara dengan semua bahasa dan dapat membedakan semua kebutuhan masing-masing. Satu pen-dengaran tidak mengganggu pendengaran yang lain. Berbagai macam bahasa dan suara tidaklah membuat samar bagiNya.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:

” Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

( Al-Mujadalah: 1 )

“Apakah mereka mengira, bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka?”

( Az-Zukhruf: 80 )

Sebagaimana Allah juga melihat segala sesuatu, dan tidak ada sesuatu pun yang menutupi penglihatanNya. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:

” Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?”

( Al-’Alaq: 14 )

” Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) perobahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.”

( Asy-Syu’ara: 218-219 )

“…Dan katakanlah: ‘Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu itu …”

( At-Taubah: 105 )

” Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit.”

( Ali Imran: 5 )

Yang tidak mendengar dan melihat tidak layak untuk menjadi Tuhan. Allah Subhannahu wa Ta’ala menceritakan tentang Ibrahim Alaihissalam yang berbicara kepada bapaknya sebagai protes atas penyembahan mereka terhadap berhala.

” Mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak bisa mendengar dan melihat.”

( Maryam: 42 )

” Apakah berhala-berhala itu mendengar (do`a) mu sewaktu kamu berdo`a (kepadanya)?”

( Asy-Syu’ara: 72 )

6. Al-Kalam ( Berbicara )

Di antara sifat Allah yang dinyatakan oleh Al-Qur’an, As-Sunnah, ijma’ salaf dan para imam adalah Al-Kalam. Sesungguhnya Allah Subhannahu wa Ta’ala berbicara sebagaimana yang Dia kehendaki; kapan Dia menghendaki dan dengan apa Dia kehendaki, dengan suatu kalam (pembicaraan) yang bisa didengar. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:

“ Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan (nya) dari-pada Allah.”

( An-Nisa’: 87 )

” Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?”

( An-Nisa’: 122 )

” Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.”

( An-Nisa’: 164 )

“… Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) …”

( Al-Baqarah: 253 )

” (Ingatlah), ketika Allah berfirman, ‘Hai Isa …”

( Ali Imran: 55 )

” Dan Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan gunung Thur dan Kami telah mendekatkannya kepada Kami di waktu dia munajat (kepada Kami).”

( Maryam: 52 )

” Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu menyeru Musa …”

( Asy-Syu’ara: 10 )

” Dan (ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru mereka …”

( Al-Qashash: 62 )

“…supaya ia sempat mendengar firman Allah…”

( At-Taubah: 6 )

“… padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, …”

( Al-Baqarah: 75 )

Semua ayat ini menetapkan sifat hadits (ucapan), qaul (perkata-an), kalam (pembicaraan), nida’ (seruan) dan munajat. Semuanya adalah termasuk jenis kalam yang tetap bagi Allah sesuai dengan keagunganNya.

Kalam Allah termasuk sifat dzatiyah, karena terus menyertai Allah dan tidak pernah berpisah dariNya. Juga termasuk sifat fi’liyah, karena berkaitan dengan masyi’ah dan qudrah-Nya. Allah Subhannahu wa Ta’ala juga menyebutkan bahwa yang tidak bisa berbicara tidak pantas untuk menjadi Tuhan.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:

” Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gunung Thur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka?”

 ( Al-A’raf: 148 )

Kalam adalah sifat kesempurnaan, sedangkan bisu adalah sifat kekurangan. Dan Allah memiliki sifat kesempurnaan, suci dari keku-rangan.

7. Al-Istiwa’ ‘Alal-’Arsy (Bersemayam Di Atas ‘Arsy)

Ia adalah termasuk sifat fi’liyah. Allah Subhannahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa Dia bersemayam di ata ‘Arsy, pada tujuh tempat di dalam kitabNya.

Pertama, pada surat Al-A’raf :

” Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas `Arsy …”

( Al-A’raf: 54 )

Kedua, pada surat Yunus:

” Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy …”

( Yunus: 3 )

Ketiga, pada surat Ar-Ra’d:

“Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy …”

( Ar-Ra’d: 2 )

Keempat, pada surat Thaha:

” (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy …”

( Thaha: 5 )

Kelima, pada surat Al-Furqan:

“… kemudian Dia bersemayam di atas Arsy, (Dialah) Yang Maha Pemurah …”

( Al-Furqan: 59 )

Keenam, pada surat As-Sajdah:

” Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersema-yam di atas `arsy.”

( As-Sajdah: 4 )

Ketujuh, pada surat Al-Hadid:

” Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy …”

( Al-Hadid: 4 )

Dalam ketujuh ayat ini lafazh istawa’ datang dalam bentuk dan lafazh yang sama. Maka hal ini menyatakan bahwa yang dimaksudkan adalah maknanya yang hakiki yang tidak menerima ta’wil, yaitu ke-tinggian dan keluhuranNya di atas ‘Arsy.

‘Arsy menurut Bahasa Arab adalah singgasana untuk raja. Sedangkan yang dimaksud dengan ‘Arsy di sini adalah singgasana yang mempunyai beberapa kaki yang dipikul oleh malaikat, ia merupakan atap bagi semua makhluk. Sedangkan bersemayamnya Allah di atas-nya ialah yang sesuai dengan keagunganNya.

Kita tidak mengetahui kaifiyah (cara) nya, sebagaimana kaifiyah sifat-sifatNya yang lain. Akan tetapi kita hanya menetapkannya sesuai dengan apa yang kita pahami dari maknanya dalam bahasa Arab, sebagaimana sifat-sifat lainnya, karena memang Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab.

8. Al-’Uluw (Tinggi) Dan Al-Fawqiyyah (Di Atas)

Dua sifat Allah yang termasuk dzatiyah adalah ketinggianNya di atas makhluk dan Dia di atas mereka. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:

” Dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.”

( Al-Baqarah: 255 )

” Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi.”

( Al-A’la: 1 )

” Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit.”

( Al-Mulk: 16 )

Maksudnya “Dzat yang ada di atas langit” apabila yang dimaksud dengan sama’ (dalam ayat tersebut) adalah langit, atau “Dzat yang di atas” jika yang dimaksud dengan sama’ adalah sesuatu yang ada di atas. Sebagaimana Dia menggambarkan tentang diangkatnya apa-apa kepadaNya:

“… sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepadaKu …”

( Ali Imran: 55 )

Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat `Isa kepada-Nya.”

( An-Nisa’: 158 )

Dan tentang shu’ud (naik)nya sesuatu kepadaNya:

“… KepadaNya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shalih dinaikkanNya.”

( Fathir: 10 )

Dan tentang ‘uruj (naik)nya sesuatu kepadaNya:

” Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan …”

( Al-Ma’arij: 4 )

‘Uruj dan shu’ud adalah naik. Dalil-dalil semacam ini menunjuk-kan kepada ‘uluw (ketinggian) Allah di atas makhlukNya. Begitu pula fawqiyah-Nya ditetapkan oleh berbagai dalil, di antaranya adalah firman Allah Subhannahu wa Ta’ala :

” Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hambaNya …”

( Al-An’am: 18 )

” Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka.”

( An-Nahl: 50 )

Perbedaan antara ‘uluw dan istiwa’ adalah bahwasanya ‘uluw ada-lah sifat dzat, sedangkan istiwa’ adalah sifat fi’il. ‘Uluw mempunyai tiga makna:
- ‘Uluwudz-Dzat (DzatNya di atas makhluk)
- ‘Uluwudz-Qahr (kekuatanNya di atas makhluk)
- ‘Uluwul-Qahr (kekuasaanNya di atas makhluk)
Kesemuanya itu adalah sifat yang benar untuk Allah Subhannahu wa Ta’ala .

9. Al-Ma’iyyah (Kebersamaan)

Ia adalah sifat yang tetap bagi Allah berdasarkan dalil yang banyak sekali. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:

” Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.”

( At-Taubah: 40 )

 ” Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.”

( Al-Hadid: 4 )

“… sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat”.

( Thaha: 46 )

Dalil-dalil di atas menetapkan bahwa Allah Subhannahu wa Ta’ala selalu bersama hambaNya, di mana pun mereka berada.

Arti ma’iyah:

Ma’iyah Allah terhadap makhlukNya ada dua macam:

Ma’iyah umum bagi semua makhlukNya. Maksudnya, pengetahuan Allah terhadap amal perbuatan hamba-hambaNya, gerakan yang zhahir dan yang batin, perhitungan amal dan pengawasan ter-hadap mereka.

Tidak ada sesuatu pun dari mereka yang lepas dari pengawasan Allah di mana pun mereka berada. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:

“… Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada …”

( Al-Hadid: 4 )

Ma’iyah khusus untuk orang-orang mukmin. Maknanya, pengawasan dan pengetahuan Allah terhadap mereka, serta pertolongan, dukungan dan penjagaan Allah untuk mereka dari tipu muslihat musuh-musuh mereka.

“… Sesungguhnya Aku bersama kamu berdua. Aku mendengar dan melihat.”

( Thaha: 46 )

“… Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita …”

( At-Taubah: 40 )

Catatan Penting:

Dari uraian di atas, jelaslah makna Ma’iyah Allah terhadap hambaNya bukan berarti “Allah bercampur dengan mereka melalui DzatNya”, Mahasuci Allah dari hal tersebut, karena hal itu adalah “madzhab hululiyah” yang sesat, batil dan kufur.
Karena Allah di atas para hambaNya dan Maha tinggi di atas mereka, tidak bercampur DzatNya dengan mereka, bersemayam di atas ‘Arsy-Nya dan Dia bersama mereka dengan ilmuNya, mengetahui segala hal ihwal mere-ka, mengawasi mereka dan mereka tidak sedikit pun bisa menghilang dari pandangan Allah.

