Etika Merayakan Peringatan Maulid Nabi


Etika Merayakan Peringatan Maulid Nabi

Raja Al-Mudhaffar Abu Sa`id Kaukabri ibn Zainuddin Ali bin Baktakin(l. 549 H. w.630 H.), menurut Imam Al-Suyuthi tercatat sebagai raja pertama yang memperingati hari kelahiran Rasulullah SAW ini dengan perayaan yang meriah luar biasa [1].

Tidak kurang dari 300.000 dinar beliau keluarkan dengan ikhlas untuk bersedekah pada hari peringatan maulid ini.

Imam Al-Hafidz Ibnu Wajih menyusun kitab maulid yang berjudul “Al-Tanwir fi Maulidi al-Basyir al-Nadzir”.

Konon kitab ini adalah kitab maulid pertama yang disusun oleh ulama.

Di negeri kita tercinta ini, meskipun tidak dapat disebut sebagai Negara Islam, banyak masyarakat yang merayakannya dan telah menjadi tradisi mereka.

Pemerintah pun telah menjadikan peringatan ini salah satu agenda rutin dan acara kenegaraan tahunan yang dihadiri oleh pejabat tinggi negara serta para duta besar negara-negara sahabat berpenduduk Islam.

Hari peringatan maulid Nabi tekah telah disamakan dengan hari-hari besar keagamaan lainnya.

Pendapat Ulama dan Silang pendapat mengenai perayaan Maulid NabiHukum perayaan maulid telah menjadi topik perdebatan para ulama sejak lama dalam sejarah Islam, yaitu antara kalangan yang memperbolehkan dan yang melarangnya karena dianggap bid’ah.

Hingga saat ini pun masalah hukum maulid, masih menjadi topik hangat yang diperdebatkan kalangan muslim. Yang ironis, di beberapa lapisan masyarakat muslim saat ini permasalahan peringatan maulid sering dijadikan tema untuk berbeda pendapat yang kurang sehat, dijadikan topik untuk saling menghujat, saling menuduh sesat dan lain sebagainya.

Bahkan yang tragis, masalah peringatan maulid nabi ini juga menimbulkan kekerasan sektarianisme antar pemeluk Islam di beberapa tempat.

Seperti yang terjadi di salah satu kota Pakistan tahun 2006 lalu, peringatan maulid berakhir dengan banjir darah karena dipasang bom oleh kalangan yang tidak menyukai maulid.

Untuk lebih jelas mengenai duduk persoalan hukum maulid ini, ada baiknya kita telaah sejarah pemikiran Islam tentang peringatan maulid ini dari pendapat para ulama terdahulu.

Tentu saja tulisan ini tidak memuat semua pendapat ulama Islam, tetapi cukup ulama dominan yang dapat dijadikan rujukan untuk membuat sebuah peta pemikiran.

Pendapat Ibnu Taymiyah:Ibnu Taymiyah dalam kitab Iqtidla’-us-Syirat al-Mustqim (2/83-85) mengatakan:

“Rasululullah s.a.w. telah melakukan kejadian-kejadian penting dalam sejarah beliau, seperti khutbah-khutbah dan perjanjian-perjanjian beliau pada hari Badar, Hunain, Khandaq, pembukaan Makkah, Hijrah, Masuk Madinah.

Tidak seharusnya hari-hari itu dijadikan hari raya, karena yang melakukan seperti itu adalah umat Nasrani atau Yahudi yang menjadikan semua kejadian Isa hari raya.

Hari raya merupakan bagian dari syariat, apa yang disyariatkan itulah yang diikuti, kalau tidak maka telah membuat sesuatu yang baru dalam agama.

Maka apa yang dilakukan orang memperingati maulid, antara mengikuti tradisi Nasrani yang memperingati kelahiran Isa, atau karena cinta Rasulullah.

Allah mungkin akan memberi pahala atas kecintaan dan ijtihad itu, tapi tidak atas bid’ah dengan menjadikan maulid nabi sebagai hari raya.

Orang-orang salaf tidak melakukan itu padahal mereka lebih mencintai rasul”.Namun dalam bagian lain di kitab tersebut, Ibnu Taymiyah menambahkan:”Merayakan maulid dan menjadikannya sebagai kegiatan rutin dalam setahun yang telah dilakukan oleh orang-orang, akan mendapatkan pahala yang besar sebab tujuannya baik dan mengagungkan Rasulullah saw.Seperti yang telah saya jelaskan, terkadang sesuatu itu baik bagi satu kalangan orang,padahal itu dianggap kurang baik oleh kalangan mu’min yang ketat.

Suatu hari pernah ditanyakan kepada Imam Ahmad tentang tindakan salah seorang pejabat yang menyedekahkan uang 100 dinar untuk membuat mushaf Qur’an, beliau menjawab:”Biarkan saja, itu cara terbaik bagi dia untuk menyedekahkan emasnya”.

Padahal madzhab Imam Ahmad mengatakan bahwa menghiasi Qur’an hukumnya makruh.

Tujuan Imam Ahmad adalah bahwa pekerjaan itu ada maslahah dan ada mafsadahnya pula, maka dimakruhkan, akan tetapi apabila tidak diperbolehkan, mereka itu akan membelanjakan uanngnya untuk kerusakan, seperti membeli buku porno dsb.

Pahamilah dengan cerdas hakekat agama, lihatlah kemaslahatan dalam setiap pekerjaan dan kerusakannya, sehingga kamu mengetahui tingkat kebaikan dan keburukan, sehingga pada saat terdesak kamu bisa memilih mana yang terpenting, inilah hakekat ilmu yang diajarkan Rasulullah.

Membedakan jenis kebaikan, jenis keburukan dan jenis dalil itu lebih mudah. Sedangkan mengetahui tingkat kebaikan, tingkat keburukan dan tingkat dalil itu pekerjaan para ulama.

Selanjutnya Ibnu Taymiyah menjelaskan tingkat amal shalih itu ada tiga.

Pertama :  Amal shaleh yang masyru’ (diajarkan) dan didalamnya tidak ada kemaruhan sedikitpun.

Inilah sunnah murni dan hakiki yang wajib dipelajari dan diajarkan dan inilah amalan orang shalih terdahulu dari zaman muhajirin dan anshor dan pengikutnya.

Kedua: Amal shalih dari satu sisi, atau sebagian besar sisinya berisi amal shalih seperti tujuannya misalnya, atau mungkin amal itu mengandung pekerjaan baik.

Amalan-amalan ini banyak sekali ditemukan pada orang-orang yang mengaku golongan agama dan ibadah dan dari orang-orang awam juga.

Mereka itu lebih baik dari orang yang sama sekali tidak melakukan amal solih, lebih baik juga daripada orang yang tidak beramal sama sekali dan lebih baik dari orang yang amalannya dosa seperti kafir, dusta, hianat, dan bodoh.

Orang yang beribadah dengan ibadah yang mengandung larangan seperti berpuasa lebih sehari tanpa buka (wisal), meninggalkan kenikmatan tertentu (mubah yang tidak dilarang), atau menghidupkan malam tertentu yang tidak perlu dikhususkan seperti malam pertama bulan Rajab, terkadang mereka itu lebih baik dari pada orang pengangguran yang malas beribadah dan melakukan ketaatan agama.

Bahkan banyak orang yang membenci amalan-amalan seperti ini, ternyata mereka itu pelit dalam melakukan ibadah, dalam mengamalkan ilmu, beramal shalih, tidak menyukai amalan dan tidak simpatik kepadanya, tetapi tidak juga mengantarkannya kepada kebaikan, misalnya menggunakan kemampuannya untuk kebaikan.

Mereka ini tingkah lakunya meninggalkan hal yang masyru’ (dianjurkan agama) dan yang tidak masyru’ (yang tidak dianjurkan agama), akan tetapi perkatannya menentang yang tidak masyru’ (yang tidak diajarkan agama).

Ketiga: Amalan yang sama sekali tidak mengandung kebaikan, karena meninggalkan kebaikan atau mengandung hal yang dilarang agama. (ini hukumnya jelas). Pendapat Ibnu Hajar al-Haithami: “Bid’ah yang baik itu sunnah dilakukan, begitu juga memperingati hari maulid Rasulullah”

Pendapat Abu Shamah (guru Imam Nawawi):”Termasuk yang hal baru yang baik dilakukan pada zaman ini adalah apa yang dilakukan tiap tahun bertepatan pada hari kelahiran Rasulullah s.a.w.

Dengan memberikan sedekah dan kebaikan, menunjukkan rasa gembira dan bahagia, sesungguhnya itu semua berikut menyantuni fakir miskin adalah tanda kecintaan kepada Rasulullah dan penghormatan kepada beliau, begitu juga merupakan bentuk syukur kepada Allah atas diutusnya Rasulullah s.a.w. kepada seluruh alam semesta”.

Ibnu Hajar al-Asqolani dalam kitab Fatawa Kubro menjelaskan:

“Asal  melakukan maulid adalah bid’ah, tidak diriwayatkan dari ulama salaf dalam tiga abad pertama, akan tetapi didalamnya terkandung kebaikan-kebaikan dan juga kesalahan-kesalahan.

Barangsiapa melakukan kebaikan di dalamnya dan menjauhi kesalahan-kesalahan, maka ia telah melakukan bid’ah yang baik (bid’ah hasanah).

Saya telah melihat landasan yang kuat dalam hadist shahih Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah s.a.w. datang ke Madinah, beliau menemukan orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura, maka beliau bertanya kepada mereka, dan mereka menjawab:

“Itu hari dimana Allah menenggelamkan Firaun, menyelamatkan Musa, kami berpuasa untuk mensyukuri itu semua.

Dari situ dapat diambil kesimpulan bahwa boleh melakukan syukur pada hari tertentu di situ terjadi nikmat yang besar atau terjadi penyelamatan dari mara bahaya, dan dilakukan itu tiap bertepatan pada hari itu.

Syukur bisa dilakukan dengan berbagai macam ibadah, seperti sujud, puasa, sedekah, membaca al-Qur’an dll.

Apa nikmat paling besar selain kehadiran Rasulullah s.a.w. di muka bumi ini.

Maka sebaiknya merayakan maulid dengan melakukan syukur berupa membaca Qur’an, memberi makan fakir miskin, menceritakan keutamaan dan kebaikan Rauslullah yang bisa menggerakkan hati untuk berbuat baik dan amal shalih.

Adapun yang dilakukan dengan mendengarkan musik dan memainkan alat musik, maka hukumnya dikembalikan kepada hukum pekerjaan itu, kalau itu mubah maka hukumnya mubah, kalau itu haram maka hukumnya haram dan kalau itu kurang baik maka begitu seterusnya”.

Al-Hafidz al-Iraqi dalam kitab Syarh Mawahib Ladunniyah mengatakan:

“Melakukan perayaan, memberi makan orang disunnahkan tiap waktu, apalagi kalau itu disertai dengan rasa gembira dan senang dengan kahadiran Rasulullah s.a.w. pada hari dan bulan itu. Tidaklah sesuatu yang bid’ah selalu makruh dan dilarang, banyak sekali bid’ah yang disunnahkan dan bahkan diwajibkan”.

