IMAM ASY-SYAFI’I -Tingkatan Rujukan yang Berjenjang.


.

Tingkatan Rujukan Imam as-Syafi’i Rahimahullah Secara Berurutan Dalam Ijtihad

Siapa yang tak kenal Imam Muhammad ibn Idris asy-Syafi’i rahimahullah? Beliau adalah seorang ‘aalim, mujtahid muthlaq, pakar ushul fiqih, hadits, tafsir dan bahasa.

Beliau juga merupakan pendiri salah satu madzhab fiqih terbesar saat ini, yaitu madzhab Syafi’i. ‘Ulama pun sepakat mendudukkan beliau sebagai mujaddid abad ke-2 hijriyah.

Kali ini saya akan menyampaikan sebagian metode beliau dalam melakukan ijtihad. Referensi saya adalah kitab Tafsir al-Imam asy-Syafi’i karya Dr. Ahmad ibn Mushthafa al-Farran.

Salah satu rujukan yang digunakan oleh Dr. Ahmad ibn Mushthafa al-Farran adalah kitab asy-Syafi’i Hayatuhu wa ‘Ashruhu karya Syaikh Muhammad Abu Zahrah, selain rujukan-rujukan yang lain tentunya.

Beberapa hal yang perlu kita renungi

Imam asy-Syafi’i rahimahullah membagi ‘ilm menjadi dua, yaitu ‘ilm ‘aammah dan ‘ilm khaashshah.

‘Ilm ‘aammah merupakan ilmu yang wajib diketahui oleh setiap muslim yang mukallaf, seperti kewajiban shalat lima waktu dan puasa Ramadhan serta keharaman zina dan meminum khamr.

‘Ilm khaashshah ini merupakan kajian para fuqaha’ dan mujtahid, hukumnya fardhu kifayah untuk dipelajari.

Dalam proses ijtihad, Imam asy-Syafi’i menggunakan beberapa tingkatan rujukan yang digunakan secara berurutan.

Maksudnya, beliau akan menggunakan tingkatan pertama terlebih dulu, jika tidak ada baru beliau menggunakan tingkatan kedua, demikian seterusnya.

Berikut tingkatan rujukan yang digunakan oleh Imam asy-Syafi’i:

1. Merujuk kepada al-Kitab dan as-Sunnah ash-Shahihah.

Imam asy-Syafi’i meletakkan al-Kitab dan as-Sunnah ash-Shahihah dalam satu tingkatan, karena as-Sunnah berfungsi untuk menjelaskan isi al-Kitab dan memperincinya.

Dan mencukupkan diri dengan al-Qur’an jika tidak ada tambahan penjelasan dari as-Sunnah ash-Shahihah.

2. Merujuk kepada Ijma’ ‘Ulama jika tidak terdapat dalam al-Kitab dan as-Sunnah ash-Shahihah.

Ijma’ ‘Ulama yang dimaksud adalah ijma’ ‘ulama yang memiliki ‘ilm khaashshah ( faqih dan mujtahid ).

Dan ijma’ ini haruslah tidak berdasarkan ra’y ( pendapat ‘aqli, tanpa nash yang jelas ), karena jika berdasarkan ra’y tentulah ‘ulama akan berselisih dan tidak akan bersepakat ( ber-ijma’ ).

3. Perkataan sebagian shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan ra’y, tanpa diketahui ada satu orang shahabat pun yang menyelisihinya.

Menurut Imam asy-Syafi’i, ra’y shahabat lebih baik dari ra’y selain mereka, termasuk ra’y beliau sendiri.

Dengan syarat, periwayatan ra’y shahabat tersebut aman dari berbagai kekeliruan.

4. Perselisihan pendapat shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu perkara.

Yang dipilih adalah yang paling mendekati al-Kitab dan as-Sunnah ash-Shahihah atau yang dikuatkan oleh qiyas.

5. Melakukan qiyas pada satu perkara yang telah diketahui hukumnya berdasarkan empat tingkatan sebelumnya.

Yaitu qiyas terhadap perkara yang sudah ada nash-nya dalam al-Kitab dan atau as-Sunnah ash-Shahihah, atau diketahui hukumnya berdasarkan ijma’, atau qiyas terhadap perkara yang diketahui hukumnya berdasarkan perkataan sebagian shahabat tanpa ada yang menyelisihinya dan yang terdapat perselisihan di antara mereka.

