Sayyidul Istighfar


Afdhalul Istighfar ”

 

Dalam kitab al-Jami’ ash-Shahih, Imam al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan sebuah hadits dari Syaddad ibn Aus radhiyallahu ‘anhu tentang Sayyidul istighfar, pemimpinnya istighfar. Imam al-Bukhari memasukkan hadits ini ke dalam bab “Afdhalul Istighfar”, istighfar yang paling utama. Bab “Afdhalul Istighfar” hanya berisi satu hadits, yaitu hadits dari Syaddad ibn Aus radhiyallahu ‘anhu ini.

Berikut redaksi sayyidul istighfar dalam kitab shahih al-Bukhari tersebut:

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لاَ إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي  وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ 

وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ.

وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِيفَاغْفِرْ لِي  فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ

‘ALLAHUMMA ANTA RABBI LAA ILAAHA ILLA ANTA KHALAQTANI , WA ANA ‘ABDUKA WA ANA ‘ALA ‘AHDIKA , WA WA’DIKA MASTATHA’TU,  A’UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA SHANA’TU , ABUU`U LAKA BINI’MATIKA ‘ALAYYA ,  WA ABUU`U  BIDZANBI FAGHFIRLI FA INNAHU LAA YAGHFIRU ADZ DZUNUUBA ILLA ANTA

“Ya Allah, Engkau adalah Rabb-ku, tiada ilah selain Engkau, Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu, dan aku selalu berusaha menepati ikrar dan janjiku kepada-Mu dengan segenap kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku. Aku mengakui betapa besar nikmat-nikmat-Mu yang tercurah kepadaku, dan aku sadar betapa banyak dosa yang telah aku lakukan, maka ampunilah aku, tidak ada yang bisa mengampuni dosa selain Engkau.”

.

[ HR. al-Bukhari, no. 6306. Dikeluarkan juga oleh beliau pada hadits no. 6323 dengan sedikit perbedaan susunan redaksi. Diriwayatkan juga oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa-i, Ibn Majah dan Ahmad dengan redaksi masing-masing ]

.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menjelaskan bahwa siapa saja yang membacanya di siang hari dan meyakini ucapannya tersebut, kemudian ia meninggal dunia sebelum sore, maka ia termasuk penghuni surga. Dan siapa saja yang membacanya di malam hari dan meyakini ucapannya tersebut, kemudian ia meninggal dunia sebelum subuh, maka ia termasuk penghuni surga.

Sungguh, maha benar Allah dan Rasul-Nya. Semoga kita termasuk orang yang membiasakan membaca sayyidul istighfar ini di siang dan malam hari, sembari memahami dan meyakini apa yang kita ucapkan tersebut.

*****

 حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُرَيْدَةَ قَالَ حَدَّثَنِي بُشَيْرُ بْنُ كَعْبٍ الْعَدَوِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي شَدَّادُ بْنُ أَوْسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ  = اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ قَالَ وَمَنْ قَالَهَا مِنْ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِيَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَمَنْ قَالَهَا مِنْ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوقِنٌ بِهَا فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

Telah menceritakan kepada kami Abu Ma’mar telah menceritakan kepada kami Abdul Warits telah menceritakan kepada kami Al Husain telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Buraidah dia berkata; telah menceritakan kepadaku Busyair bin Ka’b Al ‘Adawi dia berkata; telah menceritakan kepadaku Syaddad bin Aus radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; Sesungguhnya istighfar yang paling baik adalah; kamu mengucapkan:

ALLAHUMMA ANTA RABBI LAA ILAAHA ILLA ANTA KHALAQTANI WA ANA ‘ABDUKA WA ANA ‘ALA ‘AHDIKA WA WA’DIKA MASTATHA’TU A’UUDZU BIKA MIN SYARRI MAA SHANA’TU ABUU`U LAKA BIDZANBI WA ABUU`U LAKA BINI’MATIKA ‘ALAYYA FAGHFIRLI FA INNAHU LAA YAGHFIRU ADZ DZUNUUBA ILLA ANTA

 Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi selain Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menetapi perjanjian-Mu dan janji-Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui dosaku kepada-Mu dan aku akui nikmat-Mu kepadaku, maka ampunilah aku. Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain-Mu

.

Beliau bersabda: ‘Jika ia mengucapkan di waktu siang dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum waktu sore, maka ia termasuk dari penghuni surga. Dan jika ia membacanya di waktu malam dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum masuk waktu pagi, maka ia termasuk dari penghuni surga.’


.

 حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin Abdurrahman dia berkata; Abu Hurairah berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Demi Allah, sesungguhnya aku beristighfar (meminta ampunan) dan bertaubat kepada Allah dalam satu hari lebih dari tujuh puluh kali.

Imam al-Bukhari rahimahullah

ooo===ooo

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَأَبُو الرَّبِيعِ الْعَتَكِيُّ جَمِيعًا عَنْ حَمَّادٍ قَالَ يَحْيَى أَخْبَرَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ الْأَغَرِّ الْمُزَنِيِّ وَكَانَتْ لَهُ صُحْبَةٌ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِي وَإِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ

 Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya dan Qutaibah bin Sa’id dan Abu Ar Rabi’ Al ‘Ataki semuanya dari Hammad, Yahya berkata; telah mengabarkan kepada kami Hammad bin Zaid dari Tsabit dari Abu Burdah dari Al Aghar Al Muzanni, -salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, – Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Sesungguhnya hatiku tidak pernah lalai dari dzikir kepada Allah, susungguhnya Aku beristighfar seratus kali dalam sehari.”

Imam Muslim rahimahullah

Iklan

Mengenal Sadd adz-Dzarai’


Mengenal Sadd adz-Dzarai’

 

A.  Definisi Sadd adz-Dzarai’. Lihat I’mal Qa’idah Sadd adz-Dzarai’ fi Bab al-Bid’ah karya Dr. Muhammad ibn Husain al-Jaizani hal. 9; Mu’jam Ushul al-Fiqh karya Khalid Ramadhan Hasan hal. 146; Ushul al-Fiqh al-Islami karya Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili hal. 873-874; Ushul Fiqh karya Prof. Dr. H. Amir Syarifuddin Jilid 2 hal. 424-425.

Adz-dzarai’ ( الذرائع ) merupakan bentuk jamak dari adz-dzari’ah ( الذريعة ). Dan adz-Dzari’ah secara bahasa artinya perantara atau jalan untuk mencapai sesuatu. Sedangkan secara istilah, menurut Dr. Muhammad ibn Husain al-Jaizani, ulama ushul fiqih membagi makna adz-Dzari’ah menjadi dua, yaitu:

1. Makna umum, dan ini sama dengan makna bahasanya, yaitu mencakup setiap perantara atau jalan untuk mencapai sesuatu, baik berupa kemaslahatan ataupun kerusakan.

2. Makna khusus, yaitu suatu perbuatan yang pada dasarnya mubah, namun menjadi jalan menuju perbuatan yang diharamkan.

Secara umum fuqaha dan ulama ushul memaknai adz-dzarai’ dengan makna khusus ini. Untuk menempatkannya dalam pembahasan yang sesuai dengan yang dituju, kata adz-dzarai’ didahului dengan sadd ( سد ) yang artinya menutup.

Jadi, sadd adz-dzarai’ artinya menutup jalan atau perantara menuju perbuatan yang diharamkan. Meskipun jalan atau perantara tersebut pada awalnya tidak haram, namun karena ia mengantarkan kepada perbuatan yang diharamkan, ia menjadi haram juga.

B.  Kehujjahan Sadd adz-Dzarai’

Ulama berbeda pendapat dalam menerima kehujjahan sadd adz-dzarai’ sebagai dalil fiqih, yaitu sebagai berikut:

1. Sadd adz-Dzarai’ Merupakan Dalil Fiqih. Lihat al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah Juz 24 hal. 276-278; Ushul al-Fiqh al-Islami karya Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili hal. 888; Ushul Fiqh karya Prof. Dr. H. Amir Syarifuddin Jilid 2 hal. 425-427.

Pendapat ini dikemukakan oleh kalangan Malikiyah dan Hanabilah. Menurut az-Zuhaili, Imam Malik dan Ahmad menyatakan bahwa adz-dzarai’ merupakan salah satu bagian dari ushul fiqih. Masih menurut az-Zuhaili, Ibn al-Qayyim menyatakan bahwa sadd adz-dzarai’ merupakan seperempat agama.

Mereka melandasi hal ini dengan argumentasi-argumentasi berikut ini:

a) Firman Allah ta’ala:

ولا تسبوا الذين يدعون من دون الله فيسبوا الله عدوا بغير علم

Artinya: “Dan janganlah kalian memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.” [al-An’aam ayat 108]

Allah ta’ala melarang memaki sesembahan orang kafir karena hal tersebut akan membuka jalan bagi mereka untuk memaki Allah ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala juga melarang menggunakan kata raa’inaa ( راعنا ) pada firman-Nya:

يا أيها الذين آمنوا لا تقولوا راعنا وقولوا انظرنا

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian katakan (kepada Muhammad), ‘raa’inaa’, tetapi katakanlah ‘unzhurnaa’.” [al-Baqarah ayat 104]

Ucapan raa’inaa oleh para shahabat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka jalan bagi kalangan Yahudi untuk mengejek Nabi, karena kata raa’inaa dalam bahasa mereka merupakan ejekan kepada orang yang diajak bicara.