Imam Suyuti berkata: “Menurut saya asal perayaan maulid Nabi SAW, yaitu manusia berkumpul, membaca al-Qur’an dan kisah-kisah teladan Nabi SAW sejak kelahirannya sampai perjalanan hidupnya. Kemudian dihidangkan makanan yang dinikmati bersama, setelah itu mereka pulang.

Hanya itu yang dilakukan, tidak lebih.

Semua itu tergolong bid’ah hasanah.

Orang yang melakukannya diberi pahala karena mengagungkan derajat Nabi SAW, menampakkan suka cita dan kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhamad SAW yang mulia”.[2]

Syeh Azhar Husnain Muhammad Makhluf mengatakan:

“Menghidupkan malam maulid nabi dan malam-malam bulan Rabiul Awal ini adalah dengan memperbanyak dzikir kepada Allah, memperbanyak syukur dengan nikmat-nikmat yang diturunkan termasuk nikmat dilahirkannya Rasulullah s.a.w. di alam dunia ini.

Memperingatinya sebaiknya dengan cara yang santun dan khusu’ dan menjauhi hal-hal yang dilarang agama seperti amalan-amalan bid’ah dan kemungkaran.

Dan termasuk cara bersyukur adalah menyantuni orang-orang susah, menjalin silaturrahmi.

Cara itu meskipun tidak dilakukan pada zaman Rasulullah s.a.w. dan tidak juga pada masa salaf terdahulu namun baik untuk dilakukan termasuk sunnah hasanah”.

Seorang ulama Turkmenistan Mubasshir al-Thirazi mengatakan:

“Mengadakan perayaan maulid nabi Muhammad s.a.w. saat ini bisa jadi merupakan kewajiban yang harus kita laksanakan, untuk mengkonter perayaan-perayaan kotor yang sekarang ini sangat banyak kita temukan di masyarakat”

Dalil-dalil yang memperbolehkan melakukan perayaan Maulid Nabi s.a.w. 1. Anjuran bergembira atas rahmat dan karunia Allah kepada kita.

Allah SWT berfirman :

 قُلْ بِفَضْلِ اللّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُواْ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. QS.Yunus:58.2.

Rasulullah SAW sendiri mensyukuri atas kelahirannya. Dalam sebuah Hadits dinyatakan :

  عَنْ أَبِيْ قَتَادَةَ الأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الْإِثْنَيْنِ فَقَالَ فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ . رواه مسلم

“Dari Abi Qotadah al-Anshori RA sesungguhnya Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai puasa hari senin.

Rasulullah SAW menjawab:

“Pada hari itu aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku”.

(H.R. Muslim, Abud Dawud, Tirmidzi, Nasa’I, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Ibnu Abi Syaibah dan Baghawi).

3. Diriwayatkan dari Imam Bukhari bahwa Abu Lahab setiap hari senin diringankan siksanya dengan sebab memerdekakan budak Tsuwaybah sebagai ungkapan kegembiraannya atas kelahiran Rasulullah SAW.

Jika Abu Lahab yang non-muslim dan al-Qur’an jelas mencelanya, diringankan siksanya lantaran ungkapan kegembiraan atas kelahiran Rasulullah SAW, maka bagaimana dengan orang yang beragama Islam yang gembira dengan kelahiran Rasulullah SAW.

Kesimpulan Hukum Maulid

Melihat dari pendapat-pendapat ulama di atas, dapat disimpulkan bahwa pendapat-pendapat ulama terdahulu seputar peringatan maulid adalah sebagai berikut:1.

Malarang maulid karena itu termasuk bid’ah dan tidak pernah dilakukan pada zaman ulama solih pertama Islam.2. Memperbolehkan perayaan maulid Nabi, dengan syarat diisi dengan amalan-amalan yang baik, bermanfaat dan berguna bagi masyarakat.

Ini merupakan ekspresi syukur terhadap karunia Allah yang paling besar, yaitu kelahiran Nabi Muhammad dan ekspresi kecintaan kepada beliau.

3. Menganjurkan maulid, karena itu merupakan tradisi baik yang telah dilakukan sebagian ulama terdahulu dan untuk mengkonter perayaan-perayaan lain yang tidak Islami.

Jadi masalah maulid ini seperti beberapa masalah agama lainnya, merupakan masalah khilafiyah, yang diperdebatkan hukumnya oleh para ulama sejak dulu.

Sebaiknya umat Islam melihatnya dengan sikap toleransi dan saling menghargi mengenai perbedaan pendapat ini.

Tidak selayaknya mengklaim paling benar dan tidak selayaknya menuduh salah lainnya.

Bahkan kalau dicermati, sebenarnya pendapat yang melarang dan yang memperbolehkan perayaan maulid tujuannya adalah sama, yaitu sama-sama membela kecintaan mereka kepada Rasulullah s.a.w.

Maka sangat disayangkan kalau umat Islam yang sama-sama dengan dalih mencintai Rasulullah s.a.w. tetapi saling hujat dan bahkan saling menyakiti.

Etika merayakan Maulid Nabi

Untuk menjaga agar perayaan maulid Nabi tidak melenceng dari aturan agama yang benar, sebaiknya perlu diikuti etika-etika berikut:

1. Mengisi dengan bacaan-bacaan shalawat kepada Rasulullah SAW.

Allah SWT berfirman :

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”.QS. Al-Ahzab:56.2.

Berdzikir dan meningkatkan ibadah kepada Allah.

Syekh Husnayn Makhluf berkata:

“Perayaan maulid harus dilakukan dengan berdzikir kepada Allah SWT, mensyukuri kenikmatan Allah SWT atas kelahiran Rasulullah SAW, dan dilakukan dengan cara yang sopan, khusyu’ serta jauh dari hal-hal yang diharamkan dan bid’ah yang munkar”.[3]

3.Membaca sejarah Rasulullah s.a.w. dan menceritakan kebaikan-kebaikan dan keutamaan-keutamaan beliau.

3.Memberi sedekah kepada yang membutuhkan atau fakir miskin.

4.Meningkatkan silaturrahmi.

5. Menunjukkan rasa gembira dan bahagia dengan merasakan senantiasa kehadiran Rasulullah s.a.w. di tengah-tengah kita.

6. Mengadakan pengajian atau majlis ta’lim yang berisi anjuran untuk kebaikan dan mensuri tauladani Rasulullah s.a.w.

Jika timbul pertanyaan, perayaan maulid yang datangnya pada bulan Rabi’ul Awwal, juga bertepatan dengan bulan wafat Rasulullah SAW, mengapa tidak ada luapan kesedihan  atas wafatnya beliau? Imam Suyuthi menjelaskan:

“Kelahiran Nabi SAW adalah kenikmatan terbesar untuk kita, sementara wafatnya beliau adalah musibah terbesar atas kita.

Sedangkan syariat memerintahkan kita untuk menampakkan rasa syukur atas nikmat dan bersabar serta diam dan merahasiakan atas cobaan yang menimpa.

Terbukti agama memerintahkan untuk menyembelih kambing sebagai ‘aqiqah pada saat kelahiran anak, dan tidak memerintahkan menyembelih hewan pada saat kematian.

Maka kaidah syariat menunjukkan bahwa yang baik pada bulan ini adalah menampakkan kegembiraan atas kelahiran Rasulullah SAW bukan menampakkan kesusahan atas musibah yang menimpa”. [4]

Oleh karena hakekat dari perayaan maulid adalah luapan rasa syukur serta penghormatan kepada Rasulullah SAW, sudah semestinya tidak dinodai dengan kemunkaran-kemunkaran dalam merayakannya.

Seperti bercampurnya laki-laki dan perempuan, tampilnya perempuan di atas pentas dihadapan kaum laki-laki, alat-alat musik yang diharamkan dan lain-lain.

Begitu juga peringatan maulid tidak seharusnya digunakan untuk saling provokasi antar kelompok Islam yang berujung pada kekerasan antar kelompok.

Sebab jika demikian yang terjadi, maka bukanlah penghormatan yang didapat akan tetapi justru penghinaan kepada Rasulullah SAW.  

Ustadz Muchib Aman AlyUstadz Muhammad Niam

Iklan

Usamah Bin Laden – terkapar.


Hari ini hari kegembiraan bagi orang-orang Amerika dan Eropah karena berhasil membunuh Usamah Bin Laden yang selama ini terus di cari dan di kejar oleh pasukkan khusus Amerika.
Keberhasilan mereka pula di ikuti dengan rasa ketakutan atas ancaman serangan balas dendam dari anggota al-Qaidah yang berada di seluruh dunia, bukan saja tidak memungkinkan bahwa mereka akan mengusik keamanan dan kepentingan Amerika di merata dunia.
Di sebalik itu sebahagian umat islam merasa simpati dengan wafatnya Usamah Bin Laden dan bahkan ada sebahagianya pula yang mengakui  bahwa Usamah Bin Laden merupakan Syahid yang mati di medan perang, terlepas dari anggapan dan akuan seseorang terhadap kepribadian Usamah bin Laden.
Mari kita melihat bagaimana ulama dan umat islam memandang Usamah Bin Laden selama ini.
Pemerintah Saudi Arabiyah menyatakan bahwa Usamah Bin Laden merupakan pemimpin Khawarij yang keluar dari ta`at kepada pemerintah, hal ini di perkuat oleh mufti agung Saudi Arabiyyah Syeikh Abdul Aziz Ali Syeikh yang memfatwakan bahwa Usamah Bin Laden Khawarij karena telah keluar dari ketaatan terhadap pemerintah yang sah, Usamah di kenal suka menghujum dan menyalahkan Raja-Raja Saudi, tak terlepas juga dengan aksi-aksi pengikutnya yang meledakkan bom di daerah Riyadh, Jeddah dan lain-lain, di sini seolah-olah pemerintah Saudi berlepas tangan dengan apa yang telah di lakukan oleh Usamah dan para pengikutnya, padahal mereka semua keluar dari madrasah yang sama yaitu Madrasah Muhammad Abdul Wahab pendiri gerakkan Wahabi, sebab itulah pemerintahan Saudi tidak mengizinkan Usamah bin Laden di kuburkan di tanah Saudi.
Semantara di Mesir sebelum ini kebanyakkan ulamanya menganggap bahwa Usamah adalah sosok pemimpin khawarij yang membawa kekerasan dan membunuh orang-orang yang tak berdosa, adi mulai Syeikh al-Azhar Muhammad Sayyid Tontowi sampai kepada Syeikh kami al-Muhaddis al-Mufassir Muhammad Ibrahim al-Kattani, mereka mengatakan bahwa tindakkan Usamah dan para pengikutnya tidak mencerminkan ajaran islam yang penuh dengan rahmat dan kasih sayang.
Sementera petinggi gerakkan Ikhwan Muslimin Doktor Isham Uryan mengatakan sebagai mana yang di kutip oleh surat kabar harian “” Yaoum Sabi` 3 Mei 2011 : “” Bin Ladin merupakan seorang yang berjihad di jalan Allah, beliau seorang yang berijtihad, orang yang berijtihad mungin benar mungkin juga salah, sementara Bin Laden banyak membuat kesalahan karena menggunakan kekerasan menghadapi rakyat sipil yang tidak bersalah, sebab Syari`at kita melarang menggunakan kekerasan menghadapi masyarakat yang tidak bersalah, kita hanya dapat berharap agar Allah mengasihinya.
Sementara Syeikh al-Azhar Syeikh Ahmad Toyyib dan Mufti Agung Mesir Syeikh Ali Jum`ah diam tidak memberikan komentar tentang Bin Laden, tetapi mereka menghujum Amerika yang tidak memiliki rasa kemanusiaan, dan meminta agar Usamah bin Laden di kuburkan di dalam tanah sesuai dengan SYari`at islamiyyah bukan dengan cara mencampakkannya ke dalam dasar lautan, sebab menurut Syeikh Azhar dan Mufti bagaimana pun Usamah bin Laden merupakan penganut islam yang semestinya mendapat peguburan dengan cara islam pula.
.

