Shalat Jum’at vs Shalat Ied – apanya yang gugur


Oleh: Ahmad Sarwat, Lc

warnaislam.com – Masalah ini memang sering ditanyakan ke saya, yaitu masihkah kita wajib shalat Jumat kalau pagi harinya kita sudah shalat Ied? Atau dengan kata lain, apakah shalat Idul Adha yang jatuh di hari Jumat, akan menggugurkan kewajiban shalat Jumat di siang harinya.

Jawabnya, masalah ini adalah masalah yang telah disepakati oleh jumhur ulama, namun ada satu mazhab, yaitu al-hanabilah, yang punya pandangan berbeda.

 1. Pendapat Jumhur Ulama

Jumhur ulama, [ selain Al-hanabilah ], meski ada beberapa dalil hadits, sepakat bahwa shalat Jum at tetap wajib dilakukan, meski hari itu adalah hari raya, baik Idul fithri maupun Idul Adha.

Mereka yang secara sengaja meninggalkan shalat Jumat di hari itu, selain berdosa juga wajib melaksanakan shalat Dzhuhur.

Sebab dalam pandangan mereka, shalat Jumat tetap wajib hukumnya.

Dalam pandangan mereka, kekuatan dalil-dalil qath’i atas kewajiban untuk melaksanakan shalat Jumat di hari raya tidak bisa dikalahkan oleh dalil tentang bolehnya tidak shalat Jumat.

Sebab kewajiban shalat Jumat didasari oleh Al-Quran, As-sunnah dan ijma’ seluruh umat Islam.

.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kalian kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

(QS. Al-Jumu’ah : 9)

Ada banyak hadits nabawi yang menegaskan kewajiban shalat jumat. Diantaranya adalah hadits berikut ini :

.

وَعَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ  قَالَ مَمْلُوكٌ وَامْرَأَةٌ وَصَبِيٌّ وَمَرِيضٌ  رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ

Dari Thariq bin Syihab radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Shalat Jumat itu adalah kewajiban bagi setiap muslim dengan berjamaah, kecuali (tidak diwajibkan) atas 4 orang. [1] Budak, [2] Wanita, [3] Anak kecil dan [4] Orang sakit.”

(HR. Abu Daud)

Hadits ini menegaskan bahwa yang menggugurkan kewajiban shalat Jumat hanya hal-hal tersebut. Dan tidak ada dijelaskan bahwa shalat idul fitri dan idul adha berfungsi menggugurkan shalat jumat.

.

مَنْ تَرَكَ َثلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا طبَعَ الله عَلىَ قَلْبِهِ

Dari Abi Al-Ja`d Adh-dhamiri radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Orang yang meninggalkan 3 kali shalat Jumat karena lalai, Allah akan menutup hatinya.”

(HR. Abu Daud, Tirmizy, Nasai, Ibnu Majah dan Ahmad)

Selain itu, ancaman buat orang yang meninggalan shalat jumat secara sengaja sangat berat. Bentuknya sampai disebut-sebut bahwa Allah akan menutup hati seseorang, sehingga tidak bisa menerima hidayah dari Allah SWT.

.

لَيَنتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ الجُمُعَةَ أَوْ لَيَخْتَمَنَّ الله عَلَى قُلُوْبِهِمْ  ثُمَّ لَيَكُوْنَنَّ مِنَ الغَافِلِيْنَ

Dari Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa mereka mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda di atas mimbar,”Hendaklah orang-orang berhenti dari meninggalkan shalat Jumat atau Allah akan menutup hati mereka dari hidayah sehingga mereka menjadi orang-orang yang lupa”.

(HR. Muslim, An-Nasai dan Ahmad)

Berdasarkan dalil-dalil qath’i di atas, meninggalkan shalat jum’at termasuk dosa-dosa besar.

.

Al-Hafidz Abu Al-Fadhl Iyadh bin Musa bin Iyadh dalam kitabnya Ikmalul Mu’lim Bifawaidi Muslim   berkata:  “Ini menjadi hujjah yang jelas akan kewajiban pelaksanaan shalat Jum’at dan merupakan ibadah Fardhu, karena siksaan, ancaman, penutupan dan penguncian hati itu ditujukan bagi dosa-dosa besar (yang dilakukan), sedang yang dimaksud dengan menutupi di sini adalah menghalangi orang tersebut untuk mendapatkan hidayah sehingga tidak bisa mengetahu mana yang baik dan mana yang munkar”.

Sedangkan dalil yang membolehkan sebagian shahabat untuk tidak shalat Jumat dalam kasus itu hanya didasari oleh beberapa hadits, yang sebagiannya tidak shahih, atau setidaknya bermasalah.

Lagi pula kalau dalam kasus itu ada keringanan dari Rasululah SAW kepada sebagian shahabat, ternyata Rasulullah SAW sendiri tetap melaksanakan shalat Jumat.

Kalau Rasulullah SAW sendiri tetap melaksanakannya, kenapa harus mengikuti apa yang dilakukan oleh sebagian shahabat. Bukankah kita ini shalat mengikuti Rasulullah?

a. Pendapat Al-hanafiyah dan Al-Malikiyah

Mewakili pendapat jumhur ulama, para ulama Hanafi dan Maliki berpendapat bahwa suatu shalat tidaklah bisa menggantikan shalat yang lainnya dan sesungguhnya setiap dari shalat itu tetap dituntut untuk dilakukan.

Suatu shalat tidaklah bisa menggantikan suatu shalat lainnya bahkan tidak diperbolehkan menggabungkan (jama’) diantara keduanya. Sesungguhnya jama’ adalah keringanan khusus terhadap shalat zhuhur dan ashar atau maghrib dan isya.

b. Pendapat As-Syafi’iyah

Mewakili juga kalangan jumhur ulama, mazhab Asy-Syafi’iyah mengatakan bahwa kebolehan tidak shalat Jumat itu hanya berlaku khusus buat penduduk suatu kampung yang jumlahnya tidak mencukupi angka 40 orang.

Selain itu, orang yang tinggal di tempat terpencil jauh dari peradaban dan tidak mendengar adzan jumat, juga tidak wajib shalat Jumat. tapi mereka yang mendengar suara adzan dari negeri lain yang disana dilaksanakan shalat jum’at maka hendaklah berangkat untuk shalat jum’at.