Ma’iyah dapat digunakan untuk kebersamaan yang mutlak, sekali pun tidak ada sentuhan atau percampuran. Anda mengatakan, “ مَتَاعِى مَعِى ” (barang/harta saya ada bersama saya). Padahal harta tersebut ada di atas kepala anda atau di atas kendaraan anda atau di atas kuda anda. Anda mengatakan, “Kami terus saja berjalan, dan rembulan bersama kami”, padahal dia ada di langit, akan tetapi ia tetap menerangi dan tidak hilang dari pandangan anda, sedang yang sampai hanyalah cahaya dan penerangannya saja.

10. Al-Hubb (Cinta) Dan Ar-Ridha (Ridha)

Ia adalah dua sifat yang tetap bagi Allah dan termasuk sifat fi’liyah. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:

” Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin …”

( Al-Fath: 18 )

“… Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha terha-dapNya …”

( Al-Maidah: 119 )

” Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafa`at mereka sedikit pun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya).”

( An-Najm: 26 )

“… maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya …”

( Al-Maidah: 54 )

” Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”

( Al-Baqarah: 222 )
“… sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”

( Al-Baqarah: 195 )

Dalam ayat-ayat ini terdapat ketetapan adanya sifat mahabbah dan ridha bagi Allah. Bahwasanya Dia mencintai sebagian manusia dan meridhai mereka. Dan Dia mencintai sebagian amal dan akhlak, yaitu cinta dan ridha yang hakiki yang sesuai dengan keagunganNya Yang Mahasuci. Tidak seperti cintanya makhluk untuk makhluk atau ridhanya. Di antara buah cinta dan ridha ini ialah terwujudnya taufiq dan pemuliaan serta pemberian nikmat kepada hamba-hambaNya yang Dia cintai dan Dia ridhai. Dan bahwa terwujudnya cinta dan ridha dari Allah untuk hambaNya adalah dikarenakan amal shalih yang di antaranya adalah takwa, ihsan dan ittiba’ kepada Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam .

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:
Katakanlah:

” Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi …”

( Ali Imran: 31 )

(( وَلاَ يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ))

” Dan senantiasa hambaKu mendekat kepadaKu dengan melaksa-nakan ibadah-ibadah ‘sunnah’ sehingga Aku mencintainya.”

( HR. Al-Bukhari )

11. As-Sukhtu (Murka) Dan Al-Karahiyah ( Benci )

Sebagaimana Allah mencintai hambaNya yang mukmin dan meri-dhainya, maka Dia juga memurkai orang-orang kafir dan munafik, membenci mereka dan membenci amal perbuatan mereka.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:

” Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka …”

( Al-Ma’idah: 80 )

“… tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka …”

( At-Taubah: 46 )

Murka dan benci adalah dua sifat yang tetap bagi Allah sesuai dengan keagunganNya. Di antara dampak dari keduanya adalah terja-dinya berbagai musibah dan siksaan terhadap orang-orang yang di-murkaiNya dan dibenci perbuatannya.

12. Al-Wajhu (Wajah), Al-Yadaani (Dua Tangan) Dan Al-’Ainaani (Dua Mata)

Ini adalah sifat-sifat dzatiyah Allah sesuai dengan keagunganNya. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:

” Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.”

(Ar-Rahman: 27)

” Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Wajah Allah.”

(Al-Qashash: 88)

Dua ayat tersebut menekankan wajah untuk Allah. Kita mene-tapkannya untuk Allah Subhannahu wa Ta’ala sesuai dengan keagunganNya sebagaimana Dia sendiri menetapkan untukNya. Dan Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:

” (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki.”

( Al-Ma’idah: 64 )

“… apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tanganKu. …”.

( Shaad: 75 )

Dua ayat tersebut menetapkan dua tangan untuk Allah I. Dan Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:

“… maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, …”

( Ath-Thur: 48 )

Maksudnya adalah “berada dalam penglihatan dan penjagaan Kami”. “Yang berlayar dengan pemeliharaan Kami …”

( Al-Qamar: 14 )

Maksudnya adalah

” dalam penglihatan Kami dan di bawah pemeliharaan Kami”

“… dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasanKu.”

( Thaha: 39 )

Disebutkan lafazh ‘ain (mata) dan a’yun (beberapa mata) sesuai dengan apa yang disandarkan kepadanya, berbentuk tunggal atau ja-mak sesuai dengan ketentuan bahasa Arab.

Dan disebutkan dalam sunnah yang suci sesuatu yang menun-jukkan makna tatsniyah (dua). Rasul Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda ketika menyifati Dajjal yang mengaku sebagai tuhan,

(( أَنَّهُ أَعْوَرُ، وَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ ))

” Sesungguhnya dia adalah buta sebelah, dan sesungguhnya Tuhanmu tidaklah buta sebelah.”

( HR. Al-Bukhari dan Muslim )

Ini jelas, bahwa maksudnya bukanlah menetapkan satu mata, karena mata yang sebelah jelas cacat (buta). Mahasuci dari hal yang demikian. Maka dalam ayat-ayat dan hadits tersebut terdapat penetapan terhadap dua mata bagi Allah, sesuai dengan apa yang pantas bagi keagunganNya sebagaimana sifat-sifatNya yang lain.

13. Al-’Ajab (Heran)

Ia adalah sifat yang tetap bagi Allah Subhannahu wa Ta’ala sesuai dengan apa yang pantas bagi keagunganNya, sebagaimana yang ada dalam beberapa nash-nash shahih dan sharih (jelas). Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:

عَجِبَ رَبُّنَا مِنْ قُنُوْطِ عِبَادِهِ وَقُرْبِ غِيَرِهِ يَنْظُرُ إِلَيْكُمْ أَزِلِيْنَ قَنِطِيْنَ فَيَظَلُّ يَضْحَكُ يَعْلَمُ أَنَّ فَرَجَكُمْ قَرِيْبٌ 

” Tuhan kita merasa heran terhadap keputus asaan hamba-ham-baNya padahal telah dekat perubahan (keadaan dari kesulitan kepada kemudahan) olehNya. Dia melihat kepadamu yang dalam keadaan sempit (susah) dan berputus asa. Dia pun tertawa, Dia mengetahui bahwa pertolonganNya untukmu adalah dekat.”

( HR. Ahmad dan lainnya )

Dalam hadits ini terdapat sifat heran dan tertawa, yaitu dua sifat Allah dari sifat-sifat fi’liyah-Nya sebagaimana sifat-sifatNya yang lain. Tidaklah keherananNya sama dengan keheranan makhluk, dan tidaklah pula tertawaNya sama dengan tertawanya makhluk. Tidak ada sesuatu pun yang menyamaiNya.

14. Al-Ityan Dan Al-Maji’ (Datang)

Keduanya adalah sifat fi’liyah Allah Subhannahu wa Ta’ala . Dia berfirman:

” Janganlah (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan ber-turut-turut, dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris.”

( Al-Fajr: 21-22 )

“Tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan datangnya Allah dan malaikat (pada hari kiamat) dalam naungan awan, …”

(Al-Baqarah: 210)

” Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malai-kat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka), atau kedata-ngan Tuhanmu atau kedatangan sebagian tanda-tanda Tuhanmu. …”

( Al-An’am: 158 )

Ayat-ayat tersebut menetapkan sifat ityan dan maji’ bagi Allah I , yaitu datang dengan DzatNya secara sebenarnya untuk memutuskan hukum antara hamba-hambaNya pada hari Kiamat, sesuai dengan ke-agunganNya. Sifat datang dan mendatangi itu tidak sama dengan sifat makhluk. Mahasuci Allah dengan hal itu.

15. Al-Farah ( Gembira )

Al-Farah adalah sifat yang tetap bagi Allah. Ia merupakan salah satu dari sifat fi’liyah-Nya sesuai dengan keagunganNya. Dalam hadits shahih Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam menyatakan bahwasanya Allah sangat bergembira karena taubat seorang hambaNya. Beliau Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:

(( اللَّـهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ بِرَاحِلَتِهِ ))

“Allah amat gembira karena taubat hamba melebihi kegembira-an salah seorang dari kalian karena (telah menemukan) kendara-annya (kembali).”

 ( HR. Al-Bukhari dan Muslim )

Kegembiraan Allah ini adalah kegembiraan berbuat baik dan sayang, bukan kegembiraan seorang yang membutuhkan kepada taubat hambaNya yang bisa diambil manfaatnya. Karena sesungguhnya Allah Mahakaya, tidak membutuhkan ketaatan hambaNya. Akan teta-pi Dia bergembira untuk itu karena kebaikanNya, sayangNya dan anugerahNya kepada pada hambaNya yang mukmin; sebab Dia mencintai dan menginginkan kebaikan serta keselamatan hamba dari siksaan-Nya.

Keempat: Pendapat-Pendapat Golongan Sesat Tentang Sifat-Sifat Ini Beserta Bantahannya

Golongan-golongan sesat seperti Jahmiyah, Mu’tazilah dan Asy’ariyah menyalahi AhlusSunnah wal Jama’ah dalam hal sifat-sifat Allah. Mereka menafikan sifat-sifat Allah atau menafikan banyak sekali dari sifat-sifat itu atau men-ta’wil-kan nash-nash yang menetapkannya dengan ta’wil yang batil. Syubhat (keraguan, kerancuan) mereka dalam hal ini adalah mereka mengira bahwa penetapan dalam sifat-sifat ini menimbulkan adanya tasybih (penyerupaan Allah dengan lainNya). Oleh karena sifat-sifat ini juga terdapat pada makhluk maka penetapannya untuk Allah pun menimbulkan penyerupaanNya dengan makhluk. Karena itu harus dinafikan -menurut mereka- atau harus di-ta’wil-kan dari zhahir-nya, atau tafwidh (menyerahkan) makna-makna-nya kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala. Demikianlah madzhab mereka dalam sifat-sifat Allah, dan inilah syubhat dan sikap mereka terhadap nash-nash yang ada.