Muhammad Husni Ginting

 Medan : Sumatra Utara : Indonesia

About Me

Lahir di Besitang Langkat tarikh 26 Dzulqa`idah 1400 H,Tamat SDN 050780 thn 1992, Ijazah Tsanawiyah Negeri 31 Mei 1996,Ijazah Tsanawiyah Ma`had Musthafawiyah 1997 M, Musthafa,Ijazah Mas 29 Mei 1999 M, Ijazah Lisence Universitas Al-Azhar 2004 M, Ijazah Defloma Master Ma`had Ali Darasat Islamiyah 17 Januari 2007 M, Kuliyah Usuluddin al-Azhar Jurusan Hadits Syarif.Account Number Card : The United Bank ,Zaqaziq 355527

Sahah al-Langkatiyah al-Husofiyah

BAHAYA KEMUNAFIKAN ( ? ).


Abu Hurairah ra meriwayatkan dari Nabi saw yang berkata, Ciri-ciri orang munafik adalah: jika berbicara selalu berdusta, jika berjanji selalu ingkar, dan jika dipercaya selalu berkhianat.- ( al-Bukhari ).

Dalam hadits lain – Abdullah bin Umar ra berkata: bahwa Nabi saw berkata, Ada empat dosa sifat yang jika seseorang memperlihatkan semua cirinya, dia sepenuhnya orang munafik. Jika dia punya salahsatu ciri, dia dianggap memiliki unsur-unsur seorang munafik. Ciri-ciri itu adalah: Berkhianat- Berdusta- Ingkar janji, dan memaki lawan jika ada perbedaan pendapat -( al-Bukhari ).

Ada dua jenis orang munafik ,

type PERTAMA adalah orang munafik yang mengaku Muslin, tetapi tidak mempunyai keimanan atas dasar Islam. Orang yang seperti ini bisa menipu orang lain karena dari luar tampaknya seperti seorang Muslim, tetapi tidak beriman kepada Allah swt dan Rasul-Nya. Mereka ini lebih buruk dari orang kafir dan layak mendapat siksa yang pedih.

Type KEDUA adalah orang yang dalam hatinya mengaku Islam, tetapi tidak melaksanakan akhlak-akhlak utama dalam Islam. Orang seperti ini tidak digambarkan sebagai orang kafir, tetapi sebagai orang fasik. Orang ini bisa masuk surga setelah menerima siksa pedih di Akhirat (Allah maha mengetahui ).

Beberapa Tabi’in pernah membicarakan sifat munafik dan keinginan untuk menjauhinya.

Ibrahim Tamini (w. 92 H) yang bersahabat dengan dengan beberapa sahabat Nabi saw berkata. Setiap aku membandingkan ucapanku dengan perbuatanku, aku takut jika aku digolongkan sebagai orang munafik, karenaada ucapanku yang berbeda dengan perbuatanku.

Ibnu Abi Mulaikah (w. 117 H) berkata:  Aku bertemu berteman dengan tiga puluh sahabat besar Nabi saw yang selalu merasa ketakutan bila digolongkan sebagai seorang munafik. Tidak ada seorangpun diantara mereka yang terlihat menyombongkan keimanan atau kesalehannya atau membual.

Hasan al- Basri (w. 110 H) yang belajar hadits dari beberapa orang sahabat Nabi saw, termasuk muhaddits besar Abdullah bin Mas’ud ra, berkata: Aku bersumpah demi Allah yang maha kuasa…..bahwa semua orang mukmin yang sekarang masih hidup dan semua orang mukmin yang hidup pada masa yang akan datang, merasa takut pada kata munafik.

Dengan demikian, orang yang betul-betul beriman, akan selalu takut menjadi seorang munafik karena berbuat sesuatu yang bertentangan dengan apa yang dikatakan atau yang diyakininya.

Al-Qur’an Dha’if


.

Hadits itu dho’if, tidak bisa dipakai.
Hadits itu dho’if, tidak diterima.
Hadits itu dho’if tidak dipergunakan sebagai dalil.
Dalilnya hadits dho’if, jadi tidak benar.
Dalilnya dho’if, jadi bid’ah.

Bahkan Sekte Wahabi yang mengimani Bin Baz dan AlBani , mereka berkata :

Barangsiapa yang mengamalkan Hadits Dho‘if maka tempatnya di Neraka

Ungkapan-ungkapan itu mungkin pernah kita terima dalam pembelajaran agama di kehidupan kita. Tapi benarkah ungkapan seperti itu ? Mari kita cek kebenaran ungkapan tersebut.

Hadits dho’if biasanya dihadapkan secara berlawanan dengan hadits shahih. Hadits shahih dianggap benar dan hadits dho’if dianggap salah.

Dalam masalah ini kita perlu memahami lebih mendalam penamaan derajat hadits dalam ilmu mustolah hadits. Bila kita terjemahkan, shahih artinya benar sedangkan dho’if artinya lemah.

Shahih (benar) secara logika harusnya berlawanan dengan salah, bukan dengan dho’if ( lemah ). Dho’if (lemah) berlawanan dengan kuat bukan dengan shahih  (benar ).

Dengan memahami arti shahih dan dho’if, dapat dipahami bahwa shahih dan dho’if bukanlah berlawanan. Jadi perlu betul-betul dipahami bahwa dho’if bukanlah salah.

Mengapa dikatakan s dho’if (lemah) bukan salah ?

Sebuah hadits dikatakan dho’if adalah karena diriwayatkan oleh orang yang fasiq (durhaka). Di antara kefasiqan itu adalah dia diketahui pernah atau suka berbohong. Jadi yang dinilai untuk menentukan dho;if atau shahih adalah siapa yang meriwayatkan haditsnya, bukan isi haditsnya.

Pertanyaannya adalah apakah orang yang pernah atau suka berbohong pasti sama sekali tidak pernah berkata benar ? Apakah isi perkataan orang yang diketahui suka berbohong pasti selalu salah dan tidak ada yang benar walau satu kali atau sedikitpun ?

Kita ukur dengan diri kita saja. Apakah kita sendiri belum pernah berbohong satu kali pun ? Apakah kita belum pernah berkata benar satu kali pun ?

Nah, orang yang suka atau pernah berbohong mungkin saja suatu kali atau suatu saat dia berkata benar. Dan sangat mungkin bahwa dia berkata benar saat menyampaikan hadits tersebut.

Dengan demikian, dapat kita pahami bahwa hadits dho’if pun mempunyai kemungkinan benar. Bila hadits dho’if mempunyai kemungkinan benar, maka tidak selayaknya hadits dho’if diabaikan begitu saja. Yang harus dilakukan adalah melakukan penelitian atau klarifikasi terhadap isi hadits tersebut.

Melakukan penelitian ulang tersebut sesuai dengan perintah Allah

bila orang fasiq membawa kabar, maka klarifikasilah/periksalah/tabayyunlah

( in ja akum fasiqun binaba in fatabayyanu / Q.S. al-Hujurat : 6 )

Bila demikian perintah Allah SWT, maka membuang hadits dho’if begitu saja adalah pelanggaran terhadap perintah Allah SWT. Yang sesuai perintah Allah SWT adalah meneliti kebenaran isinya. Kita tidak berhenti hanya sekedar setelah meneliti sanadnya (yang meriwayatkannya) saja

Konsekuensi dari hasil penelitian adalah bisa ditemukan bahwa isi hadits tersebut benar atau salah maupun tidak bisa dipastikan benar dan salahnya. Bila ditemukan bahwa isinya benar, maka hadits dho’if sekalipun layak bahkan harus dipergunakan sebagai dalil.

Bagaimana kita menemukan isi hadits tersebut benar ?

Kita bisa menemukan kebenarannya melalui ditemukannya bukti-bukti penguat isi hadits tersebut pada Al-Quran, hadits-hadits yang lain maupun kenyataan dalam kehidupan.

Dengan demikian, kita perlu berhati-hati sehingga tidak mengabaikan begitu saja hadits dho’if. Jangan sampai kita masuk kepada kategori beriman kepada sebagian dan ingkar terhadap sebagian, karena kita mengingkari kebenaran hanya karena itu diungkapkan dalam hadist yang sanadnya dipandang dho’if, padahal isinya benar.  wallahu a’lam.

By : Sumber Naskah

 .

[ رَبَّنَا هَبْ لَنَ مِنْ أَزْوَاجِـنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةً أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا ]

.

 Renungan

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَمْنَعْ جَارٌ جَارَهُ أَنْ يَغْرِزَ خَشَبَهُ فِي جِدَارِهِ ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ مَا لِي أَرَاكُمْ عَنْهَا مُعْرِضِينَ وَاللَّهِ لَأَرْمِيَنَّ بِهَا بَيْنَ أَكْتَافِكُمْ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Maslamah dari Malik dari Ibnu Syihab dari Al A’raj dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Janganlah seseorang melarang tetangganya untuk menyandarkan kayunya di dinding rumahnya.

Kemudian Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata:

Jangan sampai aku lihat kalian menolak ketentuan hukum ini. Demi Allah, kalau sampai terjadi, akan aku lempar kayu-kayu itu menimpa samping kalian.

[ HR – Imam Bukhari ]

Ziarah Kubur – Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin.


Ziarah Kubur – Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah

11th Century North African Qur’an in the Briti...

Image via Wikipedia

Majmu’ Fatawa wa Rasaa’il Fadlilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah

Mengucapkan salam kepada mereka.

Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai Rasulullah apakah yang harus aku ucapkan kepada mereka (kaum Muslimin, bila aku menziarahi mereka)?”

Beliau men-jawab: “ Katakanlah “ :

السَّلاَمُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَيَرْحَمُ اللَّهُ الْمُسْتَقْدِمِيْنَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِيْنَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَلاَحِقُوْنَ

‘Semoga dicurahkan kesejahteraan atas kalian wahai ahli kubur dari kaum Mukminin dan Muslimin. Dan mudah-mudahan Allah memberikan rahmat kepada orang yang telah mendahului kami dan kepada orang yang masih hidup dari antara kami dan insya Allah kami akan menyusul kalian.

HR . Ahmad , An-Nasa-I , Imam Muslim.

Buraidah ra berkata:Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada mereka (para Shahabat) apabila mereka memasuki pemakaman (kaum Muslimin) hendaknya mengucapkan:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لاَحِقُوْنَ نَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ.

