Abdullah Ibnu Mubarak – Dalam Sejarah. 1.


Zuhud adalah yakin kepada Allah SWT – disertai cinta terhadap kefakiran.
Dia adalah seseorang yang syahwat dunia dihatinya telah rapuh, dan sungai godaan dihadapannya telah kering. Dia adalah Abdullah ibnu Mubarak bin Wadhih at-Taimi al-Marwaji.

Abu Abdullah, pemimpin orang -orang yang bertaqwa. Ulama Maroko yang paling alim, dan Imamnya kaum Muslimin. Dia adalah seorang Hafizh, Mujahid, juga seorang Pedagang. Dia belajar dari mulai berusia dua puluh tahun. Dia habiskan usianya untuk Haji dan untuk Jihad.

Dia sangat menguasai ilmu Fiqih, Hadits, Bahasa Arab dan Sejarah, hatinya tertarik untuk bermajelis dengan para Faqih, dan dia menceburkan dirinya kedalam lautan ilmu dan taman wara’. Dia memberikan makan kepada orang-orang, tapi dia sendiri perpuasa.

Yahya bin Mu’in , berkata, ” Ibnu Mubarak adalah salah seorang kaum Muslimin.”

Fudhail bin ’Iyadh mendatangi Ibnu Mubarak untuk bertanya: “ bagaimana kedudukannya dihadapan halayak.” Dia menjawab: “ Sebagai Ulama. “ Fudail bertanya. “ Lalu bagaimana kedudukannya didepan raja-raja. ” Dia menjawab “ Sebagai Zahid. ”.

Ibnu Mubarak berkata, ” Hampir saja adab menduduki Dua pertiga agama. ”

Dia orang yang wara’ dan banyak ber infaq kepada orang-orang fakir. Selama setahun dia berinfak Seratus Ribu Dirham dan menutupi hutang orang-orang yang membutuhkan. Dia berkata : ” Menolak satu Dirham yang bersumber dari syubhat itu lebih kusukai, daripada bersedekah Seratus Ribu hingga Sembilan Ratus Ribu Dirham.”

Suatu hari Hasan al Basri’ menemui Ibnu Mubarak, lalu dia mendapati seekor burung merpati terbang disekitar rumah. Lalu Ibnu Mubarak berkata: “ Dahulu kami mendapatkan manfaat dari telur burung Merpati ini, tapi…hari ini kami tidak mengambil manfaat darinya. ”
Hasan al Basri’ bertanya, “ Mengapa..??. “ Ibnu Mubarak , menjawab, “ Dia telah bercampur dengan burung merpati lainnya dan mengawininya. Karena itu, kami tidak suka mengambil keuntungan dari telurnya.

Ibnu Mubarak, pernah meminjam sebuah pena dari seorang temannya di Syam, namun dia lupa mengembaikan kepada pemiliknya. Ketika dia tiba di kota marwa. Maka dia mengamati barang-barangnya, dan ternyata pena tersebut masih bersamanya. Maka, dia segera kembali ke Syam untuk mengembalikan pena tersebut kepada pemiliknya.

Suara Azan berkumandang, dan Ibnu Mubarak berjalan diatas kendaraannya . Lalu dia turun untuk Shalat Zhuhur, dan hewan tunggangannya itu merumput di tanaman sebuah desa milik Sultan. Hewan tersebut memakan tanaman-tanaman yang tumbuh disana.

Sehingga Ibnu Mubarak meninggalkan hewan tersebut karena sifat wara’ dan tidak mau menungganginya lagi.

Harun ar-Rasyid tiba di kota Raqqah. Dan bertepatan dengan kedatangan Abdullah Ibnu Mubarak. Maka, orang-orang bergegas, berlari sehingga sandal-sandal pada putus, suara gemuruh, Kota Raqqah menjadi gegap-gempita, setiap orang keluar rumah, hanya ingin bertemu atau sekedar melihat Ibnu Mubarak.

Seorang istri Amirul-Mukminin, Harun ar-Rasyid, mengamati suasana ramai, dia melihat dari Kastilnya di Istana Kayu. Ketika dia melihat banyak orang sepeti itu, maka dia bertanya:
“ Ada apa itu, “ seseorang menjawab: “ Seorang Ulama dari Khurasan telah tiba di Raqqah. Dia bernama Abdullah bin Mubarak. “

Wanita itu berkata, “ Demi Allah, dia itulah Raja yang sebenar-benarnya, bukan Harun yang tidak sanggup mengumpulkan Manusia, kecuali dengan pasukan dan bala bantuan. “

Abdullah Ibnu Mubarak. Dia memiliki Karomah dan Do’a yang Mustajab.

Suatu hari, Ibnu Mubarak melewati seorang yang buta, lalu orang itu berkata: “ Ya Ibnu Mubarak aku mohon kepadamu, berdo’alah kepada Allah, semoga Dia mengembalikan penglihatanku. “ Lalu Ibnu Mubarak mengangkat kedua tangannya dan berdo’a kepada Allah SWT. Lalu Allah mengembalikan penglihatan orang itu.

Ibnu Mubarak mencintai khalwat dan bergadang untuk merenungi riwayat kehidupan Nabi saw, dan para Sahabatnya. Seseorang datang menghampiri dan bertanya kepadanya: “ Tidakkah engkau merasa kesepian..??.” Ibnu Mubarak ,menjawab: “ Bagaimana mungkin aku merasa kesepian sementara aku bersama Nabi saw, dan para Sahabat beliau r.a..?.”

Abdullah bin Mubarak wafat di Het, sebuah kota kecil di tepi sungai Efrat,
Beliau wafat sepulang berperang pada tanggal 3 Ramadhan tahun 181 H / 797 M dalam usia 63 tahun.

Ketika mendengar kematian ibnu Mubarak. Harun ar-Rasyid berkata:

Junjungan para Ulama telah meninggal

Wassalam

[ رَبَّنَا هَبْ لَنَ مِنْ أَزْوَاجِـنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةً أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا ]

One thought on “Abdullah Ibnu Mubarak – Dalam Sejarah. 1.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s