Qaul Qadim – Qaul Jadid / ketika hendak Sujud.


Ahmad Ar Rifa’i

Makin tahkiknya ilmu membuat para tholibul ilmi menemukan hal-hal baru yang mungkin berbeda dengan apa yang diamalkan oleh para pendahulunya, termasuk di dalamnya adalah bab sujud.

Di Indonesia khususnya sebagai pengikut fanatik madzhab Syafi’I telah berabad-abad mempraktekkan bahwa ketika seorang musholli hendak sujud,

maka ia akan mendahulukan lututnya baru kemudian tangannya, seakan-akan hal ini merupakan sebuah kebenaran mutlak yang tidak bisa ditawar-tawar.

Akan tetapi seiring dengan diterimanya kajian-kajina kitab lintas madzhab, maka saat ini banyak dijumpai orang yang mendahulukan tangan daripada lututnya saat bersujud.

Dan tidak jarang masing-masing mengklaim bahwa apa yang dipraktekkannya tersebut adalah yang paling benar dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw sembari bersifat sinis terhadap orang yang berbeda dengannya.

Untuk mengetahui lebih jauh tentang hal tersebut, penulis menyempatkan waktu untuk sedikit membuka-buka kitab koleksi penulis yang jauh dari kata memadai. Dan hasilnya adalah sebagai berikut.

.

Mendahulukan tangan  adalah Hadits Dha’if

Imam Nafi’ berkata bahwasanya Ibnu Umar meletakkan kedua tangannya sebelum lututnya ( ketika bersujud ).

Hadist ini diriwayatkan secara muallaq dan mauquf oleh Imam Bukhari dalam shahihnya. Berdasarkan hadits inilah Imam malik berpendapat bahwa disunnahkan mendahulukan kedua tangan sebelum lutut saat bersujud.

Lebih lanjut beliau berkata bahwa cara itulah yang terbaik dalam menghadirkan kekhusus’an dan ketenangan dalam shalat. ( Irsyadussari Syarah Shahih Bukhari ,al hafidz Al Qasthalaniy, Juz 2 halaman 515 ).

.

Akan tetapi sekali lagi hadist diatas adalah muallaq yang dalam disiplin ilmu hadits masuk dalam kategori hadits dha’if yang tertolak untuk dijadikan sebagai hujjah karena sanadnya tidak muttashil, satu atau lebih sanadnya dibuang. ( Taisirul Mushtholahil hadits,DR Mahmud Thohan, Halaman 70 ). Dengan demikian ia runtuh untuk dijadikan dalil.

.

Seperti turunnya Onta – hadits hasan li ghairihi

Dalam hadist lain dari Abu Hurairah bahwa Nabi Saw bersabda, Ketika salah satu diantara kalian bersujud maka janganlah kalian turun sebagaimana turunnya onta, maka dahulukanlah tangan sebelum kedua lututnya ( Hadist Riwayat tsalatsah. Imam Bukhari, Turmudzi dan Daruquthniy mencacatkannya.)

Lebih lanjut imam bukhari berkata, Muhammad Bin Abdillah Bin Hasan tidak boleh untuk diikuti dan aku tidak tahu apakah ia mendengar dari Abi Zanad ataukah tidak.

Imam Turmudzi mengatakan hadits ini gharib, kami tidak mengetahuinya dari hadits Abi zanad. ( Subulussalam, Imam Shan’ani Juz 1 halaman 187 ).

Dengan demikian hadits inipun kualitasnya dha’if tidak dapat digunakan sebagai hujjah, akan tetapi  Ibnu Hajjar Al Asqolaniy dalam Bulughul Maram mengatakan bahwa Hadits ini lebih kuat dibandingkan dengan hadits wail sebab terdapat penguatnya yaitu hadits Ibnu Umar yang diriwayatkan oleh Imam bukhari secara muallaq diatas. ( Bulughul Maram, Ibnu Hajjar Al asqolaniy, halaman 63 ).

Dengan demikian derajat hadits Abu Hurairah diatas meningkat menjadi hadits hasan li ghairihi dan sah digunakan sebagai hujjah, sebab hadits dha’if yang tidak parah kedha’ifannya akan dapat meningkat menjadi hadist hasan li ghoirihi jika terdapat Syawahid (penguatnya ).

Turunnya Unta mendahalukan tangan

Sementara itu tiga madzhab lainnya yaitu Hanafi, syafi’I dan Hanbali dan sesuai dengan pendapat jumhur ulama merajihkan pendapat yang mendahulukan kedua lutut sebelum kedua tangannya, hal ini berdasarkan hadits Wa’il Bin hajjar Al marwiy yang mengatakan, aku melihat Nabi shalat, ketika sujud beliau meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya, hadits riwayat Arba’ah.

Imam Turmudzi berkata ini hadits hasan.

Imam Khathabiy mengomentari bahwa hadits ini lebih tsabit dibanding dengan hadits yang mendahulukan tangan.

Akan tetapi Imam ad Daruquthniy mengutip pernyataan Abu Dawud bahwa pada hadits diatas Syuraik meriwayatkannya secara sendirian, sementara itu Syuraik bukanlah rawi yang kuat terhadap hadits yang diriwayatkannya secara sendirian, berarti haditsnya dha’if. ( Irsyadussari, Al Qasthalaniy, Juz 2 halaman 515 ).

Imam Bukhari, Turmudzi, Abu Dawud dan Baihaqiy berkata : Syuraik meriwayatkannya secara sendirian akan tetapi hadits ini mempunyai penguat yaitu dari ‘ashim al ahwal dari Anas, beliau berkata ; aku melihat Rasulullah Saw turun dengan bertakbir sehingga kedua lutut beliau mendahului kedua tangannya, hadits riwayat Ad daruquthniy, al hakim dan Baihaqi. ( Subulussalam, Ash Shan’ani, Juz 1 hal 188 ).

Dengan demikian hadits inipun kualitasnya meningkat menjadi hadits hasan li ghoirihi yang sah digunakan sebagai hujjah.

Oleh sebab itu imam Nawawi dalam Al majmu’ berkata : Tidak dapat dirajihkan pendapat salah satu madzhab mengalahkan madzhab yang lain dari segi sunnah, akan tetapi pengikut madzhab ini ( Syafi’I)  merajihkan hadits Wail .

Bahkan Ibnu Qayyim Al Jauzy dalam kitab Zaadul Ma’ad, tidak hanya merajihkan hadits wail yang menyatakan Nabi shalat, ketika beliau sujud, beliau mendahulukan lutut daripada tangannya, namun beliau juga mengomentari hadits Abu Hurairah dan mengatakan bahwa hadist tersebut terbalik, sebab sebagaimana telah diketahui bahwa turunnya onta adalah mendahulukan kedua tangan atas kedua kakinya. ( Zaadul Maad, Ibnu Qayyim, Juz 1 Hal 58 ).

Jika demikian hadits Abu Hurairah dan Hadist Wail ini cocok dan saling menguatkan berdasarkan tahkiknya Ibnu Qayyim di atas.

.

AlBani : Menyelisihi Zaadul Maad, Ibnu Qayyim

Namun argumentasi Ibnu Qayyim ini dibantah oleh seorang ulama hadits kontemporer yaitu Syaikh Nashiruddin al albani dalam Shifat Shalat Nabi nya.

Dengan panjang lebar beliau memaparkan hujjah-hujjahnya dan berusaha meyakinkan khalayak bahwa onta itu ketika turun dia mendahulukan lututnya sebab lututnya onta itu ada dikedua tangannya, dengan demikian kesimpulannya bahwa sujud harus mendahulukan kedua tangannya sebelum lututnya. ( shifat Shalat Nabi, Nashiruddin al Albani, halaman 147 )

.

Pendapat Penulis

Setelah menelaah sekelumit hadits-hadits di atas maka penulis berkesimpulan diperbolehkannya mengamalkan kedua tata cara sujud diatas.

Baik yang mendahulukan tangan sebelum lutut ataupun yang mendahulukan lutut sebelum tangan keduanya adalah hadits hasan li ghoirihi yang sah untuk diamalkan.

Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s