‘Mudah-mudahan dicurahkan kesejahteraan atas kalian, wahai ahli kubur dari kaum Mukminin dan Muslimin. Dan insya Allah kami akan menyusul kalian. Kami mohon kepada Allah agar mengampuni kami dan kalian.’”

H.R Muslim ,An-Nasa-i Ibnu Majah , Ahmad , Lafazh Hadits Ibnu Majah.

Mendo’akan serta memohonkan ampunan bagi mereka.

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْرُجُ إِلَى الْبَقِيْعِ فَيَدْعُوْ لَهُمْ فَسَأَلَتْهُ عَائِشَةُ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ: إِنِّيْ أُمِرْتُ أَنْ أَدْعُوَ لَهُمْ.

“‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar ke Baqi’ (tempat pemakaman kaum Muslimin dan sanak family serta para Sahabat Rasulullah saw, yang saat ini sudah di porak-porandakan dan diratakan dengan tanah oleh Sekte Wahabi ), lalu beliau mendo’akan mereka.” Kemudian ‘Aisyah bertanya tentang hal itu, beliau menjawab: “Se-sungguhnya aku diperintah untuk mendo’akan mereka.”

HR.Ahmad

Meluruskan Kejahilan : Ritual Bakar Uang Kertas Oleh Umat Budhaa VS Membaca al-Qur’an Untuk Orang Mati Oleh Umat Nabi Muhammad ?

oleh Tahlilan, Yasinan & Selamatan Dibawah Naungan dan Kebijaksanaan Ahlul Ilmi pada 02 Februari 2011 jam 22:27

Keawaman seseorang ditambah rasa tidak tahu malu yang bersemayam dalam diri seseorang akan menjadi faktor pendorong cukup ampuh dalam menebarkan kebencian dan fitnah terhadap amaliyah kaum Muslimin yang sudah masyhur serta diakui oleh para Imam kaum Muslimin. Tanpa rasa malu pun akan memamerkan kejahilan dirinya yang kemudian akan diperparah dengan hadirnya orang-orang sejenis yang meng-amini-nya. Sungguh ini kondisi dan orang-orang yang sangat dicintai oleh dajjal.

Membakar uang kertas yang dilakukan oleh orang Budhaa sama sekali tidak ada sangkut paut dengan Islam, bahkan dari asasnya pun sudah jelas berbeda. Ini sesuatu yang terang bederang yang diketahui bahkan oleh orang awam sekalipun, namun tidak bagi orang yang tertutup hatinya. Tidak ada pembenaran sama sekali menyamakan amalan kaum Budhaa dengan amalan kaum Muslimin, ini adalah sebuah qiyas yang bathil (qiyas ma’al fariq) yang hanya dilakukan oleh orang-orang jahil. Amalan Budhaa, dikaji dan ditelurusi dari segi manapun maka asasnya kembali ajaran Budhaa itu sendiri serta tidak ada kaitannya dengan Islam (syariat Islam). Sedangkan amaliyah yang ada pada kaum Muslimin, jika ditelusuri dan dikaji maka akan terlihat dalil atau landasannya dari sisi syariat Islam, apalagi terkait dengan mengirimkan pahala bacaan al-Qur’an atau amal-amal kebajikan lainnya kepada orang mati yang memang sudah dikaji oleh ulama Islam yang kredibel dan telah nampak dengan jelas landasannya. Hanya saja, keawaman seseorang terhadap sebuah masalah kadang menjadi batasan pengetahuan dirinya untuk mengetahui dalil maupun qaul para ulama terkait masalah tersebut. Diharapkan bagi orang semacam ini lebih baik diam daripada berbicara atas dasar ketidak tahuannya. Sebuah syair arab yang bisaksana menyebutkan :

الصَّمْتُ أَزْيَنُ بِالْفَتَى … مِنْ مَنْطِقٍ فِي غَيْرِ حِينِهِ

Diam lebih berharga bagi seorang pemuda… daripada berbicara pada yang bukan bidangnya

IMAM ASY-SYAFI’I DAN MEMBACA AL-QUR’AN UNTUK ORANG MATI

Mereka (non-madzhab) yang anti (benci) terhadap amaliyah membaca al-Qur’an untuk orang mati yang hingga menebar-nebar fitnah dimana-mana kebanyakan menyandarkannya pada qaul Imam asy-Syafi’i yang juga dinukil oleh Imam Ibnu Katsir ( seorang imam mufassir bermadzhab Syafi’I ) didalam kitab tafsirnya. Padahal qaul Imam asy-Syafi’i tidak hanya itu saja, lebih jauh lain masih banyak qaul para Imam lainnya yang menyatakan sampainya pahala bacaaan al-Qur’an untuk orang mati serta memberi manfaat kepada orang mati, bahkan pendapat ini bisa katakan juga sebagai Ijma’ sukuti serta tidak ada yang mengingkarinya pada setiap masa # Lihat : al-Mughni li-Ibni Qudamah [2/424]

Apakah yang seperti ini yang oleh para dajjal itu katakan sebagai amalan Budhaa ? ataukah mereka akan katakan kalau para Imam kaum Muslimin menggali hukum dari Budhaa (syirik) ?.

Ataukah non-madzhab atau orang jahil yang mengekor pada faham Rasional Mu’tazilah itu akan mengatakan oo itu cuma pendapat, jadi bukan dalil, dalil adalah al-Qur’an dan As-Sunnah”. Ini adalah ucapan yang sangat dangkal, seolah-olah qaul ulama hanya dihasilkan dari sekedar omongan belaka yang tidak ada nilainya serta tidak berdasarkan ilmu dan dianggap bukan digali dari dalil-dalil al-Qur’an dan As-Sunnah. Perlu diketahui, bahwa ulama berpendapat atau mengistinbath suatu hukum adalah berlandaskan pada dalil dan kaidah-kaidah ushul dengan keilmuannya yang luas (bukan dengan kedangkalan). Masing-masing ulama memang dimungkinkan berbeda dalam memahami suatu permasalahan maupun dalil yang dijadikan landasannya, sebab kaidah penggaliannya pun kadang berbeda, maka dalam hal itu di tuntut untuk bisa saling tolerir terhadap hasil ijtihad satu dengan yang lainnya.

Imam Ibnu Katsir asy-Syafi’i menyebutkan qaul Imam Syafi’i didalam tafsirnya terkait QS. An-Najm : 39 sebagai berikut :

“ Dan dari ayat ini, Imam asy-Syafi’i dan orang yang mengikutinya beristinbat bahwa bacaan al-Qur’an tidak sampai menghadiahkan pahalanya kepada mayyit, karena itu bukan dari amal mereka dan bukan usaha mereka ”.

Tafsirul Qur’an al-‘Adzim lil-Imam Ibnu Katsir asy-Syafi’i [7/431].

Masalah : apakah qaul Imam asy-Syafi’i ini mutlak bahwa pahala bacaan al-Qur’an tidak sampai kepada orang mati ? atau terkait situasi atau kondisi tertentu ? Bagaimana penjelasan para ulama Syafi’iyah terkait qaul Imam asy-Syafi’i ini ?.

Jawabannya

Perlu diketahui bahwa qaul Imam asy-Syafi’i yang diatas ini telah di istilahkan oleh pembesar madzhab Syafi’iyah yakni Imam an-Nawawi dan para imam lainnya sebagai qaul masyhur, sedangkan qaul yang menyatakan sampainya pahala bacaan al-Qur’an untuk orang mati diistilahkan sebagai qaul Mukhtar yakni pendapat yang muktamad (kuat) yang dipilih atau dijadikan sebagai fatwa Madzhab, pendapat inilah yang juga dipegang oleh Imam tiga ( Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hanbal ).

Tuhfatul Muhtaj lil-Imam Ibnu Hajar al-Haitami [7/73] ; Mughni Muhtaj lil-Imam al-Khatib as-Sarbini [4/110] ; I’anathuth Thalibin lil-Imam al-Bakri Syatha ad-Dimyathi [3/258].

Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Muhaddits al-Baihaqi (Ahl hadits bermadzhab Syafi’i) didalam Ma’rifatus Sunani wal Atsar :

Imam asy-Syafi’i berkata : aku menyukai seandainya dibacakan al-Qur’an disamping qubur dan dibacakan do’a untuk mayyit ”

Ma’rifatus Sunani wal Atsar lil-Imam al-Baihaqi No. 7743.

Imam al-Mawardi asy-Syafi’i telah menyebutkan didalam al-Hawi al-Kabiir :

“ adapun membaca al-Qur’an disisi qubur maka sungguh Imam asy-Syafi’i telah berkata : “aku memandang orang yang berpesan agar dibacakan Al-Qur’an disamping quburnya adalah hasan (bagus) menurut kami”.

Lihat : al-Hawi al-Kabir fiy Fiqh Madzhab asy-Syafi’i (Syarah Mukhtashar Muzanni) [3/26]

Imam an-Nawawi juga telah menyebutkan didalam kitab al-Adzkar :

Imam asy-Syafi’i dan sahabatnya (ulama lainnya) berkata : “ disunnahkan untuk membaca sesuatu dari al-Qur’an disamping kubur ”, mereka berkata : “ apabila mengkhatamkaan al-Qur’an seluruhnya maka itu bagus ”.

Lihat : al-Adzkar lil-Imam an-Nawawi

Ini adalah qaul Imam asy-Syafi’i yang justru menganjurkan membaca al-Qur’an untuk orang mati di samping kuburan. Oleh karena itu, para ulama Syafi’iyah seperti Syaikhul Islam Imam Zakariyya al-Anshari ( Imam bermadzhab Syafi’i ) dalam menyikapi qaul masyhur mengomentari sebagai berikut :

“ Dan apa yang dikatakan sebagai qaul masyhur dibawa atas pengertian apabila pembacaannya tidak di hadapan mayyit, tidak meniatkan pahala bacaannya untuknya atau meniatkannya, dan tidak mendo’akannya bahkan Imam as-Subkiy berkata ; yang menunjukkan atas hal itu (sampainya pahala) adalah hadits berdasarkan istinbath bahwa sebagian al-Qur’an apabila diqashadkan (ditujukan) dengan bacaannya akan bermanfaat bagi mayyit dan diantara yang demikian, sungguh telah di tuturkannya didalam syarah ar-Raudlah .

Lihat : Fathul Wahab bisyarhi Minhajit Thullab lil-Imam Zakariyya al-Anshari asy-Syafi’i [2/23].

Syaikhul Islam al-Imam Ibnu Hajar al-Haitami (Imam bermadzhab Syafi’i) didalam al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubraa:

“dan perkataan Imam asy-Syafi’i ini (membaca al-Qur’an disamping qubur) memperkuat pernyataan ulama-ulama Mutaakhkhirin dalam membawa pendapat masyhur diatas pengertian apabila tidak dihadapan mayyit atau apabila tidak mengiringinya dengan do’a”.

Lihat : al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubraa lil-Imam Ibnu Hajar al-Haitami [2/27].

Lagi, dalam Tuhfatul Muhtaj :

“sesungguhnya pendapat masyhur adalah diatas pengertian apabila pembacaan bukan dihadapan mayyit (hadlirnya mayyit), pembacanya tidak meniatkan pahala bacaannya untuk mayyit atau meniatkannya, dan tidak mendo’akannya untuk mayyit”.