Dalil mereka adalah perkataan Utsman didalam khutbahnya,” Wahai manusia sesungguhnya hari kalian ini telah bersatu dua hari raya (jum’at dan id, pen). Maka barangsiapa dari penduduk al ‘Aliyah—Nawawi mengatakan : ia adalah daerah dekat Madinah dari sebelah timur—yang ingin shalat jum’at bersama kami maka shalatlah dan barangsiapa yang ingin beranjak (tidak shalat jum’at) maka lakukanlah.

2. Pendapat Al-Hanabilah

Mazhab ini menyimpulkan bahwa shalat Jumat gugur apabila pada pagi harinya seseorang telah melaksanakan shalat ‘Ied.

Dalil yang mereka kemukakan ada beberapa hadits, antara lain :

.

أن زيد بن أرقم شهد مع الرسول ـ صلى الله عليه وسلم ـ عيدين اجتمعا فصلى العيد أول النهار ثم رخص في الجمعة وقال: ” من شاء أن يجمع فليجمع” في إسناده مجهول فهو حديث ضعيف.

Bahwa Zaid bin Arqam menyaksikan bersama Rasulullah SAW dua hari raya (Ied dan Jumat), beliau shalat Ied di pagi hari kemudian memberikan keringanan untuk tidak shalat Jumat dan bersabda,” Siapa yang mau menggabungkan silahkan.”

(HR. Ahmad Abu Daud Ibnu Majah dan An-Nasai)

Hadits ini isnadnya majhul dan merupakan hadits yang dhaif (lemah).

.

عن أبي هريرة أنه صلى الله عليه وسلم قال: “قد اجتمع في يومكم هذا عيدان؛ فمن شاء أجزأه من الجمعة وإنا مُجَمّعُون” رواه أبو داود

Dari Abu Hurairah RA bahwa Nabi saw bersabda,”Sungguh telah bersatu dua hari raya pada hari kalian. Maka barangsiapa yang ingin menjadikannya pengganti (shalat) jum’at. Sesungguhnya kami menggabungkannya.”

 (HR. Abu Daud)

Terdapat catatan didalam sanadnya. Sementara Ahmad bin Hambal membenarkan bahwa hadits ini mursal, yaitu tidak terdapat sahabat di dalamnya.

Mazhab Al-Hanabilah mengatakan bahwa orang yang melaksanakan shalat id maka tidak lagi ada kewajiban atasnya shalat jum’at. Namun pandangan ini tetap mewajibkan seorang imam untuk tetap melaksanakan shalat Jumat, jika terdapat jumlah orang yang cukup untuk sahnya suatu shalat jum’at. Adapun jika tidak terdapat jumlah yang memadai maka tidak diwajibkan untuk shalat jum’at.

Kesimpulan :

1. Kebolehan tidak shalat Jumat lantaran jatuh pada hari raya Idul Fithr atau Idul Adha adalah pendapat satu mazhab yaitu mazhab Imam Ahmad. Selebihnya, mayoritas ulama, seperti mazhab Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah dan Asy-Syafi’iyah, tetap mewajibkan shalat Jumat.

2. Seandainya ada saudara kita yang kelihatan cenderung kepada pendapat Al-Hanabilah yang menganggap shalat Jumat telah gugur, kita perlu menghormati hal itu sebagai sebuah pendapat. Beda pendapat itu bukan berarti kita harus bermusuhan kepada mereka.

3. Pendapat mayoritas ulama termasuk di dalamnya Asy-Syafi’iyah yang tetap mewajibkan shalat Jumat, menurut pandangan saya -wallahu a’lam- lebih kuat, selain karena pendapat mayoritas ulama, juga karena beberapa alasan :

a. Dalil tentang wajibnya shalat Jumat adalah dalil yang bersifat Qath’i, didukung oleh Quran, Sunnah yang shahih dan ijma’ seluruh umat Islam sepanjang 14 abad.

b. Dalil tentang bolehnya tidak shalat Jumat adalah dalil yang hanya didasari oleh beberapa hadits saja.

c. Bila ada dua kelompok dalil yang bertentangan, maka kebiasaan para ulama adalah mencari titik temu keduanya. Dan dalam pandangan saya, titik temunya adalah bahwa yang diberikan keringanan untuk tidak shalat Jumat adalah mereka yang tinggal di luar kota Madinah. Dimana pada dasarnya, di luar momentum hari Raya sekalipun, mereka memang sudah tidak wajib shalat Jumat.

Dan karena pada hari raya mereka masuk ke kota dan ikut shalat Id, maka kalau siangnya mereka tidak mau ikut shalat Jumat, tentu tidak mengapa. Karena mereka itu pada hakikatnya bukan termasuk orang yang muqim di kota Madinah. Mereka adalah penduduk bawadi (tempat yang tidak dihuni manusia).

Sedangkan kita yang memang penduduk yang bermukim di tempat yang dihuni manusia, sejak awal memang sudah wajib untuk melaksanakan shalat Jumat. Sehingga kalau dalil-dali kebolehan tidak shalat Jumat di atas mau dipakai untuk kita, ada perbedaan konteks.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

MADZHAB – Perbandingan antar Firqah.


Prof. Dr .Huzaemah Tahido Yanggo. MA.

.

Pertanyaan . Memperhatikan permintaan fatwa dari Bapak IMA, yang berisi: . Bolehkah membaca Alquran di mushaf ketika shalat?

Jawaban Dewan Fatwa Diantara bentuk ibadah yang paling utama adalah ibadah yang menggabungkan antara dua kebaikan, misalnya menggabungkan antara shalat dan membaca Alquran.

Oleh karena itu, kaum muslimin berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengkhatamkan Alquran di dalam shalat mereka.

Namun, karena tidak semua orang bisa melakukan hal itu dengan bertumpu pada hafalannya, maka para ulama membahas tentang boleh tidaknya membaca mushaf ketika shalat dengan cara memegangnya dengan tangan atau meletakkanya di tempat khusus sehingga dapat dibaca oleh orang yang shalat.

.

Menurut Madzhab Syafi’i dan fatwa dalam Madzhab Hambali, dibolehkan membaca Alquran dari mushaf ketika shalat, baik sebagai imam ataupun ketika salat sendiri.

