Abu Thalib – Dalam Renungan. 1/2.


.

Conquests of Prophet Muhammad and the Rashidun...
Image via Wikipedia

.

Sebagian Jama’ah ahlus-Sunnah, sebagian Ulama Fiqh dan Ulama Tafsir mengatakan: “ Abu Thalib wafat sebagai Musyrik , atau Kafir, ia termasuk penghuni Neraka, namun Allah swt berkenan memberikan keringanan hingga ia hanya ditempatkan di Neraka yang paling dangkal ( Dhadhah minan-nar ), ”
Mereka memandang lemah Hadits yang meriwayatkan ke Islam an Abu Thalib, yang menurut Hadits –hadits tersebut –Abu Thalib telah mengucapkan Dua Kalimah Syahadat pada detik-detik akhir hayatnya. Mereka berpegang pada sebuah Hadits yang mereka pandang sebagai Hadits Shahih (Al-Bukhari), yaitu ucapan Rasulullah saw, yang mengatakan: “ Abu Thalib ditempatkan pada bagian Neraka yang paling dangkal sebagai pemberian keringanan adzab kepadanya.”

Ibnu Sa’ad, Mengetengahkan dalam kitabnya yang berjudul “ At-Thabaqatul-Kubra “ bahwa Abu Thalib menjelang ahir hayatnya, memanggil semua orang Bani Abdul Muththalib, kaum kerabatnya yang terdekat. Kepada mereka ia dengan tegas menganjurkan: “ Kalian akan tetap baik, bila kalian mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh Muhammad(saw) dan mengikuti agamanya, karena itu hendaklah kalian mengikuti dan membantunya, kalian pasti mendapatkan petunjuk yang benar. “
Pesan dari Abu Thalib itu ,banyak dikemukakan oleh para penulis sejarah Islam klasik, antara lain : Ibnul – Jauzi Al-Hambali dibukukan dalam “ Tadzkiratul-Khawash “,- An-Nasa’iy , dalam “ Al-Khasha’ish “ Al-Halabiy dalam “ As-Sirah Al-Halabiyyah “ dan di buku Sejarah islam lainnya.

Kepada sementara orang yang mengatakan, bahwa ,“ Abu Thalib itu Kafir dan Musyrik, masuk Neraka.”
Kami ingin bertanya : “ Apakah Mungkin, atau …apakah dapat dibayangkan, seorang yang mempunyai prinsip pendirian , atau..seorang yang meyakini adanya kebenaran dalam satu agama, ia akan secara sukarela dan dengan sekuat tenaga membantu serta membela prinsip pendirian atau agama lain yang memusuhi agamanya sendiri…??.

Andai ada orang yang mengatakan: “ Pembelaan Abu Thalib kepada Rasulullah saw, itu dilandasi oleh semangat kekerabatan, — “ Abu Lahab bin Abdul Muthalib pun paman Rasulullah saw,—lalu kenapa Abu Lahab tidak berbuat seperti halnya Abu Thalib, ( melindungi dan membela ). Malah dengan sengit, Abu Lahab memusuhi Rasulullah saw, dan kaum Muslimin..??. bahkan ketika Abu Lahab sudah mati pun masih banyak kerabat Rasulullah saw, yang masih antipati dan masih menyembah Berhala.

Sebagian ahli riwayat mengatakan, ketika Abu Thalib mendengar da’wah yang dilakukan oleh Rasulullah saw, ia menyuruh anak-anaknya untuk mengikuti beliau. Kepada mereka ia berkata : “ Muhammad (saw) tidak mengajak kalian selain pada kebajikan “ Tidak hanya sampai disitu saja, Abu Thalib malah memberikan dorongan dan membangkitkankan semangat mereka supaya menempuh jalan yang dipilh oleh Rasulullah saw, Bagi keselamatan mereka.
Kalau sikap yang demikian itu disamakan dengan sikap orang Musyrik atau Kafir, bukankah Islam itu agama yang mengakui ke Esa an Allah swt dan kenabian Muhammad saw…??.

Pembelaan Abu Thalib kepada Rasulullah saw. Dan dukungannya kepada Da’wah beliau dapat kita temukan dalam sya’ir-sya’irnya yang dikumandangkan dalam berbagai kesempatan.