Lihat : Tuhfatul Muhtaj fiy Syarhi al-Minhaj lil-Imam Ibn Hajar al-Haitami [7/74].

Oleh karena itu Syaikh Sulaiman al-Jumal ( Imam bermadzhab Syafi’I ) didalam Futuuhat al-Wahab (Hasyiyatul Jumal) mengatakan sebagai berikut :

“dan tahqiq bahwa bacaan al-Qur’an memberikan manfaat bagi mayyit dengan memenuhi salah satu syarat dari 3 syarat yakni apabila dibacakan dihadapan (disisi) orang mati, atau apabila di qashadkan (diniatkan/ditujukan) untuk orang mati walaupun jaraknya jauh, atau mendo’akan (bacaaannya) untuk orang mati walaupun jaraknya jauh juga. Intahaa”.

Lihat : Futuhaat al-Wahab li-Syaikh Sulailman al-Jamal [2/210].

“(Cabang) pahala bacaan al-Qur’an adalah bagi si pembaca dan pahalanya itu juga bisa sampai kepada mayyit apabila dibaca dihadapan orang mati, atau meniatkannya, atau menjadikan pahalanya untuk orang mati setelah selesai membaca menurut pendapat yang kuat (muktamad) tentang hal itu,…. Frasa (adapun pembacaan al-Qur’an –sampai akhir-), Imam Ramli berkata : pahala bacaan al-Qur’an sampai kepada mayyit apabila telah ada salah satu dari 3 hal : membaca disamping quburnya, mendo’akan untuknya mengiringi pembacaan al-Qur’an dan meniatkan pahalanya sampai kepada orang mati.”

Ibid [4/67] ; Hasyiyah al-Bujairami ‘alaa Syarhi al-Minhaj [3/286].

Imam an-Nawawi asy-Syafi’i ( Imam bermadzhab Syafi’I ) rahimahullah:

“Dan yang dipilih agar berdo’a setelah pembacaan al-Qur’an : “ya Allah sampaikan (kepada Fulan) pahala apa yang telah aku baca”, wallahu a’lam”.

Lihat : al-Majmu’ syarah al-Muhadzdzab lil-Imam an-Nawawi [15/522].

Al-‘Allamah Muhammad az-Zuhri ( Imam bermadzhab Syafi’I ) didalam As-Siraaj :

“’Ulama mutaakhkhirin berpendapat atas bermanfaatnya pembacaan al-Qur’an, dan sepatutnya mengucapkan : “ya Allah sampaikan apa apa yang kami baca untuk fulan”, bahkan ini tidak khusus untuk qira’ah saja tetapi juga seluruh amal kebaikan boleh untuk memohon kepada Allah agar menjadikan pahalanya untuk mayyit, sungguh orang yang bershadaqah untuk mayyit tidak mengurangi pahalanya dirinya”.

Lihat : as-Sirajul Wahaj ‘alaa Matni al-Minhaj lil-‘Allamah Muhammad az-Zuhri [1/344]

Dari beberapa keterangan ulama-ulama Syafi’iyah diatas maka dapat disimpulkan bahwa qaul masyhur pun sebenarnya menyatakan sampai apabila al-Qur’an dibaca hadapan mayyit termasuk membaca disamping qubur, juga sampai apabila meniatkan pahalanya untuk orang mati yakni pahalanya ditujukan untuk orang mati, dan juga sampai apabila mendo’akan bacaan al-Qur’an yang telah dibaca agar disampaikan kepada orang yang mati.

IMAM ABU HANIFAH, IMAM MALIK DAN IMAM AHMAD

Al-‘Allamah Sayyid al-Bakri Syatha ad-Dimyathi menuturkan didalam kitab I’anatuth Thalibin :

“Sesungguhnya pahala bacaan al-Qur’an sampai kepada orang mati seperti Madzhab Imam tiga ( Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Ahmad ). Selesai.

I’anathuth Thalibin lil-Imam al-Bakri Syatha ad-Dimyathi [3/258].

Imam Syamsuddin al-Khathib asy-Syarbini pun menuturkan didalam Mughni al-Muhtaj :

“Mushannif (pengarang) telah menceritakan didalam Syarah ImamMuslim dan al-Adzkar tentang sebuah pendapat, bahwa pahala bacaan al-Qur’an sampai kepada mayyit seperti Madzhab Imam 3 (Abu Hanifah, Malik, dan Ahmad), dan jamaa’ah dari Ashhab (Syafi’i) telah memilihnya, diantaranya Ibnu Shalah, al-Muhib, ath-Thabari, Ibnu Abid Dan, Shahibu Adz-Dzakhair, Ibnu Abi ‘Ashrun serta dengannya manusia (umat Islam) beramal, dan apa yang dipandang oleh kaum Muslimin sebagai sebuah kebaikan maka disisi Allah itu baik, Imam As-Subki berkata : Dan yang menunjukkan atas hal itu adalah khabar (hadits) berdasarkan istinbath bahwa sebagian al-Qur’an apabila di qashadkan (ditujukan) dengannya niscaya akan memberikan manfaat kepada mayyit (orang mati) serta meringankan (siksanya) dengan manfaat tersebut, apabila telah tsabit bahwa sudah al-Fatihah tatkala di seorang qari’ mengqashadkannya maka memberikan manfaat kepada orang yang terkena sengatan, dan Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam taqrir terhadap hal itu dengan sabdanya “siapa yang memberi tahu bahwa surah al-Fatihah adalah ruqiyah ?”, maka apabila memberikan manfaat kepada orang hidup dengan mengqashadkannya maka manfaat kepada orang mati dengan mengqashadkanya itu lebih utama” Selesai.

Lihat : Mughni Muhtaj lil-Imam al-Khathib asy-Syarbini [4/110-111]

‘ULAMA WAHABI TENTANG MEMBACA AL-QUR’AN UNTUK ROH MAYYIT (ORANG MATI)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin merupakan salah satu ulama yang oleh sebagian kaum Muslimin dianggap sebagai ulama wahabi, walaupun ada sedikit orang yang mengatakan bahwa beliau adalah ulama Hanabilah ( Madzhab Hanbali ) dan jika ini benar, maka patut diapresiasi sebab ternyata masih bermadzhab walaupun kenyataanya tidak demikian. Beliau wafat beberapa tahun yang lalu yakni 1421 Hijriyah.

Ada hal menarik, ketika beliau ditanya tentang hukum tilawah (membaca al-Qur’an) untuk roh mayyit, yang mana selama ini dari pengikut Wahabi sendiri selalu gencar membid’ahkan kaum Muslimin termasuk juga pengikut Madzhab Syafi’i yang ada di Indonesia.

Akan tetapi, ternyata salah satu ulama yang dianggap beraliran wahabi ini malah berlawanan dengan mereka yang hobi membid’ahkan. Didalam Majmu’ Fatawa wa Rasaail karya Fadlilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin [w. 1421 H] termaktub sebagai berikut :

سئل فضيلة الشيخ: عن حكم التلاوة لروح الميت؟

Fadlilatusy Syaikh ditanya tentang hukum tilawah (membaca al-Qur’an) untuk orang mati ?

فأجاب قائلًا: التلاوة لروح الميت يعني أن يقرأ القرآن وهو يريد أن يكون ثوابه لميت من المسلمين هذه المسألة محل خلاف بين أهل العلم على قولين: القول الأول: أن ذلك غير مشروع وأن الميت لا ينتفع به أي لا ينتفع بالقرآن في هذه الحال. القول الثاني: أنه ينتفع بذلك وأنه يجوز للإنسان أن يقرأ القرآن بنية أنه لفلان أو فلانة من المسلمين، سواء كان قريبًا أو غير قريب.

Jawaban :

Tilawah untuk roh orang mati yakni membaca al-Qur’an karena ingin memberikan pahalanya untuk mayyit (orang mati) yang muslim, masalah ini terdapat perselisihan diantara ahlul ilmi atas dua pendapat : Pertama, sungguh itu bukan perkara yang masyru’ (tidak disyariatkan) dan sungguh mayyit tidak mendapat manfaat dengan hal itu yakni tidak mendapatkan manfaat dengan pembacaan al-Qur’an pada perkara ini. Kedua, sesungguhnya mayyit mendapatkan manfaat dengan hal itu, dan sesungguhnya boleh bagi umat Islam untuk membaca al-Qur’an dengan meniatkan pahalanya untuk fulan atau fulanah yang beragama Islam, sama saja baik dekat atau tidak dekat (alias jauh).

والراجح: القول الثاني لأنه ورد في جنس العبادات جواز صرفها للميت، كما في حديث سعد ابن عبادة -رضي الله عنه- حين تصدق ببستانه لأمه، وكما في قصة الرجل الذي قال للنبي -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: «إن أمي افْتُلِتَت نفسها وأظنها لو تكلمت لتصدقت أفأتصدق عنها؟ قال النبي -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: “نعم» وهذه قضايا أعيان تدل على أن صرف جنس العبادات لأحد من المسلمين جائز وهو كذلك، ولكن أفضل من هذا أن تدعو للميت، وتجعل الأعمال الصالحة لنفسك لأن النبي -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- قال: «إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية، أو علم ينتفع به، أو ولد صالح يدعو له» . ولم يقل: أو ولد صالح يتلو له أو يصلي له أو يصوم له أو يتصدق عنه بل قال: – «أو ولد صالح يدعو له» والسياق في سياق العمل، فدل ذلك على أن الأفضل أن يدعو الإنسان للميت لا أن يجعل له شيئًا من الأعمال الصالحة، والإنسان محتاج إلى العمل الصالح، أن يجد ثوابه له مدخرًا عند الله -عز وجل-.

Dan yang rajih (yang kuat) :

Adalah qaul (pendapat) yang kedua karena sesungguhnya telah warid sebagai sebuah jenis ibadah yang boleh memindahkan pahalanya untuk mayyit (orang mati), sebagaimana pada Hadits Sa’ad bin ‘Ubadah radliyallahu ‘anh ketika ia menshadaqahkan kebunnya untuk ibunya, dan sebagaimana kisah seorang laki-laki yang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam : “ Sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia, dan aku menduga seandainya ia sempat berbicara ia akan meminta untuk bershadaqah, maka bolehkah bershadaqah untuknya “ Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam menjawab : “ iya”.

Ini sebuah peristiwa yang menunjukkan bahwa memindahkan pahala jenis ibadah untuk salah seorang kaum Muslimin adalah boleh, dan demikian juga terkait membaca al-Qur’an.

Akan tetapi yang lebih utama dari perkara ini agar mereka berdo’a untuk mayyit, serta menjadikan amal-amal shalih untuk dirimu sendiri karena Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda : “ Apabila bani Adam mati maka terputuslah amalnya kecuali 3 hal, shadaqah jariyah , ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang selalu mendo’akannya ”.