Bantahan Terhadap Mereka

Sifat-sifat ini datang dan ditetapkan oleh nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah yang mutawatir. Sedangkan kita diperintahkan mengikuti Al-Kitab dan As-Sunnah.
Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:

” Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu …”

( Al-A’raf: 3 )

Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:

(( عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَقَاءِ الرَّاسِدِيْنَ مِنْ بَعْدِيْ ))

” Ikutilah sunnahku dan sunnah para Khulafa’ Rasyidin se-sudahku.”

( HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, ia berkata hadits ini hasan shahih )

Dan Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:

“… Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; …”

( Al-Hasyr: 7 )

Maka barangsiapa yang menafikannya berarti dia telah menafikan apa yang ditetapkan oleh Allah dan RasulNya, dan berarti pula dia telah menentang Allah dan RasulNya.

Sesungguhnya kaum salaf dari sahabat, tabi’in dan ulama pada masa-masa yang dimuliakan, semuanya menetapkan sifat-sifat ini dan mereka tidak berselisih sedikit pun di dalamnya.

Imam Ibnul Qayyim berkata:

“Manusia banyak berselisih penda-pat dalam banyak hal tentang hukum, tetapi mereka tidak berselisih dalam memahami ayat-ayat sifat dan juga hadits-haditsnya, sekali pun itu hanya sekali. Bahkan para sahabat dan tabi’in telah bersepakat untuk iqrar (menetapkannya) dan imrar (membiarkan apa adanya) di-sertai dengan pemahaman makna-makna lafazh-nya bahwa hal terse-but telah dijelaskan dengan tuntas, dan bahwa menjelaskannya adalah hal yang teramat penting, karena ia termasuk penyempurnaan bagi perwujudan dua kalimah syahadah, dan penetapannya merupakan konsekuensi tauhid. Maka Allah I dan RasulNya menjelaskan de-ngan jelas dan gamblang tanpa kesamaran dan keraguan yang bisa menimpa ahlul ilmi.”

Sedangkan Rasulullah telah bersabda,

” Kewajiban kalian ada-lah mengikuti sunnahku dan sunnah Khulafa’ Rasyidin.”

Sedangkan penetapan sifat adalah termasuk hal tersebut.

Seandainya zhahir nash-nash tentang sifat-sifat itu bukan yang dimaksud, dan dia wajib di-ta’wil-nya (penyerahan makna kepada Allah), tentu Allah dan RasulNya telah berbicara kepada kita dengan khitab dan ucapan yang kita tidak paham maknanya. Dan tentu nash ini bersifat teka-teki atau kode-kode (sandi) yang tidak bisa kita pahami. Ini adalah mustahil bagi Allah, Allah Mahasuci dari yang demikian. Karena kalam Allah dan kalam RasulNya adalah ucapan yang sangat jelas, gamblang dan berisi petunjuk.

Menafikan sifat berarti menafikan wujud Allah, karena tidak ada dzat tanpa sifat, dan setiap yang wujud pasti mempunyai sifat. Mustahil dibayangkan ada wujud yang tidak mempunyai sifat. Se-sungguhnya yang tidak mempunyai sifat hanyalah ma’dum (sesuatu yang tidak ada). Maka barangsiapa yang menafikan sifat-sifat bagi Allah yang telah Dia tetapkan untuk diriNya, berarti ia telah mencam-pakkan sifat-sifat Allah, telah membangkang kepada Allah dan telah menyerupakan Allah dengan benda-benda yang tidak ada wujudnya, dan itu berarti pula dia telah mengingkari wujud Allah; sebagai keha-rusan dan konsekuensi dari ucapannya itu.

Kesamaan nama-nama Allah dan sifat-sifatNya dengan nama-nama dan sifat-sifat makhlukNya dalam bahasa tidak mengharuskan kesamaan atau penyerupaan dalam hakikat atau kaifiyat. Allah memiliki sifat-sifat yang khusus dan sesuai dengan keagungan-Nya. Makhluk mempunyai sifat-sifat khusus dan sesuai dengan kepantasannya pula. Ini tidak mengharuskan kesamaan atau penyerupaan. Bahkan antar makhluk pun tidak harus sama.
Jika dikatakan,

” Sesungguhnya ‘Arsy itu adalah sesuatu yang wujud “

dan

” Sesungguhnya nyamuk itu sesuatu yang wujud “

ini tidak mengharuskan keduanya sama dalam “sesuatu dan wujud”, juga dalam hakikat dan kaifiyat. Jika hal ini terjadi antara makhluk dengan makhluk, maka antara Allah Al-Khaliq dengan makhlukNya adalah lebih utama untuk tidak sama.

Sebagaimana Allah mempunyai Dzat yang tidak diserupai oleh dzat makhluk, maka Dia juga mempunyai sifat-sifat yang tidak diserupai oleh sifat-sifat makhluk.

Sesungguhnya menetapkan sifat-sifat yang ada adalah ke-sempurnaan dan menafikannya adalah kekurangan. Sedangkan Allah Mahasuci dari sifat kekurangan. Maka wajiblah penetapan sifat-sifat itu.

Sesungguhnya dengan nama-nama dan sifat-sifat ini, para hamba dapat mengetahui Tuhannya dan mereka memohon kepadaNya dengan nama-nama itu. Mereka takut kepadaNya dengan nama-nama itu. Mereka takut kepadaNya dan mengharap dariNya sesuai dengan kandungan nama-nama itu. Jika dinafikan dari Allah maka hilanglah makna-makna yang agung itu. Lalu dengan apa Dia dimintai dan dengan apa pula ber-tawassul kepadaNya?

Sesungguhnya hukum asal dalam nash-nash sifat adalah zhahir dan makna aslinya. Tidak boleh menyelewengkan dari zhahir-nya kecuali jika terpenuhi keempat syarat berikut ini:
Menetapkan kemungkinan lafazh mengandung makna yang akan di-ta’wil-kan kepadanya.

Menegakkan dalil yang memalingkan lafazh dari zhahir-nya kepada makna yang mungkin dikandungnya yakni makna yang menyalahi zhahir-nya.

Menjawab dalil-dalil yang bertentangan dengan dalilnya tadi. Karena orang yang mengaku benar harus mempunyai bukti atas dakwaannya. Dia harus mempunyai jawaban yang benar terhadap dalil-dalil yang berlawanan dengannya. Dan tidaklah disebut memiliki dalil orang yang hanya mendakwakan ta’wil.

Bahwasanya manakala Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam berbicara dengan suatu pembicaraan jika beliau menginginkan arti yang bukan zhahir-nya, pasti beliau menjelaskan kepada umat bahwasanya beliau menginginkan majaz (arti kiasan) bukan hakikat atau arti sebenarnya. Ternyata ini tidak pernah terjadi pada nash-nash sifat tersebut.

( berbagai sumber)

SIFAT DUA PULUH – سبحانه و تعالى‎ الله‎ ( 1 ) sifat wajib.


-. Sifat Allah yang Wajib bagi Allah .-

Sebagai Sang Khalik, Allah swt memiliki sifat-sifat yang tentunya tidak sama dengan sifat yang dimiliki oleh manusia ataupun makhluk lainnya.

Mengenal sifat-sifat Allah dapat meningkatkan keimanan kita

Seseorang yang mengaku mengenal dan meyakini Allah itu ada namun ia tidak mengenal sifat Allah, maka ia perlu lebih mendekatkan diri kepada Allah swt. Sifat-sifat Allah yang wajib kita imani ada 20, diantaranya:

.

1

Wujud/Ada

Nafsiah-Istighna

Wujud
Sifat Allah yang pertama yaitu Wujud. Wujud artinya ada. Umat muslim yang beriman meyakini bahwa Allah swt ada. Untuk itulah kita tidak boleh meragukan atau mempertanyakan keberadaanNya. Keimanan seseorang akan membuatnya dapat berpikir dengan akal sehat bahwa alam semesta beserta isinya ada karna Allah yang menciptakannya.

إِنَّ رَبَّكُمُ اللّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثاً وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَالأَمْرُ تَبَارَكَ اللّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ    

 Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Rabb semesta alam. “

QS. Al-A’raf: 54

.

2

Qidam/Terdahulu

Salbiah-Istighna

Qidam

Qidam berarti dahulu atau awal. Sifat Allah ini menandakan bahwa Allah swt sebagai Pencipta lebih dulu ada daripada semesta alam dan isinya yang Ia ciptakan..

إِنَّ رَبَّكُمُ اللّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثاً وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَالأَمْرُ تَبَارَكَ اللّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ 

Dialah yang Awal dan yang Akhir, yang Zhahir dan yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. “

QS. Al-Hadid: 3

.

3

Baqa’/Kekal

Salbiah-Istighna

Baqa’

Sifat Allah Baqa’ yaitu kekal. Manusia, hewan ,tumbuhan, dan makhluk lainnya selain Allah akan mati dan hancur. Kita akan kembali kepadaNya dan itu pasti. Hanya Allah lah yang kekal..

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ ﴿٢٦﴾ وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَام

Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Rabb-mu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. “

QS. Ar-Rahman: 26-27

.

4

Mukhalafatuhu Lilhawadits/Allah ta’ala berbeda dengan makhluknya

Salbiah-Istighna


Mukhalafatu lil hawadits

Sifat Allah ini artinya adalah Allah berbeda dengan ciptaanNya. Itulah keistimewaan dan Keagungan Allah swt..

فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَعَلَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجاً وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجاً يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. “

QS. Asy-Syura: 11

.

5

Qiyamuhu Binafsihi/Berdiri sendiri

Salbiah-Istighna


Qiyamuhu binafsihi

Sifat Allah selanjutnya yaitu Qiyamuhu binafsihi, yang artinya Allah berdiri sendiri. Allah menciptakan alam semesta, membuat takdir, menghadirkan surga dan neraka, dan lain sebagainya, tanpa bantuan makhluk apapun. Berbeda dengan manusia yang sangat lemah, pastinya membutuhkan satu sama lain..

اللّهُ لا إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ 

ALLAH, tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya. “

QS. Ali-Imran: 2

.

6

Wahdaniyat/Allah ta’ala pada dzat, pada sifat dan pada perbuatan

Ma’ani-Istighna

Wahdaniyyah

Sifat Allah Wahdaniyyah yaitu esa atau tunggal. Hal ini sesuai dengan kalimat syahadat, Asyhadu alaa ilaa ha illallah, Tiada Tuhan selain Allah..

لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ 

Sekiranya ada di langit dan di bumi ilah-ilah selain ALLAH, tentulah keduanya itu sudah rusak binasa. Maka Maha Suci ALLAH yang mempunyai Arsy daripada apa yang mereka sifatkan. “

QS. Al-Anbiya: 22

.

7

Qudrat/Berkuasa

Ma’ani-Istighna

Qudrat

Qudrat adalah berkuasa. Sifat Allah ini berarti Allah berkuasa atas segala yang ada atau yang telah Ia ciptakan. Kekuasaan Allah sangat berbeda dengan kekuasaan manusia di dunia. Allah memiliki kuasa terhadap hidup dan mati segala makhluk. Kekuasaan Allah itu sungguh besar dan tidak terbatas, sedangkan kekuasaan manusia di dunia dapat hilang atas kuasa Allah swt..

يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ كُلَّمَا أَضَاء لَهُم مَّشَوْاْ فِيهِ وَإِذَا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُواْ وَلَوْ شَاء اللّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ إِنَّ اللَّه عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِير

“ Sesungguhnya ALLAH berkuasa atas segala sesuatu. “

QS. Al-Baqarah: 20

.

8

Iradat/Berkehendak menentukan

Ma’ani-Istighna

Iradat

Iradat berarti berkehendak. Sifat Allah ini menandakan bahwa Allah swt memiliki kehendak atas semua ciptaanNya. Bila Allah telah berkehendak terhadap takdir atau nasib seseorang, maka ia takkan dapat mengelak atau menolaknya. Manusia hanya dapat berusaha dan berdoa, namun Allah lah yang menentukan. Kehendak Allah ini juga atas kemauan Allah tanpa ada campur tangan dari manusia atau makhluk lainnya..

خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ إِلاَّ مَا شَاء رَبُّكَ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ 

Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.”

QS. Hud: 107

.

9

‘Ilmu/Mengetahui

Ma’ani-Istighna


‘Ilmu

Ilmu artinya mengetahui. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, meskipun pada hal yang tidak terlihat. Tiada yang luput dari penglihatan Allah..

قُلْ أَتُعَلِّمُونَ اللَّهَ بِدِينِكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ 

Katakanlah (kepada mereka): Apakah kamu akan memberitahukan kepada ALLAH tentang agamamu (keyakinanmu), padahal ALLAH mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan ALLAH Maha Mengetahui segala sesuatu.” 

QS. Al-Hujurât: 16

.

10

Hayat/Hidup

Ma’ani-Istighna

Hayat

Sifat Allah Hayat atau Hidup. Namun hidupnya Allah tidak seperti manusia, karena Allah yang menghidupkan manusia. Manusia bisa mati, Allah tidak mati, Ia akan hidup terus selama-lamanya..

اللّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاء وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَلاَ يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ 

Allah tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur.”

QS. Al-Baqarah: 255

.

11

Sama’/Mendengar

Ma’ani-Istighna

Sam’un

Sifat Allah Sam’un atau mendengar. Allah selalu mendengar semua hal yang diucapkan manusia, meskipun ia berbicara dengan halusnya atau tidak terdengar sama sekali. Pendengaran Allah tidak terbatas dan tidak akan pernah sirna..

قُلْ أَتَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللّهِ مَا لاَ يَمْلِكُ لَكُمْ ضَرّاً وَلاَ نَفْعاً وَاللّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ 

 ” Dan Allah-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. “

QS. Al-Maidah: 76

.

12

Basar/Melihat

Ma’ani-Itiqar


Basar

Basar artinya melihat. Penglihatan Allah juga tidak terbatas. Ia dapat melihat semua yang kita lakukan meskipun kita melakukan sesuatu secara sembunyi-sembunyi. Allah mampu melihat, naik yang besar maupun yang kecil, yang nyata maupun kasat mata. Sifat Allah ini menandakan bahwa Allah Maha Sempurna..

إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ 

 ” Sesungguhnya ALLAH mengetahui apa yang ghaib di langit dan di bumi. Dan Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. “

QS. Al-Hujurat: 18

.

13

Kalam/Berfirman

Ma’ani-Itiqar

Kalam

Kalam artinya berfirman. Sifat Allah ini dapat kita lihat dengan adanya Al Quran sebagai petunjuk yang benar bagi manusia di dunia. Al Quran merupakan firman Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw..

وَرُسُلاً قَدْ قَصَصْنَاهُمْ عَلَيْكَ مِن قَبْلُ وَرُسُلاً لَّمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ وَكَلَّمَ اللّهُ مُوسَى تَكْلِيماً 

“ Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. “

QS. An-Nisa: 164 

.14

Kaunuhu Kadiran/Keadaan-Nya yang berkuasa

Ma’anawiyah-Itiqar

Qadirun 

Sifat Allah ini berarti Allah adalah Dzat yang Maha Berkuasa. Allah tidak lemah, Ia berkuasa penuh atas seluruh makhluk dan ciptaanNya..

يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ كُلَّمَا أَضَاء لَهُم مَّشَوْاْ فِيهِ وَإِذَا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُواْ وَلَوْ شَاء اللّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ إِنَّ اللَّه عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ  

Sesungguhnya Alllah berkuasa atas segala sesuatu. “

QS. Al Baqarah: 20

.15

Kaunuhu Muridan/Keadaan-Nya yang berkehendak menentukan

Ma’anawiyah-Itiqar

Muridun 

Allah memiliki sifat Muridun, yaitu sebagai Dzat Yang Maha Berkehendak. Ia berkehendak atas nasib dan takdir manusia..

خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ إِلاَّ مَا شَاء رَبُّكَ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ 

“ Sesungguhnya Tuhanmu Maha Melaksanakan apa yang Dia kehendaki. “

QS.Hud: 107

.

16

Kaunuhu ‘Aliiman/Keadan-Nya yang mengetahui

Ma’anawiyah-Itiqar

‘Alimun

Sifat Allah ‘Alimun, yaitu Dzat Yang Maha Mengetahui. Allah mengetahui segala hal yang telah terjadi maupun yang belum terjadi. Allah pun dapat mengetahui isi hati dan pikiran manusia..

يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللّهُ يُفْتِيكُمْ فِي الْكَلاَلَةِ إِنِ امْرُؤٌ هَلَكَ لَيْسَ لَهُ وَلَدٌ وَلَهُ أُخْتٌ فَلَهَا نِصْفُ مَا تَرَكَ وَهُوَ يَرِثُهَا إِن لَّمْ يَكُن لَّهَا وَلَدٌ فَإِن كَانَتَا اثْنَتَيْنِ فَلَهُمَا الثُّلُثَانِ مِمَّا تَرَكَ وَإِن كَانُواْ إِخْوَةً رِّجَالاً وَنِسَاء فَلِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الأُنثَيَيْنِ يُبَيِّنُ اللّهُ لَكُمْ أَن تَضِلُّواْ وَاللّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ 

“ Dan Alllah Maha Mengetahui sesuatu. “

QS. An Nisa’: 176

.

17

Kaunuhu Hayyan/Keadaan-Nya yang hidup

Ma’anawiyah-Itiqar

Hayyun 

Allah adalah Dzat Yang Hidup. Allah tidak akan pernah mati, tidak akan pernah tidur ataupun lengah..

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ وَكَفَى بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيراً 

“ Dan bertakwalah kepada Allah yang hidup kekal dan yang tidak mati. “

QS. Al Furqan: 58

.

18

Kaunuhu Sami’an/Keadaan-Nya yang mendengar

Ma’anawiyah-Itiqar

Sami’un 

Allah adalah Dzat Yang Maha Mendengar. Allah selalu mendengar pembicaraan manusia, permintaan atau doa hambaNya.

لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدمِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىَ لاَ انفِصَامَ لَهَا وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ   

Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. “

QS. Al Baqarah: 256

.

19

Kaunuhu Basiiran/Keadaan-Nya yang melihat

Ma’anawiyah-Itiqar

Basirun

Allah adalah Dzat Yang Maha Melihat. Sifat Allah ini tidak terbatas seperti halnya penglihatan manusia. Allah selalu melihat gerak-gerik kita. Oleh karena itu, hendaknya kita selalu berbuat baik..

إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ 

Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. “

QS. Al Hujurat: 18

.

20

Kaunuhu Mutakaliman/Keadaan-Nya yang berkata-kata

Ma’anawiyah-Itiqar.

Mutakallimun 

Sifat Allah ini berarti Yang Berbicara. Allah tidak bisu, Ia berbicara atau berfirman melalui ayat-ayat Al Quran. Bila Al Quran menjadi pedoman hidup kita, maka kita telah patuh dan tunduk terhadap Allah swt.

.

1. Sifat Nafsiah

diri zat Allah swt, wujud-Nya tidak disebabkan oleh sesuatu sebab.

2. Sifat Salbiah

menafikan perkara-perkara yang tidak layak bagi Zat Allah swt atau hujah-hujah sifat yang membesarkan kelebihan zat yang Maha Agung itu daripada sekalian yang baru.yang termasuk dalam sifat Salbiyyah ada lima : Qidam-Baqa-Mukhalafatu lil hawaditsi-Qyamuhu binafsihi-Wahdaniyyah.

3. Sifat Ma’ani

sifat yang berdiri pada zat Allah swt, yakni sifat khusus yang dimiliki oleh Allah swt dan lazim melazimi pula ia dengan sifat ma’anawiyyah.Sifat ini berlainan dengan sifat Salbiyyah , yang termasuk sifat Ma’ani : Qudrat-Iradat-Ilmu-Hayat-Sama’-Bashar-Kalam.

