Kisah Ratu Khadijah “Seorang Muslimah Pertama Yang Mati Syahid Di Bali”


raden ayu made rai siti khadijah (siti khadijah)

http://arroudloh.wordpress.com/2010/06/30/kisah-ratu-khadijah-seorang-muslimah-pertama-yang-mati-syahid-di-bali/

Februari 10, 2012Tinggalkan sebuah Komentar

Taru rambut ini tumbuh tepat di pusara atau makam kramat Raden Ayu Pemecutan alias Gusti Ayu Made Rai berada di tengah setra Badung, tepatnya di jalan Gunung Batukaru sekarang. Di bawah sebuah pohon kepuh yang besar, ada sebuah kuburan yang khusus untuk salah seorang keluarga Puri Pemecutan yang bernama Gusti Ayu Made Rai atau Raden Ayu Pemecutan. Bagaimana bisa terjadi adanya taru rambut pada sebuah makam kramat tersebut? Kisah ceritanya adalah sebagai berikut : Tersebutlah seorang raja di Puri Pemecutan yang bergelar I Gusti Ngurah Gede Pemecutan. Salah seorang putri beliau bernama Gusti Ayu Made Rai. Sang putri ketika menginjak dewasa ditimpa penyakit keras dan menahun yakni sakit kuning. Berbagai upaya sudah dilakukan untuk menyembuhkan penyakit tersebut, namun tidak kunjung sembuh pula. Sang raja ketika itu mengheningkan bayu sabda dan idep, memohon kehadapan Hyang Kuasa, di merajan puri. Dari sana beliau mendapatkan pewisik bahwa Sang Raja hendaknya mengadakan sabda pandita ratu atau sayembara.

Sang raja kemudian mengeluarkan sabda “barang siapa yang bisa menyembuhkan penyakit anak saya, kalau perempuan akan diangkat menjadi anak angkat raja. Kalau laki-laki, kalau memang jodohnya akan dinikahkan dengan putri raja”. Sabda Pandita Ratu tersebut kemudian menyebar ke seluruh jagat dan sampai ke daerah Jawa, yang didengar oleh seorang syeh (guru sepiritual ) dari Yogyakarta. Syeh ini mempunyai seorang murid kesayangan yang bernama Pangeran Cakraningrat IV dari Bangkalan Madura. Pangeran kemudian dipanggil oleh gurunya, agar mengikuti sayembara tersebut ke puri Pemecutan Bali. Maka berangkatlah Pangeran Cakraningrat ke Bali diiringi oleh empat puluh orang pengikutnya.

Singkat ceritanya, Pangeran Cakraningrat mengikuti sayembara. Dalam sayembara ini banyak Panggeran atau Putra Raja yang ambil bagian dalam sayembara penyembuhan penyakit Raden Ayu. Putra-putra raja tersebut ada dari tanah jawa seperti Metaum Pura, Gegelang, ada dari Tanah Raja Banten dan tidak ketinggalan Putra-putra Raja dari Tanah Bali. Semua mengadu kewisesan atau kesaktiannya masing-masing dalam mengobati penyakit Raden Ayu. Segala kesaktian dalam pengobatan sudah dikerahkan seperti ilmu penangkal cetik, desti, ilmu teluh tranjana, ilmu santet, ilmu guna-guna, ilmu bebai, ilmu sihir, jadi semua sudah dikeluarkan oleh para Pangeran atau Putra Raja, tidak mempan mengobati penyakit dan malah penyakit Raden Ayu semakin parah, sehingga raja Pemecutan betul-betul sedih dan panik bagaimana cara mengobati penyakit yang diderita putrinya. Dalam situasi yang sangat mecekam, tiba-tiba muncul seorang pemuda tampan yang tidak lain adalah Pangeran Cakraningrat.

Setelah Pangeran melakukan sembah sujud kehadapan Raja Pemecutan dan mohon diijinkan ikut sayembara. Raja Pemecutan sangat senang dan gembira menerima kedatangan Pangeran Cakraningrat dan mengijinkan mengikuti sayembara. Sang Pangeran minta supaya Raden Ayu ditempatkan di sebuah balai pesamuan Agung atau tempat paruman para Pembesar Kerajaan. Pangeran Cakraningrat mulai melakukan pengobatan dengan merapal mantra-mantra suci, telapak tangannya memancarkan cahaya putih kemudian berbentuk bulatan cahaya yang diarahkan langsung ke tubuh Raden Ayu. Sakit tuan putri dapat disembuhkan secara total oleh Pangeran Cakraningrat.

Sesuai dengan janji sang raja, maka Gusti Ayu Made Rai dinikahkan dengan Pangeran Cakraningrat, ikut ke Bangkalan Madura. Gusti Made Rai pun kemudian mengikuti kepercayaan Sang Pangeran, berganti nama menjadi Raden Ayu Pemecutan alias Raden Ayu Siti Khotijah.

Setelah sekian lama di Madura, Raden Ayu merindukan kampung halamannya di Pemecutan. Suatu hari ketika ada suatu upacara Meligia atau Nyekah yaitu upacara Atma Wedana yang dilanjutkan dengan Ngelingihan (Menyetanakan) Betara Hyang di Pemerajan (tempat suci keluarga) Puri Pemecutan, Raden Ayu Pemecutan berkunjung ke Puri tempat kelahirannya. Pada suatu hari saat sandikala (menjelang petang) di Puri, Raden Ayu Pemecutan alias Raden Ayu Siti Kotijah menjalankan persembahyangan di Merajan Puri dengan menggunakan Mukena (Krudung). Ketika itu salah seorang Patih di Puri melihat hal tersebut, disangka Raden Ayu sedang mempraktekkan ilmu hitam atau ngeleak. Hal tersebut dianggap aneh dan dikatakan sebagai penganut aliran ilmu hitam.