Tidak ada perbedaan dalam hal ini antara shalat fardu dengan shalat sunah dan antara orang yang hafal dengan yang tidak.

.

Ini adalah pendapat yang menjadi pegangan dalam kedua madzhab. Imam Ibnu Qudamah dalam al-Mughnî menukil hal ini dari dua ulama salaf, yaitu Atha` dan Yahya al-Anshari.

Terdapat sebuah riwayat yang disebutkan di dalam Shahih Bukhari secara mu’allaq –dan disambungkan sanadnya oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf dan al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubrâ—dari Aisyah, Ummul Mukminin r.a., bahwa dia pernah menjadi makmum dari budaknya, Dzakwan, yang membaca dari mushaf.

Dalam kitab al-Mudawwanah al-Kubrâ dan al-Mughnî karya Ibnu Qudamah, disebutkan bahwa Imam az-Zuhri ditanya tentang seorang lelaki yang membaca Alquran dari mushaf, lalu dia berkata :

Dulu orang-orang terbaik kami membaca Alquran dari mushaf ketika shalat.”

Sebagaimana membaca Alquran merupakan ibadah, maka melihat ke mushaf juga merupakan ibadah.

.

Bergabungnya suatu ibadah ke dalam ibadah yang lain tidak mengakibatkan rusaknya ibadah tersebut, akan tetapi sebaliknya membuat bertambahnya pahala, karena di dalamnya terdapat tambahan amalan berupa melihat ke dalam mushaf.

Hujjatul Islam al-Ghazali, di dalam kitab Ihyâ` Ulumiddîn berkata :

“Ada yang mengatakan bahwa mengkhatamkan Alquran dengan membaca mushaf mendapatkan pahala tujuh kali lipat, karena memandang mushaf juga merupakan ibadah.”

Dalam kaidah syara’ dijelaskan bahwa sarana untuk mencapai suatu tujuan menempati posisi hukum tujuan itu.

Tujuan membaca dari mushaf ini adalah tercapainya pembacaan ayat dalam salat , sehingga jika tujuan tersebut dapat tercapai dengan melihat tulisan seperti melalui mushaf, maka itu dibolehkan.

Imam Nawawi di dalam al-Majmû’ berkata,

“Seandainya dia (orang yang sedang shalat) membaca Alquran dari mushaf maka shalatnya tidak batal, baik dia hafal Alquran atau tidak.

Bahkan dia wajib melakukan hal itu jika dia tidak hafal surat Al-Fâtihah.

Bila orang tersebut terkadang membuka lembaran mushaf maka shalatnya tidak batal.

” Al-Allamah Manshur al-Buhuti, seorang ulama Madzhab Hambali, dalam Kasysyâf al-Qinâ’ berkata,

“Dia –orang yang shalat—boleh membaca Alquran dari mushaf walaupun dia hafal apa yang dibaca.” Lalu dia berkata, “Dalam hal ini sama saja antara shalat fardu dan shalat sunnah. Pernyataan ini dikatakan oleh Ibnu Hamid.”

.

Sedangkan para ulama Madzhab Hanafi berpendapat bahwa membaca Alquran dengan mushaf ketika shalat dapat merusak shalat tersebut.

Ini juga merupakan pendapat Ibnu Hazm dari Mazhab Zhahiri.

Diantara dalil Ibnu Hazm dalam masalah ini adalah riwayat yang terdapat dalam Kitâb al-Mashâhif karya Ibnu Abi Dawud dari Ibnu Abbas r.a., dia berkata :

Amirul Mukminin Umar r.a. melarang kami mengimami masyarakat dengan membaca Alquran dari mushaf.

Beliau [ Ibnu Hazm ] juga melarang seseorang menjadi imam kami kecuali yang sudah baligh.”

Namun riwayat ini tidaklah kuat,

karena di dalam sanadnya terdapat Nahsyal bin Sa’id an-Naisaburi.

Statusnya adalah kadzdzâb matrûk.

Dalam at-Târîkh al-Kabîr, al-Bukhari berkata tentang Nahsyal ini :

Di dalam hadits-haditsnya terdapat riwayat-riwayat munkar.”

An-Nasa`i, sebagaimana disebutkan dalam kitab Tahdzîb at-Tahdzîb, berkata :

Dia tidak tsiqah dan haditsnya tidak layak ditulis.”

Dalil lain yang digunakan oleh ulama yang melarang adalah bahwa membawa mushaf dan melihat ke dalamnya serta membuka-buka lembarannya adalah termasuk gerakan yang banyak.

Jawaban dari dalil ini adalah :

bahwa jika yang dipermasalahkan adalah gerakan membawa sesuatu ketika shalat, maka Rasulullah saw. pernah membawa Umamah binti Abil Ash di pundaknya ketika shalat.

Ketika bersujud beliau meletakkannya, lalu ketika berdiri lagi beliau menggendongnya kembali.

Adapun membuka-buka lembaran mushaf, maka terdapat beberapa hadits yang menunjukkan kebolehan melakukan gerakan yang sedikit ketika shalat.

Membuka lembaran mushaf masuk dalam kategori amalan sedikit yang dimaafkan ini.

Membaca dari mushaf tidak selalu merupakan gerakan yang banyak, karena pada umumnya gerakan ini hanya dilakukan sewaktu-waktu saja, mengingat lamanya jarak antara membuka satu lembaran dengan membuka lembaran berikutnya.

Bahkan, membuka lembaran itu sendiri termasuk dalam gerakan yang sedikit.

Saat ini, sebagian masyarakat memanfaatkan penyangga khusus yang tinggi dan diletakkan di depan imam untuk menaruh mushaf.

Mushaf tersebut biasanya memiliki tulisan yang besar dan lembaran yang lebar sehingga tulisan itu dapat terbaca satu atau dua lembar tanpa perlu melakukan gerakan membuka lembaran.

Dua murid Abu Hanifah, yaitu Qadhi Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan asy-Syaibani berpendapat bahwa membaca Alquran dari mushaf ketika shalat adalah mutlak dimakruhkan, baik itu shalat fardu maupun shalat sunnah.

Akan tetapi perbuatan itu tidak membatalkan shalat, karena merupakan ibadah yang ditambahkan ke ibadah yang lain.

Aspek kemakruhannya adalah karena perbuatan itu menyerupai perbuatan Ahlul Kitab.