Allah ta’ala pun melarang wanita yang menghentakkan kakinya supaya diketahui orang perhiasan yang tersembunyi di dalamnya, sebagaimana firman-Nya:

ولا يضربن بأرجلهن ليعلم ما يخفين من زينتهن

Artinya: “Dan janganlah perempuan itu menghentakkan kakinya supaya diketahui orang perhiasan yang tersembunyi di dalamnya.” [an-Nur ayat 31]

Sebenarnya menghentakkan kaki itu boleh-boleh saja bagi perempuan, namun karena menyebabkan perhiasannya yang tersembunyi dapat diketahui orang sehingga akan menimbulkan rangsangan bagi yang mendengar, maka menghentakkan kaki itu menjadi terlarang.

b) Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

دع ما يريبك إلى ما لا يريبك

Artinya: “Tinggalkanlah apa-apa yang meragukanmu kepada yang tidak meragukanmu.” [HR. at-Tirmidzi dari al-Hasan ibn ‘Ali radhiyallahu ‘anhuma. At-Tirmidzi berkata hadits ini Hasan Shahih.]

Dan hadits:

الحلال بين والحرام بين وبينهما مشبهات لا يعلمها كثير من الناس، فمن اتقى المشبهات استبرأ لدينه وعرضه، ومن وقع في المشبهات كان كراع يرعى حول الحمى يوشك أن يواقعه. ألا وإن لكل ملك حمى، ألا وإن حمى الله في أرضه محارمه

Artinya: “Yang halal sudah jelas dan yang haram pun sudah jelas. Di antara keduanya ada perkara syubhat (samar hukumnya) yang banyak orang tidak mengetahuinya. Siapa yang menjauhi perkara syubhat ini maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya. Siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat ini seperti seorang gembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan yang hampir menjerumuskannya. Ketahuilah setiap raja memiliki tanah larangan dan tanah larangan Allah di bumi ini adalah perkara-perkara yang diharamkan-Nya.” [HR. al-Bukhari dan Muslim dari an-Nu’man ibn Basyir radhiyallahu ‘anhu. Lafazh hadits ini menurut al-Bukhari.]

Ibn Rusyd berkata: “Sesungguhnya pembahasan adz-dzarai’ dalam al-Kitab dan as-Sunnah cukup panjang pembahasannya dan tidak memungkinkan untuk membatasinya.”

c) Membolehkan melakukan perbuatan yang menjadi jalan atau perantara kepada perbuatan yang diharamkan merupakan hal yang kontradiktif dengan pengharaman itu sendiri. Sebagai contoh, seorang dokter yang ingin mencegah terjadinya penyakit pada seseorang tentu akan melarang orang tersebut melakukan perbuatan yang akan mengantarkannya menderita penyakit tersebut.

d) Berdasarkan penelitian terhadap sumber pengharaman dalam al-Kitab dan as-Sunnah, diketahui bahwa ada yang memang haram sendirinya (tahrim al-maqashid) seperti keharaman syirik, zina, meminum khamr dan membunuh, ada juga yang haram karena menjadi jalan atau perantara kepada perbuatan yang haram sendirinya tersebut.

Ibn al-Qayyim menyebutkan ada sembilan puluh sembilan contoh pengharaman dalam al-Kitab dan as-Sunnah karena menjadi jalan atau perantara (adz-dzarai’) kepada perbuatan yang haram. Sebagai contoh, sadd adz-dzarai’ kepada perbuatan zina adalah pengharaman khalwat, pengharaman wanita bepergian (safar) sendirian, pengharaman melihat aurat, kewajiban meminta izin jika ingin memasuki sebuah rumah, dan banyak lagi.

Sadd adz-dzarai’ kepada pembunuhan adalah larangan menjual senjata di masa fitnah, mewajibkan qishash untuk mencegah orang mengampang-gampangkan pembunuhan, dan lain-lain. Masih banyak contoh dalam perkara-perkara yang lain.

2. Sadd adz-Dzarai’ Bukan Merupakan Dalil Fiqih. Lihat al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah Juz 24 hal. 278; Ushul al-Fiqh al-Islami karya Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili hal. 888-889; Ushul Fiqh karya Prof. Dr. H. Amir Syarifuddin Jilid 2 hal. 431-432.

Ini merupakan pendapat Syafi’iyah dan Hanafiyah. Mereka menyatakan bahwa sadd adz-dzarai’  bukan merupakan dalil fiqih, karena adz-dzarai’ adalah perantara, sedangkan perantara hukumnya berubah-ubah, kadang haram, kadang wajib, makruh, mandub, dan terkadang mubah. Dan perantara tersebut pun berbeda-beda terhadap hukum yang jadi tujuannya (al-maqashid), sesuai dengan kuat lemahnya maslahat dan mafsadat yang dihasilkan, serta nampak dan tersembunyinya perantara tersebut. Atas dasar ini, tidak memungkinkan untuk menentukan hukum adz-dzarai’ ini secara pasti.

Mereka juga menyatakan bahwa hukum syara’ dibangun atas sesuatu yang nampak (zhahir), sebagaimana yang dilakukan Rasulullah terhadap kaum yang menampakkan keislaman padahal hatinya ingkar (kalangan munafik), mereka di dunia tidak mendapatkan hukuman atas kekafiran mereka karena yang nampak di luar mereka adalah muslim.

Rasulullah juga tidak menetapkan hukuman zina terhadap dua orang yang saling menyatakan li’an, walaupun terdapat tanda-tanda zina, yaitu adanya anak yang diduga sebagai hasil zina. Imam asy-Syafi’i berkata, “Dan ini menunjukkan dibatalkannya hukuman, padahal ada indikasi (yang mengharuskan terjadi hukuman) yang lebih kuat dari adz-dzarai’. Jika perkara yang lebih kuat dari adz-dzarai’ saja dibatalkan, tentu yang lebih lemah lebih layak untuk tidak diberlakukan.”

Selain Syafi’iyah dan Hanafiyah, yang juga menolak kehujjahan sadd adz-dzarai’ adalah kalangan Zhahiriyah. Ibn Hazm mengajukan beberapa argumentasi sebagai berikut:

a) Hadits yang dikemukakan oleh ulama yang mengamalkan sadd adz-dzarai’ itu lemah dari segi sanad dan pemahamannya juga tidak tepat. Dari segi sanad, hadits tersebut diriwayatkan dalam banyak versi yang berbeda-beda perawinya. Dari segi pemahaman, hadits tersebut hanya melarang menggembala di daerah yang terlarang, sedangkan menggembala di sekitarnya tidak dilarang. Menggembala di dalam daerah terlarang berbeda hukumnya dengan menggembala di sekitar daerah terlarang tersebut. Karena itu, hukum menggembala di sekitar daerah terlarang kembali ke hukum asalnya, yaitu mubah.

b) Dasar pemikiran sadd adz-dzarai’ adalah ijtihad yang berpatokan pada pertimbangan kemaslahatan, sedangkan ulama Zhahiriyah menolak ijtihad dengan metode seperti ini.

c) Hukum syara’ hanya menyangkut apa-apa yang ditetapkan al-Qur’an, as-Sunnah dan ijma’. Yang ditetapkan di luar tiga sumber tersebut bukanlah hukum syara’. Dalam hal sadd adz-dzarai’, hukum yang telah ditetapkan oleh nash dan ijma’ hanyalah perbuatan yang dituju (maqashid)-nya saja, sedangkan perantara atau adz-dzarai’-nya tidak pernah ditetapkan oleh nash atau ijma’. Oleh karena itu, sadd adz-dzarai’ tidak bisa diterima, sesuai dengan firman Allah ta’ala:

ولا تقولوا لما تصف ألسنتكم الكذب هذا حلال وهذا حرام لتفتروا على الله الكذب

Artinya: “Dan janganlah kalian katakan dengan lisan kalian suatu kebohongan, menyatakan ini halal dan ini haram, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah.” [an-Nahl ayat 116]

C.  Pembagian adz-Dzarai’. Lihat al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah Juz 24 hal. 278-280; I’mal Qa’idah Sadd adz-Dzarai’ fi Bab al-Bid’ah karya Dr. Muhammad ibn Husain al-Jaizani hal. 11-12.

Al-Qarafi membagi adz-Dzarai’ (perantara) kepada perbuatan fasad menjadi tiga, yaitu:

1. Ulama Menyepakati Keharusan untuk Menutup dan Mencegahnya

Yaitu yang membawa kerusakan secara pasti atau lazimnya akan menimbulkan kerusakan. Dalam hal ini, ulama sepakat untuk melarangnya, sehingga dalam kitab-kitab fiqih madzhab ditegaskan tentang haramnya menggali lubang di tempat yang biasa dilalui orang yang dapat dipastikan akan mencelakakan.