Patih Kerajaan melaporkan kejadian tersebut kepada Sang Raja. Dan mendengar laporan Ki Patih tersebut, Sang Raja menjadi murka. Ki Patih diperintahkan kemudian untuk membunuh Raden Ayu Siti Khotijah. Raden Ayu Siti Khotijah dibawa ke kuburan Badung. Sesampai di depan Pura Kepuh Kembar, Raden Ayu berkata kepada patih dan pengiringnya “aku sudah punya firasat sebelumnya mengenai hal ini. Karena ini adalah perintah raja, maka laksanakanlah. Dan perlu kau ketahui bahwa aku ketika itu sedang sholat atau sembahyang menurut kepercayaan Islam, tidak ada maksud jahat apalagi ngeleak.” Demikian kata Raden Ayu.

Raden Ayu berpesan kepada Sang patih “jangan aku dibunuh dengan menggunakan senjata tajam. Bunuhlah aku dengan menggunakan tusuk konde yang diikat dengan daun sirih (lekesan, Bali). Tusukkan ke dadaku. Apabila aku sudah mati, maka dari badanku akan keluar asap. Apabila asap tersebut berbau busuk, maka tanamlah aku. Tetapi apabila mengeluarkan bau yang harum, maka buatkanlah aku tempat suci yang disebut kramat”.

Setelah meninggalnya Raden Ayu, bahwa memang betul dari badanya keluar asap dan ternyata bau yang keluar sangatlah harum. Perasaan dari para patih dan pengiringnya menjadi tak menentu, ada yang menangis. Sang raja menjadi sangat menyesal dengan keputusan beliau. Jenasah Raden Ayu dimakamkan di tempat tersebut serta dibuatkan tempat suci yang disebut kramat, sesuai dengan permintaan beliau menjelang dibunuh. Untuk merawat makam kramat tersebut, ditunjuklah Gede Sedahan Gelogor yang saat itu menjadi kepala urusan istana di Puri Pemecutan.

Pada suatu hari gegumuk (kuburan) Raden Ayu tumbuh sebuah pohon tepat di tengah-tengah kuburan tersebut. Pohon tersebut membuat kuburan engkag atau berbelah. Pohon tersebut dicabut oleh Sedahan Moning, istri dari sedahan Gelogor, dan kemudian tumbuh lagi. Sampai akhirnya yang ketiga kalinya, pohon tersebut tumbuh kembali. Jero sedahan Gelogor bersama Sedahan Moning kemudian bersemedi di hadapan makam tersebut, didapatkan petunjuk agar pohon yang tumbuh di atas kuburan beliau agar dipelihara. Karena melalui pohon tersebut beliau akan memberikan mukjijat kepada umat yang bersembahyang di tempat tersebut. Pohon tersebut konon tumbuh dari rambut Raden Ayu. Sampai sekarang pohon tersebut tumbuh tepat di atas makam tersebut. Pohon itu disebut taru rambut.

Mengenai aci atau upacara yang dipersembahkan dimakam kramat tersebut, bahwa odalannya (pujawali) jatuh pada Redite (Minggu) Wuku Pujut, sebagai peringatan hari kelahiran beliau (otonan). Persembahan (sesaji) yang dihaturkan adalah mengikuti cara kejawen yakni tumpeng putih kuning, jajan, buah-buahan, lauk pauk, tanpa daging babi. Kini makam kramat tersebut banyak dikunjungi oleh para peziarah baik warga muslim untuk nyekar maupun tirakat. Demikian pula dengan warga Hindu banyak yang datang kesana, baik hanya untuk bersembahyang, maupun untuk permohonan tertertentu.

Sumber Catatan Majelis Rasulullah Saw Jatiwaringin

Iklan

AQIDAH – Pengertian Secara Bahasa (Etimologi)


.

Definisi Aqidah

.

Pengertian Aqidah Secara Bahasa (Etimologi) :

.

Kata ” ‘aqidah “ diambil dari kata dasar “al-‘aqdu” yaitu ar-rabth(ikatan), al-Ibraam (pengesahan), al-ihkam(penguatan), at-tawatstsuq(menjadi kokoh, kuat), asy-syaddu biquwwah(pengikatan dengan kuat),at-tamaasuk(pengokohan) dan al-itsbaatu(penetapan). Di antaranya juga mempunyai arti al-yaqiin(keyakinan) dan al-jazmu(penetapan).

“Al-‘Aqdu” (ikatan) lawan kata dari al-hallu(penguraian, pelepasan). Dan kata tersebut diambil dari kata kerja: ” ‘Aqadahu” “Ya’qiduhu” (mengikatnya), ” ‘Aqdan” (ikatan sumpah), dan ” ‘Uqdatun Nikah” (ikatan menikah). Allah Ta’ala berfirman,

“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja …”

 (Al-Maa-idah : 89).

Aqidah artinya ketetapan yang tidak ada keraguan pada orang yang mengambil keputusan. Sedang pengertian aqidah dalam agama maksudnya adalah berkaitan dengan keyakinan bukan perbuatan. Seperti aqidah dengan adanya Allah dan diutusnya pada Rasul. Bentuk jamak dari aqidah adalah aqa-id. (Lihat kamus bahasa: Lisaanul ‘Arab, al-Qaamuusul Muhiith dan al-Mu’jamul Wasiith: (bab: ‘Aqada).

Jadi kesimpulannya, apa yang telah menjadi ketetapan hati seorang secara pasti adalah aqidah; baik itu benar ataupun salah.

Pengertian Aqidah Secara Istilah (Terminologi)

Yaitu perkara yang wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa menjadi tenteram karenanya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang teguh dan kokoh, yang tidka tercampuri oleh keraguan dan kebimbangan.

