Qobliyah / Ba’diyah pada Shalat Jum’at.


..

Para ulama sepakat bahwa shalat sunnat yang di lakukan setelah shalat Jum’at adalah sunnah dan termasuk rawatib ba’diyah Jum’at. seperti yang di riwayatkan oleh Imam muslim dan Imam Bukhari. Sedangkan shalat sunnah sebelum shalat Jum’at terdapat dua kemungkinan:

1./ Shalat sunnat mutlaq,

hukumnya sunnat. Waktu pelaksanannya berakhir pada saat imam memulai khutbah.

2./ Shalat sunnat Qobliyah Jum’at.

Para ulama berbeda pendapat seputar masalah ini, yaitu sbb. :

a./ Dianjurkan untuk melaksanakannya. Pendapat ini di kemukakan oleh Imam abu Hanifah, pengikut Imam Syafi’i (menurut pendapat yang dalilnya lebih jelas) dan pendapat Pengikut Imam Ahmad bin Hanbal dalam riwayatnya yang tidak masyhur.

b./ Tidak di anjurkan untuk melaksanakannya.yaitu pendapat imam Malik, pengikut Imam Ahmad bin Hanbal dalam riwayatnya yang masyhur. Dalil yang menyatakan dianjurkannya shalat sunnat qobliyah Jum’at:

1./ Hadist Rasul yang artinya

Semua shalat fardlu itu pasti diikuti oleh shalat sunnat qobliyah dua rakaat 

(HR.Ibnu Hibban yang telah dianggap shahih dari hadist Abdullah Bin Zubair).

Hadist ini secara umum menerangkan adanya shalat sunnat qobliyah tanpa terkecuali shalat Jum’at.

2./ Hadist Rasul yang artinya

” Di antara dua adzan dan iqomat terdapat shalat sunnat,diantara dua adzan dan iqomat terdapat shalat sunnat, di antara dua adzan dan iqomat terdapat shalat sunnat bagi yang ingin melakukannya 

( HR- Imam Muslim rahimahullah).

3./ Perbuatan Nabi yang disaksikan oleh Ali Bin Abi Thalib yang berkata :

Nabi telah melakukan shalat sunnah empat rakaat sebelum dan setelah shalat jumu’at dengan salam di akhir rakaat ke empat

( HR.Thabrani dalam kitab Al-Ausath dari riwayat Imam Ali Bin Abi Thalib ).

  4./ Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yazid telah menceritakan kepada kami Said dia adalah anak dari Abu Ayyub berkata, telah menceritakan kepada saya Ja’far bin Rabi’ah dari ‘Irak bin Malik dari Abu Salamah dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata:

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa mengerjakan shalat ‘Isya’ kemudian shalat malam delapan raka’at dan dua raka’at dengan duduk dan dua raka’at antara dua adzan dan tidaklah Beliau pernah meninggalkannya. .

(HR-Imam Bukhari rahimahullah).

Tetapi dalam dalam kitab yang sama lewat riwayat Abi Hurairah berkata :

Nabi telah melakukan shalat sunnat dua rakaat qobliyah dan ba’diyah Jum’at

.

Dalil yang menerangkan tidak dianjurkannya shalat sunnat qobliyah Jum’at adalah sbb :

Hadist dari Saib Bin Yazid :

” pada awalnya, adzan Jum’at dilakukan pada saat imam berada di atas mimbar yaitu pada masa Nabi, Abu bakar dan Umar, tetapi setelah zaman Ustman dan manusia semakin banyak maka Sahabat Ustman menambah adzan menjadi tiga kali ( memasukkan iqomat ), menurut riwayat Imam Bukhari menambah adzan menjadi dua kali ( tanpa memasukkan iqamat ). ( H.R. riwayat Jama’ah kecuali Imam Muslim ). Dengan hadist di atas Ibnu al-Qoyyim berpendapat “

ketika Nabi keluar dari rumahnya langsung naik mimbar kemudian Bilal mengumandangkan adzan. Setelah adzan selesai Nabi langsung berkhotbah tanpa adanya pemisah antara adzan dan khotbah, lantas kapan mereka itu melaksanakan shalat sunnat qobliyah Jum’at?

Catatan :

Permasalahan ini adalah khilafiyah furu’iyyah.

perbedaan dalam cabang hukum agama

maka tidak boleh fanatik di antara dua pendapat di atas.

Dalam kaidah fiqh mengatakan

la yunkaru al-mukhtalaf fih wa innama yunkaru al- mujma’ alaih.

