Antara Ahmadiah – AlBani dan Hizbut Tahrir.


Beragamnya tanggapan tentang Ahmadiyah membuktikan bahwa sebagian kaum muslimin masih ada yang belum paham tentang aqidah islamiyah. Padahal pemahaman terhadap masalah ini sangat penting dan mendasar.

Orang yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat tidak boleh salah dalam mamahami masalah satu ini. Sebab jika keliru, bisa menyebabkannya kufur dari agama Allah.

Aqidah islamiyah adalah  keyakinan yang dipegang teguh oleh Rasulullah dan para sahabat serta menjadi ijmak ( kesepakatan ) para ulama.

Secara bahasa aqidah diambil dari kata dasar “ Al Aqdu ” yang berarti ikatan. Secara istilahi ia artinya keimanan yang kokoh dan ketetapan yang pasti yang tidak mengandung suatu keraguan sedikit pun.

Orang yang hatinya sudah terpaku dengan aqidah, akan menjadikannya sebagai mazhab dan agama. Jika keimanan yang kokoh dan ketetapan yang pasti itu benar, otomatis aqidahnya juga benar.

Sebaliknya, jika keimanannya batil maka agidahnya menjadi batil.

Contoh masalah aqidah diantaranya tentang keyakinan nabi terakhir. Berita dari Rasulullah dan keyakinan para sahabat dan pemahaman para ulama, tegas menyatakan bahwa nabi terakhir adalah Nabi Muhammad.

Contoh lain yaitu keyakinan tentang alQur an.

Ajaran yang benar seperti yang diberitakan Rasulullah dan dipahami oleh para sahabat, ulama salaf dan yang mengikutinya, bahwa al-Qur’an itu kalamullah dan  bukan makhluk.

Demikian pula keyakinan tentang hadits nabi.

Sejak jaman Nabi Muhammad, para sahabat dan ulama setelannya, meyakini bahwa hadits adalah sumber hukum kedua setelah al-Qur’an.

Mereka juga meyakini bahwa hadits adalah wahyu Allah yang bersifat maknawi dan lafadnya dari Rasulullah.

Sedang AlQur’an, makna dan lafadnya dari Allah.

Yang juga termasuk aqidah yaitu tentang keyakinan orang islam yang masuk neraka.

Ajaran yang benar dari Rasulullah, seorang muslim yang telah melakukan dosa besar akan masuk neraka, tapi tidak kekal di dalamnya selama dalam hatinya ada iman.

Itulah beberapa contoh masalah aqidah dan masih banyak lagi lainnya, dimana setiap muslim tidak boleh menyelisihinya.

Orang yang  sengaja menyelisihi aqidah Rasulullah dan para sahabat berarti terjerumus dalam kesesatan.

Dalam masalah yang satu ini tidak boleh ada perbedaan diantara umat Islam.

Islam dengan tegas melarang perbedaan dalam hal pokok ( ushul ), yaitu menyangkut masalah aqidah pada umumnya, pemahaman masalah hukum-hukum Islam yang telah jelas dan menjadi kesepakatan para ulama ( jumhur ulama ).

Karena itulah orang yang menyelisihi masalah ini dihukumi sesat sebagaimana yang terjadi pada Ahamadiyah, Ingkarsunnah dan lain-lainnya.

Adapun berkaitan dengan masalah furuiyah ( cabang ) dibolehkan berbeda pendapat.

Sebab masalah ini tidak menyalahi al-Qur’an dan Sunnah serta pemahaman para sahabat.

Beberapa contoh berkaitan dengan masalah furuiyah antara lain tentang adzan sekali atau dua kali dalam shalat jum’at.

Kemudian qunut Shubuh, angkat tangan atau tidak angkat tangan dalam berdo’a, mengucapkan bismillah dengan keras atau pelan saat membaca surat al-fatihah dalam shalat dan tentang jumlah rakaat dalam shalat tarawih dan lain-lainnya.

Berkaitan dengan hal ini, tidak dibenarkan mengklaim bahwa salah satunya yang benar dan lainnya salah.

Apalagi sampai menyesatkan.Kita hanya boleh mengatakan bahwa pendapat yang satu lebih rajin (kuat) dibanding pendapat lainnya.

Persoalan furuiyah ini merupakan masalah ijtihadiyah di kalangan para ulama ( sahabat, tabiin dan tabiut tabiin ) yang semuanya berdasar pada al-Qur’an dan Sunnah.

Perbedaan mereka hanya berkisar pada masalah-masalah fiqiyah yang rumit-rumit. Sedang masalah aqidah mereka tidak berbeda.

Deteksi Dini Aliran Sesat Rasulullah bersabda “ Akan keluar suatu kaum diakhir jaman, orang-orang muda berfaham jelek. Mereka banyak mengucapkan perkataan”Khairil Bariyah” (maksudnya: mengucapkan firman-firman Tuhan yang dibawa oleh Nabi). Iman mereka tidak melampaui kerongkongan  mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana meluncurnya anak panah dari busurnya. Kalau orang-orang ini berjumpa denganmu lawanlah mereka. ” ( HR.Bukhari ).

Persoalan aqidah dan furuiyah ini sebenarnya sudah dijelaskan oleh para ulama.

Namun sayang, masih banyak umat islam yang belum memahami dengan baik.

Padahal kesalahan pemahaman terhadap masalah memiliki konsekwensi yang berbeda, sebagaiman dijelaskan diatas.

Dari kedua hal itu yang harus menjadi perhatian utama adalah masalah aqidah.

Jangan sampai kita yang sudah masuk islam memiliki aqidah yang salah dan keliru.

Kekeliruan dalam masalah ini bisa menyebabkan kita sesat jalan.

Jauh sebelumnya Rasulullah telah mengisyaratkan akan munculnya kelompok atau orang yang menyelisihi aqidah yang benar.

Rasulullah bersabda, “Akankeluar suatu kaum akhir jaman, orang-orang muda berfaham jelek. Mereka banyak mengucapkan perkataan “Khairil Bariyah”(maksudnya: mengucapkan firman-firman Tuhan yang dibawa oleh Nabi). Iman mereka tidak melampaui kerongkongan mereka. mereka keluar dari agama sebagaimana meluncurnya anak panah dari busurnya. Kalau orang-orang ini berjumpa denganmu lawanlah mereka.’(HR.Bukhari).
Dari Ibnu Abbas r.a berkata Rasulullah, “Sesungguhnya diwaktu yang akan datang akan ada peperangan diantara orang-orang yang beriman.” Seorang sahabat bertanya:

“ Mengapa kita (orang-orang yang beriman) memerangi orang yang beriman, yang mereka itu sama berkata: ‘Kami telah beriman’.”

Rasulullah SAW bersabda: “ Ya,karena mengada-adakan di dalam agama, mereka mengerjakan agama dengan pendapat fikirannya, padahal di dalam agama itu tidak ada pendapat fikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” ( HR.Ath-Thabarani ).

Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa akan muncul sekelompok atau orang yang memahami al-Qur’an berdasar hawa nafsu dan akalnya yang dangkal tanpa ilmu,serta tidak mau mengikuti penjelasan Rasulullah dan pemahaman para sahabat.