Blog Abu Furqan

oooooooooooooooo

Mazhab-Mazhab Fiqih dan Pengertiannya.


 

.

Istilah madzhab merupakan sighat isim makan dari fi’il madli yaitu Dzahaba. Dzahaba artinya pergi; oleh karena itu mazhab artinya: tempat pergi atau jalan. Kata-kata yang semakna ialah: maslak, thariiqah dan sabiil, yang kesemuanya berarti jalan atau cara. Demikian pengertian mazhab menurut bahasa.

Pengertian madzhab menurut istilah dalam kalangan umat Islam ialah, “Sejumlah dari fatwa-fatwa dan pendapat-pendapat seorang alim besar di dalam urusan agama, baik ibadah maupun lainnya.”

Setiap mazhab punya guru dan tokoh-tokoh yang mengembangkannya. Biasanya mereka punya lembaga pendididikan yang mengajarkan ilmu-ilmu kepada ribuan muridnya.

Berkembangnya suatu madzhab di sebuah wilayah sangat bergantung dari banyak hal. Salah satunya dari keberadaan pusat-pusat pengajaran madzhab itu sendiri.

Selain itu sedikit banyak dipengaruhi juga oleh madzhab yang dianut oleh penguasa, di mana penguasa biasanya mendirikan universitas keagamaan dan mengajarkan mazhab tertentu di dalamnya.

Nanti para mahasiswa yang berdatangan dari berbagai penjuru dunia akan membuka perguruan tinggi dan akan menyebarkan madzhab tersebut di negeri masing-masing.

Bila pengelilaan perguruan itu berjalan baik dan berhasil, biasanya akan mempengaruhi ragam madzhab penduduk suatu negeri.

Di Mesir misalnya, madzhab As-Syafi’i di sana berhasil mengajarkan dan mendirikan perguruan tinggi, lalu punya banyak murid di antaranya dari Indonesia.

Maka di kemudian hari, madzhab As-Syafi’i pun berkembang banyak di Indonesia.

.

Sekilas tentang 4 Mazhab

.

1. Mazhab Hanafi

Pendiri madzhab Hanafi ialah: Nu’man bin Tsabit bin Zautha.

Dilahirkan pada masa sahabat, yaitu pada tahun 80 H = 699 M.

Beliau wafat pada tahun 150 H bertepatan dengan lahirnya Imam Syafi’i R.A. Beliau lebih dikenal dengan sebutan: Abu Hanifah An Nu’man.

Abu Hanifah adalah seorang mujtahid yang ahli ibadah. Dalam bidang fiqh beliau belajar kepada Hammad bin Abu Sulaiman pada awal abad kedua hijriah dan banyak belajar pada ulama-ulama Ttabi’in, seperti Atha bin Abi Rabah dan Nafi’ Maula Ibnu Umar.

Madzhab Hanafi adalah sebagai nisbah dari nama imamnya, Abu Hanifah.

Jadi madzhab Hanafi adalah nama dari kumpulan-kumpulan pendapat-pendapat yang berasal dari Imam Abu Hanifah dan murid-muridnya serta pendapat-pendapat yang berasal dari para pengganti mereka sebagai perincian dan perluasan pemikiran yang telah digariskan oleh mereka yang kesemuanya adalah hasil dari pada cara dan metode ijtihad ulama-ulama Irak ( Ahlu Ra’yi ).

Maka disebut juga mazhab Ahlur Ra’yi masa Tsabi’it Tabi’in.

Dasar-dasar Mazhab Hanafi

Abu Hanifah dalam menetapkan hukum fiqh terdiri dari tujuh pokok, yaitu:

Al-Kitab, As Sunnah, Perkataan para Sahabat, Al-Qiyas, Al-Istihsan, Ijma’ dan Uruf.

Murid-murid Abu Hanifah adalah sebagai berikut:

a. Abu Yusuf bin Ibrahim Al-Anshari (113-183 H)
b. Zufar bin Hujail bin Qais al-Kufi (110-158 H)
c. Muhammad bin Hasn bin Farqad as Syaibani (132-189 H)
d. Hasan bin Ziyad Al-Lu’lu Al-Kufi Maulana Al-Anshari (….-204 H).