Berdasarkan kajian yang lebih mendalam, penyerupaan dengan Ahlul Kitab dilarang jika pelakunya memang bermaksud menyerupainya.

Karena wazan kata tasyabbuh (menyerupai) adalah tafa’-‘ul.

Wazan ini menunjukkan adanya sebuah niat dan orientasi untuk melakukan suatu perbuatan dan menghadapi semua kesulitannya.

Mempertimbangkan aspek niat (tujuan) dari mukallaf merupakan salah satu dasar pengambilan dalil dalam syariat.

Di antara dalil akan hal ini juga adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dengan sanadnya dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata :

“Rasulullah saw. sakit sehingga kami shalat di belakang beliau yang melakukan shalat sambil duduk.

Beliau menoleh ke arah kami dan melihat kami dalam keadaan bediri semua.

Lalu beliau memberi isyarat kepada kami sehingga kami semua pun duduk. Setelah melakukan salam, beliau bersabda,

إِنْ كِدْتُمْ آنِفاً لَتَفْعَلُوْنَ فِعْلَ فَارِسَ وَالرُّوْمِ، يَقُوْمُوْنَ عَلَى مُلُوْكِهِمْ وَهُمْ قَعُوْدٌ، فَلاَ تَفْعَلُوْا، اِئْتَمُّوْا بِأَئِمَّتِكُمْ، إِنْ صَلَّى قَائِماً فَصَلُّوْا قِيَاماً وَإِنْ صَلَّى قَاعِداً فَصَلُّوْا قُعُوْداً “

Sesungguhnya kalian hampir saja melakukan perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang Persia dan Romawi.

Mereka berdiri di hadapan para raja mereka yang sedang duduk.

Janganlah kalian melakukan itu.

Ikutilah imam kalian.

Jika ia melakukn shalat dalam keadaan duduk maka shalatlah dalam keadaan duduk juga dan jika ia shalat dalam keadaan berdiri maka shalatlah dalam keadaan berdiri juga.” Kata “kidtum” (hampir) dalam hadits di atas menunjukkan tidak terjadinya sesuatu yang dikhawatirkan meskipun nyaris terjadi.

[ sepengetahuan saya , baca dari beberapa artikel . Hadits ini sudah di Mansuk ]

Perbuatan orang-orang Persia dan Romawi telah benar-benar terjadi dan dilakukan oleh para sahabat, tapi karena mereka tidak bermaksud untuk mengikuti atau menyerupai perbuatan tersebut maka mereka tidak dianggap telah menyerupai orang-orang Persia dan Romawi.

Oleh karena itu, Ibnu Nujaim, salah seorang ulama Hanafi, berkata dalam kitabnya al-Bahr ar-Râiq :

“Ketahuilah bahwa perbuatan menyerupai Ahlul Kitab tidak diharamkan secara mutlak.

Kita makan dan minum seperti mereka.

Yang diharamkan adalah menyerupai tindakan yang tercela dan dengan maksud mengikuti mereka.

Oleh karena itu seandainya tidak bertujuan untuk meniru mereka, maka menurut keduanya (Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan) hal itu tidak dimakruhkan.”

.

Dalam masalah membaca Alquran dengan mushaf ketika shalat ini, para ulama Mazhab Maliki membedakan antara shalat fardu dan shalat sunah.

Mereka berpendapat bahwa hal itu dimakruhkan secara mutlak dalam shalat fardu, baik pembacaan itu dilakukan sejak awal shalat atau ketika di tengah-tengah shalat.

Dalam shalat sunnah hal itu dimakruhkan juga jika memulai membaca dari mushaf ketika di tengah-tengah shalat, karena pada umumnya orang yang shalat sibuk dengan amalan shalatnya.

Namun, hal itu dibolehkan tanpa adanya kemakruhan jika sudah memulainya dari awal shalat.

 

Karena terdapat hal-hal yang dapat ditolerir dalam shalat sunnah tapi tidak dapat ditolerir dalam shalat fardu. (Manh al-Jalîl Syarh Mukhtashar al-Khalîl).

Alasan di atas dijawab bahwa kemakruhan ini bisa terjadi jika gerakan tersebut adalah gerakan main-main yang tidak ada gunanya.

Orang yang shalat dilarang untuk melakukan perbuatan seperti itu, karena bertentangan dengan kekhusyukan dalam shalat.

Membaca mushaf ketika shalat tidaklah termasuk dalam kategori ini, tetapi masuk dalam gerakan ringan untuk tujuan yang diinginkan.

Semua perbuatan yang masuk dalam gerakan ringan ini tidak apa-apa untuk dilakukan.

Landasan dalil bagi hal ini adalah hadits yang menyebutkan bahwa Nabi saw. melepas kedua sandalnya di saat shalat ketika diwahyukan kepada beliau bahwa di sandal tersebut terdapat kotoran (najis).

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud dari Abu Sa’id al-Khudri r.a..

Berdasarkan semua penjelasan di atas, maka membaca Alquran dari mushaf ketika shalat, baik fardu maupun sunnah, adalah boleh secara syara’  tanpa ada kemakruhan di dalamnya apalagi sampai membatalkan shalat.

Hanya saja perlu diperhatikan bahwa selama masalah ini merupakan masalah yang masih diperdebatkan oleh para ulama, maka terdapat kelapangan di dalamnya.

Hal itu sesuai dengan kaidah syara’, bahwa tidak boleh melakukan pengingkaran dalam masalah khilaf.

Dan tidak boleh pula hal ini menjadi penyebab terjadinya ketidaktentraman dan pertikaian antar orang-orang muslim.

Wallahu subhânahu wa ta’âlâ a’lam.

Sumber: dar-alifta.org


BAHAN BACAAN

 Hudhari bik, “Tarikh al-Tasyri’ al-Islami”, penterjemah Mohammad Zuhri, Indonesia: Daarul Ihya, 1980.

 Huzaemah Tahido Yanggo, “Pengantar Perbandingan Madzhab”, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997.

http://www.2lisan.com/926/membaca-alquran-di-mushaf-ketika/

SHALAT TASBIH – bagaimana pendapat Ulama.


Shalat Tasbih dengan periwayatan yang Shahih

Hadits yang anda bilang palsu itu memang palsu menurut beberapa orang muhaddits Namun oleh beberapa muhadditsin lainnya dengan tegas menyatakan bahwa hadits itu tidak palsu, bahkan shahih atau setidaknya hasan.