Mereka mengambil kesimpulan hukum istinbath/ dan menafsirkan al-Qur an tanpa bekal ilmu yang memadai seperti bahasa Arab, hadits dan penafsiran para sahabat.

Akibatnya, hasil penafsirannya menyelisihi aqidah yang benar.Kalau sekedar membaca dan menerjemahkan al-Qur’an secara lafdiyah serta membaca tafsir yang mu’tabar ( diakui ), tidak ada masalah, bahkan hal itu mendapat pahala.

Yang tidak boleh adalah menafsirkan atau mengintepretasikan al-Qur’an tanpa bekal ilmu yang memadai.

Sebab hal itu bisa merusak maksud dan makna al-Qur’an yang sebenarnya.

Berkaitan dengan masalah aqidah, kita harus memiliki keimanan yang benar dengan mengikuti jejak ulama yang berpegang teguh pada al-Qur’an sesuai penjelasan Rasulullah dan pemahaman para sahabat.

Bukan mengikuti orang-orang  jahil ( bodoh ) yang berani menyelisihi aqidah Rasulullah.

Kita memohon kepada Allah agar menyelamatkan aqidah kita dari ajaran yang menyimpang dan menyesatkan.

Amin

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Paham Anti Madzhab Ingin Meruntuhkan Syariah Islam


Paham Anti Mazhab Ingin Meruntuhkan Syariah Islam

.

 

.
Jumat, 04 Desember 2009 00:46

.

 As-Sunnah As- Sunnah atau Hadits merupakan dasar hukum Islam yang kedua yang berfungsi sebagai penguat dan penjelas dari isi kandungan dari ayat-ayat al-Qur’an.

Adapun dasar manusia untuk melakukan belajar adalah hadits Nabi SAW.sebagai berikut:

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارُ بْنُ حَفْصٍ بْنِ سُلَيْمَانَ حَدَّثَنَا كَثِيْرُ بْنُ شِنْظِيْرٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيْرِيْنِ عَنْ اَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَلَبُ العِلْمِ فَرِيْضَةٌٌ علَىَ كُلِّ مُسْلِمٍ وَوَاضِعُ العِلْمِ عِنْدَ غَيْرِ أَهْلِهِ كَمَثَلِ الخَنَازِيْرِ الجَوْهَرِ وَالُّؤْلُؤَ وَالذَّهَبَ

Artinya:

Hisyam bin Ammar telah menceritakan kepada saya, Hafsh bin Sulaiman telah menceritakan kepada saya, Katsir bin Sindhir telah menceritakan kepada saya, dari Muhammad bin Sirin dari Anas bin Malik. Dia berkata:

Rasulullah saw.bersabda:

“ menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim, dan orang yang memberikan ilmu kepada orang yang bukan ahlinya seperti orang yang mengalungkan permata mutiara dan emas pada leher babi.” 

.

Pertanyaan

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Maaf beribu maaf ustad,saya ingin tabayyun ke ustad.

Di situs pribadi ustad,ada artikel judulnya “ Anti mazhab,Bid’ah paling merusak ” dalam artikel tersebut  disebutkan tokoh terbesar anti mazhab adalah Nashirudin Albani.padahal beliau ( setahu saya yg ilmunya masih sedikit ini ) diakui keilmuan dan keulamaannya oleh banyak kalangan termasuk oleh syekh bin Baz,syekh qardhawi,dll.mohon penjelasan.

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

tyo

.

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Artikel pada situs saya itu adalah bagian dari bedah buku yang ditulis oleh ulama besar Syria, Dr. Said Ramadhan Al-Buthy. Apa yang saya tulis di dalam artikel itu lebih merupakan buah pemikiran beliau sang penulis buku.

Dr. Said Ramadhan Al-Buthy sendiri juga mengakui ketokohan seorang Al-Albani.

Justru karena dianggap sebagai tokoh itulah, maka kemudian perlu diajak berdialog untuk dicari titik temu.

.

Barangkali seorang Al-Albani kurang memahami sepenuhnya tentang ilmu fiqih. Mengingat beliau itu memang bukan ulama syariah.

.

Dan hal seperti ini bukan merupakan aib. Karena di masa sekarang ini, setiap ulama punya spesialisasi sendiri-sendiri.

Dan sebagai perwakilan dari para ulama ahli fiqih, Dr. Said Ramadhan Al-Buthy berupaya membangun dialog yang baik, agar tidak terjadi salah paham.

Al-Albani sendiri memang tokoh penting di dalam dunia hadits. Sudah banyak karya beliau yang memenuhi rak-rak buku para pelajar dan mahasiswa.

Dan sudah banyak orang yang menjadikannya sebagai rujukan dalam masalah hadits.

Akan tetapi di dalam dunia ilmu fiqih, Al-Albani memang punya catatan tersendiri, dimana dirinya sering menyerang ilmu fiqih dan cenderung anti dan memusuhi  madzhab-madzhab fiqih yang sudah ada.

Hal ini dikemukakan oleh guru besar ilmu fiqih, Dr. Said Ramadhan Al-Buthy, ulama fiqih kenamaan dari Syria.

Buku ini menceritakan bagaimana terjadinya perdebatan seru antara kedua tokoh penting yang sama-sama tinggal di Syria.

Al-Albani dengan pendiriannya yang ingin merobohkan bangunan besar ilmu Fiqih Islam, yang sudah berdiri sejak awal peradaban Islam.

Sedangkan Dr. Said Ramadhan Al-Buthy berada pada posisi membela dan mempertahankan kedudukan ilmu Fiqih serta urgensinya dalam memahami Al-Quran dan Sunnah.

Menurut Al-Albani, semua orang haram hukumnya merujuk kepada ilmu fiqih dan pendapat para ulama. Setiap orang wajib langsung merujuk kepada Al-Quran dan As-Sunnah. Dan untuk memahaminya, tidak dibutuhkan ilmu dan metodologi apa pun.

Keberadaan madzhab-madzhab itu dianggap oleh Al-Albani sebagai bid’ah yang harus dihancurkan, karena semata-mata buatan manusia.

Tentu saja pendapat seperti ini adalah pendapat yang keliru besar. Ilmu fiqih dan mazhab pada ulama yang ada itu bukan didirikan untuk menyelewengkan umat Islam dari Al-Quran dan As-Sunnah.

Justru ilmu fiqih itu sangat diperlukan sebagai metodologi yang istimewa dalam memahami Quran dan Sunnah.

Menurut Dr. Said Ramadhan Al-Buthy, kedudukan ilmu fiqih kira-kira sama dengan kedudukan ilmu hadits. Keduanya tidak pernah diajarkan secara baku oleh Rasulullah SAW. Ilmu hadits atau juga dikenal dengan ilmu naqd ( kritik ) hadits, juga merupakan produk manusia, hasil ijtihad, bukan ilmu yang turun dari langit.

Tapi dengan ilmu hadits, kita jadi tahu mana hadits yang shahih, mana hadits yang dhaif dan mana hadits yang maudhu’. Padahal yang menyusun ilmu hadits itu bukan Rasulullah SAW, juga bukan para shahabat, tetapi para ulama dengan ijtihad mereka.

Ketika menetapkan syarat-syarat hadits shahih agar bisa dimasukkan ke dalam kitab As-Shahih, sesungguhnya Al-Bukhari juga sedang berijtihad. Dan kita umat muslim sedunia mengikuti ijtihad beliau dan menggunakan syarat-syarat yang beliau tetapkan.

Maka ketika Al-Imam Asy-Syafi’i yang lahir jauh sebelum zaman Bukhari meletakkan syarat dan aturan dalam mengistimbath hukum dari Quran dan Sunnah,  lalu mendirikan ilmu Ushul fiqih, sebenarnya beliau telah berjasa besar kepada umat Islam.

Sama dengan Al-Bukhari yang juga berjasa agar umat Islam tidak salah dalam memilih hadits.

Demikian juga ketika Abu Hanifah menetapkan dasar-dasar istimbath hukumnya, agar setiap orang tidak asal main qiyas begitu saja, sebenarnya ilmu yang beliau tetapkan itu sangat bermanfaat buat umat Islam.

Sama dengan Al-Bukhari yang juga berijtihad agar umat Islam tidak jatuh ke dalam hadits palsu atau lemah.

Sayangnya, ilmu fiqih dan ushul fiqih yang sudah sejak 14 abad dijadikan standar dalam mengistimbath hukum oleh seluruh umat Islam, oleh Al-Albani ingin dirobohkan begitu saja, dengan alasan kedua ilmu itu dianggap bid’ah dan hanya merupakan ijtihad manusia.

Karena itulah para ulama fiqih meradang dan marah besar kepada Al-Albani yang dengan naifnya ingin merobohkan asas-asas dan sendi pokok ilmu fiqih. Salah satunya adalah Dr. Said Ramadhan Al-Buthy yang akhirnya mengajak Al-Albani bertukar fikiran, agar jangan sampai terjadi salah paham.

Sayangnya, ternyata Al-Albani tetap ngotot dan bersikeras untuk meruntuhkan bangunan ilmu fiqih. Bahkan meski sudah berdialog semalam suntuk, dia tetap ‘keukeuh‘ dengan pendiriannya. Dia tetap ingin meruntuhkan ilmu fiqih karena dalam pandangannya ilmu fiqih itu bid’ah.

Maka Dr. Said Ramadhan hanya bisa menghela nafas panjang. Susah rasanya bicara dengan orang yang tidak mau mengalah dan tidak mau mengerti dengan realitas yang ada.

Untuk itulah beliau kemudian menyusun tulisan sebagai counter dari serang-serangan yang selalu dilancarkan oleh Al-Albani, agar umat Islam sedunia mengerti dan paham, apa sesungguhnya misi dan visi seorang Al-Albani.

Judul buku itu dalam bahasa arab adalah : Al-Laa Mazhabiyah, Akhtharu Bid’atin Tuhaddidu As-Syariah Al-Islamiyah. Kalau kita terjemahkan secara bebas, kira-kira makna judul itu adalah : Paham Anti Mazhab, Bid’ah Paling Gawat Yang Menghancurkan Syariat Islam.

Dalam pandangan saya, kita memang tidak boleh terlalu fanatik dengan madzhab fiqih. Maksudnya, pendapat para ulama itu mungkin benar dan mungkin juga salah. Namanya juga ijtihad.

Tetapi alangkah kelirunya kalau pendapat para ulama itu kita benturkan dengan Quran dan Sunnah. Tidak akan pernah terjadi hal itu. Sebab pendapat para ulama itu justru lahir dari Quran dan Sunnah.

Yang sebenarnya terjadi adalah bahwa seorang Al-Albani ketika membaca Quran dan Sunnah, lalu dia pun berjtihad dengan pendapatnya. Apa yang dia katakan tentang Quran dan Sunnah, pada hakikatnya adalah hasil ijtihad dan ra’yu dia sendiri.

Sumbernya memang Quran dan Sunnah, tapi apa yang dia sampaikan semata-mata lahir dari kepalanya sendiri.

Sayangnya, para pendukung Al-Albani diyakinkan bahwa yang keluar dari mulut Al-Albani itulah isi dan makna Quran yang sebenarnya. Lalu ditambahkan bahwa pendapat yang keluar dari mulut para ulama lain termasuk pada imam madzhab dianggap hanya meracau dan mengada-ada.

Naudzu billahi min dzalik.

Disinilah letak ketidak-adilan para pendukung Al-Albani. Seolah-olah mereka mendudukkan Al-Albani sebagai orang yang paling mengerti dan paling tahu isi Quran dan Sunnah.

Apa pun yang dikatakan Al-Albani tentang pengertian Quran dan Sunnah, dianggap kebenaran mutlak.

Sedangkan kalau ada ulama lain berbicara dengan merujuk kepada Quran dan Sunnah juga, dianggap sekedar ijtihad dan penafsiran.

Padahal kapasitas Al-Albani yang sebenarnya bukan ahli tafsir, juga bukan ahli fiqih.

Bahkan sebagai ahli hadits sekalipun, banyak para ulama hadits di masa sekarang ini yang masih mempertanyakan kapasitasnya.

Sebab secara tradisi, seorang ahli hadits itu idealnya punya guru tempat dia mendapatkan riwayat hadits.

Al-Albani memang tidak pernah belajar hadits secara tradisi lewat perawi dan sanad, sebagaimana umumya para ulama hadits.

Al-Albani hanya sekedar duduk di perpustakaan membolak-balik kitab, kemudian tiba-tiba mengeluarkan statemen-statemen yang bikin orang bingung.

Al-Albani adalah tokoh hadits yang cukup kontroversial. Setidaknya menurut sebagian kalangan. Baik di kalangan ulama hadits sendiri, apalagi . di kalangan ulama fiqih. Tetapi yang menarik, Al-Albani memang sangat produktif dalam menerbitkan buku. Dan dahsyatnya, buku-buku karyanya memang cukup menghebohkan dunia ilmu syariah.

Selama ini para ulama dan ahli ilmu kebanyakan hanya diam saja dan tidak terlalu menanggapi ulah Al-Albani. Dan hanya sedikit ulama yang secara serius menanggapi dan meladeninya. Salah satunya yang pernah langsung menghadapinya adalah Dr. Said Ramadhan Al-Buthy.

Kalau tertarik membaca bukunya, silahkan download disini …[klik]… Tapi mohon maaf buku ini masih dalam versi Arabnya.

Dahulu pernah diterbitkan dalam bahasa Indonesia, tapi entah bagaimana, ketika saya baca versi terjemahannya, saya malah semakin bingung. Makanya saat ini saya sedang meminta salah seorang ustadz untuk menterjemahkan ulang dengan bahasa yang lebih komunikatif.

Namun artikel itu saya angkat bukan dengan niat untuk menjelekkan atau melecehkan, apalagi merendahkan seorang Al-Albani. Dalam beberapa tulisan, saya pun banyak memuji beliau, bahkan saya banyak juga mengutip pendapat beliau.

Namun dalam dunia ilmiyah, mengkritik pendapat seseorang bukan hal yang tabu. Justru semakin terbuka seseorang atas kritik, semakin tinggi nilai kemampuan ilmiyahnya.

Kalau saya menampilkan kritik atas pendapat Al-Albani, jangan dianggap saya membenci beliau. Sebaliknya, justru karena saya menyukai beliau.

Tapi kadang adik-adik kelas saya yang baru saja belajar agama, sering kali salah tanggap. Dikiranya kalau seseorang sudah mengkritik Al-Albani, seolah dianggap memusuhinya.

Nah, semoga tulisan ini tidak dianggap sebagai ‘serangan’ kepada mereka.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Sumber:

http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/18/paham-anti-mazhab/

Note : Saya ( penulis ) juga ingin mengatakan dan menyampaikan kepada para pembaca , bahwa : Al AlBani itu memang orang yang hebat , dan sangat luar biasa.

http://www.warnaislam.com/syariah/hadis/2009/12/4/2760/Paham_Anti_Mazhab_Ingin_Meruntuhkan_Syariah_Islam.htm

Biografi DR. Ahmad Lufti Fathullah


A. Data Pribadi

Nama: Ahmad Lutfi Fathullah
Tempat tanggal Lahir: Kuningan Jakarta, 25 Maret 1964.
Putra Betawi asli yang merupakan salah satu cucu Guru Mughni,
seorang tokoh ulama Betawi kenamaan di era akhir 1800 dan awal 1900-an.

Beristrikan Jehan Azhari, dan sudah dikaruniai 3 orang anak :
1. Hanin Fathullah
2. Muhammad Hadi Fathullah
3. Rahaf Fathullah


B. Pendidikan

  • SDN 01 Kuningan Timur Jakarta
  • Pondok Modern Gontor Ponorogo
  • Damascus University (S1)
  • Jordan University (S2)
  • University Kebangsaan Malaysia (S3)

C. Guru-guru

Di antara guru-guru yang pernah mengajar baik formal maupun non-formal antara lain :

  1. KH. Imam Zarkasyi
  2. Prof. DR. Syeikh Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi
  3. Prof. DR. Syeikh Nuruddin ‘Itr
  4. Prof. DR. Syeikh Mustafa Diib al-Bugha
  5. Prof. DR. Syeikh Wahbah al-Zuhaily
  6. Prof. DR. Syeikh Hammam Abdurrahim Sa’id
  7. Prof. DR. Muhammad al-Zuhaily
  8. Syeikh Husein al-Khattab
  9. Syeikh Abdul Qadir al-Arna’ut
  10. Syeikh Syu’aib al-Arna’ut

D. Aktifitas Akademis

Dosen Pascasarjana pada :

  • Universitas Indonesia
  • Universitas Islam Negeri Jakarta
  • Universitas Islam Negeri Bandung
  • Universitas Muhammadiyah Jakarta
  • Universitas Muhammadiyah Surakarta
  • Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta
  • Program Interdiciplyneri Islamic Studies Mc Gill Canada – UIN Jakarta
  • Universitas Islam Ibnu Khaldun Bogor
  • Universitas al-Aqidah, Jakarta
  • University Kebangsaan Malaysia, Bangi Slangor (Dosen Penguji tesis/disertasi)

Dosen pada :

  • Fak. Ushuluddin UIN Jakarta
  • Fak. Ushuluddin UIN Bandung
  • Fak. Ushuluddin IIQ Jakarta
  • Pendidikan Muballigh al-Azhar Jakarta
  • Pendidikan Kader Ulama’ Pondok Modern Gondor

Aktifitas lain:

  • Guru SD/SMPIT al-Mughni Jakarta
  • Direktur Perguruan Islam al-Mughni Jakarta
  • Pembimbing ibadah haji PT Dian Nusa Insani Jakarta

E. Majlis Ta’lim

Mengajar di Beberapa Majlis Ta’lim secara rutin dan kerap di :

  • Majlis Ta’lim Al-Bahtsi wa al-Tahqiq al-Salam, Jakarta
  • Masjid Baitul Mughni, Jakarta
  • Masjid al-Tin, Jakarta
  • Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta
  • Masjid Baitus Salam, Gedung BIP Jakarta
  • Majlis Ta’lim al-Sa’adah, Ciputat
  • Masjid al-Hijrah, Jakarta
  • Masjid Shalahuddin, Kalibata, Jakarta
  • Masjid al-Musyawarah, Kelapa Gading Jakarta
  • Pusat Islam Bogor


F. Karya Tulis

Buku:

  • Hadis-Hadis Keutamaan al-Qur’an
  • Rumus-rumus Hadis & Rijal al-Hadis
  • Seri Hadis Untuk Anak :
    • Sayangi Kami Sayangi Sesama
    • Aku Anak Muslim
    • Aku Bisa Karena Belajar
    • Menuju Generasi Qur’ani
  • Hadits-hadits Lemah & Palsu dalam Kitab Durratun Nashihin
  • Menguak Kesesatan Aliran Ahmadiyah
  • Pribadi Rasulullah SAW: Telaah kitab Taudhih al-Dala’il fi Tarjamat Hadits al-Syama’il
  • Pahala dan Keutamaan Haji, Umrah, Ziarah dalam hadis-hadis Rasulullah SAW.
  • Fiqh Khitan Perempuan
  • Fiqh Nakerwan Hongkong
  • Memulai Perubahan Menggapai Kesuksesan: Tips Mengatur Gaji Nakerwan
  • Jalan Santri menjadi Ulama : Kiat & Tips
  • Selangkah lagi Mahasiswa UIN Jadi Kiyai
  • Ketika Ulama Jakarta Harus Memilih Gubernur DKI
  • Menanti Alumni SDIT jadi Menteri
  • Membuka Pintu Rezeki melalui Wirid Pagi dan Petang
  • 40 Hadis Keutamaan Dzikir & Berdzikir
  • Membaca Pesan-pesan Nabi dalam Pantun Betawi
  • Mencerdaskan Otak, Menjaga Hati Mahasiswa – Mahasiswi

Dalam Proses Penyelesaian:

  • Ragam-ragam Hadis
  • Kamus & Rumus-rumus Hadis
  • Pengantar Ilmu Ilal Hadis
  • Fiqh Harta Gono-gini
  • Fiqh & Keutamaan Shalat Dhuha dalam Hadis-hadis Rasulullah SAW
  • Mari Berdoa : Filosofi, Fiqh, Etika dan Kumpulan
  • Pesan Allah dalam Hadis-hadis Qudsi
  • Potret Surga & Neraka dalam Hadis-hadis Rasulullah SAW
  • Mencari pintu surga di sudut-sudut kota London

G. Karya Multimedia

  • DVD: Metode Belajar Interaktif Hadis dan Ilmu Hadis
  • CD: Potret Pribadi dan Kehidupan Rasulullah SAW
  • DVD Interaktif: Hadis-hadis Keutamaan al-Qur’an
  • DVD Interaktif: Hadis Sahih Al-Bukhari, Terjemah dan Takhrij interaktif (Edisi 1)
  • DVD Interaktif: Indeks Tematik al-Quran