Daerah-daerah Penganut Mazhab Hanafi

Madzhab Hanafi mulai tumbuh di Kufah (Irak), kemudian tersebar ke negara-negara Islam bagian Timur. Dan sekarang ini mazhab Hanafi merupakan mazhab resmi di Mesir, Turki, Syiria dan Libanon.

Dan madzhab ini dianut sebagian besar penduduk Afganistan, Pakistan, Turkistan, Muslimin India dan Tiongkok.

2. Mazhab Maliki

Madzhab Maliki adalah merupakan kumpulan pendapat-pendapat yang berasal dari Imam Malik dan para penerusnya di masa sesudah beliau meninggal dunia.

Nama lengkap dari pendiri madzhab ini ialah: Malik bin Anas bin Abu Amir. Lahir pada tahun 93 M = 712 M di Madinah.

Selanjutnya dalam kalangan umat Islam beliau lebih dikenal dengan sebutan Imam Malik. Imam Malik terkenal dengan imam dalam bidang hadits Rasulullah SAW.

Imam Malik belajar pada ulama-ulama Madinah.

Yang menjadi guru pertamanya ialah Abdur Rahman bin Hurmuz. Beliau juga belajar kepada Nafi’ Maula Ibnu Umar dan Ibnu Syihab Az Zuhri.

Adapun yang menjadi gurunya dalam bidang fiqh ialah Rabi’ah bin Abdur Rahman.

Imam Malik adalah imam ( tokoh ) negeri Hijaz, bahkan tokohnya semua bidang fiqh dan hadits.

Dasar-dasar Mazhab Maliki

Dasar-dasar madzhab Maliki diperinci dan diperjelas sampai tujuh belas pokok ( dasar ) yaitu:

  • Nashshul Kitab
  • Dzaahirul Kitab ( umum )
  • Dalilul Kitab ( mafhum mukhalafah )
  • Mafhum muwafaqah
  • Tanbihul Kitab, terhadap illat
  • Nash-nash Sunnah
  • Dzahirus Sunnah
  • Dalilus Sunnah
  • Mafhum Sunnah
  • Tanbihus Sunnah
  • Ijma’
  • Qiyas
  • Amalu Ahlil Madinah
  • Qaul Shahabi
  • Istihsan
  • Muraa’atul Khilaaf
  • Saddud Dzaraa’i.

Sahabat-sahabat Imam Maliki dan Pengembangan Mazhabnya

Di antara ulama-ulama Mesir yang berkunjung ke Madinah dan belajar pada Imam Malik ialah:

  1. Abu Muhammad Abdullah bin Wahab bin Muslim.
  2. Abu Abdillah Abdur Rahman bin Qasim al-Utaqy.
  3. Asyhab bin Abdul Aziz al-Qaisi.
  4. Abu Muhammad Abdullah bin Abdul Hakam.
  5. Asbagh bin Farj al-Umawi.
  6. Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam.
  7. Muhammad bin Ibrahim bin Ziyad al-Iskandari.

Adapun ulama-ulama yang mengembangkan madzhab Maliki di Afrika dan Andalus ialah:

  1. Abu Abdillah Ziyad bin Abdur Rahman al-Qurthubi.
  2. Isa bin Dinar al-Andalusi.
  3. Yahya bin Yahya bin Katsir Al-Laitsi.
  4. Abdul Malik bin Habib bin Sulaiman As Sulami.
  5. Abdul Hasan Ali bin Ziyad At Tunisi.
  6. Asad bin Furat.
  7. Abdus Salam bin Said At Tanukhi.

Sedang Fuqaha-fuqaha Malikiyah yang terkenal sesudah generasi tersebut di atas adalah sebagai berikut:

  1. Abdul Walid al-Baji
  2. Abdul Hasan Al-Lakhami
  3. Ibnu Rusyd Al-Kabir
  4. Ibnu Rusyd Al-Hafiz
  5. Ibnu ‘Arabi
  6. Ibnul Qasim bin Jizzi

Daerah-daerah yang Menganut Mazhab Maliki.

