An Nadzir = Syi’ah dan Kesesatannya ( Fatwa MUI ).


Rasulullah dalam sabdanya :

“ Aku berwasiat kepada kalian untuk mengikuti sahabat-sahabatku, kemudian –mengikuti– orang-orang yang datang setelah mereka, kemudian mengikuti yang datang setelah mereka “.

  Dan termasuk rangkaian hadits ini:  

Tetaplah bersama al-Jama’ah dan jauhi perpecahan karena syaitan akan menyertai orang yang sendiri. Dia (syaitan) dari dua orang akan lebih jauh, maka barang siapa menginginkan tempat lapang di surga hendaklah ia berpegang teguh pada (keyakinan) al-Jama’ah”.

(H.R. at-Turmudzi, ia berkata hadits ini Hasan Shahih juga hadits ini dishahihkan oleh al-Hakim).

FAHAM SYI’AH – MAJELIS ULAMA INDONESIA

Majelis Ulama Indonesia dalam Rapat Kerja Nasional bulan Jumadil Akhir 1404 H./Maret 1984 merekomendasikan tentang faham Syi’ ah sebagai berikut : Faham Syi’ah sebagai salah satu faham yang terdapat dalam dunia Islam mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan mazhab Sunni (Ahlus Sunnah Wal Jamm’ah) yang dianut oleh Umat Islam Indonesia. Perbedaan itu diantaranya :

* Syi’ah menolak hadis yang tidak diriwayatkan oleh Ahlu Bait, sedangkan ahlu Sunnah wal Jama’ah tidak membeda-bedakan asalkan hadits itu memenuhi syarat ilmu mustalah hadis.    

* Syi’ah memandang “Imam” itu ma ‘sum (orang suci), sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah memandangnya sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekhilafan (kesalahan).    

* Syi’ah tidak mengakui Ijma’ tanpa adanya “Imam”, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ ah mengakui Ijma’ tanpa mensyaratkan ikut sertanya “Imam”.    

* Syi’ah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan/Pemerintahan (imamah) adalah termasuk rukun agama, sedangkan Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) memandang dari segi kemaslahatan umum dengan tujuan keimamahan adalah untuk menjamin dan melindungi da’wah dan kepentingan ummat.    

* Syi’ah pada umumnya tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar as-Siddiq, Umar Ibnul Khatab, dan Usman bin Affan, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengakui keempat Khulafa’ Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali bin Abi Thalib).    

* Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syi’ah dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah seperti tersebut di atas, terutama mengenai perbedaan tentang “Imamah” (Pemerintahan)”, Majelis Ulama Indonesia menghimbau kepada ummat Islam Indonesia yang berfaham Ahlus Sunnah wal Jama’ah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya faham yang didasarkan atas ajaran Syi’ah.

http://www.mui.or.id/konten/fatwa-mui/faham-syiah

Lebih Dekat dengan Jamaah An Nadzir-Sulsel Selasa, 09 Okt 2007 :

Tinggal di Tepi Danau, Pilih Rambut Pirang dan Jubah Hitam Sudah delapan tahun jamaah An Nadzir membangun permukiman di tempat terpencil, tepi Danau Mawang, Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan.

Mereka memilih menetap jauh dari keramaian dengan harapan bisa lebih khusyuk beribadah. MESKI hanya 20 kilometer dari Kota Makassar, jalan menuju ke Danau Mawang, tempat permukiman itu, masih jelek.

Lokasinya yang terpencil mengakibatan harian Fajar (Jawa Pos Group) harus bertanya beberapa kali. Akibatnya, setelah sekitar sejam mencari baru sampai ke tujuan.

Nama An Nadzir berarti pemberi peringatan.

Sekilas perilaku mereka memang unik, termasuk gaya berbusana. Tapi, jamaahnya menolak dikatakan ikut aliran atau komunitas eksklusif. Seperti umat muslim yang lain, mereka mengaku sangat konsisten dalam menjalankan Alquran dan Al Hadis.

Jamaah An Nadzir untuk wilayah Sulsel tersebar di Makassar, Kabupaten Maros, Kota Palopo, dan Kabupaten Gowa. Selain itu, juga terdapat di Medan (Sumut), Jakarta, dan sebagian kecil di luar negeri.

Khusus Gowa, jamaahnya ada 100 kepala keluarga (KK) dengan rata-rata setiap rumah dihuni lima orang. Sehingga keseluruhan jemaah An Nadzir di daerah ini sekitar 500 orang. Seperti kebanyakan umat Islam, jamaah An Nadzir mengisi Ramadan dengan berbagai kegiatan, kecuali salat tarawih berjamaah.

Alasannya, hal ini sesuai dengan tuntunan Rasul.

” Salat tarawih ditiadakan untuk menghindari jadi wajib “

Jelas Ustad Rangka, pimpinan An Nadzir Gowa, saat ditemui di kediamannya yang sederhana di tepi Danau Mawang.

Menurut Ustad Rangka,

Pada zamannya Nabi Muhammad memang pernah melaksanakan salat tarawih pada malam 23, 25, dan 27. Namun, setelah itu tidak dilaksanakan lagi.

” Ketika para sahabat Nabi bertanya, Rasulullah menjawab itu dilakukan karena takut nanti salat tarawih menjadi kewajiban,” katanya.

Menurut Ustad Rangka,

Para jamaah berbuka puasa dengan patokan alam. Yakni, ketika tergelincirnya matahari.

” Saya tidak mengacu pada jam berapa atau pukul berapa. Meski begitu, kami juga tak menafikan jam karena sangat membantu,” paparnya.

Untuk pelaksanaan salat Isya, lanjut Ustad Rangka, juga mengikuti kebiasaan Nabi, yakni di dua pertiga malam.

” Sekitar pukul 03.00 Wita, karena memang tidak memberatkan bagi kami. Selanjutnya melaksanakan sahur sesuai petunjuk yang ada. Intinya memperlambat sahur mempercepat buka puasa sesuai perintah Rasullullah ” katanya.

Pada malam hari Ramadan ini juga ada jamaahnya yang tafakur di alam terbuka. Meski menetap di lokasi terpencil, jamaah An Nadzir tetap berinteraksi dengan masyarakat sekitar Kelurahan Mawang, Kecamatan Somba Opu.

Untuk mencari nafkah, jamaah An Nadzir berkebun dan bertani. Mereka menggarap lahan seluas dua hektare yang ditanami cabai kecil dan adi. Ustad Rangka mengakui, dia dan jamaah An Nadzir mengenakan jubah hitam, sorban, dan rambut yang dibuat pirang ini untuk menjalankan sunah Rasul.

” Kami di sini tak mengembangkan ajaran sesat ” katanya.

Menurut Ustad Rangka,

An Nadzir bukanlah komunitas atau aliran serta bukan pula Syiah atau Sunni.

” Kami adalah Ahlul Bait. Ahlul Bait di sini berarti menjalankan Alquran dan hadis secara konsisten ” katanya.

Salah seorang jamaah An Nadzir, Iwan, mengaku memutuskan berhenti bekerja di sebuah perusahaan swasta di Palopo. Pada 2006 dia memilih hijrah ke Gowa bersama keluarga demi proyek keyakinan itu.

” Saya memilih masuk An Nadzir semata untuk menegakkan kebenaran itu,” ujarnya.

Untuk Shalat Idul Fitri tahun ini

, An Nadzir memutuskan melaksanakannya pada Kamis, 11 Oktober. Penetapan itu berdasarkan acuan pelaksanaan salat Id pada 2006 lalu.

” Tahun lalu kami salat Id hari Jumat. Nah, tahun ini kami akan laksanakan hari Kamis. Perhitungannya sederhana saja, dilakukan mundur sehari ” katanya. (*)

Melihat Cara Jemaah An Nadzir Beribadah di Bulan Ramadhan Tiadakan Tarawih, Berbuka Setelah Salat Magrib

Laporan: Ramah Praeska 28/9 DI KABUPATEN Gowa, terdapat sebuah majelis yang bernama An Nadzir. Kelompok yang punya ciri khas rambut pirang ini, bahkan sudah ada di daerah bersejarah itu sejak 1998 silam.

Menariknya, mereka fokus melaksanakan ibadah di sebuah tempat terpencil, tepatnya di tepi Danau Mawang, Kecamatan Somba Opu.JEMAAH An Nadzir, memilih menetap jauh dari permukiman padat penduduk.

Alasannya sederhana; supaya lebih khusyuk melaksanakan ibadah setiap harinya. Untuk menjangkau permukiman jemaah ini, memang perlu banyak bertanya kepada sejumlah penduduk. Itu tadi, lokasinya yang cukup terpencil dengan jarak tempuh sekitar 20 kilometer dari Makassar. Apalagi, kondisi jalanan tidak representatif.

Fajar yang mengunjungi permukiman An Nadzir, Rabu, 26 September malam lalu, setidaknya membutuhkan waktu kurang lebih satu jam lebih. Tentu saja, dengan bantuan warga di sekitar lokasi tersebut.

Lalu, bagaimana kegiatan kelompok ini?…. ingin sekadar tahu,

An Nadzir berarti pemberi peringatan.

Dengan dasar itu, jemaahnya pun secara tegas menolak jika dituding sebagai aliran tertentu dan atau ikut pada sebuah aliran. Mereka mengaku, masuk di sebuah majelis (perjalanan, Red). Jemaah An Nadzir, bahkan mengaku sangat konsisten dalam menjalankan Alquran dan hadis.

Jemaah ini tersebar di Makassar, Maros, Palopo, dan Kabupaten Gowa. Khusus di Gowa, jemaahnya sebanyak 100 kepala keluarga (KK) dengan rata-rata setiap rumah dihuni lima orang. Sehingga, keseluruhan jemaah An Nadzir di daerah ini sekitar 500 orang.

Pada Ramadhan tahun ini, jemaah An Nadzir mengaku melaksanakan ibadah berdasarkan sunah Rasul. Karena itu, mereka tidak melaksanakan salat tarawih seperti kebanyakan umat muslim lainnya.

Shalat tarawih ditiadakan dengan argumen menghindari jemaahnya menjadikannya sebagai sesuatu kewajiban.

“ Seperti umumnya umat muslim, kami juga memiliki banyak kegiatan keagamaan di bulan Ramadhan ini. Hanya saja, salat tarawih ditiadakan karena menghindari jadi wajib,” tandas pimpinan An Nadzir Gowa,

Ustaz Rangka,

Saat ditemui di kediamannya yang sederhana di tepi Danau Mawang. Alasan Rangka tidak melaksanakan salat tarawih bersama jemaahnya, lantaran mengikuti Nabi Muhammad Saw. Pada zamannya, kata dia, Rasulullah memang pernah melaksanakan salat tarawih pada malam 23, 25, dan 27. Setelah itu, Rasulullah berhenti selama-lamanya.

“ Nah, ketika itu para sahabat nabi bertanya, kenapa berhenti. Lalu, Rasulullah menjawab, itu dilakukan semata karena takut nanti salat tarawih kemudian dijadikan kewajiban.

Kenyataan yang terjadi sekarang ini, seakan-akan tarawih di bulan Ramadan itu menjadi sesuatu yang wajib dilaksanakan. Makanya, kami putuskan tak melaksanakan tarawih sejak hari pertama Ramadan sampai sekarang ini,”jelas Rangka.

Rangka menambahkan, mereka cukup berpuasa saja dan melakukan buka puasa sesuai waktu yang diyakini pada malam hari. Untuk menguatkan pendapatnya itu,

Rangka merujuk pada surah Al Baqarah ayat 187.

“ Makanya, kami rata-rata salat magrib dulu baru berbuka puasa, yang waktunya pada waktu malam ketika tergelincirnya matahari. Saya tidak mengacu pada jam berapa atau pukul berapa.

Meski begitu, kami juga tak menafikan yang namanya jam itu karena sangat membantu,” paparnya.

Adapun pelaksanaan salat isya, lanjut Rangka, juga mengikuti kebiasaan nabi di mana suatu ketika melakukan salat isya di dua pertiga malam.

Ketika itu, dikisahkan Rangka, Aisyah meraba kaki Rasulullah lalu bertanya,

“ Ya Rasulullah, Engkau melaksanakan salat apa?”

Rasulullah lalu menjawab,

” Sekiranya tidak memberatkan umatku maka inilah waktu (dua pertiga malam, Red) yang paling tepat melaksanakan salat isya.” “

” Itu pula yang kami lakukan di sini. Rata-rata melaksanakan salat isya pada pukul 03.00 Wita, karena memang tidaklah memberatkan bagi kami. Selanjutnya melaksanakan sahur sesuai petunjuk yang ada. Intinya, memperlambat sahur mempercepat buka puasa sesuai perintah Rasulullah. Kami makan dan minum sesuai petunjuk Alquran,” kilah Rangka sembari menyebutkan, di malam hari pada bulan Ramadhan ini ada juga jemaah yang tafakur di alam terbuka.

Soal pelaksanaan salat isya itu, Rangka lalu menyebutkan tercantum pada Surah Huud ayat 114 yang berbunyi

” Dirikanlah salat pada kedua tepi siang (pagi dan petang), dan pada bagian permulaan malam ”.

Serta Surah Al Israa ayat 78,

“ Dirikanlah salat sesudah matahari tergelincir ( dzuhur dan asar ) sampai gelap malam ( magrib dan isya ), serta salat subuh. Sesungguhnya salat subuh itu disaksikan malaikat ”.

Dominan Berkebun Aktivitas sehari-hari jemaah An Nadzir adalah berkebun dan menambak ikan.

“ Di waktu pagi hingga sore hari, kami memang lebih banyak berkebun dan memelihara ikan mas yang ada di tambak atau kolam dekat permukiman,” kata Rangka, yang mengaku sudah 22 tahun menetap di tepi Danau Mawang.

Jemaah An Nadzir sendiri cukup terbuka bagi siapa saja yang ingin mengetahui lebih jauh tentang majelis itu. Tapi, jangan coba-coba untuk menyinggung perasaan jemaahnya.

“ Kalau itu dilakukan, maka pasti akan dilempar ke tambak atau kolam ikan yang ada di permukiman jemaah An Nadzir. Sudah banyak yang merasakannya karena mencibir keberadaan An Nadzir,” ungkap Arifin Idris Dg  Ngiri, warga di sekitar permukiman An Nadzir.

.

Paling Cepat Gelar Shalat Idulfitri

.

Laporan Ramah Praeska

MESKI memilih tinggal di lokasi terpencil, jemaah An Nadzir tetap melakukan interaksi dengan masyarakat luar.

Sehari-harinya, jemaah An Nadzir juga melaksanakan aktivitasnya seperti warga pada umumnya. Mereka hidup dengan cara berkebun dan bertani.

PADA bulan Ramadan ini, jemaah An Nadzir melakukan aktivitasnya di siang hari hingga sore. Mereka menggarap sebuah lahan seluas dua hektare yang disiapkan untuk ditanami cabai kecil mulai awal November mendatang.

Selain itu, mereka juga bercocok tanam padi. Bahkan, baru-baru ini, jemaah An Nadzir memanen padi yang digarapnya.

Satu hektare sawah yang digarap mampu menghasilkan berkarung-karung gabah.

“ Untuk perkebunan, kami punya lahan sendiri. Sedangkan areal persawahan yang digarap, secara keseluruhan luasnya hampir tujuh hektare. Saat ini, kami memanennya,” jelas Pimpinan An Nadzir Gowa, Ustaz Rangka, saat ditemui Rabu malam lalu, di kediamannya.

Sekadar informasi, Rangka disebut-sebut yang memiliki lahan pertanian itu. Namun, lahannya tersebut diolah bersama-sama dengan para jemaahnya. Nah, hasilnya itu kemudian dibagi bersama jemaahnya untuk kelangsungan hidup mereka.

Rangka mengaku, dia bersama jemaahnya, hanya semata-mata menjalankan sunah Rasul.

Mereka juga memilih hidup secara sederhana.

“ Kami di sini tidak mengembangkan ajaran sesat. Kami justru menegakkan kebenaran yang dibawa Syech Muhammad Al Mahdi Abdullah. Nah, yang mengajari saya dan para jemaah An Nadzir masuk ke lokasi ini (tepi Danau Mawang, red) adalah Al Mahdi Abdullah, imam akhir zaman yang kita tunggu-tunggu selama ini,” ungkapnya.

Rangka menambahkan, ia sebenarnya pernah bergabung dengan Muhammadiyah sebelum memutuskan masuk majelis An Nadzir.

“ Kebenaran itu akan muncul. Nah, Imam Mahdi sendiri juga akan muncul di belahan timur,” katanya.

Menyinggung tentang belahan timur, kata dia, Kabupaten Gowa berada persis di belahan timur. Atas dasar itu, Rangka mengaku memilih sebuah lokasi terpencil di Gowa untuk memulai perjalanan menegakkan kebenaran itu. Secara tegas,

Rangka berkali-kali mengatakan bahwa ia dan jemaahnya tak mengembangkan ajaran sesat.

Mereka, kata Rangka, hanya menjalankan ajaran yang dibawa Syech Muhammad Al Mahdi Abdullah, yang dijadikan imamnya.

“Untuk apa saya meninggalkan keramaian di luar sana dan masuk ke tempat terpencil kalau hanya mengembangkan ajaran sesat. Sekalipun beberapa rekan saya di Muhammadiyah menghujat dan mencibir saya, tapi saya hanya tersenyum,” akunya.

Perlu diluruskan, lanjutnya, An Nadzir bukanlah komunitas atau aliran, bukan pula Syiah atau Sunni.

“ Kami adalah Ahlul Bait. Ahlul Bait di sini berarti menjalankan Alquran dan hadis secara konsisten. Sudah jelas, An Nadzir itu sebuah majelis (perjalanan),” paparnya.

Salah seorang jemaah An Nadzir, Iwan, mengaku memutuskan berhenti bekerja di sebuah perusahaan swasta di Kota Palopo dan memilih hijrah ke Gowa bersama keluarganya demi “keyakinan” itu. Dia mengaku hijrah dari Palopo sejak 2006 lalu.

“ Saya memilih masuk An Nadzir semata untuk menegakkan kebenaran itu ” ujarnya.

Shalat Idulfitri

Untuk shalat Idulfitri tahun ini, An Nadzir memutuskan melaksanakannya pada Kamis, 11 Oktober mendatang. Itu berarti, tahun ini, jemaah An Nadzir yang paling cepat menggelar salat Id.

Pasalnya, Muhammadiyah baru menggelar Idulfitri keesokan harinya, Jumat, 12 Oktober.

Lalu, apa dasarnya sehingga menggelar Idulfitri paling awal.

Rangka berkilah, ia berdasarkan pada pelaksanaan salat Id 2006 lalu.

“ Tahun lalu kami shalat Id hari Jumat. Nah, tahun ini kami akan laksanakan hari Kamis. Perhitungannya sederhana saja, dilakukan mundur sehari. Jadi, misalnya tahun sebelumnya kita lebaran Minggu, maka di tahun berikutnya harusnya Sabtu, lalu Jumat, dan begitu seterusnya,” jelas Rangka.

Dia menuturkan, shalat Id yang digelar An Nadzir di Kabupaten Gowa setiap tahunnya, dihadiri seribuan jemaah. Selain dari Sulsel, ada pula dari Jakarta, Medan, dan daerah lainnya di Indonesia.

“ Cukup banyak jemaah yang melaksanakan salat Id di sebuah lapangan yang tak jauh dari permukiman An Nadzir ” kata Arifin Idris Dg Ngiri.

Warga di sekitar permukiman An Nadzir, yang dibenarkan rekannya, Ramli Rewa. (tamat)

By : Sumber Naskah

Khatib bin Abu Balta’ah Al Ansahri- 

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ قَالَ أَخْبَرَنِي الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدٍ أَنَّهُ سَمِعَ عُبَيْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي رَافِعٍ يَقُولُ سَمِعْتُ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ بَعَثَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا وَالزُّبَيْرَ وَالْمِقْدَادَ فَقَالَ انْطَلِقُوا حَتَّى تَأْتُوا رَوْضَةَ خَاخٍ فَإِنَّ بِهَا ظَعِينَةً مَعَهَا كِتَابٌ فَخُذُوا مِنْهَا قَالَ فَانْطَلَقْنَا تَعَادَى بِنَا خَيْلُنَا حَتَّى أَتَيْنَا الرَّوْضَةَ فَإِذَا نَحْنُ بِالظَّعِينَةِ قُلْنَا لَهَا أَخْرِجِي الْكِتَابَ قَالَتْ مَا مَعِي كِتَابٌ فَقُلْنَا لَتُخْرِجِنَّ الْكِتَابَ أَوْ لَنُلْقِيَنَّ الثِّيَابَ قَالَ فَأَخْرَجَتْهُ مِنْ عِقَاصِهَا فَأَتَيْنَا بِهِ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا فِيهِ مِنْ حَاطِبِ بْنِ أَبِي بَلْتَعَةَ إِلَى نَاسٍ بِمَكَّةَ مِنْ الْمُشْرِكِينَ يُخْبِرُهُمْ بِبَعْضِ أَمْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا حَاطِبُ مَا هَذَا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَا تَعْجَلْ عَلَيَّ إِنِّي كُنْتُ امْرَأً مُلْصَقًا فِي قُرَيْشٍ يَقُولُ كُنْتُ حَلِيفًا وَلَمْ أَكُنْ مِنْ أَنْفُسِهَا وَكَانَ مَنْ مَعَكَ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ مَنْ لَهُمْ قَرَابَاتٌ يَحْمُونَ أَهْلِيهِمْ وَأَمْوَالَهُمْ فَأَحْبَبْتُ إِذْ فَاتَنِي ذَلِكَ مِنْ النَّسَبِ فِيهِمْ أَنْ أَتَّخِذَ عِنْدَهُمْ يَدًا يَحْمُونَ قَرَابَتِي وَلَمْ أَفْعَلْهُ ارْتِدَادًا عَنْ دِينِي وَلَا رِضًا بِالْكُفْرِ بَعْدَ الْإِسْلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَا إِنَّهُ قَدْ صَدَقَكُمْ فَقَالَ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ دَعْنِي أَضْرِبْ عُنُقَ هَذَا الْمُنَافِقِ فَقَالَ إِنَّهُ قَدْ شَهِدَ بَدْرًا وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ اللَّهَ اطَّلَعَ عَلَى مَنْ شَهِدَ بَدْرًا فَقَالَ اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ فَأَنْزَلَ اللَّهُ السُّورَةَ { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنْ الْحَقِّ إِلَى قَوْلِهِ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ }

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Said Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Amru bin Dinar, katanya telah mengabarkan kepadaku Al Hasan bin Muhammad ia mendengar Ubaidullah bin Abu Rafi’ mengatakan, aku mendengar Ali radliallahu ‘anhu berujar,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutusku, Zubair, dan Miqdad, pesan beliau:

Berangkatlah kalian hingga kalian sampai Raudhah Khakh, sebab disana ada seorang wanita penunggang unta yang membawa surat, rebutlah surat itu. Kata Ubaidullah bin Rafi‘, kami pun berangkat dan kuda kami pacu secepat-cepatnya hingga kami tiba di Raudah Khakh, disana telah ada ada seorang wanita menunggang unta. Kami katakan kepadanya;

Tolong keluarkan suratmu. Aku tak membawa surat. Jawab si wanita tersebut. Maka terpaksa kami katakana;

Kamu harus keluarkan surat itu, atau kami yang akan menelanjangi pakaianmu! Kata Ubaidullah, maka si wanita itu akhirnya mau mengeluarkan suratnya dari gelung rambutnya, dan kami bawa surat tersebut kepada Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam.

Ternyata surat tersebut berasal dari Khatib bin Abu Balta’ah Al Ansahri untuk beberapa orang musyrik Makkah, memberitakan mereka beberapa kebijakan Rasulullah yang akan beliau lakukan.

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menginterogasi Khatib bin Abu Balta’ah dengan berujar :

Wahai Hathib, apa maksudmu menulis surat seperti ini?

Jawab Hathib Wahai Rasulullah, jangan engkau terburu-buru menghukumku, aku adalah seseorang yang dahulu terdampar di Quraisy,

-lantas ia jelaskan, dia adalah sekutunya, namun bukan berasal dari cucu keturunannya-.

Orang-orang muhajirin yang bersamamu mempunyai banyak kerabat yang menjaga keluarga dan harta mereka, maka aku juga pingin jika aku tak punya nasab, aku cari pelindung disisi mereka sehingga menjaga keakrabanku.

Aku lakukan bukan karena aku murtad dari agamaku, bukan pula berarti aku ridla terhadap kekafiran setelah keIslaman.

Rasulullah memberi komentar Hatib memang telah jujur kepada kalian.

Umar namun menyampaikan sikap kerasnya Wahai Rasulullah, biarkan aku untuk memenggal leher si munafik ini.

Rasulullah mencegahnya seraya berujar Dia, Hatib, telah ikut perang badar, siapa tahu Allah telah mengintip semua pengikut perang Badar dan bertitah lakukan yang kalian suka, AKU telah mengampuni kalian, maka turunlah ayat: .

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاء تُلْقُونَ إِلَيْهِم بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءكُم مِّنَ الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ أَن تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ رَبِّكُمْ إِن كُنتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَاداً فِي سَبِيلِي وَابْتِغَاء مَرْضَاتِي تُسِرُّونَ إِلَيْهِم بِالْمَوَدَّةِ وَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا أَخْفَيْتُمْ وَمَا أَعْلَنتُمْ وَمَن يَفْعَلْهُ مِنكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاء السَّبِيلِ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang;

Padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu.

Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian).

Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang.

Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan.

Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus.

QS. Mumtahanah ayat 1

HR-Imam Bukhari rahimahullah


8 thoughts on “An Nadzir = Syi’ah dan Kesesatannya ( Fatwa MUI ).

  1. Tulisan ini berbau hasut dan mengandung kedengkian. Memang di jaman ini baxak yg mengaku Islam yg dibalik kepintaranx yg baxak hafal hadis dia justru mexebar fitnah dan merasa benar sendiri.

    .

    JUJUR SAYA SAMPAIKAN ….SETUMPUKAN SAYA PUNYA KITAB HASIL DARI / KARYA ORANG SYI’AH TERKEMUKA ===YAAAAAA TETAP SAJA KHAWARIJ SEMUA————————–CACIMAKI PADA MADZHAB IMAM SYAFI’I BEGITU RAMAINYA……………………..

    • Ralat, maksudnya Judul tulisan ini (An Nadzir = Syi’ah dan Kesesatannya ( Fatwa MUI ) berbau … dst

      .

      MAKSUDNYA APANYA YANG HARUS DIRALAT BRO CINTAKU……………………………………

  2. Siapa yg tdk merasa tertipu bila melihat gaya berpakaian ala nabi lengkap dngn baretnya seakan akan mirip aslinya dan mengaku ajaran paling benar sedunia dan mengklem tdkmada yg benar kecuali jamaah yg di pimpin Rangka dan wakilnya Lukman asli bakti yg lahir di pallopo sedang Rangka yg kini sudah di laknat allah dengan penyakit yg tdk bisa disembuhkan lg menderita mati badan sebelah termasuk hati dan jasmaninya dan akal otaknya yg sudah di khatam oleh allah sehingga tdk dapat lg melihat adanya kebenaran alquran dan hadis rangka merasa sudah menegakkan sunah nabi padahal isinya kemunafikan dan topeng islam belaka mengajarkan yg sesat lg menyesatkan meyakini adanya kelahiran isa putra mariam yg dilahirkan oleh anak jamaah yg bernama daeng lotteng alias abu akkass yg di beri gelas palsu oleh rangka sendiri guna menyamarkan keberadaan dari orang tua si wanita tsb yg dihamili oleh rangka di filla di tengak sawah yg kelihatan gubuk yg tak layak di sebut filla saksi mata yg melihat si yuyun diantar oleh bapaknya sendiri adalah jammahnya sendiri yg bernama fajar yg sekarangberternak telur puyuh yg sudah di bungkam dengan macam macam teror paman dajjal dan dianggap musuh jamaah apabila berani membongkar aib dari rangka yg pernah di saksikannya sendiri saat si yuyun diantarkan bpknya sendiri waktu dini hari ke rumah rangka untuk menjadi gundik atau nikah secara rahasia dan terselubung alias istri gelapnya rangka yg kini sudah bukan menjadi rahasi masyarat lg sekian sekelumit info yg bisa di cek kebenarannya langsung datang dan cari info kebenaran ajaran sesat yg menyimpang dari ajaran islam yg hakiki langsung datang ke jamaahnya dan jgn melalui rangka dan lukman yg mereka berdua sangat mahir memutar balik fakta dan mengatakan ini itu fitnah bukti nyata si yuyun dan semua keluarganya sudah di ungsikan dari pondok agar menghilangkan jejak kotor yg sdh di buatnya dan masih banyak lg ajaran akidah yg sm sekali tdk pernah di ajarkan oleh nabi tapi dilakukan dan dibuat di dalam ajaran rangka dan lukman yg selalu mengagungkan si bocah angon gembel yg tdk tau ujung pangkalnya darimana datangnya dan mengaku keturunan nabi khaidir as dasar tdk tau malu yg benar keturunan pencuri atau keturunan pallukah kt orang makassar

    .
    </p

    ntar pak balasan bahasannya = ane lagi sibuk dulu

  3. Klu anda mau tau apa yg di ajarkan di an nadzir mawang datang masuk lihat dan saksikan sendiri jgn hanya dilihat dari luar atau dari jauh coba masuk dan tinggal beberapa hari di dlm nanti baru anda tau sesat atau tdk tapi klu anda wawan cara sm yg namanya lukman dan rangka ha ha ha kalian akan tertipu akan penampilan gaya palsu yg munafik yg tanpa disadarinya telah menginjak injak ajaran nabi sendiri dan menambah2 yg tdk pernah diajarkan oleh nabi yg ada hanya kepalsuan belaka contonya saja pak hj januar yg 100%meyakini ajaran rangka yg di iming imingi surga dan sdh dijamin masuk surga oleh rangka sampai 2 beliau berani berjudi dan bertaruh uang yg nilainya tdk sedikit yaitu 50jt yg percaya klu nanti presiden ri yg 7 adalah utas rangka hanong daek kyio yg sekarang sudah keok alias pessso mati badan sebelah kerana di kutuk oleh allah sebab memproklamirkan dirinya mengaku sebagai dirinyalah pemuda bani tamim dari gowa tp maaf keturunan pencuri anak daeng talli agen tanah sengketa yg dulu penjual tanah karaeng raja gowa yg tdk sadar sdh menyekutukan allah dngn dirinya sendiri kutukan dari allah di sikapinya dengan terkena di tanduk kerbau leluhurnya nah dengan demikian keyakinanya dia perintahkan jamaahnya untk membangun rumah sesajen atau rumah tempat penyembahan setan yg sangat di benci allah yaitu syirik besar masa ustas membuat saukan katanya mengingat leluhurnya ngakunya keturunan nabi khaidir tpi mengapa buat saukan tempat penyembahan leluhur ajaran islam darimana nabi tdk pernah mengajarkan buatsaukan atau apapun ssjenisnya atau tempat berhala lainya meyakini selain allah adalah perbuatan syirik katanya paling benar pake sorban pake jubah tapi bawa2 pisang ke saukan menyembah setan ngasih makan setan meyakini penyakitnya dari setan di tanduk kerbau setan makanya liar sj wajah rangka liahat baik baik mirip sekali wajah setan laknatullah karna perbuatanya menyembah setan

  4. An Nadzir = Syi’ah dan Kesesatannya ( Fatwa MUI ).
          selagi anda hanya melihat dari luar dan hanya dengar sj jauh atau dari mulut ke mulu informasi tak jelas maka anda tdk akan dapat informasi yg sebenarnya datang lihat dan saksikan dari dekat liahat aktivitas apa yg ada di pondok annadzir ada pelajaran apa dan sekolah apa pengajian apa dasar dan pegangannya apa norma kaedah islam yg sesungguhnya apa liat langsung ke dalam jgn tanya tapi saksikan sendiri karna klu tanya2 semua bungkam tdk ada yg berani ngomong karna ancaman keras dari rangka dan lukman tapi anda bisa tanya yg sdh keluar dari jamaah nya rangka atau ex mantan jamaahnya sekarang sdh di palopo dan di jawa kediri bapak sYA sendiri di jalimi tinggal di dlm anadzir padahal sahabat imam mereka tapi skrang sdh tua sdh ga bis APA di buang dan di telantarkan rangka si pemud bani tamim palsu itu menurut ortu sya yg sekarang sdh pulang ke jawa semoga allah mwlaknat rangka dan pengikut pengikutnya karna sdh berbuat jalim kpd sesama manusia

  5. An Nadzir = Syi’ah dan Kesesatannya . Bahwa akidah (aqidah) dalam ajaran Islam mempunyai kedudukan sangat penting dan harus didasarkan pada dalil-dalil qat’iy, oleh karena itu, akidah tersebut harus dijaga dan dilindungi kemurniannya.

    2. Bahwa masalah Jibril merupakan masalah penting yang menyangkut akidah Islam; oleh karena itu, akidah atau keimanan (kepercayaan) kepada Jibril harus berlandaskan dan tunduk pada dalil-dalil qat’ iy.

    3. Bahwa menurut akidah Islam, Jibril hanya turun kepada para nabi untuk menyampaikan wahyu Allah, dan mengingat Nabi. Muhammad saw adalah nabi terakhir maka Jibril tidak lagi turun menemui manusia untuk menyampaikan wahyu.

    4. Bahwa pengakuan seseorang, dalam hal ini Ibu Lia Aminuddin, didampingi dan mendapat ajaran dari Jibril harus segera ditanggapi dan diluruskan oleh Majelis Ulama Indonesia.

    Mengingat:

    1. Salah satu rukun Iman dalam sistem akidah Islam – yang wajib diyakini dan menjadi akidah setiap muslim – adalah iman kepada malaikat. Cukup banyak ayat al-Qur’an menjelaskan hal ini: antara lain firman Allah: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan; akan tetapi, sesungguhnya kebajikan itu adalah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi …. “ (QS. al-Baqarah [2]:177)

    “…. Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikatmalaikat- Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh jauhnya”(QS. an-Nisa [4]: 136).

    2. Menurut ajaran Islam (al-Qur’an), malaikat adalah makhluk gaib dan termasuk ke dalam hal (alam) yang gaib. Mengenai hal yang gaib, Allah berfirman: ’(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang gaib; maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu, kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya; maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya “ (QS. Al-Jinn [72]:26-27).

    3. Atas dasar itu, dalam melaksanakan keimanan kepada malaikat yang gaib itu, setiap muslim yang yakin (beriman) bahwa sumber akidah dalam Islam mengenai persoalan gaib hanyalah al-Qur’an semata, harus tunduk dan mengikuti, serta terbatas pada keterangan yang dijelaskan oleh al-Qur’an, baik menyangkut materi mereka, sifat, tugas, maupun dalam hal melihat mereka. Malaikat, dalam akidah muslim, adalah makhluk (alam) gaib yang tidak dapat diketahui oleh manusia melalui idrak basyari (intelek manusia). Mereka hanya dapat diketahui melalui pemberitaan valid (al-khabar as-sadiq) dari Allah SWT. Yaitu: keterangan yang terdapat dalam al-qur’an. (perhatikan Mahmud Syaltut, al-Islam Aqidah wa Syari‘ah, Dar al-Qalam, 1966, h. 32). Dengan kata lain, pengetahuan tentang malaikat haruslah berdasarkan wahyu.

    4. Perintah al-Qur’an agar beriman kepada malaikat tersebut, pada dasarnya, bukan hanya beriman dari sudut bahwa mereka adalah makhluk yang benar-benar ada semata, melainkan juga dari sudut tugastugas mereka yang berkaitan erat dengan misi penting ajaran agama, yaitu, antara lain, pembersihan jiwa (at-tahzib an-nafsiy) dan pengarahan terhadap kebaikan. (perhatikan ibid., h. 35).

    5. Al-Qur’an telah menjelaskan sifat-sifat malaikat; di antaranya adalah:

    a. bahwa malaikat itu suci dari sifat-sifat manusia (a’rad al-basyariyah) seperti lapar, sakit, makan, tidur, bercanda, berdebat, dst. Hal ini ditunjukkan oleh Allah, melalui dalalah iltizam, dalam firman-Nya: “Mereka (malaikat) selalu bertasbih (beribadah kepada Allah) pada waktu malam dan siang hari tiada hentihentinya.” (QS. al-Anbiya [21]: 20)

    b. bahwa malaikat itu selalu takut (al-khaufi dan taat kepada Allah, sebagaimana dijelaskan dalam firmanNya: “Mereka (malaikat) takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka) “ (QS. An-Nahl [ 16]:

    “Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak’. Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimulaikan, mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. Allah mengetahui segala apa yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya “ (QS. Al-Anbiya [21]: 26-28).

    c. bahwa malaikat itu selalu taat kepada Allah, tidak durhaka (melakukan maksiat) kepada-Nya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam QS. al-Anbiya [21]: 26-28 di atas dan dalam firman-Nya:“… mereka (malaikat) tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan “ (at-Tahrim [66]: 6). Termasuk durhaka kepada Allah adalah berbohong. Dengan demikian, tidak mungkin ada malaikat berbohong, seperti hari ini ia mengaku bernama Jibril dan esok harinya atau kemarin mengakui selain Jibril.

    d. bahwa malaikat itu mempunyai sifat malu. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Nabi: “Bagaimana aku tidak malu terhadap seorang laki-laki yang malaikat pun malu terhadapnya” (HR. Muslim).

    e. bahwa malaikat itu merasa sakit (tidak suka, terganggu) dengan hal-hal yang tidak disenangi (makruh), misalnya bau tidak sedap; demikian juga anjing dan patung, sebagaimana halnya manusia. Nabi menjelaskan:“Barang siapa makan bawang putih, bawang merah, dan bawang bakung janganlah mendekati masjid kami, karena malaikat merasa sakit (terganggu) dengan hal-hal yang membuat manusia pun merasa sakit” (HR. Muslim).

    “Dari Salim, dari ayahnya, ia berkata: Jibril berjanji kepada Nabi, namun kemudian ia terlambat datang sehingga hal itu menyusahkan hati Nabi. Kemudian Nabi keluar dan dijumpai Jibril. Nabi mengadu kepadanya tentang apa yang ia dapatkan. Jibril menjawab: “Kami tidak akan masuk ke dalam rumah yang didalamnya terdapat gambar dan anjing.

    6. Malaikat Jibril, sebagai salah satu malaikat yang menurut al-Qur’an mempunyai nama lain seperti ar-ruh, ar-ruh al-qudus, dan ar-ruh al-amin, tentu memiliki sifat-sifat malaikat pada umumnya. Di samping itu, malaikat Jibril memiliki sifat lain dan tugas tertentu, antara lain sebagaimana dijelaskan dalam:

    a. Firman Allah:  “Sesungguhnya al-Qur’an itu benarbenarfirman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah Yang mempunyai Arasy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila; dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang” (QS. At-Takwir [81]: 19-23).

    b. Firman Allah: “Dan sesungguhnya al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan “ (QS. AsySyu’ara [261192-194). Ayat Qur’an di atas (QS. Asy-Syu’ara: 192-194) menegaskan bahwa (1) Malaikat Jibril mempunyai tugas menyampaikan/menurunkan pesan dan ajaran dari Allah, (2) pesan dan ajaran yang dibawa turun oleh malaikat Jibril adalah kalam (wahyu dari) Allah, dalam hal ini al-Qur’an, (3) wahyu tersebut dibawa turun oleh malaikat Jibril kedalam hati (kalbu) Nabi Muhammad, dan (4) bahwa tujuan penurunan wahyu kepada Nabi Muhammad ialah agar ia menjadi nabi (munzir). Atas dasar ini, maka (1) tidak dapat dibenarkan jika Jibril membawa turun selain wahyu, misalnya pendapat atau penjelasan dari Jibril sendiri, baik kepada Nabi Muhammad maupun orang lain, (2) sesudah Nabi Muhammad wafat Jibril tidak akan lagi menurunkan wahyu maupun ajaran kepada siapapun, karena Nabi Muhammad adalah nabi terakhir dan ajaran Allah untuk umat manusia telah dinyatakan sempurna. Dua hal disebut terakhir ini, yakni bahwa Nabi Muhammad adalah nabi terakhir dan bahwa ajaran Allah untuk umat manusia telah sempurna dijelaskan dalam firman Allah: “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi ia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu “ (QS. Al-Ahzab [33]: 40). “… Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagimu… “ (QS. Al-Ma’idah [5]: 3).

    7. Jibril, sebagaimana dijelaskan di atas hanyalah bertugas menyampaikan wahyu dari Allah dan ia tidak diberi wewenang oleh Allah untuk menjelaskan kandungan (isi dan maksud)-nya. Dalam hal al-Qur’an, tugas menjelaskannya dibebankan kepada Nabi, sebagaimana dikemukakan dalam firman Allah: “….Dan Kami turunkan kepadamu (Muhammad) al- Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (QS. an-Nahl [ 16]:44) Selain Nabi, tugas menjelaskan al-Qur’an juga menjadi tanggung jawab para ulama. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah, antara lain:“… Maka bertanyalah kepada orang yang mempunvai pengetahuan (ulama) jika kamu tidak mengetahui “ (QS. an-Nahl [16]:43). Jelaslah kiranya bahwa malaikat, termasuk juga Jibril, menurut al-Qur’ an tidak mempunyai wewenang untuk menafsirkan atau menjelaskan maksud al-Qur’an, sedangkan pengetahuan tentang tugastugas malaikat haruslah berdasarkan wahyu (al-Qur’an dan Hadis) sebagaimana telah dikemukakan di atas. Dengan demikian, pengakuan siapapun bahwa Jibril telah menafsirkan al-Qur’an tidak dapat dibenarkan.

    8. Ayat lain yang menjalaskan bahwa tugas Jibril adalah menyampaikan wahyu antara lain: “Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana “ (QS. Asy-Syura [42]:51). “Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan “ (QS. Al-Qadr [97]:4)

    9. Sebagaimana malaikat pada umumnya yang tidak akan pernah melakukan maksiat, misalnya melihat aurat, Malaikat Jibril tidak mau masuk ke dalam suatu rumah yang didalamnya ada aurat terbuka. Ini dapat diketahui dari hadis berikut:

    “Terdapat keterangan (hadis) bahwa Khadijah r.a. pernah mencoba (menguji) turunnya wahyu kepada Rasul dengan melepaskan kerudung dari kepalanya. Jika ia membuka rambutnya, tenanglah keadaan Rasul; dan jika ia menutup rambutnya, keadaan Rasul kembali seperti semula. Hal itu ia lakukan karena ia mengetahui bahwa malaikat Jibril tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya ada seorang perempuan yang terbuka kepalanya. Oleh karena itu, ketika membuka kepalanya ia (Khadijah) bertanya kepada Rasul: ‘Apakah engkau melihatnya (Jibril)?’ Rasul menjawab: ‘Tidak!’ Khadij ah berkata: ‘Wahai putra paman! Tabah dan bergembiralah! Demi Allah! (Yang datang kepada engkau) itu adalah malaikat, dan bukan syaitan’.” (Sayyid Sabiq, Aqidah Islamiyah, h. 268). ( adalagi dilain kisah , bahwa beliau membuka pakaiannya- wallahu ‘alam ).

    10. Malaikat Jibril hanya turun dan dating kepada Nabi Muhammad atas izin dan perintah Allah. Tanpa izin dan perintah Allah ia tidak akan turun, betapa pun Nabi Muhammad sangat menginginkan dan mengharapkan. Cukup banyak peristiwa yang memerlukan segera mendapat jawaban dan penjelasan wahyu, tetapi Jibril tidak kunjung datang membawa wahyu. Contoh penantian Nabi yang paling mendesak adalah peristiwa menggemparkan yang menuduh ‘Aisyah r.a., isteri Nabi, berbuat serong (hadis al-ifki). Di samping itu, Nabi pernah meminta kepada Jibril agar lebih sering dating mengunjungi Nabi, tetapi Jibril menjawab bahwa kunjungannya harus atas izin Allah. Hal ini dij elaskan dalam hadis berikut: “Imam Bukhari dan Ahmad meriwayatkan dari Ibn Abbas bahwa Rasulullah berkata kepada Jibril: ‘Apa yang menghalangimu untuk berkunjung kepada kami lebih sering dari kunjunganmu selama in?’ Nabi berkata. Lalu turunlah ayat : ‘Dan tidaklah kami (Jibril) turun kecuali dengan perintah Tuhanmu. Kepunyaan-Nya-lah apa-apa yang ada di hadapan kita, apa-apa yang ada di belakangkita, dan apa-apa yang ada di antara keduanya, dan tidaklah Tuhanmu lupa’. “ (QS. Maryam [19]: 64). (Lihat Matn al-Bukhari bi-Hasyiyah as-Sindi, [Bairut: Dar al-Fikr,1995], jilid II, h. 245).

    11. Menurut al-Qur’an, manusia dapat melihat, ditemui, atau bahkan dibantu oleh malaikat, dan itu termasuk karamah. Misalnya seperti dijelaskan dalam al-Qur’an:“(Ingatlah) ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu. Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.’’ (QS. al-Anfal [8]; 9). Mengingat hal tersebut sebagai karamah, tentu sahib al karamah (orang yang mempunyai karamah) diharuskan memenuhi suatu persyaratan, yaitu amal perbuatannya harus sesuai dengan dan berdasarkan Kitab (al-Qur’an) dan sunnah atau menurut Abu Yazid al-Bustami, ia harus memahami dan mengamalkan awamir dan nawahi (perintah dan larangan agama). Dengan memohon taufiq dan hidayah kepada Allah SWT.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s