Hadits Shahih Bukhari dan Muslim Pasti Shahih


Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ada beberapa hal yang perlu dijelaskan terlebih dahulu agar tidak rancu dalam memahami duduk permasalahannya.

Al-Imam Al-Bukhari adalah seorang muhaddits yang lahir tahun ( 810 H – 896 H ). Beliau banyak melakukan kritik hadits dan masterpiece beliau adalah kitab yang disebut dengan istilah Ash-Shahih.

Orang biasa menyebutnya dengan shahih Bukhari. Judul lengkapnya adalah

Jami’ Ash-Shahih Al-Musnad Al-Mukhtashar min Haditsi Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam wa sunanihi wa ayyamihi.

Kitab yang berisi 7.275 hadits secara terulang-ulang atau 4000 hadits bila tidak diulang-ulang ini oleh semua ahli hadits diakui sebagai kitab yang sudah mengalami seleksi yang teramat ketat dan tidak main-main.

Agar sebuah hadits bisa lolos seleksi ketat Al-Imam Bukhari dan tertulis di dalamnya, maka proses yang dialaminya menjadi sangat panjang.

Misalnya, para perawi yang meriwayatkan hadits ini harus lolos seleksi yang teramat ketat.

Karena Al-Bukhari menelusurinya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Nyaris tidak ada seorang pun yang pernah berdusta yang akan dipakai hadits oleh beliau.

Bahkan jangankah berdusta, sekedar berpakaian kurang sopan dan tidak selayaknya dalam pandangan masyarakat, sudah dinilai miring oleh beliau.

Maka hadits-hadits yang diriwayatkan oleh orang tersebut pastilah mengalami diskualifikasi. Tidak masuk ke dalam jajaran hadits di dalam kitab beliau.

Maka keshahihan semua hadits yang ada di dalam kitab As-Shahih yang disusun oleh Al-Bukhari telah menjadi ijma’ ulama sedunia. Bahkan kitab ini mendapat julukan kitab tershahih kedua setelah Al-Quran Al-Kariem.

Kitab Karya Al-Bukhari Selain Ash-Shahih

Namun yang jarang diketahui adalah ternyata Al-Imam Al-Bukhari punya karya hadits yang lain selain kitab Ash-Shahihnya.

Di mana karya-karya itu memang memuat hadits, namun beliau sendiri tidak menjamin apakah hadits yang ada di dalam karyanya itu shahih atau tidak.

Kalau beliau tidak menjamin, bukan berarti pasti tidak shahih. Tidak demikian cara kita memahaminya. Namun beliau tidak melakukan penyeleksian seperti ketika menyusun Ash-Shahih.

Di antara kitab yang pernah ditulis oleh beliau adalah duakitab kecil yang diberi judul Raf’ul Yadain (mengangkat kedua tangan) dan Ashshalatu khalfal imam (shalat di belakang imam).

Kedua kitab ini cukup tipis, meski berisi hadits juga. Dan beliau tidak menjaminkan keshahihan hadits-hadits yang ada di dalamnya.

Selain itu juga ada kitab Adabul Mufrad yang berisi sekitar1000-an hadits, di mana beliau pun tidak memberikan jaminan keshahihannya.

Selain kitab hadits, ternyata Al-Imam Al-Bukhari juga seorang penulis sejarah. Dua kitab sejarah yang beliau susun adalah At-tarikh Al-Kabir dan At-Tarikh Ash-Shaghir.

Keduanya sejak pertama kali ditulis, sama sekali tidak bicara tentang hadits nabawi. Kitab ini adalah kitab sejarah, jadi sama sekali bukan kitab hadits.

Maka jangan berharap untuk mendapatkan hadits-hadits yang shahih sebagaimana yang kita dapat dari kitab Ash-Shahih.

Kesimpulan

Jadi semua hadits yang terdapat di dalam kitab Ash-Shahih dipastikan atau dijamin keshahihannya.

Sedangkan bila tidak terdapat di dalamnya, meski pun ditulis oleh Al-Bukhari, belum tentu hadits itu shahih.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Khilaf Dalam Menilai Derajat Keshahihan Hadis

Sesungguhnya khilaf pada ulama hadits tentang penilaian mereka atas keshahihan suatu hadits adalah hak yang sudah terjadi sejak dahulu.

Suatu hadits yang dishahihkan oleh Imam Bukhari belum tentu masuk ke dalam kitab Shahih Muslim. Demikian juga sebaliknya.

Bahkan haditsyang telah masuk ke dalam kitab Shahih Bukhari, oleh sebagian kalangan masih ada yang diragukan validitasnya.

Misalnya pendapat-pendapat Ibnu Khuzaemah atau bahkan Syeikh Nasiruddin Al-Albani sendiri. Pendeknya, berbeda pendapat bukan hal yang asing di kalangan ulama salaf.

Bahkan khilaf di antara ulama yang sering dijadikan tokoh rujukan oleh mereka yang mengaku salaf, tidak pernah sepi dari perbedaan pandangan.

Begitu banyak pendapat Syeikh Nasirudin Al-Albani rahimahullah yang bertentangan dengan pendapat Syeikh Bin Baz. Dan pendapat keduanya juga seringkali berbeda dengan pendapat Syeikh Al-‘Utsaimin.

Padahal para ulama itu seringkali dijadikan rujukan utama. Fatwa dan hasil ijtihad mereka selalu menghiasi lembar-lembar dakwah kalangan ini.

Walhasil

Kalau ada saudara-saudara kita yang saling menuding sebagai sesat atau ahli bid’ah, bahkan sampai tidak mau bertegur sapa satu dengan lainnya, hanya lantaran perbedaan pendapat dalam ijtihad, sungguh sangat disayangkan. Sebab yang mereka sikapi dengan arogan itu sesungguhnya hanya sebuah pendapat di antara sekian banyak pendapat.

Lebih tepat bila sikap kasar dan keras itu ditujukan kepada orang-orang kafir harbi yang jelas-jelas telah membunuh jutaan nyawa umat Islam, semacam Slobodan Milosevic, George Bush atau Tony Blair.

Tapi kalau hanya karena berbeda cara menilai keshahihan suatu hadits, lantas kita memaki-maki saudara muslim kita sendiri, bahkan menyudutkan, menggunjingkan, aau malah memvonisnya sebagai ahli neraka, sungguh sangat memalukan.

Tetapi itulah kenyataannya, saling maki dan saling cela itu bahkan ditulis di berbagai macam situs yang dibaca oleh ribuan orang, bahkan diterbitkan dalam berbagai majalah dan buku, termasuk di dalam VCD dan kaset, padahal penyebabnya hanya sebatas perbedaan pendapat, sungguh merupakan azab buat umat Islam.

Ahmad Sarwat, Lc

Iklan

Imam menghadap Makmum setelah salam


 

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Apa yang seringkali anda saksikan tentang imam shalat yang berputar posisi menghadap ke jamaah atau ke kanan atau ke kiri, semua memang ada dalil haditsnya. Semua merupakan rekaman para shahabat ketika ikut shalat berjamaah bersama Rasulullah SAW.

Beberapa di antara hadits yang menyebutkan tentang perbuatan Rasulullah SAW ketik

a selesai shalat kemudian menghadapkan wajahnya kepada makmum adalah hadits berikut ini:

.

عن سمرة رضي الله عنه قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا صلى صلاة أقبل علينا بوجهه – رواه البخاري

Dari Samurah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bila selesai shalat, beliau menghadapkan wajahnya kepada kami.

(HR. Bukhari)

Terkadang beliau tidak sepenuhnya menghadap kepada makmum, melainkan hanya berputar 90 ke arah kanan, sehingga makmum ada di sisi kanan dan kiblat ada di sisi kiri beliau. Sebagaimana disebutkan di dalam hadits berikut ini.

عن أنس رضي الله عنه قال: أكثر ما رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم ينصرف عن يمينه – رواه مسلم

Dari Anas ra berkata,”Seringkali aku melihat Rasulullah SAW berputar ke kanan (setelah shalat).”

(HR. Muslim)

Namun terkadang beliau malah menghadap ke arah kiri 90 derajat, sehingga makmum ada di sisi kiri dan kiblat ada di sisi kanan, sebagaimana juga ada dalilnya berikut ini.

عن قصيبة بن هلب عن أبيه أنه صلى مع النبي صلى الله عليه وسلم فكان ينصرف عن شقيه – رواه أبو داود وابن ماجة والترمذي وقال حيث حسن

Dari Qushaibah bin Hulb dari ayahnya bahwa dia shalat bersama Nabi SAW, beliau berputar ke dua arah (kanan dan kiri). (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, At-Tirmizy)

Bahkan ada hadits yang menyebutkan beliau menghadap ke kanan dan ke kiri.

عن ابن مسعود رضي الله عنه قال: أكثر ما رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم ينصرف عن شمله – رواه البخاري ومسلم

Dari Ibnu Mas’ud ra berkata,”Seringkali aku melihat Rasulullah SAW berputar ke kiri (setelah shalat).”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Imam An-Nawawi dalam kitab Syarah Muslim menyebutkan bahwa dengan adanya beberapa dalil di atas, bisa disimpulkan bahwa memang terkadang beliau SAW selesai shalat menghadap ke belakang, terkadang menghadap ke samping kanan dan terkadang menghadap ke samping kiri.

Karena demikian rupa Rasulullah SAW melakukannya, maka buat kita hal itu menjadi teladan dan ikutan dalam ibadah shalat. Meski pun demikian, dari segi hukum tidak sampai kepada wajib, tetapi sunnah dan anjuran.

Jarak Antara Salam dan Bergeser

Adapun pertanyaan anda tentang berapa lama jarak antara salam dengan memutar tubuh menghadap ke belakang atau ke samping, kita juga menemukan beberapa hadits yang berbicara tentang itu. Yaitu sekedar beliau membaca istighfar tiga kali, lalu membaca lafadz Allahumma antassalam dan seterusnya, kemudian beliau segera merubah posisi atau bergeser atau berputar.

عن ثوبان كان رسول الله إذا انصرف من صلاته استغفر ثلاثا وقال: اللهم أنت السلام… – رواه مسلم

Dari Tsauban bahwa Rasulullah SAW bila selesai dari shalatnya, beliau bersitighfar tiga kali kemudian mengucapkan: Allahumma antas-salam.” (HR. Muslim)

عن عائشة كان رسول الله إذا سلم لم يقعد إلا مقدار ما يقول: اللهم أنت السلام ومنك السلام تباركت ياذا الجلال والإكرام – رواه مسلم

Dari Aisyah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bila salam (dari shalat) tidak duduk kecuali sekedar membaca: Allahumma antassalam wa minkassalam tabarakta ya dzal jalali wal ikram.

(HR Muslim)

Hikmah Bergeser
Beberapa ulama mencoba menuliskan sisi lain dari apa yang beliau SAW lakukan. Di antaranya adalah apa yang ditulis oleh Ibn Qudamah di dalam kitab Al-Mughni jilid 1 halaman 561. Beliau mengatakan bahwa berubahnya arah duduk imam adalah untuk memastikan telah selesainya shalat itu bagi imam. Artinya agar makmum bisa memastikan bahwa imam telah benar-benar selesai dari shalatnya.

Sebab dengan mengubah arah duduk, imam akan meninggalkan arah kiblat, dan hal itu jelas akan membatalkan shalatnya.

Ada juga yang mengatakan bahwa dengan menggeser arah duduk ke belakang atau ke samping, berarti imam sudah yakin 100% bahwa rangkaian shalatnya sudah selesai seluruhnya dan terputus. Tidak sah lagi bila tiba-tiba teringat mau sujud sahwi atau kurang satu rakaat. Demikian disebutkan di dalam kitab Hasyiyatu Ibnu Qasim ‘alar-Raudhah jilid 12 halaman 354-355.

Makmum Tidak Bergeser Kecuali Setelah Imam Bergeser

Apa yang anda perhatikan bahwa para makmum berpindah duduk setelah imam mengubah posisi, sesungguhnya berangkat dari sebuah hadits yang melarang makmum bergeser sebelum imam berubah posisi.

عن أنس قال صلى بنا رسول الله ذات يوم فلما قضى الصلاة أثبل علينا بوجهه فقال: أيها الناس إني إمامكم فلا تسبقوني بالركو ولا بالسجود ولا بالقيام ولا بالانصراف – رواه مسلم

Dari Anas ra berkata bahwa suatu hari Rasulullah SAW shalat mengimami kami, ketika selesai shalat beliau menghadapkan wajah kepada kami dan bersabda,”Wahai manusia, aku adalah imam kalian. Janganlah kalian mendahului aku dalam ruku,sujud, berdiri atau berpindah.”

(HR. Muslim)

Dengan landasan hadits ini maka di dalam kitab kitab Fatawa-nya jilid 22 halaman 505 Imam Ibnu Taymiyah mengatakan hendaknya makmum tidak berdiri pergi meninggalkan tempat shalat kecuali setelah imam berpindah atau menggeser arah duduknya dari arah kiblat.

Sehingga wajar bila anda menyaksikan bahwa para makmum berpindah posisi setelah imam berputar arah. Semua berangkat dari hadits ini.

Wallahu a’lam bishshawab wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Ahmad Sarwat, Lc

(eramuslim)

Sanad Fiqih Imam As Syafi’i


Sanad Fiqih Imam As Syafi’i

  Sanad hadits para ulama yang sampai kepada Rasulullah Shallallabhu Alaihi Wasallam amatlah banyak jumlahnya, karena mereka hanya meriwayat matan hadits. Berbeda dengan sanad keilmuan fiqih, karena membutuhkan waktu lama untuk mempelajarinya. Nah, kali ini kita akan mengupas mengenai sanad fiqih Imam As Syafi’i Radhiyallahu ‘Anhu.

Syeikh Syihab Ad Din Ahmad bin Ahmad bin Salamah Al Qalyubi (1069 H),

menyebutkan salah satu rangkaian sanad dalam fiqih ulama mujtahid dari Quraisy ini (lihat, Hasyiyatani Qalyubi wa Umairah, hal. 9, vol. 1) dengan rangkaian sanad berikut:

Tidak ada salahnya, jika kita membahas para ulama yang keilmuannya menyambungkan fiqih Imam Syafi’i hingga Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam satu-persatu.

Muslim bin Khalid Az Zanji (180 H)

Beliau adalah imam, mufti dan faqih Makkah. Beliaulah yang menyarankan Imam As Syafi’i untuk mendalami fiqih. Imam As Syafi’i saat hendak keluar untuk belajar adab dan nahwu, Muslim bin Khalid menemui dan bertanya mengenai asal-usul beliau. Setelah tahu bahwa As Syafi’i termasuk kabilah Abdu Al Manaf, Muslim bin Khalid menyarankan agar beliau belajar fiqih. Dan kepada beliau, akhirnya Imam As Syafi’i menimba ilmu. Muslim bin Khalid jugalah yang memerintahkan Imam As Syafi’i untuk berfatwa, padahal saat itu beliau masih berumur 15 tahun (lihat, muqadimah Al Majmu Syarh Al Muhadzdzab, hal. 13 dan 17, vol.1).

Muhammad bin Juraij (150 H)

Penduduk Makkah mengatakan bahwa guru Muslim bin Khalid ini, ajaran shalatnya memiliki sanad hingga Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Imam Malik sendiri mengatakan bahwa Ibnu Juraij adalah ahli qiyam. Abdu Ar Razak juga menyebutkan bahwa tidak ada orang yang shalatnya lebih baik dari Ibnu Juraij. Disamping memiliki kelebihan dalam hal ibadah beliau juga dinilai sebagai orang yang pertama menulis kitab. Keilmuan beliau sendiri tidak diragukan, sebab itulah para ulama menjuluki beliau sebagai wadah (au’iyah) ilmu (lihat, Taqrib At Tahdzib, hal. 520, vol. 1).

Atha’ bin Abi Rabah (114, 115, 117 H)

Atha’ bin Abi Rabah adalah salah satu dari dua ulama yang diizinkan berfatwa di Makkah saat itu, selain Mujahid. Selain seorang faqih beliau juga dikenal sebagai ulama yang memiliki banyak periwayatan hadits. Beliau juga bertemu dengan 200 sahabat. Bahkan, yang menggantikan posisi Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu sebagi mufti di Makkah adalah Atha’, yang juga murid beliau. (Lihat, Tahdzib At Tahdzib, hal. 119-203, vol.7)

Ibnu Abbas (68 H)

Ibnu Abbas adalah seorang faqih dari kalangan sahabat. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sendiri pernah mendoakan, agar beliau difaqihkan dalam dien. Ibnu Abbas juga sering mendampingi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sejak kecilnya, karena bibi beliau Maimunah adalah istri beliau. Tak heran, beliau termasuk sahabat yang banyak meriwayatkan hadits.

 

http://almanar.wordpress.com/2010/05/05/sanad-fiqih-imam-as-syafi%E2%80%99i/

ALBANI mengharamkan perhiasan emas untuk wanita.


 Al bani Haramkan perhiasan emas bagi wanita

Jangan taksub dengan Sheikh Albani, lihat fatwanya yang mengharamkan emas untuk wanita. Dijawab oleh Dr Wahbah Az Zuhaili. Harapnya lepas ini jangan pula Dr Wahbah Az Zuhaili dihukum ahli bid’ah sesat ya. : http://marifah.net/articles/Shaykh%20Wahba%20on%20Al-Albani%20and%20Gold.pdf
http://marifah.net/articles/Shaykh%20Wahba%20on%20Al-Albani%20and%20Gold.pdf
marifah.net
English to Indonesian translation
Diterjemahkan oleh Kunci Mahdi
Dirilis oleh http://www.marifah.net 1431 H

Pertanyaan:
Sekarang saya dalam proses akan menikah, segala puji bagi Allah, Tuhan semua semesta alam. Namun, beberapa hari yang lalu salah seorang teman saya datang kepada saya dan mengatakan kepada saya bahwa ada adalah buku baik yang ditulis Syaikh Nasirudin Albānī disebut (Etiket Pernikahan ). Jelas, saya pergi ke pasar dan saya membelinya dari salah satu Islam toko buku dan kemudian saya pulang ke rumah dan membaca semua dari awal sampai akhir. Namun, saya terkejut oleh subjek emas yang dinyatakan haram (dilarang) bagi perempuan dan hadīth ditafsirkan untuk menunjukkan ini. Pertanyaan saya adalah: apa pendapat anda tentang ini Syaikh (Muammad NA / ir AlAlbānī Aldin), apa pendapat anda tentang buku ini (nya adab Al Zifāf) dan apa hukumnya benar tentang Haram emas sedang bagi perempuan. Silahkan manfaat saya, semoga Allah mengasihani engkau, sebelum aku menikah, dan jika Anda memiliki nasihat bagi saya sebelum saya menikah atau sesudahnya tentang apa yang menyenangkan Allah dan utusan-Nya, kemudian semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan. Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh Semesta alam.
JawabanSyaikh DR. Wahbah Zuhaili:
Memang penyimpangan beberapa orang yang menyibukkan diri dengan pengetahuan atau mereka yang
belajar sendiri tanpa guru tidak ada nilainya dari segi pengetahuan atau syari’ah dan pendapat mereka diberhentikan dan ditolak.
Menyatakan emas yang akan Haram bagi perempuan adalah baik suatu penyimpangan intelektual dan Islam, sebagai Qur’an telah menyatakan dengan jelas dalam ayat:
“yang dibangkitkan dengan perhiasan dan tidak jelas dalam perselisihan “. [43:18]
bahwa seorang wanita menghiasi dirinya dengan perhiasan adalah bagian dari alam dan disposisi
.
Ini juga telah ditetapkan dalam Sunnah Nabi bahwa Nabi berkata: “Emas dan sutra adalah alal (dibolehkan) untuk perempuan dan laki-laki haram ‘[Musnad Imam Amad. b. @ Anbal, vol.14, hal 499500, Adith # 19407, Dar al Hadith,edisi] Kairo.
Jadi yang Mengatakan bahwa Perhisan emas Haram bagi wanita adalah bertentangan dengan ijma ‘(konsensus para ulama).
Saya belum membaca buku adab AlZifāf (karangan albani) dan jika memiliki pendapat seperti ini di dalamnya, itu tidak boleh
terganggu dengan.
1
Diterjemahkan dari Fatawa Syaikh Wahba Mu’āsira oleh alZuaylī, halaman 203204, Dar AlFikr, Damaskus, 2003
edisi english:
Translated by Mahdi Lock
Released by http://www.marifah.net 1431 H
Question:
Right now I am in the process of getting married, all praise be to Allah, Lord of all
the Worlds. However, a few days ago one of my friends came to me and told me that there
was this good book by Shaykh Nā/ir alDīn AlAlbānī called Adāb AlZifāf (Wedding
Etiquettes). Obviously, I went to the market and I bought it from one of the Islamic
bookshops and then I went home and read all of it from start to finish. However, I was
surprised by the subject of gold being declared Harām (forbidden) for women and the
aadīth given to indicate this. My question is: what is your opinion of this Shaykh
(Muammad Nā/ir alDīn AlAlbānī), what is your opinion of this book of his (Adāb Al
Zifāf) and what is the correct ruling regarding gold being Harām for women. Please benefit
me, may Allah have mercy on you, before I get married, and if you have any pieces of advice
for me before I get married or afterwards regarding that which pleases Allah and His
Messenger, then may Allah reward you with goodness. All Praise be to Allah, Lord of all the
Worlds.
Answer: Indeed the deviation of some who occupy themselves with knowledge or those who
learn by themselves without a teacher is of no value in terms of knowledge or the Sharī’ah
and their opinions are dismissed and rejected.
Declaring gold to be Harām for women is both an intellectual and Islamic deviation, as The
Noble Qur’an has made it clear in the āyat: “that which is raised with jewellery and unclear in
dispute.” [43:18] that a woman adorning herself with jewellery is part of her nature and
disposition.
It has also been established in the Prophetic Sunnah that the Prophet said: ‘Gold and silk
are alāl (permissible) for women and Harām for men.’ [Musnad of Imām Amad b. @anbal,
vol.14, pp. 499500, adīth #19407, Dar al@adīth, Cairo edition] Saying that it is Harām is to
go against the ijmā’ (consensus of the scholars).
I have not read the book Adāb AlZifāf and if it has opinions like this in it, it shouldn’t be
bothered with.
1
Translated from Fatāwa Mu’āsira by Shaykh Wahba alZuaylī, pages 203204, Dār AlFikr, Damascus, 2003

ALBANI mendha’ifkan biji tahbih


 

= Menghitung Dzikir dengan Biji Tasbih =

Telah terjadi perselisihan ditengah masyarakat tentang berdzikir menggunakan biji tasbih ( sub-hah ).

Para Imam terdahulu yang membolehkan , bahkan mensunahkan antara lain :

Imam Ibnu Taimiyah , Imam As Suyuthi , Imam Asy Syaukani , Imam Ibnu Hajar Al Haitami , Imam Ibnu Abidin , Imam Al Hashfaki , Imam Al Munawi , Imam Abul ‘Ala Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim Al Mubarakfuri , Syaikh ‘Athiyah Shaqr , Syaikh Abdul Aziz bin Abdulah bin Baz , Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin , Syaikh Shalih Fauzan, Syaikh Ali Jum’ah , para ulama di Al Azhar , Pakistan, dan lain sebagainya , bahkan Imam As Suyuthi mengatakan tak ada yang mengingkari kebolehannya baik kaum salaf maupun khalaf.

.

 Mereka yang mengharamkan – bahkan sudah pada taraf mengkafiran , adalah : 

Syaikh Al Albani , Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr, Syaikh Bakr Abu Zaid

 Beliau telah menyusun kitab As Subhah Tarikhuha wa Hukmuha

Tetapi semua sepakat bahwa berdzikir dengan jari tangan adalah lebih afdhal , sebab itulah yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

.

Sebelum kami paparkan fatwa para ulama, ada baiknya kami sampaikan beberapa hadits tentang berdzikir menggunakan jari dan biji / kerikil.

Pertama 

Dari Yusairah seorang wanita Muhajirah, dia berkata :

قَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْكُنَّ بِالتَّسْبِيحِ وَالتَّهْلِيلِ وَالتَّقْدِيسِ وَاعْقِدْنَ بِالْأَنَامِلِ فَإِنَّهُنَّ مَسْئُولَاتٌ مُسْتَنْطَقَاتٌ وَلَا تَغْفُلْنَ فَتَنْسَيْنَ الرَّحْمَة

“ Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada kami :

“ Hendaknya kalian bertahlil , bertasbih , dan bertaqdis ( mensucikan ), dan himpunkanlah ( hitunglah ) dengan ujung jari jemari , karena itu semua akan ditanya dan diajak bicara , janganlah kalian lalai yang membuat kalian lupa dengan rahmat.”

( HR. At Tirmidzi No. 3583, Abu Daud No. 1501, Ahmad No. 27089, Ath Thabrani, Al Mu’jam Al Kabir No. 180, lihat juga Ad Du’a, No. 1662, Musnad Ishaq bin Rahawaih No. 2327, Alauddin Al Muttaqi Al Hindi, Kanzul ‘Ummal No. 2006 )

Al Hafizh Zainuddin Al ‘Iraqi mengatakan sanadnya Jayyid ( baik ) . ( Takhrij Ahadits Al Ihya No. 958 ). Imam An Nawawi menyatakan hasan. ( Al Adzkar No. 27. Darul Fikr, Lihat juga Al Khulashah Al Ahkam, 1/472 ). Al Hafizh Ibnu Hajar juga menghasankan dalam Nataij Al Afkar. ( Raudhatul Muhadditsin No. 4969).

Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: muhtamal lit tahsin (dimungkinkan hasan ). ( Ta’liq Musnad Ahmad No. 27089 ). Syaikh Abu Muhammad Syahatah juga mengatakan hasan/Al Musyarikat Hal. 16

Syaikh Al Albani juga menghasankan.

  Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 1501. Misykah Al Mashabih No 2316

 Kedua 

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiallahu ‘Anhu:

أَنَّهُ دَخَلَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى امْرَأَةٍ وَبَيْنَ يَدَيْهَا نَوًى أَوْ قَالَ حَصًى تُسَبِّحُ بِهِ فَقَالَ أَلَا أُخْبِرُكِ بِمَا هُوَ أَيْسَرُ عَلَيْكِ مِنْ هَذَا أَوْ أَفْضَلُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي السَّمَاءِ وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي الْأَرْضِ وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا بَيْنَ ذَلِكَ وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا هُوَ خَالِقٌ وَاللَّهُ أَكْبَرُ مِثْلَ ذَلِكَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ مِثْلَ ذَلِكَ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ مِثْلَ ذَلِكَ

“ Bahwa dia ( Sa’ad ) bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masuk menemui seorang wanita, dan dihadapan wanita itu terdapat biji-bijian atau kerikil. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “ Maukah kau aku beritahu dengan yang lebih mudah bagimu dari ini atau lebih utama..? …

 Lalu nabi menyebutkan macam-macam dzikir yang tertulis dalam teks di atas

    HR. Abu Daud No. 1500, At Tirmidzi No. 3568, katanya: hasan gharib. Ibnu Hibban No. 837, Al Hakim No. 2009, Al Bazzar No. 1201

Syaikh Al Albani mendhaifkannya dalam berbagai kitabnya 

  Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 1500 , Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 3568, Misykah Al Mashabih No. 2311 , Dhaif Al Jami’ Ash Shaghir No. 2155 , As Silsilah Adh Dhaifah No. 83 .

juga didhaifkan oleh Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr 

( Syarh Sunan Abi Daud, 8/228 )

Namun segenap imam muhadditsin dan para huffazh menyatakan maqbul / diterima-nya hadits ini

Imam An Nawawi mengikuti penghasanan Imam At Tirmidzi./ Al Adzkar , Hal. 17 No. 26. Darul Fikr

Hadits ini dimasukkan oleh Imam Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya.

Dishahihkan pula oleh Imam Al Hakim dan Imam Adz Dzahabi dalam At Talkhish-nya,

lalu oleh Imam As Suyuthi, dan Imam Asy Syaukani pun menyetujuinya.  Imam Asy Syaukani, Nailul Authar, 2/316. Maktabah Ad Da’wah Al Islamiyah

Al Hafizh Ibnu Hajar menghasankan dalam Nataij Al Afkar. Raudhatul Muhadditsin, No. 4966

Al Hafizh Al Mundziri juga menyetujui penghasanan Imam At Tirmidzi.  Tuhfah Al Ahwadzi, 9/322

.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak mengingkari yang dilakukan wanita itu ,

Beliau hanya memberikan cara yang lebih mudah atau lebih utama, dibanding apa yang dilakukannya dengan menghitung banyak biji atau kerikil.

Dan, yang jelas penghasanan atau penshahihan yang dilakukan oleh Imam At Tirmidzi , Imam Al Hakim , Imam Ibnu Hibban , Imam An Nawawi , Imam Ibnu Hajar , Imam As Suyuthi , dan Imam Asy Syaukani ,

Hadits diatas tidaklah serta merta gugur karena pendhaifan yang dilakukan oleh Syaikh Al Albani.

Ketiga. Dari Shafiyah binti Huyai Radhiallahu ‘Anha, dia berkata:

دخل علي رسول الله صلى الله عليه وسلم وبين يدي أربعة آلاف نواة أسبح بها فقال لقد سبحت بهذه ألا أعلمك بأكثر مما سبحت به فقلت بلى علمني فقال قولي سبحان الله عدد خلقه

“ Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masuk menemui saya , dan dihadapan saya ada 4000 biji yang saya gunakan untuk bertasbih. Beliau bersabda : “ Engkau bertasbih dengan ini, maukah kau aku ajarkan dengan sesuatu yang nilainya lebih banyak dari tasbihmu ini..?..” Aku menjawab : “ Tentu, ajarkanlah aku.” Beliau bersabda : “ Ucapkanlah, Subhanallah ‘Adada Khalqihi ( Maha Suci Allah Sebanyak jumlah makhlukNya ).” ( HR. At Tirmidzi No. 3554, Al Hakim No. 2008, Abu Ya’la No. 7118 )

Imam Al Hakim menshahihkannya, dan menurutnya hadits ini memiliki syahid ( penguat ) dari hadits orang-orang Mesir, yang yang lebih shahih dari ini. ( Al Mustadrak No. 2008 ),

Imam Adz Dzahabi menyepakatinya. Imam As Suyuthi juga menshahihkannya.  Imam Asy Syaukani, Nailul Authar, 2/316. Maktabah Ad Da’wah Al Islamiyah

Sedangkan Al Hafizh Ibnu Hajar menghasankan dalam Nataij Al Afkar. ( Raudhatul Muhadditsin No. 4967 ).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjadikan hadits ini sebagai dalil kebolehan menghitung tasbih dengan subhah. ( Lihat fatwanya nanti ).

Sedangkan Syaikh Al Albani menyatakan munkar.

Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmdizi No. 3554  

Syaikh Husein Salim Asad mendhaifkan dalam ta’liqnya terhadap Musnad Abi Ya’la. – No. 7118  

Hadits ini – seandainya shahih- merupakan dalil bolehnya bertasbih menggunakan biji bijian. Seandainya hal itu terlarang , pasti nabi mengingkarinya. Apa yang nabi lakukan hanyalah alternatif yang lebih mudah dibanding menghitung tasbih sebanyak 4000 kali.

Berikut ini fatwa para ulama –baik terdahulu atau modern- yang menyatakan kebolehan berdzikir dengan untaian biji tasbih.

1. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Al Hambali Rahimahullah

Beliau mengatakan bertasbih dengan biji, atau kerikil, atau yang semisalnya adalah perbuatan yang hasan (bagus/baik). Beliau berkata dalam Majmu’ Fatawa-nya:

وَعَدُّ التَّسْبِيحِ بِالْأَصَابِعِ سُنَّةٌ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلنِّسَاءِ : { سَبِّحْنَ وَاعْقِدْنَ بِالْأَصَابِعِ فَإِنَّهُنَّ مَسْئُولَاتٌ مُسْتَنْطَقَاتٌ } . وَأَمَّا عَدُّهُ بِالنَّوَى وَالْحَصَى وَنَحْوُ ذَلِكَ فَحَسَنٌ وَكَانَ مِنْ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ وَقَدْ رَأَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ تُسَبِّحُ بِالْحَصَى وَأَقَرَّهَا عَلَى ذَلِكَ وَرُوِيَ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ كَانَ يُسَبِّحُ بِهِ .

“ Menghitung tasbih dengan jari jemari adalah sunah, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada kaum wanita : “ Bertasbihlah dan menghitunglah dengan jari jemari, karena jari jemari itu akan ditanya dan diajak bicara.”

Adapun menghitung tasbih dengan biji-bijian dan batu-batu kecil ( semacam kerikil ) dan semisalnya, maka hal itu perbuatan baik ( hasan ). Dan, dahulu sebagian sahabat Radhiallahu ‘Anhumi ada yang memakainya, dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah melihat ummul mukminin bertasbih dengan batu-batu kecil, dan beliau mentaqrirkannya ( menyetujuinya ), dan diriwayatkan pula bahwa Abu Hurairah pernah bertasbih dengannya.” ( Majmu’ Fatawa, 5/225. Mawqi’ Al Islam )

Beliau Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga mengatakan :

وَالتَّسْبِيحُ بِالْمَسَابِحِ مِنْ النَّاسِ مَنْ كَرِهَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ رَخَّصَ فِيهِ لَكِنْ لَمْ يَقُلْ أَحَدٌ : أَنَّ التَّسْبِيحَ بِهِ أَفْضَلُ مِنْ التَّسْبِيحِ بِالْأَصَابِعِ وَغَيْرِهَا وَإِذَا كَانَ هَذَا مُسْتَحَبًّا يَظْهَرُ فَقَصْدُ إظْهَارِ ذَلِكَ وَالتَّمَيُّزُ بِهِ عَلَى النَّاسِ مَذْمُومٌ

“ Bertasbih dengan menggunakan alat tasbih , diantara manusia ada yang memakruhkannya, dan ada pula yang memberikan keringanan terhadapnya . Tetapi tidak ada satu pun yang mengatakan bahwa bertasbih dengannya itu lebih afdhal dibanding tasbih dengan jari jemari dan selainnya. Dan, jika hal ini dianjurkan untuk menampakkan dengan maksud pamer dan berbeda dengan manusia, maka ini tercela. ” ( Ibid, 5/134 )

2. Imam Asy Syaukani Rahimahullah

Beliau mengomentari ketiga hadits di atas dalam kitabnya, Nailul Authar, sebagai berikut:

…بأن الأنامل مسئولات مستنطقات يعني أنهن يشهدن بذلك فكان عقدهن بالتسبيح من هذه الحيثية أولى من السبحة والحصى . والحديثان الآخران يدلان على جواز عد التسبيح بالنوى والحصى وكذا بالسبحة لعدم الفارق لتقريره صلى اللَّه عليه وآله وسلم للمرأتين على ذلك . وعدم إنكاره والإرشاد إلى ما هو أفضل لا ينافي الجواز

“ … sesungguhnya ujung jari jemari akan ditanyakan dan diajak bicara , yakni mereka akan menjadi saksi hal itu . Maka, menghimpun ( menghitung ) tasbih dengan jari adalah lebih utama dibanding dengan untaian biji tasbih dan kerikil. Dua hadits yang lainnya, menunjukkan bolehnya menghitung tasbih dengan biji , kerikil , dan juga dengan untaian biji tasbih karena tidak ada bedanya , dan ini perbuatan yang ditaqrirkan ( didiamkan/disetujui ) oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terhadap dua wanita tersebut atas perbuatan itu. Dan, hal yang menunjukkan dan mengarahkan kepada hukum yang lebih utama tidak berarti menghilangkan hukum boleh.”  ( Imam Asy Syaukani, Nailul Authar, 2/316-317. Maktabah Ad Da’wah Al Islamiyah )

Imam Asy Syaukani dalam kitabnya ini banyak membeberkan riwayat para sahabat yang bertasbih menggunakan biji, krikil, atau subhah. Silahkan merujuk.

3. Imam Jalaluddin As Suyuthi Asy Syafi’i Rahimahullah

Disebutkan oleh Imam Asy Syaukani sebagai berikut:

وقد ساق السيوطي آثارًا في الجزء الذي سماه المنحة في السبحة وهو من جملة كتابه المجموع في الفتاوى وقال في آخره : ولم ينقل عن أحد من السلف ولا من الخلف المنع من جواز عد الذكر بالسبحة بل كان أكثرهم يعدونه بها ولا يرون في ذلك مكروهًا انتهى .

Imam As Suyuthi telah mengemukakan berbagai atsar dalam juz yang dia namakan Al Minhah fi As Subhah , yang merupakan bagian dari kumpulan fatwa-fatwa , dia berkata pada bagian akhirnya: “ Tidaklah ada nukilan seorang pun dari kalangan salaf dan tidak pula khalaf yang melarang kebolehan menghitung dzikir dengan subhah , bahkan justru kebanyakan mereka menghitung dengannya , dan mereka tidak memandangnya sebagai perbuatan yang dibenci. Selesai ”  ( Imam Asy Syaukani, Nailul Authar, Hal. 317. Maktabah Ad Da’wah Al Islamiyah )

4. Imam Ibnu Hajar Al Makki Al Haitami Asy Syafi’i Rahimahullah

Dalam kitab Al Fatawa Al Fiqhiyah Al Kubra tertulis demikian:

“وسئل” رضي الله عنه هل للسبحة أصل في السنة أو لا؟ “فأجاب” بقوله: نعم, وقد ألف في ذلك الحافظ السيوطي؛ فمن ذلك ما صح عن ابن عمر رضي الله عنهما رأيت النبي صلى الله عليه وسلم يعقد التسبيح بيده. وما صح عن صفية: رضي الله عنها دخل علي رسول الله صلى الله عليه وسلم وبين يدي أربعة آلاف نواة أسبح بهن, فقال: ما هذا يا بنت حيي. قلت: أسبح بهن, قال: قد سبحت منذ قمت على رأسك أكثر من هذا, قلت: علمني يا رسول الله قال: قولي سبحان الله عدد ما خلق من شيء. وأخرج ابن أبي شيبة وأبو داود والترمذي: “عليكن بالتسبيح والتهليل والتقديس ولا تغفلن فتنسين التوحيد, واعقدن بالأنامل فإنهن مسئولات ومستنطقات”. وجاء التسبيح بالحصى والنوى والخيط المعقود فيه عقد عن جماعة من الصحابة ومن بعدهم وأخرج الديلمي مرفوعا: نعم المذكر السبحة. وعن بعض العلماء: عقد التسبيح بالأنامل أفضل من السبحة لحديث ابن عمر. وفصل بعضهم فقال: إن أمن المسبح الغلط كان عقده بالأنامل أفضل وإلا فالسبحة أفضل .

“ Beliau ( Imam Ibnu Hajar Al Haitami ), semoga Allah meridhainya, ditanya : “ Apakah menggunakan sub-hah ada dasarnya dalam sunah atau tidak..?..”
Beliau menjawab : “ Ya, Al Hafizh As Suyuthi telah menyebutkan hal itu , di antaranya yang shahih dari Ibnu Umar ( yang benar adalah Ibnu Amr –pen ) Radhiallahu ‘Anhuma : “ Aku melihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertasbih menggunakan tangannya.” Juga riwayat shaihh dari Shafiyah ( binti Huyay ) Radhiallahu ‘Anha: “ Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masuk menemuinya, dan ditanganku ada 4000 biji yang aku gunakan untuk bertasbih. Beliau bertanya: “Apa ini wahai Binti Huyai..?..” Aku menjawab: “ Aku bertasbih dengannya.” Beliau bersabda : “ Aku telah bertasbih sejak aku bersandar di kepalamu lebih banyak dari ini.” Aku berkata : “ Ajarkanlah aku wahai Rasulullah.” Beliau bersabda : “ Katakanlah , Subhanallah ‘adada maa khalaqa min syai’ ( Maha Suci Allah sesuatu yang Dia ciptakan ).” Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah, Abu Daud, dan At Tirmidzi: “Hendaknya kalian bertasbih, tahlil, dan taqdis ( mensucikan ). Janganlah kalian lalai hingga kalian lupa dengan tauhid. Dan, himpunlah ( hitunglah ) dengan jari-jari karena mereka akan ditanya dan diajak bicara ( menjadi saksi ).”
Telah terdapat keterangan tentang bertasbih menggunakan kerikil, biji, dan benang yang diikat menjadi beberapa himpunan dari jamaah para sahabat dan manusia setelah mereka. Ad Dailami telah mengeluarkan secara marfu’: “ Ya, berdzikir dengan biji tasbih.” Dan, dari sebagian ulama: “ Menghitung tasbih dengan ujung jari adalah lebih afdhal dibanding biji tasbih  ( sub-hah ) karena hadits Ibnu Amr di atas. Sebagian mereka merinci: “ Jika dia merasa aman dari kekeliruan, maka menggunakan ujung jari adalah lebih utama, jika tidak, maka dengan biji tasbih lebih utama.” ( Imam Ibnu Hajar Al Makki Al Haitami, Al Fatawa Al Fiqhiyyah Al Kubra, 1/219. Cet. 1. 1417H-1997M. Darul kutub Al ‘Ilmiyah. Beirut – Libanon )

5. Imam Ibnu ‘Abidin Al Hanafi Rahimahullah

Beliau mengatakan dalam Hasyiah-nya:

( قَوْلُهُ لَا بَأْسَ بِاِتِّخَاذِ الْمِسْبَحَةِ ) بِكَسْرِ الْمِيمِ : آلَةُ التَّسْبِيحِ ، وَاَلَّذِي فِي الْبَحْرِ وَالْحِلْيَةِ وَالْخَزَائِنِ بِدُونِ مِيمٍ . قَالَ فِي الْمِصْبَاحِ : السُّبْحَةُ خَرَزَاتٌ مَنْظُومَةٌ ، وَهُوَ يُقْتَضَى كَوْنَهَا عَرَبِيَّةً . وَقَالَ الْأَزْهَرِيُّ : كَلِمَةٌ مُوَلَّدَةٌ ، وَجَمْعُهَا مِثْلُ غُرْفَةٍ وَغُرَفٍ . ا هـ . وَالْمَشْهُورُ شَرْعًا إطْلَاقُ السُّبْحَةِ بِالضَّمِّ عَلَى النَّافِلَةِ . قَالَ فِي الْمُغْرِبِ : لِأَنَّهُ يُسَبَّحُ فِيهَا . وَدَلِيلُ الْجَوَازِ مَا رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالتِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ وَابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ وَقَالَ صَحِيحَ الْإِسْنَادِ عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ { أَنَّهُ دَخَلَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى امْرَأَةٍ وَبَيْنَ يَدَيْهَا نَوًى أَوْ حَصًى تُسَبِّحُ بِهِ فَقَالَ : أُخْبِرُك بِمَا هُوَ أَيْسَرُ عَلَيْك مِنْ هَذَا أَوْ أَفْضَلُ ؟ فَقَالَ : سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي السَّمَاءِ ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي الْأَرْضِ ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا بَيْنَ ذَلِكَ ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا هُوَ خَالِقٌ ؛ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ مِثْلُ ذَلِكَ ، وَاَللَّهُ أَكْبَرُ مِثْلُ ذَلِكَ ، وَلَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ مِثْل ذَلِكَ ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا بِاَللَّهِ مِثْلُ ذَلِكَ } : فَلَمْ يَنْهَهَا عَنْ ذَلِكَ . وَإِنَّمَا أَرْشَدَهَا إلَى مَا هُوَ أَيْسَرُ وَأَفْضَلُ وَلَوْ كَانَ مَكْرُوهًا لَبَيَّنَ لَهَا ذَلِكَ ، وَلَا يَزِيدُ السُّبْحَةُ عَلَى مَضْمُونِ هَذَا الْحَدِيثِ إلَّا بِضَمِّ النَّوَى فِي خَيْطٍ ، وَمِثْلُ ذَلِكَ لَا يَظْهَرُ تَأْثِيرُهُ فِي الْمَنْعِ ، فَلَا جَرَمَ أَنْ نُقِلَ اتِّخَاذُهَا وَالْعَمَلُ بِهَا عَنْ جَمَاعَةٍ مِنْ الصُّوفِيَّةِ الْأَخْيَارِ وَغَيْرِهِمْ ؛ اللَّهُمَّ إلَّا إذَا تَرَتَّبَ عَلَيْهِ رِيَاءٌ وَسُمْعَةٌ فَلَا كَلَامَ لَنَا فِيهِ ، وَهَذَا الْحَدِيثُ أَيْضًا يَشْهَدُ لِأَفْضَلِيَّةِ هَذَا الذِّكْرِ الْمَخْصُوصِ عَلَى ذِكْرٍ مُجَرَّدٍ عَنْ هَذِهِ الصِّيغَةِ وَلَوْ تَكَرَّرَ يَسِيرًا كَذَا فِي الْحِلْيَةِ وَالْبَحْرِ

( Ucapannya : tidak mengapa menggunakan misbahah ) dengan huruf mim dikasrahkan adalah alat untuk bertasbih , ada pun yang tertulis dalam Al Bahr , Al Hilyah , dan Al Khazain adalah tanpa mim. Disebutkan dalam Al Mishbah : “ Subhah adalah manik-manik yang terangkai, kata ini menuntut bahwa ia adalah asli Arab. Al Azhari berkata : “ Itu kata yang muwalladah ( tidak asli Arab ), bentuk jamaknya seperti ghurfah dan ghuraf.

Yang masyhur secara syariat adalah penggunaaan subhah ini terdapat pada shalat sunah. Disebutkan dalam Al Maghrib: “ karena dia bertasbih padanya.”

Ada pun dalil kebolehannya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud , At Tirmidzi , An Nasa’I , Ibnu Hibban , dan Al Hakim , dia berkata : shahih sanadnya. Dari Sa’ad bin Abi Waqqash : ( Lalu disebutlah hadits sebagaimana tertulis dalam jawaban ini pada hadits kedua )

Lalu katanya : “ Nabi tidak melarangnya. Beliau hanyalah menunjukkan kepada cara yang lebih mudah dan utama, seandainya makruh tentu Beliau akan menjelaskan kepada wanita itu. Dari kandungan hadits ini, kita memahami bahwa subhah hanyalah kumpulan bijian yang dirangkai benang. Masalah seperti ini tidak tampak pengaruhnya pada pelarangan. Maka, bukan pula kesalahan jika mengikuti penggunaannya itu sebagaimana sekelompok kaum sufi yang baik dan selain mereka. Kecuali jika didalamnya tercampur muatan riya dan sum’ah, tetapi kami tidak membahas hal ini.

Hadits ini juga menjadi saksi lebih utamanya dzikir khusus dibanding dzikir mutlak yang bebas dari bentuk ungkapan ini, walau pengucapannya banyak berulang-ulang. Demikian dalam Al Hilyah dan Al Bahr. ( Imam Ibnu ‘Abidin, Raddul Muhtar, 5/54. Mawqi’ Al Islam )

6.  Imam Muhammad Abdurrauf Al Munawi Rahimahullah

Beliau menjelaskan dalam kitab Faidhul Qadir, ketika menerangkan hadits Yusairah:

وهذا أصل في ندب السبحة المعروفة وكان ذلك معروفا بين الصحابة فقد أخرج عبد الله بن أحمد أن أبا هريرة كان له خيط فيه ألفا عقدة فلا ينام حتى يسبح به وفي حديث رواه الديلمي نعم المذكر السبحة لكن نقل المؤلف عن بعض معاصري الجلال البلقيني أنه نقل عن بعضهم أن عقد التسبيح بالأنامل أفضل لظاهر هذا الحديث

“ Hadits ini merupakan dasar terhadap sunahnya subhah ( untaian biji tasbih ) yang sudah dikenal. Hal itu dikenal pada masa sahabat, Abdullah bin Ahmad telah meriwayatkan bahwa Abu Hurairah memiliki benang yang memiliki seribu himpunan, beliau tidaklah tidur sampai dia bertasbih dengannya.

==============================

Dalam riwayat Ad Dailami: “ Sebaik-baiknya dzikir adalah subhah.”

Tetapi mu’allif ( yakni Imam As Suyuthi ) mengutip dari sebagian ulama belakangan, Al Jalal Al Bulqini, dari sebagian mereka bahwa menghitung tasbih dengan jari jemari adalah lebih utama sesuai zhahir hadits.” ( Faidhul Qadir, 4/468. Cet. 1, 1415H-1994M. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah, Beirut – Libanon )

Catatan: riwayat Ad Dailami yang dikutip oleh Imam Al Munawi adalah maudhu’ ( palsu ). ( As Silsilah Adh Dha’ifah, 1/184, No. 83 )

===============================

7.   Imam Abu Thayyib Abdul ‘Azhim Syamsul Haq Abad Rahimahullah

Beliau berkata ketika mengomentari hadits Sa’ad bin Abi Waqash Radhiallahu ‘Anhu, sebagai berikut:

الْحَدِيثُ دَلِيلٌ عَلَى جَوَازِ عَدِّ التَّسْبِيحِ بِالنَّوَى وَالْحَصَى ، وَكَذَا بِالسُّبْحَةِ لِعَدَمِ الْفَارِقِ ، لِتَقْرِيرِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْمَرْأَةِ عَلَى ذَلِكَ وَعَدَمِ إِنْكَارِهِ ، وَالإْرْشَادُ إِلَى مَا هُوَ أَفْضَل مِنْهُ لاَ يُنَافِي الْجَوَازَ . قَال : وَقَدْ وَرَدَتْ فِي ذَلِكَ آثَارٌ ، وَلَمْ يُصِبْ مَنْ قَال إِنَّ ذَلِكَ بِدْعَةٌ

Hadits ini merupakan dalil bolehnya menghitung tasbih dengan biji-bijian dan kerikil, begitu juga dengan subhah karena tidak ada bedanya, hal ini karena setujunya Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terhadap wanita tersebut Beliau tidak mengingkarinya, dan petunjuk Beliau kepada sesuatu yang lebih utama tidaklah menghilangkan kebolehannya. Dia (Abu Thayyib) berkata : telah banyak atsar tentang hal itu, dan sama sekali tidak benar bagi yang mengatakan itu adalah bid’ah. (‘Aunul Ma’bud, 4/367, sebagaimana dikutip dalam Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 21/259 )

8.  Syaikh Abu Al ‘Ala Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim Al Mubarakfuri Rahimahullah

Beliau menerangkan dalam Tuhfah Al Ahwadzi, ketika menjelaskan hadits Ibnu Amr dan Yusairah binti Yasir, sebagai berikut :

وَفِي الْحَدِيثِ مَشْرُوعِيَّةُ عَقْدِ التَّسْبِيحِ بِالْأَنَامِلِ وَعَلَّلَ ذَلِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَدِيثِ يَسِيرَةَ الَّذِي أَشَارَ إِلَيْهِ التِّرْمِذِيُّ بِأَنَّ الْأَنَامِلَ مَسْئُولَاتٌ مُسْتَنْطَقَاتٌ يَعْنِي أَنَّهُنَّ يَشْهَدْنَ بِذَلِكَ ، فَكَانَ عَقْدُهُنَّ بِالتَّسْبِيحِ مِنْ هَذِهِ الْحَيْثِيَّةِ أَوْلَى مِنْ السُّبْحَةِ وَالْحَصَى ، وَيَدُلُّ عَلَى جَوَازِ عَدِّ التَّسْبِيحِ بِالنَّوَى وَالْحَصَى حَدِيثُ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ أَنَّهُ دَخَلَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى اِمْرَأَةٍ وَبَيْنَ يَدَيْهَا نَوًى أَوْ حَصًى تُسَبِّحُ بِهِ الْحَدِيثَ ، وَحَدِيثُ صَفِيَّةَ قَالَتْ دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَيْنَ يَدَيَّ أَرْبَعَةُ آلَافِ نَوَاةٍ أُسَبِّحُ بِهَا الْحَدِيثَ .

“ Hadits ini menunjukkan disyariatkannya bertasbih menggunakan ujung jari jemari , alasan hal ini adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits Yusairah yang diisyaratkan oleh At Tirmidzi menyebutkan bahwa ujung jari jemari akan ditanyakan dan diajak bicara , yakni mereka akan menjadi saksi hal itu . Dalam hal ini, menghitung tasbih dengan menggunakan ujung jari adalah lebih utama dibanding dengan subhah ( untaian biji tasbih ) dan kerikil. Dalil yang menunjukkan kebolehannya menghitung tasbih dengan kerikil dan biji-bijian adalah hadits Sa’ad bin Abi Waqqash, bahwa beliau bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masuk menemui seorang wanita yang dihadapannya terdapat bijian atau kerikil yang digunakannya untuk bertasbih ( Al Hadits ) . Dan juga hadits Shafiyah bin Huyai , dia berkata : “ Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masuk menemuiku dan dihadapanku ada 4000 biji-bijian yang aku gunakan untuk bertasbih. ( Al Hadits ).” ( Tuhfah Al Ahwadzi, 9/458. Cet. 2, 1383H-1963M. Al Maktabah As Salafiyah, Madinah. Tahqiq: Abdul Wahhab bin Abdul Lathif )

9.   Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Al Hambali Rahimahullah

Beliau ditanya tentang seseorang yang berdzikir setelah shalat menggunakan subhah, bid’ahkah? Beliau menjawab:

المسبحة لا ينبغي فعلها ، تركها أولى وأحوط ، والتسبيح بالأصابع أفضل ، لكن يجوز له لو سبح بشيء كالحصى أو المسبحة أو النوى ، وتركها ذلك في بيته ، حتى لا يقلده الناس فقد كان بعض السلف يعمله ، والأمر واسع لكن الأصابع أفضل في كل مكان ، والأفضل باليد اليمنى ، أما كونها في يده وفي المساجد فهذا لا ينبغي ، أقل الأحوال الكراهة .

“ Seharusnya tidak memakainya, meninggalkannya adalah lebih utama dan lebih hati-hati. Tetapi boleh baginya seandainya bertasbih menggunakan kerikil atau misbahah ( alat tasbih ) atau biji-bijian dan meninggalkan hal itu dirumahnya, sampai-sampai manusia menggantungkannya dan dahulu para salaf melakukannya. Masalah ini lapang, tetapi menggunakan jari adalah lebih utama pada setiap tempat, dan utamanya dengan tangan kanan. Ada pun memeganginya pada tangannya di masjid sebagusnya jangan dilakukan, minimal hal itu makruh.” ( Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Majmu’ Fatawa wa Maqallat, 29/318. Mawqi’ Ruh Al Islam )

10.   Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Al Hanafi Rahimahullah

Beliau ditanya oleh seorang dari Jeddah bernama Ahmad Shalih, dia terbiasa berdzikir menggunakan biji tasbih baik pagi atau sore, sedangkan jika dengan jari seringkali melakukan kesalahan hitung, bolehkah ini, bid’ah atau tidak?

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menjawab:

السبحة ليست بدعة لأن النبي صلى الله عليه وسلم مر على نساء وهن يسبحن بالحصى فقال عليه الصلاة والسلام اعقدن بالأنامل فإنهن مستنطقات فقد بينت السنة حكم التسبيح بغير الأصابع وأن الأولى التسبيح بالأصابع فالأولى أن يسبح الإنسان بالأصابع وإن كان لا يستطيع الإحصاء بالأصابع فلا حرج أن يسبح بحصى أو بمسبحة لكن بشرط أن يبتعد في ذلك عن الرياء بأن لا يسبح بذلك أمام الناس في غير وقت التسبيح فيعجب الناس به ويخشى عليه من الرياء في هذه الحال

“ As Sub-hah ( untaian biji tasbih ) bukanlah bid’ah , karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah melewati para wanita , dan mereka sedang bertasbih menggunakan batu-batu kecil ( semacam kerikil ). Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “ Hitunglah bilangannya dengan ujung-ujung jari , karena nanti itu akan diajak bicara ( pada hari kiamat ).” Saya telah menjelaskan tentang kesunnahan hukum bertasbih dengan selain jari jemari dan lebih utamanya bertasbih adalah dengan jari jemari . Lebih utama adalah dengan jari jemari , dan jika dia tidak bisa menghitung dengan jari jemari , maka tidak apa-apa bertasbih dengan kerikil atau misbahah ( untaian biji tasbih ), tetapi dengan syarat dia menjauhi riya’, tidak menggunakannya di depan manusia pada selain waktu bertasbih demi mencari decak kagum manusia. Dan, hendaknya dalam keadaan ini dia takut terhadap riya’.” ( Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Fatawa Nur ‘alad Darb, Bab Mutafariqah, No. 708. Mawqi’ Ruh Al Islam )

11.   Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Fauzan Al Hambali Rahimahullah

Dalam Al Mulakhash Al Fiqhi, beliau berkata :

ويباح استعمال السبحة ليعد بها الأذكار والتسبيحات، من غير اعتقاد أن فيها فضيلة خاصة، وكرهها بعض العلماء، وإن اعتقد أن لها فضيلة؛ فاتخاذها بدعة، وذلك مثل السبح التي يتخذها الصوفية، ويعلقونها في أعناقهم، أو يجعلونها كالأسورة في أيديهم، وهذا مع كونه بدعة؛ فإن فيه رياء وتكلفا.

“ Dibolehkan menggunakan untaian biji tasbih untuk menghitung dzikir dan tasbih, dengan tanpa meyakini adanya keutamaan khusus padanya. Sebagian ulama ada yang memakruhkan. Jika dibarengi keyakinan memiliki keutamaan, maka menggunakannya adalah bid’ah. Itulah bertasbihnya kaum sufi, mereka mengkalungkannya pada leher-leher mereka, atau menjadikannya gelang pada tangan-tangan mereka, ini semua bid’ah, di dalamnya terdapat riya’ dan memaksakan diri.” ( Syaikh Shalih Fauzan, Al Mulakhash Al Fiqhi, 1/159. Mawqi’ Ruh Al Islam )

12. / Syaikh ‘Athiyah Shaqr Rahimahullah

Beliau mengatakan, ketika ditanya bid’ahkah menghitung tasbih dengan sub-hah? Katanya:

أن الأمر بالعد بالأصابع ليس على سبيل الحصر بحيث يمنع العد بغيرها ، صحيح أن العد بالأصابع فيه اقتداء النبى صلى الله عليه وسلم لكنه هو نفسه لم يمنع العد بغيرها ، بل أقر ه ، وإقراره من أدلة المشروعية .

“ Sesungguhnya perintah menghitung tasbih dengan jari tidaklah membatasi yang lainnya,  yang membuat terlarang menghitung dengan selainnya . Benar bahwa menghitung dengan jari jemari merupakan upaya mengikuti Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam , tetapi hal itu sendiri tidaklah melarang menggunakan selainnya . Bahkan Beliau menyetujuinya,  dan persetujuannya itu merupakan dalil disyariatkannya.” ( Lalu Beliau memaparkan berbagai riwayat tentang berdzikir menggunakan biji dan kerikil, baik pada masa Rasulullah, sahabat, dan tabi’in )

Beliau melanjutkan;

وبناء على ما سبق ذكره يكون التسبيح بغير عقد الأصابع مشروعا، لكن أيهما أفضل ؟ يقول السيوطى : رأيت فى كتاب “تحفه العباد ” ومصنفه متأخر عاصر الجلال البلقينى فصلا حسنا فى السبحة قال فيه ما نصه : قال بعض العلماء : عقد التسبيح بالأنامل أفضل من السبحة لحديث ابن عمرو، لكن يقال : إن المسبح إن أمن الغلط كان عقده بالأنامل أميل وإلا فالسبحة أولى . والسنة أن يكون باليمين كما فعل الرسول صلى الله عليه وسلم وجاء ذلك فى رواية لأبى داود وغيره .

“ Penjelasan yang telah lalu menunjukkan bahwa bertasbih dengan selain jari jemari adalah masyru’ ( disyariatkan ), tetapi mana yang lebih utama..?. .Berkata Imam As Suyuthi: “Aku melihat dalam kitab Tuhfah Al ‘Ibad, yang disusun oleh ulama belakangan Al Jalal Al Bulqini, dengan penjelasan yang bagus tentang Sub-hah, dia berkata : “ Berkata sebagian ulama : “ Menghimpun tasbih dengan ujung jari jemari adalah lebih utama dibanding biji tasbih, lantaran hadits Ibnu Amr . Tetapi disebutkan: “ Jika merasa aman dari kesalahan menghitung tasbih dengan tangan , maka dengan tangan adalah lebih utama, jika tidak, maka dengan subhah adalah lebih utama. ” Sunnahnya menggunakan jari kanan , sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam , yang telah diriwayatkan oleh Abu Daud dan lainnya.” ( Fatawa Al Azhar, 9/11 )

Demikianlah para ulama yang dengan tegas menyatakan kebolehan bertasbih dengan subhah atau yang semisalnya . Nama-nama mereka sudah menjadi garansi hal ini . Namun mereka sepakat, bahwa menggunakan jari jemari adalah lebih utama dan lebih hati-hati . Bagi seorang muslim yang wara’, tentu dia akan menempuh jalan yang lebih utama dan hati-hati itu . Apalagi bagi yang mudah terserang penyakit riya dan sum’ah maka menghindarinya adalah lebih utama lagi.

Dari Abdullah bin Amr Radhiallahu ‘Anhuma, katanya:

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْقِدُ التَّسْبِيحَ قَالَ ابْنُ قُدَامَةَ بِيَمِينِهِ

“ Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menghimpun tasbih.” Ibnu Qudamah mengatakan: “Dengan jari tangan kanannya.” ( HR. Abu Daud No. 1502 )

Imam An Nawawi mengatakan hasan. ( Al Adzkar, Hal. 18, No. 28 ) Syaikh Al Albani mengatakan shahih. ( Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 1502 )

FIHAK YANG MENOLAK DAN MEM BID AHKANNYA

1. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani Rahimahullah

Beliau menjelaskan tentang hadits di atas:

فهذا هو السنة في عد الذكر المشروع عده ، إنما هو باليد ، و باليمنى فقط ، فالعد باليسرى أو باليدين معا ، أو بالحصى كل ذلك خلاف السنة ، و لم يصح في العد بالحصى فضلا عن السبحة شيء

“ Inilah sunah dalam hal menghitung dzikir yang disyariatkan, yaitu hanyalah dengan tangan, bagian kanan saja . Sedangkan menghitung dengan kiri atau dua tangan bersamaan, atau dengan batu-batu kecil, maka semua itu bertentangan dengan sunah . Tidak ada yang shahih satu pun tentang menghitung dzikir dengan batu-batu kecil yang tersusun seperti biji tasbih.” ( As Silsilah Adh Dhaifah 3/47, No. 1002 )

Demikianlah menurut Syaikh Al Albani,

sementara imam lainnya – Imam At Tirmidzi, Imam Al Hakim, Imam Ibnu Hibban, Imam As Suyuthi, Imam Asy Syaukani, Imam Al ‘Iraqi, Imam Ibnu Hajar, Imam An Nawawi- mengatakan bahwa hadits-hadits tentang menghitung dzikir dengan kerikil atau biji-bijian adalah antara shahih dan hasan. Bahkan Imam Ibnu Taimiyah berhujjah dengan hadits Shafiyah.

2. Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr Hafizhahullah

Beliau mengomentari kisah Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu yang sedang mengingkari halaqah dzikir yang menghitung dzikir menggunakan batu-batu kecil:

ولا يكون ذلك بالعد بالحصى، ولا بغير الحصى، وإنما الإنسان يعد ما ورد عده، مثل التسبيح بعد الصلاة ثلاثاً وثلاثين، والتحميد ثلاثاً وثلاثين، والتكبير ثلاثاً وثلاثين، ويقول عند تمام المائة: لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك وله الحمد، وهو على كل شيء قدير، فهذا شيء جاءت به السنة، والإنسان يعد بأصابعه، ولكن كون الإنسان يسبح بحصى هذا شيء لم يأت به السنة عن رسول الله عليه الصلاة والسلام، ولهذا قال أبو عبد الرحمن ما قال، ونبه إلى أن الصحابة هم القدوة وهم الأسوة وهم السابقون إلى كل خير، ولو كان خيراً لسبقوا إليه.

“ Tidaklah perhitungan dzikir itu menggunakan batu-batu kecil , tidak pula yang lain . Sesungguhnya manusia menghitungnya sebagaimana hitungan yang telah warid ( datang ) riwayatnya , seperti tasbih setelah shalat 33 kali , tahmid 33 kali , takbir 33 kali , lalu melengkapinya hingga seratus dengan membaca : Laa Ilaha Illallahu wahdahu laa syarika lahu , lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qadir. Inilah dzikir yang ada pada sunah, dan manusia menghitungnya dengan jari jemarinya, tetapi perilaku menusia yang menghitungnya dengan batu-batu kecil, maka itu tidak ada dasarnya dari sunah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam . Oleh karena itu berkatalah Abu Abdurrahman ( Ibnu Mas’ud ) sebagaimana yang telah dikatakannya. Seraya mengabarkan mereka bahwa sahabat nabi adalah teladan dan contoh , mereka adalah orang yang awal dalam setiap kebaikan , seandainya hal ini baik niscaya mereka sudah mendahuluinya.” ( Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr, Syarh Sunan Abi Daud, 8/228 )

Beliau juga menjelaskan di halaman lain, ketika mengomentari hadits dari Sa’ad bin Abi Waqqash:

والحديث ضعيف غير ثابت؛ لأن في إسناده مجهولاً لا يعرف وهو خزيمة المذكور في الإسناد، فالحديث غير صحيح، وعلى هذا فلا يجوز العد والتسبيح بالحصى ولا بالنوى، وكذلك ليس للإنسان التسبيح بالمسبحة، فأقل أحواله أن يكون خلاف الأولى، وبعض أهل العلم يقول: إنه بدعة، فالذي ينبغي أن يبتعد الإنسان عنه ولا يفعله، وإنما يسبح بالأصابع؛ لأنه كما جاء في الحديث: (فإنهن مسئولات مستنطقات) كما سيأتي، والنبي صلى الله عليه وسلم كان يسبح بأصابعه، يعني: بأنامل يمينه كما سيأتي.

“ Dan hadits ini dhaif , tidak kuat . Karena dalam sanadnya terdapat rawi yang majhul , tidak dikenal , yakni bernama …Khuzaimah… yang tertera dalam sanadnya . Maka , hadits ini tidak shahih. Oleh karena itu tidak boleh manusia bertasbih dengan batu-batu kecil , bijji-bijian , demikian juga dengan subhah, minimal keadaan ini bertentangan dengan perbuatan yang pertama ( yakni dengan jari jemari ). Sebagian ulama mengatakan: itu adalah bid’ah . Maka hendaknya manusia dijauhkan darinya dan tidak melakukannya . Sesungguhnya bertasbih itu hanyalah dengan jari jemari , sebagaimana hadits: (Sesungguhnya jari jemari akan ditanya dan diajak bicara), sebagaimana penjelasan yang akan datang . Dan, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertasbih dengan jari-jemarinya , yaitu ujung jari bagian tangan kanan sebagaimana penjelasan selanjutnya.” ( Ibid, 8/228 )

Saya sudah sebutkan di atas ( lihat keterangan hadits kedua ), bahwa hadits yang didhaifkan Syaikh Abdul Muhsin ini, adalah hadits yang dihasankan oleh Imam At Tirmidzi , Imam An Nawawi , dan Imam Ibnu Hajar , serta dishahihkan oleh Imam Ibnu Hibban , Imam Al Hakim , Imam As Suyuthi , dan disetujui oleh Imam Asy Syaukani.

Demikianlah masalah ini . Kami – walaupun cenderung mengikuti pendapat yang membolehkannya sebab dia hanyalah alat bantu hitung saja , bukan dzikir itu sendiri- tetap berharap agar kita tidak bersikap intoleran dan kasar terhadap saudara – saudara kita yang tidak sepaham . Sudah seharusnya seorang muslim bertoleransi dalam masalah furu’ ( cabang ) yang dijadikan ajang berdebatan para imam kaum muslimin , khususnya pada masa belakangan.

.

Hadits Mutiara Leher Babi

As-Sunnah atau Hadits merupakan dasar hukum Islam yang kedua yang berfungsi sebagai penguat dan penjelas dari isi kandungan dari ayat-ayat al-Qur’an. Adapun dasar manusia untuk melakukan belajar adalah hadits Nabi SAW.sebagai berikut :

….. حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارُ بْنُ حَفْصٍ بْنِ سُلَيْمَانَ حَدَّثَنَا كَثِيْرُ بْنُ شِنْظِيْرٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيْرِيْنِ عَنْ اَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَلَبُ العِلْمِ فَرِيْضَةٌٌ علَىَ كُلِّ مُسْلِمٍ وَوَاضِعُ العِلْمِ عِنْدَ غَيْرِ أَهْلِهِ كَمَثَلِ الخَنَازِيْرِ الجَوْهَرِ وَالُّؤْلُؤَ وَالذَّهَبَ …..

Artinya: “ Hisyam bin Ammar telah menceritakan kepada saya, Hafsh bin Sulaiman telah menceritakan kepada saya, Katsir bin Sindhir telah menceritakan kepada saya, dari Muhammad bin Sirin dari Anas bin Malik. Dia berkata: Rasulullah saw.bersabda:

 menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim,

dan orang yang memberikan ilmu kepada orang yang bukan ahlinya seperti orang yang mengalungkan permata mutiara dan emas pada leher babi

Mengalungkan Permata Mutiara dan Emas pada Leher Babi


.

 As- Sunnah atau Hadits merupakan dasar hukum Islam yang kedua yang berfungsi sebagai penguat dan penjelas dari isi kandungan dari ayat-ayat al-Qur’an.

Adapun dasar manusia untuk melakukan belajar adalah hadits Nabi SAW.sebagai berikut:

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارُ بْنُ حَفْصٍ بْنِ سُلَيْمَانَ حَدَّثَنَا كَثِيْرُ بْنُ شِنْظِيْرٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيْرِيْنِ عَنْ اَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَلَبُ العِلْمِ فَرِيْضَةٌٌ علَىَ كُلِّ مُسْلِمٍ وَوَاضِعُ العِلْمِ عِنْدَ غَيْرِ أَهْلِهِ كَمَثَلِ الخَنَازِيْرِ الجَوْهَرِ وَالُّؤْلُؤَ وَالذَّهَبَ

Artinya:

Hisyam bin Ammar telah menceritakan kepada saya, Hafsh bin Sulaiman telah menceritakan kepada saya, Katsir bin Sindhir telah menceritakan kepada saya, dari Muhammad bin Sirin dari Anas bin Malik. Dia berkata:

Rasulullah saw.bersabda:

“ menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim, dan orang yang memberikan ilmu kepada orang yang bukan ahlinya seperti orang yang mengalungkan permata mutiara dan emas pada leher babi.”

 

 

 

Sayyidul Istighfar


Afdhalul Istighfar ”

 

Dalam kitab al-Jami’ ash-Shahih, Imam al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan sebuah hadits dari Syaddad ibn Aus radhiyallahu ‘anhu tentang Sayyidul istighfar, pemimpinnya istighfar. Imam al-Bukhari memasukkan hadits ini ke dalam bab “Afdhalul Istighfar”, istighfar yang paling utama. Bab “Afdhalul Istighfar” hanya berisi satu hadits, yaitu hadits dari Syaddad ibn Aus radhiyallahu ‘anhu ini.

Berikut redaksi sayyidul istighfar dalam kitab shahih al-Bukhari tersebut:

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لاَ إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي  وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ 

وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ.

وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِيفَاغْفِرْ لِي  فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ

‘ALLAHUMMA ANTA RABBI LAA ILAAHA ILLA ANTA KHALAQTANI , WA ANA ‘ABDUKA WA ANA ‘ALA ‘AHDIKA , WA WA’DIKA MASTATHA’TU,  A’UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA SHANA’TU , ABUU`U LAKA BINI’MATIKA ‘ALAYYA ,  WA ABUU`U  BIDZANBI FAGHFIRLI FA INNAHU LAA YAGHFIRU ADZ DZUNUUBA ILLA ANTA

“Ya Allah, Engkau adalah Rabb-ku, tiada ilah selain Engkau, Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu, dan aku selalu berusaha menepati ikrar dan janjiku kepada-Mu dengan segenap kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku. Aku mengakui betapa besar nikmat-nikmat-Mu yang tercurah kepadaku, dan aku sadar betapa banyak dosa yang telah aku lakukan, maka ampunilah aku, tidak ada yang bisa mengampuni dosa selain Engkau.”

.

[ HR. al-Bukhari, no. 6306. Dikeluarkan juga oleh beliau pada hadits no. 6323 dengan sedikit perbedaan susunan redaksi. Diriwayatkan juga oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa-i, Ibn Majah dan Ahmad dengan redaksi masing-masing ]

.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menjelaskan bahwa siapa saja yang membacanya di siang hari dan meyakini ucapannya tersebut, kemudian ia meninggal dunia sebelum sore, maka ia termasuk penghuni surga. Dan siapa saja yang membacanya di malam hari dan meyakini ucapannya tersebut, kemudian ia meninggal dunia sebelum subuh, maka ia termasuk penghuni surga.

Sungguh, maha benar Allah dan Rasul-Nya. Semoga kita termasuk orang yang membiasakan membaca sayyidul istighfar ini di siang dan malam hari, sembari memahami dan meyakini apa yang kita ucapkan tersebut.

*****

 حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُرَيْدَةَ قَالَ حَدَّثَنِي بُشَيْرُ بْنُ كَعْبٍ الْعَدَوِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي شَدَّادُ بْنُ أَوْسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ  = اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ قَالَ وَمَنْ قَالَهَا مِنْ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِيَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَمَنْ قَالَهَا مِنْ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوقِنٌ بِهَا فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

Telah menceritakan kepada kami Abu Ma’mar telah menceritakan kepada kami Abdul Warits telah menceritakan kepada kami Al Husain telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Buraidah dia berkata; telah menceritakan kepadaku Busyair bin Ka’b Al ‘Adawi dia berkata; telah menceritakan kepadaku Syaddad bin Aus radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; Sesungguhnya istighfar yang paling baik adalah; kamu mengucapkan:

ALLAHUMMA ANTA RABBI LAA ILAAHA ILLA ANTA KHALAQTANI WA ANA ‘ABDUKA WA ANA ‘ALA ‘AHDIKA WA WA’DIKA MASTATHA’TU A’UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA SHANA’TU ABUU`U LAKA BIDZANBI WA ABUU`U LAKA BINI’MATIKA ‘ALAYYA FAGHFIRLI FA INNAHU LAA YAGHFIRU ADZ DZUNUUBA ILLA ANTA

 Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi selain Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menetapi perjanjian-Mu dan janji-Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui dosaku kepada-Mu dan aku akui nikmat-Mu kepadaku, maka ampunilah aku. Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain-Mu

.

Beliau bersabda: ‘Jika ia mengucapkan di waktu siang dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum waktu sore, maka ia termasuk dari penghuni surga. Dan jika ia membacanya di waktu malam dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum masuk waktu pagi, maka ia termasuk dari penghuni surga.’


.

 حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin Abdurrahman dia berkata; Abu Hurairah berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Demi Allah, sesungguhnya aku beristighfar (meminta ampunan) dan bertaubat kepada Allah dalam satu hari lebih dari tujuh puluh kali.

Imam al-Bukhari rahimahullah

ooo===ooo

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَأَبُو الرَّبِيعِ الْعَتَكِيُّ جَمِيعًا عَنْ حَمَّادٍ قَالَ يَحْيَى أَخْبَرَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ الْأَغَرِّ الْمُزَنِيِّ وَكَانَتْ لَهُ صُحْبَةٌ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِي وَإِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ

 Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya dan Qutaibah bin Sa’id dan Abu Ar Rabi’ Al ‘Ataki semuanya dari Hammad, Yahya berkata; telah mengabarkan kepada kami Hammad bin Zaid dari Tsabit dari Abu Burdah dari Al Aghar Al Muzanni, -salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, – Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Sesungguhnya hatiku tidak pernah lalai dari dzikir kepada Allah, susungguhnya Aku beristighfar seratus kali dalam sehari.”

Imam Muslim rahimahullah