Awal mulanya tersebar di daerah Madinah, kemudian tersebar sampai saat ini di Marokko, Aljazair, Tunisi, Libia, Bahrain, dan Kuwait.

3.Mazhab Syafi’i.

Mazhab ini dibangun oleh Al-Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi’i

seorang keturunan Hasyim bin Abdul Muthalib bin Abdi Manaf.

Beliau lahir di Gaza ( Palestina ) tahun 150 H bersamaan dengan tahun wafatnya Imam Abu Hanifah yang menjadi Madzhab yang pertama.

Guru Imam Syafi’i yang pertama ialah Muslim bin Khalid, seorang Mufti di Mekah.

Imam Syafi’i sanggup hafal Al-Qur-an pada usia tujuh tahun.

Setelah beliau hafal Al-Qur-an barulah mempelajari bahasa dan syi’ir.

kemudian beliau mempelajari hadits dan fiqh.

Mazhab Syafi’i terdiri dari dua macam;

Berdasarkan atas masa dan tempat beliau mukim. Yang pertama ialah QAUL QADIM

Yaitu madzhab yang dibentuk sewaktu hidup di Irak.

Dan yang kedua ialah QAUL JADID yaitu madzhab yang dibentuk sewaktu beliau hidup di Mesir pindah dari Irak.

Keistimewaan Imam Syafi’i dibanding dengan Imam Mujtahidin yaitu bahwa beliau merupakan peletak batu pertama ilmu Ushul Fiqh dengan kitabnya Ar Risaalah.

Dan kitabnya dalam bidang fiqh yang menjadi induk dari mazhabnya ialah: Al-Um.

Dasar-dasar Mazhab Syafi’i

Dasar-dasar atau sumber hukum yang dipakai Imam Syafi’i dalam mengistinbat hukum sysra’ adalah:

  1. Al-Kitab.
  2. Sunnah Mutawatirah.
  3. Al-Ijma’.
  4. Khabar Ahad.
  5. Al-Qiyas.
  6. Al-Istishab.

Sahabat-sahabat beliau yang berasal dari Irak antara lain:

  1. Abu Tsaur Ibrahim bin Khalid bin Yaman al-Kalabi al-Bagdadi.
  2. Ahmad bin Hanbal yang menjadi Imam Mazhab keeempat.
  3. Hasan bin Muhammad bin Shabah Az Za’farani al-Bagdadi.
  4. Abu Ali Al-Husain bin Ali Al-Karabisi.
  5. Ahmad bin Yahya bin Abdul Aziz al-Bagdadi.

Adapun sahabat beliau dari Mesir:

  1. Yusuf bin Yahya al-Buwaithi al-Misri.
  2. Abu Ibrahim Ismail bin Yahya al-Muzani al-Misri.
  3. Rabi’ bin Abdul Jabbar al-Muradi.
  4. Harmalah bin Tahya bin Abdullah Attayibi
  5. Yunus bin Abdul A’la Asshodafi al-Misri.
  6. Abu Bakar Muhammad bin Ahmad.

Daerah-daerah yang Menganut Mazhab Syafi’i

Mazhab Syafi’i sampai sekarang dianut oleh umat Islam di: Libia, Mesir, Indonesia, Pilipina, Malaysia, Somalia, Arabia Selatan, Palestina, Yordania, Libanon, Siria, Irak, Hijaz, Pakistan, India, Jazirah Indo China, Sunni-Rusia dan Yaman.

4. Madzhab Hambali.

Pendiri Madzhab Hambali ialah: Al-Imam Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal bin Hilal Azzdahili Assyaibani.

Beliau lahir di Bagdad pada tahun 164 H. dan wafat tahun 241 H.

Ahmad bin Hanbal adalah seorang imam yang banyak berkunjung ke berbagai negara untuk mencari ilmu pengetahuan, antara lain: Siria, Hijaz, Yaman, Kufah dan Basrsh. Dan beliau dapat menghimpun sejumlah 40.000 hadits dalam kitab Musnadnya.

Dasar-dasar Madzhabnya.