Ba’it demi ba’it dalam sya’ir. Semuanya menunjukan, betapa gigihnya Abu Thalib menjadi pembela Rasulullah saw, Islam dan kaum Muslimin, pertanyaan diatas kami sodorkan, karena kami yakin, melindungi dan membela Rasulullah saw , dari serangan musuh-musuhnya tidak dapat diartikan lain, kecuali melindungi dan membela Islam beserta kaum Muslimin. Sebaliknya, sekalipun orang mengaku ber agama Islam, jika ia memusuhi Rasulullah saw. Tidak dapat diartikan sebagai pembela Islam, julukan yang cocok adalah musuh Islam dan musuh kaum Muslimin.

Dapat kita bayangkan, seumpama ketika itu Abu Thalib memeluk Islam dengan cara seperti yang dilakukan oleh Hamzah bin abdul muththalib r.a., atau Ali bin Abu Thalib r.a., atau juga mungkin seperti Utsman bin ‘Affan r.a. – , tentunya ia tidak akan dapat memberikan perlindungan dan pembelaan kepada Rasulullah saw, beserta para Sahabatnya. Sebab, kaum Musyrikin Quraisy pasti akan memandang Abu Thalib sebagai orang yang harus dimusuhi dan dilawan.

Jika demikian, maka ia akan kehilangan wibawa dan pengaruh dihadapan tokoh Quraisy. Bila mereka tidak mengakui lagi kepemimpinannya, tentu ia tidak akan dapat menumpulkan atau menekan perlawanan mereka terhadap Rasulullah saw. Dan tidak akan dapat lagi membentengi dakwah beliau sebagaimana yang telah dilakukannya selama ini, adalah benar.

Pada lahirnya , Abu Thalib tampak seagama ( keberhalaan ) dengan mereka, tetapi apa yang ada didalam batinnya, hanya Allah saja yang Maha Mengetahui.
Tiap orang Mukmin tidak meragukan dan tidak dapat mengingkari kenyataan , bahwa Abu Thalib memainkan peranan besar dalam melindungi dan membela da’wah Islam, yakni peran melindungi dan membela kebenaran, untuk itu ia rela menghadapi tantangan dan kesulitan. Ia bersama beberapa orang dari Bani Hasyim dan Bani Al-Muththalib rela menerima syarat-syarat penghidupan yang serba kekurangan demi tegaknya kebenaran yang dibawakan oleh Muhammad Rasulullah saw.

Pertanyaan kedua : “ Setelah Abu Thalib menunjukan pengabdian dan jasa-jasanya dalam melindungi dan membela Da’wah Islam,…apakah ia wafat sebagai Kafir atau Musyrik, tanpa iman sedikitpun nyangkut dalam hatinya…??.
Ibnu Ishaq mengataka, ketika kaum musyrikin Quraisy mendengar berita tentang penyakit Abu thalib bertambah kritis, mereka berkata satu sama lainnya : Hamzah bin ‘Umar, sekarang telah memeluk Islam dan persoalan Muhammad (saw) ( da’wahnya ) , telah meluas diantara kabilah-kabilah Arab. Sebaiknya kita datang kepada Abu Thalib untuk memper oleh penyelesaian soal itu.

Setelah mereka menjumpai Abu Thalib , lalu berkata ; “ Sebagaimana anda ketahui, sekarang anda dalam kondisi yang sangat menghawatirkan. Anda sangat mengetahui apa yang selama ini terjadi, antara kami dan kemenakan anda ( yaitu Muhammad saw ) . Sebaiknya anda memanggilnya hadir untuk kami ajak saling menerima dan saling memberi ( berkompromi ), agar dia tidak lagi mengganggu kami, dan kamipun tidak akan lagi mengganggu dia, dia harus membiarkan kami berpegang pada kepercayaan kami, dan kami pun akan membiarkan dia berpegang pada agamanya. “

Atas permintaan mereka itu, Abu Thalib menyuruh orang memanggil Rasulullah saw. Dan setelah Rasulullah saw menemuinya, maka Abu Thalib berkata : “ Anakku, orang-orang terkemuka dari kaummu( Bani Quraisy ). bersepakat hendak mengajakmu saling menerima dan saling memberi. “ Rasulullah saw menjawab : “ Paman, kalau mereka mau memberi (menyatakan ) satu kalimat saja, mereka akan menguasai seluruh orang Arab, dan akan dipatuhi oleh orang-orang bukan Arab……..” belum lagi Rasulullah saw mengahiri kata-katanya, ‘Amr bin Hisyam ( Abu Jahal ) menukas : “ jangankan satu kalimat, sepuluh kalimat pun akan kami berikan .!..” Rasulullah saw , melanjutkan : “ …Hendaklah kalian mengucapkan kalimat ‘ La ilaha ilallah ’ dan meninggalkan selama ini yang kalian sembah-sembah. “

Ucapan beliau, ditanggapi oleh mereka dengan cemoohan dan ejekan, kemudian mereka berujar :” hai, Muhammad(saw), apakah engkau hendak membuat tuhan-tuhan yang banyak itu menjadi satu tuhan,.??. sungguh aneh..! “
Mereka lalu berkata satu sama lain: “ Dia (Muhammad saw ), tidak akan memberikan sesuatu yang kita ingini. Marilah kita bubar saja, dan kita tetap pertahankan keyakinan pada agama nenek moyang kita. Biarlah apa yang akan menjadi kenyataan nanti antara kita dan dia . “ Abu Thalib pun berkata pada Rasulullah saw : “ Anakku, demi Allah, aku berpendapat permintaanmu itu tidaklah berlebih-lebihan, “ Ucapan Abu Thalib , menimbulkan kesan pada fikiran beliau, bahwa pamandanya, bersedia mengucapkan Syahadat. Karenanya beliau lalu berkata : “ Paman, ucapkanlah kalimat itu ( syahadat ). Dengan kalimat itu , pada hari kiyamat kelak akan kumohonkan syafaat (pertolongan ) kepada Allah swt bagi paman.” Dengan suara yang terputus-putus, Abu Thalib berkata : ”Anakku, demi Allah, kalau bukan karena aku khawatir orang Quraisy akan mencemoohkan diriku dan aku takut pada saat menghadapi maut, tentu kalimat itu sudah kuucapkan. “ ( dalam hal ini , Jelas – Abu Thalib tidak menolak, tapi tidak mengucapkan syahadat. )

Sekaitan dengan berita dari Hadis tersebut, Imam Bukhari meriwayatkan : “ Ketika Rasulullah saw, minta kepada Abu Thalib supaya mengucapkan kalimat “ La ilaha ilallah “, ‘amr bin hisyam ( Abu Lahab ) dan Abdullah bin Umayyah , bertanya kepada Abu Thalib : “ Tidakkah anda berpegang pada agama AbdulMutthalib..??.” Berulang-ulang dua orang itu mendesak pertanyaan tersebut, dan akhirnya Abu Thalib menjawab : “ Pada agama ‘Abdul-Mutthalib “ .Riwayat yang diketengahkan oleh Imam Bukhari itu, menunjukan bahwa Abu Thalib tidak mengucapkan kalimat syahadat. Karena Rasulullah saw berkata: “ Akan kumohonkan ampunan bagimu paman, selagi aku tidak dilarang berbuat itu ( syafaat )“.

Mengenai persoalan itu, Ibnu Katsir mengatakan : “ Abu Thalib tahu dan mengerti , bahwa Rasulullah saw, itu benar, tidak dusta, tetapi hati Abu Thalib tidak beriman .” disini kita bisa melihat, seakan-akan Ibnu Katsir hendak menyamakan pengertian Abu Thalib mengenai kenabian Muhammad saw, dengan pengertian , kaum Yahudi mangenai beliau.

Sebagai contoh, Ibnu Katsir merujuk pada firman allah swt dalam Surah Al-Qur’an : Al-Baqarah, 146- yang maknanya : “ Orang-orang Yahudi dan Nasrani yang telah kami beri Al-Kitab ( Taurat dan Injil), mengenai Muhammad (saw)seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. “ akan tetapi mereka tidak berbuat sesuai dengan pengenalan atau pengertian mereka. Jadi mereka itu benar-benar mengerti, bahwa Muhammad Saw, itu seorang Nabi, tetapi mereka mengingkarinya, demikian menurut Ibnu Katsir.

Kami berpendapat, menyamakan pengertian kaum Yahudi mengenai kenabian Muhammad saw. dengan pengertian Abu Thalib mengenai beliau…samasekali tidak pada tempatnya. Jauh sekali antara pengertian Abu Thalib mengenai Allah swt dan da’wah Rasul-Nya dari pengertian kaum Yahudi mengenai hal itu. Pengertian Abu Thalib disertai dengan, sikap membenarkan, mendukung, membela, dan melindungi agama Islam .

Sikap seperti itu mustahil tanpa disertai keyakinan dan kepercayaan ; sedang keyakinan dan kepercayaan mengenai hal tesebut, bukan lain adalah karena adanya iman ,Kalau dalam hal itu masih terdapat kekurangan pada Abu Thalib, kekurangan itu adalah karena ia tidak mengucapkan Syahadat dengan lisannya ( tidak disaksikan oleh manusia ). Atas dasar semuanya ini kami dapat mengatakan, Abu Thalib, sama sekali bukan orang Kafir atau orang Musyrik, tapi seorang muslim yang menyembunyi kan keimanannya.

Alasan yang kami kemukakan sebagai berikut : — 1/. Abu Thalib menolak dan tidak membenarkan pernyataan serta sikap kaum musyrikin Quraisy mengenai kenabian Muhammad saw,… Bahkan ia mendukung , membenarkan , membela dan melindungi da’wah tauhid yang diperintahkan Allah swt kepada Rasulullah saw. – 2/. Abu Thalib membela prinsip Tauhid dan para penganutnya , sehingga ia harus menghadapi tentangan dan tantangan sepeti yang dihadapi oleh setiap orang beriman. – 3/. Abu Thalib dengan keras menyatakan , bahwa Muhammad saw. Tidak berdusta dan semua yang dikatakan oleh Muhammad saw adalah benar.

Kalau ada fihak yang bimbang , ragu memasukan Abu Thalib kedalam golongan kaum Mu’minin atau Muslimin, kami juga tidak akan ragu mengeluarkan Abu Thalib dari golongan kaum Kafir dan kaum Musyrik .

Kalau benar riwayat yang memberitakan Abu Thalib pada detik-detik terahir hayatnya mengucapkan kalimat ; “ Pada agama ‘Abdul Muththalib “ , kalimat yang diucapkan itu tidak akan menghapus jasa-jasa serta pengabdiannya dalam membela dan melindungi Muhammad Rasulullah saw. .. yang berarti pula, membela dan melindungi da’wah agama Islam. Ucapan itupun tidak akan menghapus pernyataan-pernyataannya yang tegas, da’wah Rasulullah saw, itu benar dan tidak dusta.

Ibnu Katsir tidak menutup-nutupi kenyataan yang sebenarnya mengenai Abu Thalib. Ibnu Katsir dengan tegas mengatakan : “ Abu Thalib menghalangi dan mencegah gangguan yang tertuju kapada Rasulullah saw, dan para sahabatannya dengan segala kesanggupan yang ada pada dirinya : dengan kata-kata, dengan jiwa-raga juga dengan harta benda. Namun Allah swt belum berkenan mentakdirkannya sebagai orang yang beriman seperti yang lain-lain. Dalam hal ini pasti tersirat hikmah besar dan hujjah yang wajib kita yakini dan kita terima. Seumpama Allah swt, tidak melarang memohonkan ampunan dan karunia rahmat bagi Abu Thalib, “ —-Demikian , Ibnu Katsir menulis dalam “ Al-Bidayah wan-Nihayah “, Jilid dua halaman 131 ; yaitu suatu pernyataan yang mengandung dua arus yang berlawanan. Disatu fihak ia mengakui jasa-jasa pengabdian Abu Thalib dalam membela dan melindungi Rasulullah saw, Islam dan kaum Muslimin. Tetapi dilain fihak, ia dengan kalimat terpulas mengatakan…. Abu Thalib, dia seorang Musyrik . !.??..

Dari penelitian kita dalam persoalan Abu Thalib yang kontroversial itu, kami dapat menyimpulkan : Abu Thalib bukan musyrik dan bukan kafir. Sebab , tiap orang Musyrik pasti memuja-muja berhala dan sesembahannya yang lain, atau…menyekutukannya dengan Allah saw. Karena itulah kami berpendapat, Abu Thalib bukan orang Musyrik dan juga bukan orang Kafir. Hanya Allah swt sajalah yang mengetahui semua yang tersimpan didalam dadanya da semua yang tersembunyi dikedalaman jiwanya.

Beberapa Dalil tentang keimanan Abu Thalib dan tanggapan para Ulama dan Ahli Riwayat.

Persoalan Abu Thalib sengaja kami kuak selebar mungkin , untuk melihat lebih kedalam lagi dalam rangka mengatasi suara sumbang dari fihak yang sampai sekarang MENGKAFIR – KAFIRKAN pamanda Rasulullah Muhammad saw.

Abu Thalib– seorang yang sudah berjasa besar bagi Islam dan kaum Muslimin. Mereka mengetengahkan beberapa buah Hadits mengenai persoalan Abu Thalib – terlepas apakah Hadits –hadits yang mereka kemukakan itu , Hadits Shahih atau Hadits Maudlu ‘ – tetapi mereka tidak mengetengahkan semua Hadits yang berkaitan dengan ABU Thalib. Disini , kami akan mengetengahkan beberapa Hadits yang lain dan beberapa riwayat pendukung , tanggapan dari para Ulama , mengenai persoalan Abu Thalib , yang menunjukan pada ke Imanan paman Rasulullah saw.

Ibnu Sa’ad , dalam –Thabaqat – Kubra , Jilid, I halaman , 105. Mengetengahkan sebuahHadits berasal dari ‘Ubaidillah bin Rafi’ yang menerimanya langsung dari Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhahu . Imam ‘Ali r.a. berkata: “ Wafatnya Abu Thalib kuberitahukan kepada Rasulullah saw. Beliau menangis , kemudian berkata : “ Pergilah engkau dan mandikanlah dia, lalu kafankan dan kemudian kebumikan. Allah mengampuni dia dan merahmatinya, “.

Dari Hadits tersebut dapat ditarik kesimpulan : Kalau Abu Thalib seorang Musyrik seperti Musyrikin Quraisy , mungkinkah Rasulullah saw. Mengucapkan kalimat : – Allah mengampuni dan merahmatinya – sedangkan Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an : Allah tidak akan mengampuni dosa Syirik , dan mengampuni dosa selain itu, bagi siapa saja yang dikehendakinya, “ ( An-Nisa – 48 ).

Mungkin ada yang mengomentari :… Ya.. tetapi Rasulullah saw, tidak turut mengantarkan Jenazah Abu Thalib ke kubur dan tidak di Shalatkan jenazahnya. — Pertanyaan tersebut sudah dapat jawabannya dari para Ulama, diantaranya adalah : Ibnul- ‘Asakir , sebagaimana tercantum di dalam kitab : “ Asnal-Mathalib “ , halaman, 21—Al-Baihaqiy , didalam kitab : “ Dala’ilun-Nubuwwah “ —Ibnul-Jauziy didalam kitab : “ At-Tadzkirah “ , halaman, 6.—Ibnu Abil Hadid didalam kitab : “ Syarh Nahjil-Balaghah “ ,Jilid 3. Halaman 314.—Al-Halabiy didalam “ Sirah “ nya , jilid I halaman, 373. Sayyid Ahmad bin Zaini didalam “ Syarh-Nya “ mengenai kitab : “ As-Sirah Al-Halabiyyah “ , Jilid I , halaman, 90.— Al-Barzanjiy, didalam kitabnya : “ Najatu Abi Thalib “ , sebagaimana termaktub didalam kitab : “ Asnal-Mathalib “ ,halaman, 35.–Demikian juga , dalam kitab: Abu Dawud , Ibnul Jarud , Ibnu Khuzaimah , yang semuanya menjelaskan ;

Bahwa Rasulullah saw : tidak turut serta mengantarkan Jenazah Abu Thalib ke kubur, semata-mata untuk menghindari gangguan dan serangan dari kaum Musyrikin Quraisy. Bahwa Rasulullah saw : juga , tidak melakukan Shalat jenazah bagi Abu Thalib… jelas , karena waktu itu Shalat Jenazah belum di Syari’atkan.

Semua ahli riwayat dan para penulis sejarah Islam , sepakat bahwa tahun wafatnya Abu Thalib dan Siti Khadijah r.a, sebagai “ Tahun Duka-cita “ , atau: “ Amul – Huzn “. Bahkan sementara riwayat mengatakan, penamaan itu diberikan oleh Rasulullah saw , sendiri.
(Menurut Al-Aslamiy dan lain-lainnya, menerangkan: “ Abu Thalib wafat dalam bulan Syawwal tahun ke , 10 . setelah bi’tsah : sedangkan Sitti Khadijah r.a, wafat , 1 bulan + 5 hari, setelah wafatnya Abu Thalib.)

Betapa parahnya hati Rasulullah saw, ditinggal wafat oleh Abu Thalib dan kemudian menyusul Sitti Khadijah r.a. Dua orang kecintaan dan kesayangan beliau , dua orang itulah yang membenarkan , mendukung , membantu , melindungi dan membela Rasulullah saw, dalam melaksanakan tugas risalahnya : sebelum ada orang lain mau berbuat seperti mereka berdua. Semua para ahli riwayat dan para penulis sejarah Islam mengakui kenyataan itu, tak ada seorangpun yang mengingkarinya.

Apabila Abu Thalib itu seorang Musyrik dan Kafir , mungkinkah Rasulullah saw , sedih dan berduka-cita ditinggal wafat olehnya,..??.apabila ada orang yang mengatakan : “ Beliau sedih karena Abu Thalib itu pamandanya,” , lalu , kenapa Rasulullah saw , tidak berduka-cita dan tidak bersedih , ketika ditinggal mati oleh Abu Lahab , yang juga paman beliau sendiri..??. ( pada saat itu, Surah Al-Lahab , belum turun ) .

Mengenai musibah yang menyedihkan Rasulullah saw, dan mengenai “ Amul –Huzn “ , kita dapat membacanya pada kitab : Thabaqat – Qubra ( Ibnu Sa’ad ) Jilid I halaman 106. / kitab : Al – Imta ( Al – Muqriziy ) halaman 27. / kitab : Tarikh Ibnu Katsir ( Ibnu Katsir ) jilid III halaman 134, / kitab : Sirah Al-Halabiyyah , jilid I halaman 373. / kitab : Sirah – Nabawiyyah ( Sayyid Zaini Dahlan ) jilid I halaman 291, dan kitab : Asnal – Mathalib ( Ibnul – ‘Asakir ) halaman 11.

Ishaq bin ‘Abdullah bin Al-Harits mengetengahkan sebuah berita Hadits , yang mengatakan : Al-‘Abbas ,paman Rasulullah saw , pernah mengatakan : “ Ya Rasulullah(saw) , apa yang kau harap bagi Abu Thalib ..??.” , Rasulullah saw menjawab : “ Baginya aku mengharapkan semua yang baik dari Allah , Tuhanku “.
Berita Hadits tersebut diketengahkan oleh Ibnu Sa’ad di dalam kitab : Thabaqat – Qubra , jilid I -halaman 106. Dengan isnad Shahih dan para perawinya terdiri dari orang-orang yang dapat dipercaya ( tsiqah ) , seperti : ‘Affan bin Muslim, Hammad bin Salmah dan Tsabit Al-Bannaniy. Hadits di atas juga di tulis dan di abadikan oleh : Ibnu Katsir juga mengabadikan Hadits tersebut, didalam kitab : Al – Khasha’ishul — Kubra , jilid III, halaman 87.

Seorang Ulama Fiqh Madzhab Hanafiy ; Syeikh Ibrahim Ad-Danuriy, dalam kitab : Nihayatut – Thalab. Ibnu Thawus , dalam kitab : At – Thara’if , halaman 68. Ibnu Abdil Hadid, dalam kitab : Syarh Nahjil – Balaghah , jilid III – halaman 311. As- Sayuthiy , dalam kitab : At – Ta’dzim Wal – Minnah , halaman 8.

Tidak sedikit, kelompok yang menyatakan , bahwa Abu Thalib itu Musyrik dan Kafir, tapi..juga banyak para Ulama dan para penulis Sejarah Islam yang menyatakan keimanan pamanda Rasulullah saw itu.
Seorang Ulama besar berMadzhab Hanafi , yang bernama : Ahmad bin Al-Husain Al-Maushiliy , dalam uraiannya ( syarhnya ) mengenai kitab “ Syihabul – Akbar “ yang ditulis oleh : Al-‘ Allamah Muhammad bin Salmah Al-Qudha’iy ( wafat – 454 H ), dengan tegas mengatakan : “ Membenci Abu Thalib adalah Kufur “ .

Demikian juga Ulama besar dari Madzhab Malikiy, yang bernama : Al-‘Allamah ‘Ali Al-Ajhuriy. Dalam fatwanya mengenai Abu Thalib, ia menandaskan : “ membenci Abu Thalib berarti Kufur “ . Mereka mengatakan demikian, karena mereka yakin benar bahwa Abu Thalib seorang mu’min pertama yang melindungi dan membela Rasulullah saw.

Meskipun penilaian kami terhadap sikap yang mengkafir-kafirkan Abu Thalib itu tidak sejauh penilaian kedua Ulama besar madzhab Hanafiy dan Madzhab Malikiy, namun kami dapat memahami mengapa mereka berfatwa sekeras itu. Siapakah yang tidak tertusuk perasaannya mendengar suara mengkafir-kafirkan orang yang mengasuh dan membesarkan Muhammad Rasulllah saw, sejak dari usia 8 th hingga dewasa: kemudian membenarkan , membantu , melindung , membela beliau dalam melaksanakan tugas Risalahnya..??.

Betapa hancurnya hati Rasulullah saw , jika semasa hidupnya mendengar suara sumbang seperti itu tertuju kepada pamandanya. Dikala beliau masih hidup ditengah umatnya tidak seorangpun yang mengkafir-kafirkan Abu Thalib, atau menuduhnya sebagai Musyrik. Kaum Musyrikin Quraisy yang kemudian memeluk Islam semuanya mengetahui dengan mata kepala sendiri bahwa Abu Thalib adalah orang pertama yang membenarkan, mendukung, membela dan melindungi Rasulullah saw, setelah wafatnya isteri beliau sendiri Sitti Khadijah r.a. Ketika Rasul Muhammad saw , dan kaum muslimin sudah punya posisi yang cukup kuat, Pembela , pelindung , dan segala sesuatu yang menjadi kebutuhan Rasulullah saw , diambil alih oleh para sahabat , mereka bekerja sama saling bahu membahu , apabila ada yang berani menghina Islam atau Rasulullah saw, resikonya mereka harus berhadapan dengan pedang…..> berlanjut…>>…Abu Thalib—–2/2–

 

Wassalam

 H.M.H. Al-Hamid Al-Maliki Al-Husaini.

[ رَبَّنَا هَبْ لَنَ مِنْ أَزْوَاجِـنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةً أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا ]

.

Renungan

و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ عَنْ الْعَلَاءِ بْنِ يَعْقُوبَ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبِي أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَمْ تَرَوْا الْإِنْسَانَ إِذَا مَاتَ شَخَصَ بَصَرُهُ قَالُوا بَلَى قَالَ فَذَلِكَ حِينَ يَتْبَعُ بَصَرُهُ نَفْسَهُ و حَدَّثَنَاه قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ يَعْنِي الدَّرَاوَرْدِيَّ عَنْ الْعَلَاءِ بِهَذَا الْإِسْنَادِ

 Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rafi’ telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij dari Al ‘Ala` bin Ya’qub ia berkata, telah mengabarkan kepadaku bapakku bahwa ia mendengar Abu Hurairah berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 Bukankah kalian telah menyaksikan bahwa jika seseorang meninggal dunia matanya akan terbelalak…? …Para sahabat menjawab, Ya, kami telah menyaksikan. Beliau bersabda: Itu terjadi sa’at pandangan matanya mengikuti ruhnya (ketika keluar dari jasad-pent). Dan telah menceritakannya kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz Ad Darawardi dari Al Ala` dengan isnad ini.

HR-Imam Muslim

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s