Maka dari sisi al-hukmu ‘alal hadits, hadits ini dikatakan palsu oleh sebagian orang dan tidak palsu oleh sebagian lainnya.

Lalu bagaimana hal itu bisa terjadi? Dan apakah dimungkinkan adanya perbedaan pandangan dalam menilai suatu hadits? Bukankah standar ukuran keshahihan suatu hadits itu adalah sesuatu yang pasti?

Perbedaan Dalam Menilai Keshahihan Hadits Adalah Sebuah Kemestian

Bukan hanya para ulama fiqih saja yang ‘rajin’ berbeda pendapat, namun para pakar hadits, dari yang paling rendah sampai ke level yang tertinggi, juga berhak untuk berbeda pendapat.

Bahkan jurang pemisah perbedan pendapat di antara mereka seringkali sangat besar dan menganga. Bayangkah, ada suatu hadits yang divonis palsu oleh seorang pakar hadits, namun oleh pakar hadits yang lain dinilai shahih.

Kok bisa?

Ya, memang bisa. Dan memang itulah dunia kritik hadits, selalu ada yang mengatakan shahih dan ada juga yang mengatakan tidak shahih, bahkan palsu.

Semua itu adalah hal yang pasti terjadi, dan salah satu contohnya adalah tentang kedudukan hadits shalat tasbih yang anda tanyakan ini.

Matan Hadits Shalat Tasbih

Sebelumnya kita bicara tentang kedudukan hadits shalat tasbih, marilah kita mulai dari matan (isi) hadits yang dimaksud, yang terjemahannya sebagai berikut:

Dari Al-Abbas bin Abdilmuttalib ra.bahwa Rasulullah SAW bersabda kepadanya, “Hai pamanku, Al-Abbas, maukah Paman saya beri sesuatu? Maukah saya beri suatu anugerahi? Maukah saya beri suatu hadiah? Maukah saya berbuat sesuatu? Ada 10 hal yang bila Paman lakukan maka Allah mengampuni dosa-dosa, baik yang dulu maupun yang sekarang, yang lama maupun yang baru, yang disengaja maupun yang tidak disengaja, yang kecil maupun yang besar, yang sembunyi maupun yang terang-terangan?

Sepuluh hal itu adalah shalat empat rakaat, setiap rakaat membaca Al-Fatihah dan sebuah surah, bila telah selesai pada rakaat pertama dan masih berdiri, bacalah tasbih “Subhanallah walhambulillah wala ilaaha illallah wallahu akbar”, sebanyak 15 kali. Kemudian ruku’lah dan bacalah tasbih tadi 10 kali, kemudian i’tidal dan bacalah tasbih tadi 10 kali, kemudian sujud dan bacalah tasbih tadi 10 kali, kemudian angkat kepala dari sujud dan bacalah tasbih tadi 10 kali, kemudian sujud lagi dan bacalah tasbih tadi 10 kali, kemudian angkat kepada dan bacalah tasbih tadi 10 kali.

Maka bacaan tasbih itu ada 75 untuk tiap rakaat. Paman kerjakan 4 rakaat.

Apabila paman mampu maka kerjakan shalat itu sekali dalam sehari, bila tidak mampu kerjakanlah setiap Jumat, bila tidak mampu maka kerjakan tiap bulan, bila tidak mampu maka kerjakan setahun sekali dan bila tidak mampu juga maka kerjakan sekali dalam umur hidup.”

( HR Abu Daud dan Tirmizy)

Al-Hukmu ‘Alal Hadits

Sekarang kita bicara tentang kedudukan hadits atau sering diistilahkan dengan al-hukmu ‘alal hadits. Dalam hal ini kita punya dua kubu yang berbeda pendapat.

1./-Pendapat Yang Mengatakan Palsu

Di antara para ulama yang mengatakan bahwa hadits tentang shalat tasbih adalah hadits palsu antara lain Al-Imam Ibnu Al-Jauzi, seorang ahli hadits yang hidup di abad ke-6 hijriyah (wafat tahun 597 H).

Beliau punya sebuah kitab khusus yang berisi hadits palsu semuanya. Dari namanya saja, kita sudah tahu bahwa isinya memang hadits palsu. Judul kitabnya adalah Al-Maudhu’at. Dan hadits tentang shalat tasbih ternyata ada di dalam salah satu isinya.

Paling tidak ada 3 jalur periwayatan hadits ini yang dituduhkan bermasalah, menurut Ibnul Jauzi.

1. Masalah di Jalur Pertama

Karena ada perawi yang mungkarul hadits bernama Shadaqah bin Yazid Al-Khurasani. Atau mu’dhal karena sanadnya terputus dua orang, seperti yang dikatakan oleh Ibnu HIbban.

2. Masalah di Jalur Kedua

Karena ada perawi yang majhul atau tidak diketahui identitasnya, yaitu Musa bin Abdil Aziz.

3. Masalah di Jalur Ketiga

KArena ada perawi yang dinilai tidak halal untuk meriwayatkan hadits yang bernama Musa bin Ubaidah. Yang menilai begitu di antaranya Imam Ahmad bin Hanbal.

Selain itu ada Al-Imam Asy-Syaukani ( wafat tahun 1250 hijriyah ), beliau termasuk yang mengatakan bahwa hadits ini adalah hadits palsu. Kita bisa baca keterangan beliau dalam kedua kitabnya, Al-Fawaid Al-Majmu’ah Fil Ahaditisl Maudhu’ah, dan kitab Tuhfatudz-dzakirin.

2./-Pendapat Yang Mengatakan Shahih

Namun tuduhan di atas dijawab oleh para pakar hadits yang lain. Apa yang dikatakan sebagai hadits palsu oleh Ibnul Jauzi ternyata hanya riwayat yang melalui satu pangkal jalur yaitu Ad-Daruquthuny. Padahal selain jalur itu, masih banyak jalur lainnya yang tidak ikut dibahas oleh beliau.

Maka para pakar hadits selain beliau ramai-ramai mengkritisi balik apa yang telah disimpulkan oleh Ibnul Jauzi secara terburu-buru itu. Bahkan beliau juga dituduh orang yang terlalu mudah menjatuhkan vonis kepalsuan atas suatu hadits (tasahhul).