Dalam Proses Penyelesaian:

  • DVD Interaktif: Fiqh Ramadhan
  • DVD Interaktif: Manasik Haji dan Umrah
  • DVD Interaktif: Ensiklopedia Sholat
  • DVD Interaktif: Potret Surga dan Neraka
  • DVD Interaktif: Ensiklopedia Sholat
  • DVD Interaktif: Hadis-hadis Zikir dan Berzikir
  • DVD Interaktif: Arbain al-Nawawi

H. Karya Ilmiah Akademik

Tesis:

رسوم التحديث في علوم الحديث للجعبري: تحقيق ودراسة

Disertasi:
Kajian Hadis Kitab Durrat al-Nasihin

Karya Tulis Bersama:

  • Kamus Percakapan Amiyah Suriah-Indonesia
  • Relasi Hubungan Suami-Isteri : Kajian Baru Kitab Uqud al-Lujjain
  • Kembang Setaman Perkawinan
  • Kitab “Uqud al-Lujjayn” Tahqiq wa al-Dirasah (bahasa Arab)


I. Aktifitas lain:

  • Direktur Pusat Kajian Hadis Jakarta
  • Hikmah pagi TVRI, sebagai narasumber dalam program Kajian Kitab Kuning Sahih Bukhari

 

Doa Kamilin Bertentangan dengan Al-Quran?


.

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saya adalah salah seorang pengurus masjid yang baru. Selama bulan Ramadhan ini seperti biasa kami melakukan sholat tarawih berjamaah.

Setiap selesai sholat tarawih, imam tarawih memimpin doa yang salah satu baitnya berbunyi “kamilin.” Di sini letak masalahnya. Salah seorang pengurus masjid yang lama (sekarang belajar di Persis) menganggap doa tersebut bertentangan dengan salah satu ayat al-Quran (sayangnya saya tidak tahu persis).

Mungkin Ustadz pernah tahu tentang hal ini, saya mohon dapat diberikan penjelasannya.

Demikian disampaikan. Jazakumullah khoiran.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Memang kalau secara sengaja mau dicari-cari, segala sesuatu termasuk lafadz doa yang sudah populer pun bisa saja jadi salah. Tapi sampai sekarang terus terang kami masih belum menemukannya.

Yang pasti lafadz doa ‘kamilin’ yang anda sebutkan itu memang bukan lafazd doa yang ma’tsur dari nabi SAW, melainkan hasil gubahan manusia.

Entah karena redaksinya yang lumayan bagus atau karena seringkali dibawakan, rupanya lafadz ini sangat populer untuk dibaca di malam Ramadhan, terutama setelah selesai shalat tarawih. Sehingga selalu dibacakan pada tiap-tiap selesai shalat tarawih di malam-malam bulan Ramadhan.

Kalau sekiranya ada orang yang sampai salah persepsi bahwa shalat tarawih tidak sah bila tidak baca doa ini, tentu perlu diluruskan. Sebab meski biasanya hanya dibacakan pada even shalat tarawih, sama sekali tidak berarti itu bagian dari ritual shalat tarawih. Jangankan lafadz doa, bahkan jumlah rakaatnya pun para ulama berbeda pendapat. Lafadz ini di masa Rasulullah SAW tidak pernah dibacakan dalam shalat tarawih.

Namun logikanya tidak bisa langsung dibalik menjadi haram membaca lafadz doa ini di dalam shalat tarawih. Sebab secara umum, di dalam bulan Ramadhan kita diharapkan banyak membaca doa. Meski tidak harus doa tertentu.

Sebenarnya kalau kita perhatikan sekilas makna dari doa ini, rasanya belum ada yang bisa dikatakan menyimpang dari aqidah dan syariah Islam. Paling tidak, dari lafadz doa yang serin kami dengar di masjid-masjid. Entahlah kalau ada banyak versi yang lain.

Tapi yang paling sering kami dengar adalah doa yang intinya meminta kepada Allah SWT agar kita dijadikan sebagai orang yang sempurna imannya. Juga dijadikan sebagai orang yang menjalankan fardhu dan kewajiban dan seterusnya.

Berikut ini di antara petikannya, mohon anda periksa dan cari sendiri, di mana kira-kira lafadz yang dianggap menyimpang atau tidak sesuai dengan ayat Al-Quran.

Ya Allah, jadikanlah kami sebagai orang yang sempurnaiman, yang menjalankan fardhu-fardhu, yang menjaga shalat-shalat, yang menunaikan zakat, yang rela terhadap apa yang ada pada-Mu, yang berharap kepada maaf dari-Mu, yang perpegang teguh kepada petunjuk, yang menolak hal-hal yang laghwi (sia-sia),yang zuhud kepada dunia, yang rindu pada akhirat, ridha terhadap qadha’, yang bersyukur atas segala nikmat, yang sabar atas segala bala’, yang berjalan di bawah bendera nabi Muhammad SAW di akhirat, yang minum dari haudh (telaga di surga), yang masuk ke surga, yang duduk di ranjang kemuliaan, yang minum susu dan madu murni, yang makan makanan surga, yang dikawinkan dengan bidadari surga, yang memakai pakaian dari sutera halus dan sutera tebal, serts bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui…..

Sedangkan bila yang jadi titik masalah karena lafadz ini bukan doa dari nabi Muhammad SAW, memang sudah jelas. Akan tetapi kita tahu bahwa yang namanya lafadz doa itu tidak diharuskan sesuai dengan ayat Al-Quran atau hadits nabawi. Boleh saja seseorang berdoa sesuai dengan keinginannya, termasuk membuat redaksinya.

Namun yang lebih utama tentu saja bila menggunakan ayat Al-Quran atau hadits nabawi, karena redaksinya sudah pasti kebenarannya. Kalau diminta memilih berdoa dengan menggunakan lafadz dari Quran dan sunnah atau dengan lafadz karangan manusia, tentu saja yang lebih utama dengan menggunakan apa yang ada di Quran dan sunnah.

Namun bukan berarti haram bila berdoa dengan lafadz gubahan sendiri di luar lafadz dari Quran dan sunnah. Mohon bantu kami bila ada di antara pembaca yang menemukan ada kesalahan dalam lafadz doa tersebut.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Niat pada Puasa Ramadhan


.
Pertanyaan  :
Apakah niat puasa Ramadhan harus diulangi setiap hari ataukah cukup dengan satu kali niat saja untuk seluruh hari pada bulan Ramadhan?
Jawaban :
Mufti Prof. Dr. Ali Jum’ah Muhammad Dalam syariat Islam, niat memiliki urgensi yang tinggi, karena niatlah yang menetapkan tujuan dan maksud seseorang dalam melakukan berbagai hal.
Oleh karena itulah, Rasulullah saw. pernah bersabda :

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ لِمَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Sesungguhnya setiap amalan itu tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan sesuai apa yang dia niatkan.
Maka barang siapa yang melakukan hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya adalah untuk Allah dan Rasul-Nya.
Barang siapa yang hijrahnya untuk tujuan dunia atau seorang perempuan yang ingin dinikahinya maka hijrahnya untuk apa yang dia maksudkan dengan hijrahnya itu.
” Berkaitan dengan niat pada puasa Ramadhan, Rasulullah saw. bersabda :

مَنْ لَمْ يُجْمِعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ

“Barang siapa yang tidak berniat puasa sebelum datang waktu fajar maka puasanya tidak sah.”
Tempat niat adalah dalam hati dan tidak disyaratkan mengucapkannya dengan lisan.
Mengenai status niat :
Apakah merupakan syarat atau rukun dalam puasa, maka para ulama masih berbeda pendapat.
Sebagian imam mazhab berpendapat bahwa niat puasa Ramadhan harus dilakukan setiap hari sepanjang bulan Ramadhan dan harus dilakukan pada malam hari (hingga terbit fajar) sebelum berpuasa.
Orang yang berpuasa juga wajib menentukan jenis puasa yang hendak ia lakukan jika puasa itu adalah puasa wajib, yaitu dengan mengatakan,
“Saya berniat puasa Ramadhan esok hari.”
Sedangkan mazhab fiqh yang lain berpendapat bahwa kadar niat yang diharuskan adalah cukup mengetahui melalui hatinya bahwa ia akan berpuasa Ramadhan esok hari.
Menurut mereka, waktu melakukan niat ini adalah sejak terbenam matahari hingga sebelum pertengahan siang (jika lupa melakukannya pada malam hari), di mana waktu siang yang tersisa lebih banyak daripada waktu yang telah terlewat.
Sedangkan mazhab Maliki berpendapat bahwa cukup berniat sekali saja untuk puasa yang bersambung hari-harinya, seperti puasa Ramadhan.
Dengan demikian, maka jika seseorang dapat berniat puasa pada setiap malam bulan Ramadhan maka itu lebih afdal.
Tapi, jika ia khawatir lupa maka hendaklah ia berniat pada malam pertama bulan Ramadhan bahwa insya Allah ia akan berpuasa Ramadhan sebulan penuh.
Ulama Hanafiyah tidak mensyaratkan niat dalam puasa Ramadhan karena puasa tersebut merupakan puasa fardu.
Maka selama seseorang telah melaksanakan puasa dengan menahan diri dari makan dan minum, maka puasanya tersebut sah.
Wallahu subhânahu wa ta’âlâ a’lam.
.
 Posted by Nyak Moen on October 15, 2011 0 College grants for students Federal student aid Federal student loans

Bersetubuh siang hari pada bulan Ramadhan


Pertanyaan : Assalamu”alikum Wr. Wb. Semoga keberkatan atas rahmat dan hidayahnya tercurah untuk kita semua. Amin..

Ustadz saya mau bertanya tentang hukum kaffarat.

Saya masih kurang jelas di sini.

Yang menjadi pertanyaan saya adalah apakah membayar kaffarat dengan membayar 60 orang miskin atau hanya dengan berpuasa 2 bulan berturut-turut?

Boleh kita memilih salah satu atau ada ketentuan lain?

Artinya ketika kita mampu untuk berpuasa 2 bulan berturut-turut namun di samping itu ada cara efektif yang lebih simpel yaitu memberi makan 60 anak yatim dan kita lebih memilih hanya memberi makan 60 anak yatim karena dipandang lebih efektif apah hal ini sah-sah saja,

Atau memang harus diperioritaskan yang lebih berat dulu yakni berpuasa 2 bulan berturut-turut? Mohon penjelasannya .

Pertanyaan kedua adalah ketika ada orang yang berzina di siang hari Ramadhan, bagaimanakah dosanya dan cara ia bertobat karena yang saya tahu ini merupakan dosa besar.

Dan apakah dosanya dapat diampuni oleh Allah SWT? Terkait dengan kaffarat, apakah orang tersebut juga harus membayar kaffarat? Apa bentuk kafaratnya?

Pertanyaan yang ketiga, apakah jika seseorang berhubungan di siang hari Ramadhan dapat membatalkan puasa? Bagaimana jika orang tersebut meneruskan puasanya, akankah dia mendapat pahala puasa? Jazakallah Ustadz,

jawaban ustadz sangat saya tunggu secepatnya. Wassalamu”alikum Wr. Wb.

Jawaban : Assalamu ”alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ketiga jenis kaffarat itu bukan pilihan, melainkan alternatif keringanan yang Allah berikan khusus buat mereka yang nyata-nyata tidak mampu.

Maka yang sebenarnya harus dilakukan adalah membebaskan budak, bukan puasa 2 bulan atau memberi makan 60 fakir miskin.

Kaffarat baru bisa diganti dengan berpuasa 2 bulan berturut-turut, manakala secara akal sehat dinyatakan orang tersebut tidak mampu mengerjakannya.

Misalnya, karena harga budak yang tinggi sekali, atau malah karena di masa sekarang ini memang tidak ada lagi budak. Maka barulah kaffarat itu boleh diganti dengan puasa 2 bulan berturut-turut.

Dan tidak boleh diganti begitu saja dengan memberi makan fakir miskin sebanyak 60 orang, kecuali bila seseorang dinyatakan oleh dokter tidak mampu berpuasa, lantaran kesehatannya tidak mengizinkan.

Atau orang itu adalah seorang tua bangka yang ringkih, kurus kering, kurang gizi dan tidak sanggup berpuasa.

Adapun bila seseorang sehat wal afiat dan segar bugar bahkan kaya, haram hukumnya mengganti kaffarat begitu saja menjadi memberi makan 60 orang fakir miskin.

Apalah arti memberi makan 60 fakir miskin? Betapa murahnya harga nominal kaffarat itu.

Coba kita hitung, anggaplah sekali makan sampai kenyang hanya Rp 10.000 x 60 orang, kan baru Rp 600.000. Sangat tidak ada artinya buat orang yang bergaji besar pegawai kelas menengah.

Kalau memang demikian, sekalian saja tidak usah puasa selama 30 hari, kan baru 600.000 x 30= 18 juta.

Buat seorang pejabat, pengusaha, wakil rakyat dan orang-orang sekelasnya, murah sekali bukan? Karena itu kalau bukan karena vonis original dokter yang menyatakan pasiennya tidak mungkin berpuasa, maka tidak ada kebolehan mengganti kaffarat puasa 2 bulan berturut-turut menjadi memberi makan 60 fakir miskin.

Berzina di Bulan Ramadhan Orang yang berzina di bulan Ramadhan, berdosa berkali lipat.

* Pertama, dosanya adalah dosa membatalkan puasa, untuk itu dia harus mengqadha”nya di hari lain.

* Dosa yang kedua, dia berdosa telah melakukan hubungan seksual di bulan Ramadhan dan merusak kesuciannya, maka dia wajib membayar kaffarat dalam bentuk membebaskan budak.

Bila tidak dimungkinkan secara teknis, maka harus berpuasa 2 bulan berturut-turut.

* Dan dosa yang ketiga, dia berdosa karena berzina, hukumannya adalah cambuk 100 kali dan dibuang (diasingkan) selama 1 tahun.

Tapi kalau dia sudah beristri, hukumannya beda. Yaitu dihukum rajam (dilempari dengan batu di hadapan umum) hingga nyawanya lepas.

Tetapi Allah SWT adalah Tuhan Maha Pengampun, sebesar apapun dosa seorang hamba, maka ampunan Allah lebih besar lagi.

Asalkan di hamba itu serius mau bertobat dan minta ampun.

Tapi ada 3 syarat dasar yang secara mutlaktidak boleh luput:

* Berhenti total dulu dari perbuatan maksiatnya itu

* Menyesali dengan sungguh hati atas apa yang terlanjur dilakukannya

* Bertekat bulat tidak akan pernah lagi terbersit untuk melakukannya kembali Setelah dasar syarat ini terpenuhi, maka syarat intinya adalah dia wajib menunaikan hukuman atau kaffarah, yaitu mengqadha` hari yang dirusaknya, ditambah puasa 2 bulan berturut-turut, lalu menjalani hukuman cambuk 100 kali dan diasingkan setahun, atau bila sudah pernah beristri maka harus siap untuk dirajam.

Khusus masalah cambuk dan rajam ini, yang bertanggung-jawab atas pelaksanaannya bukan dirinya, melainkan penguasa yang sedang memerintah.

Sedangkan peran dirinya adalah merelakan dirinya dan menyerahkan diri untuk dirajam atau dicambuk.

Kalau ternyata penguasa yang sedang memerintah tidak mau menjalanan hukum syariat pencambukan atau perajaman, bukanlah dosa di pelaku zina.

Selama dia sudah siap dan menyerahkan diri, maka di sisi Allah dia sudah dianggap menjalankan hukumannya.

Dosa tidak terlaksananya hukum cambuk dan rajam sepenuhnya ada di pundak para penguasa, yang tidak mau menjalankan syariat Islam.

Kemudian ditambah menjadi dosa rakyat yang tidak mau menerapkan syariah karena memilih penguasa yang sekuler dan anti syariah.

Biarlah nanti para penguasa dan rakyat dari kalangan anti syariah itu yang akan berhadapan dengan Allah SWT langsung dan memikul azab pedih di jahannam, nauzu billahi min zalik.

Membatalkan Puasa dengan Sengaja Wajib Imsak Menurut sebagian ulama, seorang yang membatalkan puasa secara sengaja tanpa udzur syar”i, maka wajib untuk tetap imsak.

Maksudnya dia tidak boleh makan dan minum hingga maghrib.

Namun tidak dianggap sebagai puasa yang mendatangkan pahala.

Imsak itu hanya hukuman dari Allah, lantaran merusak kesucian bulan puasa.

Wallahu a”lam bishshawab, wassalamu ”alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

 

 

 

Mendoakan Orang Yang Telah Meninggal


Pertanyaan :
Apa hukum mendoakan orang yang telah meninggal setelah dimakamkan oleh orang-orang yang menghadiri pemakaman? .
Penduduk di desa kami berbeda pendapat mengenai masalah ini.
Jawaban Dewan Fatwa :
Berdasarkan tuntunan Sunnah, orang-orang yang mengantar jenazah, setelah menguburkannya hendaknya berdiri sejenak di sisi kuburan guna mendoakannya.
Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Hakim –dan dia menyatakan bahwa hadis ini adalah shahih sanadnya–
dari Utsman r.a., dia berkata :
“Nabi saw. jika selesai menguburkan jenazah beliau berdiri sejenak dan bersabda,

اسْتَغفِرُوا لأَخِيْكُمْ وَسَلُوْا لَهُ التَّثبِيْتَ؛ فَإِنَّهُ اْلآنَ يُسْأَلُ

Mohonlah ampunan bagi saudara kalian dan mintalah keteguhan untuknya, karena dia sekarang sedang ditanya.”
Imam Muslim meriwayatkan dari ‘Amr bin Ash r.a., dia berkata :
Jika kalian telah selesai menguburkanku, maka tebarkanlah sedikit tanah ke kuburanku dan tetaplah berada di sekitarnya selama waktu orang menyembelih unta dan membagikan dagingnya, sehingga aku dapat menjadikan kalian sebagai penenangku dan melihat apa yang akan aku sampaikan kepada para utusan Tuhanku.”
Perbuatan seperti ini hanya dilakukan setelah selesai penguburan.
Sebelum berdoa, tidak apa-apa disampaikan nasehat singkat mengenai kematian dan kehidupan akhirat.
Karena, hal itu dapat membuat jiwa orang-orang yang hadir menjadi lebih tenang dan lebih siap untuk bermunajat kepada Allah.
Diriwayatkan dari Ali karramallahu wajhah, dia berkata :
Kami sedang menghadiri pemakaman jenazah di Baqi’ Gharqad.
Kemudian Nabi saw. datang lalu duduk dan kami pun duduk di sekitar beliau. Beliau memegang sebuah tongkat pendek.
Beliau menunduk dan mematuk-matukkan ujung tongkat pendek itu ke tanah “.
Beliau lalu bersabda :

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ مَا مِنْ نَفْسٍ مَنْفُوسَةٍ إِلاَّ كُتِبَ مَكَانُهَا مِنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ وَإِلاَّ قَدْ كُتِبَ شَقِيَّةً أَوْ سَعِيدَةً “

Tidak ada seorangpun dari kalian, tidaklah ada jiwa yang diciptakan, kecuali telah ditetapkan tempatnya di surga atau di neraka, dan telah ditetapkan sebagai orang celaka atau bahagia.”
 Seorang sahabat berkata :
Wahai Rasulullah, kalau begitu apakah kita tidak sebaiknya menyerahkan diri pada ketetapan itu”.
Beliau menjawab :

اِعْمَلُوْا؛ فكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِما خُلِقَ له

Beramallah, karena setiap orang dimudahkan untuk beramal sesuai dengan apa yang dia diciptakan untuknya ”.( Muttafaq Alaih ).
Imam Bukhari dalam ash-Shahih membuat bab untuk hadis ini dengan judul,
Bab Nasehat Seseorang di Kuburan dan Orang-orang Duduk di Sekitarnya ”.
Dalam kitab al-Adzkâr, an-Nawawi berkata :
Dianjurkan untuk duduk di sekitar kubur setelah pemakaman selama waktu seseorang menyembelih unta dan membagi-bagikan dagingnya.
Orang-orang yang duduk itu hendaknya membaca Alquran dan berdoa untuk mayat, serta memberi nasehat dan menceritakan kisah orang-orang saleh kepada hadirin. “
Imam Syafi’i dan para ulama madzhab Syafi’i menyatakan bahwa dianjurkan untuk membaca sejumlah ayat Alquran di tempat penguburan.
Dan akan lebih baik jika dapat mengkhatamkan Alquran di sana :
” Adapun cara berdoa, apakah dengan suara keras ataupun suara pelan, maka terdapat kelapangan dalam melaksanakannya, sehingga seseorang dipersilahkan untuk memilih salah satu dari keduanya.
Memperdebatkan masalah itu hanya akan menuai murka dari Allah dan Rasul-Nya, sebab hal itu termasuk perbuatan bid’ah yang tercela.
Karena, salah satu bentuk amalan bid’ah adalah sikap mempersempit sesuatu yang dilapangkan oleh Allah dan Rasul-Nya saw.
Jika Allah memerintahkan suatu perbuatan dalam bentuk umum yang pelaksanaannya mempunyai lebih dari satu kemungkinan, maka perintah itu harus dipahami dalam keumuman dan kelapangan itu.
Tidak boleh membatasi maknanya dengan cara apapun kecuali didasarkan pada dalil tertentu.
Rasulullah saw. melarang kaum muslimin untuk banyak bertanya atau menyampaikan pertanyaan yang menyulitkan.
Beliau menjelaskan bahwa jika Allah SWT mendiamkan suatu masalah, maka itu adalah rahmat dan kelapangan yang diberikan kepada umat ini.
Beliau bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Tsa’labah al-Khusyaniy :

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فَرَضَ فَرَائِضَ فَلاَ تُضَيِّعُوْهَا، وَحَرَّمَ حُرُمَاتٍ فَلاَ تَنْتَهِكُوْهَا، وَحَدَّ حُدُوْدًا فَلاَ تَعْتَدُوْهَا، وَسَكَتَ عَنْ أَشْيَاءَ رَحْمَةً لَكُمْ مِنْ غَيْرِ نِسْيَانٍ فَلاَ تَبْحَثُوْا عَنْهَا “

Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah mewajibkan berbagai kewajiban, maka janganlah kalian menyepelekannya.
Allah juga telah mengharamkan berbagai perbuatan haram, maka janganlah kalian melanggarnya.
Allah juga telah membuat batasan-batasan, maka janganlah kalian melampauinya.
Dan Allah mendiamkan banyak hal sebagai bentuk rahmat untuk kalian, bukan karena lupa, maka janganlah kalian membahasnya.”
( HR. Daruquthni dan lainnya )
Hadis ini dishahihkan oleh Ibnu Shalah dan dihasankan oleh Nawawi.
At-Taftazani dalam kitab Syarh al-Arba’în an-Nawâwiyyah berkata :
“Maksud kalimat: “maka janganlah kalian membahasnya” adalah janganlah bertanya-tanya mengenainya.
Karena bertanya-tanya tentang sesuatu yang didiamkan oleh Allah akan mengakibatkan munculnya pembebanan dengan kewajiban yang menyulitkan.
Dan masalah seperti ini dihukumi dengan barâ`ah ashliyyah (prinsip bebas hukum selama tidak ada ketentuan )
” Rasulullah saw. menjelaskan bahwa sangat buruk tindakan seseorang yang membuat kaum muslimin mengalami kesulitan disebabkan dia banyak bertanya.
Diriwayatkan dari ‘Amir bin Sa’ad dari ayahnya, dia berkata :
“Rasulullah saw. bersabda :

أَعْظَمُ الْمُسْلِمِيْنَ فِي الْمُسْلِمِيْنَ جُرْمًا رَجُلٌ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ وَنَقَّرَ عَنْهُ فَحُرِّمَ عَلَى النَّاسِ مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ

Orang muslim yang paling besar kejahatannya terhadap kaum muslimin adalah seseorang yang menanyakan dan mencari tahu tentang sesuatu sehingga hal itu diharamkan kepada semua orang akibat pertanyaannya.
(HR. Muslim).
Abu Hurairah r.a. berkata :
“Pada suatu hari Rasulullah berkhutbah di hadapan kami. Beliau bersabda :
Wahai orang-orang, Allah telah mewajibkan ibadah haji atas kalian, maka lakukanlah.” Seorang sahabat lalu bertanya, “Apakah setiap tahun wahai Rasulullah?” Beliau terdiam hingga sahabat itu mengulangi pertanyaannya sebanyak tiga kali.
Maka Rasulullah saw. bersabda :

لَوْ قُلْتُ نَعَمْ لَوَجَبَتْ وَلَمَا اسْتَطَعْتُمْ، ثُمَّ قَالَ: ذَرُوْنِيْ مَا تَرَكْتُكُمْ؛ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِكَثْرَةِ سُؤَالِهِمْ وَاخْتِلاَفِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ، فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَدَعُوْهُ

Kalau aku mengatakan, ‘Ya’, niscaya akan menjadi kewajiban dan kalian tidak akan sanggup melakukannnya.
Beliau lalu berkata lagi,
Biarlah seperti yang aku tinggalkan untuk kalian.
Sesungguhnya para umat sebelum kalian telah binasa akibat tindakan mereka yang suka bertanya dan berselisih dengan para nabi mereka.
Jika aku memerintahkan kalian untuk melakukan sesuatu maka laksanakanlah sesuai kemampuan kalian.
Dan jika aku melarang kalian dari melakukan sesuatu maka tinggalkanlah.”
(Muttafaq alaih).
Al-Allamah al-Munawi, dalam Faidhul Qadîr Syarh al-Jâmi’ ash-Shaghîr, berkata :
“Maksud hadits ini adalah:
Janganlah kalian bertanya kepadaku selama aku membiarkan kalian.
Janganlah kalian banyak bertanya mengenai sesuatu yang tidak penting dalam urusan agama kalian, selama aku membiarkan kalian dan tidak berkata apa-apa kepada kalian. 
Karena bisa jadi hal itu akan menjadi sesuatu kewajiban dan beban yang memberatkan.
Ambillah sesuai apa yang aku perintahkan dan jangan mencari-cari persoalan lain seperti yang dilakukan oleh para Ahlul Kitab.
Janganlah sering menyelidiki sesuatu yang telah jelas secara lahir meskipun mempunyai kemungkinan makna yang lain, karena hal itu dapat menyebabkan bertambahnya jawaban atas hal itu.
Sehingga, tindakan itu akan menyerupai kisah bangsa Israil yang banyak mempersulit diri sendiri sehingga mereka pun benar-benar dipersulit.
Oleh karena itulah Rasulullah saw. khawatir hal serupa terjadi pada umat beliau..”
Adapun berdoa secara bersama, maka bisa jadi hal itu membuat kemungkinan dikabulkannya doa lebih besar, di sisi lain ia membuat hati lebih terfokus dan membuat lebih khusyuk di hadapan Allah SWT, terutama jika doa itu diawali dengan nasehat singkat.
Rasulullah saw. bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a.,

يَدُ اللَّهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ

Pertolongan Allah bersama jamaah.”
(HR. Nasa`i dan Tirmidzi, serta dihahihkan oleh Tirmidzi).
Membaca surat al-Fatihah untuk mayat setelah penguburan adalah amalan yang disyariatkan oleh agama.
Karena, membaca sejumlah ayat Alquran di atas kuburan setelah prosesi pemakaman adalah disunahkan.
Al-Baihaqi, dalam as-Sunan al-Kubrâ, meriwayatkan dari Ibnu Umar r.a. dengan sanad hasan –sebagaimana dikatakan oleh an-Nawawi— bahwa dia menganjurkan untuk membaca awal dan akhir surat al-Baqarah setelah prosesi pemakaman.
Wallahu subhânahu wa ta’âlâ a’lam.