Dengan kata lain, keimanan yang pasti tidak terkandung suatu keraguan apapun pada orang yang  menyakininya. Dan harus sesuai dengan kenyataannya; yang tidak menerima keraguan atau prasangka. Jika hal tersebut tidak sampai pada singkat keyakinan yang kokoh, maka tidak dinamakan aqidah. Dinamakan aqidah, karena orang itu mengikat hatinya diatas hal tersebut.
Aqidah Islamiyyah:

Maknanya adalah keimanan yang pasti teguh dengan Rububiyyah Allah Ta’ala, Uluhiyyah-Nya, para Rasul-Nya, hari Kiamat, takdir baik maupun buruk, semua yang terdapat dalam masalah yang ghaib, pokok-pokok agama dan apa yang sudah disepakati oleh Salafush Shalih dengan ketundukkan yang bulat kepada Allah Ta’ala baik dalam perintah-Nya, hukum-Nya maupun ketaatan kepada-Nya serta meneladani Rasulullah SAW.
Aqidah Islamiyyah:

Jika disebutkan secara mutlak, maka yang dimaksud adalah aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, karena itulah pemahaman Islam yang telah diridhai oleh Allah sebagai agama bagi hamba-Nya. Aqidah Islamiyyh adalah aqidah tiga generasi pertama yang dimuliakan yaitu generasi sahabat, Tabi’in dan orang yang mengikuti mereka dengan baik.
Nama lain Aqidah Islamiyyah:

Menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sinonimnya aqidah Islamiyyah mempunyai nama lain, di antaranya, at-Tauhid, as-Sunnah, Ushuluddiin, al-Fiqbul Akbar, Asy-Syari’iah dan al-Iman.

Nama-nama itulah yang terkenal menurut Ahli Sunnah dalam ilmu ‘aqidah.

Sumber: Diadaptasi dari Abdullah bin Abdul Hamid Al-Atsari, Al-Wajiiz fii Aqiidatis Salafis Shaalih (Ahlis Sunnah wal Jama’ah), atau Intisari Aqidah Ahlus Sunah wal Jama’ah), terj. Farid bin Muhammad Bathathy(Pustaka Imam Syafi’i, cet.I), hlm. 33-35.

.

BEBERAPA ISTILAH LAIN TENTANG AQIDAH

1. Iman

Ada yang menyamakan istilah iman dengan aqidah, dan ada yang membedakannya. Bagi yang membedakan, aqidah hanyalah bagian dalam (aspek hati) dari iman, sebab iman menyangkut aspek dalam dan aspek luar. Aspek dalamnya berupa keyakinan dan aspek luar berupa pengakuan lisan dan pembuktian dengan amal.

Sedangkan kalau kita mengikuti definisi iman menurut jahmiyah dan Asy’ariyah yang mengatakan bahwa iman hanyalah at-tashdiq (membenarkan dalam hati) maka iman dan aqidah adalah dua istilah yang bersinonim. Senada dengan ini, adalah pendapat Abu Hanifah yang mengatakan bahwa iman hanyalah I’tiqad, sedangkan amal adalah bukti iman, tetapi tidak dinamai iman.

Sebaliknya jika kita mengikuti definisi iman menurut ulama salaf (imam Malik, Ahmad, Syafi’I) yang mengatakan bahwa iman adalah : ” sesuatu yang diyakini di dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan anggota tubuh maka iman dan aqidah tentu tidak persis sama.

2. Tauhid

Tauhid artinya mengesakan (mengesakan Allah-Tauhidullah). Ajaran tauhid adalah tema sentral aqidah dan iman, oleh sebab itu aqidah dan iman diidentikan juga dengan istilah tauhid.

3.Ushuluddin

Ushuluddin artinya pokok-pokok agama. Aqidah, iman dan tauhid disebut juga ushuluddin karena ajaran aqidah merupakan pokok-pokok ajaran agama Islam.

4. Ilmu kalam

Kalam artinya berbicara, atau pembicaraan. Dinamakan ilmu kalam karena banyak dan luasnya dialog dan perdebatan yang terjadi antara pemikir masalah-masalah aqidah tentang beberapa hal. Misalnya tentang al-Qur’an apakah khaliq atau bukan, hadist atau qadim. Tentang taqdir, apakah manusia punya hak ikhtiar atau tidak. Tentang orang berdosa besar, kafir atau tidak dan lain sebagainya. Pembicaraan dan perdebatan luas seperti itu terjadi setelah cara berfikir rasional dan falsafati mempengaruhi para pemikir dan ulama Islam.

5. Fikih Akbar

Fikih akbar artinya fikih besar. Istilah ini muncul berdasarkan pemahaman bahwa tafaquh fiddin yang diperintahkan Allah swt dalamsurat at-Taubah ayat 122, bukan hanya masalah fikih, tentu dan lebih utama masalah aqidah. Untuk membedakan dengan fikih dalam masalah hukum ditambah dengan kata akbar, sehingga menjadi fikih akbar.

6. Teologi Islam

Teologi berasal dari dua suku kata, yaitu teo (Tuhan) dan logos (ilmu). Jadi teologi adalah ilmu menegnai Tuhan. Dalam pengertian yang umum, teologi diartikan dengan “pengetahuan yang berkaitan dengan seluk beluk tentang Tuhan. Para ahli agama-agama mengartikan teologi dengan pengetahuan tentang Tuhan dan hubungan manusia dengan Tuhan serta hubungan Tuhan dengan alam semesta.

Sebagai ilmu yang membicarakan ketuhanan, maka kata ini digunakan oleh semua agama. Sementara untuk teologi Islam mengkaji seluk beluk ketuhanan yang terdapat dalam ajaran Islam. Dengan demikian kata teologi bersifat netral, bisa digunakan kepada agama apa saja, sesuai dengan karakter dari agama yang menjadikan ketuhanan sebagai kajian utamanya.

7. Ilmu Ma’rifat

Disebut sebagai ilmu ma’rifah, karena ilmu ini dapat mengenal atau memperkenalkan ajaran-ajaran aqidah Islam, sehingga dalam pembahasanya meliputi: Pertama, ma’rifat al-mabda’ yaitu mengenal Allah dengan segala sifat, af’al dan asma-Nya. Kedua, ma’rifat al-wasithat yaitu mengenal utusan-utusan Allah meliputi malaikat, rasul dan kitab-kitab Allah. Ketiga, ma’rifat al-ma’ad yaitu mengenal dan mempercayai hari akhir dan segala sesuatu yang terjadi di alam ini merupakan iradah dengan takdir Allah swt.

SUMBER AQIDAH

Sumber aqidah Islam adalah al-Qur’an dan as-sunnah. Artinya apa saja yang disampaikan oleh allah dalam al-qur’an dan rasulullah dalam sunnah-nya wajib diimani, diyakini, dan diamalkan.

Akal fikiran sama sekali bukan sumber aqidah Islam, tetapi merupan instrumen yang berfungsi untuk memahami nash-nash yang terdapat dalam kedua sumber tersebut dan mencoba – kalau diperlukan – membuktikan secara ilmiyah kebenaran yang disampaikan oleh al-Qur’an dan Sunnah. Itupun harus didasari oleh suatu kesadaran penuh bahwa kemampuan akal sangat terbatas, sesuai dengan terbatasnya kemapuan semua makhluk Allah.

Akal tidak akan mampu menjangkau masa’il ghaibiyah (masalah-masalah ghaib), bahkan akal tidak akan sanggup menjangkau sesuatu yang tidak terikat oleh ruang dan waktu.

Misalnya, akal tidak mampu menunjukan jawaban atas pertanyaan kekekalan itu sampai   kapan? Atau akal tidak sanggup menunjukan tempat yang tidak ada di darat atau di laut, di udara dan tidak dimana-mana. Karena kedua hal tersebut tidak terikat oleh ruang dan waktu.

Oleh sebab itu akal tidak boleh dipaksa memahami hal-hal ghaib tersebut dan menjawab pertanyaan segala sesuatu tentang hal-hal ghaib itu. Akal hanya perlu membuktikan jujurkah atau bisakah kejujuran si pembawa risalah tentang hal-hal ghaib itu bisa dibuktikan secara ilmiyah oleh akal fikiran.

Berkenaan dengan peneyelidikan akal untuk menyakini aqidah Islam, terutama yang berkenaan dengan hal-hal ghaib di atas, manusia dipersilahkan untuk mengarahkan pandangan dan penelitianya kepada alam semesta ini, di bumi, di langit, dan rahasia-rahasia yang terseimpan pada keduanya.

Manusia diperintahkan untuk memperhatikan bagaimana langit ditegakan tanpa tiang seperti yang kita lihat, dan bumi dihamparkan dan dibangun dengan suasana yang teratur dan teguh dalam sebuah system yang saling berjalin berkelindan.

Penyelidikan akal yang mendalam pasti akan mengatakan dan meyakinkan, bahwa alam ini mustahil tercipta dengan sendirinya dan timbul karena kekuatan-kekuatan yang bertentangan satu sama lain, seperti keyakinan dalam naturalisme.

Penyelidikan akal secara cermat dapat melahirkan pengakuan mutlak bahwa semua alam semesta yang teratur, rapi, dan berjalan menurut hukum yang tetap dan tak berubah-ubah mensyaratkan ada penciptanya, pengatur dan pemeliharanya. Oleh karena itu, al-qur’an berkali-kali menganjurkan dan memberikan petunjuk ke arah penyelidikan dalammenetapkan aqidah dengan cara demikian. Lihat firman Allah QS Al-baqarah:164.

CARA MENETAPKAN AQIDAH

Allah swt selaku syari telah memutuskan dan menetapkan untuk memberikan keterangan-keterangan di sekitar masalah-masalah yang wajib diimani, antara lain yang terkandung dalam arkanul iman.

Allah telah menggariskan persoalan tersebut dengan jelas dan menuntut agar manusia mempercayainya.

Iman yang dimaksud itu adalah I’tiqad dengan kebulatan hati dan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya serta berlandaskan dalil dan alasan.

I’tiqad semacam ini tentunya tidak dapat diperoleh dengan dalil-dalil sembarangan, melainkan dengan dalil-dalil yang pasti dan tanpa dicampuri keraguan.

ooo

Oleh karena itu para ulama sepakat untuk menetapkan aqidah berdasarkan tiga macam dalil, yaitu:

1. Dalil Aqli.

Dalil ini dapat diterima apabila hasil keputusannya dipandang masuk akal atau logis dan sesuai dengan perasaan, tentunya yang dapat menimbulkan adanya keyakinan dan dapat memastikan adanya iman yang dimaksudkan. Dengan menggunakan akal manusia merenungkan dirinya sendiri dan alam semesta, yang dengannya ia dapat melihat bahwa dibalik semua ituterdapat adanya Tuhan pencipta yang satu.

2.Dalil Naqli.

Dalil naqli yang tidak menimbulkan keyakinan dan tidak menciptkan keimanan sebagai yang dimaksud, dengan sendirinya dalil tersebut tidak dapat digunakan untuk menetapkan aqidah. Oleh karena itu Syaikh Mahmud Syaltut mengajukan dua syarat yang harus dipenuhi oleh dalil naqli sehingga dalil tersebut dapat menanamkan keyakinan dan menetapkan aqidah:

Dalil naqli itu pasti kebenaranya. Ini artinya bahwa dalil itu harus dapat dipastikan benar-benar datang dari rasulullah tanpa ada keraguan sedikit pun. Dan yang demikian itu hanya dapat dijumpai pada dalil-dalil yang mutawatir.

Dalil naqli itu pasti dan tegas tujuanya. Ini artinya bahwa dalil naqli memilki makna yang tepat dan tegas. Ini hanya bisa terjadi bila dalil-dalil itu tidak memilki dua atau tiga pengertian sekaligus atau lebih.

3. Dalil Fitrah.

Dalil ini adalah hakekat yang mendasari kejadian manusia. Fitrah ini merupakan perasaan keagamaan yang ada dalam jiwa dan merupakan bisikan batin yang paling dalam. Dan kesucian ini akan tetap terpelihara manakala selalu membersihkan jiwanya dari tekanan kekuatan waham dan pengaruh nafsu.

Bila manusia membiarkan fitrah dan nalurinya berbicara, maka dia akan mendapatkan dirinya berhadapan dengan kekuatan tertinggi di atas kekuatan manusia dan alam. Ia akan berdoa dalam suka maupun duka. Lebih-lebih di saat manusia berada dalam keputusasaan, diancam bahaya dan bencana.

Di saat-saat seperti itulah dia menghadapkan diri secara ikhlas kepada Tuhannya, melepaskan segala apa yang telah menyebabkan dia menghadapkan dirinya kepada selain Allah karena pengaruh imajinasi, kebodohan, hawa nafsu, atau pengaruh tuhan-tuhan palsu berupa manusia, hewan, tumbuhan, dan benda-benda mati lainya.

RUANG LINGKUP PEMBAHASAN AQIDAH

Kajian aqidah menyangkut keyakinan umat Islam atau iman. Karena itulah, secara formal, ajaran dasar tersebut terangkum dalam rukun iman yang enam. Oleh sebab itu, sebagian para ulama dalam pembahasan atau kajian aqidah, mereka mengikuti sistematika rukun iman yaitu: iman kepada Allah, iman kepada malaikat (termasuk pembahasan tentang makhluk ruhani seperti jin, iblis, dan setan), iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada Nabi dan rasul Allah, iman kepada hari akhir, dan iman kepada qadha dan qadar Allah swt.

Sementara Ulama dalam kajiannya tentang aqidah islam menggunakan sistematika sebagai berikut:

1. Ilahiyat: yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan ilah (Tuhan, Allah), seperti wujud Allah, nama-nama dan sifat-sifat Allah,perbuatan-perbuatan (af’al) Allah dan sebagainya.

2. Nubuwat: yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan nabi dan Rasul, termasuk pembicaraan mengenai kitab-kitab Allah, mukjizat, karamat dan sebagainya.

3. Ruhaniyat: yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan alam metafisik seperyi Malaikat, Jin, Iblis, Setan, Roh dan lain sebaginya.

4. Sam’iyat: yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang hanya bisa diketahui lewat sama’, yaitu dalil naqli berupa al-qur’an dan as-sunnah, seperti alam barzakh, akhirat, azab kubur, tanda-tanda kiamat, surga, neraka dan sebaginya.

Berbeda dengan dua sistematika di atas, Prof. Dr. H. Syahrin Harahap, MA, dalam Ensiklopedi Aqidah Islam menjabarkan obyek kajian aqidah mengacu pada tiga kajian pokok, yaitu:

1. Pengenalan terhadap sumber ajaran agama (ma’rifatul mabda’), yaitu kajian mengenai Allah. Termasuk dalam bidang ini sifat-sifat yang semestinya ada (wajib), yang semestinya tidak ada (mustahil), dan yang boleh ada dan tiada (jaiz) bagi Allah. Menyangkut dengan bidang ini pula, apakah Tuhan bisa dilihat pada hari kiamat (ru’yat Allah).

2. Pengenalan terhadap pembawa kabar (berita) keagamaan (ma’rifat al-wasithah). Bagian ini mengkaji tentang utusan-utusan Allah (nabi dan rasul), yaitu kemestian keberadaan mereka, sifat-sifat yang semestinya ada (wajib), yang semestinya tidak ada (mustahil), serta yang boleh ada dan tiada (jaiz) bagi mereka. Dibicarakan juga tentang jumlah kitab suci yang wajib dipercayai, termasuk juga cirri-ciri kitab suci. Kajian lainya ialah mengenai malaikat, menyangkut hakekat, tugas dan fungsi mereka.

3. Pengenalan terhadap masalah-masalah yang terjadi kelak di seberang kematian (ma’rifat al-ma’ad). Dalam bagian ini dikaji masalah alam barzakh, surga, neraka, mizan, hari kiamat dan sebagainya.

TINGKATAN AQIDAH

Tingkatan aqidah seseorang berbeda-beda antara satu dengan yang lainya tergantung dari dalil, pemahaman, penghayatan dan juga aktualisasinya. Tingkatan aqidah ini paling tidak ada empat, yaitu:

1. Taqlid,

2. Ilmul yaqin,

3. ‘Ainul yaqin, dan

4. Haqqul yaqin.

1. Tingkat Taqlid

.

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا 

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”.

Tingkat taqlid berarti menerima suatu kepercayaan dari orang lain tanpa diketahui alasan-alasanya. Sikap taklid ini dilarang oleh agama Islam sebagaimana disebutkan dalam QS al-Isra’ (17): 36.

2. Tingkat Ilmul Yaqin.

Tingkat ilmul yaqin adalah suatu keyakinan yang diperoleh berdasarkan ilmu yang bersifat teoritis. Sebagaimana yang disebutkan dalam QS at-takatsur (102): 1-5.

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ!حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ!كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ!ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ!كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ!

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin.”

3. Tingkat ‘Ainul Yaqin

Tingkat ‘ainul yaqin adalah suatu keyakinan yang diperoleh melalui pengamatan mata kepala secara langsung tanpa perantara. Hal ini disebutkan di dalam QS at-Takatsur (102): 6-7.

لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ!ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ!

“Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan `ainul yaqin”.

4. Tingkat Haqqul Yaqin

Tingkat haqqul yaqin adalah suatu keyakinan yang diperoleh melalui pengamatan dan penghayatan pengamalan (empiris). Sebagaimana disebutkan di dalam QS al-Waqi’ah (56): 88-89.

فَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ!فَرَوْحٌ وَرَيْحَانٌ وَجَنَّةُ نَعِيمٍ!وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ!فَسَلَامٌ لَكَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ!وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُكَذِّبِينَ الضَّالِّينَ!فَنُزُلٌ مِنْ حَمِيمٍ!وَتَصْلِيَةُ جَحِيمٍ!إِنَّ هَذَا لَهُوَ حَقُّ الْيَقِينِ!فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ!

“Adapun jika dia (orang yang mati) termasuk orang yang didekatkan (kepada Allah), maka dia memperoleh ketenteraman dan rezki serta surga keni`matan. Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan, maka keselamatan bagimu karena kamu dari golongan kanan. Dan adapun jika dia termasuk golongan orang yang mendustakan lagi sesat, maka dia mendapat hidangan air yang mendidih, dan dibakar di dalam neraka. Sesungguhnya (yang disebutkan ini) adalah suatu keyakinan yang benar. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Besar”.

SIGNIFIKANSI DAN FUNGSI AQIDAH

Sesuai dengan fungsinya sebagai dasar agama, maka keberadaan aqidah Islam sangat menentukan bagi seorang muslim, sebab dalam system teologi agama ini diyakini bahwa sikap, perbuatan dan perubahan yang terjadi dalam perilaku dan aktivitas seseorang sangat dipengaruhi oleh system teologi atau aqidah yang dianutnya. Untuk itu signifikansi akidah dalam kehidupan seseorang muslim dapat dilihat paling tidak dalam empat hal, yaitu:

1. Aqidah Islam merupakan landasan seluruh ajaran Islam. Di atas keyakinan dasar inilah dibangun ajaran Islam lainya, yaitu syari’ah (hukum islam) dan akhlaq (moral Islam). Oleh karena itu, pengamalan ajaran Islam lainya seperti shalat, puasa, haji, etika Islam (akhlak) dan seterusnya, dapat diamalkan di atas bagunan keyakinan dasar tersebut. Tanpa keyakinan dasar, pengamalan ajaran agama tidak akan memiliki makna apa-apa.

2. Akidah Islam berfungsi membentuk kesalehan seseorang di dunia, sebagai modal awal mencapai kebahagiaan di akhirat. Hal ini secara fungsional terwujud dengan adanya keyakinan terhadap kehidupan kelak di hari kemudian dan setiap orang mempertanggungjawabkan perbuatanya di dunia.

3.Akidah Islam berfungsi menyelamatkan seseorang dari keyakinan-keyakinan yang menyimpang, seperti  bid’ah, khurafat, dan penyelewengan-penyelewengan lainya.

4. Akidah islam berfungsi untuk menetapkan seseorang sebagai muslim atau non muslim. Begitu pentingnya kajian akidah islam hingga bidang ini telah menjadi perbincangan serius di kalangan para ahli sejak zaman awal Islam sampai hari ini, termasuk di Indonesia. Di dalam apresiasinya, kajian mengenai bidang ini melahirkan beberapa aliran, seperti Suni [ Maturidiyah, Asy’ariyah,Ahlussunnah wal Jama’ah ] Murjiah,Muktazilah,Wahabiyah, Syiah, Khawarij, Qadariyah, Jabbariyah dan lain-lain.

 

Sebagai hal yang sangat fundamental bagi seseorang, aqidah oleh karenanya disebut sebagai titik tolak dan sekaligus merupakan tujuan hidup. Atas dasar itu maka aqidah memiliki peran yang sangat penting di dalam memunculkan semangat peningkatan kualitas hidup seseorang. Fungsi tersebut antara lain:

A. Akidah Dapat Menimbulkan Optimisme Dalam Kehidupan.

Sebab manusia yang di dalam dirinya tertanam akidah atau keyakinan yang kuat, akan selalu merasa optimis dan merasa akan berhasil dalam segala usahanya. Keyakinan ini didorong oleh keyakinan yang lain bahwa allah sangat dekat padanya, bahkan selalu menyertainya dalam usaha dan aktivitas-aktivitasnya.

Sementara bagi orang yang tidak memiliki akidah yang benar dan kuat tidak akan memilki keyakinan yang kuat, jiwanya akan menjadi gersang dan hampa, dan selalu diliputi keraguan dalam bertindak. Sehingga jika tertimpa sedikit cobaan dan rintangan, ia menjadi gelisah, keluh kesah, yang sering kali berakhir dengan putus asa, karena ia tidak memiliki pegangan batin yang kuat di luar kemampuanya.

B. Akidah Dapat Menumbuhkan Kedisiplinan.

Disiplin dimaksud, seperti disebut oleh beberapa Ulama, adalah kepatuhan dan ketaatan dalam mengikuti semua ketentuan dan tata tertib yang berlaku, termasuk hukum alam (sunnah allah) dengan kesadaran dan tanggung jawab. Akidah yang mantap akan mampu menempatkan diri seseorang sebagai makhluk berdisiplin tinggi dalam kehidupanya.

Disiplin adalah kata kunci untuk keberhasilan. Karena itu bila seseorang muslim ingin berhasil, ia harus berdisplin. Tanpa dsiplin, tidak munngkin seseorang dapat meraih kesuksesanya. Dalam konteks peningkatan kualitas hidup displin sangat dituntut terutama:

1. Disiplin dalam waktu. Artinya, tertib dan teratur dalam memanfaatkannya dalam penanganan kerja maupun dalam melakukan ibadah mahdhah.

2. Disiplin dalam bekerja. Artinya, seorang muslim yang berakidah menyadari bahwa ia harus bekerja, sebagai pelaksanaan tanggung jawabnya sebagai khalifah Allah. Dan agar kerjanya berhasil baik, diperlukan sikap displin. Sebab penangan kerja dengan kedisplinan akan menghasilkan sesuatu secara maksimal dan membahagiakan.

C. Aqidah Berpengaruh Dalam Peningkatan Etos Kerja.

Sebab seseorang yang memilki keyakinan yang mantap akan selalu berupaya keras untuk keberhasilan kerjanya, sebagai bagian dari pemenuhan kataatanya pada Allah. Dengan demikian melalui aqidahnya akan tersembul etos kerja yang baik yang tercermin dari ciri-ciri berikut ini:

1) Memiliki jiwa kepeloporan dalam menegakan kebenaran

Kepeloporan disini dimaksud sebagai mengambil peran secara aktif untuk mempengaruhi orang lain agar dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Jadi, ia memilki kemampuan untuk mengambil posisi dan sekaligus memainkan peran (role) sehingga kehadiranya selalu dirasakan memberikan spirit bagi munculnya semangat peningkatan kualitas hidup setiap oran di sekitarnya.

2) Memiliki perhitungan (kalkulatif)

Setiap langkah dalam hidupnya selalu diperhitungkan dari segala aspek, termasuk untung dan resikonya, dan tentu saja sebuah perhitungan yang rasional.

3) Memiliki rasa iri yang mendalam pada perbuatan tidak merasa puas dalam berbuat kebajikan.

Tipe muslim yang memilki aqidah yang kaut akan tampak dari semangatnya yang tak kenal lelah melakukan berbagai aktivitas untuk mencapai dan menegakan kebaikan. Sekali dia berniat, ia akan menepati cita-citanya secara serius dan cermat, serta tidah mudah menyerah bila berhadapan dengan cobaan dan rintangan. Dengan semangat semacam ini seorang muslim selalu berusaha mengambil posisi dan memainkan peranan positif, dinamis, dan keratif dalam penanganan kerjanya, dan memberi contoh kepada orang yang disekitarnya.

Sedemikian pentingnya peran dan kontribusi aqidah bagi peningkatan kualitas hidup seorang muslim, hingga pemerhati masalah-masalah tauhid, Ismail Razi al-faruqi menyebut aqidah (tauhid) sebagai prinsip ekonomi Islam dalam bentuk etika produksi, etika distribusi dan etika konsumsi.

Disadur dari beberapa bacaan liar

Wallahu ‘Alam bi Shawab.


= Al-Maidah 89

لاَ يُؤَاخِذُكُمُ اللّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَـكِن يُؤَاخِذُكُم بِمَا عَقَّدتُّمُ الأَيْمَانَ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ ذَلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ وَاحْفَظُواْ أَيْمَانَكُمْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ ﴿٨٩

Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja,

maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak.

Barangsiapa tidak sanggup melakukan yang demikian,

maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).

= Al-Maidah 89 = 

KRISIS KETELADANAN.


.

Tidak bisa dinafikan bahwa setiap Orang Tua pasti menginginkan anaknya  tumbuh menjadi Pribadi yang baik  dan menarik , NAMUN , Tidak banyak yang menyadari bahwa semua itu seharusnya dimulai dari diri sendiri , mulai konsistensi sikap , komunikasi dengan anak. Bahkan keteladanan Orang Tua , bisa berdampak pada tumbuh kembang anak.

Lalu…..Pentingkah  sebuah keteladanan bagi seorang anak..??.. Dan keteladanan semacam apakah  yang harus diberikan seorang tua kepada anak. Agar mereka tumbuh menjadi pridabdi yang Luhur dan Santun..??..

Urgensi keteladanan.

“ Barangsiapa yang memberikan contoh yang baik dalam Islam , maka baginya pahala atas perbuatan baiknya dan pahala orang yang mengikuti hingga hari kiamat , yang demikian itu tidak menghalangi  pahala orang-orang yang mengikutinya sedikitpun . Dan barang siapa yang memberikan contoh yang buruk dalam Islam , maka baginya dosa atas perbuatannya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat , yang demikian itu tanpa dikurangi sedikitpun dosa orang –orang yang mengikutinya “ H.R. Imam Muslim.

Sesungguhnya Fase Kanak-kanak, merupakan Fase yang  paling cocok , paling panjang , dan paling penting bagi seorang pendidik menanamkan prinsip-prinsip yang lurus , benar dan pengarahan yang baik kedalam jiwa dan prilaku kepada anak-anaknya , kesempatan untuk itu sangat terbuka lebar .

Segala sarana dan prasarana juga mendukung . mengingat pada Fase ini anak-anak masih memiliki Fitrah yang suci , jiwa yang bersih , dan hati yang belum terkontaminasi debu dosa dan kemaksiatan  dari keluarga , dari teman , dari lingkungannya.

Keluarga mempunyai peranan penting dalam pendidikan , baik dalam lingkungan  masyarakat Islam maupun non Islam .

Karena keluarga merupakan tempat pertumbuhan  anak yang pertama , dimana dia  mendapatkan pengaruh dari anggauta-angautanya pada masa yang paling penting dan paling kritis dalam pendidikan anak  , yaitu tahun– tahun pertama dalam kehidupannya  ( usia pra sekolah ). Sebab pada masa tersebut apa  yang  ditanamkan dalam diri anak akan sangat berbekas  , sehingga tak mudah hilang  atau berubah sesudahnya.

Anak merupakan Amanah bagi Orang Tua . Hatinya yang suci merupakan Permata alami yang bersih dari Pahatan dan Bentukan , dia siap diberi Pahatan apapun  dan condong pada Bentuk apa saja yang disodorkan  orang / lingkungan yang akrab kepadanya.

Jika dibiasakan dan diajarkan kebaikan , dia akan tumbuh dalam kebaikan. Dan berbahagialah kedua Orang Tuanya di Dunia dan Akhirat , juga pendidik dan Gurunya.

Tetapi,….. Jika dia membiarkan kejelekan dan dibiarkan Liar sebagaimana Binatang Ternak  . Niscaya dia akan menjadi  Jahat dan Binasa , dan Dosanyapun ditanggung oleh Guru dan Walinya.

Mendidik dan mengajar anak termasuk hal-hal yang asasi dan wajib dilaksanakan setiap Muslim yang Komit kepada Agama yang Hanif ( lurus ) ini. Mendidik dan mengajar anak merupakan perintah dari Allah swt yang Maha  Tinggi lagi Maha Agung.

Allah swt , berfirman : “ Wahai Orang yang beriman , jagalah dirimu dan keluargamua  dari api Neraka yang bahan bakarnya ( terdiri dari ) Manusia dan Batu….”QS. At-Tahrim : 6 -.

Saat ini anak–anak mengalami krisis keteladanan ,  Hal ini terjadi karena  sedikitnya media masa yang  mengangkat  tema tokoh – tokoh teladan  bagi anak –anak.

Tayangan-tayangan di Televisi misalnya , didominasi Acara-acara hiburan  dalam berbagai Variasi  hanya untuk Dewasa , acara sinetron atau Infotainment tidak diharapkan memberikan contoh pada kehidupan Islami secara utuh .

Sementara itu porsi penanaman akhlak mulia melalui contoh pribadi teladan pada pelajaran-pelajaran ke Islaman disekolah juga masih rendah.

Dalam kondisi kritis keteladanan ini , keluarga menjadi basis penting bagi anak untuk menemukan keteladanan . Maka , Orang Tua sudah selayaknya menjadi figur pertama bagi anak untuk memenuhi  kebutuhan ini.

Untuk itu ada kiat – kiat yang bisa dilakukan oleh Orang Tua agar menjadi pribadi teladan dalam proses pembentukan akhlak yang Islami pada anak.

KETELADANAN ORANG TUA.