1. Tuduhan bahwa Shadaqah bin Yazid Al-Khurasani sebagai mungkarul- hadis memang benar, namun ternyata salah alamat. Sebab yang meriwayatkan hadits ini ternyata orang lain yang namanya nyaris mirip, yaitu Shadaqah bin Abdullah Ad-Dimasyqi. Meski ada yang menilainya lemah (dha’if) namun dia bukan mungkarul hadits, sehingga tidak bisa dinilai sebagai hadits palsu. Sebab beberapa pengkritik hadits mengatakan bahwa dia shahih.

Kalau Ma’qil bin Yazid Al-Kuhrasani memang mungkarul hadits, tetapi dia bukanlah orang yang meriwayatkan hadits ini.

2.Tuduhan bahwa Musa bin Abdul Aziz adalah orang yang majhul, menurut Az-Zarkasyi tidak otomatis menjadikan hadits itu palsu. Boleh jadi Ibnul Jauzi memang tidak mengetahui identitas orang itu. Padahal banyak ulama lain seperti Bisyr bin Hakam, Abdurrahman bin Bisyr, Ishaq bin Abu Israil, Zaid bin Al-Mubarak, yang mengenalnya sebagai orang tidak ada masalah masalah   ( laa ba’sa bihi ).

Imam Ibnu Hibban juga mengatakan bahwa Musa bin Abdul Aziz sebagai orang yang tsiqah (kredibel). Bahkan AL-Imam Al-Buhkari meriwayatkan hadits dari beliau juga dalam kitab Adabul Mufrad.

Jadi bukan lah Musa bin Abdil Aziz itu majhul, tetapi Ibnul Jauzi saja yang memang tidak punya keterangan tentang perawi itu. Ketidak-tahuan dia atas orang itu tidak bisa dijadikan vonis bahwa hadits itu palsu.

3. Tuduhan bahwa Musa bin Ubaidah adalah orang yang tidak halal meriwayatkan hadits adalah sebatas tuduhan.

Sebab Ibnul araq Al-Kannani menegaskan bahwa Musa bin Ubaidllah bukan pendusta, melainkan dia baru sekedar dituduh sebagai pendusta (muttaham bil kadzib).

Ibnu Saad justru menilai bahwa dia adalah perawi yang tsiqah (kredibel), bukan dhaif.

Selain kedua imam di atas, ternyata hadits tentang shalat tasbih ini malah dikatakan sebagai hadits shahih, bukan hadits palsu.

Yang menarik, justru yang mengatakan shahih bukan sembarang orang, sehingga sanggahan mereka atas tuduhan kepalsuan hadits sangat berarti.

Di antara mereka yang mengatakan bahwa hadits itu shahih adalah:

Al-Imam Bukhari rahimahulah.

Siapa yang tidak kenal beliau? Beliau adalah penulis kitab tershahih kedua setelah Al-Quran Al-Kariem. Namun hadits ini memang tidak terdapat di dalam kitab shahihnya itu, melainkan beliau tulis dalam kitab yang lain.

Kitab itu adalah Qiraatul Ma’mum Khalfal Imam. Di sana beliau menyatakan bahwa hadits tentang shalat tasbih di atas adalah hadits yang shahih.

Al-‘Allamah Syeikh Nasiruddin Al-Albani

Beliau adalah pakar hadits dari negeri Suriah yang amat tersohor di seantero jagad. Beliau pun juga termasuk yang mengatakan bahwa hadits tentang shalat tasbih ini shahih.

Kita akan mendapatkan hadits ini dalam kitab karangan beliau, Shahih Sunan Abu Daud. Sebuah kitab hasil kritisi dan analisa beliau terhadap kitab susunan Abu Daud khususnya yang bersatatus shahih saja.

3. Kalangan Yang Berpendapat Ganda Atau Tawaqquf

Misalnya Al-Imam An-Nawawi punya dua penilaian yang berbeda atas hadits yang sama. Demikian juga dengan Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqallani, ahli hadits yang telah membuat syarah dari kitab Shahih A-Bukhari.

Sedangkan yang tawaqquf atau tidak memberikan komentar (abstein) antara lain Al-Imam Az-Dzahabi, sebagaimana yang kita baca dari kitab Tuhfatul Ahwadzi fi syarh jami’ At-Tirmizy jilid 2 halaman 488.

Kesimpulan

Dalam dunia ilmu hadits, perbedaan pendapat dalam menilai kedudukan suatu riwayat memang sangat besar kemungkinannya. Ada yang telah divonis shahih atau dha’if oleh seorang ulama, belum tentu disepakati oleh ulama lainnya.

Sebaiknya kita lebih banyak mengkaji dan membaca literatur, khususnya dalam masalah hadits ini, karena dunia ilmu hadits sangat luas dan beragam. Tidak lupa pula kita harus lebih banyak bertanya kepada para ulama yang ahli agar kita tidak terlalu mudah mengeluarkan staemen yang nantinya akan kita sesali sendiri.

Wallahu a’lam bishshawab wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,


Ahmad Sarwat, Lc

.

Para Ulama Yang Menshahihkan Hadits Shalat Tasbih:

1.    Imam Muslim bin Al-Hajjaj. Beliau berkata : “ Saya tidak melihat sanad hadits yang lebih baik dari hadits ini ”. Diriwayatkan oleh Al-Khalily dalam Al-Irsyad 1/327 dan Al Baihaqy dan selain keduanya.
2.    Abu Daud As-Sijistany. Beliau berkata : “ Tidak ada dalam masalah shalat Tasbih hadits yang lebih shahih dari hadits ini”.
3.    Ad-Daraquthny. Beliau berkata : “ Hadits yang paling shohih dalam masalah keutamaan Al-Qur’an adalah (hadits tentang keutamaan) Qul  Huwa Allahu Ahad dan yang paling shahih dalam masalah keutamaan shalat adalah hadits tentang shalat Tasbih ”.
4.    Al-Ajurry.
5.    Ibnu Mandah.
6.    Al-Baihaqy.
7.    Ibnu As-Sakan.
8.    Abu Sa’ad As-Sam’any.
9.    Abu Musa Al-Madiny.
10.    Abu Al-Hasan bin Al-Mufadhdhal Al-Maqdasy.
11.    Abu Muhammad ‘Abdurrahim Al-Mishry.
12.    Al-Mundziry dalam At-Targhib Wa At-Tarhib dan Mukhtashar Sunan Abu Daud.
13.    Ibnush Sholah. Dia berkata : “Shalat Tasbih adalah sunnah bukan bid’ah, hadits-haditsnya dipakai beramal dengannya”.
14.    An-Nawawy, dalam At-Tahdzib Al-Asma’ Wa Al-Lughot.
15.    Abu Manshur Ad Dailamy, dalam Musnad Al-Fridaus.
16.     Shalahuddin Al-‘Alai. Dia berkata : “Hadits shalat Tasbih shahih atau hasan dan harus ( tidak boleh dha’if )”.
17.    Sirajuddin Al-Bilqiny. Dia berkata : “Hadits shalat tasbih shohih dan ia mempunyai jalan-jalan yang sebagian darinya menguatkan sebagian yang lainnya maka ia adalah sunnah dan sepantasnya diamalkan”.
18.    Az-Zarkasyi. Beliau berkata : “Hadits shalat tasbih adalah shahih dan bukan dha’if apalagi maudhu’   ( palsu )”.
19.    As-Subki.
20.    Az-Zubaidy dalam Ithaf As-Sadah Al-Muttaqin.3/473.
21.    Ibnu Nashiruddin Ad-Dimasqy.
22.    Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Al-Khishal Al-Mukaffirah Lidzdzunub Al-Mutaqoddimah Wal Mutaakhkhirah dan Nataijul Afkar Fi Amalil Adzkar dan Al-Ajwibah ‘Ala Ahadits Al-Mashobih.
23.    As-Suyuthy.
24.    Al-Laknawy.
25.    As-Sindy.
26.    Al-Mubarakfury dalam Tuhfah Al-Ahwadzy.
27.    Al-‘Allamah Al-Muhaddits Ahmad Syakir -rahimahullahu-.
28.    Al-‘Allamah Al-Muhaddits Nashiruddin Al-Albany -rahimahullahu- Shahih Abi Daud (hadits 1173-1174), Shahih At-Tirmidzi, Shahih At-Targhib (1/684-686), Tahqiq Al-Misykah (1/1328-1329).
29.    Al-‘Allamah Al-Muhaddits Muqbil bin Hady Al-Wadi’y -rahimahullahu- dalam Ash-Shahih Al-Musnad Mimma Laisa Fi Ash-Shohihain.

Kesimpulan:
Nampak dengan sangat jelas dari uraian di atas bahwa hadits shalat tasbih adalah hadits yang shohih atau hasan dan tidak ada keraguan akan hal tersebut. Wallahu A’lam.

Peringatan:

Ada beberapa ulama yang melemahkan hadits shalat tasbih ini andaikata bukan karena kekhawatiran pembahasan ini menjadi lebih panjang niscaya akan kami sebutkan perkataan-perkataan para ulama tersebut dan dalil-dalil mereka berikut dengan bantahan terhadap mereka. Wallahul Musta’an.

http://al-atsariyyah.com/shalat-tasbih.html#more-3456

.

Shalat Dluha

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي أُوَيْسٍ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ عَنْ أَبِي النَّضْرِ مَوْلَى عُمَرَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ أَنَّ أَبَا مُرَّةَ مَوْلَى أُمِّ هَانِئٍ بِنْتِ أَبِي طَالِبٍ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ سَمِعَ أُمَّ هَانِئٍ بِنْتَ أَبِي طَالِبٍ تَقُولُ ذَهَبْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْفَتْحِ فَوَجَدْتُهُ يَغْتَسِلُ وَفَاطِمَةُ ابْنَتُهُ تَسْتُرُهُ قَالَتْ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَقَالَ مَنْ هَذِهِ فَقُلْتُ أَنَا أُمُّ هَانِئٍ بِنْتُ أَبِي طَالِبٍ فَقَالَ مَرْحَبًا بِأُمِّ هَانِئٍ فَلَمَّا فَرَغَ مِنْ غُسْلِهِ قَامَ فَصَلَّى ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ مُلْتَحِفًا فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ فَلَمَّا انْصَرَفَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ زَعَمَ ابْنُ أُمِّي أَنَّهُ قَاتِلٌ رَجُلًا قَدْ أَجَرْتُهُ فُلَانَ ابْنَ هُبَيْرَةَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ أَجَرْنَا مَنْ أَجَرْتِ يَا أُمَّ هَانِئٍ قَالَتْ أُمُّ هَانِئٍ وَذَاكَ ضُحًى

 Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Abu Uwais berkata, telah menceritakan kepadaku Malik bin Anas dari Abu An Nadlar mantan budak ‘Umar bin ‘Abdullah bahwa Abu Murrah mantan budak Ummu Hani’ binti Abu Thalib mengabarkan kepadanya, bahwa ia mendengar Ummu Hani’ binti Abu Thalib berkata,

Aku berkunjung kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada hari pembebasan Makkah, aku dapati beliau mandi sementara Fatimah, puteri beliau menutupinya dengan tabir.

Ummu Hani’ binti Abu Thalib berkata, Aku lantas memberi salam kepada beliau, lalu beliau bertanya:

Siapakah ini? Aku menjawab, Aku Ummu Hani’ binti Abu Thalib. Lalu beliau bertanya, Selamat datang wahai Ummu Hani’.

Setelah selesai mandi beliau shalat delapan rakaat dengan berselimut pada satu baju.

Setelah selesai shalat aku berkata, Wahai Rasulullah, anak ibuku mengatakan dia telah membunuh seseorang dan aku telah memberi ganti rugi kepada seseorang yakni Abu Hubairah.

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: Kami telah setuju apa yang engkau berikan wahai Ummu Hani’! Ummu Hani’ berkata, Saat itu adalah waktu dluha.

344

SHALAT – Salam kekanan dan kekiri




Salat itu ibadah khusus yang terdiri dari bacaan dan gerakan dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhir dengan salam. Salat memiliki makna dan manfaat yang komprehensif bagi kebaikan hidup manusia di dunia dan akhirat.