Adapun dasar-dasar mazhabnya dalam mengistinbatkan hukum adalah:

  1. Nash Al-Qur-an atau nash hadits.
  2. Fatwa sebagian Sahabat.
  3. Pendapat sebagian Sahabat.
  4. Hadits Mursal atau Hadits Dha’if.
  5. Qiyas.

Dalam menjelaskan dasar-dasar fatwa Ahmad bin Hanbal ini di dalam kitabnya I’laamul Muwaaqi’in.

Pengembang-pengembang Madzhabnya

Adapun ulama-ulama yang mengembangkan madzhab Ahmad bin Hanbal adalah sebagai berikut:

  1. Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Hani yang terkenal dengan nama Al-Atsram –  dia telah mengarang Assunan Fil Fiqhi ‘Alaa Mazhabi Ahamd.
  2. Ahmad bin Muhammad bin Hajjaj al-Marwazi yang mengarang kitab As Sunan Bisyawaahidil Hadis.
  3. Ishaq bin Ibrahim yang terkenal dengan nama Ibnu Ruhawaih al-Marwazi dan termasuk ashab Ahmad terbesar yang mengarang kitab As Sunan Fil Fiqhi.

Ada beberapa ulama yang mengikuti jejak langkah Imam Ahmad yang menyebarkan madzhab Hambali, di antaranya:

  1. Muwaquddin Ibnu Qudaamah al-Maqdisi yang mengarang kitab Al-Mughni.
  2. Syamsuddin Ibnu Qudaamah al-Maqdisi pengarang Assyarhul Kabiir.
  3. Syaikhul Islam Taqiuddin Ahmad Ibnu Taimiyah pengarang kitab terkenal Al-Fataawa.
  4. Ibnul Qaiyim al-Jauziyah pengarang kitab I’laamul Muwaaqi’in dan Atturuqul Hukmiyyah fis Siyaasatis Syar’iyyah.Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qaiyim adalah dua tokoh yang membela dan mengembangkan mazhab Hambali.

Daerah yang Menganut Madzhab Hambali.

Awal perkembangannya, madzhab Hambali berkembang di Bagdad, Irak dan Mesir dalam waktu yang sangat lama.

Pada abad XII madzhab Hambali berkembang terutama pada masa pemerintahan Raja Abdul Aziz As Su’udi. ( saat ini menganut Faham Abu Hanifah …pen ).

Dan masa sekarang ini menjadi madzhab resmi pemerintahan Saudi Arabia dan mempunyai penganut terbesar di seluruh Jazirah Arab, Palestina, Siria dan Irak.

Demikian sekilas sejarah dan penjelasan dari keempat madzhab yang terkenal.

.


Ahmad Sarwat, Lc 

 

Qaul Qadim – Qaul Jadid / Air Musta’mal dan Bangkai.



Assalamu’alaikum Wr Wb

Ustadz yth, apa yang sebenarnya dimaksud dengan qaul qadim dan qaul jadid Imam Syafii. Apakah hal tersebut merupakan sekumpulan pendapat Imam Syafii mengenai BERBAGAI hal, ataukah hanya pendapat mengenai SATU hal saja?

Di negeri manakah kedua pendapat Imam Syafii tersebut dirumuskan. Dan Bisakah diberikan beberapa contohnya? Juga apa alasan yang melatarbelakangi perbedaan 2 pendapat tersebut.

Jazakallah, Wassalam Wr Wb

jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, artinya secara bahasa adalah bentukan dari 2 kata. Qaul artinya perkataan, pendapat atau pandangan. Sedangkan qadim artinya adalah masa sebelumnya atua masa lalu. Jadi makna istilah qaul qadim adalah pandangan fiqih Al-Imam Asy-Syafi’i versi masa lalu.

Qaul qadim

Ke balikan dari istilah itu adalah qaul jadid. Jadid artinya baru. Maka qaul jadid adalah pandangan fiqih Al-Imam Asy-syafi’i menurut versi yang terbaru.

Qaul qadim dan qaul jadid adalah sekumpulan fatwa, bukan satu atau dua fatwa. Memang seharusnya digunakan istilah aqwal yang bermakna jama’, namun entah mengapa istilah itu terlanjur melekat, sehingga sudah menjadi lazim untuk disebut dengan istilah qaul qadim dan qaul jadid saja.

