KRISIS KETELADANAN.


.

Tidak bisa dinafikan bahwa setiap Orang Tua pasti menginginkan anaknya  tumbuh menjadi Pribadi yang baik  dan menarik , NAMUN , Tidak banyak yang menyadari bahwa semua itu seharusnya dimulai dari diri sendiri , mulai konsistensi sikap , komunikasi dengan anak. Bahkan keteladanan Orang Tua , bisa berdampak pada tumbuh kembang anak.

Lalu…..Pentingkah  sebuah keteladanan bagi seorang anak..??.. Dan keteladanan semacam apakah  yang harus diberikan seorang tua kepada anak. Agar mereka tumbuh menjadi pridabdi yang Luhur dan Santun..??..

Urgensi keteladanan.

“ Barangsiapa yang memberikan contoh yang baik dalam Islam , maka baginya pahala atas perbuatan baiknya dan pahala orang yang mengikuti hingga hari kiamat , yang demikian itu tidak menghalangi  pahala orang-orang yang mengikutinya sedikitpun . Dan barang siapa yang memberikan contoh yang buruk dalam Islam , maka baginya dosa atas perbuatannya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat , yang demikian itu tanpa dikurangi sedikitpun dosa orang –orang yang mengikutinya “ H.R. Imam Muslim.

Sesungguhnya Fase Kanak-kanak, merupakan Fase yang  paling cocok , paling panjang , dan paling penting bagi seorang pendidik menanamkan prinsip-prinsip yang lurus , benar dan pengarahan yang baik kedalam jiwa dan prilaku kepada anak-anaknya , kesempatan untuk itu sangat terbuka lebar .

Segala sarana dan prasarana juga mendukung . mengingat pada Fase ini anak-anak masih memiliki Fitrah yang suci , jiwa yang bersih , dan hati yang belum terkontaminasi debu dosa dan kemaksiatan  dari keluarga , dari teman , dari lingkungannya.

Keluarga mempunyai peranan penting dalam pendidikan , baik dalam lingkungan  masyarakat Islam maupun non Islam .

Karena keluarga merupakan tempat pertumbuhan  anak yang pertama , dimana dia  mendapatkan pengaruh dari anggauta-angautanya pada masa yang paling penting dan paling kritis dalam pendidikan anak  , yaitu tahun– tahun pertama dalam kehidupannya  ( usia pra sekolah ). Sebab pada masa tersebut apa  yang  ditanamkan dalam diri anak akan sangat berbekas  , sehingga tak mudah hilang  atau berubah sesudahnya.

Anak merupakan Amanah bagi Orang Tua . Hatinya yang suci merupakan Permata alami yang bersih dari Pahatan dan Bentukan , dia siap diberi Pahatan apapun  dan condong pada Bentuk apa saja yang disodorkan  orang / lingkungan yang akrab kepadanya.

Jika dibiasakan dan diajarkan kebaikan , dia akan tumbuh dalam kebaikan. Dan berbahagialah kedua Orang Tuanya di Dunia dan Akhirat , juga pendidik dan Gurunya.

Tetapi,….. Jika dia membiarkan kejelekan dan dibiarkan Liar sebagaimana Binatang Ternak  . Niscaya dia akan menjadi  Jahat dan Binasa , dan Dosanyapun ditanggung oleh Guru dan Walinya.

Mendidik dan mengajar anak termasuk hal-hal yang asasi dan wajib dilaksanakan setiap Muslim yang Komit kepada Agama yang Hanif ( lurus ) ini. Mendidik dan mengajar anak merupakan perintah dari Allah swt yang Maha  Tinggi lagi Maha Agung.

Allah swt , berfirman : “ Wahai Orang yang beriman , jagalah dirimu dan keluargamua  dari api Neraka yang bahan bakarnya ( terdiri dari ) Manusia dan Batu….”QS. At-Tahrim : 6 -.

Saat ini anak–anak mengalami krisis keteladanan ,  Hal ini terjadi karena  sedikitnya media masa yang  mengangkat  tema tokoh – tokoh teladan  bagi anak –anak.

Tayangan-tayangan di Televisi misalnya , didominasi Acara-acara hiburan  dalam berbagai Variasi  hanya untuk Dewasa , acara sinetron atau Infotainment tidak diharapkan memberikan contoh pada kehidupan Islami secara utuh .

Sementara itu porsi penanaman akhlak mulia melalui contoh pribadi teladan pada pelajaran-pelajaran ke Islaman disekolah juga masih rendah.

Dalam kondisi kritis keteladanan ini , keluarga menjadi basis penting bagi anak untuk menemukan keteladanan . Maka , Orang Tua sudah selayaknya menjadi figur pertama bagi anak untuk memenuhi  kebutuhan ini.

Untuk itu ada kiat – kiat yang bisa dilakukan oleh Orang Tua agar menjadi pribadi teladan dalam proses pembentukan akhlak yang Islami pada anak.

KETELADANAN ORANG TUA.

Memang banyak Tips dan cara untuk m mendidi anak ,  ada yang nyodorkan Metode “ A “, ada juga yang menyarankan dengan Metode “ B “ . Namun dari setiap Maetode yang ada dan yang pernah  dipraktekan , metode keteladanan adalah  Metode yang paling jitu dalam Pendidikan anak-anak dikeluarga ,

MENERAPKAN METODE KETELADANAN.

Pertama – Orang Tua hendaklah memperkenalkan Tokoh-tokoh Teladan dalam Islam , yaitu dengan banyak membaca Buku-buku Sejarah Islam , seperti Sirah Nabawiyah ( Muhammad saw ) Tokoh-tokoh teladan seperti Sejarah perjuangan para Sahabat , Profil Orang-orang Shalih.

Internalisasi bacaan ini akan membentuk Pribadi berakhlak terpuji , sehingga pantas menjadi salah satu panutan bagi anak-anak . Bacaan ini juga sekaligus menjadi pengetahuan untuk diajarkan kepada anak-anak.

Kedua– Menghargai Nasihat dan kebenaran , meskipun dari seorang anak kecil. Pada  masa kejayaan peradaban Islam , banyak kisah tentang kedudukan anak-anak yang dihormati para Pemimpin saat itu.

Akar dari kondisi ini adalah didikan dari Rasulullah saw, terhadap para Sahabat. Ibnu Mas’ud ra. Pernah dinasihati oleh Rasulullah saw : “ Sembahlah Allah (swt) dan jangan kau persekutukan dengan yang lain , berjalanlah Kamu bersama Al-Qur’an dimanapun Kamu berada. Terimalah kebenaran dari siapapun , baik dari anak kecil maupun orang dewasa , meskipun ia adalah orang jauh yang kamu benci.Dan tolaklah kebathilan dari siapapun , baik dari anak kecil maupun dewasa , meskipun itu adalah orang dekat yang kamu cintai “. HR. -.Ibnu Asaakir & Ad-Dailami.-

Ketiga– Mengajak dan mendorong anak untuk membaca kisah-kisah orang teladan , orang tua berperan memilihkan buku yang menarik dan sesuai dengan perkembangan kejiwaan dan pemikiran anak.

Untuk yang telah menginjak usia remaja , orang tua dapat berdiskusi dengan mereka dalam memilih buku bacaan yang menjadi minat mereka.

Keempat- Mengajak anak berkesempatan berdialog dengan anak-anak Shalih. Banyak riwayat menceritakan bahwa para Sahabat mengajak anak-anak mereka untuk berjumpa dengan Nabi Muhammad saw, seperti dalam sebuah Hadits yang berbunyi : “….Wahai nak , sebutlah nama Allah (swt) , lalu makanlah makanan yang dekat denganmu “.–>HR. -.Bukhari.- disampaikan Rasulullah saw pada seorang anak dari Sahabatnya , ketika diajak berkunjung kepada Beliau oleh ayahnya.

Kelima- Pada fase pembinaan pembiasaan ( terutama pada anak usia balita ) orang tua hendaknya termotivasi untuk senantiasa merujuk ke pada perilaku Rasulullah saw, ketika membetulkan sikap atau perilaku yang keliru dari anak.

Keenam- Pada fase Remaja  , orang tua hendaklah mengalokasikan waktu dialog dengan mereka  tentang kondisi IDEAL yang diharapkan ada pada diri mereka. Suasana dialog juga dipilih agar mereka nyaman dalam mencerna  nilai-nilai yang hendak ditanamkan.

Ketujuh- Mengirimkan anak-anak ke Sekolah-sekolah yang memiliki Pendidikan berakhlak mulya serta memiliki Ilmu yang berkualitas , sehingga kepribadian anak-anak terbina dengan baik.

Orangtua sebagai USWATUN HASANAH.

Sebagai Orang tua yang diamanahi Allah swt berupa anak-anak . Jika kita menginginkan anak-anak kita  mencintai Allah swt dan Rasulnya , maka kita sendiri  sebagai orang tua harus mencintai Alah swt dan Rasulnya pula , sehingga kecintaan tersebut terlihat jelas oleh anak-anak.

Akan sulit melahirkan Generasi yang taat pada Syariat , jika kedua orang tuanya sering bermaksiat kepada Allah swt dan lebih mengutamakan sibuk mencari materi , dari memperdalam Aqidah untuk kebutuhan anak-anaknya.

Kita ambil contoh  apa yang terjadi di Palestina , setiap Generasi disana sejak kecil sudah Mujahid dan Syarat untuk menjadi Mujahid adalah harus hafal Al-Qur’an , sehingga Jiwa mereka sudah tidak ada rasa takut dengan kematian.

Para Orang tua yang mendidik dan membesarkan anak-anaknya atas dasar Agama ( Aqidah Islam ) , mereka tidak akan ada rasa takut akan tersesat  atau anak keturunannya akan menjadi Pencundang sehingga mendapat Predikat yang rendah dan hina dihadapan Manusia maupun  dihadapan Allah swt .

Karena mereka para Orang tua sudah sejak dini menanamkan Aqidah dan rasa percaya diri kedalam Jiwanya  , Orang tua pun tidak ada rasa khawatir dan takut jika harus menghadapi kematian terlebih dahulu .

Sayyidul Istighfar

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ.

“Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Engkau, Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hambaMu. Aku akan setia pada perjanjianku pada-Mu (yaitu menjalankan ketaatan dan menjauhi larangan, pen) semampuku dan aku yakin akan janji-Mu (berupa pahala). Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku. Oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.”
HR – Imam Bukhari rahimahullah

Wassalam

[ رَبَّنَا هَبْ لَنَ مِنْ أَزْوَاجِـنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةً أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا ]

Berlebihan

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِى الدِّينِ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِى الدِّينِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Wahai sekalian manusia, jauhilah sikap berlebih-lebihan (ghuluw) dalam beragama. Sesungguhnya yang membinasakan umat-umat sebelum kalian adalah sikap berlebih-lebihan dalam agama”

HR Ibnu Majah rhl>Ibnu Abbas ra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s