Takbiratul ihram menggambarkan terputusnya sementara interaksi dan komunikasi hamba dengan sesamanya karena sedang online dengan Allah. Setelah takbiratul ihram diharamkan berbicara dengan sesama manusia dan tidak dibenarkan melakukan gerakan di luar gerakan yang sudah ditentukan dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Dalam salat yang harus terjadi adalah personal communication dengan Allah dalam munajat, dialog, berserah dengan ikhlas dan khusyuk kepada-Nya sehingga perasaan seorang hamba yang sedang shalat diharapkan connection dengan Allah.

Sementara ketika salat berakhir, hamba kembali menyatakan salam, kedamaian dan kesejahteraan, bagi siapa saja yang berada di sebelah kanan dan di sebelah kirinya.

Pertama, salam ini untuk para malaikat yang berada di sebelah kanan dan kiri. Dalam shalat itu, ada malaikat yang mencatat amal perbuatan manusia di sebelah kanan dan kiri.

Ada malaikat hafazhah yang senantiasa menjaga dan memelihara manusia, bahkan ketika shalat subuh ada malaikat yang menyaksikan.

(QS Al-Isra/17: 78).

Kedua, salam yang diucapkan hamba dalam mengakhiri shalat ke kanan dan kiri mengandung makna simbolik yang bernilai filosofis.

Setelah hamba beriman membangun personal communication dengan Allah dalam shalat, maka pada gilirannya energi positif yang dirasakannya akan diaktualkan kepada sesama manusia yang berada di sebelah kanan maupun yang berada di sebelah kiri dalam bentuk perdamaian dan perjuangan untuk mewujudkan kesejahteraan lahir batin.

Mengucapkan salam ke sebelah kanan hukumnya wajib, mengisyaratkan bahwa tanggung jawab sosial kaum Muslimin kepada sesama Muslim yang oleh Al Qur’an dinamakan ” kelompok kanan ” ( ash-hab al-yamin ) yang memperoleh keselamatan di akhirat, merupakan kewajiban.

(QS Al-Waqi’ah/56: 27-40, 90-91).

Pada waktu yang sama, kaum Muslimin dididik oleh Al-Qur`an agar tidak bersikap egois dalam menebar kedamaian hanya untuk Muslim, tetapi juga untuk bukan Muslim yang oleh Al-Qur`an disebut sebagai ash-hab al-syimal, kelompok kiri.

( QS Al-Waqi’ah/56: 41-56 ).

Tujuan menebar kedamaian kepada mereka yang bukan Muslim adalah untuk mempromosikan kepada mereka bahwa ajaran Islam itu cinta damai. Promosinya bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan tindakan nyata (dakwah bil hal).

 Rasulullah saw bersabda:

Hak seorang Muslim kepada tetangga itu terbagi tiga level.

Pertama, jika tetangga itu masih ada hubungan kerabat (hubungan darah/family dan beragama Islam), maka mereka mendapatkan tiga hak. Hak sebagai Muslim, hak sebagai kerabat dan hak sebagai tetangga.

Kedua, jika tetangga itu beragama Islam, tetapi bukan kerabat, tidak ada hubungan darah, maka mereka mendaptkan dua hak, hak sebagai Muslim dan hak sebagai tetangga.

Ketiga, jika tetangga itu bukan kerabat dan bukan Muslim, maka mereka mendapatkan satu hak, yakni hak bertetangga.

Ucapan salam dalam shalat ke kanan maupun ke kiri menggambarkan keluhuran akhlak seorang Muslim kepada tetangganya, baik Muslim maupun bukan Muslim.

.

Sementara konsep tetangga itu seperti sebuah lingkaran. Mulai dari lingkaran satu RT, satu RW, satu Kelurahan, Satu Kota, Satu Provinsi hingga satu Negara.

Keluarga, menurut para sosiolog, merupakan satuan terkecil dalam sistem sosial, dan individu dalam keluarga, terutama kepala keluarga merupakan merupakan inti dari satuan terkecil tersebut. Salam yang dinyatakan secara berjama’ah dalam shalat merupakan kekuatan perdamaian yang dahsyat bagi kemanusiaan.

..

.

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

http://ramadan.detik.com/read/2011/09/01/190703/1714489/1254/untuk-siapa-salam-dalam-salat

TAWARRUK atau IFTIRASY


.

1./ Bagi masbuq, apabila imam duduk pada rakaat akhir, cara duduk bagi makmum masbuq ialah duduk iftirasy. Karena duduk tawarruk hanya pada rakaat terakhir.

Sedangkan ketika imam duduk tasyahhud akhir, masbuq masih bukan pada duduk tasyahhud akhir.

Kata Bujairimi:

” Keseluruhan cara duduk iftirasy ialah enam tempat, iaitu :

.
posisi telapak kaki diduduki- Iftirasy

– duduk antara dua sujud
– duduk tasyahhud awal
– duduk istirahah
– duduk makmum masbuq
– duduk orang yang ada sujud sahwi
– duduk orang yang bersolat secara duduk”.

.

posisi pantat&telapak kaki-tawarruk

Untuk duduk tawarruk, tidak menjelaskan karena ia hanya sunah hai’ah yang tidak membatalkan sembahyang.

2. / Bacaan tasyahhud bagi masbuq juga adalah bacaan tasyahhud awal. Tetapi jika selesai membacanya dan imam masih belum memberi salam, ada ulama menyatakan sunat membaca tasyahhud hingga habis (seperti tasyahhud akhir).

 Wallahu A’lam.

[ رَبَّنَا هَبْ لَنَ مِنْ أَزْوَاجِـنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةً أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا ]

.

Renungan

.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ صَالِحِ بْنِ كَيْسَانَ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ قَالَتْ فَرَضَ اللَّهُ الصَّلَاةَ حِينَ فَرَضَهَا رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ فِي الْحَضَرِ وَالسَّفَرِ فَأُقِرَّتْ صَلَاةُ السَّفَرِ وَزِيدَ فِي صَلَاةِ الْحَضَرِ

 Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Shalih bin Kaisan dari ‘Urwah bin Az Zubair dari ‘Aisyah Ibu kaum Mu’minin,

ia berkata,

Allah telah mewajibkan shalat, dan awal diwajibkannya adalah dua rakaat dua rakaat,

baik saat mukim atau saat dalam perjalanan.

Kemudian ditetapkanlah ketentuan tersebut untuk shalat safar (dalam perjalanan),

dan ditambahkan lagi untuk shalat di saat mukim.”