Sejarah Terbentuknya Mazhab Asy-Syafi’i

Asy-Syafi’i pernah tinggal di Iraq dan berguru kepada murid Imam Abu Hanifah. Sebelumnya beliau juga pernah berguru langsung kepada Imam Malik di Madinah.

Kita tahu pada masa itu baru berkembang 2 kutub fiqih, yaitu kutub Baghdad dengan Abu Hanifah sebagai maha guru, dan kutub Hijaz dengan imam Malik sebagai maha guru.

Masing-masing punya keistimewaan. Abu Hanifah telah berhasil memecahkan sistem istimbath hukum dengan kondisi minimnya hadits shahih dan berserakannya hadits dhaif dan palsu. Kondisi yang demikian telah memaksa beliau melakukan ijtihad dan pengembangan logika hukum dengan tetap berlandaskan kepada hadits-hadits shahih, meski jumlahnya sangat minim di negerinya.

Di belahan bumi yang lain, ada Imam Malik yang tinggal di Madinah dan menjadi imam masjid sekaligus menjadi mufti. Madinah adalah kota sucinabi Muhammad SAW dan para shahabat rahiyallahu anhum ajmain. Saat itu, 100 tahunan sepeninggal generasi Rasulullah SAW dan para shahabat, di Madinah masih tersisa banyak anak cucu dan keturunan generasi terbaik.

Nyaris tidak ada yang berubah dari pola kehidupan di zaman nabi. Bahkan Imam Malik berkeyakinan bahwa setiap perbuatan dan tindakan penduduk Madinah saat itu boleh dijadikan sebagai landasan hukum. Lantaran beliau yakin bahwa mustahil generasi keturuan nabi dan para shahabat memalsukan hadits atau berbohong tentang nabi.

Maka salah satu ciri khas mazhab Malik adalah kekuatan mereka menggunakan dalil, meski kalau disandingkan dengan syarat ketat versi Al-Bukhari nantinya, hadits itu dianggap kurang kuat. Dan Imam Malik nyaris menghindari logika fiqih semacam qiyas dan sejenisnya, karena memang nyaris kurang diperlukan. Sebab kondisi sosial ekonomi di Madinah di zamannya masih mirip sekali dengan zaman nabi SAW.

Berbeda dengan kondisi sosial ekonomi di Iraq, tempat di mana Al-Imam Abu Hanifah mendirikan pusat ilmu. Selain hadits palsu banyak berseliweran, Iraq sudah menjadi kosmopolitan dengan sekian banyak dinamika yang melebihi zamannya. Banyak fenomena yang tidak ada jawabannya kalau hanya merujuk kepada nash-nash hadits saja.Maka wajar bila Abu Hanifah mengembangkan pola qiyas secara lebih luas.

Lalu di manakah posisi Al-Imam Asy-Syafi’i?

Beliau adalah murid paling pandai yang berguru kepada Al-Imam Malik ketika beliau tinggal di Madinah. Namunbeliau ke Iraq, beliau juga belajar kepada murid-murid Imam Abu Hanifah. Maka mazhab fiqih yang beliau kembangkan di Iraq adalah perpaduan antara dua kekuatan tersebut. Semua keistimewaan mazhab Malik di Madinah dipadukan dengan keunikan mazhab Hanafiyah di Iraq. Dan hasilnya adalah sebuah mazhab canggih, yaitu mazhab Al-Imam Asy-Syafi’i.

Sayangnya banyak orang yang tidak tahu sejarah seperti ini, sehingga tidak sedikit yang memandang mazhab Asy-Syafi’i dengan pandangan minor dan kurang respek. Padahal, logika sederhananya, dengan menggunakan mazhab Asy-Syafi’i, boleh dibilang bahwa setiap orang sudah otomatis menggunakan mazhab Abu Hanifah dan Malik sekaligus. Meski tidak secara pas boleh dikatakan demikian.

Munculnya Qaul Jadid

Al-Imam Asy-syafi’i adalah seorang ilmuwan tulen. Dirinya tidak akan puas dengan satu ilmu. Adalah merupakan kebiasaan beliau untuk melakukan perjalanan dari barat hingga timur, dari utara hingga selatan. Seluruh hidupnya dicurahkan untuk menuntut ilmu.

