PENDAHULUAN ILMU TAJWID


PENDAHULUAN ILMU TAJWID

.

Tajwid secara bahasa adalah membaguskan, sedangkan menurut istilah adalah mengeluarkan setiap huruf  dari tempat keluarnya dengan memberikan hak dan mustahaknya.

Yang dimaksud dengan hak huruf adalah sifat asli yang selalu bersamanya seperti sifat al-jahr, isti’la, istif’al, dsb. Adapun yang dimaksud dengan mustahak huruf adalah sifat yang tampak sewaktu-waktu, seperti tafkhim, tarqiq, ikhfa, iqlab, dsb.

Para ulama telah menyusun ilmu tajwid, serta menyusun pokok-pokoknya dan menyimpulkan hukum-hukumnya dari tata cara membaca yang diwariskan oleh Nabi Muhammad saw, para sahabatnya dan para tabi’in.

Tujuan mempelajari ilmu tajwid adalah menjaga lisan dari kesalahan tatkala membaca al-Quran. Oleh karena itu, hukum dan aturan-aturan dalam membaca al-Quran adalah fardhu ‘ain bagi setiap mukallaf.

Panduan ringkas hukum-hukum tajwid ini akan dimulai dengan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan para ulama tajwid yaitu hukum isti’azah dan basmalah.

HUKUM ISTI’AZAH DAN BASMALAH



1.  HUKUM ISTI’AZAH

Isti’azah hukumnya sunnah, dan membacanya diperlukan, khususnya ketika memulai bacaan al-Quran, baik itu membaca di awal surah atau di pertengahan surah dan wajib hukumnya menurut sebagian ulama.

فإذا قرأت القرآن فاستعذ بالله من الشيطان الرجيم

“Apabila kamu hendak membaca al-Quran, maka berlindunglah kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk”
Q.S. An-Nahl:98:

Bacaan isti’azah

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

Disunnahkan mengeraskan bacaan isti’azah pada dua keadaan, yaitu:

a.  Ketika membaca al-Quran di tempat yang ramai, dalam satu majelis.
b.  Ketika mengajarkan dan belajar al-Quran. Hal tersebut bertujuan agar orang yang hadir di tempat tersebut diam untuk mendengarkan bacaan al-Quran.

Isti’azah dibaca pelan pada 4 keadaan, yaitu:

a.  Dalam shalat.
b.  Ketika membaca al-Quran tanpa suara.
c.  Membaca al-Quran secara bergilir dan dia bukan orang pertama yang membaca.
d.  Membaca al-Quran sendirian, baik secara pelan atau keras.

2. HUKUM BASMALAH

Basmalah wajib dibaca menurut riwayat Hafs di awal membaca al-Quran kecuali surah at-Taubah.

Adapun membacanya di pertengahan surah bagi yang membaca boleh memilih, antara membaca basmalah atau hanya dicukupkan dengan isti’azah saja. Misalnya

ketika menjadi imam shalat maghrib, ‘isya, atau shubuh yang harus dijaharkan, maka ketika imam membaca surah sesudah al-Fatihah, baik itu awal surah atau pertengahan, bacaan basmalahnya bisa dikeraskan (dijaharkan) atau juga bisa sir (dibaca pelan, dalam hati).

3.  HUKUM BASMALAH DI ANTARA DUA SURAH

a.  Qot’u kulli: membaca akhir surah, basmalah, dan awal surah secara terpisah, dan ini hukumnya boleh secara syar’i.
b.  Berhenti ketika akhir surah, kemudian membaca basmalah dengan awal surah dan hukumnya boleh secara syar’i.
c.  Membaca akhir surah, basmalah, dan awal surah yang baru secara bersambung, dan hukumnya boleh.
d.  Menyambung akhir surah dengan basmalah kemudian berhenti, setelah itu memulai surah baru. Yang ini tidak boleh secara syar’i karena akan disangka bahwa basmalah termasuk bagian dari surah yang sebelumnya.

4.  TATA CARA MEMBACA ISTI’AZAH, BASMALAH, DAN AWAL SURAH

Apabila seorang akan membaca al-Quran, maka baginya ada 3 cara untuk memulai membacanya:
a.  Qot’ul jami’: membaca isti’azah, basmalah, secara terpisah.
b.  Washlul jami’: membaca isti’azah, basmalah, dan awal surah secara bersambung.
c.  Menyambungkan isti’azah dan basmalah kemudian surah dibaca terpisah.
d.  membaca isti’azah secara terpisah dari basmalah dan surah, kemudian membaca basmalah dan surah secara bersambung.

Wallahu a’lam.

One thought on “PENDAHULUAN ILMU TAJWID

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s