Memang banyak Tips dan cara untuk m mendidi anak ,  ada yang nyodorkan Metode “ A “, ada juga yang menyarankan dengan Metode “ B “ . Namun dari setiap Maetode yang ada dan yang pernah  dipraktekan , metode keteladanan adalah  Metode yang paling jitu dalam Pendidikan anak-anak dikeluarga ,

MENERAPKAN METODE KETELADANAN.

Pertama – Orang Tua hendaklah memperkenalkan Tokoh-tokoh Teladan dalam Islam , yaitu dengan banyak membaca Buku-buku Sejarah Islam , seperti Sirah Nabawiyah ( Muhammad saw ) Tokoh-tokoh teladan seperti Sejarah perjuangan para Sahabat , Profil Orang-orang Shalih.

Internalisasi bacaan ini akan membentuk Pribadi berakhlak terpuji , sehingga pantas menjadi salah satu panutan bagi anak-anak . Bacaan ini juga sekaligus menjadi pengetahuan untuk diajarkan kepada anak-anak.

Kedua– Menghargai Nasihat dan kebenaran , meskipun dari seorang anak kecil. Pada  masa kejayaan peradaban Islam , banyak kisah tentang kedudukan anak-anak yang dihormati para Pemimpin saat itu.

Akar dari kondisi ini adalah didikan dari Rasulullah saw, terhadap para Sahabat. Ibnu Mas’ud ra. Pernah dinasihati oleh Rasulullah saw : “ Sembahlah Allah (swt) dan jangan kau persekutukan dengan yang lain , berjalanlah Kamu bersama Al-Qur’an dimanapun Kamu berada. Terimalah kebenaran dari siapapun , baik dari anak kecil maupun orang dewasa , meskipun ia adalah orang jauh yang kamu benci.Dan tolaklah kebathilan dari siapapun , baik dari anak kecil maupun dewasa , meskipun itu adalah orang dekat yang kamu cintai “. HR. -.Ibnu Asaakir & Ad-Dailami.-

Ketiga– Mengajak dan mendorong anak untuk membaca kisah-kisah orang teladan , orang tua berperan memilihkan buku yang menarik dan sesuai dengan perkembangan kejiwaan dan pemikiran anak.

Untuk yang telah menginjak usia remaja , orang tua dapat berdiskusi dengan mereka dalam memilih buku bacaan yang menjadi minat mereka.

Keempat- Mengajak anak berkesempatan berdialog dengan anak-anak Shalih. Banyak riwayat menceritakan bahwa para Sahabat mengajak anak-anak mereka untuk berjumpa dengan Nabi Muhammad saw, seperti dalam sebuah Hadits yang berbunyi : “….Wahai nak , sebutlah nama Allah (swt) , lalu makanlah makanan yang dekat denganmu “.–>HR. -.Bukhari.- disampaikan Rasulullah saw pada seorang anak dari Sahabatnya , ketika diajak berkunjung kepada Beliau oleh ayahnya.

Kelima- Pada fase pembinaan pembiasaan ( terutama pada anak usia balita ) orang tua hendaknya termotivasi untuk senantiasa merujuk ke pada perilaku Rasulullah saw, ketika membetulkan sikap atau perilaku yang keliru dari anak.

Keenam- Pada fase Remaja  , orang tua hendaklah mengalokasikan waktu dialog dengan mereka  tentang kondisi IDEAL yang diharapkan ada pada diri mereka. Suasana dialog juga dipilih agar mereka nyaman dalam mencerna  nilai-nilai yang hendak ditanamkan.

Ketujuh- Mengirimkan anak-anak ke Sekolah-sekolah yang memiliki Pendidikan berakhlak mulya serta memiliki Ilmu yang berkualitas , sehingga kepribadian anak-anak terbina dengan baik.

Orangtua sebagai USWATUN HASANAH.

Sebagai Orang tua yang diamanahi Allah swt berupa anak-anak . Jika kita menginginkan anak-anak kita  mencintai Allah swt dan Rasulnya , maka kita sendiri  sebagai orang tua harus mencintai Alah swt dan Rasulnya pula , sehingga kecintaan tersebut terlihat jelas oleh anak-anak.

Akan sulit melahirkan Generasi yang taat pada Syariat , jika kedua orang tuanya sering bermaksiat kepada Allah swt dan lebih mengutamakan sibuk mencari materi , dari memperdalam Aqidah untuk kebutuhan anak-anaknya.

Kita ambil contoh  apa yang terjadi di Palestina , setiap Generasi disana sejak kecil sudah Mujahid dan Syarat untuk menjadi Mujahid adalah harus hafal Al-Qur’an , sehingga Jiwa mereka sudah tidak ada rasa takut dengan kematian.

Para Orang tua yang mendidik dan membesarkan anak-anaknya atas dasar Agama ( Aqidah Islam ) , mereka tidak akan ada rasa takut akan tersesat  atau anak keturunannya akan menjadi Pencundang sehingga mendapat Predikat yang rendah dan hina dihadapan Manusia maupun  dihadapan Allah swt .

Karena mereka para Orang tua sudah sejak dini menanamkan Aqidah dan rasa percaya diri kedalam Jiwanya  , Orang tua pun tidak ada rasa khawatir dan takut jika harus menghadapi kematian terlebih dahulu .

Sayyidul Istighfar

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ.

“Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Engkau, Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hambaMu. Aku akan setia pada perjanjianku pada-Mu (yaitu menjalankan ketaatan dan menjauhi larangan, pen) semampuku dan aku yakin akan janji-Mu (berupa pahala). Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku. Oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.”
HR – Imam Bukhari rahimahullah

Wassalam

[ رَبَّنَا هَبْ لَنَ مِنْ أَزْوَاجِـنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةً أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا ]

Berlebihan

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِى الدِّينِ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِى الدِّينِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Wahai sekalian manusia, jauhilah sikap berlebih-lebihan (ghuluw) dalam beragama. Sesungguhnya yang membinasakan umat-umat sebelum kalian adalah sikap berlebih-lebihan dalam agama”

HR Ibnu Majah rhl>Ibnu Abbas ra