Makasetelah tinggal di Iraqbeberapa lama, Al-Imam As-syafi’i kemudian pindah ke Mesir. Di negeri yang pertama kali dibebaskan oleh Amr bin Al-Ash itu, beliau menemukanbanyak hal baru yang belum pernah ditemukannya selama ini. Baik tambahan jumlah hadits atau pun logika fiqih.

Maka saat di Mesir itu, beliau melakukan revisi ulang atas pendapat-pendapatnya selama di Iraq. Revisinya begitu banyak sesuai dengan perkembangan terakhir ilmu dan informasi yang beliau dapatkan di Mesir, sehingga terkumpul menjadi semacam kumpulan fatwa baru. Kemudian orang-orang menyebutnya dengan istilah qaul jadid. Artinya, pendapat yang baru. Sedangkan yang di Iraq disebut dengan qaul qadim. Artinya, pendapat yang lama.

Contoh Perbedaan/ Revisi

Di antara beberapa contoh perbedaan atau hasil revisi ulang pendapat beliau adalah:

1. Air Musta’mal

Selama di Iraq, Asy-syafi’i berpandangan bahwa air yang menetes dari sisa air wudhu’ seseorang hukumnya suci dan mensucikan. Sehingga boleh digunakan untuk berwudhu’ lagi. Atau seandainya tetesan bekas wudhu’ itu jatuh ke dalam bejana yang kurang dari 2 qullah, maka tidak merusak apapun.

Namun saat beliau di Mesir, beliau menemukan bahwa dalil-dalil pendapatnya itu kurang kuat untuk dijadikan landasan. Sementara beliau menemukan dalil yang sangat beliau yakini lebih kuat dari dalil pendapat sebelumnya, bahwa Rasulullah SAW dan para shahabat tidak berwudhu’ dengan air bekas wudhu’. Sehingga pendapat beliau dalam qaul jadid adalah sisa air wudhu’ itu air musta’mal yang hukumnya suci (bukan air najis) namun tidak sah kalau dipakai berwudhu’ (tidak mensucikan).

2. Pensucian Kulit Bangkai

Hewan yang mati menjadi bangkai, maka hukum bangkai itu najis. Namun kulitnya akan menjadi suci bila dilakukan penyamakan (dibagh).

Sebelumnya Imam Asy-Syafi’i di Iraq mengikuti pendapat Imam Malik bahwa yang suci hanyalah kulit bagian luar saja. Sedangka kulit bagian dalam tetap tidak suci. Maka boleh kita shalat di atas kulit asalkan bagian dalam kulit berada di posisi bawah. Sedangkan bila posisi bagian dalam kulit atas di atas tempat kita shalat, hukumnya tidak sah, karena dianggap najis.

Ketika beliau hijrah ke Mesir, beliau mengoreksi pendapatnya menjadi suci kedua-duanya. Bagian dalam kulit dan bagian luar, keduanya sama-sama suci setelah dilakukan penyamakan.

Tentunya masih sangat banyak contoh-contoh perbadaan qaul qadim dan jadid, untuk lebih dalamnya kami persilahkan anda membaca saja kitab yang secara khusus ditulis tentang masalah ini. Hebatnya, kitab ini ditulis oleh ulama betawi yang tinggal 40-an tahun di Mesir dan Saudi. Beliau adalah Al-Ustadz Dr. Nahrawi Abdussalam Al-Indunisy, MA. Karya beliau yang kami maksudadalah kitab: Al-Imam Asy-syafi’i Bainal Mazhabaihil Qadim wal Jadid. (Imam Syafi’i: antara mazhab lama dan baru).

Lumayan tebal untuk ukuran kita, sekitar 750-an halaman. Tetapi termasuk tipis untuk ukuran kitab berbahasa arab. Sayangnya, beliau belum sempat menerjemahkan dan menerbitkannya dalam bahasa Indonesia. Yang kami miliki sebagai hadiah pribadi dari beliau adalah dalam versi bahasa arab aslinya.

Semoga Allah SWT melimpahkan pahala besar kepada Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah dan kepada almarhum Ustadz Nahrawi Abdussalam atas jasa-jasa mereka dalam mengembangkan ilmu syariah. Amien.

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc