IJTIHAD – Imam asy-Syafi’i.


A. Pengertian iijtihad

Ijtihad menurut bahasa adalah mencurahkan segala kemampuan dalam segala perbuatan.
Ijtihad menurut istilah ahli ushul fiqh :

1. Menurut Imam as-Syaukani :

“ Mencurahkan kemampuan guna mendapatkan hukum syara’ yang bersifat operasional dengan cara istimbat (mengambil kesimpulan hukum)”

2. Menurut Imam al-Midi :

“Mencurahkan semua kemampuan untuk mencari hukum syara’ yang bersifat dhonni, sampai merasa tidak mampu untuk mencari tambahan kemampuannya itu”

Namun demikian definisi dari Imam as-Syaukani sudah dianggap cukup, sebab mukallaf tidaklah dibebani kewajiban kecuali sekedar mencurahkan kemampuannya saja.

Sebagaimana firman Allah :
“Tidaklah Allah membebani seseorang melainkan sesuai kemampuannya”. (Q.S. al-Baqarah : 286)

B. Syarat-syarat Mujtahid

1. Mengetahui Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam dan sumber utama syari’at serta ajaran Islam.

Sebagaimana Firman Allah AWT. :
“Kami turunkan kepada kamu al-kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rhmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri”. (Q.S. an-Nahl : 89).

Oleh sebab itu seorang mujtahid harus mengetahui Al-Qur’an secara mendalam

2. Mengetahui As-Sunnah

Yang dimaksud dengan As-Sunnah adalah : ucapan, perbuatan atau ketentuan yang diriwayatkan dari Nabi SAW.

Para ulama’ tidak mensyaratkan untuk mengetahui semua hal yang berhubungan dengan As-Sunnah, sebab sunnah atau hadist merupakan suatu lautan yang laus.

Tetapi mereka mensyaratkan untuk mengetahui hadist-hadist yang ada hubungannya dengan hukum saja.

3. Mengetahui Bahasa Arab

Wajib bagi seorang mujtahid untuk mengetahui bahasa Arab dalam artian, menguasai bahasa Arab dan ilmu-ilmunya sehingga mampu memahami pembicaraan orang-orang arab.

Hal ini diharuskan karena Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab yang jelas dan As-Sunnah juga diucapkan oleh seorang Nabi yang berbahasa Arab pula, tentunya ini yang berkenaan dengan hadist-hadist qauli (ucapan).

Sedangkan hadist fi’li (perbuatan) dan hadist taqriri (ketetapan Rasul) dinukil pula oleh para sahabat yang berbahasa Arab.

C. Fungsi Ijtihad

Meskipun Al-Qur’an sudah diturunkan secara sempurna dan lengkap, tidak berarti semua hal dalam kehidupan manusia diatur secara detail oleh Al-Qur’an maupun As-Sunnah.

Selain itu ada perbedaan keadaan pada saat turunnya Al-Qur’an dengan kehidupan modern. Sehingga setiap saat masalah baru akan terus berkembang dan diperlukan aturan-aturan baru dalam melaksanakan ajaran Islam dalam kehidupan beragama sehari-hari.

Jika terjadi persoalan baru bagi kalangan umat Islam disuatu tempat atau disuatu masa waktu tertentu maka persoalan tersebut dikaji apakah perkara yang dipersoalkan itu sudah ada dah jelas ketentuannya dalam Al-Qur’an atau As-Sunnah.

Sekiranya sudah ada maka maka persoalan tersebut harus mengikuti ketentuan yang ada sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an atau As-Sunnah itu.

Namun jika persoalan tersebut merupakan perkara yang ridak jelas atau tidak ada ketentuannya dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, pada saat itulah maka umat Islam memerlukan ketetapan ijtihad.

Tetapi yang berhak membuat Ijtihad adalah mereka yang mengerti dan paham Al-Qur’an dan As-Sunnah.

D. Penerapan ijtihad

Dunia akan terus berkembang dengan banyak perubahan dan perbedaan. Dengan banyaknya perubahan dan perbedaan, maka hukum Islam akan mengikutinya.

Karena itu , untuk mengatsi banyaknya perubahan dan perkembangan, umat Islam perlu melakukan Ijtihad guna menentukan hukum permasalahan yang pada zaman Rasulullah SAW tidak ada dan muncul dizaman sekarang.

Dengan tetap berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Apabila syarat-syarat untuk menjadi mujtahid terpenuhi maka seseoarang diperbolehkan untuk ber-Ijtihad.

E. Pembagian ijtihad

= Ijma’

Pengertian Ijma’

Ijma’ menurut bahasa Arab berarti kesepakatan atau sependapat tentang sesuatu hal.
Ijma’ menurut istilah adalah kesepakatan mujtahid ummat Islam tentang hukum syara’ dari peristiwa yang terjadi setelah Rasulullah SAW meninggal dunia.

Dasar hukum Ijma’

Dasar hukum Ijma’ berupa al-Qur’an, As-Sunnah dan akal pikiran.

1. Al-qur’an

Allah SWT berfirman :
“Hai orang –orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-nya dan ulil amri diantara kamu”.(an-Nisa’ : 59)
Kata amri yang terdapat pada ayat diatas berarti hal, keadaan atau urusan yang bersifat umum meliputi urusan dunia dan akhirat.

Ulil amri dalam urusan dunia ialah raja, kepala Negara, pemimpin atau penguasa, sedangkan ulil amri urusan agama ialah para mujtahid.

2. As-Sunnah

Bila para Mujtahid talah melakukan Ijma’ tentang hukum syara’ dari suatu peristiwa atau kejadian, maka ijma’ itu hendaklah diikuti, karena mereka tidak mungkin melakukan kesepakatan untuk melakukan kesalahan apalagi kemaksiatan dan dusta.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
“Umatku tidak akan besepakat untuk melakukan kesalaha.”(HR. Abu Daus dan Tirmidzi)

3. Akal pikiran

Setiap Ijma’ yang dilakuakn atas hukum syara’, hendaklah dilakukan dan dibina atas asas-asas pokok ajaran Islam.

Karena itu setiap Mujtahid dalam berIjtihad hendaklah mengetahui dasar-dasar pokok ajaran Islam, batas-batas yang telah ditetapkan dalam berIjtihad serta hukum-hukum yang telah ditetapkan.

Bila ia berIjtihad dan dalam berIjtihad itu ia menggunakan nash, maka Ijtihadnya tidak boleh melampaui batas maksimum dari yang mungkin dipahami dari nash itu. Begitu juga sebaliknya.

= Qiyas.

Pengertian Qiyas

Qiyas menurut bahasa Arab berarti menyamakan, membandingkan atau mengukur, seperti menyamakan  si A dengan si B, karena kedua orang itu mempunyai tinggi yang sama, bentuk tubuh yang sama, wajah yang sama dan sebagainya.

Qiyas juga berarti mengukur, seperti mengukur tanah dengan meteran atau alat pengukur lainnya.

Demikian pula membandingkan sesuatu dengan yang lain dengan mencari persamaan-persamaannya.

Menurut para ulama’ Ushul Fiqh, ialah menetapkan hukum suatu kejadian atau peristiwa yang tidak ada dasar nashnya dengan cara membandingkannya kepada suatu kejadian atau peristiwa yang lain yang telah ditetapkan hukumnya berdasarkan nash karena ada persamaan ‘illat antara kedua kejadian atau peristiwa itu.

Dasar hukum Qiyas

1. Al-Qur’an

“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nyat dan ulil amri kamu, kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia pada Allah dan Rasul, jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat. Yang demikian itu lebih baik (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”(an-Nisa’ : 59)

Dari data di atas dapat diambilah pengertian bahwa Allah SWT memerintahkan kaum muslimin agar menetapkan segala sesuatu berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Jika tidak ada dalam al-Qur’an dan As-Sunnah hendaklah mengikuti pendapat ulil amri.

Jika tidak ada pendapat ulil amri boleh menetapkan hukum dengan mengembalikannya kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, yaitu dengan menghubungkan atau memperbandingkannya dengan yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Dalam hal ini banyak cara yang dapat dilakukan antara lain dengan melakukan Qiyas.

2. As-Sunnah

Rasulullah SAW pernah menggunakan qiyas waktu menjawab pertanyaan yang dikemukakan oleh sahabat kepadanya, seperti :

“Sesungguhnya seorang wanita dari qabilah Juhainiah pernah menghadap Rasulullah SAW ia berkata : sesungguhnya ibuku telah bernadzar melaksanakan ibadah haji, tetapi ia tidak sempat melaksanakannya sampai ia meninggal dunia, apakah aku berkewajiban melaksanakan hajinya?

Rasulullah SAW menjawab : benar, laksanakanlah haji untuknya, tahukah kamu, seandainya ibumu mempunyai hutang, tentu kamu yang akan melunasinya.

Bayarlah hutang kepada Allah, karena hutang kepada Allah lebih utama untuk dibayar.”(HR. Bukhari dan an-Nasa’i)

Pada Hadist di atas Rasulullah mengqiyaskan hutang kepada Allah dengan  hutang kepada manusia.

Seorang perempuan menyatakan bahwa ibunya telah meninggal dunia dalam keadaan berhutang kepada Allah, yaitu belum sempat menunaikan nadzarnya untuk menunaikan ibadah haji.

Kemudian Rasulullah SAW menjawab dengan mengqiyaskannya kepada hutang.

Jika seorang ibu meninggal dunia dalam keadaan berhutang, maka anaknya wajib melunasinya.

Beliau menyatakan hutang kepada Allah lebih utama disbanding dengan hutang kepada manusia.

Jika hutang kepada manusia wajib dibayar tentulah hutang kepada Allah lebih utama harus dibayar.

3. Perbuatan sahabat

Khalifah Umar bin Khattab pernah menuliskan surat kepada Abu Musa al-Asy’ari yang memberikan petunjuk bagaimana seharusnya sikap dan cara seorang hakim mengambil keputusan. Diantaranya isi surat beliau itu adalah :

“Kemudian pahamilah benar-benar persoalan yang dikemukakan kepadamu tentang perkara yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

 Kemudian lakukanlah Qiyas dalam keadaan demikian terhadap perkara-perkara itu dan carilah contoh-contohnya, kemudian berpeganglah kepada pendapat engkau yang paling baik sesuai dengan kebenaran”

= Istihsan

Pengertian Istihsan

Istihsan menurut bahasa berarti menganggap baik atau mencari yang baik. Menurut ulama’ ushul fiqh, ialah meninggalkan hukum yang telah ditetapkan pada suatu peristiwa atau kejadian yang ditetapkan berdasar dalil syara’, menuju (menetapkan) hukum lain dari peristiwa atau kejadian itu juag, karena ada suatu dalil syara’ yang mengharuskan untuk meninggalkannya. Dalil yang terakhir disebut sandaran istihsan.

Dasar hukum Istihsan

Yang berpegang kepada dalil istihsan adalah Madzhab Hanafi, menurut mereka istihsan sebenarnya semacan qiyas, yaitu memenangkan qiyas khafi (qiyas yang ‘illatnya mungkin dijadikan ‘illat dan mungkin pula tidak dijadikan ‘illat) atas qiyas jail (qiyas yang ‘illatnya berdasarkan dalil yang pasti) atau mengubah hukum yang telah ditetapkan pada suatu peristiwa atau kejadian yang ditetapkan berdasar ketentuan umum kepada ketentuan khusus karena ada suatu kepentingan yang membolehkannya.

Menurut mereka jika dibolehkan menetapkan hukum berdasarkan qiyas jail atau mashlahat mursalah, tentulah melakukan istihsan diperbolehkan karena kedua hal itu pada hakikatnya dama, hanya namanya saja yang berbeda.

= Istishab

Pengertian Istishab

Istishab menurut bahasa berarti mencari sesuatu yang ada hubungannya. Menurut istilah ulama’ ushul fiqh ialah tetap berpegang kepada hukum yang telah ada dari suatu peristiwa atau kejadian sampai ada dalil yang mengubah hukum tersebut.

Atau dengan kata lain, ialah menyatakan tetapnya hukum pada masa yang lalu, sampai ada dalil yang mengubah ketetapan hukum itu.

Dasar hukum Istishab

Pada dasarnta Istishab bukanlah suatu cara menetapkan hukum, tetapi ia pada hakikatnya ialah menguatkan atau manyatakan tetap berlaku suatu hukum yang pernah ditetapkan karena tidak ada yang mengubah atau mengecualikannya.

Pernyataan ini sangat diperlukan untuk menjaga jangan sampai terjadi penetapan hukum yang berlawanan antara yang satu dengan yang lain.

= Mashlalat Murshalah

Pengertian Mashlahat Murshalah

Mashlahat Murshalah adalah suatu kemaslahatan yang tidak disinggung oleh syara’ dan tidak ada dalail-dalil yang manyuruh untuk menggerjakan atau meninggalkannya, sedang jika dikerjakan akan mendatangkan kebaikan yang besar atau kemaslahatan.

Dasar hukum Mashlahat Murshalah

Persoalan yang dihadapi manusia selalu tumbuh dan berkembang, demikian pula kepentingan dan keperluan hidupnya.

Kenyataan menunjukkan bahwa banyak hal-hal atau persoalan yang tidak terjadi pada masa Rasulullah SAW, kemudian timbul dan terjadi pada masa-masa sesudahnya bahkan ada yang terjadi tidak lama setelah Rasulullah SAW meninggal dunia.

Seandainya tidak ada dalil yang dapat memecahkan hal-hal yang demikian berarti akan sempitlah kahidupan manusia.

= Sududz Dzariah

Pengertian Sududz Dzariah

Sududz Dzariah adalah tindakan memutuskan sesuatu yang mubah menjadi makruh atau haran demi kepentingan umat.

Dasar hukum Sududz Dzariah

1. Al-Qur’an

Firman Allah SWT :
“…dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan…”(an-Nur : 31)

Wanita menghentakkan kakinya sehingga terdengar gemrincing gelangkakinya tidaklah dilarang, tetapi karena perbuatan itu akan menarik hati laki-laki lain untuk mengajaknya berbuat zina, maka perbuatan itu dilarang pula sebagai usaha untuk menutup pintu yang menuju kearah perbuatan zina.

2. As-Sunnah

Nabi Muhammad SAW bersabda :

“ketahuilah, tanaman Allah adalah (perbuatan) maksiat yang (dilakukan) keadaan-Nya. Barang siapa mengembalakan (ternaknya) sekitar tanaman itu, ia akan terjerumus ke dalamnya.”(HR. Bukhari dan Muslim)

= ‘Urf

Pengertian ‘Urf

‘Urf adalah tindakan menentukan masih bolehnya suatu adat –istiadat dan kebiasaan masyarakat setempat selama kegiatan tersebut tidak bertentangan dengan aturan-aturan principal dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

‘Urf merupakan sesuatu yang telah dikenal oleh masyarakat dan merupakan kebiasaan dikalangan mereka baik berupa perkataan maupun perbuatan. Oleh sebagian ulama’, ‘Urf disebut juga dengan adat (adat kebiasaan).

Dasar hukum ‘Urf

Para ulama’ sepakat bahwa ‘urf shahih dapat dijadikan dasar hujjah selama tidak bertentangan dengan syara’. Ulama’ Malikiyah terkenal pernyataan mereka bahwa amal ulama’ Madinah dapat dijadikan hujjah,, demikian pula ulama’ Hanafiyah menyatakan bahwa pendapat ulama’ Kufah dapat dijadikan dasar hujjah.

 Imam Syafi’I terkenal dengan qaul qadim dan qaul jadidnya.

Ada suatu kejadian tetapi beliau menetapkan hukum yang berbeda pada waktu beliau masih berada di Mekkah (qaul qadim) dengan setelah beliau berada di Mesir (qaul Jadid).

Hal ini menunjukkan bahwa ketiga madzhab itu berhujjah dengan ‘urf.

 http://kabarku.com/khair/Studi-Islam/Ijtihad-12662.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s