MADZHAB – Perbandingan antar Firqah.


Prof. Dr .Huzaemah Tahido Yanggo. MA.

.

Pertanyaan . Memperhatikan permintaan fatwa dari Bapak IMA, yang berisi: . Bolehkah membaca Alquran di mushaf ketika shalat?

Jawaban Dewan Fatwa Diantara bentuk ibadah yang paling utama adalah ibadah yang menggabungkan antara dua kebaikan, misalnya menggabungkan antara shalat dan membaca Alquran.

Oleh karena itu, kaum muslimin berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengkhatamkan Alquran di dalam shalat mereka.

Namun, karena tidak semua orang bisa melakukan hal itu dengan bertumpu pada hafalannya, maka para ulama membahas tentang boleh tidaknya membaca mushaf ketika shalat dengan cara memegangnya dengan tangan atau meletakkanya di tempat khusus sehingga dapat dibaca oleh orang yang shalat.

.

Menurut Madzhab Syafi’i dan fatwa dalam Madzhab Hambali, dibolehkan membaca Alquran dari mushaf ketika shalat, baik sebagai imam ataupun ketika salat sendiri.

Tidak ada perbedaan dalam hal ini antara shalat fardu dengan shalat sunah dan antara orang yang hafal dengan yang tidak.

.

Ini adalah pendapat yang menjadi pegangan dalam kedua madzhab. Imam Ibnu Qudamah dalam al-Mughnî menukil hal ini dari dua ulama salaf, yaitu Atha` dan Yahya al-Anshari.

Terdapat sebuah riwayat yang disebutkan di dalam Shahih Bukhari secara mu’allaq –dan disambungkan sanadnya oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf dan al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubrâ—dari Aisyah, Ummul Mukminin r.a., bahwa dia pernah menjadi makmum dari budaknya, Dzakwan, yang membaca dari mushaf.

Dalam kitab al-Mudawwanah al-Kubrâ dan al-Mughnî karya Ibnu Qudamah, disebutkan bahwa Imam az-Zuhri ditanya tentang seorang lelaki yang membaca Alquran dari mushaf, lalu dia berkata :

Dulu orang-orang terbaik kami membaca Alquran dari mushaf ketika shalat.”

Sebagaimana membaca Alquran merupakan ibadah, maka melihat ke mushaf juga merupakan ibadah.

.

Bergabungnya suatu ibadah ke dalam ibadah yang lain tidak mengakibatkan rusaknya ibadah tersebut, akan tetapi sebaliknya membuat bertambahnya pahala, karena di dalamnya terdapat tambahan amalan berupa melihat ke dalam mushaf.

Hujjatul Islam al-Ghazali, di dalam kitab Ihyâ` Ulumiddîn berkata :

“Ada yang mengatakan bahwa mengkhatamkan Alquran dengan membaca mushaf mendapatkan pahala tujuh kali lipat, karena memandang mushaf juga merupakan ibadah.”

Dalam kaidah syara’ dijelaskan bahwa sarana untuk mencapai suatu tujuan menempati posisi hukum tujuan itu.

Tujuan membaca dari mushaf ini adalah tercapainya pembacaan ayat dalam salat , sehingga jika tujuan tersebut dapat tercapai dengan melihat tulisan seperti melalui mushaf, maka itu dibolehkan.

Imam Nawawi di dalam al-Majmû’ berkata,

“Seandainya dia (orang yang sedang shalat) membaca Alquran dari mushaf maka shalatnya tidak batal, baik dia hafal Alquran atau tidak.

Bahkan dia wajib melakukan hal itu jika dia tidak hafal surat Al-Fâtihah.

Bila orang tersebut terkadang membuka lembaran mushaf maka shalatnya tidak batal.

” Al-Allamah Manshur al-Buhuti, seorang ulama Madzhab Hambali, dalam Kasysyâf al-Qinâ’ berkata,

“Dia –orang yang shalat—boleh membaca Alquran dari mushaf walaupun dia hafal apa yang dibaca.” Lalu dia berkata, “Dalam hal ini sama saja antara shalat fardu dan shalat sunnah. Pernyataan ini dikatakan oleh Ibnu Hamid.”

.

Sedangkan para ulama Madzhab Hanafi berpendapat bahwa membaca Alquran dengan mushaf ketika shalat dapat merusak shalat tersebut.

Ini juga merupakan pendapat Ibnu Hazm dari Mazhab Zhahiri.

Diantara dalil Ibnu Hazm dalam masalah ini adalah riwayat yang terdapat dalam Kitâb al-Mashâhif karya Ibnu Abi Dawud dari Ibnu Abbas r.a., dia berkata :

Amirul Mukminin Umar r.a. melarang kami mengimami masyarakat dengan membaca Alquran dari mushaf.

Beliau [ Ibnu Hazm ] juga melarang seseorang menjadi imam kami kecuali yang sudah baligh.”

Namun riwayat ini tidaklah kuat,

karena di dalam sanadnya terdapat Nahsyal bin Sa’id an-Naisaburi.

Statusnya adalah kadzdzâb matrûk.

Dalam at-Târîkh al-Kabîr, al-Bukhari berkata tentang Nahsyal ini :

Di dalam hadits-haditsnya terdapat riwayat-riwayat munkar.”

An-Nasa`i, sebagaimana disebutkan dalam kitab Tahdzîb at-Tahdzîb, berkata :

Dia tidak tsiqah dan haditsnya tidak layak ditulis.”

Dalil lain yang digunakan oleh ulama yang melarang adalah bahwa membawa mushaf dan melihat ke dalamnya serta membuka-buka lembarannya adalah termasuk gerakan yang banyak.

Jawaban dari dalil ini adalah :

bahwa jika yang dipermasalahkan adalah gerakan membawa sesuatu ketika shalat, maka Rasulullah saw. pernah membawa Umamah binti Abil Ash di pundaknya ketika shalat.

Ketika bersujud beliau meletakkannya, lalu ketika berdiri lagi beliau menggendongnya kembali.

Adapun membuka-buka lembaran mushaf, maka terdapat beberapa hadits yang menunjukkan kebolehan melakukan gerakan yang sedikit ketika shalat.

Membuka lembaran mushaf masuk dalam kategori amalan sedikit yang dimaafkan ini.

Membaca dari mushaf tidak selalu merupakan gerakan yang banyak, karena pada umumnya gerakan ini hanya dilakukan sewaktu-waktu saja, mengingat lamanya jarak antara membuka satu lembaran dengan membuka lembaran berikutnya.

Bahkan, membuka lembaran itu sendiri termasuk dalam gerakan yang sedikit.

Saat ini, sebagian masyarakat memanfaatkan penyangga khusus yang tinggi dan diletakkan di depan imam untuk menaruh mushaf.

Mushaf tersebut biasanya memiliki tulisan yang besar dan lembaran yang lebar sehingga tulisan itu dapat terbaca satu atau dua lembar tanpa perlu melakukan gerakan membuka lembaran.

Dua murid Abu Hanifah, yaitu Qadhi Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan asy-Syaibani berpendapat bahwa membaca Alquran dari mushaf ketika shalat adalah mutlak dimakruhkan, baik itu shalat fardu maupun shalat sunnah.

Akan tetapi perbuatan itu tidak membatalkan shalat, karena merupakan ibadah yang ditambahkan ke ibadah yang lain.

Aspek kemakruhannya adalah karena perbuatan itu menyerupai perbuatan Ahlul Kitab.

Berdasarkan kajian yang lebih mendalam, penyerupaan dengan Ahlul Kitab dilarang jika pelakunya memang bermaksud menyerupainya.

Karena wazan kata tasyabbuh (menyerupai) adalah tafa’-‘ul.

Wazan ini menunjukkan adanya sebuah niat dan orientasi untuk melakukan suatu perbuatan dan menghadapi semua kesulitannya.

Mempertimbangkan aspek niat (tujuan) dari mukallaf merupakan salah satu dasar pengambilan dalil dalam syariat.

Di antara dalil akan hal ini juga adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dengan sanadnya dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata :

“Rasulullah saw. sakit sehingga kami shalat di belakang beliau yang melakukan shalat sambil duduk.

Beliau menoleh ke arah kami dan melihat kami dalam keadaan bediri semua.

Lalu beliau memberi isyarat kepada kami sehingga kami semua pun duduk. Setelah melakukan salam, beliau bersabda,

إِنْ كِدْتُمْ آنِفاً لَتَفْعَلُوْنَ فِعْلَ فَارِسَ وَالرُّوْمِ، يَقُوْمُوْنَ عَلَى مُلُوْكِهِمْ وَهُمْ قَعُوْدٌ، فَلاَ تَفْعَلُوْا، اِئْتَمُّوْا بِأَئِمَّتِكُمْ، إِنْ صَلَّى قَائِماً فَصَلُّوْا قِيَاماً وَإِنْ صَلَّى قَاعِداً فَصَلُّوْا قُعُوْداً “

Sesungguhnya kalian hampir saja melakukan perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang Persia dan Romawi.

Mereka berdiri di hadapan para raja mereka yang sedang duduk.

Janganlah kalian melakukan itu.

Ikutilah imam kalian.

Jika ia melakukn shalat dalam keadaan duduk maka shalatlah dalam keadaan duduk juga dan jika ia shalat dalam keadaan berdiri maka shalatlah dalam keadaan berdiri juga.” Kata “kidtum” (hampir) dalam hadits di atas menunjukkan tidak terjadinya sesuatu yang dikhawatirkan meskipun nyaris terjadi.

[ sepengetahuan saya , baca dari beberapa artikel . Hadits ini sudah di Mansuk ]

Perbuatan orang-orang Persia dan Romawi telah benar-benar terjadi dan dilakukan oleh para sahabat, tapi karena mereka tidak bermaksud untuk mengikuti atau menyerupai perbuatan tersebut maka mereka tidak dianggap telah menyerupai orang-orang Persia dan Romawi.

Oleh karena itu, Ibnu Nujaim, salah seorang ulama Hanafi, berkata dalam kitabnya al-Bahr ar-Râiq :

“Ketahuilah bahwa perbuatan menyerupai Ahlul Kitab tidak diharamkan secara mutlak.

Kita makan dan minum seperti mereka.

Yang diharamkan adalah menyerupai tindakan yang tercela dan dengan maksud mengikuti mereka.

Oleh karena itu seandainya tidak bertujuan untuk meniru mereka, maka menurut keduanya (Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan) hal itu tidak dimakruhkan.”

.

Dalam masalah membaca Alquran dengan mushaf ketika shalat ini, para ulama Mazhab Maliki membedakan antara shalat fardu dan shalat sunah.

Mereka berpendapat bahwa hal itu dimakruhkan secara mutlak dalam shalat fardu, baik pembacaan itu dilakukan sejak awal shalat atau ketika di tengah-tengah shalat.

Dalam shalat sunnah hal itu dimakruhkan juga jika memulai membaca dari mushaf ketika di tengah-tengah shalat, karena pada umumnya orang yang shalat sibuk dengan amalan shalatnya.

Namun, hal itu dibolehkan tanpa adanya kemakruhan jika sudah memulainya dari awal shalat.

 

Karena terdapat hal-hal yang dapat ditolerir dalam shalat sunnah tapi tidak dapat ditolerir dalam shalat fardu. (Manh al-Jalîl Syarh Mukhtashar al-Khalîl).

Alasan di atas dijawab bahwa kemakruhan ini bisa terjadi jika gerakan tersebut adalah gerakan main-main yang tidak ada gunanya.

Orang yang shalat dilarang untuk melakukan perbuatan seperti itu, karena bertentangan dengan kekhusyukan dalam shalat.

Membaca mushaf ketika shalat tidaklah termasuk dalam kategori ini, tetapi masuk dalam gerakan ringan untuk tujuan yang diinginkan.

Semua perbuatan yang masuk dalam gerakan ringan ini tidak apa-apa untuk dilakukan.

Landasan dalil bagi hal ini adalah hadits yang menyebutkan bahwa Nabi saw. melepas kedua sandalnya di saat shalat ketika diwahyukan kepada beliau bahwa di sandal tersebut terdapat kotoran (najis).

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud dari Abu Sa’id al-Khudri r.a..

Berdasarkan semua penjelasan di atas, maka membaca Alquran dari mushaf ketika shalat, baik fardu maupun sunnah, adalah boleh secara syara’  tanpa ada kemakruhan di dalamnya apalagi sampai membatalkan shalat.

Hanya saja perlu diperhatikan bahwa selama masalah ini merupakan masalah yang masih diperdebatkan oleh para ulama, maka terdapat kelapangan di dalamnya.

Hal itu sesuai dengan kaidah syara’, bahwa tidak boleh melakukan pengingkaran dalam masalah khilaf.

Dan tidak boleh pula hal ini menjadi penyebab terjadinya ketidaktentraman dan pertikaian antar orang-orang muslim.

Wallahu subhânahu wa ta’âlâ a’lam.

Sumber: dar-alifta.org


BAHAN BACAAN

 Hudhari bik, “Tarikh al-Tasyri’ al-Islami”, penterjemah Mohammad Zuhri, Indonesia: Daarul Ihya, 1980.

 Huzaemah Tahido Yanggo, “Pengantar Perbandingan Madzhab”, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997.

http://www.2lisan.com/926/membaca-alquran-di-mushaf-ketika/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s