Sayyidu lIstighfar 1.


 

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي, لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ, خَلَقْتَنِي, وَأَنَا عَبْدُكَ, وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اِسْتَطَعْتُ, أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ, أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ, وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي, فَاغْفِرْ لِي; فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ اَلذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ

 

(Allahumma Anta Robbi, Laa Ilaaha Illa Anta, Kholaqtani wa ana abduKa, wa ana ‘alaa ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu, Audzubika min syarri maa shona’tu, Abu’u laka bi ni’matiKa ‘alaiyya wa abu’u laKa bidzanbi faghfirlii fainnahu laa yaghfiru dzunuuba illa Anta )

”Ya Allah Engkau adalah Tuhanku, Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Engkau, Engkau yang menciptakanku sedang aku adalah hamba-Mu dan aku diatas ikatan janji -Mu (yaitu selalu menjalankan perjanjian-Mu untuk beriman dan ikhlas dalam menjalankan amal ketaatan kepada-Mu) dengan semampuku, aku berlindung kepadamu dari segala kejahatan yang telah aku perbuat, aku mengakui-Mu atas nikmat-Mu terhadap diriku dan aku mengakui dosaku pada-Mu, maka ampunilah aku, sesungguhnya tiada yang boleh mengampuni segala dosa kecuali Engkau”.
– See more at: http://www.voa-islam.com/read/doa/2010/01/21/2797/keutamaan-sayyidul-istighfar/#sthash.VWDVXa9l.dpuf
=========================
Kamis, 26 Jumadil Akhir 1435 H / 21 Januari 2010 16:30 wib
Keutamaan Sayyidul Istighfar
SAYYIDUL ISTIGHFAR
اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي, لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ, خَلَقْتَنِي, وَأَنَا عَبْدُكَ, وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اِسْتَطَعْتُ, أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ, أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ, وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي, فَاغْفِرْ لِي; فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ اَلذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ
(Allahumma Anta Robbi, Laa Ilaaha Illa Anta, Kholaqtani wa ana abduKa, wa ana ‘alaa ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu, Audzubika min syarri maa shona’tu, Abu’u laka bi ni’matiKa ‘alaiyya wa abu’u laKa bidzanbi faghfirlii fainnahu laa yaghfiru dzunuuba illa Anta )

”Ya Allah Engkau adalah Tuhanku, Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Engkau, Engkau yang menciptakanku sedang aku adalah hamba-Mu dan aku diatas ikatan janji -Mu (yaitu selalu menjalankan perjanjian-Mu untuk beriman dan ikhlas dalam menjalankan amal ketaatan kepada-Mu) dengan semampuku, aku berlindung kepadamu dari segala kejahatan yang telah aku perbuat, aku mengakui-Mu atas nikmat-Mu terhadap diriku dan aku mengakui dosaku pada-Mu, maka ampunilah aku, sesungguhnya tiada yang boleh mengampuni segala dosa kecuali Engkau”.

Kapan membacanya?

Barangsiapa mengucapkannya disiang hari dalam keadaan yakin dengannya kemudian dia mati pada hari itu sebelum petang hari, maka dia termasuk penduduk syurga dan siapa yang mengucapkannya di waktu malam hari dalam keadaan dia yakin dengannya, kemudian dia mati sebelum shubuh maka dia termasuk penduduk syurga.” (HR. Al-Bukhari – Fathul Baari 11/97)
Kandungan maknanya?

Ini adalah doa agung yang mencakup banyak makna : taubat, merendahkan diri kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala dan kembali menghadap kepada-Nya. Nabi Shalallahu ‘alahi wa Sallam menamainya sebagai Sayyidul Istighfar (penghulu istighfar), yang demikian itu karena melebihi seluruh bentuk istighfar dalam hal keutamaan. Dan lebih tinggi dalam hal kedudukan.
Diantara makna sayyid adalah orang yang melebihi kaumnya dalam hal kebaikan dan yang berkedudukan tinggi dikalangan mereka.

Keutamaan doa ini dibanding bentuk istighfar yang lain adalah :
– Nabi Shallalahu ‘alahi wasallam mengawalinya dengan pujian kepada Allah dan pengakuan bahwa dirinya adalah hamba Allah sebagai makhluk ciptaan-Nya (penetapan Tauhid Ar Rububiyyah), Dan bahwa Allah adalah Al Ma’buud (sesembahan) yang haq dan tidak ada sesembahan yang haq selainNya. Maka Dia adalah satu-satunya yang berhak diibadahi dan ini merupakan realisasi Tauhid Al Uluhiyyah.
– Pernyataannya bahwa ia senantiasa tegak diatas janji dan kokoh diatas ikatan berupa iman kepada Allah, kitab-kitab-Nya, seluruh nabi dan rasul-Nya. Menjalankan segenap ketaatan kepada Allah dan perintah-Nya. Ia akan menjalaninya sesuai kemampuan dan kesanggupannya.
– Kemudian dia berlindung kepada Allah Subhanahu Wa Ta’alaa dari seluruh kejelekan apa yang telah dia perbuat, baik sikap kurang dalam menjalani apa yang Allah wajibkan baginya yaitu mensyukuri nikmat-Nya ataupun berupa perbuatan dosa. Dalam hal ini Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menisbatkan keburukan kepada diri beliau sendiri, bukan kepada Allah Ta’alaa dan ini merupakan bentuk cara beradab kepada Allah, meskipun kita yakin bahwa segala sesuatu baik yang baik maupun yang buruk semuanya berasal dari Allah dan karena takdirNya.
– Kemudian ia mengakui akan nikmat Allah yang terus datang beruntun dan anugerah-Nya serta pemberian -Nya yang tiada pernah berhenti.
– Dan dia mengakui atas dosa-dosanya, sehingga iapun lantas memohon ampunan kepada Allah Suhhanahu wa Ta’ala dari itu semua dengan segenap pengakuannya bahwa tidak ada yang bisa mengampuni segala dosa kecuali Allah Suhhanahu wa Ta’ala.

Ini adalah paling sempurna apa yang ada pada sebuah doa. Kerana itu ia menjadi seagung-agungnya bentuk istighfar dan yang paling utama dan paling luas kandungan maknanya yang mesti akan mendatangkan ampunan bagi dosa-dosa.

Hanyalah yang mengucapkan doa ini dan menjaganya yang akan memperoleh janji yang mulia dan pahala serta ganjaran besar ini, karena ia telah membuka harinya dan menutupnya dengan penetapan Tauhidullah baik Rububiyyah-Nya dan Ululhiyyah-Nya. Dan pengakuan dirinya sebagai hamba yang siap menghamba dan persaksiannya terhadap anugerah dan nikmat Allah. Pengakuannya dan kesadarannya akan kekurangan-kekurangan dirinya dan permohonan maaf dan ampunan dari Dzat yang Maha Pengampun, diiringi dengan rasa tunduk dan rendah dihadapan-Nya untuk senantiasa patuh dan taat kepada-Nya. Ini semua merupakan cakupan makna yang utama dan sifat yang mulia yang ia buka dan tutup lembaran siangnya. Yang pantas bagi orang yang mengucapkan dan menjaganya mendapat maaf dan ampunan, terbebas dari neraka dan masuk syurga.
Wallahu a’lam bisshowab.
Kita memohon kepada Allah Yang Maha Mulia keutamaan dan anugerah-Nya.
(Lihat kitab Fiqhul Ad’iyyah wal adzkar II/17-20. As Syaikh Abdur Rozaq bin abdil Muhsin Al Badr. )
– See more at: http://www.voa-islam.com/read/doa/2010/01/21/2797/keutamaan-sayyidul-istighfar/#sthash.dms0KqRO.dpuf

Keutamaan Sayyidul Istighfar

SAYYIDUL ISTIGHFAR

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي, لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ, خَلَقْتَنِي, وَأَنَا عَبْدُكَ, وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اِسْتَطَعْتُ, أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ, أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ, وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي, فَاغْفِرْ لِي; فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ اَلذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ

(Allahumma Anta Robbi, Laa Ilaaha Illa Anta, Kholaqtani wa ana abduKa, wa ana ‘alaa ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu, Audzubika min syarri maa shona’tu, Abu’u laka bi ni’matiKa ‘alaiyya wa abu’u laKa bidzanbi faghfirlii fainnahu laa yaghfiru dzunuuba illa Anta )

”Ya Allah Engkau adalah Tuhanku, Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Engkau, Engkau yang menciptakanku sedang aku adalah hamba-Mu dan aku diatas ikatan janji -Mu (yaitu selalu menjalankan perjanjian-Mu untuk beriman dan ikhlas dalam menjalankan amal ketaatan kepada-Mu) dengan semampuku, aku berlindung kepadamu dari segala kejahatan yang telah aku perbuat, aku mengakui-Mu atas nikmat-Mu terhadap diriku dan aku mengakui dosaku pada-Mu, maka ampunilah aku, sesungguhnya tiada yang boleh mengampuni segala dosa kecuali Engkau”.

Kapan membacanya?
Barangsiapa mengucapkannya disiang hari dalam keadaan yakin dengannya kemudian dia mati pada hari itu sebelum petang hari, maka dia termasuk penduduk syurga dan siapa yang mengucapkannya di waktu malam hari dalam keadaan dia yakin dengannya, kemudian dia mati sebelum shubuh maka dia termasuk penduduk syurga.” (HR. Al-Bukhari – Fathul Baari 11/97)

Kandungan maknanya?
Ini adalah doa  agung yang mencakup banyak makna : taubat, merendahkan diri kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala dan kembali menghadap kepada-Nya. Nabi Shalallahu ‘alahi wa Sallam menamainya sebagai Sayyidul Istighfar (penghulu istighfar), yang demikian itu karena  melebihi seluruh bentuk istighfar dalam hal keutamaan. Dan lebih tinggi dalam hal kedudukan.
Diantara makna sayyid adalah orang yang melebihi kaumnya dalam hal kebaikan dan yang berkedudukan tinggi dikalangan mereka.
Keutamaan doa ini dibanding bentuk istighfar yang lain adalah :

– Nabi Shallalahu ‘alahi wasallam mengawalinya dengan pujian kepada Allah dan pengakuan bahwa dirinya adalah hamba Allah sebagai makhluk ciptaan-Nya (penetapan Tauhid Ar Rububiyyah), Dan bahwa Allah adalah Al Ma’buud (sesembahan) yang haq dan tidak ada sesembahan yang haq  selainNya. Maka Dia adalah satu-satunya yang berhak diibadahi dan ini merupakan realisasi Tauhid Al Uluhiyyah.

– Pernyataannya bahwa ia senantiasa tegak diatas janji dan kokoh diatas ikatan berupa iman kepada Allah, kitab-kitab-Nya, seluruh nabi dan rasul-Nya. Menjalankan segenap ketaatan kepada Allah dan perintah-Nya. Ia akan menjalaninya sesuai kemampuan dan kesanggupannya.

– Kemudian dia berlindung kepada Allah Subhanahu Wa Ta’alaa dari seluruh kejelekan apa yang telah dia perbuat, baik sikap kurang dalam menjalani apa yang Allah wajibkan baginya yaitu mensyukuri nikmat-Nya ataupun berupa perbuatan dosa. Dalam hal ini Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menisbatkan keburukan kepada diri beliau sendiri, bukan kepada Allah Ta’alaa dan ini merupakan bentuk cara beradab kepada Allah, meskipun kita yakin bahwa segala sesuatu baik yang baik maupun yang buruk semuanya berasal dari Allah dan karena takdirNya.

– Kemudian ia mengakui akan nikmat Allah yang terus datang beruntun dan anugerah-Nya serta pemberian -Nya yang tiada pernah berhenti.

– Dan dia mengakui atas dosa-dosanya, sehingga iapun lantas memohon ampunan kepada Allah Suhhanahu wa Ta’ala dari itu semua dengan segenap pengakuannya bahwa tidak ada yang bisa mengampuni segala dosa kecuali Allah Suhhanahu wa Ta’ala.

Ini adalah paling sempurna apa yang ada pada sebuah doa. Kerana itu ia menjadi seagung-agungnya bentuk istighfar dan yang paling utama dan paling luas kandungan maknanya yang mesti akan mendatangkan ampunan bagi dosa-dosa.

Hanyalah yang mengucapkan doa ini dan menjaganya yang akan memperoleh janji yang mulia dan pahala serta ganjaran besar ini, karena ia telah membuka harinya dan menutupnya dengan penetapan Tauhidullah baik Rububiyyah-Nya dan Ululhiyyah-Nya. Dan pengakuan dirinya sebagai hamba yang siap menghamba dan persaksiannya terhadap anugerah dan nikmat Allah. Pengakuannya dan kesadarannya akan kekurangan-kekurangan dirinya dan permohonan maaf dan ampunan dari Dzat yang Maha Pengampun, diiringi dengan rasa tunduk dan rendah dihadapan-Nya untuk senantiasa patuh dan taat kepada-Nya. Ini semua merupakan cakupan makna yang utama dan sifat yang mulia yang ia buka dan tutup lembaran siangnya. Yang pantas bagi orang yang mengucapkan dan menjaganya mendapat maaf dan ampunan, terbebas dari neraka dan masuk syurga.

Wallahu a’lam bisshowab.

Kita memohon kepada Allah Yang Maha Mulia  keutamaan dan anugerah-Nya.

(Lihat kitab Fiqhul Ad’iyyah wal adzkar II/17-20. As Syaikh Abdur Rozaq bin abdil Muhsin Al Badr. )

– See more at: http://www.voa-islam.com/read/doa/2010/01/21/2797/keutamaan-sayyidul-istighfar/#sthash.dms0KqRO.dpuf

Keutamaan Sayyidul Istighfar

SAYYIDUL ISTIGHFAR

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي, لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ, خَلَقْتَنِي, وَأَنَا عَبْدُكَ, وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اِسْتَطَعْتُ, أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ, أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ, وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي, فَاغْفِرْ لِي; فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ اَلذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ

(Allahumma Anta Robbi, Laa Ilaaha Illa Anta, Kholaqtani wa ana abduKa, wa ana ‘alaa ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu, Audzubika min syarri maa shona’tu, Abu’u laka bi ni’matiKa ‘alaiyya wa abu’u laKa bidzanbi faghfirlii fainnahu laa yaghfiru dzunuuba illa Anta )

”Ya Allah Engkau adalah Tuhanku, Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Engkau, Engkau yang menciptakanku sedang aku adalah hamba-Mu dan aku diatas ikatan janji -Mu (yaitu selalu menjalankan perjanjian-Mu untuk beriman dan ikhlas dalam menjalankan amal ketaatan kepada-Mu) dengan semampuku, aku berlindung kepadamu dari segala kejahatan yang telah aku perbuat, aku mengakui-Mu atas nikmat-Mu terhadap diriku dan aku mengakui dosaku pada-Mu, maka ampunilah aku, sesungguhnya tiada yang boleh mengampuni segala dosa kecuali Engkau”.

