AL-ASY’ARI MELALUI 7 FASE PEMIKIRAN AQIDAH


.

HATI-HATI KITAB ULAMA MADZHAB IMAM ASY-SYAFI’I DISELEWENGKAN OLEH SEKTE WAHABI ARAB SAUDI

Buku yang atas ini disusun atas selera Sekte Wahabi

Judul Buku : Abul Hasan Al-Asy’ari Imam yang terdzalimi
tebal : 246 Hal
Ukuran : 15,5 x 24

OOO==OOO

Camera 360Buku yang ini disusun atas selera dari para Khawarij

Detail Buku

51 Ijma’ Serat-serat Aqidah Ahlus-Sunnah wal Jama’ah

Penulis : Abul Hasan al Asy’ari; Muh. Dawam Sukardi;
Penerbit : Pustaka Azzam
Subjek : TAUHID/AQIDAH;
Bahasa : INDONESIA
Tahun : 2001
Fisik : 222 hal.; 21 cm.
No Panggil : KK 2X3 ASY s 2001

IMAM AL-ASY’ARI BERMADZHAB IMAM AHMAD BIN HAMBAL

PENERBIT BUKU INI ( DIATAS dan DIATASNYA LAGI ) ADALAH DIBAWAH KUASA ARAB SAUDI – ISINYA MENGIKUTI VERSI KERAJAAN ARAB SAUDI.

APABILA KITA BACA DAN DIFAHAMI , MAKA KITA TIDAK AKAN MARAH TERHADAP KELANCANGAN PARA PEMUKA SEKTE DARI ARAB SAUDI TELAH MENYELEWENGKAN SEJARAH ISLAM , TAPI MALAH  GELI DAN MENGGELIKAN ATAS KETOLOLAN NYA .

=

Supaya lebih semarak kisahnya

Bahwa sesungguhnya Imam al-Asy’ari ini dalam kehidupannya melalui 7 alam dalam menentukan warna Aqidahnya :

1. / Mengikuti Sekte Zamaksyari , karena tidak puas maka pindah  Sekte ke…

2. / Mengikuti Sekte Ibnu Taimiyah , karena tidak puas maka pindah  Sekte ke…

3. /Mengikuti Sekte Zahiriyah , karena tidak puas maka pindah  Sekte ke…

4./ Mengikuti Sekte Abdul Wahab , karena tidak puas maka pindah  Sekte ke…

5. / Mengikuti Sekte Free Masonri , karena tidak puas maka pindah  Sekte ke…

6. / Mengikuti Sekte Abduh , karena tidak puas maka pindah  Sekte ke…

7. / Sekarang Imam Al-Asy’ari lagi StandBy… , lagi tunggu Imam Abdul Wahab muncul lagi di arah matahari tenggelam ( nejed )…karena menurut kepercayaan , bahwa Abdul Wahab itu tidak mati ….tapi menghilang dan satu saat akan muncul kembali bersama dajjal.

Jadi sebenarnya Imam Ai-Asy’ari itu terakhir memilih Madzhabnya Abduh dan kemudian mempelajari kitab Suci Al-Manar Al-Masonry dan bergabung dengan  Sekte Wahhabi/Sekte Salafi.

OOO===OOO

SEJARAH IMAM AL-ASY’ARI YANG SEBENARNYA ADALAH MADZHAB IMAM SYAFI’I , DAPAT DIBACA PADA BUKU YANG DIBAWAH INI

Judul: Madzhab Al-Asy’ari Benarkah Ahlussunnah Wal-Jama’ah?
Penerbit: Khalista
Penulis: Muhammad Idrus Ramli
Tebal: 312 halaman

“ Kalau memang Nahdlatul Ulama mengklaim Mengikuti madzhab Ahlussunnah Wal-Jama’ah , mengapa mengikuti madzhab al-Asy’ari , kok tidak mengikuti madzhab ulama salaf yang saleh saja yang memang benar-benar Ahlussunnah Wal-Jama’ah ? ”

“Apakah dalil-dalil yang menunjukkan bahwa madzhab al-Asy’ari itu Ahlussunnah Wal-Jama’ah atau al- firqah al-najiyah?”

“Mengapa Ahlussunnah Wal-Jama ‘ah hanya mewajibkan mengetahui sifat dua puluh yang wajib bagi Allah? Bukankah dalam al-Asma’al-Husna sendiri, nama-nama dan sifat-sifat Allah berjumlah sembilan puluh sembilan ?”

Tiga pertanyaan menggelitik itu datang pada penulis di forum Seminar.

Pertama, dari peserta yang tampaknya beraliran Salafi.

Kedua, walaupun lebih baik dari pertanyaan sebelumnya , namun juga menunjukkan bahwa pada saat ini, hal-hal yang sebenarnya dianggap sebagai ideologi dan keyakinan di kalangan masyarakat , ternyata seringkali digugat kebenarannya.

Ketiga , tampak semacam gugatan yang bernada filosofis.

Kalau pertanyaan-pertanyaan itu tidak segera dijawab akan memunculkan pertanyaan berantai.

Sebab, kesimpulan yang bisa ditangkap dari pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah bahwa madzhab al-Asy’ari bukan Ahlussunnah Wal-Jama’ah.

Madzhab al-Asy’ari tidak mengikuti ajaran ulama salaf yang saleh , dan pada gilirannya Nahdlatul Ulama bukan Ahlussunnah Wal-Jama’ah? Benarkah…?

Nah, dari berbagai pertanyaan itulah buku ini disusun oleh seorang aktivis Bahtsul Masa’il di lingkungan NU.

Di sini sarat akan kajian sejarah , metodologi , sistematika , profil tokoh -ahli tafsir , hadits , fiqih , teologi dan tashawwuf-, ulasan kitab , kesaksian dan pengakuan para ulama , serta dalil-dalil madzhab al-Asy’ari.

000==000

 http://www.anwarbadruzzaman.com/2013/05/benarkah-al-imam-abu-hasan-al-asyari.html

Oleh Abu Zahrah 

KhUSUS kepada mereka yang JUJUR ingin memahami tentang jawaban daripada tuduhan golongan Wahhabi mengenai al- Imam Abu al-Hassan al- Asy`ari bertaubat dari manhaj yang disusun oleh beliau yang kita ketahui sekarang ini.

Kami sediakan artikel ini agar kekeliruan yang di cetuskan oleh golongan Wahhabi ini dapat di hindarkan.

Artikel ini perlu dibaca hingga tuntas, jika tidak, anda tidak akan faham. Baca perlahan-lahan dan jauhkan membaca dalam keadaan emosi.

Ada artikel yang tersebar di kalangan sebagian pakar, khususnya di kalangan golongan wahhabi yang mengatakan bahwa perjalanan pemikiran al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari melalui tiga fase dalam kehidupan beliau.

( Lihat Mauqif Ibn Taimiyah min al-Asya`irah, Abd al-Rahman bin Saleh al-Mahmud(1995),Maktabah al- Rusyd,Riyadh,hal. 378.)

  • Pertama: Fase ketika al Imam Abu al-Hassan al- Asy`ari mengikuti pemahaman Muktazilah dan menjadi salah satu tokoh Mu’tazilah hingga berusia 40 tahun.
  • Kedua: Fase di mana al Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari keluar dari aliran Mu’tazilah dan merintis madzhab pemikiran teologis ( ilmu akidah ) dengan mengikuti mazhab Ibn Kullab.
  • Ketiga: Fase di mana al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari keluar daripada madzhab yang dirintisnya yaitu mengikuti madzhab Ibn Kullab dan kembali kepada Ahl al-Sunnah Wa al Jama`ah yang mengikut manhaj Salaf al-Salih dengan mengarang sebuah kitab yang berjudul al Ibanah `an Usul al-Diyanah.

 

Berdasarkan hal ini , Sekte Wahhabi/Sekte Salafi membuat kesimpulan bahwa madzhab al-Asy`ari yang berkembang dan diikuti oleh majoritas kaum muslimin hingga saat ini adalah pemikiran al- Imam Abu al- Hassan al-Asy`ari pada fase kedua yaitu mengikuti madzhab Ibn Kullab yang bukan dari pemahaman Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah dan telah dibuang oleh al-Imam al-Asy`ari , dengan kitab terakhir yang ditulis oleh al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari yaitu al-Ibanah `an Usul al-Diyanah.

 

Oleh karena itu , menurut Sekte Wahhabi/Sekte Salafi madzhab al-Asy`ari yang ada sekarang sebenarnya mengikuti madzhab Ibn Kullab yang tidak mengikuti pemahaman Ahl al-Sunnah Wa al- Jama`ah dan tidak mengikuti madzhab al-Asy`ari pada fase ketiga yang asli yaitu Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah.

 

Inilah kenyataan daripada artikel yang direka oleh Sekte Wahhabi/Sekte Salafi dan tuduhan   yang disebar secara menyeluruh oleh mereka pada dewasa ini.

Oleh karena hal itu, artikel yang dibuat oleh Sekte Wahhabi/Sekte Salafi ini sudah tentu mempunyai banyak pendustaan mengenai fakta sejarah dan fakta ilmiah.

Sebelum kita mengkaji artikel di atas satu persatu, ada baiknya kita memperinci terlebih dahulu makna yang tersembunyi ( hidden meaning ) di balik artikel mereka itu. Apabila hal tersebut dikaji , ada tiga makna yang tersembunyi di balik artikel tersebut.

 

Pertama : Perkembangan pemikiran al-Imam Abu al- Hassan al-Asy`ari melalui tiga fase di dalam kehidupannya,1.Mu’tazilah ,2. mengikuti madzhab Ibn Kullab dan terakhir beliau kembali kepada ajaran Ahl al- Sunnah Wa al-Jama`ah. Ini adalah artikel pokok yang dipropagandakan oleh Sekte Wahhabi/Sekte Salafi. Artikel ini mengandung dua artikel  .

 

Kedua : Abdullah bin Sa`id bin Kullab bukan pengikut Ahl al- Sunnah Wa al-Jama`ah.

 

Ketiga : Kitab al-Ibanah `an Usul al- Diyanah merupakan fase terakhir dalam kehidupan al-Imam Abu al- Hassan al-Asy`ari yaitu fase kembalinya al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari kepangkuan ajaran Salaf al-Salih atau Ahl al- Sunnah Wa al-Jama`ah.

 

SANGGAHAN/BANTAHAN.

 

Pertama,Pemikiran al Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari melalui tiga fase?

Benarkah pemikiran al-Imam Abu Hassan al-Asy`ari melaui tiga peringkat perkembangan di dalam kehidupannya?

 

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus mengamati dan mengkaji sejarah kehidupan al- Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari yang ditulis oleh para alim ulama’.

 

Al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari merupakan salah seorang tokoh kaum Muslimin yang sangat masyhur dan mempunyai fakta yang jelas.

 

Beliau bukan tokoh kontroversial dan bukan tokoh yang misteri yaitu perjalanan hidupnya tidak diketahui orang , lebih-lebih lagi berkaitan dengan hal yang amat penting seperti yang kita bicarakan ini.

 

Seandainya kehidupan al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari seperti kenyataan dalam artikel yang di reka oleh Sekte Wahhabi/Sekte Salafi itu , menyatakan bahwa al-Imam Abu al-Hassan al- Asy`ari melalui tiga fasa perkembangan pemikiran , maka sudah tentu para sejarawan akan menyatakannya dan menjelaskannya di dalam buku- buku sejarah.

 

Maklumat mengenai ini juga sudah pasti akan masyhur dan tersebar luas sebagaimana fakta sejarah hanya menyatakan bahwa al-Imam Abu al-Hassan al- Asy`ari hanya bertaubat dan meninggalkan faham Mu’tazilah saja.

 

Semua sejarawan yang menulis biografi al-Imam Abu al-Hassan al- Asy`ari hanya menyatakan kisah naiknya al-Imam Abu al- Hassan al- Asy`ari ke atas mimbar di masjid Jami`Kota Basrah dan berpidato dengan menyatakan bahwa beliau telah keluar daripada faham Mu’tazilah.

 

Di sini kita bertanya , adakah sejarawan yang menyatakan kisah al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari keluar dari pemahaman pemikiran Abdullah bin Sa`id bin Kullab…?…  Sudah tentu jawabannya , tidak ada.

 

Apabila kita menelaah atau meneliti buku-buku sejarah , kita tidak akan mendapatkan fakta atau maklumat yang mengatakan al-Imam Abu al- Hassan al-Asy`ari bertaubat dari ajaran Ibn Kullab baik secara jelas maupun samar.

 

Oleh karena itu , maklumat atau fakta yang kita dapati ialah kesepakatan para sejarawan bahwa setelah al-Imam Abu Hassan al-Asy`ari bertaubat daripada faham Mu’tazilah , beliau kembali kepada ajaran Salaf al-Salih seperti kitab al- Ibanah dan lain-lain yang ditulisnya dalam rangka membela madzhab Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah.

 

Al-Imam Abu Bakr bin Furak berkata : ” Syaikh Abu al-Hassan Ali bin Ismail al-Asy`ari radiyallahu`anhu berpindah daripada madzhab Mu’tazilah kepada madzhab Ahl al- Sunnah Wa al- Jama`ah dan membelanya dengan hujjah-hujjah rasional dan menulis karangan- karangan dalam hal tersebut…”

( Tabyin Kidzb al- Muftari, al-Hafiz Ibn Asakir (1347 H) tahqiq Muhammad Zahid al- Kautsari, Maktabah al-Azhariyyah li at-Turats, cet.1, 1420H, hal 104 ).

 

Sejarawan terkemuka , al-Imam Syamsuddin Ibn Khallikan berkata : ” Abu al-Hassan al-Asy`ari adalah perintis pokok-pokok akidah dan berupaya membela madzhab Ahl al- Sunnah.

 

Pada mulanya Abu al- Hassan adalah seorang Mu’tazilah , kemudian beliau bertaubat dari pandangan tentang keadilan Tuhan dan kemakhlukan al-Quran di masjid Jami` Kota Basrah pada hari Jumaat “.

( Wafayat al -A’yan, al-Imam Ibn Khallikan, Dar Shadir,Beirut, ed. Ihsan Abbas, juz 3, hal. 284 ).

 

Sejarawan al-Hafiz adz-Dzahabi berkata : ” Kami mendapat informasi bahwa Abu al- Hassan adz-Asy`ari bertaubat dari faham Mu’tazilah dan naik ke mimbar di Masjid Jami’ Kota Basrah dengan berkata : Dulu aku berpendapat bahawa al-Quran itu makhluk dan…Sekarang aku bertaubat dan bermaksud membantah terhadap faham  Mu’tazilah “.

( Syiar A`lam al-Nubala, al- Hafidz adz- Dzahabi,Muassasah al-Risalah, Beirut, ed. Syuaib al-Arnauth, 1994, hal. 89).

 

Sejarawan terkemuka , Ibn Khaldun berkata : ” Hingga akhirnya tampil Syaikh Abu al-Hassan al- Asy`ari dan berdebat dengan Sebagian tokoh Mu’tazilah tentang masalah-masalah shalah dan aslah, lalu dia membantah metodologi mereka ( Mu’tazilah ) dan mengikut pendapat Abdullah bin Said bin Kullab , Abu al-Abbas al-Qalanisi dan al-Harith al-Muhasibi daripada kalangan pengikut Salaf dan Ahl al-Sunnah “.

( Ibn Khaldum (2001), al-Muqaddimah, Dar al-Fikr, Beirut, ed. Khalil Syahadah, h. 853 ).

 

Fakta yang dikemukakan oleh Ibn Khaldum tersebut menyimpulkan bahwa setelah al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari keluar daripada faham Mu’tazilah, beliau mengikuti madzhab Abdullah bin Sa`id bin Kullab, al-Qalanisi dan al-Muhasibi yang merupakan pengikut ulama’ Salaf dan Ahl al- Sunnah Wa al Jama`ah.

 

Demikian juga, maklumat atau fakta sejarah yang dinyatakan di dalam buku- buku sejarah yang menulis biografi al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari seperti : Tarikh Baghdad karya al-Hafiz al-Khatib al-Baghdadi , Tabaqat al- Syafi`iyyah al-Kubra karya al- Subki , Syadzarat al-Dzahab karya Ibn al-Imad al-Hanbali , al-Kamil fi al-Tarikh karya Ibn al-Atsir , Tabyin Kizb al-Muftari karya al-Hafiz Ibn Asakir , Tartib al-Madarik karya al- Hafiz al-Qadhi Iyadh , Tabaqat al-Syafi`iyyah karya al-Asnawi , al- Dibaj al-Muadzahhab karya Ibn Farhun , Mir`at al-Janan karya al- Yafi`I dan lain-lain ,  semunya sepakat bahwa setelah al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari keluar dari faham Mu’tazilah , beliau kembali kepada madzhab Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah yang mengikuti metodologi Salaf.

 

Disamping itu , seandainya al-Imam Abu Hassan al-Asy`ari ini melalui tiga peringkat aliran pemikiran , maka sudah tentu hal tersebut akan diketahui dan dikutip oleh murid-murid dan para pengikutnya karena mereka semua adalah orang yang paling dekat dengan al-Imam Abu al- Hassan al-Asy`ari dan orang yang melakukan kajian tentang pemikiran dan sejarah perjalanan hidupnya.

 

Oleh karena  itu sudah semestinya mereka akan lebih mengetahui daripada orang lain yang bukan pengikutnya , lebih- lebih lagi melibatkan tokoh besar yaitu al-Imam Abu al-Hassan al- Asy`ari yang pasti menjadi buah bibir pelajar dan para alim ulama’.

 

Maka dari itu jelaslah , bahwa ternyata selepas kita merujuk kepada kenyataan murid-murid dan para pengikut al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari , kita tidak akan menemui fakta sejarah yang menyatakan bahwa al-Imam Abu al-Hassan telah melalui tiga fasa pemikiran yang di dakwa oleh Sekte Wahhabi/Sekte Salafi ????!!!.

 

Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari dan para pengikutnya bersepakat bahwa al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari telah meninggalkan faham Mu’tazilah dan beliau berpindah kepada Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah seperti yang diikuti oleh al-Harith al-Muhasibi , Ibn Kullab , al Qalanisi , al-Karabisi dan lain-lain.

 

Apabila kita mengkaji karya-karya para alim ulama’ yang mengikuti dan pendukung madzhab al-Asy`ari seperti karya-karya yang dikarang oleh al-Qadhi Abu Bakar al- Baqillani , al-Syaikh Abu Bakr bin Furak , Abu Bakr al-Qaffal al-Syasyi , Abu Ishaq al-Syirazi , al-Hafiz al-Baihaqi dan lain-lain.

 

Kita semua tidak akan menemukan satu fakta pun yang menyatakan bahwa al-Imam Abu al-Hassan al- Asy`ari meninggalkan madzhab yang dihidupkan kembali olehnya yaitu Ahl al- Sunnah Wa al-Jama`ah , sehingga tidak rasional apabila Sekte Wahhabi/Sekte Salafi dakwaan mengatakan al-Imam Abu al- Hassan al- Asy`ari telah meninggalkan madzhabnya tanpa diketahui oleh para murid- muridnya dan pendukungnya.

 

APAKAH WAHABI YG SALAH MENGARTIKAN AQIDAH SALAF ATAU MAYORITAS ULAMA YG KETEMU SALAF LANGSUNG YG SALAH MEMAHAMI PENDAPAT 2 SALAF?? …(  inilah ketololan Sekte Wahhabi/Sekte Salafi ).

 

Tapi Yang nyata ( menurut mereka ) , bahwa seluruh ulama salaf yang ingin selamat , wajib mengikuti aqidahnya Ibnu Taimiyah sesuai dengan sejarah Sekte Wahhabi/Sekte Salafi.

 

Ini adalah kenyataan yang tidak masuk akal dan dusta sama sekali yang jauh dari kebenaran.

 

Sekte Wahhabi/Sekte Salafi menyatakan bahwa al-Imam Abu al- Hassan al-Asy`ari meninggalkan madzhab yang dirintiskan olehnya bersandarkan metodologi al- Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari di dalam kitabnya al- Ibanah `an Usul al-Diyanah dan sebagian kitab-kitab lainnya yang mengikuti metodologi tafwidh berkaitan sifat-sifat Allah di dalam al-Quran dan al-Sunnah.

 

Metodologi tafwidh ini adalah metodologi majoriti ulama’- ulama’ Salaf al-Salih.

 

Berdasarkan hal ini , al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari dianggap menyalahi atau meninggalkan metodologi Ibn Kullab yang tidak mengikuti metodologi salaf sebagaimana yang di tuduhkan oleh Sekte Wahhabi/Sekte Salafi ini.

 

Dari sini lahirlah sebuah pertanyaan, apakah isi kitab al- Ibanah yang di klaim sebagai madzhab Salaf bertentangan dengan metodologi Ibn Kullab , atau dengan kata lain , adakah Ibn Kullab bukan pengikut madzhab Salaf seperti yang ditulis oleh al- Imam Abu al- Hassan al-Asy`ari di dalam kitab al-Ibanah…???…

 

Pertanyaan di atas membawa kepada kita untuk mengkaji kenyataan berikutnya.

 

KEDUA,

IBN KULLAB BUKAN ULAMA’ SALAF DAN AHL AL- SUNNAH WA AL- JAMA`AH …???…

 

Setelah al-Imam Abu al-Hassan al- Asy`ari meninggalkan faham Muktazilah , dia mengikuti metodologi Abdullah bin Sa`id bin Kullab al-Qaththan al-Tamimi.

 

Artikel tersebut telah menjadi kesepakatan bagi kita dengan kelompok yang mengatakan bahwa pemikiran al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari melalui tiga fase tetapi mereka berbeda dengan kita , karena kita mengatakan bahwa metodologi Ibn Kullab sebenarnya sama dengan metodologi Salaf , karena Ibn Kullab sendiri termasuk dalam kalangan tokoh ulama’ Ahl al- Sunnah Wa al-Jama`ah yang mengikuti metodologi Salaf.

 

Hal ini bisa dilihat dengan memperhatikan pernyataan para pakar berikut ini.

Al-Imam Tajuddin al-Subki telah berkata : Bagaimanapun Ibn Kullab termasuk Ahl al Sunnah… Aku melihat al-Imam Dhiyauddin al- Khatib ,  ayah al-Imam Fakhruddin al-Razi , menyebutkan Abdullah bin Said bin Kullab di dalam akhir kitabnya Ghayat al-Maram fi Ilm al-Kalam , berkata :  Di antara teologi Ahl al-Sunnah pada masa khalifah al-Makmun adalah Abdullah bin Said al-Tamimi yang telah mengalahkan Mu’tazilah di dalam majlis al-Makmun dan memalukan mereka dengan hujjah-hujjahnya

( Al-Subki (t.t), Tabaqat al-Syafi`eyyah al-Kubra, Dar Ihya’ al-Kutub, Beirut, ed Abdul Fattah Muhammad dan Mahmud al-Tanahi, juz 2, hal. 300 ).

 

Al-Hafiz Ibn Asakir alDimasyqi telah berkata : Aku pernah membaca tulisan Ali ibn Baqa’ al- Warraq , ahli hadith dari Mesir ,  berupa risalah yang ditulis oleh Abu Muhammad Abdullah ibn Abi Zaid al-Qairawani ,  seorang ahli fiqih madzhab al-Maliki.

 

Dia adalah seorang tokoh terkemuka madzhab al-Imam Malik di Maghrib ( Moroko pen ) pada zamannya.

 

Risalah itu ditujukan kepada Ali ibn Ahmad ibn Ismail al- Baghdadi al- Mu’tazili sebagai jawapan terhadap risalah yang ditulisnya kepada kalangan pengikut madzhab Maliki di Qairawan karena telah memasukkan pandangan-pandangan Muktazilah.

 

Risalah tersebut sangat panjang sekali , dan sebagian jawaban yang ditulis oleh Ibn Abi Zaid kepada ali bin Ahmad adalah sebagaimana berikut :  ” Engkau telah menisbahkan Ibn Kullab kepada bid`ah ,  padahal engkau tidak pernah menceritakan suatu pendapat dari Ibn Kullab yang membuktikan dia memang layak disebut ahli bid`ah.

Dan kami sama sekali tidak mengetahui adanya orang ( ulama’- pen ) yang menisbahkan Ibn Kullab kepada bid`ah.

Justru maklumat yang kami terima , Ibn Kullab adalah pengikut sunnah ( ahl al- Sunnah pen ) yang melakukan bantahan terhadap Jahmiyyah dan pengikut ahli bid`ah lainnya , dia adalah Abdullah ibn Sa’id ibn Kullab ( al- Qaththan, wafat 240H pen ).

( Tabyin Kidzb al-Muftari oleh al- Hafiz Ibn Asakir ( 1347 H ) tahqiq Muhammad Zahid al- Kautsari,Maktabah al- Azhariyyah li at- Turats, cet.1, 1420 H, hal 298 299 ).

 

Data sejarah yang disampaikan oleh al-Hafiz Ibn Asakir di atas memuatkan kesaksian yang sangat penting dari ulama’ sekaliber al-Imam Ibn Abi Zaid al-Qairawani terhadap Ibn Kullab , bahawa ia termasuk pengikut Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah dan bukan pengikut ahli bid`ah.

 

Al-Hafiz adz-Dzahabi telah berkata : Ibn Kullab adalah seorang tokoh ahli kalam ( teologi – ilmu berkenaan dengan ketuhanan ) daerah Bashrah pada zamannya .

Selanjutnya adz- Dzahabi berkata : Ibn Kullab adalah ahli kalam yang paling dekat kepada Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah bahkan ia adalah juru debat mereka (terhadap Mu’tazilah pen).

Ia mempunyai karya diantaranya al-Shifat , Khalq al-Af’al dan al-Radd ala al- Mu’tazilah.

(Lihat Siyar A’lam al- Nubala , Maktabah al-Shafa , cet.1, 1424 H, juz 7, hal 453).

 

Di dalam kitab Siyar A’lam an- Nubala yang ditahqiqkan oleh Syeikh Syuaib al-Arnauth , pernyataan adz- Dzahabi tersebut dipertegas oleh al-Syeikh Syuaib al- Arnauth dengan komentarnya mengatakan : Ibn Kullab adalah pemimpin dan rujukan Ahl al- Sunnah pada masanya . Al-Imam al-Haramain menyebutkan di dalam kitabnya al-Irsyad bahwa dia termasuk sahabat kami ( madzhab al- Asy`ari).

(Siyar A’lam an-Nubala cetakan Muassasah al- Risalah (1994), Beirut, ed. Syuaib al-Arnauth, juz 11, hal. 175).

 

Demikian pula al-Hafiz Ibn Hajar al- `Asqalani menyatakan bahwa Ibn Kullab sebagai pengikut Salaf dalam hal meninggalkan takwil terhadap ayat-ayat dan hadits-hadits mutasyabihat yang berkaitan dengan sifat Allah. Mereka juga disebut dengan golongan mufawwidhah ( yang melakukan tafwidh ).

( Ibn Hajar al- `Asqalani (t.t.), Lisan al-Mizan, Dar, al-Fikr, Beirut, juz 3, hal. 291 ).

 

Dari paparan di atas dapatlah disimpulkan bahwa al-Imam Ibn Kullab termasuk dalam kalangan ulama’ Ahl al-Sunnah Wa al- Jama`ah dan konsisten dengan metodologi Salaf al- Salih dalam pokok-pokok akidah dan keimanan . Mazhabnya menjadi inspirasi al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari ( perintis mazhab al- Asy`ari ).

 

Di sini mungkin ada yang bertanya apakah metodologi Ibn Kullah hanya diikuti oleh al-Imam al- Asy`ari …???…

 

Jawabannya adalah tidak.

 

Metodologi Ibn Kullab tidak hanya diikuti oleh al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari saja , akan tetapi diikuti juga oleh ulama’ besar seperti al-Imam al-Bukhariyaitu pengarang Sahih al-Bukhari , kitab hadits yang menduduki peringkat terbaik dalam segi kesahihannya.

 

Dala konteks ini , al-Hafiz Ibn Hajar al-`Asqalani telah berkata :  ” Al-Bukhari dalam semua yang disajikannya berkaitan dengan penafsiran lafaz-lafaz yang gharib ( aneh ) , mengutipnya dari pakar- pakar bidang tersebut seperti Abu Ubaidah , al-Nahzar bin Syumail , al-Farra’ dan lain-lain.

Adapun kajian-kajian fiqh , sebagian besar diambilnya dari al-Syafi’i , Abu Ubaid dan semuanya. Sedangkan permasalahan-permasalahan teologi ( ilmu kalam ) , sebagian besar diambilnya dari al-Karrabisi , Ibn Kullab dan sesamanya ” .

( Ibn Hajar al-`Asqalani (t.t), Syarh Sahih al-Bukhari ,Salafiyyah,  Cairo , juz 1,hal. 293 ).

 

Pernyataan al-Hafiz Ibn Hajar al- `Asqalani tersebut menyimpulkan bahwa al- Imam Abdullah bin Said bin Kullab adalah Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah yang mengikuti metodologi ulama’ Salaf ,  oleh karena itu dia juga diikuti oleh al- Imam al-Bukhari , Abu al-Hassan al- Asy`ari dan lain-lain.

 

Di sini mungkin ada yang bertanya , apabila Ibn Kullab termasuk salah seorang tokoh ulama’ Salaf dan mengikuti Ahl al- Sunnah Wa al-Jama`ah , beliau ( Ibn Kullab ) juga diikuti oleh banyak ulama’ seperti al-Imam al-Bukhari dan lain- lain , lalu mengapa Ibn Kullab dituduh menyimpang dari metodologi Salaf atau Ahl al- Sunnah Wa al-Jama`ah…??…

 

ATAU WAHABI YG TDK TAU MAKSUD UCAPAN SALAF? MANA PENGAKUAN PARA ULAMA TRHADAP FMAHAMAN WAHABI??

 

Hal tersebut sebenarnya datang daripada satu persoalan , yaitu tentang pendapat apakah bacaan seseorang terhadap al-Quran termasuk makhluk atau tidak.

 

Al- Imam Ahmad bin Hanbal dan pengikutnya berpandangan untuk tidak menetapkan apakah bacaan seseorang terhadap al-Quran itu makhluk atau bukan.

 

Menurut al-Imam Ahmad bin Hanbal , pandangan bahwa bacaan seseorang terhadap al-Quran termasuk makhluk adalah bid`ah.

 

Sementara al-Karabisi , Ibn Kullab , al-Muhasibi , al-Qalanisi , al-Bukhari , Muslim dan lain-lain berpandangan tegas , bahwa bacaan seseorang terhadap al-Quran adalah makhluk.

 

Berangkat dari perbedaan pandangan tersebut akhirnya kelompok al-Imam Ahmad bin Hanbal menganggap kelompok Ibn Kullab termasuk ahli bid`ah , meskipun sebenarnya kebenaran dalam hal tersebut berada di pihak Ibn Kullab dan kelompoknya.

 

Dalam konteks ini al-Hafiz adz- Dzahabi telah berkata : ” Tidak diragukan lagi bahwa pandangan yang dibuat dan ditegaskan oleh al-Karabisi tentang masalah pelafazan al- Quran ( oleh pembacanya ) dan bahwa hal itu adalah makhluk , adalah pendapat yang benar . Akan tetapi al-Imam Ahmad enggan membicarakannya karena khuatir membawa kepada pandangan kemakhlukan al-Quran .  Sehingga al-Imam Ahmad lebih cenderung menutup pintu tersebut rapat- rapat ” .

( Al-Dzahabi (1994), Siyar A`lam al- Nubala, Muassasah al- Risalah, Beirut, ed, Syuaib al- Arnauth, juz 12, hal. 82 dan juga juz 11, hal. 510 ).

 

Lebih jelas baca di Meluruskan keslahfahaman perkataan alquran bukan mahluk

 

Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa Ibn Kullab bukanlah ulama’ yang menyimpang dari metodologi Salaf yang mengikuti fahaman Ahl al-Sunnah Wa al Jama`ah , sehingga madzhabnya juga diikuti oleh al-Imam al Bukhari , al-Asy`ari dan lain- lain.

 

Sekarang apabila demikian adanya , dari mana asal- usul pendapat bahwa al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari telah meninggalkan madzhab dan pendapat-pendapatnya yang mengikuti Ibn Kullab ..?..

 

Pertanyaan ini mengajak kita untuk mengkaji artikel yang terakhir berikut ini.

 

KETIGA,

KITAB AL-IBANAH AN USUL AL-DIYANAH

 

Kitab al-Ibanah `an Usul al- Diyanah di dakwa sebagai hujjah bagi golongan yang mengatakan bahwa pemikiran al-Imam Abu al- Hassan al-Asy`ari melalui tiga fasa perkembangan di dalam kehidupannya.

 

Memang harus diakui , bahwa al-Imam Abu al- Hassan al-Asy`ari di dalam kitab al-Ibanah dan sebagian kitab-kitab yang lain juga dinisbahkan terhadapnya mengikuti metodologi yang berbeda dengan kitab-kitab yang pernah dikarang olehnya.

 

Di dalam kitab al-Ibanah , al-Imam Abu al-Hassan al Asy`ari mengikuti metodologi tafwidh makna yang diikuti oleh majoritas ulama’ Salaf berkaitan dengan ayat-ayat mutasyabihat.

 

Berdasarkan hal ini , sebagian golongan memahami bahwa al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari sebenarnya telah meninggalkan madzhabnya yang kedua yaitu madzhab Ibn Kullab ,  dan kini beralih kepada metodologi Salaf.

 

Di atas telah kami paparkan , bahwa Ibn Kullab bukanlah ahli agama yang menyalahi ulama’ Salaf.

 

Bahkan dia termasuk dalam kalangan ulama’ Salaf dan konsisten mengikuti metodologi tafwidh sebagaimana yang dijelaskan oleh al-Hafiz Ibn Hajar al-`Asqalani di dalam kitabnya Lisan al-Mizan.

 

HANYA SAJA Sekte Wahhabi/Sekte Salafi TIDAK MEMAHAMI MAKSUD TAFWID!!  karena telah terikat oleh faham Ibnu Taimiyah , ATAU MEREKA LEBIH TAHU METODE SALAF DARIPADA ULAMA YG KETEMU LANGSUNG DENGAN SALAF??

 

Paparan di atas sebenarnya telah cukup untuk membatalkan klaim yang mengatakan bahwa al-Imam Abu al-Hassan al- Asy`ari meninggalkan metodologi Ibn Kullab dan berpindah ke metodologi Salaf , kerana Ibn Kullab sendiri termasuk dalam kalangan ulama’ Salaf yang konsisten dengan metodologi Salaf.

 

Oleh sebab itu , bagaimana dengan kitab al-Ibanah yang menjadi dasar kepada kelompok yang mengatakan bahawa al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari telah meninggalkan pendapatnya yang mengikuti Ibn Kullab…?…

 

Di sini , dapatlah kita ketahui bahwa kitab al-Ibanah yang asli telah membatalkan kenyataan Sekte Wahhabi/Sekte Salafi yang mengatakan bahwa al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari telah meninggalkan pendapatnya yang mengikuti Ibn Kullab , kerana kitab al-Ibanah di tulis untuk mengikuti metodologi Ibn Kullab , sehingga tidak mungkin dakwaan yang mengatakan bahwa al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari telah meninggalkan pendapat tersebut.

 

Ada beberapa fakta sejarah yang mengatakan bahwa al-Imam Abu al-Hassan al- Asy`ari menulis kitab al-Ibanah dengan mengikut metodologi Ibn Kullab , kenyataan ini disebut oleh al-Hafiz Ibn Hajar al-`Asqalani di dalam kitabnya Lisan al-Mizan yaitu : ” Metodologi Ibn Kullab diikuti oleh al-Asy`ari di dalam kitab al- Ibanah”.

(Ibn Hajar al-`Asqalani (t.t.) , Lisan al-Mizan , Dar, al-Fikr, Beirut, juz 3, hal. 291).

 

Pernayataan al-Hafiz Ibn Hajar al- `Asqalani ini menambah keyakinan kita bahwa Ibn Kullab konsisten dengan metodologi Salaf al-Salih dan termasuk ulama’mereka , karena kitab al-Ibanah yang dikarang oleh al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari pada akhir hayatnya dan mengikuti metodologi Salaf , juga mengikuti metodologi Ibn Kullab.

 

Hal ini membawa kepada kesimpulan bahwa metodologi Salaf dan metodologi Ibn Kullab ADALAH SAMA , dan itulah yang diikuti oleh al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari setelah keluar dari Muktazilah.

 

Dengan demikian , kenyataan al- Hafiz Ibn Hajar al-`Asqalani tersebut juga telah membatalkan dakwaan Sekte Wahhabi/Sekte Salafi melalui kenyataan mereka yang mengatakan bahwa pemikiran al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari mengalami tiga fase perkembangan.

 

Bahkan kenyataan tersebut dapat menguatkan lagi kenyataan yang menyatakan bahwa pemikiran al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari hanya mengalami dua fase perkembangan saja yaitu fase ketika mengikuti faham Muktazilah dan fase kembalinya al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari kepada metodologi Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah yang sebenar sebagaimana yang diikuti oleh Ibn Kullab , al-Muhasibi , al-Qalanisi , al- Karabisi , al-Bukhari , Muslim , Abu Tsaur , al-Tabari dan lain-lain.

 

Dalam fase kedua ini al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari mengarang kitab al-Ibanah.

 

Dalil lain yang menguatkan lagi bahawa kitab al-Ibanah yang dikarang oleh al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari sesuai dengan mengikut metodologi Ibn Kullab adalah fakta sejarah , karena al- Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari pernah menunjukkan kitab al- Ibanah tersebut kepada sebagian ulama’ Hanabilah di Baghdad yang sangat menitik beratkan tentang fakta , mereka telah menolak kitab al-Ibanah tersebut karena tidak setuju terhadap metodologi al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari.

 

Di dalam hal ini , al-Hafiz adz-Dzahabi telah berkata :  ” Ketika al-Asy`ari datang ke Baghdad , dia mendatangi Abu Muhammad al Barbahari berkata : ” Aku telah membantah al Jubba’i . Aku telah membantah Majusi . Aku telah membantah Kristian “ . Abu Muhammad menjawab , ” Aku tidak mengerti maksud perkataanmu dan aku tidak mengenal kecuali apa yang dikatakan oleh al-Imam Ahmad “.

Kemudian al-Asy`ari pergi dan menulis kitab al-Ibanah .

Ternyata al-Barbahari tetap tidak menerima al-Asy`ari ” .

(Al-Dzahabi (1994), Siyar A`lam al-Nubala, Muassasah al-Risalah, Beirut, ed,Syuaib al-Arnauth, juz 12, hal. 82 dan juga juz 15, hal. 90 dan Cetakan Maktabah al-Shafâ, cet.1, 1424H, vol.9, hal.372;Ibn Abi Ya’la al-Farra’(t.t.) Tabaqat al- Hanabilah, Salafiyyah, Cairo, ed. Hamid al-Faqi, juz 2, hal. 18).

 

Fakta sejarah di atas menyimpulkan , bahwa al- Barbahari dari sebagian kelompok Hanabilah tidak menerima konsep yang ditawarkan oleh al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari.

 

Kemudian al- Imam Abu al- Hassan al-Asy`ari menulis kitab al-Ibanah dan diajukan kepada al-Barbahari , ternyata ditolaknya juga.

 

Hal ini menjadi bukti bahwa al- Ibanah yang asli ditulis oleh al-Imam Abu al-Hassan al- Asy`ari tidak sama dengan kitab al-Ibanah yang kini diikuti oleh Sekte Wahhabi/Sekte Salafi…. AYO ADA APA YA????

 

Kitab al-Ibanah yang asli sebenarnya mengikut metodologi Ibn Kullab.

 

Perlu diketahui pula , bahwa sebelum fase al-Imam Abu al- Hassan al-Asy`ari , kelompok Hanabilah yang cenderung kepada penelitian fakta itu telah menolak metodologi yang ditawarkan oleh Ibn Kullab , al-Bukhari , Muslim , Abu Tsaur , ath-Thabari dan lain-lain berkaitan dengan MASALAH BACAAN SESEORANG TERHADAP AL- QURAN APAKAH TERMASUK MAKHLUK ATAU BUKAN.

 

Sekarang , apabila kitab al- Ibanah yang asli sesuai dengan metodologi Ibn Kullab , lalu bagaimana dengan kitab al-Ibanah yang tersebar dewasa ini yang menjadi dasar kaum Wahhabi untuk mendakwa bahwa al- Asy`ari telah membuang madzhabnya?

 

Berdasarkan kajian yang mendalam , para pakar telah membuat kesimpulan bahwa kitab al-Ibanah yang dinisbahkan kepada al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari tersebut telah tersebar dewasa ini penuh dengan tahrif/ distoris , pengurangan dan penambahan.

 

Terutama kitab al- Ibanah yang diterbitkan di Saudi Arabia dan ditahqiqkan oleh Sekte Wahhabi/Sekte Salafi !!! Dan untuk lebih panjang lebar tentang penjelasan ini , baca dalam risalah yang berbahasa arab , nama risalahnya adalah شبهة الأطوار الثلاثة لأبى الحسن الأشعرى التي يروج لها الوهابية  dan bisa di download di 4shared ana,klik:  شبهة

00-00

Al-Quran – Makhluk

http://www.anwarbadruzzaman.com/2013/04/meluruskan-kesalah-fahaman-ungkapanal.html

000==000

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s