Tidak dikatakan, atau anak shalih yang melakukan tilawah untuknya, atau shalat untuknya, atau puasa untuknya, atau shadaqah untuknya, akan tetapi Nabi bersabda : “ atau anak shalih yang berdo’a untuknya ”,

Maka ini menunjukkan bahwa seorang manusia berdo’a untuk mayyit itu lebih utama (afdlal) dari pada menjadikan amal-amal shalihnya untuk mayyit, dan manusia membutuhkan amal shalih agar pahalanya menjadi simpanan disisi Allah ‘Azza wa Jalla.” ……..

FAIDAH YANG BISA DI PETIK JAWABAN ULAMA WAHABI :

Yang rajih berdasarkan pentarjihan dari Syaikh al-‘Utsaimin adalah bahwa pahala bacaan al-Qur’an boleh dihadiahkan untuk orang mati, yakni dengan meniatkan pahalanya untuk orang mati. Hal ini memberikan manfaat untuk mayyit (orang mati).

Pada hakikatnya, apa yang disampaikan oleh Syaikh al-‘Utsaimin ini sama kasusnya dengan sebagian pendapat Syafi’iyah yakni dengan meniatkan pahalanya untuk orang mati. Misalnya seperti yang dikatakan oleh Syaikh al-‘Allamah Sulaiman al-Jamal :

“ dan tahqiq bacaan al-Qur’an memberikan manfaat bagi mayyit dengan memenuhi salah satu syarat dari 3 syarat yakni apabila dibacakan dihadapan (disisi) orang mati, atau apabila di qashadkan (diniatkan/ditujukan) untuk orang mati walaupun jaraknya jauh, atau mendo’akan (bacaaannya) untuk orang mati walaupun jaraknya jauh juga ”

[ Futuhaat al-Wahab li-Syaikh Sulailman al-Jamal (2/210) ]

Antara do’a untuk orang mati dan membaca al-Qur’an untuk orang mati, hanya masalah afdlaliyah (keutamaan) semata, dan keduanya sama-sama bermanfaat bagi orang mati. Namun, menurut Syaikh al-‘Utsaimin yang lebih utama adalah do’a untuk orang mati.

Hadits tentang menshadaqahkan untuk orang mati juga bisa dijadikan sebagai dalil bahwa pembacaan al-Qur’an untuk orang mati juga boleh, sebab sama-sama termasuk jenis ibadah yang pahalanya bisa dipindahkan. Hal semacam ini pada dasarnya adalah metode qiyas.

Hadits tentang terputusnya amal bukan berarti menafikan perpindahan pahala untuk orang mati, demikian juga bukan berarti larangan membaca al-Qur’an untuk orang mati, melainkan hanya masalah afdlaliyah saja antara membaca al-Qur’an, shalat untuk orang mati, puasa untuk orang mati, shadaqah untuk orang mati, dan do’a untuk orang mati. Didalam hadits tersebut menyebutkan do’a untuk orang mati, oleh karena itu do’a untuk orang mati lebih utama daripada membaca al-Qur’an untuk orang mati, shalat, puasa dan shadaqah.

INI PENTING

Yakni bahwa tidak semua perkara baru jatuh pada status hukum haram dan pada kasus ini Syaikh al-‘Utsaimin malam memperbolehkannya. Jika memang dipandang sebagai perkara bid’ah namun diperbolehkan maka sesungguhnya yang demikian dalam istilah ‘ulama Syafi’iyah adalah bid’ah mubahah (bid’ah yang hukumnya mubah).

Dalam pandangan Syafi’iyah, setiap perkara baru (bid’ah) memang tidak serta merta jatuh pada status hukum haram, sebab bid’ah bukanlah status hukum didalam Islam. Status hukum didalam Islam ada 5 yakni wajib, sunnah/mandub, mubah, makruh dan haram. Oleh karena itu, bid’ah harus dikaji dan telaah secara mendalam dengan kaidah-kaidah penetapan hukum dalam Islam. Jika masuk ketegori penetapan hukum mubah, maka ulama akan menyebutkan sebagai bid’ah mubahah (bid’ah yang hukumnya mubah), begitu seterusnya.

Wallahu A’lam

[ رَبَّنَا هَبْ لَنَ مِنْ أَزْوَاجِـنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةً أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا ]

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِى الدِّينِ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِى الدِّينِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai sekalian manusia, jauhilah sikap berlebih-lebihan (ghuluw) dalam beragama. Sesungguhnya yang membinasakan umat-umat sebelum kalian adalah sikap berlebih-lebihan dalam agama” (HR Ibnu Majah >Ibnu Abbas,).

Nasihat dari [ PPPA ] Sang Ustadz.


KEBERKAHAN PAGI HARI

Islam ternyata sangat peduli dengan dinamika dan semangat beraktivitas di awal waktu. Setiap hari selalu diawali dengan datangnya waktu pagi. Waktu pagi merupakan waktu istimewa. Ia selalu diasosiasikan sebagai simbol kegairahan, kesegaran dan semangat. Barangsiapa merasakan udara pagi niscaya dia akan mengatakan bahwa itulah saat paling segar alias fresh sepanjang hari. Pagi sering dikaitkan dengan harapan dan optimisme. Pagi sering dikaitkan dengan keberhasilan dan sukses. Sehingga dalam peradaban barat-pun dikenal suatu pepatah berbunyi: ”The early bird catches the worm.” (Burung yang terbang di pagi harilah yang bakal berhasil menangkap cacing).

Dalam sebuah hadits ternyata Nabi Muhammad shallallahu ’alaih wa sallam juga memberi perhatian kepada waktu pagi. Sehingga di dalam hadits tersebut beliau mendo’akan agar ummat Islam peduli dan mengoptimalkan waktu spesial dan berharga ini.

Nabi shallallahu ’alaih wa sallam berdo’a:

“Yaa Allah, berkahilah ummatku di pagi hari.” Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam biasa mengirim sariyyah atau pasukan perang di awal pagi dan Sakhru merupakan seorang pedagang, ia biasa mengantar kafilah dagangnya di awal pagi sehingga ia sejahtera dan hartanya bertambah.”

(HR Abu Dawud 2239)

Melalui do’a di atas Rasulullah shallallahu ’alaih wa sallam ingin melihat umatnya menjadi kumpulan manusia yang gemar beraktifitas di awal waktu. Dan hanya mereka yang sungguh-sungguh mengharapkan keberhasilan dan keberkahan-lah yang bakal sanggup berpagi-pagi dalam kesibukan beraktifitas. Oleh karenanya, saudaraku, janganlah kita kecewakan Nabi kita. Janganlah kita jadikan do’a beliau tidak terwujud. Marilah kita menjadi ummat yang pandai bersyukur dengan adanya waktu pagi. Marilah kita me-manage jadwal kehidupan kita sehingga di waktu pagi kita senantiasa dilimpahkan berkah karena kita didapati Allah dalam keadaan ber’amal.

Janganlah kita menjadi seperti sebagian orang di muka bumi yang membiarkan waktu pagi berlalu begitu saja dengan aktifitas tidak produktif, seperti tidur misalnya. Biasanya mereka yang mengisi waktu pagi dengan tidur menjadi fihak yang sering kalah dan merugi. Bagaimana tidak kalah dan merugi? Pagi merupakan waktu yang paling segar dan penuh gairah… Bila di saat paling baik saja seseorang sudah tidak produktif, bagaimana ia bisa diharapkan akan sukses beraktifitas di waktu-waktu lainnya yang kualitasnya tidak lebih baik dari waktu pagi hari…???

Maka, di antara kiat-kiat agar insyaAllah kita selalu memperoleh keberkahan di pagi hari adalah:

Pertama,

jangan biasakan begadang di malam hari. Usahakanlah agar setiap malam kita bersegera tidur malam. Idealnya kita jangan tidur malam melebihi jam sepuluh malam. Kalaupun banyak tugas, maka pastikan mulai tidur jangan lebih lambat dari jam sebelas. Kalaupun tugas sedemikian bertumpuknya, maka pastikan bahwa pukul duabelas tengah malam merupakan batas akhir kita masih bangun.

Kedua,

pastikan bahwa sedapat mungkin kita bisa bangun di tengah malam sebelum azan Subuh untuk mengerjakan shalat tahajjud dan witir. Idealnya kita selalu berusaha untuk shalat malam sebagaimana Rasulullah shallallahu ’alaih wa sallam, yaitu sebanyak delapan rakaat tahajjud dan tiga rakaat witir. Namun jika tidak tercapai, maka kurangilah jumlah rakaatnya sesuai kesanggupan fisik dan ruhani sehingga minimal dua rakaat tahjjud dan satu rakaat witir. Tapi ingat, ini hanya dikerjakan bila kita terpaksa karena tidur terlalu larut malam mendekati jam duabelas malam. Yang jelas, usahakanlah setiap malam agar kita selalu bisa melaksanakan shalat malam (tahjjud plus witir). Karena Nabi shallallahu ’alaih wa sallam menjamin bahwa orang yang menyempatkan diri untuk bangun malam dan sholat malam, maka ia bakal memperoleh semangat dan kesegaran di pagi harinya. Dan sebaliknya, barangsiapa yang tidak menyempatkan diri untuk bangun dan shalat malam, maka di pagi hari ia bakal memiliki perasaan buruk dan malas.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu bahwa Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda:

“ Syetan akan mengikat tengkuk salah seorang di antara kamu apabila ia tidur dengan tiga ikatan. Syetan men-stempel setiap simpul ikatan atas kalian dengan mengucapkan: Bagimu malam yang panjang maka tidurlah. Apabila ia bangun dan berdzikir kepada Allah ta’aala maka terbukalah satu ikatan. Apabila ia wudhu, terbuka pula satu ikatan. Apabila ia sholat, terbukalah satu ikatan. Maka, di pagi hari ia penuh semangat dan segar. Jika tidak, niscaya di pagi hari perasaannya buruk dan malas.

(HR Bukhari 4/310)


Ketiga,

pastikan diri tidak kesiangan shalat subuh. Dan khusus bagi kaum pria usahakanlah untuk shalat subuh berjamaah di masjid. Sebab sholat subuh berjamaah di masjid merupakan sarana untuk membersihkan hati dari penyakit kemunafikan.


Bersabda Rasulullah shallallahu ’alaih wa sallam:

“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi kaum munafik adalah shalat isya dan subuh (berjamaah di masjid). Andai mereka tahu apa manfaat di dalam keduanya niscaya mereka akan mendatanginya walaupun harus merangkak-rangkak.

( HR Muslim 2/123 )


Dan sungguh dahulu pada masa Nabi Muhammad shallallahu ’alaih wa sallam tiada seorang tertinggal dari shalat berjama’ah

kecuali orang-orang munafiq yang terang kemunafiqannya

(HR Muslim 3/387)


Keempat,

Janganlah tidur sesudah shalat subuh. Segeralah isi waktu dengan sebaik-baiknya. Entah itu dengan bersegera membaca wirid atau ma’tsurat pagi atau apapun kegiatan bermanfaat lainnya. Barangkali bisa membaca buku, berolah-raga atau menulis buku atau bahkan berdagang sebagaimana kebiasaan sahabat Sakhru bin Wada’ah.

Orang yang tidur di waktu pagi berarti menyengaja dirinya tidak menjadi bagian dari umat Islam yang didoakan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam memperoleh berkah Allah di pagi hari.