Kapan membacanya?
Barangsiapa mengucapkannya disiang hari dalam keadaan yakin dengannya kemudian dia mati pada hari itu sebelum petang hari, maka dia termasuk penduduk syurga dan siapa yang mengucapkannya di waktu malam hari dalam keadaan dia yakin dengannya, kemudian dia mati sebelum shubuh maka dia termasuk penduduk syurga.” (HR. Al-Bukhari – Fathul Baari 11/97)

Kandungan maknanya?
Ini adalah doa  agung yang mencakup banyak makna : taubat, merendahkan diri kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala dan kembali menghadap kepada-Nya. Nabi Shalallahu ‘alahi wa Sallam menamainya sebagai Sayyidul Istighfar (penghulu istighfar), yang demikian itu karena  melebihi seluruh bentuk istighfar dalam hal keutamaan. Dan lebih tinggi dalam hal kedudukan.
Diantara makna sayyid adalah orang yang melebihi kaumnya dalam hal kebaikan dan yang berkedudukan tinggi dikalangan mereka.
Keutamaan doa ini dibanding bentuk istighfar yang lain adalah :

– Nabi Shallalahu ‘alahi wasallam mengawalinya dengan pujian kepada Allah dan pengakuan bahwa dirinya adalah hamba Allah sebagai makhluk ciptaan-Nya (penetapan Tauhid Ar Rububiyyah), Dan bahwa Allah adalah Al Ma’buud (sesembahan) yang haq dan tidak ada sesembahan yang haq  selainNya. Maka Dia adalah satu-satunya yang berhak diibadahi dan ini merupakan realisasi Tauhid Al Uluhiyyah.

– Pernyataannya bahwa ia senantiasa tegak diatas janji dan kokoh diatas ikatan berupa iman kepada Allah, kitab-kitab-Nya, seluruh nabi dan rasul-Nya. Menjalankan segenap ketaatan kepada Allah dan perintah-Nya. Ia akan menjalaninya sesuai kemampuan dan kesanggupannya.

– Kemudian dia berlindung kepada Allah Subhanahu Wa Ta’alaa dari seluruh kejelekan apa yang telah dia perbuat, baik sikap kurang dalam menjalani apa yang Allah wajibkan baginya yaitu mensyukuri nikmat-Nya ataupun berupa perbuatan dosa. Dalam hal ini Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menisbatkan keburukan kepada diri beliau sendiri, bukan kepada Allah Ta’alaa dan ini merupakan bentuk cara beradab kepada Allah, meskipun kita yakin bahwa segala sesuatu baik yang baik maupun yang buruk semuanya berasal dari Allah dan karena takdirNya.

– Kemudian ia mengakui akan nikmat Allah yang terus datang beruntun dan anugerah-Nya serta pemberian -Nya yang tiada pernah berhenti.

– Dan dia mengakui atas dosa-dosanya, sehingga iapun lantas memohon ampunan kepada Allah Suhhanahu wa Ta’ala dari itu semua dengan segenap pengakuannya bahwa tidak ada yang bisa mengampuni segala dosa kecuali Allah Suhhanahu wa Ta’ala.

Ini adalah paling sempurna apa yang ada pada sebuah doa. Kerana itu ia menjadi seagung-agungnya bentuk istighfar dan yang paling utama dan paling luas kandungan maknanya yang mesti akan mendatangkan ampunan bagi dosa-dosa.

Hanyalah yang mengucapkan doa ini dan menjaganya yang akan memperoleh janji yang mulia dan pahala serta ganjaran besar ini, karena ia telah membuka harinya dan menutupnya dengan penetapan Tauhidullah baik Rububiyyah-Nya dan Ululhiyyah-Nya. Dan pengakuan dirinya sebagai hamba yang siap menghamba dan persaksiannya terhadap anugerah dan nikmat Allah. Pengakuannya dan kesadarannya akan kekurangan-kekurangan dirinya dan permohonan maaf dan ampunan dari Dzat yang Maha Pengampun, diiringi dengan rasa tunduk dan rendah dihadapan-Nya untuk senantiasa patuh dan taat kepada-Nya. Ini semua merupakan cakupan makna yang utama dan sifat yang mulia yang ia buka dan tutup lembaran siangnya. Yang pantas bagi orang yang mengucapkan dan menjaganya mendapat maaf dan ampunan, terbebas dari neraka dan masuk syurga.

Wallahu a’lam bisshowab.

Kita memohon kepada Allah Yang Maha Mulia  keutamaan dan anugerah-Nya.

(Lihat kitab Fiqhul Ad’iyyah wal adzkar II/17-20. As Syaikh Abdur Rozaq bin abdil Muhsin Al Badr. )

– See more at: http://www.voa-islam.com/read/doa/2010/01/21/2797/keutamaan-sayyidul-istighfar/#sthash.dms0KqRO.dpuf

LPG – EL PI JI


LPG merupakan bahan bakar berupa gas yang dicairkan (Liquified Petroleum Gasses) merupakan produk minyak bumi yang diperoleh dari proses distilasi bertekanan tinggi. Fraksi yang digunakan sebagai umpan dapat berasal dari beberapa sumber yaitu dari Gas alam maupun Gas hasil dari pengolahan minyak bumi (Light End). Komponen utama LPG terdiri dari Hidrokarbon ringan berupa Propana (C3H8) dan Butana (C4H10), serta sejumlah kecil Etana (C2H6,) dan Pentana (C5H12).

LPG digunakan sebagai bahan bakar untuk rumah tangga dan industri. LPG terutama digunakan oleh masyarakat tingkat menengah keatas yang kebutuhannya semakin meningkat dari tahun ketahun karena termasuk bahan bakar yang ramah lingkungan. Sebagai bahan bakar untuk keperluan rumah tangga, LPG harus memenuhi beberapa persyaratan khusus dengan tujuan agar aman dipakai dalam arti tidak membahayakan bagi si pemakai dan tidak merusak peralatan yang digunakan serta effisien dalam pemakaiannya.

Oleh sebab itu untuk menjaga faktor keselamatan, LPG dimasukan ke dalam tabung yang tahan terhadap tekanan yang terbuat dari besi baja dan dilengkapi dengan suatu pengatur tekanan. Disamping itu untuk mendeteksi terjadinya kebocoran LPG, maka LPG sebelum dipasarkan terlebih dahulu ditambahkan zat pembau (odor) sehingga apabila terjadi kebocoran segera dapat diketahui. Pembau yang ditambahkan harus melarut sempurna dalam LPG, tidak boleh mengendap. Untuk maksud itu digunakan etil merkaptan (C2H5SH) atau butil merkaptan (C4H9SH). Sedangkan dibidang industri produk elpiji digunakan sebagai pengganti freon, aerosol, refrigerant / cooling agent, kosmetik dan dapat pula digunakan sebagai bahan baku produk khusus.

Jenis LPG

Sesuai dengan penggunaannya sebagai bahan bakar elpiji dibedakan atas:

    1. LPG Mix

Adalah camuran propane dan butana dengan komposisi antara 70- 80% dan 20-30% volume dan diberi odorant (Mercaptant) dan umumnya digunakan untuk bahan bakar rumah tangga.

    1. LPG propane dan Elpiji butana.

Adalah elpiji yang masing-masing mengandung propane 95 % dan butana 97,5 % volume dan diberi odorant (mercaptant), umumnya digunakan untuk keperluan industri.

Persyaratan LPG


 

Syarat-syarat utama dalam pemakaian LPG adalah harus dipenuhinya:

  1. Syarat Pembakaran

Pada saat digunakan sebagai bahan bakar untuk kompor LPG harus memberi warna api kompor yang biru dan tidak memberi asap. Agar api kompor berwarna biru, maka komposisi campuran propana dan butana harus minimum 97,5%. Sebaliknya jika LPG mengandung fraksi C5+(C6 heavier) lebih dari maksimumnya yaitu 2,0% maka nyala api kompor agak kemerah-merahan. Jadi agar syarat pembakaran menjadi baik maka komposisi C2 harus maksimum 0,2% vol, C3 dan C4 minimum 97,5% vol serta kandungan C5+(C6 heavier) maksimum 2,0% vol.

  1. Syarat Penguapan

Kemampuan menguap adalah sifat penting dalam penggunaan, LPG harus cukup mudah menguap agar mudah dinyalakan diwaktu dingin. Seperti diketahui saat dalam tabung gas LPG adalah berbentuk cair, namun saat dipakai dalam kompor (pada tekanan atmosfer) dengan cepat LPG berubah menjadi gas. Untuk memenuhi persyaratan penguapan maka Tekanan Uap LPG tidak boleh lebih dari 120 psig.

  1. Syarat Keselamatan

Dalam pemakaiannya sebagai bahan bakar rumah tangga, jika terjadi kebocoran maka LPG harus cepat dapat dideteksi dengan diberi bau yang khas, agar baunya cepat dikenali saat terjadi kebocoran maka pada LPG diberi campuran Ethyl atau Buthyl mercaptan sebanyak 50/100 AG.

Saat masih di pabrik, jika terjadi kebocoran LPG di malam hari akan sangat berbahaya, karena Spesific Grafity LPG sama dengan atau lebih besar dari SG udara, maka LPG akan terdistribusi merata di atas tanah pada malam hari.

Untuk menjaga agar cairan LPG tidak merusak tabung gas dalam penyimpanan atau merusak kompor dalam penggunaannya dengan terjadinya proses pengkaratan maka harus ada persyaratan pemeriksaan Copper strip pada 100oF selama 1 jam dengan nilai maksimum No. 1.

  1. Syarat Kebersihan

Syarat kebersihan secara umum adalah dibatasinya kandungan air dan kandungan belerang, dimaksudkan agar pada penggunaannya LPG tidak memberikan kotoran sama sekali.

Sifat LPG

Perlu diketahui, gas LPG bersifat flammable (mudah terbakar). Dalam batas flammabality, LPG adalah sumber api yang terbuka. Sehingga letupan (percikan api) yang sekecil apapun dapat segera menyambar gas LPG.

Maka untuk menjaga keamanan pastikan bahwa bau gas LPG telah hilang sama sekali dari dalam rumah, walaupun membutuhkan waktu yang agak lama. Hal ini karena sifat gas LPG yang sangat lamban berputar di udara.

Sebagai bahan bakar, gas LPG mudah terbakar apabila terjadi persenyawaan di udara. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan perlu diketahui beberapa sifat khususnya.

  1. Tekanan gas LPG cukup besar, sehingga bila terjadi kebocoran LPG akan membentuk gas secara cepat, memuai dan sangat mudah terbakar.

  2. LPG menghambur di udara secara perlahan sehingga sukar mengetahuinya secara dini.

  3. Berat jenis LPG lebih besar dari pada udara sehingga cenderung bergerak kebawah.

  4. LPG tidak mengandung racun.

  5. Daya pemanasannya cukup tinggi, namun tidak meninggalkan debu dan abu (sisa pembakaran).

  6. Cara penggunaannya cukup mudah dan praktis.

Parameter Uji dan Spesifikasi LPG

Parameter uji LPG beserta spesifikasinya sebagai berikut:

Analisa

Satuan

Metoda

Min

Max

Specific Gravity at 60 / 60oF

ASTM D-1657

To be Reported

Komposisi:

ASTM D-2163

C2

%Vol

0,2

C3 + C4

%Vol

97,5

C5 + (C5 and heavier)

%Vol

2,0

RVP at 100oF

psi

ASTM D-1267

120

Weathering test at 36oF

%Vol

ASTM D-1837

95

Total Sulfur

grams/100cuft

ASTM D-2784

15+)

Copper Corrosion 1 hours/1000F

ASTM D-1838

No. 1

Ethyl or Buthyl Mercaptan added

mL/1000 AG

50*)

Water Content

Visual

No Free Water

+) Sebelum ditambah ethyl atau buthyl mercaptan

*) Tidak dilakukan di laboratorium

Ref. Dirjen migas no. 25K/36/DDJM/1990,Tgl. 14 Mei 1990

Proses Pemisahan LPG

Proses pemisahan LPG berlangsung pada tekanan tinggi dan terjadi pada dua buah kolom pemisahan yaitu:

  1. Deethanizer

Deethanizer adalah proses pemisahan kandungan gas etana yang terkandung didalam umpan yang berasal dari puncak kolom stabilizer pada proses distilasi, dengan menggunakan prinsip distilasi bertekanan tinggi. Pada proses Deethanizer ini akan beroperasi dengan baik apabila semua etana yang terkandung dapat dipisahkan, sedang cairan di dasar kolom yang berupa cairan propana dan butana akan dipisahkan di kolom Depropanizer, sedang gas

etana akan keluar dari puncak kolom serta dialirkan sebagai gas sistim atau untuk diproses lebih lanjut.

  1. Depropanizer

Di kolom depropanizer ini umpannya dari cairan dasar kolom deethanizer yang akan dipisahkan antara Propana dan Butana, sistim proses di depropanizer dan di deethanizer sama, baik kondisi maupun peralatannya. Adapun proses depropanizer diatur dengan tekanan tinggi dan temperatur relatif rendah. Diharapkan fraksi ringan akan menguap dan keluar dari puncak kolom sebagai produk propana, sedang cairan yang ada didasar kolom sebagai produk Butana.

http://liguifiedpetroleumgas.blogspot.com/

Kesesatan Sekte Wahabi Kerajaan Arab Saudi


 

Perbedaan Antara Wahbiyyah dan Wahhabiyyah

Wahhabiyyah Rustumiyyah

Dongeng ini sangat populer di kalangan Salafi-Wahhabi, padahal cerita ini adalah fiktif belaka dan tidak lebih dari hanya sebuah dongeng semata, tapi aneh nya dongeng ini bukan saja di sukai oleh anak-anak, tapi justru sangat populer dan di sukai oleh Ustadz atau Syekh Salafi-Wahhabi, Cuma saja dongeng ini beredar dengan beragam judul, dikalangan Salafi-Wahhabi lebih sering didongengkan dengan judul Siapakah Wahhabi sesungguhnya ? dan Inilah Wahhabi Sesungguhnya dan bahkan karena terlalu terbawa dan percaya dengan dongeng populer Wahhabiyyah Rustumiyyah ini, tanpa mencari tau kebenaran nya, sebagian orang menyangka cerita fiktif tersebut adalah sebuah kenyataan, meskipun tidak bisa membuktikan kebenaran ceritanya, karena kebiasaan para pengikut mereka yang hanya bisa membaca tapi tidak mencari Fakta yang mengerikan, hanya bisa mendengar tak bisa berkomentar, sehingga dongeng tersebut terus disebarkan oleh orang-orang yang tidak punya malu dan tanggung jawab (semoga Allah membalasnya dengan balasan yang setimpal).

Dongeng Populer Wahhabiyyah Rustumiyyah ini menceritakan tentang ajaran seorang yang bernama Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum [208 H/823 M] atau konon disebut dengan nama Wahhabi, dan di akhir cerita di vonis sesat oleh seorang Ulama bernama Al-Lakhmi atau nama lengkap Ali bin Muhammad Al-Lakhmi [478 H/1085 M], adapun bila ada kesamaan nama atau sebutan dalam dongeng tersebut hanyalah sebuah kebetulan atau memang ada misi dibalik nama-nama tersebut, namun nama-nama dan sebutan dalam dongeng populer ini tidak ada hubungan dengan SalafiWahhabi dengan bermacam variannya, yang juga difatwakan sesat oleh Ulama Ahlus Sunnah Waljama’ah seluruh dunia, karena Wahhabi yang difatwakan sesat oleh Ulama Ahlus Sunnah sedunia adalah ajaran Syekh Muhammad bin Abdil Wahhab At-Tamimi An-Najdi [1206 H/1791M], sekali lagi bahwa Wahhabi dalam dongeng tersebut tidak ada hubungan apa pun dengan Wahhabi yang beredar disekeliling kita sekarang ini atau yang sering menyebut diri nya Salafimari kita ikuti dongeng populer ini sampai akhir, agar generasi kita tidak termakan oleh sebuah dongeng atau cerita yang tidak bisa dibuktikan kebenaran nya (semoga Allah menjaga kita semua dari fitnah Agama ini).

Begini Cerita nya !  Dongeng ini kami copas dari situs Syekh Salafi-Wahhabi, tapi ingat ini hanya sebuah dongeng ! harap baca sampai tuntas, agar tidak salah paham.

INILAH USTADZ SANG PENDUSTA

Yth – Abu Yahya Badrussalam. Lc.  

Lahir pada tanggal 27 April 1976 di desa Kampung Tengah, Cileungsi, Bogor, tempat dimana studio Radio Rodja berdiri.

Pendidikan

Pendidikan S1 di Universitas Islam Madinah Saudi Arabia Fakultas Hadits pada tahun 2001

Tampang BEGO dari Sang Pendusta…tapi dalam dirinya tersimpan kedengkian yang sangat teramat sangat kepada umat islam yang tidak sefaham

.

Dongeng Wahhabiyyah Rustumiyyah

(awal dongeng)– Cerita ini berawal dari dialog antara Syaikh Muhammad bin Sa’ad Asy Syuwai’ir dengan para masyaikh/dosen-dosen disuatu Universitas Islam di Maroko (tidak jelas Universitasnya).

Salah seorang Dosen itu berkata: Sungguh hati kami sangat mencintai Kerajaan Saudi Arabia , demikian pula dengan jiwa-jiwa dan hati-hati kaum muslimin sangat condong kepadanya,dimana setiap kaum muslimin sangat ingin pergi kesana, bahkan antara kami dengan kalian sangat dekat jaraknya. Namun sayang, kalian berada diatas suatu Sekte, yang kalau kalian tinggalkan tentu akan lebih baik, yaitu Sekte Wahhabi.”

Kemudian Asy Syaikh dengan tenangnya menjawab: Sungguh banyak pengetahuan yang keliru yang melekat dalam pikiran manusia, yang mana pengetahuan tersebut bukan diambil dari sumber-sumber yang terpercaya, dan mungkin kalian pun mendapat khabar-khabar yang tidak tepat dalam hal ini.

Baiklah, agar pemahaman kita bersatu, maka saya minta kepada kalian dalam diskusi ini agar mengeluarkan argumen-argumen yang diambil dari sumber-sumber yang terpercaya,dan saya rasa di Universitasini terdapat Perpustakaan yang menyediakan kitab-kitab sejarah islam terpercaya .Dan juga hendaknya kita semaksimal mungkin untuk menjauhi sifat Fanatisme dan Emosional.”

Dosen itu berkata : ”saya setuju denganmu, dan biarkanlah para Masyaikh yang ada dihadapan kita menjadi saksi dan hakim diantara kita.

Asy Syaikh berkata : saya terima, Setelah bertawakal kepada Allah, saya persilahkan kepada anda untuk melontarkan masalah sebagai pembuka diskusi kita ini.”

Dosen itu pun berkata :baiklah kita ambil satu contoh, ada sebuah fatwa yang menyatakan bahwa firqah Wahhabi adalah Firqah yang sesat. Disebutkan dalam kitab Al-Mi ’yar yang ditulis oleh Al Imam Al-Wansyarisi, beliau menyebutkan bahwa Al-Imam Al-Lakhmi pernah ditanya tentang suatu negeri yang disitu orang-orang Wahhabiyyun membangun sebuah masjid,”Bolehkan kita Sholat di Masiid yang dibangun olehorang-orang Wahhabi itu ??”maka Imam Al-Lakhmi pun menjawab:Firqah Wahhabiyyah adalah firqah yang sesat, yang masjidnya wajib untuk dihancurkan, karena mereka telah menyelisihi kepada jalannya kaum mu ’minin, dan telah membuat bid’ah yang sesat dan wajib bagi kaum muslimin untuk mengusir mereka dari negeri-negeri kaum muslimin ”.

Dosen itu berkata lagi :Saya rasa kita sudah sepakat akan hal ini, bahwa tindakan kalian adalah salah selama ini,”

Kemudian Asy Syaikh menjawab : Tunggu dulu..!! kita belum sepakat, lagipula diskusi kita ini baru dimulai, dan perlu anda ketahui bahwasannya sangat banyak fatwa yang seperti ini yang dikeluarkan oleh para ulama sebelum dan sesudah Al-Lakhmi, untuk itu tolong anda sebutkan terlebih dahulu kitab yang menjadi rujukan kalian itu !”

Dosen itu berkata: ”anda ingin saya membacakannya dari fatwanya saja, atau saya mulai dari sampulnya ??

Asy Syaikh menjawab:dari sampul luarnya saja.”

Dosen itu kemudian mengambil kitabnya dan membacakannya: ”Namanya adalah Kitab Al-Mi’yar , yang dikarang oleh Ahmad bin Muhammad Al-Wansyarisi. Wafat pada tahun 914 H dikota Fas, di Maroko.”

Kemudian Asy Syaikh berkata kepada salah seorang penulis di sebelahnya:wahai syaikh, tolong catat baik- baik, bahwa Imam Al-Wansyarisi wafat pada tahun 914 H. Kemudian bisakah anda menghadirkan Biografi Imam Al- Lakhmi ??

Dosen itu berkata:Ya,”kemudian dia berdiri menuju salah satu rak perpustakaan, lalu dia membawakan satu juz dari salah satu kitab-kitab yang mengumpulkan Biografi ulama. Didalam kitab tersebut terdapat Biografi Ali bin Muhammad Al-Lakhmi, seorang Mufti Andalusia dan Afrika Utara.

Kemudian Asy Syaikh berkata : Kapan beliau wafat?

Yang membaca kitab menjawab: ”beliau wafat pada tahun 478 H

Asy Syaikh berkata kepada seorang penulis tadi: wahai syaikh tolong dicatat tahun wafatnya Syaikh Al-Lakhmikemudian ditulis.

Lalu dengan tegasnya Asy Syaikh berkata : Wahai para masyaikh….!!! Saya ingin bertanya kepada antum semua …!!! Apakah mungkin ada ulama yang memfatwakan tentang kesesatan suatu kelompok yang belum datang (lahir) ???? kecuali kalau dapat wahyu????”

Mereka semua menjawab :Tentu tidak mungkin, Tolong perjelas lagi maksud anda !”

Asy syaikh berkata lagi : bukankah Wahhabi yang kalian anggap sesat itu adalah dakwahnya yang dibawa dan dibangun oleh Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab ????

Mereka berkata : ”Siapa lagi???

Asy Syaikh berkata:Coba tolong perhatikan..!!! Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab lahir pada tahun 1115 H dan wafat pada tahun 1206 H, …

Nah,ketika Al-Imam Al-Lakhmi berfatwa seperi itu, jauh RATUSAN TAHUN lamanya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab belum lahir. bahkan sampai 22 generasi keatas dari beliau sama belum yang lahir.apalagi berdakwah..

KAIF ??? GIMANA INI???…”

(Merekapun terdiam beberapa saat..)

Kemudian mereka berkata:Lalu sebenarnya siapa yang dimaksud Wahhabi oleh Imam Al-Lakhmi tersebut ??” mohon dijelaskan dengan dalil yang memuaskan, kami ingin mengetahui yang sebenarnya !

Asy Syaikh pun menjawab dengan tenang : Apakah anda memiliki kitab Al-Firaq Fii SyimalAfriqiya, yang ditulis oleh Al-Faradbil, seorang kebangsaan Perancis ?

Dosen itu berkata:Ya ini ada,

Asy Syaikh pun berkata :Coba tolong buka di huruf “ wawu ... maka dibukalah huruf tersebut dan munculah sebuah judul yang tertulis “ Wahhabiyyah

Kemudian Asy Syaikh menyuruh kepada Dosen itu untuk membacakan tentang biografi firqah Wahhabiyyah itu.

Dosen itu pun membacakannya: Wahhabi atau Wahhabiyyah adalah sebuah sekte KHAWARIJ ABADHIYYAH yang dicetuskan oleh Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum Al-Khoriji Al- Abadhi, Orang ini telah banyak menghapus Syari’at Islam, dia menghapus kewajiban menunaikan ibadah haji dan telah terjadi peperangan antara dia dengan beberapa orang yang menentangnya. Dia wafat pada tahun 197 H dikota Thorat di Afrika Utara.

Penulis mengatakan bahwa firqah ini dinamai dengan nama pendirinya, dikarenakan memunculkan banyak perubahan dan dan keyakinan dalam madzhabnya. Mereka sangat membenci Ahlussunnah.

Setelah Dosen itu membacakan kitabnya Asy Syaikh berkata :Inilah Wahhabi yang dimaksud oleh imam Al-Lakhmi, inilah Wahhabi yang telah memecah belah kaum muslimin dan merekalah yang difatwakan oleh para ulama Andalusia dan Afrika Utara sebagaimana yang telah kalian dapati sendiri dari kitab-kitab yang kalian miliki. Adapun Dakwah yang dibawa oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang didukung oleh Al-Imam Muhammad bin Su’ud-Rahimuhumallah   ,  maka dia bertentangan dengan amalan dakwah Khawarij, karena dakwah beliau ini tegak diatas kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih, dan beliau menjauhkan semua yang bertentangan dengan keduanya, mereka mendakwahkah tauhid, melarang berbuat syirik, mengajak umat kepada Sunnah dan menjauhinya kepada bid ’ah, dan ini merupakan Manhaj Dakwahnya para Nabi dan Rasul. “………………………………(akhir dongeng)

 

Itulah dongeng lengkap yang sering diceritakan oleh para Syekh Salafi-Wahhabi kepada pengikut setia mereka, hati-hati jangan terjebak oleh dongeng ini …..!!!

BENARKAH CERITA ITU SEBUAH DONGENG  

Dalam dongeng populer itu menceritakan bahwa ajaran Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum bernama Wahhabiyah nisbah kepada nama Abdul Wahhab, ternyata ajaran yang disebarkan oleh Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum itu bukan Wahhabiyyah ( الوهابيه ) tapi Wahbiyyah ( الوهبية ), lalu kenapa juga ajaran nya disebut Wahbiyyah ? apakah Wahbiyyah itu nisbah kepada Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum ? nah tentu saja bukan karena ajaran Wahbiyyah tersebut adalah nisbah kepada Abdullah bin Wahbi Ar-Rasibi (38 H) [عبد الله بن وهب الراسبي] [Lihat Al-Firaq Fii Syimal Afriqiya- halaman 145], lalu pecah kepada beberapa firqah, nah firqah nya Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum di sebut Wahbiyyah Rustumiyyah (bukan Wahhabiyyah Rustumiyyah), bahkan dalam kitab yang tersebut di atas (rujukan dalam dongeng) sangat jelas bahwa Al-Lakhmi di tanyakan tentang kaum Wahbiyyah, bukan tentang Wahhabiyyah, tetapi dalam dongeng disebutkan bahwa Al-Lakhmi ditanyakan tentang Wahhabiyyah, ini jelas-jelas tipuan dan pembodohan, simak penjelasan berikut ini :

Dalam kitab Tarikh Ibnu Khaldun juzuk II halaman 98, beliau berkata :

وكان يزيد قد أذل الخوارج ومهد البلاد فكانت ساكنة أيام روح ورغب في موادعة عبد الوهاب بن رستم وكان من الوهبية فوادعه

Perhatikan dari teks di atas

(ﻭﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻮﻫﺒﻴﺔ)

dan adalah Abdul Wahhab bin Rustum sebagian dari

 Wahbiyyah

Maksudnya, Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum adalah pengikut Wahbiyyah bukan Wahhabiyyah, dan juga bukan pendiri Wahbiyyah sehingga ada anggapan bahwa ajarannya bernama Wahhabiyyah nisbah kepada namanya Abdul Wahhab, sungguh anggapan yang sangat keliru.

Perbedaan antara Wahbiyyah dan Wahhabiyyah bagaikan langit dan bumi, ajuh ap dari panggang baik dari penulisan atau bacaannya, atau pun pada nisbah dan ajarannya, tapi kemiripan penulisan tulisan dan bacaannya membantu para Syekh Salafi-Wahhabi untuk menipu para simpatisan mereka, maka tertipulah orang-orang yang hanya bisa melihat tapi tak mau berpikir. (na’uzubillah).

Bahkan dalam Al-Mi’yaar al-Mu’rib wa al-Jaami’ al-Mughrib ‘an Fataawaa Ifriiqiyyah wa al-Andalus wa al-Maghrib juzuk 11 halaman 168 di tulis oleh Ahmad bin Yahya Al-Wansyarisi (sebagaimana rujukan dalam dongeng di atas)

وسئل اللخمي عن قوم من الوهبية سكنوا بين أظهر أهل السنة زمانا وأظهروا الآن مذهبهم وبنوا مسجدا ويجتمعون فيه ويظهرون مذهبهم في بلد فيه مسجد مبني لأهل السنة زمانا ، وأظهروا أنه مذهبهم وبنوا مسجدا يجتمعون فيه ويأتي الغرباء من كل جهة كالخمسين والستين ، ويقيمون عندهم ، ويعملون لهم بالضيافات ، وينفردون بالأعياد بوضع قريب من أهل السنة . فهل لمن بسط الله يده في الأرض الإنكار عليهم ، وضربهم وسجنهم حتى يتوبوا من ذلك ؟

Perhatikan dari teks di atas

(ﻭﺳﺌﻞ ﺍﻟﻠﺨﻤﻲ ﻋﻦ ﻗﻮﻡ ﻣﻦ ﺍﻟﻮﻫﺒﻴﺔ)

Dan Al-Lakhmi ditanyakan tentang satu kaum dari Wahbiyyah

MaksudnyaImam Al-Lakhmi ditanyakan tentang satu firqah dari Wahbiyyah, sementara dalam dongeng di atas disebutkan Al-Lakhmi ditanyakan tentang firqah Wahhabiyyah, sangat jelas ini tipuan belaka.

 Wahhabiyyah dalam penulisan bahasa Arab ber-tasydid pada (Ha) dan ada (Alif) di depan (Ha), sementara Wahbiyyah tulisan nya tidak ber-tasydid pada (Ha) dan tidak ada (Alif) di depan (Ha), maka fatwa Al-Lakhmi bukan tentang faham Wahhabiyyah, tapi tentang firqah Wahbiyyah, dan tidak ada hubungan antara  Wahhabiyyah dan Wahbiyyah Rustumiyyah ibadhiyyah.

Dan dalam buku seorang sejarawan asal  Perancis, sebagaimana rujukan dalam dongeng itu pula, yaitu Al-Firaq Fii Syimal Afriqiya, yang ditulis oleh Al-Faradbil [1364 H/1945 M], lihatlah penyimpangan cerita itu dengan apa yang tersebut dalam buku rujukan nya, ini tulisan Al-Faradbil dalam buku nya :

وقد سموا أيضا الوهبيين نسبة إلى عبد الله بن وهب الراسبي ، زعيم الخوارج

Dan sungguh mereka dinamakan Wahbiyyin (الوهبيين) karena dinisbahkan kepada Abdullah bin Wahbi Ar-Rasibi, yang di tuduh sebagai Khawarij

[Al-Firaq Fii Syimal Afriqiya– halaman 145].

Ternyata dalam buku Al-Faradbil juga tertulis Wahbiyyin, bukan Wahhabiyyin, dan dengan sharih disebutkan nisbahnyaWahbiyyah atau Wahbiyyin bukan nisbah kepada Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum sebagaimana dalam dongeng di atas, akan tetapi Wahbiyyah itu nisbah kepada Abdullah bin Wahbi Ar-Rasibi.

Semakin terang benderang upaya dusta / makar para Syekh SalafiWahhabi hendak memutar balikkan fakta, sungguh tipuan yang hampir sempurna, banyak trik yang telah mereka susupi dalam kitab, buku, situs dan blog mereka, dan para pengikut mereka tidak pernah mempertanyakan atau membuktikan kebenarannya, sikap para pengikut mereka yang hanya bisa taqlid buta, semakin mendukung para syekh akan terus mempertahankan taktik ini, (semoga membuka mata para pecinta dongeng itu).

Dan perhatikan nama-nama kitab Wahbiyyah berikut ini :

كتـاب ( تلخيص عقائد الوَهْبِيَّة في نكتة توحيد خالق البرية ) * للشيخ إبراهيم بن بيحمان اليسجني من علماء وادي مِيزَاب بالجزائر

( ت : 1232هـ / 1817م )

كتاب ( العقيدة الوَهْبِيَّة ) * للشيخ أبي مسلم ناصر بن سالم البَهْلانِي من علماء عُمَان

( ت : 1339هـ / 1920م )

كتاب ( دفع شبه الباطل عن الإباضية الوَهْبِيَّة المحقة ) * للشيخ أبي اليقظان إبراهيم من علماء وادي مِيزَاب بالجزائر ( ت : 1393هـ / 1973م )

Perhatikan, ini pengakuan dan pernyataan dari mereka sendiri bahwa faham mereka bernama Wahbiyyah– الوَهْبِيَّة bukan Wahhabiyyah, semua mata pun bisa melihat dengan sangat jelas, hanya hati yang ingkar yang masih mempertahankan cerita yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya, ketika cerita atau sejarah sudah tidak lagi sesuai dengan fakta, maka pantaslah cerita itu masuk dalam kategori Dongeng.

Silahkan saja bercerita, tapi bukan untuk di percaya, tapi seharusnya seorang Ustadz tidak mengelabui murid-muridnya dengan cerita dusta, apalagi setingkat Ustadz lulusan luar negeri, sungguh sangat disayangkan. (semoga allah membuka mata mereka)

WAHHABI ADALAH NAMA AJARAN SYEKH MUHAMMAD IBNU ABDIL WAHHAB AT-TAMIMI AN-NAJDI

Berikut bukti pengakuan dari Syaikh Wahhabi yakni Ibnu Baz dalam kitab Fatawa Nur ‘ala al-darb pada soal yang ke 6 sebagai berikut :

س 6 – يقول السائل: فضيلة الشيخ، يسمي بعض الناس عندنا العلماء في المملكة العربية السعودية بالوهابية فهل ترضون بهذه التسمية؟ وما هو الرد على من يسميكم بهذا الاسم؟

Soal ke 6 – Seseorang bertanya kepada Syaikh : Sebagian manusia menamakan Ulama-Ulama di Arab Saudi dengan nama Wahhabi [Wahhabiyyah], adakah antum ridha dengan nama tersebut ? dan apa jawaban untuk mereka yang menamakan antum dengan nama tersebut  ?

Syaikh Ibnu Baz menjawab sebagai berikut :

الجواب: هذا لقب مشهور لعلماء التوحيد علماء نجد ينسبونهم إلى الشيخ الإمام محمد بن عبد الوهاب رحمة الله عليه

Jawab : Penamaan tersebut masyhur untuk Ulama Tauhid yakni Ulama Nejed [Najd], mereka menisbahkan para Ulama tersebut kepada Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab.
dan bahkan Ibnu Baz memuji nama tersebut, ia berkata :

فهو لقب شريف عظيم

Nama itu (Wahhabiyah) adalah panggilan yang sangat mulia dan sangat agung”.

Sungguh pengakuan yang sangat jujur yang seharusnya dimiliki oleh semua SyekhSalafiWahhabi, kenapa harus main curang kalau memang yakin dengan kebenaran dakwah Wahhabi ? lagi pula kebenaran dan kesesatan bukan pada sebuah nama atau julukan, justru kebohongan yang semakin lama semakin banyak Nampak kepermukaan, akan membuat para penggemar SalafiWahhabi kecewa, ketika mereka tahu ternyata Wahhabi bukan bermanhaj Salaf tapi dikuasai oleh RUH Free Masonry.

KECEROBOHAN PARA SYEKH SALAFIWAHHABI DALAM DONGENG INI

  1. Menghubungkan Fatwa tentang firqah Wahbiyyah dengan firqah Wahhabiyyah.
  2. Menghilangkan atau menganggap sama Wahbiyyah dengan Wahhabiyyah.
  3. Cerita nya tidak sesuai dengan apa yang ada dalam kitab atau buku rujukan yang tersebut dalam cerita itu.
  4. Menceritakan bahwa Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum adalah pendiri Wahbiyyah, agar sesuai dengan tujuan cerita.
  5. Ternyata tidak ada ajaran bernama Wahhabi pada masa daulah Rustumiyyah.
  6. Wahbiyyah ternyata nisbah kepada Abdullah bin Wahbi Ar-Rasibi.
  7. Main curang untuk membela satu paham yang mereka anggap benar.
  8. Menutupi kebohongan dengan kedustaan , atau lebih jelasnya lagi Najis disucikan  dengan kotoran.

MISI DIBALIK DONGENG INI

Siapa pun bisa menebak apa misi di balik trik ini, trik yang sudah terlalu sering digunakan oleh para Syekh Wahabi Arab Saudi , walaupun trik ini kelihatan sangat super bodoh tapi tetap mereka pertahankan, karena sangat efektif mempengaruhi orang bodoh (awam), ideologi bodoh itu sangat ilmiah dan masuk akal di kalangan orang bodoh, tapi orang yang berpendidikan pasti bisa melihat apa maksudnya dongeng itu ? dia pasti bisa merasakan ada sesuatu di balik cerita yang tidak ada manfaat itu, dan bahkan sangat jelas dalam dongeng itu pun telah ada pembelaan terhadap ajaran Syekh Muhammad bin Abdil Wahhab , kemiripan sebuah nama, mereka gunakan untuk menutupi kesesatan ajaran mereka, agar orang buta bertambah gelap dalam kebutaan nya, dan menyangka itulah Wahhabi sesungguhnya yang difatwakan sesat oleh ulama Ahlus Sunnah, dan ajaran sesat Syekh Muhammad bin Abdil Wahhab pun terlepas dengan hanya sebuah dongeng belaka (na’uzubillah min dzalik).

FATWA ULAMA AHLUS SUNNAH WALJAMA’AH TENTANG AJARAN SYEKH MUHAMMAD BIN ABDIL WAHHAB AT-TAMIMI

Al-Imam Ibn Abidin Al-Asy’ari Al-Hanafi , berkata :

Keterangan tentang pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab, kaum Khawarij pada masa kita. Sebagaimana terjadi pada masa kita, pada pengikut Ibn Abdil Wahhab yang keluar dari Najd dan berupaya keras menguasai dua tanah suci. Mereka mengikuti madzhab Hanabilah.

Akan tetapi mereka meyakini bahwa mereka saja kaum Muslimin, sedangkan orang yang berbeda dengan keyakinan mereka adalah orang-orang musyrik.

Dan oleh sebab itu mereka menghalalkan membunuh Ahlussunnah dan para ulamanya sampai akhirnya Allah memecah kekuatan mereka, merusak negeri mereka dan dikuasai oleh tentara kaum Muslimin pada tahun 1233 H. (Hasyiyah Raddul Muhtar ‘ala Ad-Durr al-Mukhtar-juzuk 4- halaman 262).

Al-Imam Muhammad bin Abdullah bin Humaid An-Najdi Al-Asy’ari Al-Hanbali , berkata :

Abdul Wahhab bin Sulaiman At-Tamimi An-Najdi, adalah ayah pembawa dakwah Wahhabiyah , yang percikan apinya telah tersebar di berbagai penjuru.Akan tetapi antara keduanya terdapat perbedaan.

Padahal Muhammad (pendiri Wahhabi) tidak terang-terangan berdakwah kecuali setelah meninggalnya sang ayah.

Sebagian ulama yang aku jumpai menginformasikan kepadaku, dari orang yang semasa dengan Syaikh Abdul Wahhab ini, bahwa beliau sangat murka kepada anaknya, karena ia tidak suka belajar ilmu fiqih seperti para pendahulu dan orang-orang di daerahnya.Sang ayah selalu berfirasat tidak baik tentang anaknya pada masa yang akan datang.

Beliau selalu berkata kepada masyarakatHati-hati, kalian akan menemukan keburukan dari Muhammad.” Sampai akhirnya takdir Allah benar-benar terjadi.

Demikian pula putra beliau, Syaikh Sulaiman (kakak Muhammad bin Abdul Wahhab), juga menentang terhadap dakwahnya dan membantahnya dengan bantahan yang baik berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Syaikh Sulaiman menamakan bantahannya dengan judul Fashl al-Khithab fi al-Radd ‘ala Muhammad bin Abdul Wahhab. Allah telah menyelamatkan Syaikh Sulaiman dari keburukan dan tipu daya adiknya meskipun ia sering melakukan serangan besar yang mengerikan terhadap orang-orang yang jauh darinya.

Karena setiap ada orang yang menentangnya, dan membantahnya, lalu ia tidak mampu membunuhnya secara terang-terangan, maka ia akan mengirim orang yang akan menculik dari tempat tidurnya atau di pasar pada malam hari karena pendapatnya yang mengkafirkan dan menghalalkan membunuh orang yang menyelisihinya. (As-Suhub Al-Wabilah ‘ala Dharaih Al-Hanabilah-halaman 275).

Al-Imam Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan Al-Makki Al-Asy’ari Asy-Syafi’I:

Sayyid Abdurrahman al-Ahdal, mufti Zabid berkata: “Tidak perlu menulis bantahan terhadap Ibnu Abdil Wahhab. Karena sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam cukup sebagai bantahan terhadapnya, yaitu “Tanda-tanda mereka (Khawarij) adalah mencukur rambut (maksudnya orang yang masuk dalam ajaran Wahhabi, harus mencukur rambutnya)”. Karena hal itu belum pernah dilakukan oleh seorang pun dari kalangan ahli bid’ah. (Fitnah Al-Wahhabiyah, halaman. 54).

Al-Imam Ahmad bin Muhammad As-Shawi Al-Asy’ari Al-Maliki:

Ayat ini turun mengenai orang-orang Khawarij, yaitu mereka yang mendistorsi penafsiran al-Qur’an dan Sunnah , dan oleh sebab itu mereka menghalalkan darah dan harta benda kaum Muslimin , sebagaimana yang terjadi dewasa ini pada golongan mereka, yaitu kelompok di negeri Hijaz yang disebut dengan aliran Wahhabiyah , mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh sesuatu (manfaat), padahal merekalah orang-orang pendusta. (Hasyiyah al-Shawi ‘ala Tafsir al-Jalalain– juzuk 3- halaman 307).

Pandangan Ulama empat Madzhab di atas sangat jelas untuk ajaran Syekh Muhammad bin Abdil Wahhab At-Tamimi An-Najdi yang bernama Wahhabi , bukan untuk ajaran Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum atau Firqah Wahbiyyah Rustumiyyah Ibadhiyyah.

KESIMPULAN

~ Firqah yang difatwakan sesat oleh Al-Lakhmi dalam dongeng adalah ajaran yang dinisbahkan kepada Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum yang bernama Wahhabiyyah, tapi kenyataan nya dalam rujukan kitab itu, bukan bernama Wahhabiyyah tapi Wahbiyyah.

~ Wahbiyyah bukan nisbah kepada Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum, tapi nisbah kepada Abdullah bin Wahbi Ar-Rasibi.

~ Wahbiyyah dan Wahhabiyyah adalah dua nama untuk dua ajaran yang berbeda dan masa berbeda.

~ Wahhabi atau Wahhabiyyah yang telah difatwakan sesat oleh Ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah semua Madzhab, sejak kemunculan nya sampai sekarang adalah ajaran Syekh Muhammad bin Abdil Wahhab At-Tamimi An-Najdi, dan tidak ada hubungan dengan fatwa Al-Lakhmi.

~ Ada misi di balik dongeng tersebut, mereka ingin membela ajaran Syekh mereka dengan cara berdusta dan membodohi para pengikut setia mereka, dan mengalihkan semua Fatwa Ulama hlus Sunnah Waljama’ah kepada ajaran lain yang hampir serupa nama nya dalam penulisan dan bacaannya.

~ Fatwa Ulama Ahlus Sunnah seluruh Madzhab, ditujukan kepada ajaran Syekh Muhammad bin Abdil Wahhab An-Najdi, yakni ajaran SalafiWahhabi.

~ Wahhabi dalam dongeng tersebut tidak ada hubungan dengan SalafiWahhabi, bukan sebagai bukti sesat nya atau tidak sesatnya.

~ Wahhabi yang sesungguhnya hanya ada satu yakni ajaran Syekh Muhammad bin Abdil Wahhab At-Tamimi An-Najdi, karena ajaran Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum tidak pernah dinamakan dengan nama Wahhabi kecuali hanya dalam dongeng itu saja.

~ Hati-hati membaca dongeng, jangan sampai anda termakan dan menjadi korban sebuah dongeng, apalagi dongeng dalam masalah Agama.

Semoga tulisan ini menjadi ilmu bagi penulis dan pembaca semua, dan juga kepada siapa pun yang pernah termakan oleh dongeng itu, Wallahul muwaffiq ila aqwamit thoriq, amiin…

(Al-Asy’ari.Com)

Al Qur’an bukan makhluk


 

.

Telah tetap dari imam Al Karobisi Rohimahullah sesungguhnya beliau berkata:لفظى بالقرآن مخلوق lafazku dengan al-Quran itu makhluk” dan perkataan ini pun di fahami juga dari perkataan Imam Abu Hanifah RODIYALLAHU Anhu,dan juga di fahami dari sebagian perkataan Imam Al muhaddis AL Bukhari RA yang memiliki kita As Sohih Al Jami ,walau pun ada sebagian orang yang kurang memahami perkataan Al Bukhari ini,adapun Imam Ahmad,maka beliau menisbatkan label jahmiyah bagi orang yang berkata seperti itu,dan menyatakan bidah bagi yg berkata;Alquran bukan mahluk”, maka sebenarnya dalam masalah ini perlu perincian dan penjelasan yang detail,dengan meminta pertolongan Allah seraya memujiNya,aku berkata:

Abu Ĥaniifah yang jelas termasuk salaf menjelaskan apa yang dimaksud dengan ungkapan: “Al-Qur’an tidak diciptakan” ketika beliau mengatakan dalam Al-Fiqh Al-Akbar:

 

والقرآن كلام الله تعالى في المصاحف مكتوب, وفي القلوب محفوظ وعلى الألسن مقروء, وعلى النبي عليه الصلاة والسلام منزل, ولفظنا بالقرآن مخلوق وكتابتنا له مخلوقة وقرائتنا له مخلوقة والقرآن غير مخلوق. 

 

:Al-Qur’an adalah kalam Allah Taalaa, yang ditulis pada halaman (muşĥafs), dihafal di dalam hati, diucapkan di lidah, dan di turunkan kepada Nabi (sall-Allahu alaihi wa sallam),Dan Ucapan kami dgn bacaan Al-Qur’an itu diciptakan, dan bacaan kami dari Al-Qur’an itu dibuat[MAHLUK], tetapi Al-Qur’an tidak diciptakan.

 

Maka kata “Al-Qur’an”, dalam ujung perkataan beliau itu maksudnya adalah sifat kalam Allah” yakni kalimat “al Qur’an” DALAM PERKATAAN itu mengacu pada SIFAT kalam Allah yang qodim/ kekal yang bukan berupa huruf, jadi tdk ada perbedaan antara kalimat: “sifat kalam ” dan kalimat “Al-Qur’an,” keduanya adalah sinonim. abu hanifah lebih membuat jelas lagi ketika ia mengatakan dalam beberapa paragraf berikutnya:

 

ويتكلم لا ككلامنا ونحن نتكلم بالآلات والحروف والله تعالى يتكلم بلا آلة ولاحروف. 

Allah berbicara, tetapi tidak seperti pembicaraan kita,kita berbicara melalui instrumen (pita suara, anggota badan, huruf,suara] tetapi Allah berbicara tanpa instrumen atau pun huruf.

 

والحروف مخلوقة وكلام الله تعالى غير مخلوق. 

 

huruf adalah ciptaan, dan kalam Allah itu tidak diciptakan.

 

Jadi Abuu Ĥaniifah mengatakan bahwa “Al-Qur’an itu kalam Allah,” dan kemudian berkata: “Allah berbicara dgn tanpa instrumen atau huruf.” lebih lanjut ia menekankan hal ini dengan mengatakan “huruf adalah ciptaan, dan kalam Allah itu tidak diciptakan,yakni sifat kalam Allah bukan dgn huruf…

 

Dari ungkapan beliau ini dapat disimpulkan bahwa kalaimat “Al-Qur’an” itu memiliki dua makna, Yang pertama adalah sifat kalam qodim Allah , sedangkan makna yang kedua adalah huruf, bahasa Arab fasih dalam mushaf, contoh makna ke dua ini seperti ketika seseorang berkata: “tolong bawakan al-Quran di rak”, yakni maksudnya mushaf. Ketika salaf berkata: “Al-Qur’an tidak diciptakan,”maka jelas yang dimaksud oleh mereka adalah makna yang pertama, bukan yang kedua.

Inilah penjabaran daripada perkataan Imam Abu Hanifah RA YANG MESTI KITA KETAHUI, Karena SELANJUTNYA kita akan menjumpai perkataan Al Imam Ahmad RA yg berkata;

 

ومن قال لفظي بالقرآن مخلوق فهو جهمي، ومن قال لفظي بالقرآن غير مخلوق فهو مبتدع 

 

: barang siapa berkata :lafazku dengan al-Quran adalah makhluk’ maka dia seorang Jahmi dan barang siapa berkata : ‘pelafadan Al Quran bukan makhluk’ maka dia mubtadi[ahli bidah]’ 

 

sedangkan sebagaimana telah di sebutkan bahwa imam Abu Hanifah berkata: ولفظنا بالقرآن مخلوق lafad kami dengan Al quran itu mahluk’ “maka ibarat dari perkataan beliau ini memungkinkan muncul pemaknaan atau penafsiran yg salah dan juga MUNGKIN  MAKNA yg benar.sebagaimana akan kita ketahui di depan

 

 

Adapun perkataan Imam Ahmad RA:

ومن قال لفظي بالقرآن مخلوق فهو جهمي، ومن قال لفظي بالقرآن غير مخلوق فهو مبتدع 

 

barang siapa berkata : lafazku dengan al-Quran adalah makhluk’ maka dia seorang Jahmi dan barang siapa berkata : ‘pelafadan Al Quran bukan makhluk’ maka dia mubtadi [ahli bidah] ‘

Maksud SEBENARNYA BELIAU DENGAN PERKATAANNYA TERSEBUT ADALAH sebuah bentuk larangan beliau atas dasar waronya beliau, supaya siapa pun jangan membahas dan berkata”lafad alquran itu mahluk atau pun bukan mahluk.

 

lalu jika seseorang berkata;lafadz kami dengan Al quran adalah mahluk /Al quran mahluk, “,perkataannya ini memiliki dua kemungkinan :

 

pertama jika maksud dari perkataan ” Al Quran ”  adalah bahwa bacaannya,huruf huruf dan suara dalam mushaf adalah mahluk, maka ini adalah benar,walau pun Salaf mengatakan bahwa perkataan Al-Qur’an mahluq/diciptakan dengan maksud huruf yang tertera dalam mushaf adalah mahluk, adalah bidah atau sebuah inovasi jelek,alasannya karena dapat menyesatkan seseorang,yakni  akan menimbulkan orang utk berpikir bahwa sifat Allah yakni kalamNya itu di ciptakan/dibuat. Ibnu Aabidiin dalam Ĥaasħiyah nya 3/712 (Dar Al-Fikr ) mengatakan: “Intinya bahwa yang tidak diciptakan itu adalah Al-Qur’an dgn makna “kalam Allah” yaitu sifat (abadi) yang tetap pada Diri-Nya, dan bukan “alquran” dalam arti ungkapkan huruf dalam mushaf. sehingga bukan makna ini yang dimaksudkan.

 

Kedua jika yang di maksud dengan perkataan ‘Al quran” itu adalah hanya tex dalam mushaf yg di baca lafadnya dan di sertai meniadakan sifat Kalam Allah ,dengan meyakini bahwa kalamnya hanyalah sesuatu yg di ciptakanNya yg di tulis di mushaf,atau di papan DLL,maka ini adaLah jahmi

 

Maka apa yang di maksud oleh imam Ahmad dari perkataan “lafadz alquran” itu memiliki dua makna:

Pertama adalah muta’aliq malfud;sesuatu yang taaluq dengan yang di lafadkan yakni sifat Kalam Allah,maka ini tdk ada kekuasaan bagi hamba dan tdk mungkin bisa di lakukannya,

Kedua adalah talafud; melafadkan tex dalam mushaf,maka ini adalah perbuatan hamba.

Nah jika seseorang berkata: “Al-Qur’an mahluq/diciptakan,” maka itu akan memberi waham;sangkaan atas makna yg pertama yakni sifat kalam Allah itu di ciptakan,maka ini jelas salah.dan begitu juga jika seseorang berkata Alquran tidak di ciptakan:,maka ini pun akan memberi waham; sangkaan atas makna yang kedua yakni sangkaan bahwa text huruf2 mushaf dan suara yg membaca mushaf tidak di ciptakan,dan ini pun salah, oleh sebab itu maka Imam Ahmad mengambil sikap melarang menyebutkan alquran mahluk atau pun bukan mahluk,karena keduanya akan menimbulkan waham;salah sangka. itulah kenapa Imam Ahmad RA berkata:

 

 

ومن قال لفظي بالقرآن مخلوق فهو جهمي، ومن قال لفظي بالقرآن غير مخلوق فهو مبتدع 

 

: barang siapa berkata :lafazku dengan al-Quran adalah makhluk’ maka dia seorang Jahmi dan barang siapa berkata : ‘pelafadan Al Quran bukan makhluk’ maka dia mubtadi[ahli bidah]’ 

 

Lalu Imam Abdullah Al bukhari menjelaskan dan memisahkan juga membedakan antara sesuatu yg berdiri pada Allah dengan sesuatu yang berdiri pada Hamba, Imam Bukhari menyebut mahluk bagi pelafadzan/lafad alquran yang ada pada mushaf alquran,begitu juga beliau menyatakan kemahlukan suara ,gerakan dan penulisan alquran,dan beliau menafikan kemahlukkan daripada mutaaliq malfud; yang di taaluqi oleh lafad Alquran yakni Kalam Allah,sebagaimana masalah ini telah di beberkannya dalam kitab kholqu af’al al ibad,di dalamnya beliau telah mendatangkan penjelasan dan perbedaan dengan luas antara keduanya yg dengannya hilanglah subhat dan jelaslah al haq,Berkata Al Bukhari RA DALAM KITABNYA KHOLQU AF’AL AL IBAD 2/119:

 

 بل المعروف عن أحمد وأهل العلم أن كلام الله تعالى غير مخلوق وما سواه فهو مخلوق وأنهم كرهوا البحث والتفتيش عن الأشياء الغامضة وكان يجتنب أهل الكلام والخوض والتنازع إلا فيما جاء به العلم وبينه النبي صلى الله عليه وسلم. 

 

:Bahkan yang maruf dari Imam Ahmad dan dari ahli ilmu sesungguhnya KALAM ALLAH itu tidak di ciptakan [bukan mahluk] dam adapun selainNya itu di ciptakan[mahluk] dan sesungguhnya mereka tidak suka membahas dan memperdalam atas hal hal yg samar dan karena itu imam ahmad menjauhi ahli kalam dan menjauhi memperdalam juga berselisih kecuali \dalam sesuatu yg datang ilmunya [yg qot’i] dan di jelaskan oleh Nbai SAW.

 

Dan telah mashur di kalangan salaf bahwa yg berkata lafad alquran mahluk adalah jahmi,dan yg berkata lafad alquran bukan mahluk itu adalah mubtadi[ahli bidah] yakni kebidahan selain bidah jahmiyah, karena perkataan ini [lafad alquran itu mahluk] memiliki dua makna;pertama mutaaliq malfud;yang taaluq dari sesuatu yg diBACA [Alquran] dengan maksud sifat kalam Allah yang bukan perbuatan hamba dan tdk kuasa di lakukannya, yang kedua adalah melafadkannya,ini adalah perbuatan hamba, dan ketika di katakan alquran mahluk dengan makna yg kedua, maka itu mencakup juga makna yg pertama,dan ini adalah perkataan jahmiyah,dan ketika pun di balik yakni berkata Alquran bukan mahluk,maka ini pun mencakup juga makna yg kedua,maka ini adalah biDah yg lain lagi yakni bidah kaum ittihad; allah/sifat Allah menyatu dgn mahluk,maka jelas perkataan “lafad alquran” ini memiliki makna yg mustarok;berbarengan antara makna talafud;melafAdkan dan makna mutaaliq malfud bih;yg taaluq dengan yg di lafadkan yakni SIFAT kalam Allah,ini berbeda dengan perkataan salaf:  

 

الصوت صوت القارئ ، والكلام كلام الباري

 

;Suara adalah suara yang membaca ,dan perkataan [kalam] adalah kalam Al bari [Allah]

 

maka sesungguhnya suara itu husus dengan perbuatan hamba dan tidak mencakup pada bacaan yang menjadi sebab adanya suara tersebut,berbeda dengan lafad sebagaimana di jelaskan sebelumnya,jika di maksud dengan lafad adalah sesuatu yg taaluq dgn yg dilafadkannya yakni alquran [dengan makna sifat Kalam Allah] dan meyakini bahwa itu di ciptakan maka ia adalah muktazilah karena kalam Allah tidak di ciptakan,tetapi jika maksudnya bahwa suara dan perkataanya itu mahluk,dan bukan apa yg di ucapkan dengannya yakni bukan yg taaluk dgn lafad tersebut [sifat kalam Allah] ,maka tidak apa apa,sebagaimana kita berkata:tinta mahluk yaitu sesuatu yg di pakai menulis alquran,suhuf mahluk,suara manusia itu mahluk,dan kita ketika berbicara itu mahluk,tetapi dengan keyakinan bahwa mutaaliq almalfudz; sesuatu yang taaluq dgn apa yg di baca dari alquran itu bukan mahluk,yaitu kalam Allah yg merupakan salah satu sifat daripada sifatNya. 

 

 

Dan oleh sebab itu Ad dzahabi membenarkan perkataan Al karobisi dan i’tidzar pada Imam Ahmad dengan perkataan beliau dakam siyar alam nubala 12/82:

 

 

ولا ريب أن ما ابتدعه الكرابيسي، وحرره في مسألة التلفظ، وأنه مخلوق هو حق، لكن أباه الامام أحمد لئلا يتذرع به إلى القول بخلق القرآن، فسد الباب، لانك لا تقدر أن تفرز التلفظ من الملفوظ الذي هو كلام الله إلا في ذهنك

 

:“Tidak diragukan, sesuatu bid’ah yang dilakukan Karabisi dan ditulisnya tentang masalah pelafalan Al-Qur’an dan menyatakan bahwa itu makhluk’ hal itu adalah benar, akan tetapi Al-Imam Ahmad menolaknya dengan alasan supaya tidak mengantarkan pada pendapat ”Al-Qur’an [sifat kalam Allah] makhluk,” Maka beliau (Al-Imam Ahmad) menutup pintu itu, karena engkau tidak dapat membedakan (kepada para pendengarmu) antara at-talaffuzh (perbuatanmu dalam melafazkan) dan al-malfuzh (yang di lafazkan) yaitu kalamullah kecuali hanya dalam benakmu sendiri.”

perkataan Imam dzahabi ini benar benar telah membuang kekeliruan dalam masalah ini…

 

 

kesimpulan:

Sesungguhnya ketika seseorang berkata:Pelafazan Alquran adalah mahluk /Alquran adalah mahluk,maka kita tanya:apakah yang di maksud oleh anda adalah perbuatan anda yg berupa gerakan lidah,bibir dan suara yg di dengar?? atau maksud anda adalah sesuatu yang taaluq dengan bacaan anda yakni sifat kalam Allah ??? jika maksudnya yang kedua, yaitu sifat kalam Allah,maka itu bukanlah mahluk. 

 

Maka sesungguhnya perkataan : Lafadz Alquran bukan mahluk dengan sikap menafikan atau menetapkannya”, itu tidak benar,Dan adapun dengan di rinci yaitu seandainya yang di maksud dengan lafad disana adalah talafud:melafadkannya yg merupakan perbuatan hamba,maka benar itu adalah mahluk,karena seorang hamba dan juga perbuatannya itu di ciptakan [mahluk],dan seandainya yang dimaksud dengan perkataan tersebut adalah sesuatu yg taaluq dengan lafad yg di bacanya yaitu Al quran [Kalam Allah] SEBAGAIMANA makna pertama “alquran”yg telah di sebutkan di atas,maka itu bukanlah mahluk,karena kalamNya adalah sifatNya dan sifatNya tidaklah di ciptakan [mahluk],nah rincian ini sesuai dengan isarah Imam Ahmad dalam perkataannya: 

 

من قال : لفظي بالقرآن مخلوق يريد به القرآن فهو جهمي “

 

:Barang siapa berkata:lafadku terhadap Alquran adalah Mahluk, maksudnya adalah Alquran maka ia adalah jahmi.

 

 

Maka perkataan beliau: “maksudnya adalah Alquran”, itu menunjukan bahwa jika seseorang mengatakan lafad Al quran adalah mahluk dan maksud dari perkataan tersebut adalah talafud;melafadkan tex alquran yang mana itu adalah perbuatan hamba,maka orang tersebut bukanlah jahmi…walllaohu a’lam.

 

AL-ASY’ARI MELALUI 7 FASE PEMIKIRAN AQIDAH


.

HATI-HATI KITAB ULAMA MADZHAB IMAM ASY-SYAFI’I DISELEWENGKAN OLEH SEKTE WAHABI ARAB SAUDI

Buku yang atas ini disusun atas selera Sekte Wahabi

Judul Buku : Abul Hasan Al-Asy’ari Imam yang terdzalimi
tebal : 246 Hal
Ukuran : 15,5 x 24

OOO==OOO

Camera 360Buku yang ini disusun atas selera dari para Khawarij

Detail Buku

51 Ijma’ Serat-serat Aqidah Ahlus-Sunnah wal Jama’ah

Penulis : Abul Hasan al Asy’ari; Muh. Dawam Sukardi;
Penerbit : Pustaka Azzam
Subjek : TAUHID/AQIDAH;
Bahasa : INDONESIA
Tahun : 2001
Fisik : 222 hal.; 21 cm.
No Panggil : KK 2X3 ASY s 2001

IMAM AL-ASY’ARI BERMADZHAB IMAM AHMAD BIN HAMBAL

PENERBIT BUKU INI ( DIATAS dan DIATASNYA LAGI ) ADALAH DIBAWAH KUASA ARAB SAUDI – ISINYA MENGIKUTI VERSI KERAJAAN ARAB SAUDI.

APABILA KITA BACA DAN DIFAHAMI , MAKA KITA TIDAK AKAN MARAH TERHADAP KELANCANGAN PARA PEMUKA SEKTE DARI ARAB SAUDI TELAH MENYELEWENGKAN SEJARAH ISLAM , TAPI MALAH  GELI DAN MENGGELIKAN ATAS KETOLOLAN NYA .

=

Supaya lebih semarak kisahnya

Bahwa sesungguhnya Imam al-Asy’ari ini dalam kehidupannya melalui 7 alam dalam menentukan warna Aqidahnya :

1. / Mengikuti Sekte Zamaksyari , karena tidak puas maka pindah  Sekte ke…

2. / Mengikuti Sekte Ibnu Taimiyah , karena tidak puas maka pindah  Sekte ke…

3. /Mengikuti Sekte Zahiriyah , karena tidak puas maka pindah  Sekte ke…

4./ Mengikuti Sekte Abdul Wahab , karena tidak puas maka pindah  Sekte ke…

5. / Mengikuti Sekte Free Masonri , karena tidak puas maka pindah  Sekte ke…

6. / Mengikuti Sekte Abduh , karena tidak puas maka pindah  Sekte ke…

7. / Sekarang Imam Al-Asy’ari lagi StandBy… , lagi tunggu Imam Abdul Wahab muncul lagi di arah matahari tenggelam ( nejed )…karena menurut kepercayaan , bahwa Abdul Wahab itu tidak mati ….tapi menghilang dan satu saat akan muncul kembali bersama dajjal.

Jadi sebenarnya Imam Ai-Asy’ari itu terakhir memilih Madzhabnya Abduh dan kemudian mempelajari kitab Suci Al-Manar Al-Masonry dan bergabung dengan  Sekte Wahhabi/Sekte Salafi.

OOO===OOO

SEJARAH IMAM AL-ASY’ARI YANG SEBENARNYA ADALAH MADZHAB IMAM SYAFI’I , DAPAT DIBACA PADA BUKU YANG DIBAWAH INI

Judul: Madzhab Al-Asy’ari Benarkah Ahlussunnah Wal-Jama’ah?
Penerbit: Khalista
Penulis: Muhammad Idrus Ramli
Tebal: 312 halaman

“ Kalau memang Nahdlatul Ulama mengklaim Mengikuti madzhab Ahlussunnah Wal-Jama’ah , mengapa mengikuti madzhab al-Asy’ari , kok tidak mengikuti madzhab ulama salaf yang saleh saja yang memang benar-benar Ahlussunnah Wal-Jama’ah ? ”

“Apakah dalil-dalil yang menunjukkan bahwa madzhab al-Asy’ari itu Ahlussunnah Wal-Jama’ah atau al- firqah al-najiyah?”

“Mengapa Ahlussunnah Wal-Jama ‘ah hanya mewajibkan mengetahui sifat dua puluh yang wajib bagi Allah? Bukankah dalam al-Asma’al-Husna sendiri, nama-nama dan sifat-sifat Allah berjumlah sembilan puluh sembilan ?”

Tiga pertanyaan menggelitik itu datang pada penulis di forum Seminar.

Pertama, dari peserta yang tampaknya beraliran Salafi.

Kedua, walaupun lebih baik dari pertanyaan sebelumnya , namun juga menunjukkan bahwa pada saat ini, hal-hal yang sebenarnya dianggap sebagai ideologi dan keyakinan di kalangan masyarakat , ternyata seringkali digugat kebenarannya.

Ketiga , tampak semacam gugatan yang bernada filosofis.

Kalau pertanyaan-pertanyaan itu tidak segera dijawab akan memunculkan pertanyaan berantai.

Sebab, kesimpulan yang bisa ditangkap dari pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah bahwa madzhab al-Asy’ari bukan Ahlussunnah Wal-Jama’ah.

Madzhab al-Asy’ari tidak mengikuti ajaran ulama salaf yang saleh , dan pada gilirannya Nahdlatul Ulama bukan Ahlussunnah Wal-Jama’ah? Benarkah…?

Nah, dari berbagai pertanyaan itulah buku ini disusun oleh seorang aktivis Bahtsul Masa’il di lingkungan NU.

Di sini sarat akan kajian sejarah , metodologi , sistematika , profil tokoh -ahli tafsir , hadits , fiqih , teologi dan tashawwuf-, ulasan kitab , kesaksian dan pengakuan para ulama , serta dalil-dalil madzhab al-Asy’ari.

000==000

 http://www.anwarbadruzzaman.com/2013/05/benarkah-al-imam-abu-hasan-al-asyari.html

Oleh Abu Zahrah 

KhUSUS kepada mereka yang JUJUR ingin memahami tentang jawaban daripada tuduhan golongan Wahhabi mengenai al- Imam Abu al-Hassan al- Asy`ari bertaubat dari manhaj yang disusun oleh beliau yang kita ketahui sekarang ini.

Kami sediakan artikel ini agar kekeliruan yang di cetuskan oleh golongan Wahhabi ini dapat di hindarkan.

Artikel ini perlu dibaca hingga tuntas, jika tidak, anda tidak akan faham. Baca perlahan-lahan dan jauhkan membaca dalam keadaan emosi.

Ada artikel yang tersebar di kalangan sebagian pakar, khususnya di kalangan golongan wahhabi yang mengatakan bahwa perjalanan pemikiran al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari melalui tiga fase dalam kehidupan beliau.

( Lihat Mauqif Ibn Taimiyah min al-Asya`irah, Abd al-Rahman bin Saleh al-Mahmud(1995),Maktabah al- Rusyd,Riyadh,hal. 378.)

  • Pertama: Fase ketika al Imam Abu al-Hassan al- Asy`ari mengikuti pemahaman Muktazilah dan menjadi salah satu tokoh Mu’tazilah hingga berusia 40 tahun.
  • Kedua: Fase di mana al Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari keluar dari aliran Mu’tazilah dan merintis madzhab pemikiran teologis ( ilmu akidah ) dengan mengikuti mazhab Ibn Kullab.
  • Ketiga: Fase di mana al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari keluar daripada madzhab yang dirintisnya yaitu mengikuti madzhab Ibn Kullab dan kembali kepada Ahl al-Sunnah Wa al Jama`ah yang mengikut manhaj Salaf al-Salih dengan mengarang sebuah kitab yang berjudul al Ibanah `an Usul al-Diyanah.

 

Berdasarkan hal ini , Sekte Wahhabi/Sekte Salafi membuat kesimpulan bahwa madzhab al-Asy`ari yang berkembang dan diikuti oleh majoritas kaum muslimin hingga saat ini adalah pemikiran al- Imam Abu al- Hassan al-Asy`ari pada fase kedua yaitu mengikuti madzhab Ibn Kullab yang bukan dari pemahaman Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah dan telah dibuang oleh al-Imam al-Asy`ari , dengan kitab terakhir yang ditulis oleh al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari yaitu al-Ibanah `an Usul al-Diyanah.

 

Oleh karena itu , menurut Sekte Wahhabi/Sekte Salafi madzhab al-Asy`ari yang ada sekarang sebenarnya mengikuti madzhab Ibn Kullab yang tidak mengikuti pemahaman Ahl al-Sunnah Wa al- Jama`ah dan tidak mengikuti madzhab al-Asy`ari pada fase ketiga yang asli yaitu Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah.

 

Inilah kenyataan daripada artikel yang direka oleh Sekte Wahhabi/Sekte Salafi dan tuduhan   yang disebar secara menyeluruh oleh mereka pada dewasa ini.

Oleh karena hal itu, artikel yang dibuat oleh Sekte Wahhabi/Sekte Salafi ini sudah tentu mempunyai banyak pendustaan mengenai fakta sejarah dan fakta ilmiah.

Sebelum kita mengkaji artikel di atas satu persatu, ada baiknya kita memperinci terlebih dahulu makna yang tersembunyi ( hidden meaning ) di balik artikel mereka itu. Apabila hal tersebut dikaji , ada tiga makna yang tersembunyi di balik artikel tersebut.

 

Pertama : Perkembangan pemikiran al-Imam Abu al- Hassan al-Asy`ari melalui tiga fase di dalam kehidupannya,1.Mu’tazilah ,2. mengikuti madzhab Ibn Kullab dan terakhir beliau kembali kepada ajaran Ahl al- Sunnah Wa al-Jama`ah. Ini adalah artikel pokok yang dipropagandakan oleh Sekte Wahhabi/Sekte Salafi. Artikel ini mengandung dua artikel  .

 

Kedua : Abdullah bin Sa`id bin Kullab bukan pengikut Ahl al- Sunnah Wa al-Jama`ah.

 

Ketiga : Kitab al-Ibanah `an Usul al- Diyanah merupakan fase terakhir dalam kehidupan al-Imam Abu al- Hassan al-Asy`ari yaitu fase kembalinya al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari kepangkuan ajaran Salaf al-Salih atau Ahl al- Sunnah Wa al-Jama`ah.

 

SANGGAHAN/BANTAHAN.

 

Pertama,Pemikiran al Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari melalui tiga fase?

Benarkah pemikiran al-Imam Abu Hassan al-Asy`ari melaui tiga peringkat perkembangan di dalam kehidupannya?

 

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus mengamati dan mengkaji sejarah kehidupan al- Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari yang ditulis oleh para alim ulama’.

 

Al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari merupakan salah seorang tokoh kaum Muslimin yang sangat masyhur dan mempunyai fakta yang jelas.

 

Beliau bukan tokoh kontroversial dan bukan tokoh yang misteri yaitu perjalanan hidupnya tidak diketahui orang , lebih-lebih lagi berkaitan dengan hal yang amat penting seperti yang kita bicarakan ini.

 

Seandainya kehidupan al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari seperti kenyataan dalam artikel yang di reka oleh Sekte Wahhabi/Sekte Salafi itu , menyatakan bahwa al-Imam Abu al-Hassan al- Asy`ari melalui tiga fasa perkembangan pemikiran , maka sudah tentu para sejarawan akan menyatakannya dan menjelaskannya di dalam buku- buku sejarah.

 

Maklumat mengenai ini juga sudah pasti akan masyhur dan tersebar luas sebagaimana fakta sejarah hanya menyatakan bahwa al-Imam Abu al-Hassan al- Asy`ari hanya bertaubat dan meninggalkan faham Mu’tazilah saja.

 

Semua sejarawan yang menulis biografi al-Imam Abu al-Hassan al- Asy`ari hanya menyatakan kisah naiknya al-Imam Abu al- Hassan al- Asy`ari ke atas mimbar di masjid Jami`Kota Basrah dan berpidato dengan menyatakan bahwa beliau telah keluar daripada faham Mu’tazilah.

 

Di sini kita bertanya , adakah sejarawan yang menyatakan kisah al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari keluar dari pemahaman pemikiran Abdullah bin Sa`id bin Kullab…?…  Sudah tentu jawabannya , tidak ada.

 

Apabila kita menelaah atau meneliti buku-buku sejarah , kita tidak akan mendapatkan fakta atau maklumat yang mengatakan al-Imam Abu al- Hassan al-Asy`ari bertaubat dari ajaran Ibn Kullab baik secara jelas maupun samar.

 

Oleh karena itu , maklumat atau fakta yang kita dapati ialah kesepakatan para sejarawan bahwa setelah al-Imam Abu Hassan al-Asy`ari bertaubat daripada faham Mu’tazilah , beliau kembali kepada ajaran Salaf al-Salih seperti kitab al- Ibanah dan lain-lain yang ditulisnya dalam rangka membela madzhab Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah.

 

Al-Imam Abu Bakr bin Furak berkata : ” Syaikh Abu al-Hassan Ali bin Ismail al-Asy`ari radiyallahu`anhu berpindah daripada madzhab Mu’tazilah kepada madzhab Ahl al- Sunnah Wa al- Jama`ah dan membelanya dengan hujjah-hujjah rasional dan menulis karangan- karangan dalam hal tersebut…”

( Tabyin Kidzb al- Muftari, al-Hafiz Ibn Asakir (1347 H) tahqiq Muhammad Zahid al- Kautsari, Maktabah al-Azhariyyah li at-Turats, cet.1, 1420H, hal 104 ).

 

Sejarawan terkemuka , al-Imam Syamsuddin Ibn Khallikan berkata : ” Abu al-Hassan al-Asy`ari adalah perintis pokok-pokok akidah dan berupaya membela madzhab Ahl al- Sunnah.

 

Pada mulanya Abu al- Hassan adalah seorang Mu’tazilah , kemudian beliau bertaubat dari pandangan tentang keadilan Tuhan dan kemakhlukan al-Quran di masjid Jami` Kota Basrah pada hari Jumaat “.

( Wafayat al -A’yan, al-Imam Ibn Khallikan, Dar Shadir,Beirut, ed. Ihsan Abbas, juz 3, hal. 284 ).

 

Sejarawan al-Hafiz adz-Dzahabi berkata : ” Kami mendapat informasi bahwa Abu al- Hassan adz-Asy`ari bertaubat dari faham Mu’tazilah dan naik ke mimbar di Masjid Jami’ Kota Basrah dengan berkata : Dulu aku berpendapat bahawa al-Quran itu makhluk dan…Sekarang aku bertaubat dan bermaksud membantah terhadap faham  Mu’tazilah “.

( Syiar A`lam al-Nubala, al- Hafidz adz- Dzahabi,Muassasah al-Risalah, Beirut, ed. Syuaib al-Arnauth, 1994, hal. 89).

 

Sejarawan terkemuka , Ibn Khaldun berkata : ” Hingga akhirnya tampil Syaikh Abu al-Hassan al- Asy`ari dan berdebat dengan Sebagian tokoh Mu’tazilah tentang masalah-masalah shalah dan aslah, lalu dia membantah metodologi mereka ( Mu’tazilah ) dan mengikut pendapat Abdullah bin Said bin Kullab , Abu al-Abbas al-Qalanisi dan al-Harith al-Muhasibi daripada kalangan pengikut Salaf dan Ahl al-Sunnah “.

( Ibn Khaldum (2001), al-Muqaddimah, Dar al-Fikr, Beirut, ed. Khalil Syahadah, h. 853 ).

 

Fakta yang dikemukakan oleh Ibn Khaldum tersebut menyimpulkan bahwa setelah al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari keluar daripada faham Mu’tazilah, beliau mengikuti madzhab Abdullah bin Sa`id bin Kullab, al-Qalanisi dan al-Muhasibi yang merupakan pengikut ulama’ Salaf dan Ahl al- Sunnah Wa al Jama`ah.

 

Demikian juga, maklumat atau fakta sejarah yang dinyatakan di dalam buku- buku sejarah yang menulis biografi al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari seperti : Tarikh Baghdad karya al-Hafiz al-Khatib al-Baghdadi , Tabaqat al- Syafi`iyyah al-Kubra karya al- Subki , Syadzarat al-Dzahab karya Ibn al-Imad al-Hanbali , al-Kamil fi al-Tarikh karya Ibn al-Atsir , Tabyin Kizb al-Muftari karya al-Hafiz Ibn Asakir , Tartib al-Madarik karya al- Hafiz al-Qadhi Iyadh , Tabaqat al-Syafi`iyyah karya al-Asnawi , al- Dibaj al-Muadzahhab karya Ibn Farhun , Mir`at al-Janan karya al- Yafi`I dan lain-lain ,  semunya sepakat bahwa setelah al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari keluar dari faham Mu’tazilah , beliau kembali kepada madzhab Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah yang mengikuti metodologi Salaf.

 

Disamping itu , seandainya al-Imam Abu Hassan al-Asy`ari ini melalui tiga peringkat aliran pemikiran , maka sudah tentu hal tersebut akan diketahui dan dikutip oleh murid-murid dan para pengikutnya karena mereka semua adalah orang yang paling dekat dengan al-Imam Abu al- Hassan al-Asy`ari dan orang yang melakukan kajian tentang pemikiran dan sejarah perjalanan hidupnya.

 

Oleh karena  itu sudah semestinya mereka akan lebih mengetahui daripada orang lain yang bukan pengikutnya , lebih- lebih lagi melibatkan tokoh besar yaitu al-Imam Abu al-Hassan al- Asy`ari yang pasti menjadi buah bibir pelajar dan para alim ulama’.

 

Maka dari itu jelaslah , bahwa ternyata selepas kita merujuk kepada kenyataan murid-murid dan para pengikut al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari , kita tidak akan menemui fakta sejarah yang menyatakan bahwa al-Imam Abu al-Hassan telah melalui tiga fasa pemikiran yang di dakwa oleh Sekte Wahhabi/Sekte Salafi ????!!!.

 

Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari dan para pengikutnya bersepakat bahwa al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari telah meninggalkan faham Mu’tazilah dan beliau berpindah kepada Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah seperti yang diikuti oleh al-Harith al-Muhasibi , Ibn Kullab , al Qalanisi , al-Karabisi dan lain-lain.

 

Apabila kita mengkaji karya-karya para alim ulama’ yang mengikuti dan pendukung madzhab al-Asy`ari seperti karya-karya yang dikarang oleh al-Qadhi Abu Bakar al- Baqillani , al-Syaikh Abu Bakr bin Furak , Abu Bakr al-Qaffal al-Syasyi , Abu Ishaq al-Syirazi , al-Hafiz al-Baihaqi dan lain-lain.

 

Kita semua tidak akan menemukan satu fakta pun yang menyatakan bahwa al-Imam Abu al-Hassan al- Asy`ari meninggalkan madzhab yang dihidupkan kembali olehnya yaitu Ahl al- Sunnah Wa al-Jama`ah , sehingga tidak rasional apabila Sekte Wahhabi/Sekte Salafi dakwaan mengatakan al-Imam Abu al- Hassan al- Asy`ari telah meninggalkan madzhabnya tanpa diketahui oleh para murid- muridnya dan pendukungnya.

 

APAKAH WAHABI YG SALAH MENGARTIKAN AQIDAH SALAF ATAU MAYORITAS ULAMA YG KETEMU SALAF LANGSUNG YG SALAH MEMAHAMI PENDAPAT 2 SALAF?? …(  inilah ketololan Sekte Wahhabi/Sekte Salafi ).

 

Tapi Yang nyata ( menurut mereka ) , bahwa seluruh ulama salaf yang ingin selamat , wajib mengikuti aqidahnya Ibnu Taimiyah sesuai dengan sejarah Sekte Wahhabi/Sekte Salafi.

 

Ini adalah kenyataan yang tidak masuk akal dan dusta sama sekali yang jauh dari kebenaran.

 

Sekte Wahhabi/Sekte Salafi menyatakan bahwa al-Imam Abu al- Hassan al-Asy`ari meninggalkan madzhab yang dirintiskan olehnya bersandarkan metodologi al- Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari di dalam kitabnya al- Ibanah `an Usul al-Diyanah dan sebagian kitab-kitab lainnya yang mengikuti metodologi tafwidh berkaitan sifat-sifat Allah di dalam al-Quran dan al-Sunnah.

 

Metodologi tafwidh ini adalah metodologi majoriti ulama’- ulama’ Salaf al-Salih.

 

Berdasarkan hal ini , al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari dianggap menyalahi atau meninggalkan metodologi Ibn Kullab yang tidak mengikuti metodologi salaf sebagaimana yang di tuduhkan oleh Sekte Wahhabi/Sekte Salafi ini.

 

Dari sini lahirlah sebuah pertanyaan, apakah isi kitab al- Ibanah yang di klaim sebagai madzhab Salaf bertentangan dengan metodologi Ibn Kullab , atau dengan kata lain , adakah Ibn Kullab bukan pengikut madzhab Salaf seperti yang ditulis oleh al- Imam Abu al- Hassan al-Asy`ari di dalam kitab al-Ibanah…???…

 

Pertanyaan di atas membawa kepada kita untuk mengkaji kenyataan berikutnya.

 

KEDUA,

IBN KULLAB BUKAN ULAMA’ SALAF DAN AHL AL- SUNNAH WA AL- JAMA`AH …???…

 

Setelah al-Imam Abu al-Hassan al- Asy`ari meninggalkan faham Muktazilah , dia mengikuti metodologi Abdullah bin Sa`id bin Kullab al-Qaththan al-Tamimi.

 

Artikel tersebut telah menjadi kesepakatan bagi kita dengan kelompok yang mengatakan bahwa pemikiran al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari melalui tiga fase tetapi mereka berbeda dengan kita , karena kita mengatakan bahwa metodologi Ibn Kullab sebenarnya sama dengan metodologi Salaf , karena Ibn Kullab sendiri termasuk dalam kalangan tokoh ulama’ Ahl al- Sunnah Wa al-Jama`ah yang mengikuti metodologi Salaf.

 

Hal ini bisa dilihat dengan memperhatikan pernyataan para pakar berikut ini.

Al-Imam Tajuddin al-Subki telah berkata : Bagaimanapun Ibn Kullab termasuk Ahl al Sunnah… Aku melihat al-Imam Dhiyauddin al- Khatib ,  ayah al-Imam Fakhruddin al-Razi , menyebutkan Abdullah bin Said bin Kullab di dalam akhir kitabnya Ghayat al-Maram fi Ilm al-Kalam , berkata :  Di antara teologi Ahl al-Sunnah pada masa khalifah al-Makmun adalah Abdullah bin Said al-Tamimi yang telah mengalahkan Mu’tazilah di dalam majlis al-Makmun dan memalukan mereka dengan hujjah-hujjahnya

( Al-Subki (t.t), Tabaqat al-Syafi`eyyah al-Kubra, Dar Ihya’ al-Kutub, Beirut, ed Abdul Fattah Muhammad dan Mahmud al-Tanahi, juz 2, hal. 300 ).

 

Al-Hafiz Ibn Asakir alDimasyqi telah berkata : Aku pernah membaca tulisan Ali ibn Baqa’ al- Warraq , ahli hadith dari Mesir ,  berupa risalah yang ditulis oleh Abu Muhammad Abdullah ibn Abi Zaid al-Qairawani ,  seorang ahli fiqih madzhab al-Maliki.

 

Dia adalah seorang tokoh terkemuka madzhab al-Imam Malik di Maghrib ( Moroko pen ) pada zamannya.

 

Risalah itu ditujukan kepada Ali ibn Ahmad ibn Ismail al- Baghdadi al- Mu’tazili sebagai jawapan terhadap risalah yang ditulisnya kepada kalangan pengikut madzhab Maliki di Qairawan karena telah memasukkan pandangan-pandangan Muktazilah.

 

Risalah tersebut sangat panjang sekali , dan sebagian jawaban yang ditulis oleh Ibn Abi Zaid kepada ali bin Ahmad adalah sebagaimana berikut :  ” Engkau telah menisbahkan Ibn Kullab kepada bid`ah ,  padahal engkau tidak pernah menceritakan suatu pendapat dari Ibn Kullab yang membuktikan dia memang layak disebut ahli bid`ah.

Dan kami sama sekali tidak mengetahui adanya orang ( ulama’- pen ) yang menisbahkan Ibn Kullab kepada bid`ah.

Justru maklumat yang kami terima , Ibn Kullab adalah pengikut sunnah ( ahl al- Sunnah pen ) yang melakukan bantahan terhadap Jahmiyyah dan pengikut ahli bid`ah lainnya , dia adalah Abdullah ibn Sa’id ibn Kullab ( al- Qaththan, wafat 240H pen ).

( Tabyin Kidzb al-Muftari oleh al- Hafiz Ibn Asakir ( 1347 H ) tahqiq Muhammad Zahid al- Kautsari,Maktabah al- Azhariyyah li at- Turats, cet.1, 1420 H, hal 298 299 ).

 

Data sejarah yang disampaikan oleh al-Hafiz Ibn Asakir di atas memuatkan kesaksian yang sangat penting dari ulama’ sekaliber al-Imam Ibn Abi Zaid al-Qairawani terhadap Ibn Kullab , bahawa ia termasuk pengikut Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah dan bukan pengikut ahli bid`ah.

 

Al-Hafiz adz-Dzahabi telah berkata : Ibn Kullab adalah seorang tokoh ahli kalam ( teologi – ilmu berkenaan dengan ketuhanan ) daerah Bashrah pada zamannya .

Selanjutnya adz- Dzahabi berkata : Ibn Kullab adalah ahli kalam yang paling dekat kepada Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah bahkan ia adalah juru debat mereka (terhadap Mu’tazilah pen).

Ia mempunyai karya diantaranya al-Shifat , Khalq al-Af’al dan al-Radd ala al- Mu’tazilah.

(Lihat Siyar A’lam al- Nubala , Maktabah al-Shafa , cet.1, 1424 H, juz 7, hal 453).

 

Di dalam kitab Siyar A’lam an- Nubala yang ditahqiqkan oleh Syeikh Syuaib al-Arnauth , pernyataan adz- Dzahabi tersebut dipertegas oleh al-Syeikh Syuaib al- Arnauth dengan komentarnya mengatakan : Ibn Kullab adalah pemimpin dan rujukan Ahl al- Sunnah pada masanya . Al-Imam al-Haramain menyebutkan di dalam kitabnya al-Irsyad bahwa dia termasuk sahabat kami ( madzhab al- Asy`ari).

(Siyar A’lam an-Nubala cetakan Muassasah al- Risalah (1994), Beirut, ed. Syuaib al-Arnauth, juz 11, hal. 175).

 

Demikian pula al-Hafiz Ibn Hajar al- `Asqalani menyatakan bahwa Ibn Kullab sebagai pengikut Salaf dalam hal meninggalkan takwil terhadap ayat-ayat dan hadits-hadits mutasyabihat yang berkaitan dengan sifat Allah. Mereka juga disebut dengan golongan mufawwidhah ( yang melakukan tafwidh ).

( Ibn Hajar al- `Asqalani (t.t.), Lisan al-Mizan, Dar, al-Fikr, Beirut, juz 3, hal. 291 ).

 

Dari paparan di atas dapatlah disimpulkan bahwa al-Imam Ibn Kullab termasuk dalam kalangan ulama’ Ahl al-Sunnah Wa al- Jama`ah dan konsisten dengan metodologi Salaf al- Salih dalam pokok-pokok akidah dan keimanan . Mazhabnya menjadi inspirasi al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari ( perintis mazhab al- Asy`ari ).

 

Di sini mungkin ada yang bertanya apakah metodologi Ibn Kullah hanya diikuti oleh al-Imam al- Asy`ari …???…

 

Jawabannya adalah tidak.

 

Metodologi Ibn Kullab tidak hanya diikuti oleh al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari saja , akan tetapi diikuti juga oleh ulama’ besar seperti al-Imam al-Bukhariyaitu pengarang Sahih al-Bukhari , kitab hadits yang menduduki peringkat terbaik dalam segi kesahihannya.

 

Dala konteks ini , al-Hafiz Ibn Hajar al-`Asqalani telah berkata :  ” Al-Bukhari dalam semua yang disajikannya berkaitan dengan penafsiran lafaz-lafaz yang gharib ( aneh ) , mengutipnya dari pakar- pakar bidang tersebut seperti Abu Ubaidah , al-Nahzar bin Syumail , al-Farra’ dan lain-lain.

Adapun kajian-kajian fiqh , sebagian besar diambilnya dari al-Syafi’i , Abu Ubaid dan semuanya. Sedangkan permasalahan-permasalahan teologi ( ilmu kalam ) , sebagian besar diambilnya dari al-Karrabisi , Ibn Kullab dan sesamanya ” .

( Ibn Hajar al-`Asqalani (t.t), Syarh Sahih al-Bukhari ,Salafiyyah,  Cairo , juz 1,hal. 293 ).

 

Pernyataan al-Hafiz Ibn Hajar al- `Asqalani tersebut menyimpulkan bahwa al- Imam Abdullah bin Said bin Kullab adalah Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah yang mengikuti metodologi ulama’ Salaf ,  oleh karena itu dia juga diikuti oleh al- Imam al-Bukhari , Abu al-Hassan al- Asy`ari dan lain-lain.

 

Di sini mungkin ada yang bertanya , apabila Ibn Kullab termasuk salah seorang tokoh ulama’ Salaf dan mengikuti Ahl al- Sunnah Wa al-Jama`ah , beliau ( Ibn Kullab ) juga diikuti oleh banyak ulama’ seperti al-Imam al-Bukhari dan lain- lain , lalu mengapa Ibn Kullab dituduh menyimpang dari metodologi Salaf atau Ahl al- Sunnah Wa al-Jama`ah…??…

 

ATAU WAHABI YG TDK TAU MAKSUD UCAPAN SALAF? MANA PENGAKUAN PARA ULAMA TRHADAP FMAHAMAN WAHABI??

 

Hal tersebut sebenarnya datang daripada satu persoalan , yaitu tentang pendapat apakah bacaan seseorang terhadap al-Quran termasuk makhluk atau tidak.

 

Al- Imam Ahmad bin Hanbal dan pengikutnya berpandangan untuk tidak menetapkan apakah bacaan seseorang terhadap al-Quran itu makhluk atau bukan.

 

Menurut al-Imam Ahmad bin Hanbal , pandangan bahwa bacaan seseorang terhadap al-Quran termasuk makhluk adalah bid`ah.

 

Sementara al-Karabisi , Ibn Kullab , al-Muhasibi , al-Qalanisi , al-Bukhari , Muslim dan lain-lain berpandangan tegas , bahwa bacaan seseorang terhadap al-Quran adalah makhluk.

 

Berangkat dari perbedaan pandangan tersebut akhirnya kelompok al-Imam Ahmad bin Hanbal menganggap kelompok Ibn Kullab termasuk ahli bid`ah , meskipun sebenarnya kebenaran dalam hal tersebut berada di pihak Ibn Kullab dan kelompoknya.

 

Dalam konteks ini al-Hafiz adz- Dzahabi telah berkata : ” Tidak diragukan lagi bahwa pandangan yang dibuat dan ditegaskan oleh al-Karabisi tentang masalah pelafazan al- Quran ( oleh pembacanya ) dan bahwa hal itu adalah makhluk , adalah pendapat yang benar . Akan tetapi al-Imam Ahmad enggan membicarakannya karena khuatir membawa kepada pandangan kemakhlukan al-Quran .  Sehingga al-Imam Ahmad lebih cenderung menutup pintu tersebut rapat- rapat ” .

( Al-Dzahabi (1994), Siyar A`lam al- Nubala, Muassasah al- Risalah, Beirut, ed, Syuaib al- Arnauth, juz 12, hal. 82 dan juga juz 11, hal. 510 ).

 

Lebih jelas baca di Meluruskan keslahfahaman perkataan alquran bukan mahluk

 

Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa Ibn Kullab bukanlah ulama’ yang menyimpang dari metodologi Salaf yang mengikuti fahaman Ahl al-Sunnah Wa al Jama`ah , sehingga madzhabnya juga diikuti oleh al-Imam al Bukhari , al-Asy`ari dan lain- lain.

 

Sekarang apabila demikian adanya , dari mana asal- usul pendapat bahwa al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari telah meninggalkan madzhab dan pendapat-pendapatnya yang mengikuti Ibn Kullab ..?..

 

Pertanyaan ini mengajak kita untuk mengkaji artikel yang terakhir berikut ini.

 

KETIGA,

KITAB AL-IBANAH AN USUL AL-DIYANAH

 

Kitab al-Ibanah `an Usul al- Diyanah di dakwa sebagai hujjah bagi golongan yang mengatakan bahwa pemikiran al-Imam Abu al- Hassan al-Asy`ari melalui tiga fasa perkembangan di dalam kehidupannya.

 

Memang harus diakui , bahwa al-Imam Abu al- Hassan al-Asy`ari di dalam kitab al-Ibanah dan sebagian kitab-kitab yang lain juga dinisbahkan terhadapnya mengikuti metodologi yang berbeda dengan kitab-kitab yang pernah dikarang olehnya.

 

Di dalam kitab al-Ibanah , al-Imam Abu al-Hassan al Asy`ari mengikuti metodologi tafwidh makna yang diikuti oleh majoritas ulama’ Salaf berkaitan dengan ayat-ayat mutasyabihat.

 

Berdasarkan hal ini , sebagian golongan memahami bahwa al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari sebenarnya telah meninggalkan madzhabnya yang kedua yaitu madzhab Ibn Kullab ,  dan kini beralih kepada metodologi Salaf.

 

Di atas telah kami paparkan , bahwa Ibn Kullab bukanlah ahli agama yang menyalahi ulama’ Salaf.

 

Bahkan dia termasuk dalam kalangan ulama’ Salaf dan konsisten mengikuti metodologi tafwidh sebagaimana yang dijelaskan oleh al-Hafiz Ibn Hajar al-`Asqalani di dalam kitabnya Lisan al-Mizan.

 

HANYA SAJA Sekte Wahhabi/Sekte Salafi TIDAK MEMAHAMI MAKSUD TAFWID!!  karena telah terikat oleh faham Ibnu Taimiyah , ATAU MEREKA LEBIH TAHU METODE SALAF DARIPADA ULAMA YG KETEMU LANGSUNG DENGAN SALAF??

 

Paparan di atas sebenarnya telah cukup untuk membatalkan klaim yang mengatakan bahwa al-Imam Abu al-Hassan al- Asy`ari meninggalkan metodologi Ibn Kullab dan berpindah ke metodologi Salaf , kerana Ibn Kullab sendiri termasuk dalam kalangan ulama’ Salaf yang konsisten dengan metodologi Salaf.

 

Oleh sebab itu , bagaimana dengan kitab al-Ibanah yang menjadi dasar kepada kelompok yang mengatakan bahawa al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari telah meninggalkan pendapatnya yang mengikuti Ibn Kullab…?…

 

Di sini , dapatlah kita ketahui bahwa kitab al-Ibanah yang asli telah membatalkan kenyataan Sekte Wahhabi/Sekte Salafi yang mengatakan bahwa al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari telah meninggalkan pendapatnya yang mengikuti Ibn Kullab , kerana kitab al-Ibanah di tulis untuk mengikuti metodologi Ibn Kullab , sehingga tidak mungkin dakwaan yang mengatakan bahwa al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari telah meninggalkan pendapat tersebut.

 

Ada beberapa fakta sejarah yang mengatakan bahwa al-Imam Abu al-Hassan al- Asy`ari menulis kitab al-Ibanah dengan mengikut metodologi Ibn Kullab , kenyataan ini disebut oleh al-Hafiz Ibn Hajar al-`Asqalani di dalam kitabnya Lisan al-Mizan yaitu : ” Metodologi Ibn Kullab diikuti oleh al-Asy`ari di dalam kitab al- Ibanah”.

(Ibn Hajar al-`Asqalani (t.t.) , Lisan al-Mizan , Dar, al-Fikr, Beirut, juz 3, hal. 291).

 

Pernayataan al-Hafiz Ibn Hajar al- `Asqalani ini menambah keyakinan kita bahwa Ibn Kullab konsisten dengan metodologi Salaf al-Salih dan termasuk ulama’mereka , karena kitab al-Ibanah yang dikarang oleh al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari pada akhir hayatnya dan mengikuti metodologi Salaf , juga mengikuti metodologi Ibn Kullab.

 

Hal ini membawa kepada kesimpulan bahwa metodologi Salaf dan metodologi Ibn Kullab ADALAH SAMA , dan itulah yang diikuti oleh al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari setelah keluar dari Muktazilah.

 

Dengan demikian , kenyataan al- Hafiz Ibn Hajar al-`Asqalani tersebut juga telah membatalkan dakwaan Sekte Wahhabi/Sekte Salafi melalui kenyataan mereka yang mengatakan bahwa pemikiran al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari mengalami tiga fase perkembangan.

 

Bahkan kenyataan tersebut dapat menguatkan lagi kenyataan yang menyatakan bahwa pemikiran al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari hanya mengalami dua fase perkembangan saja yaitu fase ketika mengikuti faham Muktazilah dan fase kembalinya al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari kepada metodologi Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah yang sebenar sebagaimana yang diikuti oleh Ibn Kullab , al-Muhasibi , al-Qalanisi , al- Karabisi , al-Bukhari , Muslim , Abu Tsaur , al-Tabari dan lain-lain.

 

Dalam fase kedua ini al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari mengarang kitab al-Ibanah.

 

Dalil lain yang menguatkan lagi bahawa kitab al-Ibanah yang dikarang oleh al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari sesuai dengan mengikut metodologi Ibn Kullab adalah fakta sejarah , karena al- Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari pernah menunjukkan kitab al- Ibanah tersebut kepada sebagian ulama’ Hanabilah di Baghdad yang sangat menitik beratkan tentang fakta , mereka telah menolak kitab al-Ibanah tersebut karena tidak setuju terhadap metodologi al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari.

 

Di dalam hal ini , al-Hafiz adz-Dzahabi telah berkata :  ” Ketika al-Asy`ari datang ke Baghdad , dia mendatangi Abu Muhammad al Barbahari berkata : ” Aku telah membantah al Jubba’i . Aku telah membantah Majusi . Aku telah membantah Kristian “ . Abu Muhammad menjawab , ” Aku tidak mengerti maksud perkataanmu dan aku tidak mengenal kecuali apa yang dikatakan oleh al-Imam Ahmad “.

Kemudian al-Asy`ari pergi dan menulis kitab al-Ibanah .

Ternyata al-Barbahari tetap tidak menerima al-Asy`ari ” .

(Al-Dzahabi (1994), Siyar A`lam al-Nubala, Muassasah al-Risalah, Beirut, ed,Syuaib al-Arnauth, juz 12, hal. 82 dan juga juz 15, hal. 90 dan Cetakan Maktabah al-Shafâ, cet.1, 1424H, vol.9, hal.372;Ibn Abi Ya’la al-Farra’(t.t.) Tabaqat al- Hanabilah, Salafiyyah, Cairo, ed. Hamid al-Faqi, juz 2, hal. 18).

 

Fakta sejarah di atas menyimpulkan , bahwa al- Barbahari dari sebagian kelompok Hanabilah tidak menerima konsep yang ditawarkan oleh al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari.

 

Kemudian al- Imam Abu al- Hassan al-Asy`ari menulis kitab al-Ibanah dan diajukan kepada al-Barbahari , ternyata ditolaknya juga.

 

Hal ini menjadi bukti bahwa al- Ibanah yang asli ditulis oleh al-Imam Abu al-Hassan al- Asy`ari tidak sama dengan kitab al-Ibanah yang kini diikuti oleh Sekte Wahhabi/Sekte Salafi…. AYO ADA APA YA????

 

Kitab al-Ibanah yang asli sebenarnya mengikut metodologi Ibn Kullab.

 

Perlu diketahui pula , bahwa sebelum fase al-Imam Abu al- Hassan al-Asy`ari , kelompok Hanabilah yang cenderung kepada penelitian fakta itu telah menolak metodologi yang ditawarkan oleh Ibn Kullab , al-Bukhari , Muslim , Abu Tsaur , ath-Thabari dan lain-lain berkaitan dengan MASALAH BACAAN SESEORANG TERHADAP AL- QURAN APAKAH TERMASUK MAKHLUK ATAU BUKAN.

 

Sekarang , apabila kitab al- Ibanah yang asli sesuai dengan metodologi Ibn Kullab , lalu bagaimana dengan kitab al-Ibanah yang tersebar dewasa ini yang menjadi dasar kaum Wahhabi untuk mendakwa bahwa al- Asy`ari telah membuang madzhabnya?

 

Berdasarkan kajian yang mendalam , para pakar telah membuat kesimpulan bahwa kitab al-Ibanah yang dinisbahkan kepada al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari tersebut telah tersebar dewasa ini penuh dengan tahrif/ distoris , pengurangan dan penambahan.

 

Terutama kitab al- Ibanah yang diterbitkan di Saudi Arabia dan ditahqiqkan oleh Sekte Wahhabi/Sekte Salafi !!! Dan untuk lebih panjang lebar tentang penjelasan ini , baca dalam risalah yang berbahasa arab , nama risalahnya adalah شبهة الأطوار الثلاثة لأبى الحسن الأشعرى التي يروج لها الوهابية  dan bisa di download di 4shared ana,klik:  شبهة

00-00

Al-Quran – Makhluk

http://www.anwarbadruzzaman.com/2013/04/meluruskan-kesalah-fahaman-ungkapanal.html

000==000