4. Sifat Ma’anawiyyah

zat yang disebabkan suatu sebab akan wujudnya, yakni kelakuan zat atau fungsi zat yang mempunyai sifat ma’ani atau kelakuan sifat ma’ani yang digerakkan oleh zat-Nya.yang termasuk dalam sifat Ma’ani ada tujuh , begitu juga sifat ma’nawiyyah ada tujuh : Kaunuhu Qadiran-Muridan-Aliman-Hayyan-Sami’an-Bashiran-Mutakalliman

 .

ISTAGHNA

Sifat kekayaan Allah swt. 

.

IFTIQAR

Sifat berhajat, berkehendak sekalian makhluk kepada Allah swt. 

.

Berjuang dan bermujahadahlah kita agar hati kita dibuka pintu makrifat kepada Allah swt dari segi Zat, Sifat, Afa’al dan Asma’-Nya. Sekurang-kurangnya makrifat afa’alnya agar amal ibadat dan amal kebaikan yang kita lakukan tiada “syirik khafi” ( yang tersembunyi ) yang kesannya ialah amalan itu umpama debu-debu yang berterbangan yang mana tidak bernilai sedikit pun di sisi Allah swt. Fakir dan berhajatnya kita dengan Allah swt dan Maha Kaya dan yang Maha Hebat.

Asma ul Husna – Makna dan keutamaannya.



حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ

Telah bercerita kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu’aib telah bercerita kepada kami Abu Az Zanad dari Al A’raj dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu.

Siapa yang menghitungnya (menjaganya) maka dia akan masuk surga.

 

.

Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan namayang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaa’ul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”

Al Israa’: 110

 Allah memiliki Asma’ ulHusna, maka memohonlah kepadaNya dengan menyebut nama-nama yang baik itu 

 Al A’raaf : 180


ALLAH

Yang Maha Pencipta

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.

Al A’raf 54 

Lafal Allah berasal dari kata ilah yang merupakan kata jenis yang pada awalnya diberikan untuk semua sembahan, baik yang benar maupun yang batil, tetapi kemudian hanya diperuntukkan bagi sesembahan yang benar (haqq) saja. Allah merupakan kata jadian yang berasal dari kata ilahah, atau uluhah, atau uluhiyyah, yang semuanya berarti “ibadah”, hanya di sini kata itu diartikan sebagai ma’bud (yang disembah).

Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa lafal Jalalah ini berasal dari kata alahayang berarti tahayyana (bingung), sebab Allah SWT membuat akal dan pemahaman menjadi bingung jika memikirkan keadaan-Nya.

Pendapat lain mengatakan bahwa kata Allah itu berasal dari kata aliha yang artinya “senang” atau “menaruh kepercayaan kepada-Nya,” sebab hati menjadi tenteram dengan mengingat-Nya, dan jiwa menjadi tenang dengan mengenal-Nya. Dan masih banyak lagi pendapat lainnya.

Allah adalah nama yang diberikan kepada Dzat yang maujud dan haqq, yang mengumpulkan segala sifat ketuhanan, yang disifati dengan segala sifat rububiyah, yang munfarid dengan wujud hakiki, sebab semua yang wujud selain Dia tidak berhak untuk menjadi ada dengan sendirinya, melainkan keberadaannya bergantung kepada-Nya.

Allah adalah nama yang mengumpulkan makna semua nama dan hakikat-Nya, dan merupakan Dzat yang disembah secara haqq. Dia tidak membutuhkan siapa pun, sebaliknya yang lainlah yang membutuhkan-Nya.

Faedahnya 
Ketahuilah, bahwasanya ism ( Allah ) ini adalah seagung-agungnya asma yang jumlahnya sembilan puluh sembilan, seperti yang diberitakan oleh at-Turmudzi, sebab menunjukkan kepada Dzat yang mengumpulkan sifat-sifat uluhiyah seluruhnya, hingga tidak ada sesuatu pun yang menyamainya. Sedangkan asma lainnya tidak menunjukkan ketunggalannya kecuali ketunggalan arti yang berhubungan dengan ilmu, kekuasaan, atau perbuatan. Ia pun termasuk asma khusus yang tidak diberikan kepada selain Dzat Yang Mahasuci dan Mahaagung, baik secara hakiki maupun kiasan.

 Sebaliknya, asma yang lain terkadang diberikan juga kepada yang lain-Nya, seperti Qadir, Alim dan Rahim.

Diantara keistimewaan lafal Allah itu adalah asma lainnya selalu disandarkan kepada-Nya, misalnya Allah ar Rahman ar Rahim, atau Allah as Sami’al-Bashir, dan lain-lain. Sedang Dia tidak disandarkan kepada yang lainnya; tidak dikatakan, misalnya, Al Qadir Allah atau Ar Rasyid Allah.

Seyogianya, dalam beribadat dengan ism ini, seorang hamba harus mencurahkan segenap pikiran dan kemauannya semata-mata kepada Allah Swt, tidak melihat kepada yang lain dan tidak menoleh kepada selain-Nya, serta tidak mengharap dan tidak takut kecuali kepadaaNya.

Rasulullah saw, bersabda :

“ Bait syair yang paling benar dalam sastra Arab adalah ucapan labid:
Ketahuilah, segala sesuatu selain Allah adalah batil.”

Khasiatnya 
Barangsiapa membaca ism ini secara rutin setiap hari sebanyak 1000 kali, dengan ucapan Ya Allah ya hu, niscaya Allah akan mengaruniakan kepada orang itu kesempurrnaan keyakinan.

Barangsiapa membacanya pada hari Jumat sebelum shalat, dalam keadaan yang suci dan bersih pakaiannya, serta bebas dari segala kesibukan, maka Allah akan memudahkan segala permintaannya.

Jika orang yang sedang menderita suatu penyakit yang sulit disembuhkan oleh dokter, lalu ia berdoa kepada Allah dengan ism ini, niscaya ia akan sembuh dengan izin Allah, selama ajalnya belum tiba.

1

AR RAHMAAN

Yang Maha Pengasih

Ar-Rahman dan Ar-Rahim, keduanya berasal dari kata rahimaAr-Rahman menghendaki adanya sesuatu yang dikasihani, dan tidaklah sesuatu itu dikasihi kecuali dia membutuhkan. Rahmat yang sempurna ialah memberikan kebaikan kepada semua hamba tanpa pandang bulu, baik yang berhak menerimanya maupun tidak. Kesimpulannya adalah, bahwa rahmat Allah itu bersifat menyeluruh, dunia dan akhirat.

Pendapat lainnya mengatakan bahwa Ar-Rahman itu maksudnya adalah

“ Dzat Yang Menutupi (Merahasiakan dosa-dosa hamba-Nya) di dunia,”

sedangkan Ar-Rahim maksudnya adalah

“ Dzat Yang Mengampuni dosa-dosa hamba-Nya di akhirat.”

‘Abdullah bin Mubarak berkata:

“ Ar-Rahman itu ialah jika diminta Dia memberi; danAr-Rahim itu ialah jika tidak diminta Ia murka.”

Sedangkan As-Suda berkata:

Ar-Rahman itu melenyapkan kesulitan, dan Ar-Rahim itu mengampuni dosa.”

Dikatakan bahwa Ar-Rahman itu ialah Dzat Yang Berbuat Baik (Al-Muhsin) atau Dzat Yang Menghendaki kebaikan, yakni rahmat yang merupakan kebajikan dan kebaikan.

Faedahnya 

Ism Ar-Rahman itu lebih khusus dari pada Ar-Rahim. Karena itu ia tidak dinisbatkan kepada selain Allah SWT. Sedangkan Ar-Rahim kadang-kadang diberikan kepada selain Allah. Dari segi ini ia lebih dekat kepada lafal Jalalah (Allah). Karena itulah Allah menghimpunkan keduanya dalam firman-Nya yang artinya:

Katakanlah:

“ Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai nama-nama yang terbaik … ”

QS. Al Isra’: 10

Rahmat yang dipahami dari kata Ar-Rahman itu sangat sulit sekali dijangkau oleh kemampuan manusia, sebab Ar-Rahman adalah: Pertama, kasih sayang terhadap hamba dalam bentuk eksistensi. Kedua, petunjuk kepada iman dan menjadikannya sebagai kebahagiaan di akhirat. Ketiga, pemberian nikmat dengan memandang Wajah-Nya yang mulia pada hari akhirat kelak.

Dalam menerapkan maksud dari ism Ar-Rahman ini, hendaklah seseorang mengasihi hamba-hamba Allah yang lalai dengan jalan memalingkan mereka dari jalan kelalaian itu kepada jalan Allah dengan nasihat dan wejangan, serta membantu kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi sesuai dengan kemampuannya. Dan hendaklah ia menganggap perbuatan maksiat yang dilakukan orang itu juga sebagai perbuatannya sendiri, dan dengan sekuat tenaga ia berusaha menghilangkannya, karena kasihan terhadap orang yang berbuat maksiat tersebut.

Khasiatnya 
Ism Ar-Rahman dapat melenyapkan segala sesuatu yang tak disukai oleh orang yang berdzikir dengannya. 

Barangsiapa yang mebacanya tiap-tiap selesai sembahyang fardu sebanyak 100 kali, Insyaallah ia akan terjaga dari sifat lupa dan lalai

2

AR RAHIIM

Yang Maha Penyayang

Khasiatnya 
Diantara khasiat ism ini adalah bahwasanya ia melembutkan hati orang yang berdzikir dengannya, sehingga orang itu menjadi kasihan terhadap dirinya dengan jalan taat melaksanakan segala perintah-Nya, dan menyayangi semua makhluk Allah dengan jalan bersikap belas-kasihan terhadap mereka.

Barangsiapa takut terjerumus kepada perbuatan yang tidak disukainya, maka hendaklah ia berdzikir dengan ism ini dan ism sebelumnya (Ar Rahman) sebanyak seratus kali, maka insya’ Allah ia tidak akan terjerumus ke dalam perbuatan yang tidak disukainya itu.

Berakhlak dengan ism ini menjadikan seseorang suka menolong orang-orang miskin dan bersikap belas-kasihan terhadap hamba-hamba Allah semuanya, baik yang taat maupun yang durhaka. Dalam kaitannya dengan hal ini, sebagian orang arif berpesan :

“Sayangilah mereka yang ada di bumi, niscaya engkau akan disayangi oleh mereka yang ada di langit.”

Barangsiapa yang membacanya tiap-tiap hari sebanyak 100 x , Insyaallah hatinya akan selalu mempunyai sifat kasih sayang akan sesama makhluk Allah s.w.t.

3

AL MALIK

Yang Maha Merajai

Khasiatnya 

Barangsiapa membaca ism ini dengan rutin tiap-tiap hari pada waktu matahari tergelincir sebanyak 100 x, niscaya hatinya akan menjadi bersih, dan lenyaplah segala kekotorannya.

Barangsiapa yang membacanya tiap-tiap hari sebanyak 121 x kemudian daripada terbit fajar atau tergelincirnya, Insyaallah akan dikayakan dengan sebab atau dengan pintu yang dibukakan Allah s.w.t.baginya

4

AL QUDDUUS

Yang Maha Suci

Khasiatnya

Barangsiapa menuliskan pada sepotong roti sesudah selesai melaksanakan shalat Ju’mat kemudian dimakannya, maka Allah akan membukakan baginya pintu ibadat dan akan menyelamatkannya dari bencana.

Barangsiapa yang berzikir dengan khalimat ini pada tiap-tiap hari ketika tergelincir matahari sebanyak 100 x, Insyaallah akan menjadi bersih hatinya, dan barangsiapa yang berzikir 1000 kali, Insyaallah akan diselamatkan daripada bala

5

AS SALAAM

Yang Maha Menyelamatkan

Khasiatnya

Ism ini berfungsi mengusir bencana dan penyakit, sehinggga jika ia dibacakan atas orang yang sedang menderita sakit sebanyak seratus dua puluh satu kali, dengan karunia Allah penyakitnya akan sembuh selama ajalnya belum tiba. Guru kami, 

Tajul-’Arifin asy-Syarqawi berkata : 

“Jika ism tersebut dibacakan sebanyak 121 x atau 136 x dengan suara keras sekadar bisa didengar oleh si sakit, sambil mengangkat tangan di atas kepala di sakit, insya Allah orang yang sakit itu akan sembuh dengan izin Allah SWT.”

6

AL MU’MIN

Yang Maha Mengkaruniakan

Khasiatnya
Apabila dibacakan akan khalimat ini sebanyak 136 x oleh orang yang merasa ketakutan akan sesuatu, maka ia akan merasa aman dari apa yang ditakutkannya, dan apabila dibaca oleh orang yang beriman, maka ia akan bertambah imannya

7

AL MUHAIMIN

Yang Maha Memelihara

Khasiatnya
Barangsiapa membacanya sebanyak 100 x  sesudah mandi dan shalat di tempat yang sunyi dengan memusatkan perhatian kepada Allah SWT, niscaya Allah akan menyucikan lahir dan batinnya

Barangsiapa yang membacanya 100 x setelah sembahyang sunat dua rakaat (terutama diwaktu tengah malam), Insyaallah akan dibersihkan zahir dan batinnya dan tetap bercahaya hatinya, dan barang siapa yang membacanya sebanyak  145  x  setelah sembahyang Isyak, Insyaallah akan kuat khafazhnya

8

AL’AZIIZ

Yang Maha Mulya

Khasiatnya

Barangsiapa yang berzikir sebanyak 40  x  tiap-tiap hari selama 40 hari dan yang lebih baik dibaca setelah sembahyang Subuh, Insyaallah akan dikayakan dan dimuliakan oleh Allah s.w.t. dan tidak dihajatkan dia kepada seseorang dari makhlukNya

9

AL- JABBAAR

Yang Maha Berkehendak

Khasiatnya

Ism ini berkhasiat untuk memelihara seseorang dari kelaliman para penguasa dan orang-orang yang kejam, baik di darat maupun di laut, di dalam perjalanan maupun di tempat kediaman.

Barangsiapa yang berzikir tiap-tiap hari sebanyak 206 x atau 226 x pada pagi dan petang, Insyaallah tidak akan boleh orang yang zalim dan Allah s.w.t. akan membalas bagi orang zalim itu siksa baginya

10

AL MUTAKABBIR

Yang Maha Megah

Khasiatnya 

Ism ini bersifat mendatangkan kebesaran dan menampakkkan kebaikan serta keberkatan. Karenanya, barangsiapa membacanya 10 x pada malam pengantinnya dan sebelum melakukan jima’ dengan istrinya, maka ia akan dikaruniai anak yang saleh.

Barangsiapa yang berzikir tiap-tiap hari sebanyak 662 x , Insyaallah orang yang takabur itu akan tunduk kepadanya

11

AL KHAALIQ

Yang Maha Pencipta

Khasiatnya
Ism Al-Khaliq itu dibaca di tengah malam, gunanya adalah untuk menerangkan hati dan wajah.

Barangsiapa yang berzikir waktu tengah malam sebanyak 731 x , Insyaallah akan diterangkan hatinya dan dirinya, dan barangsiapa yang kehilangan hartanya atau lama ditunggalkan orang yang dikasihinya, maka bacalah sebanyak 5000 kali, Insyaallah ia akan datang dengan perintah Allah s.w.t.

12

AL BAARI’

Yang Maha Pembuat

Khasiatnya

Ism Al-Bari’ itu dibaca selama tujuh hari berturut-turut, tiap-tiap hari sebanyak seratus kali. Gunanya adalah untuk selamat dari bencana.

Barangsiapa yang berzikir  pada siang hari sebanyak 100 kali, Insyaallah ia akan selemat dari kebinasaan dan tidak akan merasa takut ia didalam kubur, dan barangsiapa yang apabila dibacanya pada malam hari selama 7 malam berturut-turut dan pada tiap-tiap malam dibaca 100 kali, Insyaallah akan disembuhkan segala penyakit dalam tangannya

13

AL MUSHAWWIR

Yang Maha Pembentuk

KhasiatnyaI

Ism Al-Mushawwir berguna untuk membantu pembuatan-pembuatan dan mengeluarkan buah, dan apabila seorang yang mandul berzikir dengannya setiap hari sebanyak 21 x sambil berpuasa, dan dibaca ketika matahari sudah tenggelam dan sebelum berbuka, dilakukan selama 7 hari berturut-turut, dan ketika berbuka hanya dengan air minum saja, niscaya mandulnya akan hilang.

 Barangsiapa yang berzikir sebanyak 336 kali atau lebih, maka Insyaallah akan menjadi baik segala perbuatannya atau apa yang dikerjakannya

14

AL GHAFFAAR

Sangat  Maha Pengampun

Khasiatnya

Barangsiapa yang berzikir  100 kali sambil mengiringi sembahyang Jumaat, Insyaallah zahir baginya akan mendapat keampunan

15

AL QAHHAAR

Yang Maha Pemaksa

Khasiatnya

Ism ini berkhasiat untuk menghilangkan rasa cinta berlebihan kepada dunia dan pengagungan selain kepada Allah SWT dari dalam hati. Barangsiapa membiasakan berzikir dengannya, maka ia akan mendapatkan hal itu, dan akan menjadi menang atas seterunya.

Apabila dibaca tiap-tiap hari dan malam sebanyak 306 x atau lebih, Insyaallah keluar dari hatinya cinta dunia dan kebesaran barang lain daripada Allah s.w.t. dan zahir baginya pertolongan Allah s.w.t.atas musuhnya, dan barangsiapa yang adanya hajat lalu berzikir 100 kali kemudian mengangkat kedua tangannya dan membuka akan kepalanya, Insyaallah ditunaikan hajatnya

16

AL WAHHAAB

 Yang Maha Pemberi

Barangsiapa yang kekal mewiridkannya tiap-tiap hari atau tiap-tiap selesai sembahyang fardhu yang lima waktu sebanyak 300 kali atau lebih, Insyaallah akan dikabul dan hebat baginya kekayaan dan kebesarannya, dan barangsiapa mengekalkan membacanya pada akhir sujud sembahyang dhuha sebanyak 40 kali, Insyaallah dimudahkan baginya kekayaan yang mudah dan hebat

17

 AR RAZZAQ

Yang Maha Pemberi Rezeki

Barang siapa yang mengekalkan membaca tiap-tiap hari 308 kali, Insyaallah ditunaikan hajatnya kepada raja dan pemerintah dan jika mengkehendaki akan dimarahinya itu, maka berhentilah berbetulan orang yang dituntut, dan apabila berzikir 17 kali, Insyaallah ditunaikan hajatnya dan barangsiapa yang berzikir sebanyak 20 hari berturut-turut dan tiap-tiap hari 20 kali pada pagi sebelum makan dan minum, Insyaallah akan diberikan padanya faham yang dalam dan sempurna

18

AL FATTAH

Yang Maha Membukakan

Apabila dibaca tiap-tiap selesai sembahyang Subuh sebanyak  71 kali dengan tangannya dihantarkan keatas dada, Insyaallah hatinya akan bersih dan bercahaya, dimudahkan segala pekerjaan dan keluar cinta dunia dari hatinya

19

AL’ALIIM

Yang Maha Mengetahui

Barangsiapa yang berzikir tiap-tiap setelah selesai sembahyang lima waktu sebanyak 100 kali, Insyaallah akan mendapatkan ilmu ma’rifat dan kasyaf serta iman yang sempurna

20

AL QAABIDH

Yang Maha Pencabut

Apabila dibaca setiap hari sebanyak 100 kali, Insyaallah akan terhindar dari pengancamnya

21

AL BAASITH

Yang Maha Meluaskan

Apabila dibaca selesai sembahyang dhuha 10 kali, Insyaallah akan diluaskan rezeki dan ilmunya

22

AL KHAAFIDH

Yang Maha Menjatuhkan

Apabila diamalkan setiap hari dalam keadaan khusyuk dan bersih (berwuduk) sebanyak 500 kali pasti dijatuhkan martabat musuh atau lawan penentangnya serta dikabulkan hajatnya

23

AR RAAFI’

Yang Maha Mengangkat

Apabila dibaca setiap hari terutama pada malam hari sebanyak 70 kali, pasti hartanya akan dijaga dari pencuri, perompak, penipuan dan sebagainya

24

AL MU’IZZ  

 Maha Maha Memberi Kemulyaan

Untuk menumbuhkan kewibawaan orang banyak apabila dibaca setiap hari sebanyak 140 kali

25

AL MUDZILL

Yang Maha Memberi Kehinaan

Apabila dibaca sebanyak 75 kali kemudian sembahyang dan didalam sujud sebutkan namanya yang ditakuti itu, Insyaallah akan aman mereka daripadanya dan apabila dibaca 1000 kali pada tiap-tiap hari selama 7 hari, Insyaallah akan ditolakkan musuh daripadanya

26

AS SAMII’

Yang Maha Mendengar

Apabila dibaca 500 kali , setelah selesai sembahyang dhuha pada hari Khamis, maka doanya akan ditunaikan oleh Allah s.w.t. dan akan disembuhkan pendengarannya daripada penyakit tuli atau pendengarannya akan menjadi baik

27

AL BASHIIR 

Yang Maha Melihat

Apabila dibaca sebelum sembahyang Jumaat dimulai sebanyak 100 kali pasti fikirannya akan bertambah cerdas dan hatinya akan terbuka

28

AL HAKAM

Yang Maha Menetapkan Hukum

Apabila dibaca setiap malam sunyi serta suci dari hadas dan najis sebanyak 68 kali, Insyaallah akan dijadikan hatinya tempat rahsia dan hikmah ilmu agama

29

AL’ADL

Yang Maha ‘Adil

Apabila dibaca setelah selesai sembahyang lima waktu 104 kali pasti ia akan menjadi pemutus hukum yang adil dan akan merasa tertarik hati orang lain kepadanya

30

AL LATHIIF

Yang Maha Lemah Lembut

Apabila dibaca sebanyak 129 kali atau 130 kali, Insyaallah usahanya atau perniagaannya akan maju dan akan merasa kejayaan dalam pekerjaannya

31

AL KHABIIR    

Yang Maha Waspada  

Apabila dibaca selama 7 hari dan tiap-tiap hari sebanyak 812 kali, Insyaallah akan datang kepadanya rahmat dengan segala khabar yang dikehendaki

32

AL HALIIM

Maha Maha Penyantun  

Apabila dibaca sesudah sembahyang 5 waktu sebanyak 88 kali pasti ia akan dipelihara dari pangkatnya, jabatan atau kedudukannya

33

AL AZHIIMU

Yang Maha  Agung

Apabila dibaca selama 7 hari dan tiap-tiap hari sebanyak 812 kali, Insyaallah akan datang kepadanya rahmat dengan segala khabar yang dikehendaki

34

AL GHAFUUR

Yang Maha Pengampun

Barangsiapa menuliskan atas orang yang sakit demam bacalah sebanyak 3 kali, Insyaallah akan segera sembuhlah ia

35

ASY SYAKUUR

Yang Maha Menghargai

Apabila menuliskan sebanyak 40 kali oleh orang yang sesak nafas atau penat badan atau dhaif mata dan dihapuskannya dengan iri dan sapukan iri itu kepada badannya atau matanya dan diminumkan, Insyaallah akan mendapat berkat

36

AL’ALIYY

Yang Maha Tinggi 

Apabila ditulis pada kertas dan direndamkan pada segelas air (tulisannya sebanyak 110 kali) kemudian airnya diminumkan kepada anak kecil, Insyaallah dia akan menjadi anak yang cerdas dan pandai

37

AL KABIIR  

Yang Maha Besar

Apabila dibaca dalam masa 7 hari sesudah melakukan sembahyang hajat sebanyak 1000 kali setiap malam, Insyaallah akan dikembalikan lagi jabatannya, pekerjaannya selama bukan dipecat kerana kecurangan atau kerana makan hasil rasuah dan lain-lain

38

AL HAFIIZH 

 Yang Maha Memelihara

Untuk menjaga keselamatan diri dari binatang buas atau dari hantu malam, dibaca sebanyak 99 kali pasti akan diselamatkan dan terhindar daripada segala gangguan tersebut diatas

39

AL MUQIIT

 Yang Maha Pemberi Kecukupan

Untuk melepaskan rasa haus dan lapar dibaca selama terkena penderitaan itu (bacalah sebanyak-banyaknya) Insyaallah akan sembuh

40

AL HASIIB

Yang Maha Penghitung / Penjamin

Untuk menguatkan jabatan atau pekerjaan yang dipegangnya apabila dibaca setiap selesai sembahyang Subuh atau sebelum terbit matahari dan petang (sesudah sembahyang Maghrib), Insyaallah akan dijaga kedudukannya/jabatannya atau pekerjaannya. Bacalah sebanyak 777 kali

41

AL JALIIL

Yang Maha Luhur

Apabila dibaca setiap pagi (jam 2.30 pagi) sebanyak 73 kali pasti usahanya, pekerjaannya atau kedudukannya akan meningkat dengan sangat menghairankan

42

AL KARIIM

Yang Maha Pemurah

Barangsiapa yang mewiridkan pada tiap-tiap kali hendak tidur sebanyak 270 kali atau lebih, maka Insyaallah akan mendapat kemurahan dan kemuliaan dunia akirat

43

AR RAQIIB 

Yang Maha Peneliti

Apabila dibaca sebanyak 50 kali pada setiap hari, Insyaallah segala harta dan barangnya akan aman dari kecurian dan lain-lain

44

AL MUJIIB 

Yang Maha Mengabulkan

Apabila dibaca setelah selesai sembahyang Subuh setiap hari sebanyak 55 kali, Insyaallah semua hajatnya dikabulkan oleh Allah s.w.t.

45

AL WAASI’

Yang Maha Luas 

Apabila dibaca setiap pagi (waktu pagi, petang atau malam) sebanyak 128 kali pasti dilepaskan kesulitannya dan dipelihara dari orang yang hasad

46

AL HAKIIMU

Yang Maha Bijaksana

Apabila dibaca setiap pagi (waktu pagi, petang atau malam) sebanyak 300kali, insyaallah akan menjadi cerdas akal fikirannya sehingga dengan mudah akan menerima ilmu-ilmu apapun

47

AL WADUUD

Yang Maha Pencipta

 Apabila dibaca setiap malam sebanyak 11,000 kali pasti akan dikabulkan segala hajatnya dan akan dicintai orang dan mententeramkan keluarga dalam rumahtangga

48

AL MAJIID

Yang Maha Mulia 

Apabila dibaca sebanyak 99 kali, Insyaallah semuanya akan terasa aman dan tenteram semua anggota keluarganya

49

AL BAA’ITS

Yang Maha membangkitkan 

Apabila dibaca sebanyak 100 kali dengan tangan diletakkan didada, pasti Allah s.w.t.. akan memberinya lapang ilmu dan hikmah

50

ASY SYAHIID

Yang Maha Menyaksikan / Mengetahui

Apabila dibaca setiap malam sebanyak 319 kali pasti akan menyedarkan orang atau keluarga selalu menentangnya atau membangkang

51

AL HAQQU

Maha Besar 

Apabila dibaca setiap hari, maka Insyaallah keimanannya akan semakin bertambah

52

AL WAKIIL

Yang Maha Penyrahan

Dapat menjaga ketakutan daripada marabahaya seperti bencana banjir, angin ribut, gempa bumi dan lain-lain. Maka banyak-banyaklah membaca khalimah ini dan juga apabila dibaca pada tiap-tiap hari atau malam sebanyak 66 kali atau lebih, Insyaallah akan dibukakan baginya pintu kebaikan dan rezekinya

53

AL QAWIYY

Yang Maha Kuat

Apabila dizalimi orang, maka bacalah sebanyak 1000 kali, Insyaallah akan dilepaskan ia daripadanya

54

AL MATIINU

Yang Maha Kokoh / Perkasa

Untuk mengembalikan kekuatan terutama diwaktu dalam pertempuran, dibaca sebanyak-banyaknya (keduanya AL QAWIYYU dan AL QAWIYYU), Insyaallah kekuatan akan pulih seperti semula

55

 AL WAALIYY

Yang maha Melindungi

Agar terbuka hatinya, dibaca setiap pagi dan petang sebanyak-banyaknya, pasti hatinya akan terbuka atau futuh

56

AL HAMIID

Yang Maha Terpuji

Apabila dibaca setelah selesai sembahyanh Maghrib dan Subuh sebanyak 62 kali, Insyaallah segala perkataan dan perbuatannya akan selalu terpuji

57

AL MUHSHII 

Yang Maha Penghitung

Apabila dibacakan 20 kali kepada roti atau makanan lainnya kemudian kepada orang yang dikehendakinya,Insyaallah ia akan tunduk

58

AL MUBDI’

Yang Maha Memulai 

Untuk menjayakan segala yang dirancangkan, dibaca setiap hari sebanyak 470 kali, Insyaallah apa yang direncanakan itu akan terwujud atau berhasil dengan baik

59

AL MU’IID

Yang Meaha Mengulangi

Untuk mengembalikan atau mencari sesuatu yang hilang, dibaca setiap sebelum sembahyang fardhu lima waktu sebanyak 124 kali, Insyaallah dengan kehendak dan izin Allah s.w.t. akan kembali lagi

60

AL MUHYI

Yang Maha Menghidupkan

Apabila dibaca setiap hari sebanyak 58 kali, pasti akan memperolehi kemuliaan dan mengingkat darjatnya berkat nama yang dibaca

61

AL MUMIIT

Yang Maha Mematikan

Apabila dibaca sebanyak 490 kali atau lebih, maka Insyaallah akan dapat menundukkan nafsu dan akan berbuat taat

62

AL HAYYU

Yang Hidup

Apabila dibaca sebanyak 300,000 kali, Insyaallah akan terhindar dari penyakit

63

AL QAYYUUM

Yang Maha Berdiri Sendiri

Apabila dibaca keduanya (Ya Hayyu Ya Qayyuum) setiap hari diwaktu malam yang sunyi sebanyak 1000 kali, Insyaallah akan dikabulkan hajatnya dan akan menjadi hartawan dan dermawan serta disenangi kawan dan disegani lawan juga besar kewibawaannya

64

AL WAAJID

Yang Maha Menemukan / Kaya

Untuk menumbuhkan kepercayaan pada diri sendiri

65

AL MAAJID

Yang Maha Mulia

Apabila dibaca  sebanyak 400 kali tiap-tiap pagi dan petang maka akan terang hatinya

66

AL WAAHID 

Yang Maha Esa

Apabila dibaca setiap ba’da sembahyang lima waktu sebanyak 190 kali dalam masa satu bulan dan berpuasa pada hari Isnin dan Khamis, Insyaallah segala hajatnya akan dikabulkan dan akan diberi keturunan

67 

AL AAHAD

Yang Maha Esa

‘??’??’

68

 ASH SHAMAD

Yang Maha Dibutuhkan  

Untuk memohon apa saja yang dihajatkan. Dibacakan sebanyak 313 kali dalam waktu tiga hari (disertai puasa selama tiga hari juga),Insyaallah akan dikabulkan segala macam hajatnya

69

AL QAADIR     

Yang Maha Kuasa 

Apabila dibaca sebanyak 200 kali setelah melaksanakan sembahyang sunat dua rakaat ketika dalam keadaan dha’ir, Insyaallah akan mendapat kekuatan

70

AL MUQTADIR

Yang Maha Penentu

Apabila dibaca 100 kali setelah bangun tidur, Insyaallah ia akan mendapat hidayah dan petunjuk dariAllah s.w.t.

71

AL MUQADDIM

Yang Maha Mendahulukan

Untuk menyegarakan apa yang diinginkan, dibaca setiap hari sebanyak 184 kali pasti dengan cepat tercapai apa yang diinginkannya dan barangsiapa yang mewiridkan / membacakan ketika masuk kemedan perang, Insyaallah tidak akan mendapat kemudhratan

72

AL MUAKHHIR

Yang Maha Mengakhirkan

Barangsiapa yang membacanya tiap-tiap hari sebanyak 300 kali atau lebih, Insyaallah akan dibukakan pintu taufiq dan taubat baginya

73

AL AWWAL 

Yang Maha Awal / Pertama

Untuk mendatangkan hajat, dibaca setiap hari sebanyak 37 kali, Insyaallah akan dikabulkan hajatnya

74

AL AKHIIR

Yang Maha Akhir /  Penghabisan

Apabila dibaca  setiap selesai sembahyang Isyak sebanyak 1000 kali, Insyaallah hatinya akan bersih dan bertambah kebaikan diakhir umurnya 

75

AZH ZHAHIIR

 Yang Maha Nyata

Agar terbukanya segala ilmu, dibaca setiap ba’da sembahyang fardu sebanyak 1106 kali dalam masa satu bulan, pasti akan mendapat ilmu-ilmu yang jarang dimiliki oleh orang biasa

76

AL BAATHIN

Yang Maha Tersembunyi

Untuk ilmu yang jarang dimiliki oleh manusia baisa, dibaca setiap ba’da sembahyang fardu lima waktu sebanyak 30 kali, pasti akan dikabulkan ilmu-ilmu yamg jarang dimiliki oleh manusia

77

 AL WAALIYY

Yang Maha Menguasai       

Agar terbuka hatinya, dibaca setiap pagi dan petang sebanyak-banyaknya, pasti hatinya akan terbuka atau futuh

78

AL MUTA’AALII

Yang Maha Agung / Suci    

Apabila dibaca tiap-tiap hari siang atau malam sebanyak 541 kali, Insyaallah ia akan mendapat hasil yang baik dan mendapat darjat yang lebih tinggi

79

ALBARRI

Yang Maha Dermawan 

Untuk memudahkan apa saja yang diinginkannya, dengan dibaca sebanyak-banyaknya

80

AT TAWWAAB

Yang Maha Menerima Taubat

        Untuk mengembalikan kejalan yang lurus, dibaca setiap saat, Insyaallah akan berhasil segala apa yang diinginkan

81

AL MUNTAQIM

 Yang Maha Penyiksa

Untuk menolak perbuatan aniaya dari orang zalim, dibacanya sesuadah sembahyang fardu lima waktu sebanyak-banyaknya

82

AL ‘AFUWW 

Yang Maha Pema’af

Baca sebanyak-banyaknya setiap saat supaya disenangi manusia yang kenal padanya

83

AR RA’UUF

Yang Maha Pengasih


84

AL MAALIKUL MULK

Yang Maha Menguasai kerajaan

Untuk mengawetkan pekerjaan atau mempertahankan jabatan atau kedudukannya, dibaca setelah selesai sembahyang fardu lima waktu ditengah malam sebanyak 212 kali, Insyaallah akan dijaga dari penjahat yang hasad padanya dalam hal pekerjaan, jabatan atau kedudukan

85

DZUL JALAALI wal IKRAAM

Yang Maha Memiliki Kebesaran dan Kemulyaan

Untuk mendatangkan hajat, dibaca setiap hari sebanyak 65 kali dalam masa satu bulan, Insyaallah akan dipenuhi segala hajatnya

86

AL MUQSITH

Yang Maha Adil

Apabila dibaca 209 kali atau lebih, Insyaallah akan terpelihara dari was-was syaitan laknatullah dalam ibadah  

87

AL JAAMI’ 

Yang Mengumpulkan    

Barangsiapa yang membacanya tiap-tiap hari sebanyak 300 kali, Insyaallah akan dikumpulkan segala maksudnya

88

AL GHANIYY

Yang Maha Kaya

Apabila dibacakan pada orang yang sakit atau mendapat bala dirinya dan orang lain sebanyak 1060 kali, Insyaallah akan segera sembuh dari pemyakitnya

89

AL MUGHNII           

 Yang Maha Memberi Kekayaan         

Apabila dibaca pada tiap-tiap hari sebanyak 1000 kali, Insyaallah akan memjadi kaya berkat kurniaanAllah s.w.t.

90

AL MAANI ‘

Yang Maha Menolak / Membela

Untuk menolak perlakuan orang jahat dan orang zalim. dibacakan setiap ba’da sembahyang sunat Subuh (sebelum fardu Subuh) sebanyak 161 kali, Insyaallah akan selamat dari perbuatan mereka itu

91

ADH DHAAR

Yang Maha Memberi Bahaya

Untuk menyembuhkan penyakit (yang bertahun-tahun tidak dapat disembuhkan) asma ini dibaca setiap hari sebamyak 1001 kali, Insyaallah dengan izin dan kehendak Allah s.w.t. penyakit tersebut akan segera sembuh

92

AN NAAFI ‘

Yang Maha Memberi Manfaat

Untuk menyembuhkan penyaklit dan menghilangkan kesusahan, asma ini dibaca setiap hari, Insyaallah akan berhasil. Juga barangsiapa yang berzikir dengan hati ketika jimak dengan isterinya, Insyaallah isterinya itu akan menaruh belas kasihan yang sangat dalam dan akan diberi anak yang soleh

93

AN NUUR

Yang Maha Bercahaya

Apabila dibaca pada tiap-tiap hari siang atau malam, Insyaallah akan diterangkan hatinya dan anggotanya

94

AL HAADI

Yang Maha Pemberi

‘ 


95

AL BADII ‘

Yang Maha Pencipta Yang Baru 

Untuk tercapai apa yang telah direncanakannya asma ini dibaca setiap ba’da sembahyang fardu sebanyak 500 kali, pasti akan berjaya apa yang direncanakan

96

AL BAAQII

Yang Maha Kekal

Untuk mengawtkan pekerjaan atas usahanya, baca asma ini setiap saat banyak-banyak, pasti pekerjaannya awet (kekal), jauh dari kerugian dan kejatuhan jumlah, Insyaallah

97

AL WAARITS

Yang Maha Mewarisi

Asma ini untuk memajukan usaha apabila dibaca setiap  malam sebanyak 707 kali, Insyaallah usaha akan maju

98

AR RASYIID 

Yang Maha Cendekia

Untuk menambah kecerdasan berfikir, asma ini dibaca setiap pagi dan petang

99

AS SABUUR 

Yang Maha Penyabar

Barangsiapa yang berzikir sebanyak 100 kali pada tiap-tiap hari sebelum tebit matahari, Insyaallah ia tidak akan dapat bala pada hari itu, juga untuk membangun jiwa besar dan sabar dalam menghadapi segala urusan asma ini dibaca setiap saat terutama dalam menghadapi segala kesulitan masalah apa saja, pasti segala urusan akan berhasil dengan baik

=+=

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ { أَحْصَيْنَاهُ } حَفِظْنَاهُ

6843. Telah menceritakan kepada kami Abul Yaman Telah mengabarkan kepada kami Syu’aib telah menceritakan kepada kami Abuz Zinad dari Al A’raj dari Abu Hurairah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Allah mempunyai sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu, siapa yang meng-ihsha’nya, maka ia masuk surga.

Dan makna meng-ihsha’ adalah menjaga sebagaimana firman Allah:

‘Ahshainaa (Kami menjaganya) ‘ Qs. Yasin: 12