Seseorang boleh mengikuti salah satu pendapat yang diperselisihkan ulama dan kita tidak boleh mencegahnya untuk melakukan hal itu, kecuali permasalahan yang telah disepakati ulama

Wassalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

By : Dewan pengasuh Pesantren Virtual -Machmudi

.

Tanggapan lainnya  .

JIKA MASUK MASJID SEDANG IMAM TENGAH MEMBERI KHUTBAH JUM’AT

.

Jika seorang muslim masuk masjid sedang imam tengah menyampaikan khutbah Jum’at, maka hendaklah dia tidak duduk sehingga mengerjakan shalat tahiyyatul masjid dua rakaat seraya meringankannya. Yang demikian itu didasarkan pada dalil berikut ini.

Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan :

“ Sulaik Al-Ghathfani pernah datang pada hari Jum’at ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tengah menyampaikan khutbah, lalu dia duduk, maka beliau berkata kepadanya : ‘Wahai Sulaik, berdiri dan kerjakanlah shalat dua raka’at dan bersegera dalam mengerjakannya’. Kemudian beliau bersabda.

“Jika salah seorang diantara kalian datang pada hari Jum’at sedang imam tengah berkhutbah maka hendaklah dia mengerjakan shalat dua raka’at dan hendaklah dia bersegera dalam mengerjakan keduanya ”

Diriwayatkan oleh Asy-Syaikhani

= Lihat /> Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari secara ringkas di beberapa tempat, yang di antaranya adalah di didalam Kitaabul Jumu’ah, bab Idzaa Ra’al Imaam Rajulan Wahuwa Yakhthuhu Amarahu an Yushaliyya Rak’atain no. 930. Dan diriwayatkan oleh Muslim, di dalam Kitaabul Jumu’ah, bab At-Tahiyyaat wal Imaam Yakhthuhu no. 875. Dan lafazh di atas adalah miliknya

Disalin dari kitab Bughyatul Mutathawwi Fii Shalaatit Tathawwu, Edisi Indonesia Meneladani Shalat-Shalat Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Penulis Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul,

Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i 

.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda.

Barangsiapa mandi kemudian dia menghadiri shalat Jum’at, lalu mengerjakan shalat yang telah ditetapkan baginya, selanjutnya dia diam sehingga imam selesai dari khutbahnya dan kemudian dia mengerjakan shalat bersamanya, maka akan diberikan ampunan baginya atas dosa antara satu jum’at itu dengan jum’at yang lain dan ditambah tiga hari

Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Muslim, di dalam Kitaabul Jumu’ah, bab Fadhlu Man Istama’a wa anshata fila Khutbbah (hadits no. 857)

Dan sebuah riwayat dari Abu Dawud

Barangsiapa mandi hari jum’at dan memakai pakaian yang terbaik serta memakai wangi-wangian jika ia memilikinya, kemudian ia menghadiri shalat Jum’at, dan tidak juga melangkahi leher (barisan) orang-orang, lalu dia mengerjakan shalat yang telah ditetapkan baginya, selanjutnya diam jika imam telah keluar (menuju ke mimbar) sampai selesai dari shalatnya, maka ia akan menjadi kaffarah baginya atas apa yang terjadi antara hari itu dengan hari Jum’at sebelumnya

Dia menceritakan, Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

Dan ditambah tiga hari

Dia juga mengatakan

Sesungguhnya (balasan) kebaikan itu sepuluh kali lipatnya

Diriwayatkan oleh Abu Daud di dalam Kitab Kitaabuth Thaharah, bab Fil Ghusl Yaumal Jumu’ah, no. 343.

Dinilai shahih oleh Al-Albani di dalam kitab, Shahih Sunan Abi dawud I/70
.

[ رَبَّنَا هَبْ لَنَ مِنْ أَزْوَاجِـنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةً أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا ]

.

Ghuluw

عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حُنَيْنٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ نَهَانِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ التَّخَتُّمِ بِالذَّهَبِ وَعَنْ لِبَاسِ الْقَسِّيِّ وَعَنْ الْقِرَاءَةِ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ وَعَنْ لِبَاسِ الْمُعَصْفَرِ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdu bin Humaid; Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazaq;

Telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Ibrahim bin ‘Abdullah bin Hunain dari Bapaknya dari ‘Ali bin Abu Thalib

ia berkata;

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarangku memakai cincin emas, pakaian yang dibordir (disulam) dengan sutera, membaca Al Qur’an ketika ruku’ dan sujud, serta pakaian yang di celup warna kuning.

 [ HR – Imam Bukhari rahimahullah}

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s