Ia menyia-nyiakan kesempatan berharga. Pagi merupakan saat paling berkualitas sepanjang hari. Alangkah naifnya orang yang sengaja membiarkan waktu pagi berlalu begitu saja tanpa aktifitas bermanfaat dan produktif. Tak heran bila Nabi shallallahu ’alaih wa sallam justru memobilisasi pasukan perangnya untuk berjihad fi sabilillah senantiasa di awal hari yakni di waktu pagi sehingga fihak musuh terkejut dan tidak siap menghadapinya.

KAMARANANYA  BARAYA ANA


Aku berkata : Sesungguhnya musuh Umat Islam itu adalah : Orang yang mengaku ISLAM , tapi tidak mau melaksanakan Shalat .


Wassalam

[ رَبَّنَا هَبْ لَنَ مِنْ أَزْوَاجِـنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةً أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا ]

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِى الدِّينِ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِى الدِّينِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai sekalian manusia, jauhilah sikap berlebih-lebihan (ghuluw) dalam beragama. Sesungguhnya yang membinasakan umat-umat sebelum kalian adalah sikap berlebih-lebihan dalam agama”

(HR Ibnu Majah >Ibnu Abbas,).

BAHAYA KEMUNAFIKAN


Abu Hurairah ra meriwayatkan dari Nabi saw yang berkata, Ciri-ciri orang munafik adalah: jika berbicara selalu berdusta, jika berjanji selalu ingkar, dan jika dipercaya selalu berkhianat.- ( al-Bukhari ).

Dalam hadits lain – Abdullah bin Umar ra berkata: bahwa Nabi saw berkata, Ada empat dosa sifat yang jika seseorang memperlihatkan semua cirinya, dia sepenuhnya orang munafik. Jika dia punya salahsatu ciri, dia dianggap memiliki unsur-unsur seorang munafik. Ciri-ciri itu adalah: Berkhianat- Berdusta- Ingkar janji, dan memaki lawan jika ada perbedaan pendapat -( al-Bukhari ).

Ada dua jenis orang munafik ,

type PERTAMA adalah orang munafik yang mengaku Muslin, tetapi tidak mempunyai keimanan atas dasar Islam. Orang yang seperti ini bisa menipu orang lain karena dari luar tampaknya seperti seorang Muslim, tetapi tidak beriman kepada Allah swt dan Rasul-Nya. Mereka ini lebih buruk dari orang kafir dan layak mendapat siksa yang pedih.

Type KEDUA adalah orang yang dalam hatinya mengaku Islam, tetapi tidak melaksanakan akhlak-akhlak utama dalam Islam. Orang seperti ini tidak digambarkan sebagai orang kafir, tetapi sebagai orang fasik. Orang ini bisa masuk surga setelah menerima siksa pedih di Akhirat (Allah maha mengetahui ).

Beberapa Tabi’in pernah membicarakan sifat munafik dan keinginan untuk menjauhinya.

Ibrahim Tamini (w. 92 H) yang bersahabat dengan dengan beberapa sahabat Nabi saw berkata. Setiap aku membandingkan ucapanku dengan perbuatanku, aku takut jika aku digolongkan sebagai orang munafik, karenaada ucapanku yang berbeda dengan perbuatanku.

Ibnu Abi Mulaikah (w. 117 H) berkata: Aku bertemu berteman dengan tiga puluh sahabat besar Nabi saw yang selalu merasa ketakutan bila digolongkan sebagai seorang munafik. Tidak ada seorangpun diantara mereka yang terlihat menyombongkan keimanan atau kesalehannya atau membual.

Hasan al- Basri (w. 110 H) yang belajar hadits dari beberapa orang sahabat Nabi saw, termasuk muhaddits besar Abdullah bin Mas’ud ra, berkata: Aku bersumpah demi Allah yang maha kuasa…..bahwa semua orang mukmin yang sekarang masih hidup dan semua orang mukmin yang hidup pada masa yang akan datang, merasa takut pada kata munafik.

Dengan demikian, orang yang betul-betul beriman, akan selalu takut menjadi seorang munafik karena berbuat sesuatu yang bertentangan dengan apa yang dikatakan atau yang diyakininya.

 

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ شُعْبَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ أَبِي مُوسَى عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُؤْمِنُ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالْأُتْرُجَّةِ طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَرِيحُهَا طَيِّبٌ وَالْمُؤْمِنُ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَعْمَلُ بِهِ كَالتَّمْرَةِ طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَلَا رِيحَ لَهَا وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالرَّيْحَانَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالْحَنْظَلَةِ طَعْمُهَا مُرٌّ أَوْ خَبِيثٌ وَرِيحُهَا مُرٌّ

Telah menceritakan kepada kami Musaddad Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu’bah dari Qatadah dari Anas bin Malik dari Abu Musa dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

” Seorang mukmin yang membaca Al Qur`an dan beramal denganya adalah bagaikan buah utrujah, rasanya lezat dan baunya juga sedap. Dan orang mukmin yang tidak membaca Al Qur`an namun beramal dengannya adalah seperti buah kurma, rasanya manis, namun tidak ada baunya.

Sedangkan perumpamaan orang MUNAFIK yang membaca Al Qur`an adalah seperti Ar Raihanah, aromanya sedap, tetapi rasanya pahit. Dan perumpamaan orang MUNAFIK yang tidak membaca Al Qur`an adalah seperti Al Hanzhalah, rasanya pahit dan baunya juga busuk.”

 .

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَزِيدَ اللَّيْثِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّاسَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلْ تُضَارُّونَ فِي الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ قَالُوا لَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَهَلْ تُضَارُّونَ فِي الشَّمْسِ لَيْسَ دُونَهَا سَحَابٌ قَالُوا لَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَإِنَّكُمْ تَرَوْنَهُ كَذَلِكَ يَجْمَعُ اللَّهُ النَّاسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُ مَنْ كَانَ يَعْبُدُ شَيْئًا فَلْيَتْبَعْهُ فَيَتْبَعُ مَنْ كَانَ يَعْبُدُ الشَّمْسَ الشَّمْسَ وَيَتْبَعُ مَنْ كَانَ يَعْبُدُ الْقَمَرَ الْقَمَرَ وَيَتْبَعُ مَنْ كَانَ يَعْبُدُ الطَّوَاغِيتَ الطَّوَاغِيتَ وَتَبْقَى هَذِهِ الْأُمَّةُ فِيهَا شَافِعُوهَا أَوْ مُنَافِقُوهَا شَكَّ إِبْرَاهِيمُ فَيَأْتِيهِمْ اللَّهُ فَيَقُولُ أَنَا رَبُّكُمْ فَيَقُولُونَ هَذَا مَكَانُنَا حَتَّى يَأْتِيَنَا رَبُّنَا فَإِذَا جَاءَنَا رَبُّنَا عَرَفْنَاهُ فَيَأْتِيهِمْ اللَّهُ فِي صُورَتِهِ الَّتِي يَعْرِفُونَ فَيَقُولُ أَنَا رَبُّكُمْ فَيَقُولُونَ أَنْتَ رَبُّنَا فَيَتْبَعُونَهُ وَيُضْرَبُ الصِّرَاطُ بَيْنَ ظَهْرَيْ جَهَنَّمَ فَأَكُونُ أَنَا وَأُمَّتِي أَوَّلَ مَنْ يُجِيزُهَا وَلَا يَتَكَلَّمُ يَوْمَئِذٍ إِلَّا الرُّسُلُ وَدَعْوَى الرُّسُلِ يَوْمَئِذٍ اللَّهُمَّ سَلِّمْ سَلِّمْ وَفِي جَهَنَّمَ كَلَالِيبُ مِثْلُ شَوْكِ السَّعْدَانِ هَلْ رَأَيْتُمْ السَّعْدَانَ قَالُوا نَعَمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَإِنَّهَا مِثْلُ شَوْكِ السَّعْدَانِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَعْلَمُ مَا قَدْرُ عِظَمِهَا إِلَّا اللَّهُ تَخْطَفُ النَّاسَ بِأَعْمَالِهِمْ فَمِنْهُمْ الْمُوبَقُ بَقِيَ بِعَمَلِهِ أَوْ الْمُوثَقُ بِعَمَلِهِ وَمِنْهُمْ الْمُخَرْدَلُ أَوْ الْمُجَازَى أَوْ نَحْوُهُ ثُمَّ يَتَجَلَّى حَتَّى إِذَا فَرَغَ اللَّهُ مِنْ الْقَضَاءِ بَيْنَ الْعِبَادِ وَأَرَادَ أَنْ يُخْرِجَ بِرَحْمَتِهِ مَنْ أَرَادَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ أَمَرَ الْمَلَائِكَةَ أَنْ يُخْرِجُوا مِنْ النَّارِ مَنْ كَانَ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا مِمَّنْ أَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَرْحَمَهُ مِمَّنْ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَيَعْرِفُونَهُمْ فِي النَّارِ بِأَثَرِ السُّجُودِ تَأْكُلُ النَّارُ ابْنَ آدَمَ إِلَّا أَثَرَ السُّجُودِ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَى النَّارِ أَنْ تَأْكُلَ أَثَرَ السُّجُودِ فَيَخْرُجُونَ مِنْ النَّارِ قَدْ امْتُحِشُوا فَيُصَبُّ عَلَيْهِمْ مَاءُ الْحَيَاةِ فَيَنْبُتُونَ تَحْتَهُ كَمَا تَنْبُتُ الْحِبَّةُ فِي حَمِيلِ السَّيْلِ ثُمَّ يَفْرُغُ اللَّهُ مِنْ الْقَضَاءِ بَيْنَ الْعِبَادِ وَيَبْقَى رَجُلٌ مِنْهُمْ مُقْبِلٌ بِوَجْهِهِ عَلَى النَّارِ هُوَ آخِرُ أَهْلِ النَّارِ دُخُولًا الْجَنَّةَ فَيَقُولُ أَيْ رَبِّ اصْرِفْ وَجْهِي عَنْ النَّارِ فَإِنَّهُ قَدْ قَشَبَنِي رِيحُهَا وَأَحْرَقَنِي ذَكَاؤُهَا فَيَدْعُو اللَّهَ بِمَا شَاءَ أَنْ يَدْعُوَهُ ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ هَلْ عَسَيْتَ إِنْ أَعْطَيْتُكَ ذَلِكَ أَنْ تَسْأَلَنِي غَيْرَهُ فَيَقُولُ لَا وَعِزَّتِكَ لَا أَسْأَلُكَ غَيْرَهُ وَيُعْطِي رَبَّهُ مِنْ عُهُودٍ وَمَوَاثِيقَ مَا شَاءَ فَيَصْرِفُ اللَّهُ وَجْهَهُ عَنْ النَّارِ فَإِذَا أَقْبَلَ عَلَى الْجَنَّةِ وَرَآهَا سَكَتَ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَسْكُتَ ثُمَّ يَقُولُ أَيْ رَبِّ قَدِّمْنِي إِلَى بَابِ الْجَنَّةِ فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ أَلَسْتَ قَدْ أَعْطَيْتَ عُهُودَكَ وَمَوَاثِيقَكَ أَنْ لَا تَسْأَلَنِي غَيْرَ الَّذِي أُعْطِيتَ أَبَدًا وَيْلَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مَا أَغْدَرَكَ فَيَقُولُ أَيْ رَبِّ وَيَدْعُو اللَّهَ حَتَّى يَقُولَ هَلْ عَسَيْتَ إِنْ أُعْطِيتَ ذَلِكَ أَنْ تَسْأَلَ غَيْرَهُ فَيَقُولُ لَا وَعِزَّتِكَ لَا أَسْأَلُكَ غَيْرَهُ وَيُعْطِي مَا شَاءَ مِنْ عُهُودٍ وَمَوَاثِيقَ فَيُقَدِّمُهُ إِلَى بَابِ الْجَنَّةِ فَإِذَا قَامَ إِلَى بَابِ الْجَنَّةِ انْفَهَقَتْ لَهُ الْجَنَّةُ فَرَأَى مَا فِيهَا مِنْ الْحَبْرَةِ وَالسُّرُورِ فَيَسْكُتُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَسْكُتَ ثُمَّ يَقُولُ أَيْ رَبِّ أَدْخِلْنِي الْجَنَّةَ فَيَقُولُ اللَّهُ أَلَسْتَ قَدْ أَعْطَيْتَ عُهُودَكَ وَمَوَاثِيقَكَ أَنْ لَا تَسْأَلَ غَيْرَ مَا أُعْطِيتَ فَيَقُولُ وَيْلَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مَا أَغْدَرَكَ فَيَقُولُ أَيْ رَبِّ لَا أَكُونَنَّ أَشْقَى خَلْقِكَ فَلَا يَزَالُ يَدْعُو حَتَّى يَضْحَكَ اللَّهُ مِنْهُ فَإِذَا ضَحِكَ مِنْهُ قَالَ لَهُ ادْخُلْ الْجَنَّةَ فَإِذَا دَخَلَهَا قَالَ اللَّهُ لَهُ تَمَنَّهْ فَسَأَلَ رَبَّهُ وَتَمَنَّى حَتَّى إِنَّ اللَّهَ لَيُذَكِّرُهُ يَقُولُ كَذَا وَكَذَا حَتَّى انْقَطَعَتْ بِهِ الْأَمَانِيُّ قَالَ اللَّهُ ذَلِكَ لَكَ وَمِثْلُهُ مَعَهُ قَالَ عَطَاءُ بْنُ يَزِيدَ وَأَبُو سَعِيدٍ الْخُدْرِيُّ مَعَ أَبِي هُرَيْرَةَ لَا يَرُدُّ عَلَيْهِ مِنْ حَدِيثِهِ شَيْئًا حَتَّى إِذَا حَدَّثَ أَبُو هُرَيْرَةَ أَنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قَالَ ذَلِكَ لَكَ وَمِثْلُهُ مَعَهُ قَالَ أَبُو سَعِيدٍ الْخُدْرِيُّ وَعَشَرَةُ أَمْثَالِهِ مَعَهُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ مَا حَفِظْتُ إِلَّا قَوْلَهُ ذَلِكَ لَكَ وَمِثْلُهُ مَعَهُ قَالَ أَبُو سَعِيدٍ الْخُدْرِيُّ أَشْهَدُ أَنِّي حَفِظْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَوْلَهُ ذَلِكَ لَكَ وَعَشَرَةُ أَمْثَالِهِ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ فَذَلِكَ الرَّجُلُ آخِرُ أَهْلِ الْجَنَّةِ دُخُولًا الْجَنَّةَ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Aziz bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’d dari Ibn Syihab dari ‘Atha’ bin Yazid allaitsi dari Abu Hurairah.