Namun, Taqiyuddin as-Subki dari kalangan Syafi’iyah berkata, “Perkara ini bukanlah termasuk sadd adz-dzarai’, melainkan tahrim al-wasa-il (pengharaman sesuatu yang menjadi wasilah pada keharaman), dan wasilah memang terikat dengan perkara yang ditujunya, tidak ada perselisihan dalam hal ini.” Tajuddin as-Subki berkata, “Tidak benar orang yang beranggapan bahwa semua orang menggunakan kaidah sadd adz-dzarai’, sesungguhnya asy-Syafi’i tidak menggunakannya.”

2. Ulama Sepakat Bahwa Ia Tak Perlu Ditutup atau Dicegah

Yaitu yang peluangnya membawa pada kerusakan sangat kecil dan jarang terjadi. Dalam hal ini, seandainya perbuatan itu dilakukan, sangat kecil peluangnya akan menimbulkan kerusakan. Misalnya menggali lubang di kebun sendiri yang jarang dilalui orang. Menurut kebiasaan, tidak ada orang yang lewat di tempat tersebut yang akan terjatuh ke dalam lubang. Namun memang tidak tertutup kemungkinan ada yang kesasar lalu terjatuh ke dalam lubang tersebut.

Ulama sepakat tidak melarang hal ini, sehingga dalam kitab-kitab fiqih tidak terdapat larangan membuat lubang di kebun sendiri yang jarang dilalui orang, memperjualbelikan anggur, dan yang semisalnya.

3. Ulama Berbeda Pendapat Tentang Keharusan Ditutup atau Tidaknya Perantara Tersebut

Yaitu yang peluangnya membawa pada kerusakan cukup besar, namun tidak sampai bersifat pasti atau lazim terjadi. Pada bagian inilah, ulama berbeda pendapat. Perbedaan pendapat ini terjadi pada adz-dzarai’ yang tidak disebutkan dalam al-Kitab dan as-Sunnah keharusan untuk menutup dan mencegahnya, sedangkan yang disebutkan dalam nash syar’i tidak ada perbedaan pendapat, seperti larangan memaki sesembahan orang-orang musyrik karena dikhawatirkan mereka akan memaki Allah ta’ala.

Secara umum, Malikiyah dan Hanabilah mengharuskan menutup atau melarang adz-dzarai’ pada bagian ini, sedangkan Syafi’iyah dan Hanafiyah menyatakan tidak perlu melarangnya.

Beberapa contoh dalam bagian ini misalnya adalah:

a) Jual beli aajal.  Yaitu jual beli yang pembayarannya tidak tunai. Lihat pembahasan jual beli aajal menurut Malikiyah di al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah Juz 2 hal. 29.

Sebenarnya jual beli ini boleh, namun Malik melarang jual beli semacam ini karena banyak orang yang melakukannya sebagai jalan untuk melakukan riba.

b) Penundaan pembayaran mahar. Menurut kalangan Malikiyah hal ini makruh, walaupun ada batas waktu yang jelas, setahun misalnya. Hukum makruh ini jika penundaan yang dilakukan adalah untuk keseluruhan mahar, bukan cuma sebagiannya. Hal ini karena dikhawatirkan akan ada yang menikah tanpa mahar.

c) Puasa hari syak dan enam hari bulan Syawal. Dimakruhkan berpuasa sebelum ramadhan, sehari atau dua hari sebelumnya, karena dikhawatirkan ia dianggap sebagai tambahan puasa Ramadhan. Dan atas dasar ini juga, Abu Yusuf berkata, “Dimakruhkan menyambung Ramadhan dengan enam hari di bulan Syawal.” Ini adalah pendapat Malikiyah.

D.  Penutup

Tulisan ini hanya mengungkapkan sadd adz-dzarai’ secara singkat, dan tentu masih banyak yang tertinggal dalam pembahasannya. Ketika saya mencoba menelaah beberapa literatur yang membahas tentang hal ini, pembahasan sadd adz-dzarai’ atau adz-dzarai’ secara umum memuat banyak hal –yang tak saya muat, atau hanya sedikit saya singgung, dalam tulisan ini– seperti misalnya perbedaan ulama dalam memaknai adz-dzarai’, apakah ia hanya perantara untuk perbuatan haram atau lebih umum maknanya, perbedaan muqaddimah wajib dengan adz-dzarai’, pembagian adz-dzarai’ menurut beberapa ulama yang berbeda-beda, dan lain-lain.

Alasan saya tidak memasukkan pembahasan-pembahasan tersebut dalam tulisan ini adalah agar tulisan ini tidak menjadi terlalu panjang. Oleh karena itu, tulisan ini langsung fokus membahas sadd adz-dzarai’ dari sisi sebagai perantara menuju keharaman, dan perbedaan pendapat para ulama tentang kehujjahannya sebagai dalil fiqih secara singkat.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

Daftar Pustaka

Al-Jaizani, Muhammad ibn Husain. 1428 H. I’mal Qa’idah Sadd adz-Dzarai’ fi Bab al-Bid’ah. Riyadh: Maktabah Dar al-Minhaj.

Az-Zuhaili , Wahbah. 1986. Ushul al-Fiqh al-Islami. Damaskus: Dar al-Fikr.

Hasan, Khalid Ramadhan. 1998. Mu’jam Ushul al-Fiqh. Mesir: ar-Raudhah.

Jama’ah min al-’Ulama. 1983. Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah Juz 2. Kuwait: Dar as-Salasil.

Jama’ah min al-’Ulama. 1992. Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah Juz 24. Mesir: Dar ash-Shafwah.

Syarifuddin, Amir. 2011. Ushul Fiqh. Jakarta: Kencana.

Menyelisihi Hadits – Hadits Shahih.


Penyebab ‘Ulama Menyelisihi Hadits-Hadits Shahih

Salah satu karya Syaikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah yang sangat menarik perhatian saya adalah kitab beliau yang berjudul

( رفع الملام عن الأئمة الأعلام )

Raf’ul Malaam ‘anil A-immatil A’laam

Kitab beliau ini memberi perhatian serius tentang sebab-sebab ikhtilaf para ‘ulama dan cara umat Islam menyikapi perbedaan pendapat para imam tersebut.

Perlu saya jelaskan di awal bahwa ‘ulama atau imam yang dimaksud di sini adalah para ‘ulama dan imam mujtahid, yang punya kemampuan memahami al-Qur’an dan as-Sunnah dengan metodologi yang benar.

Syeikh Ibnu Taimiyah di awal kitab beliau ini menjelaskan kewajiban umat Islam untuk bersikap loyal terhadap sesama kaum muslimin –setelah loyalitas kepada Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam–, terlebih lagi kepada para ‘ulama.

Karena ‘ulama merupakan pewaris para Nabi (ورثة الأنبياء ) yang Allah jadikan mereka laksana bintang yang menjadi penunjuk jalan dalam kegelapan di daratan dan lautan.

Bahkan umat Islam telah sepakat menjadikan ‘ulama sebagai panutan bagi mereka dalam petunjuk dan ilmu pengetahuan  ( وقد أجمع المسلمون على هدايتهم ودرايتهم )

Syeikh Ibnu Taimiyah pun menegaskan –dan ini yang sangat penting– bahwa tak ada seorang pun dari para imam yang memiliki kewenangan untuk menyelisihi sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara sengaja, sedikit apalagi banyak. Seluruh ‘ulama telah sepakat  (  متفقون اتفاقا يقينيا )  akan wajibnya ittiba’ kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setiap orang boleh diikuti perkataannya, boleh pula ditinggalkan, kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jika ada seorang ‘ulama yang kedapatan pendapatnya menyelisihi hadits-hadits shahih, menurut Syeikh Ibnu Taimiyah, tentu ada ‘udzr  ( sebab yang bisa ditolerir )  yang menyebabkannya meninggalkan hadits-hadits shahih tersebut.

Ini tentu berbeda dengan para pengikut hawa nafsu yang meninggalkan dan menyelisihi hadits-hadits shahih sekehendak hati mereka, tanpa ada ‘udzr.

Menurut Syeikh Ibnu Taimiyah, ada tiga ‘udzr yang menyebabkan ‘ulama menyelisihi hadits-hadits shahih, yaitu :

1. Tidak meyakini bahwa itu merupakan perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

( عدم اعتقاده أن النبي صلى الله عليه وسلم قاله ).

2. Tidak meyakini  bahwa yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah seperti itu

( عدم اعتقاده إرادة تلك المسألة بذلك القول ).

3. Meyakini bahwa hukum dalam hadits shahih tersebut telah terhapus

( اعتقاده أن ذلك الحكم منسوخ ).

Dari tiga ‘udzr tersebut, bisa dijabarkan lagi dalam beberapa sebab yang menjadikan seorang ‘ulama menyelisihi hadits-hadits shahih.

Sebab-sebab tersebut adalah:

1. Belum sampainya hadits tersebut kepadanya

( من لم يبلغه الحديث ).

2. Menurutnya derajat hadits tersebut belum jelas

( من لم يثبت عنده ).

3. Meyakini bahwa hadits tersebut dha’if

( اعتقاد ضعف الحديث ).

4. Ia berkomitmen dengan syarat-syarat khusus dalam pengambilan sebuah hadits

( التزام شروط خاصة في الأخذ به ).

5. Lupa dengan hadits tersebut

( نسيان الحديث ).

6. Belum mengetahui dilalah hadits tersebut

( عدم المعرفة بدلالة الحديث ).

7. Meyakini hadits tersebut tidak memiliki dilalah

( اعتقاد عدم دلالة الحديث ).

8. Meyakini adanya penyanggah terhadap dilalah hadits tersebut

( اعتقاد وجود المعارض له ).

9. Meyakini hadits tersebut kontradiktif dengan hadits lain

 ( اعتقاد معارضة الحديث لغيره ).

10. Menganggap hadits tersebut bertentangan dengan dalil lain yang menunjukkan kelemahannya, atau ke­-mansukh-annya, dan seterusnya

 ( معارضته بما يدل على ضعفه أو نسخه إلخ ).

Inilah sepuluh sebab yang disebutkan oleh Syeikh Ibnu Taimiyah sebagai kemungkinan penyebab seorang ‘ulama meninggalkan atau menyelisihi hadits-hadits shahih.

Untuk memahami secara jelas masing-masing sebab di atas tentulah perlu pendalaman.

Di kitab Raf’ul Malaam ‘anil A-immatil A’laam, Syeikh Ibnu Taimiyah telah menjelaskan secara detail sepuluh sebab di atas.

Silakan merujuk ke kitab tersebut untuk mendalaminya.

Selain sepuluh sebab di atas, masih ada sebab-sebab lain.

Menurut Syeikh Ibnu Taimiyah, mungkin saja seorang ‘ulama mempunyai hujjah tertentu untuk meninggalkan pengamalan suatu hadits yang belum kita ketahui.

Seorang ‘ulama terkadang menunjukkan hujjah-nya, terkadang tidak menampakkannya.

Kalaupun ia menampakkannya, terkadang sampai kepada kita, terkadang juga tidak.

Jika pun sampai kepada kita, terkadang kita dapat memahami hujjah sang ‘ulama, terkadang juga tidak. Baik hujjah tersebut benar, ataupun keliru.

Namun bagi kita, Syeikh Ibnu Taimiyah memberi pesan, kita tak boleh menyimpang dari pendapat yang jelas hujjah-nya berdasarkan hadits shahih, yang telah disepakati oleh sebagian ‘ulama, lalu beralih kepada pendapat lain yang dimiliki oleh seorang ‘ulama yang belum nampak hujjah­-nya, meskipun ia lebih ‘alim.

 http://abufurqan.com/2011/09/28/penyebab-%E2%80%98ulama-menyelisihi-hadits-hadits-shahih/

Al-Imam al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbali berkata dalam kitabnya, Bayan Fadhl ‘Ilm al-Salaf ‘ala ‘Ilm al-Khalaf ( hal. 57 ):

Adapun para imam dan fuqaha ahli hadits, mereka mengikuti hadits shahih di mana pun berada, apabila hadits tersebut diamalkan oleh para sahabat dan generasi sesudahnya, atau diamalkan oleh sekelompok mereka. Adapun hadits shahih yang disepakati ditinggalkan oleh kaum salaf, maka tidak boleh diamalkan. Karena mereka tidak meninggalkan hadits tersebut, melainkan setelah mengetahui bahwa hadits tersebut memang tidak diamalkan. Umar bin Abdul Aziz berkata: “ Ikutilah pendapat yang sesuai dengan pendapat orang-orang sebelum kalian, karena mereka lebih tahu dari pada kalian.”

Al-Hafidz Ibn Abdil Barr yang dikutip oleh Al-Qadhi Mundzir, dalam :  Jami’ Bayan Al-Ilm juz IIhal. 171.  bahwa Ibn Abdil Barr mencela dua golongan :

Pertama , golongan yang tenggelam dalam Ra’yu dan berpaling dari Sunnah  Kedua, golongan yang sombong yang berlagak pintar padahal bodoh ‘’     ( dalam menyampaikan Hadits, tetapi tidak mengetahui isinya ).

 Ibn Al-Qoyyim Al-Jawziyah berkata dalam I’lamu Al-Muwaqqi’in juz Ihal. 44, dari Imam Ahmad, bahwa beliau berkata :

’’ Jika seseorang memiliki kitab karangan yang didalamnya termuat sabda Nabi saw, perbedaan Sahabat dan Tabi’in, maka ia tidak boleh mengamalkan dan menetapkan sekehendak hatinya sebelum menanyakannya pada Ahli Ilmu, mana yang dapat diamalkan dan mana yang tidak dapat diamalkan, sehingga orang tersebut dapat mengamalkan dengan benar .

 o0o

AKHLAK / TATAKRAMA – BERDAKWAH DALAM BERPENDAPAT PARA SALAFUSH SHALIH.

 

Imam Sufyan ats Tsauri Rahimahullah / dikutip oleh Imam Abu Nu’aim [ Abu Hanifah ]

Jika engkau melihat seorang melakukan perbuatan yang masih diperselisihkan, padahal engkau punya pendapat lain, maka janganlah kau mencegahnya.[ Hilyatul Auliya’, 3/ 133 ]

Imam An Nawawi asy-Syafi’i Rahimahullah:

Dan Adapun yang terkait masalah ijtihad, tidak mungkin orang awam menceburkan diri ke dalamnya , mereka tidak boleh mengingkarinya, tetapi itu tugas ulama. Kemudian, para ulama hanya mengingkari dalam perkara yang disepakati para imam.

 Adapun dalam perkara yang masih diperselisihkan, maka tidak boleh ada pengingkaran di sana. Karena berdasarkan dua sudut pandang setiap mujtahid adalah benar.

Ini adalah sikap yang dipilih olah mayoritas para ulama peneliti (muhaqqiq).

Sedangkan pandangan lain mengatakan bahwa yang benar hanya satu, dan yang salah kita tidak tahu secara pasti, dan dia telah terangkat dosanya.[  Syarah an Nawawi ‘ala Muslim,1/131  ]

 Imam As Suyuthi asy-Syafi’i Rahimahullah.

Kaidah yang ke-35,Tidak boleh ada pengingkaran terhadap masalah yang masih diperselisihkan. Sesungguhnya pengingkaran hanya berlaku pada pendapat yang bertentangan dengan ijma’ / kesepakatan . para ulama.[  Al Asybah wa An Nazhair,1/285 ]

 Dr. Umar bin Abdullah Kamil – Syaikh Al-Azhar.

Telah ada perselisihan sejak lama pada masa para imam besar panutan: Abu Hanifah, Malik, Asy Syafi’i, Ahmad, Ats Tsauri, Al Auza’i, dan lainnya.

Tak satu pun mereka memaksa / mempengaruhi yang lain untuk mengubah agar mengikuti pendapatnya, atau melemparkan tuduhan / fitnah terhadap keilmuan mereka, atau terhadap agama mereka, lantaran perselisihan itu.” [ Adab al Hiwar wal Qawaid al Ikhtilaf, hal. 32 ]

Ijtihad itu, jika dilakukan sesuai dengan dasar-dasar ijtihad dan manhaj istimbat ( konsep penarikan kesimpulan hukum ) dalam kajian ushul fiqh ( dasar-dasar fiqh ), maka wajib menghilangkan sikap pengingkaran atas hal ini.

Tidak boleh seorang mujtahid mengingkari / merendahkan mujtahid lainnya, dan tidak boleh seorang muqallid ( pengekor/yang taqlid ) mengingkari / merendahkan muqallid lainnya, jika tidak demikian maka akan terjadi fitnah / Perpecahan[ Adab al Hiwar wal Qawaid al Ikhtilaf, hal. 43 ]

Imam Adz Dzahabi asy-Syafi’i Rahimahullah berkata:

Berkata Ibnu Al Junaid al-Baghdadi: “Aku mendengar Yahya bin Ma’in berkata: Pengharaman nabidz (air perasan anggur) adalah benar, tetapi aku tidak mau mengomentarinya, dan aku tidak mengharamkannya.

Segolongan orang shalih telah meminumnya dengan alasan hadits-hadits shahih, dan segolongan orang shalih lainnya mengharamkannya dengan dalil hadits-hadits yang shahih pula.”  [ Siyar A’lam an Nubala, Juz. 11, Hal. 88. Cet.9, 1993M-1413H. Mu’asasah Ar Risalah, Beirut-Libanon ]

Apabila ada seorang hakim mengadili maka ia berijtihad, lalu ia benar (dalam ijtihadnya) maka ia mendapatkan dua pahala, apapbila ia mengadili maka ia berijtihad, lalu ia salah maka ia mendapatkan satu pahala.[ HR. Bukhari 7352 dan Muslim 1716 ]

Ketika terjadi ikhtilaf antar ulama, apalagi ulama mu’tabar, tentu yang harus dikedepankan adalah adab  ikhtilaf.

Setiap kalian beramal dengan kesanggupannya, dan Tuhanmulah yang paling tahu siapa yang paling benar jalannya.[ Al-Isra :84 ]

 ooo