Para sahabat bertanya : ” Wahai Rasulullah, apakah kami akan melihat Tuhan kami pada hari kiamat nanti? ” .

Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam lantas bersabda : ”  Apakah kalian kesulitan melihat bulan ketika malam purnama?” .

”  Tidak,”  Jawab para sahabat.

Rasulullah bertanya lagi : ” Apakah kalian kesulitan melihat matahari ketika tidak ada mendung?  “.

Para sahabat menjawab :  ” Tidak ya Rasulullah “.

Nabi bersabda : ” Sesungguhnya kalian akan melihat-Nya demikian pula Allah akan mengumpulkan manusia pada hari kiamat dan berfirman :

Barangsiapa menyembah sesuatu, hendaklah ia mengikuti yang disembahnya.’ Maka siapa yang menyembah matahari, ia mengikuti matahari, siapa yang menyembah bulan, ia ikuti bulan, siapa yang menyembah thaghut, ia ikuti thaghut, dan tersisalah dari umat ini orang penolongnya atau justru orang-orang MUNAFIKnyaIbrahim ragu kepastian redaksinya-. Lantas Allah menemui mereka dan berkata, Aku Tuhan kalian.

Lantas mereka menjawab : ” Ini adalah tempat tinggal kami sehingga Tuhan kami mendatangi kami, jika Tuhan kami menemui kami, niscaya kami mengenalnya. Allah kemudian menemui mereka dengan bentuk yang mereka kenal “.

Allah lalu berfirman:  ” Aku Tuhan kalian. Lantas mereka katakan, Engkau memang Tuhan kami. Mereka pun mengikuti-Nya. Titian (jembatan) lantas dipasang antara dua tepi jahanam dan aku dan umatkulah yang pertama-tama menyeberangimnya.

Tak ada yang berani bicara ketika itu selain para rasul, sedang seruan para rasul ketika itu yang ada hanyalah ‘Allaahumma sallim sallim (Ya Allah, selamatkan kami. Ya Allah, selamatkan kami) ‘. Sedang di neraka jahannam terdapat besi-besi pengait seperti duri pohon berduri yang namanya Sa’dan. Bukankah kalian sudah tahu pohon berduri Sa’dan? Para sahabat menjawab, Benar, wahai Rasulullah.

Nabi meneruskan: ” Sungguh pohon itu semisal pohon berduri Sa’dan, hanya tidak ada yang tahu kadar besarnya selain Allah semata. Pohon itu menculik siapa saja sesuai kadar amal mereka, ada diantara mereka yang celaka dengan sisa amalnya atau terikat dengan amalnya, diantara mereka ada yang binasa yang langgeng dengan amalnya atau terikat dengan amalnya, diantara mereka ada yang diseberangkan. Atau dengan redaksi semisal-.

Kemudian Allah menampakkan diri, hingga jika Allah selesai memutuskan nasib hamba-Nya dan ingin mengeluarkan penghuni neraka karena rahmat-Nya, Ia perintahkan malaikat untuk mengeluarkan penghuni neraka siapa saja yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, yaitu diantara mereka yang Dia masih ingin merahmatinya, diantara yang bersyahadat bahwasanya tiada sesembahan yang hak selain Allah, sehingga malaikat mengenal mereka di neraka dari bekas-bekas sujud, sebab neraka memangsa anak adam selain bekas-bekas sujud.

Allah mengharamkan neraka memangsa bekas-bekas sujud, sehingga mereka keluar dari neraka dengan badan yang hangus terbakar, mereka kemudian disiram dengan air kehidupan sehingga tumbuh dibawahnya sebagaimana biji-bijian tumbuh dalam aliran sungai,

kemudian Allah selesai memutuskan hamba-hamba-Nya dan tersisa diantara mereka seseorang yang menghadapkan wajahnya ke neraka, dan dialah mantan penghuni neraka yang terakhir kali masuk surga, kecuali ia berdoa,” Ya Tuhan, palingkanlah wajahku dari neraka, sebab baunya saja sudah cukup menggangguku dan jilatan apinya telah membakarku “.

Orang itu kemudian memohon kepada Allah sekehendaknya untuk berdoa, kemudian Allah berfirman: ” Kalaulah Aku memenuhi permintaanmu, jangan-jangan engkau nanti meminta harapan lain! Ia menjawab,” Tidak, demi kemuliaan-Mu, saya tidak akan meminta selainnya “.

Dan Tuhannya pun mengambil janji dan ikrar sekehendak-Nya lalu memalingkan wajahnya dari neraka.

Namun kemudian ia menghadap surga dan melihat keindahan surga, ia pun lantas terdiam beberapa saat dan memohon, ” Ya Allah, jadikanlah aku berada di pintu surga.’ Allah bertanya: ” Bukankah engkau telah menyerahkan janjimu dan ikrarmu untuk tidak meminta-Ku selama-lamanya selain yang telah Aku berikan.

Hai engkau Anak Adam, alangkah senangnya engkau berkhianat.’ Namun hamba itu tetap saja memohon,” Ya Tuhanku,” dan ia terus memohon Allah hingga Allah bertanya: ” Kalaulah Aku memberimu apa yang kau minta sekarang, jangan-jangan engkau minta lagi dengan permintaan lain.’ Ia menjawab, ‘Tidak, demi kemuliaan-Mu, saya tidak akan meminta-Mu lagi dengan permintaan lain.’ Lantas orang itu menyerahkan janji dan ikrarnya sehingga Allah mengajukan ke pintu surga.

Namun ketika hamba itu telah berdiri ke pintu surga, surga terbuka baginya sehingga ia melihat kesenangan hidup dan kegembiraan di dalamnya sehingga ia terdiam sekehendak Allah ia diam. Kemudian ia memohon, ” Ya Tuhanku, masukkanlah aku dalam surga “, maka Allah mengatakan, ” Hai, bukankah telah engkau serahkan janjimu untuk tidak meminta yang lain selain yang telah Aku berikan, wahai Anak Adam, alangkah cepatnya engkau berkhianat “. Maka si hamba tadi memohon, ” Ya Tuhanku, jangan aku menjadi hamba-Mu yang paling sengsara “,  si hamba itu terus tiada henti memohon hingga Allah tertawa.

Dan jika Allah telah tertawa kepada seorang hamba, Allah musti berkata kepadanya ” Masuklah kamu ke surga “.

Jika si hamba telah memasukinya, Allah berkata kepadanya: ” Tolong buatlah impian “. Maka si hamba meminta  Tuhannya dan membuat impian-impian, hingga Allah mengingatkannya dengan berfirman sedemikian-sedemikian hingga impian si hamba sudah sampai puncaknya.

Allah berfirman kepadanya: ” Itu semua untukku, dan ditambah seperti itu pula ” ‘Atha’ bin Yazid berkata, Abu Sa’id alkhudzri bersama Abu Hurairah tidak mengembalikan sedikitpun hadisnya, hingga jika Abu Hurairah telah menceritakan bahwa Allah berfirman ‘dan bagimu semisalnya’, Abu Sa’id Al Khudzri berkata ‘dan sepuluh semisalnya bersamanya’ wahai Abu Hurairah? ‘ Abu Hurairah berkata, ‘Saya tidak hapal selain ucapannya itu ‘bagimu dan semisalnya’. Abu Sa’id Al Khudzri berkata lagi, Saya bersaksi bahwa saya menghapalnya dari Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, yaitu redaksi ‘Dan bagimu sepuluh semisalnya’. Abu Hurairah berkata,Itulah manusia terakhir kali masuk surga.’

Wallahu A’lam

[ رَبَّنَا هَبْ لَنَ مِنْ أَزْوَاجِـنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةً أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا ]