Utsaimin – Matahari mengelilingi Bumi


Jawab: Dhahirnya dalil-dalil syar’i menetapkan bahwa mataharilah yang berputar mengelilingi bumi dan dengan perputarannya itulah menyebabkan terjadinya pergantian siang dan malam di permukaan bumi, tidak ada hak bagi kita untuk melewati dhahirnya dalil-dalil ini kecuali dengan dalil yang lebih kuat dari hal itu yang memberi peluang bagi kita untuk menakwilkan dari dhahirnya. Di antara dalil-dalil yang menunjukkan bahwa matahari berputar mengelilingi bumi sehingga terjadi pergantian siang dan malam adalah sebagai berikut:
1. Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman tentang Ibrahim akan hujahnya terhadap orang yang membantahnya tentang Rabb: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat.” (QS Al Baqarah: 258).
Maka keadaan matahari yang didatangkan dari timur merupakan dalil yang dhahir bahwa matahari berputar mengelilingi bumi.

2. Dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman juga tentang Ibrahim: “Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: ‘Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar’, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: ‘Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.'” (QS Al An’am: 78).

Jika Allah menjadikan bumi yang mengelilingi niscaya Allah berkata: “Ketika bumi itu hilang darinya.”

3. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu.” (QS Al Kahfi: 17).
Allah menjadikan yang condong dan menjauhi adalah matahari, itu adalah dalil bahwa gerakan itu adalah dari matahari, kalau gerakan itu dari bumi niscaya Dia berkata, “gua mereka condong darinya (matahari).” Begitu pula bahwa penyandaran terbit dan terbenam kepada matahari menunjukkan bahwa dialah yang berputar meskipun dilalahnya lebih sedikit dibandingkan firmanNya, “(condong) dan (menjauhi mereka).”
4. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (QS Al Anbiya': 33).
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: berputar dalam suatu garis edar seperti edaran alat pemintal. Penjelasan itu terkenal darinya.
5. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat.” (QS Al A’raf: 54).
Allah menjadikan malam mengejar siang, dan yang mengejar itu yang bergerak dan sudah maklum bahwa siang dan malam itu mengikuti matahari.
6. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS Az Zumar: 5).
FirmanNya: “Menutupkan malam atau siang” artinya memutarkannya atasnya seperti tutup sorban menunjukkan bahwa berputar adalah dari malam dan siang atas bumi. Kalau saja bumi yang berputar atas keduanya (malam dan siang) niscaya Dia berkata, “Dia menutupkan bumi atas malam dan siang.” Dan firmanNya, “matahari dan bulan, semuanya berjalan” menerangkan apa yang terdahulu menunjukkan bahwa matahari dan bulan keduanya berjalan dengan jalan yang sebenarnya (hissiyan makaniyan), karena menundukkan yang bergerak dengan gerakannya lebih jelas maknanya daripada menundukkan yang tetap diam tidak bergerak.
7. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya.” (QS Asy Syams: 1-2).
Makna (mengiringinya) adalah datang setelahnya, dan itu dalil yang menunjukkan atas berjalan dan berputarnya matahari dan bulan atas bumi. Seandainya bumi yang berputar mengelilingi keduanya tidak akan bulan itu mengiringi matahari, akan tetapi kadang-kadang bulan mengelilingi matahari dan kadang matahari mengiringi bulan, karena matahari lebih tinggi daripada bulan. Dan untuk menyimpulkan ayat ini membutuhkan pengamatan.
8. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan, dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” (QS Yaa Siin: 37-40).
Penyandaran kata berjalan kepada matahari dan Dia jadikan hal itu sebagai kadar / batas dari Dzat yang Maha Perkasa lagi Mengetahui menunjukkan bahwa itu adalah jalan yang haqiqi (sebenarnya) dengan kadar yang sempurna, yang mengakibatkan terjadinya perbedaan siang malam dan batas-batas (waktu). Dan penetapan batas-batas edar bulan menunjukkan perpindahannya di garis edar tersebut. Kalau seandainya bumi yang berputar mengelilingi maka penetapan garis edar itu untuknya bukan untuk bulan. Peniadaan bertemunya matahari dengan bulan dan malam mendahului siang menunjukkan pengertian gerakan muncul dari matahari, bulan, malam, dan siang.
9. Dari Abu Dzarr, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa-sallam bersabda pada suatu hari “Tahukah kalian kemana matahari ini pergi?” Para sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”, Rasulullah bersabda “Sesungguhnya matahari ini beredar/berjalan sampai berakhir ke tempatnya di bawah ‘Arsy maka dia tersungkur sujud, terus-menerus dia dalam keadaan demikian sampai dikatakan kepadanya: “bangkitlah/angkatlah (dirimu) dan kembalilah dari tempat kamu datang”, maka matahari tersebut kembali lalu terbit dari tempat terbitnya kemudian beredar lagi sampai berakhir ke tempatnya di bawah ‘Arsy lalu dia tersungkur sujud dan terus menerus dalam keadaan demikian sampai dikatakan kepadanya: “angkatlah dan kembalilah dari tempat kamu datang”, lalu dia kembali dan terbit dari tempat terbitnya (sebagaimana biasa) kemudian dia kembali beredar, yang manusia tidak akan mengingkarinya sedikitpun, sampai berakhir ke tempatnya yaitu di bawah ‘Arsy maka dikatakan kepadanya “angkatlah dan jadilah kamu terbit dari arah terbenammu” maka matahari itu terbit dari arah terbenamnya, kemudian Rasulullah bersabda: “Tahukah kalian kapan hal itu terjadi?” Hal itu terjadi ketika tidak bermanfaat keimanan seseorang bagi dirinya, yang dia tidak beriman sebelumnya atau berusaha dengan kebaikan dalam keimanannya” (H.R. Al-Imam Muslim).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu dan matahari telah terbenam, “Apakah kamu tahu ke mana matahari itu pergi?” Dia menjawab, “Allah dan RasulNya lebih tahu.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya dia pergi lalu bersujud di bawah Arsy, kemudian minta ijin lalu diijinkan baginya, hampir-hampir dia minta ijin lalu dia tidak diijinkan. Kemudian dikatakan kepadanya: ‘Kembalilah dari arah kamu datang lalu dia terbit dari barat (tempat terbenamnya).'” Atau sebagaimana beliau telah bersabda (Muttafaq ‘alaih).
Dalam hadits setelah ini, dari Abu Dzarr berkata, saya menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa-sallam tentang firman Allah Ta’ala:
“Wasysyamsu tajrii limustaqarrillahaa�” (Dan matahari beredar/berjalan di tempat peredarannya),
Rasulullah bersabda: “tempat peredarannya adalah di bawah ‘Arsy”. (H.R. Al-Imam Muslim).
PerkataanNya: “Kembalilah dari arah kamu datang, lalu dia terbit dari tempat terbenamnya” sangat jelas sekali bahwa dia (matahari) itulah yang berputar mengelilingi bumi dengan perputarannya itu terjadinya terbit dan terbenam.
10. Hadits-hadits yang banyak tentang penyandaran terbit dan terbenam kepada matahari, maka itu jelas tentang terjadinya hal itu dari matahari tidak dari bumi.
Boleh jadi di sana masih banyak dalil-dalil lain yang tidak saya hadirkan sekarang, namun apa yang telah saya sebutkan sudah cukup tentang apa yang saya maksudkan wallahul Muwaffiq.
 Majmu’ Fatawa karya Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin dan Shohih Muslim.

Utsaimin – Do’a untuk mayat


.

Muhammad bin Shalih al-Utsaimin merupakan Ulama Besar Kerajaan Arab Saudi , yang fatwa-fatwanya banyak menjadi rujukan…. Nama lengkapnya adalah Abu Abdillah Muhammad bin Shalih bin Muhammad bin Utsaimin al-Wahib at-Tamimi atau lebih dikenal dengan Ibn al-Utsaimin….. Dalam beberapa fatwanya, terdapat pernyataan menarik yang mungkin jarang di publikasikan oleh pengikutnya ….tentang bacaaan al-Qur’an untuk orang mati….. Berikut diantara pernyataan beliau,

وأما القراءة للميت بمعنى أن الإنسان يقرأ و ينوي أن يكون ثوابها للميت، فقد اختلف العلماء رحمهم الله هل ينتفع بذلك أو لا ينتفع؟ على قولين مشهورين الصحيح أنه ينتفع، ولكن الدعاء له أفضل

“ Pembacaan al-Qur’an untuk orang mati dengan pengertian bahwa manusia membaca al-Qur’an serta meniatkan untuk menjadikan pahalanya bagi orang mati, maka sungguh ulama telah berselisih pendapat mengenai apakah yang demikian itu bermanfaat ataukah tidak ? atas hal ini terdapat dua qaul yang sama-sama masyhur dimana yang shahih adalah bahwa membaca al-Qur’an untuk orang mati memberikan manfaat,….. akan tetapi do’a adalah yang lebih utama (afdlal) ”

Sumber : Majmu Fatawa wa Rasaail ….[17/220-221] karya Muhammad bin Shalih al-Utsaimin [w. 1421 H]

=  Para Ulama Madzhab Asy Syafi’i  – menyarankan – Bacalah Al-Qur an sampai khatam untuk saudaramu yang telah wafat – itu adalah lebih baik  dan yang lebih afdlol adalah membaca sambil menjiarahi makamnya.

.

bid’ahkah Biji Tasbih,


Pengantar

http://syaikhulislam.wordpress.com/2010/07/09/tasbih-bidahkah/#comment-593

————————————-

Pembicaraan bahkan fitnah terkait masalah ini sangatlah meresahkan, bagaimana tidak. Sejatinya hal ini merupakan wilayah furu yang selayaknya hanya dibicarakan dalam tataran pencarian terhadap kebenaran lewat diskusi-diskusi hangat yang konstruktif.

Namun harapan-harapan tersebut pupus lewat mulut-mulut sembrono yang dengan mudahnya mengklaim sesuatu dan memaksakan klaim tersebut kepada orang awam yang bermodal kehanifan dan taqlid dalam beragama. Akibatnya nafsu amarah menguasai mereka lalu terjadilah caci maki yang disebabkan pemahaman yang keliru dan kurang menyeluruh terhadap pendapat para ulama mengenai hal tersebut.

Masalah apakah itu? Biji tasbih!

Yah, pengetahuan yang keliru dan atau tidak menyeluruh serta taqlid buta menyebabkan caci maki terkait perdebatan seputar hukum syar’i menggunakan tasbih untuk berdzikir kepada Allah Subahanahu Wataala.

Sebagai blog yang memaparkan tentang biografi dan sikap serta fatwa Ibnu Taimiyah, maka saya mencoba untuk mengulas pendapat beliau yang begitu wasath dalam masalah ini.

Semoga tulisan ini menjadi pemberat dalam timbangan amal baik serta amal jariyah bagi pemilik dan pengelola blog ini. Amin.

Perselisihan tentang Biji Tasbih

Para ulama berselisih menjadi 3 pendapat besar tentang penggunaan tasbi untuk berdzikir.

Pertama, Sebagian ulama membolehkannya. Inilah pendapat yang Umum

Berkata Ibnu Nujaim Al Hanafi dalam kitab al Bahri al Râiq sebagai komentar terhadap Hadits Nabi tentang berdzikir dengan biji-biji tasbih:

قَوْلُهُ لَا بَأْسَ بِاِتِّخَاذِ الْمِسْبَحَةِ ( بِكَسْرِ الْمِيمِ : آلَةُ التَّسْبِيحِ ، وَاَلَّذِي فِي الْبَحْرِ وَالْحِلْيَةِ وَالْخَزَائِنِ بِدُونِ مِيمٍ (

قَالَ فِي الْمِصْبَاحِ : السُّبْحَةُ خَرَزَاتٌ مَنْظُومَةٌ ، وَهُوَ يُقْتَضَى كَوْنَهَا عَرَبِيَّةً

وَقَالَ الْأَزْهَرِيُّ : كَلِمَةٌ مُوَلَّدَةٌ ، وَجَمْعُهَا مِثْلُ غُرْفَةٍ وَغُرَفٍ.ا هـ

وَالْمَشْهُورُ شَرْعًا إطْلَاقُ السُّبْحَةِ بِالضَّمِّ عَلَى النَّافِلَةِ

قَالَ فِي الْمُغْرِبِ : لِأَنَّهُ يُسَبَّحُ فِيهَا

وَدَلِيلُ الْجَوَازِ مَا رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالتِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ وَابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ وَقَالَ صَحِيحَ الْإِسْنَادِ عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ { أَنَّهُ دَخَلَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى امْرَأَةٍ وَبَيْنَ يَدَيْهَا نَوًى أَوْ حَصًى تُسَبِّحُ بِهِ فَقَالَ : أُخْبِرُك بِمَا هُوَ أَيْسَرُ عَلَيْك مِنْ هَذَا أَوْ أَفْضَلُ ؟ فَقَالَ : سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي السَّمَاءِ ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي الْأَرْضِ ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا بَيْنَ ذَلِكَ ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا هُوَ خَالِقٌ ؛ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ مِثْلُ ذَلِكَ ، وَاَللَّهُ أَكْبَرُ مِثْلُ ذَلِكَ ، وَلَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ مِثْل ذَلِكَ ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا بِاَللَّهِ مِثْلُ ذَلِكَ } : فَلَمْ يَنْهَهَا عَنْ ذَلِكَ .

وَإِنَّمَا أَرْشَدَهَا إلَى مَا هُوَ أَيْسَرُ وَأَفْضَلُ وَلَوْ كَانَ مَكْرُوهًا لَبَيَّنَ لَهَا ذَلِكَ ، وَلَا يَزِيدُ السُّبْحَةُ عَلَى مَضْمُونِ هَذَا الْحَدِيثِ إلَّا بِضَمِّ النَّوَى فِي خَيْطٍ ، وَمِثْلُ ذَلِكَ لَا يَظْهَرُ تَأْثِيرُهُ فِي الْمَنْعِ ، فَلَا جَرَمَ أَنْ نُقِلَ اتِّخَاذُهَا وَالْعَمَلُ بِهَا عَنْ جَمَاعَةٍ مِنْ الصُّوفِيَّةِ الْأَخْيَارِ وَغَيْرِهِمْ ؛ اللَّهُمَّ إلَّا إذَا تَرَتَّبَ عَلَيْهِ رِيَاءٌ وَسُمْعَةٌ فَلَا كَلَامَ لَنَا فِيهِ

(Ucapannya: tidak mengapa menggunakan misbahah) dengan huruf mim dikasrahkan adalah alat untuk bertasbih, ada pun yang tertulis dalam Al Bahr, Al Hilyah, dan Al Khazain adalah tanpa mim. Disebutkan dalam Al Mishbah: “Subhah adalah manik-manik yang terangkai, kata ini menunjukkan bahwa ia adalah bahasa arab asli. Al Azhari berkata: “Itu adalah kata yang muwalladah (tidak asli Arab), bentuk jamaknya seperti ghurfah dan ghuraf.

Yang masyhur secara syariat adalah penggunaaan subhah ini terdapat pada shalat sunnah. Disebutkan dalam Al Maghrib: “karena dia bertasbih padanya.”

Ada pun dalil kebolehannya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, At Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Hibban, dan Al Hakim, dia berkata: shahih sanadnya.

أَنَّهُ دَخَلَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى امْرَأَةٍ وَبَيْنَ يَدَيْهَا نَوًى أَوْ قَالَ حَصًى تُسَبِّحُ بِهِ فَقَالَ أَلَا أُخْبِرُكِ بِمَا هُوَ أَيْسَرُ عَلَيْكِ مِنْ هَذَا أَوْ أَفْضَلُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي السَّمَاءِ وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي الْأَرْضِ وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا بَيْنَ ذَلِكَ وَسُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا هُوَ خَالِقٌ وَاللَّهُ أَكْبَرُ مِثْلَ ذَلِكَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ مِثْلَ ذَلِكَ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ مِثْلَ ذَلِكَ

“Bahwa dia (Sa’ad) bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masuk menemui seorang wanita, dan dihadapan wnaita itu terdapat biji-bijian atau kerikil. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Maukah kau aku beritahu dengan yang lebih mudah bagimu dari ini atau lebih utama? (Lalu nabi menyebutkan macam-macam dzikir yang tertulis dalam teks di atas ..)HR. Abu Daud No. 1500, At Tirmidzi No. 3568, katanya: hasan gharib. Ibnu Hibban No. 837

Lalu katanya: “Nabi tidak melarangnya. Beliau hanyalah menunjukkan cara yang lebih mudah dan utama, seandainya makruh tentu Beliau akan menjelaskan hal itu kepada wanita tersebut. Dari kandungan hadits ini, kita dapat memahami bahwa subhah tidak lebih dari kumpulan bijian yang dirangkai dengan benang. Masalah seperti ini tidak berdampak pada pelarangan. Maka, bukan pula kesalahan jika ikut menggunakannya sebagaimana sekelompok kaum sufi yang baik dan selain mereka. Kecuali jika didalamnya tercampur muatan riya dan sum’ah, tetapi kami tidak membahas hal ini.Imam Ibnu ‘Abidin, Raddul Muhtar, 5/54. Mawqi’ Al Islam

Al Imâm al Syaukânî ( Zaidiyah ). membahas hadits-hadits terkait biji-bijian tasbih dan berkomentar sebagai berikut

بأن الأنامل مسئولات مستنطقات يعني أنهن يشهدن بذلك فكان عقدهن بالتسبيح من هذه الحيثية أولى من السبحة والحصى . والحديثان الآخران يدلان على جواز عد التسبيح بالنوى والحصى وكذا بالسبحة لعدم الفارق لتقريره صلى اللَّه عليه وآله وسلم للمرأتين على ذلك . وعدم إنكاره والإرشاد إلى ما هو أفضل لا ينافي الجواز

“ … sesungguhnya ujung jari jemari akan ditanyakan dan diajak bicara, yakni mereka akan menjadi saksi hal itu. Maka, menghimpun (menghitung) tasbih dengan jari adalah lebih utama dibanding dengan untaian biji tasbih dan kerikil. Dua hadits yang lainnya, menunjukkan bolehnya menghitung tasbih dengan biji, kerikil, dan juga dengan untaian biji tasbih karena tidak ada bedanya, dan ini perbuatan yang ditaqrirkan (didiamkan/disetujui) oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terhadap dua wanita tersebut atas perbuatan itu. Dan, hal yang menunjukkan dan mengarahkan kepada hukum yang lebih utama tidak berarti menghilangkan hukum boleh.”

Imam Asy Syaukani, Nailul Authar, 2/316-317. Maktabah Ad Da’wah Al Islamiyah.

Syaikh Abu al ‘Ala Muhammad Abdurrahmân bin Abdurrahîm Al Mubârakfûri Rahimahullah Beliau menerangkan dalam Tuhfah al Ahwâdzi, ketika menjelaskan hadits Ibnu Amr dan Yusairah binti Yasir, sebagai berikut:

وَفِي الْحَدِيثِ مَشْرُوعِيَّةُ عَقْدِ التَّسْبِيحِ بِالْأَنَامِلِ وَعَلَّلَ ذَلِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَدِيثِ يَسِيرَةَ الَّذِي أَشَارَ إِلَيْهِ التِّرْمِذِيُّ بِأَنَّ الْأَنَامِلَ مَسْئُولَاتٌ مُسْتَنْطَقَاتٌ يَعْنِي أَنَّهُنَّ يَشْهَدْنَ بِذَلِكَ ، فَكَانَ عَقْدُهُنَّ بِالتَّسْبِيحِ مِنْ هَذِهِ الْحَيْثِيَّةِ أَوْلَى مِنْ السُّبْحَةِ وَالْحَصَى ، وَيَدُلُّ عَلَى جَوَازِ عَدِّ التَّسْبِيحِ بِالنَّوَى وَالْحَصَى حَدِيثُ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ أَنَّهُ دَخَلَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى اِمْرَأَةٍ وَبَيْنَ يَدَيْهَا نَوًى أَوْ حَصًى تُسَبِّحُ بِهِ الْحَدِيثَ ، وَحَدِيثُ صَفِيَّةَ قَالَتْ دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَيْنَ يَدَيَّ أَرْبَعَةُ آلَافِ نَوَاةٍ أُسَبِّحُ بِهَا الْحَدِيثَ .

“Hadits ini menunjukkan disyariatkannya bertasbih menggunakan ujung jari jemari, alasan hal ini adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits Yusairah yang diisyaratkan oleh At Tirmidzi bahwa ujung jari jemari akan ditanyakan dan diajak bicara, yakni mereka akan menjadi saksi hal itu. Dalam hal ini, menghitung tasbih dengan menggunakan ujung jari adalah lebih utama dibanding dengan subhah (untaian biji tasbih) dan kerikil. Dalil yang menunjukkan kebolehan menghitung tasbih dengan kerikil dan biji-bijian adalah hadits Sa’ad bin Abi Waqqash, bahwa beliau bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masuk menemui seorang wanita yang dihadapannya terdapat biji-biji atau kerikil yang digunakannya untuk bertasbih (Al Hadits). Dan juga hadits Shafiyah bin Huyai, dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masuk menemuiku dan dihadapanku ada 4000 biji-bijian yang aku gunakan untuk bertasbih. (Al Hadits).” Tuhfah al Ahwâdzi, 9/458. Cet. 2, 1383H-1963M. Al Maktabah As Salafiyah, Madinah. Tahqiq: Abdul Wahhab bin Abdul Lathif

Syaikh Abdul Azîz bin Abdullâh bin Bâz Al Hambali . pernah ditanya tentang seseorang yang berdzikir setelah shalat menggunakan subhah, bid’ahkah?

Beliau menjawab:

المسبحة لا ينبغي فعلها ، تركها أولى وأحوط ، والتسبيح بالأصابع أفضل ، لكن يجوز له لو سبح بشيء كالحصى أو المسبحة أو النوى ، وتركها ذلك في بيته ، حتى لا يقلده الناس فقد كان بعض السلف يعمله ، والأمر واسع لكن الأصابع أفضل في كل مكان ، والأفضل باليد اليمنى ، أما كونها في يده وفي المساجد فهذا لا ينبغي ، أقل الأحوال الكراهة

“Berzikir dengan subhah tidak patut dilakukan, meninggalkannya adalah lebih utama dan lebih hati-hati. Tetapi boleh baginya kalau bertasbih menggunakan kerikil atau misbahah (alat tasbih) atau biji-bijian dan meninggalkan subhah tersebut dirumahnya, agar manusia tidak mentaklidinya. Dahulu para salaf -pun melakukannya. Masalah ini lapang, tetapi menggunakan jari adalah lebih utama pada setiap tempat, dan utamanya dengan tangan kanan. Ada pun membawanya ditangan ke masjid, sepatutnya jangan dilakukan, minimal hal itu makruh.”

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin al-Hanafi pernah ditanya tentang hadits:

‘Setiap bid’ah adalah sesat’,

artinya tidak ada bid’ah kecuali sesat dan tidak ada bid’ah yang baik, bahkan setiap bid’ah adalah sesat.
Pertanyaan:

apakah tasbih dipandang sebagai bid’ah? Apakah ia termasuk bid’ah yang baik atau yang sesat?

Beliau menjawab:

tasbih tidak termasuk bid’ah dalam agama, karena manusia tidak bertujuan beribadah kepada Allah swt dengannya. Tujuannya hanya untuk menghitung jumlah tasbih yang dibacanya, atau tahlil, atau tahmid, atau takbir. Maka ia termasuk sarana, bukan tujuan.

Akan tetapi yang lebih utama darinya adalah bahwa seseorang menghitung tasbih dengan jari jemarinya:

  • karena ia adalah petunjuk dari Nabi saw. Ahmad 6/270, Abu Daud 1501, at-Tirmidzi 3583, Ibnu Hibban 842, al-Hakim 1/457 (2007) dan ia tidak memberi komentar dan dishahihkan oleh adz-Dzahabi, dihasankan oleh Albani dalam ‘Shahih Abu Daud’ 1329.
  • Karena menghitung tasbih dan yang lainnya dengan alat tasbih bisa membawa kepada kelalaian. Sesungguhnya kita menyaksikan kebanyakan orang-orang yang menggunakan tasbih, mereka bertasbih sedangkan mata mereka menoleh ke sana ke sini, karena telah menjadikan jumlah tasbih menurut jumlah yang mereka inginkan dari tasbihnya atau tahlilnya atau tahmidnya atau takbirnya. Maka engkau mendapatkan mereka menghitung biji-bii tasbih ini dengan tangannya, sedangkan hatinya lupa sambil menoleh ke kanan dan kiri. Berbeda dengan orang yang menghitungnya dengan jemarinya, maka biasanya hal itu lebih menghadirkan hatinya.
  • Alasan ketiga: sesungguhnya menggunakan tasbih bisa membawa kepada riya. Sesungguhnya kita menemukan kebanyakan orang yang menyukai banyak bertasbih, menggantungkan di leher mereka tasbih yang panjang. Seolah-olah mereka berkata: lihatlah kepada kami, sesungguhnya kami bertasbih kepada Allah swt sejumlah bilangan ini. Aku meminta ampun kepada Allah swt dalam menuduh mereka seperti ini, akan tetapi dikhawatirkan terjadinya hal itu.

Tiga alasan ini menuntut manusia agar meninggalkan tasbih dengan biji tasbih ini dan hendaklah ia bertasbih kepada Allah swt dengan jari jemarinya.

Kemudian, sesungguhnya yang utama agar menghitung tasbih dengan jari tangan kanannya, karena Nabi saw menghitung tasbih dengan tangan kanannya, dan tanpa diragukan lagi yang kanan lebih baik dari pada yang kiri. Karena inilah yang kanan lebih diutamakan atas yang kiri. Nabi saw melarang seseorang makan atau minum dengan tangan kirinya dan menyuruh manusia makan dengan tangan kanannya. Nabi saw bersabda:

يَا غُلاَمُ, سَمِّ اللهَ وَكُلْ بِيَمِيْنِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ

Wahai gulam (anak kecil), bacalah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah yang dekat denganmu.” Al-Bukhari 5376 dan Muslim 2022

Dan beliau saw bersabda:

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِيْنِهِ وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِيْنِهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ

Apabila seseorang darimu makan maka hendaklah ia makan dengan tangan kanannya, dan apabila minum hendaklah ia minum dengan tangan kanannya. Sesungguhnya syetan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya.” Muslim 2020

Tangan kanan lebih utama dengan tasbih daripada tangan kiri karena mengikuti sunnah dan mengambil dengan kanan. Dan Nabi saw menyukai yang kanan dalam memakai sendal, bersisir, bersuci dan dalam seluruh perkaranya. Atas dasar inilah, maka membaca tasbih dengan alat tasbih tidak termasuk bid’ah dalam agama, namun hanya sebagai sarana untuk mencatat hitungan. Ia merupakan sarana yang tidak utama, dan yang utama darinya adalah menghitung tasbih dengan jemarinya.

http://www.islamhouse.com/p/278161 . Syaikh Ibnu Utsaimin –Nur ‘ala darb, halqah kedua hal 68

Kedua, sebagian ulama menganggapnya Mustahab

Imam Muhammad Abdurrauf Al Munawi Rahimahullah menjelaskan dalam kitab Faidhul Qadir Syarh Al Jami’ Ash Shaghir, ketika menerangkan hadits Yusairah:

وهذا أصل في ندب السبحة المعروفة وكان ذلك معروفا بين الصحابة فقد أخرج عبد الله بن أحمد أن أبا هريرة كان له خيط فيه ألفا عقدة فلا ينام حتى يسبح به وفي حديث رواه الديلمي نعم المذكر السبحة لكن نقل المؤلف عن بعض معاصري الجلال البلقيني أنه نقل عن بعضهم أن عقد التسبيح بالأنامل أفضل لظاهر هذا الحديث

“Hadits ini merupakan dasar terhadap sunahnya subhah (untaian biji tasbih) yang sudah dikenal. Hal itu dikenal pada masa sahabat, Abdullah bin Ahmad telah meriwayatkan bahwa Abu Hurairah memiliki benang yang memiliki seribu himpunan, beliau tidaklah tidur sampai dia bertasbih dengannya. Dalam riwayat Ad Dailami: “Sebaik-baiknya dzikir adalah subhah.” Tetapi mu’allif (yakni Imam As Suyuthi) mengutip dari sebagian ulama belakangan, Al Jalal Al Bulqini, dari sebagian mereka bahwa menghitung tasbih dengan jari jemari adalah lebih utama sesuai zhahir hadits.”

[10] Faidhul Qadir, 4/468. Cet. 1, 1415H-1994M. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah, Beirut – Libanon

Ketiga

Kelompok yang mengharamkan.

Sebagian Ulama secara tegas melarang dan membid’ahkan penggunaan Tasbih untuk berdzikir.

Inilah yang masyhur dari pendapat al Imâm al Albâni dan murid-muridnya. Pendapat Ini juga didukung oleh Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr. Bahkan syaikh Bakr Abu Zaid memiliki risalah khusus yang menegaskan larangan menggunakan biji-bijian tasbih dalam menghitung Dzikir.

Dalil-dalil mereka adalah sebagai berikut:

  • Hal itu menyalahi Sunnah dan tidak disyariatkan oleh Rasulullah bahkan bid’ah yang tidak memiliki asal dalam syariat sedangkan permasalah ibadah adalah Tauqifiyah oleh karena itu ibadah kepada Allah itu hanya boleh dilakukan jika ada syariatnya

Adanya riwayat ketidaksukaan Ibnu Mas’ud dan Sahabat lain terhadap hal tersebut.

  • Ibnu Waddhah Al Zahabi menyebutkan biografinya dalam siyar 13/445 : Berkata Ibnu al Fardhi : dia banyak mengklaim sabda-sabda nabi Shallallâhu Alaihi Wasallâm padahal itu merupakan kata-katanya sendiri, dia banyak melakukan kesalahan yang telah diketahui berasal darinya, keliru, dan melakukan tashif, serta tidak memiliki ilmu dalam bahasa arab dan juga fiqh
  1. berkata dalam kitabnya al Bid’u wan nahyu anha: Dari Ibrahim berkata : “Dahulu ‘Abdullah (Ibnu Mas’ud) membenci berdzikir dengan tasbih seraya bertanya : “Apakah kebaikan-kebaikannya telah diberikan kepada Allah?” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf No. 7667) dengan sanad shohih. Dari as-Shalt bin Bahram berkata : “Ibnu Mas’ud melewati seorang wanita yang berdzikir dengan tasbih, maka segera beliau potong tasbih lalu membuangnya. Kemudian beliau melewati seorang lai-laki berdzikir dengan kerikil, maka beliau menendangnya, kemudian berkata : “Sungguh kalian telah mendahului Rasulullah, kalian melakukan bid’ah dengan zhalim dan ilmu kalian telah melebihi ilmu Sahabat-Sahabat Muhammad.

Dalam Mushannaf Ibnu Abi syaibah disebutkan: telah menceritakan kepadaku yahya Bin Said al Qatthâni dari Al Taimi dari Abi Tamimiyah dari seorang perempuan bani Kulaib yang berkata bahwa ia dilihat oleh Aisyah sedang berdzikir dengan biji-biji tasbih, maka Aisayah berkata: Mana Syawahid? yang dimaksud adalah jari jemari. Dari Atsar ini bisa dipahami bahwa Asiyah menegur perempuan tersebut dan menyuruhnya menggunakan jari, namun sayang dalam atsar ini ada rawi yang mubham

Pendapat Ibnu Taimiyah dan Tarjih

Ibnu Taimiyah memberi pendapat yang wasath dalam hal ini, beliau mengatakan Majmu Fatâwa 22/506

وعد التسبيح بالأصابع سنة كما قال النبي للنساء سبحن واعقدن بالأصابع فإنهن مسؤولات مستنطقات

وأما عده بالنوى والحصى ونحو ذلك فحسن وكان من الصحابة رضي الله عنهم من يفعل ذلك وقد رأى النبي أم المؤمنين تسبح بالحصى واقرها على ذلك وروى أن أبا هريرة كان يسبح به

وأما التسبيح بما يجعل في نظام من الخرز ونحوه فمن الناس من كرهه ومنهم من لم يكرهه , وإذا أحسنت فيه النية فهو حسن غير مكروه

“Menghitung tasbih dengan jari jemari adalah sunah, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada kaum wanita: “Bertasbihlah dan menghitunglah dengan jari jemari, karena jari jemari itu akan ditanya dan diajak bicara.”

Adapun menghitung tasbih dengan biji-bijian dan batu-batu kecil (semacam kerikil) dan semisalnya, maka hal itu perbuatan baik (hasan). Dahulu sebagian sahabatpun (Radhiallahu ‘Anhum )ada yang memakainya dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah melihat ummul mukminin bertasbih dengan batu-batu kecil dan beliau menyetujuinya. Diriwayatkan pula bahwa Abu Hurairah pernah bertasbih dengan batu-batu kecil tersebut

hukum menggunakan tasbih sebagai alat untuk berdzikir adalah boleh dan mubah bukan bid’ah, inilah yang masyhur dari pendapat para ulama dari 4 Mazhab dan juga ulama-ulama Salafi serta sesuai dengan kaidah bahwa asal sesuatu adalah Mubah selama tidak ada dalil yang melarang. Adapun jika ada kesan menganggapnya hasan maka hal tersebut adalah kelaziman dari hukum mubah yang diniatkan untuk kebaikan.

Dalam matan zubad, Ibnu Ruslan berkata:

و خص ما يباح باستوى الفعل والترك على السواء

لكن إذا نوى بأكله القوى لطاعة الله به ما قد نوى

Dikhususkan kesamaan dalam hukum mubah baik meninggalkan maupun melakukan

Namun jika seseorang makan agar kuat dalam ketaatan kepada Allah, maka ia mendapatkan sesuai yang ia Niatkan.

Syaikh Muhammad bin shalih al Utsaimin al-Hanafi menjelaskan ketika membahas tentang hukum Mubah dalam kitab al ushul min ilmil Ushul:

Seandainya ada kaitannya dengan perintah karena keberadaannya (yakni suatu yang mubah) sebagai wasilah terhadap hal yang diperintahkan, atau ada kaitannya dengan larangan karena keberadaannya sebagai wasilah terhadap hal yang dilarang, maka bagi hal yang mubah tersebut hukumnya sesuai dengan keadaan wasilah tersebut.

Adapun yang menyunahkan, maka hal tersebut keliru Karena tidak ada dalil khusus yang mengindikasikan hal tersebut, bahkan Rasulullah menyarankan agar menggantinya dengan menggunakan jemari.

Adapun yang mengharamkannya dengan dalil dari kebencian Ibnu Mas’ud, maka tidak diketahui secara jelas ada indikasi Ibnu Mas’ud membenci biji-biji tasbih, namun yang dzohir adalah beliau membenci menghitung tasbih (zikir). Dalam menyebutkan atsar-atsar terkait hal tersebut.

Ibnu Abi syaibah al-Hanafi membuat “fasal tentang orang-orang yang membenci menghitung-hitung tasbih” lalu beliau menyebutkan riwayat dari Ibnu Mas’ud dan ibnu Umar.

Begitu juga yang terdapat dalam Sunan Al Dârimi, hal tersebut tidak mengindikasikan secara tegas tentang kebencian beliau.

Apakah terkait menunggu waktu shalat dengan menghitung-hitung zikir dan melakukannya secara berjamaah dengan pimpinan satu orang ataukah kebencian beliau terkait kerikil-kerikilnya saja.

namun yang dzahir larangan tersebut adalah terkait yang pertama.

Wallahu a’lam

Peringatan

Fatwa-fatwa terkait kebolehan menggunakan tasbih selalu diiringi dengan beberapa peringatan. Ibnu Taimiyah mengatakan setelah membolehkan tasbih:

“Adapun Tasbih yang dibentuk seperti manik-marik yang terangkai dan semisalnya, maka sebagian manusia ada yang membencinya dan sebagian lagi tidak membencinya. Kalau niatnya baik maka hal itu menjadi baik dan tidak makruh. Adapun menggunakannya tanpa keperluan atau memamerkannya kepada manusia, misanya digantungkan dileher atau dijadikan gelang atau semisalnya, maka hal ini bisa saja riya terhadap manusia atau merupakan hal-hal yang dapat menyebabkan riya dan menyerupai orang yang riya. Yang pertama (riya, red) adalah haram sedangkan yang kedua minimal makruh. Sesunggunhya riya kepada manusia dalam ibadah-ibadah khusus seperti shalat, puasa, zikir, dan membaca qur’an adalah termasuk dosa yang paling besar.”

Allah berfirman:

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4

الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5

الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ (6

وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ (7

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat (4) (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya (5) orang-orang yang berbuat riya (6) dan enggan (menolong dengan) barang berguna (7)

Qs al Mâûn:4-7

Allah juga berfirman:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali

Qs Ali Imrân 142

Senada dengan peringatan diatas juga difatwakan oleh Faqihuzzaman Ibnu utsaimin dan Ibnu Bâz, oleh karena itu hendaknya kita menggunakan tasbih jika ada hajat saja untuk menghitung zikir yang jumlahnya cukup banyak seperti zikir pagi dan petang yang merepotkan jika dihitung dengan jemari. Adapun untuk zikir setelah shalat dan senantiasa membawa tasbih ketika shalat atau bepergian seperti berlaku pada sebagian orang yang diklaim alim, maka hal tersebut makruh menurut Syaikh Ibnu Bâz. Lagipula yang secara tegas dianjurkan oleh Rasulullah dan disepakati kesunnahannya oleh ummat adalah menggunakan jemari karena Ia akan menjadi saksi diakherat atas zikir-zikir yang telah kita ucapkan.

Wallahu a’lam Bishawâb

Wahhabi Mengkafirkan Banyak Orang Islam


 Wahhabi Mengkafirkan Banyak Orang Islam Karena Salah Memahami Hadits Ini.


Hadits yang kita maksud adalah sabda Rasulullah:

” من حلف بغير الله فقد كفر أو أشرك ” رواه الترمذي

Hadits ini sering disalahpahami oleh sebagian orang hanya karena membaca zhahirnya saja tanpa mengaitkannya dengan ayat atau hadits-hadits lain yang terkait.

Sehingga mereka memahami bahwa setiap orang yang bersumpah dengan selain nama Allah dihukumi kafir atau musyrik.

Pada dasarnya sumpah seorang hamba yang diperbolehkan dan dianggap sah menurut syara’ adalah dengan menyebut nama Allah atau salah satu sifat-Nya. Sedangkan Allah ta’ala bersumpah dengan makhluk yang Ia kehendaki. Asy-Sya’bi mengatakan:

” الخالق يقسم بما شاء من خلقه، والمخلوق لا يقسم إلا بالخالق، والله أقسم ببعض مخلوقاته ليعرفهم قدرته لعظم شأنها عندهم ولدلالتها على خالقها ولتنبيه عباده على أن فيها منافع لهم كالتين والزيتون”.

” Allah bersumpah dengan makhluk yang Ia kehendaki, sedangkan makhluk tidak bersumpah kecuali dengan sang Khaliq. Allah ta’ala bersumpah dengan sebagian makhluk-Nya untuk menunjukkan hamba atas kekuasaan-Nya karena sangat agungnya makhluk tersebut di mata para hamaba, dan karena makhluk tersebut membuktikan wujud penciptanya, juga untuk mengingatkan hamba bahwa pada makhluk-makhluk tersebut terdapat banyak manfaat bagi mereka seperti buah Tin dan Zaytun”.

Sedangkan makna hadits tersebut yang sebenarnya adalah seperti diuraikan oleh al Hafizh Ibnu Hajar dalam Fath al Bari:

” قال الشافعي: أخشى أن يكون الحلف بغير الله معصية –ومعناه أنه مكروه كراهة شديدة-، وقال إمام الحرمين: المذهب القطع بالكراهة، وجزم غيره بالتفصيل، فإن اعتقد في المحلوف به من التعظيم ما يعنقده في الله حرم الحلف به وكان بذلك الاعتقاد كافرا وعليه يتنزل الحديث المذكور، وأما إذا حلف بغير الله لاعتقاده تعظيم المحلوف به على ما يليق به من التعظيم فلا يكفر بذلك ولا تنعقد يمينه ” ا.هـ .

 Al Imam asy-Syafi’i mengatakan:

“Aku takut bahwa bersumpah dengan selain Allah adalah maksiat (maksud beliau adalah makruh dengan kemakruhan yang sangat). Imam al Haramain mengatakan:

Madzhab Syafi’i dengan pasti menyatakan makruh.

Sedangkan selain imam al Haramain merinci masalah ini bahwa jika orang yang bersumpah tersebut meyakini pengangungan terhadap yang disebut dalam sumpahnya seperti halnya ia mengagungkan Allah haram baginya bersumpeh seperti itu dan dengan keyakinan tersebut ia menjadi kafir dan inilah maksud hadits tersebut.

Sedangkan jika ia hanya meyakini pengagungan terhadap yang disebutnya seperti pengagungan yang layak bagi dia, orang tersebut tidak kafir dan tidak jadi sumpahnya”.

Larangan untuk bersumpah dengan selain Allah ini adalah bermakna karahah, bukan tahrim, dengan dalil beberapa hadits Nabi, di antaranya sabda Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam:

” أفلح – وأبيه – إن صدق “

Maknanya: “Dia beruntung –demi ayahnya- jika ia benar dalam perkataanya tersebut”.

Bahkan suatu ketika ‘Umar bersumpah dengan nama ayahnya dan terdengar oleh Nabi, Rasulullah hanya melarang perbuatan Umar dengan mengatakan:

” ألا إن الله ينهاكم أن تحلفوا بآبائكم، فمن حلف فليحلف بالله أو ليصمت” رواه البخاري ومسلم والدارمي وأحمد وأبو داود والترمذي والنسائي وابن ماجه

Maknanya: “Sesungguhnya Allah melarang kalian untuk bersumpah dengan (menyebut) bapak-bapak kalian, jadi barangsiapa mau bersumpah hendaklah bersumpah dengan nama Allah atau jika tidak hendaklah ia diam”

(H.R. al Bukhari, Muslim, ad-Darimi, Ahmad dan Ashab as-Sunan)

Anda lihat… Rasulullah tidak mengatakan kepada Umar: “Engkau telah musyrik..!!!”. Anda katakan kepada orang2 Wahhabi yang biasa mengkafirkan secara mutlak orang yang bersumpah bukan dengan nama Allah: “Apakah anda mau mengkafirkan sahabat Umar?”, ………….

Dengan demikian, bersumpah dengan nama Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam dikecualikan dari larangan tersebut, karena Allah telah bersumpah dengannya dalam ayat:

لعمرك إنهم لفي سكرتهم يعمهون

Dalam ayat ini Allah bersumpah dengan kehidupan Rasul-Nya, sebagaiman dinyatakan oleh mayoritas ahli tafsir dari kalangan ulama salaf dan khalaf. Karenanya Imam Ahmad ibn Hanbal menyatakan dalam salah satu riwayat dari beliau bahwa boleh bersumpah dengan Nabi dan orang yang melanggar sumpahnya dengan menyebut nama Nabi wajib melaksanakan kaffarahnya. Al Hafizh as-Suyuthi mengatakan dalam kitabnya al Iklil fi Istinbath at-Tanzil tentang ayat tersebut:

” واستدل بها أحمد بن حنبل على أن من أقسم بالنبي صلى الله عليه وسلم لزمته الكفارة ” ا.هـ .

” Ayat ini dijadikan oleh Imam Ahmad bin Hanbal sebagai dalil bahwa orang yang bersumpah dengan Nabi Wajib membayar kaffarat (jika melanggarnya) “.
Ini dikarenakan Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam adalah salah satu dari bagian dua syahadat yang tidak sah iman seseorang tanpa-nya.

Abou Fateh

IFTITAH – Hadits Dha’if` : as salam `alan nabiy`


assalamu`alaika ayyuhannabiyyu warah matullahi wabarakatuh

Termasuk kesalahan di dalam shalat adalah ketika membaca tasyahud dengan lafadz ..assalamu`alaika ayyuhannabiy…

Al-Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahihnya, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: Maka jika salah seorang dari kalian mengerjakan shalat, hendaklah ia mengucapkan … assalamu`alaika ayyuhannabiyyu warah matullahi wabarakatuh…(HR. Bukhari II/311)

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: Telah disebutkan di dalam sebagian riwayat adanya perubahan kata ganti pada diri Rasulullah saw. Ada yang menerangkan bahwa kata ganti yang digunakan adalah dengan kata ganti orang kedua, hal ini dilafadzkan dalam kata `alaika, namun ketika Rasulullah wafat, ternyata tidak lagi menggunakan kata ganti orang kedua.

Disebutkan di dalam Shahih Bukhari pada kitab Al-Isti`dzan XI/56 nomor 6265 sebuah riwayat dari jalur Abu Ma`mar, dari Ibnu Mas`ud setelah menyebutkan hadits tentang doa tasyahud, dia berkata: Sedangkan Nabi saw sedang berada di tengah-tengah kami, ketika telapak tanganku dilepas, kamipun berkata assalam, ya`ni assalamu`alanabiy.

Sedangkan Abu `Uwanah meriwayatkan dalam kitab shahihnya, kemudian diriwayatkan juga oleh As-Siraj, Al-Jauzaqi, Abu Nu`aim Ashbahani dan Al-Baihaqi dari beberapa jalur periwayatan yang bersambung pada Abu Nu`aim guru Al-Bukhari dengan redaksi sebagai berikut: Ketika telapak tanganku dilepas, kami berkata `as salam `alan nabiy`. Dalam redaksi ini tanpa menyebutkan ya`ni (maksudnya). Begitu juga diriwayatkan oleh Abu Syaibah dari Abu Nu`aim.

Imam As-Subki dalam kitab Syarhul Minhaj setelah memaparkan riwayat dari Abu `Uwanah, menyatakan: Jika ucapan itu benar dari para sahabat, hal itu menunjukkan bahwa penggunaan kata ganti `ka` (pada `alaika) tidak wajib diucapkan karena cukup mengucapkan assalamu`alan nabiyy`. Saya (Ibnu Hajar) berkata: Keshahihan hadits ini tidak perlu diragukan lagi, selain itu saya juga menemukan riwayat lain yang menguatkan hadits ini.

Abdur Razzaq berkata: Kami diberi kabar oleh Ibn Juraij, aku diberi kabar oleh `Atha bahwa sahabat Rasulullah saw dulu mengatakan assalamu `alaika ayyuhan nabiy ketika beliau masih hidup. Namun setelah beliau wafat, para sahabat mengatakan as salam `alan nabiy, sanad hadits ini shahih. (Fathul Bary II/314, perkataan Ibnu Hajar ini telah dinukil dan disepakati oleh bebarapa ulama diantaranya Al-Qasthallani, Az-Zarqani, Al-Lakuni dan lain sebagainya)

Ibnu Hajar juga berkata: Yang jelas, para sahabat dulu mengatakan assalam `alaika ayyuhan nabiy, yakni dengan kata `alaika ketika beliau masih hidup. Sedangkan setelah Rasululah saw wafat, mereka tidak lagi menyebutkan dengan lafadz seperti itu, namun yang mereka ucapkan adalah assalamu `alan nabiy. (Fathul Bary XI/56)

Syaikh Al-Bany dalam Kitab Sifat Shalat Nabi menjelaskan tentang riwayat doa tasyahud dari Ibnu Mas`ud: Lafadz Ibnu Mas`ud yang berbunyi assalamu `alan nabiyy, oleh para sahabat, semua diucapkan dengan lafadz assalamu`alaika ayyuhan nabiy dalam tasyahud ketika Nabi masih hidup. Ketika beliau sudah wafat lafadz tersebut mereka ganti dengan: assalamu`alan nabiy. Tentunya lafadz ini dipergunakan oleh para sahabat berdasarkan persetujuan dari Nabi. Hal ini diperkuat oleh riwayat bahwa `Aisyah mengajarkan lafadz tersebut kepada para sahabat ketika membaca tasyahud, yaitu bacaan assalamu`alan nabiy (dalam HR.Siraj dalam Musnadnya (9/1/2) dan Mukhallash dalam kitab Al-Fawaid (11/54/1) dengan sanad shahih) Sifat Shalat Nabi, Syaikh Al-Bany

HADITS INI DI DHA’IFKAN OLEH Prof. KH. Ali Mustafa Yaqub. MA. ( lihat shalat nabi )

TERORIS = AlBaniisme – Salafiisme – Wahabiisme – itulah mereka.


Cucitangan

Wahabi-Salafy-AlBani, Osama Bin Laden, Sufi Deoband-Thaliban dan Pengikut Sayyid Qutb

.

Pada tanggal 30 September 2001, seorang analis Timur Tengah dari kantor berita BBC, Roger Hardy, menulis satu artikel yang berjudul “Di Dalam Islam ‘Wahhabi’.” Hardy sendiri menulis bahwa istilah “Wahhabi” seringkali disalahgunakan untuk tujuan menghina.

“Istilah ‘Wahhabi’ seringkali digunakan secara bebas. Media Rusia, sebagai contoh, menggunakan istilah tersebut untuk mencela aktivis Islam di Asia Tengah dan Kaukasus sebagaimana mereka mencela muslim di negara mereka, namun media Barat menggunakan istilah yang samar dan bersifat menghina, yaitu ‘Islam Fundamental’.”

Akan Tetapi, amat disayangkan, Hardy terjatuh pada kesalahan yang sama dalam menggunakan istilah ini ketika ia menyatakan bahwa Osama bin Laden adalah seorang “Wahhabi.”

“Osama bin Laden, divonis secara resmi oleh Amerika Serikat sebagai tersangka utama di balik serangan 11 September terhadap Amerika, dia adalah seorang kelahiran Saudi dan Seorang ‘Wahhabi’.”

Kesalahan tersebut adalah persangkaannya bahwa karena Osama dilahirkan di Arab Saudi, maka ia  seorang “Wahhabi.” Padahal, ini adalah kesimpulan dangkal yang telah seringkali disebutkan di media—dan layak untuk dibantah.

Hubungan Bin Laden dengan Sufi

Osama bin Laden datang dari satu keluarga Yaman di Hadramaut, sebuah daerah pantai di Yaman yang sudah diketahui secara umum sebagai basis satu kelompok sempalan dalam Islam yang dikenal dengan sebutan Sufi.[1] Secara ringkas, ajaran sufi bisa disebut sebagai lawan yang pas untuk “Wahhabi.”

Bin Laden sendiri tidak terlalu peduli dengan keyakinan yang berbeda. Beberapa pernyataannya menunjukkan bahwa ia masih melakukan praktek-praktek ajaran Sufi tertentu.

Dia pun menjadikan Taliban sebagai teman dekat dan pelindungnya.

Telah diketahui secara umum bahwa mayoritas dari kelompok ini adalah penganut tarekat Sufi Deobandi.

Bagaimana pun, ada kontradiksi antara anggapan bahwa Osama bin Laden adalah pelaku praktek-praktek Sufi dan pengakuannya bahwa dia bukanlah seorang Sufi.

Terlepas dari itu semua, Bin Laden memperlihatkan bahwa dia tidak terlalu peduli dengan permasalahan keyakinan dan ibadah—yang orang-orang “Wahhabi” sangat menaruh perhatian dalam hal ini. Hal tersebut karena kelompok Osama bin Laden tidak membedakan antar keyakinan, selama mereka berada di barisan yang sama.

Kesalahan penggunaan istilah lainnya yang seringkali diulang di kebanyakan media adalah pendapat bahwa Taliban adalah “Wahhabi.” Pada tanggal 10 Desember 2001, Ron Kampeas menulis di Washington Post, “‘Wahhabi’ adalah satu keyakinan puritan yang menolak perubahan, salah satu bentuk Islam yang menyetir Taliban.”

Faktanya, ini adalah ketidakakuratan yang sangat besar dan mengindikasikan bahwa mereka yang mengulang-ulang klaim seperti ini telah melakukan pendekatan kepada sesuatu yang kompleks dengan cara sederhana.

Meskipun dalam artikel Roger Hardy dari BBC terdapat kesalahan pada pernyataan yang menyatakan bahwa Osama adalah seorang “Wahhabi,” dia tidak seperti Kampeas—yang tetap mengulang-ulang kesalahan ini—saat mengalamatkan (Taliban) kepada tarekat Sufi Deobandi.

“Tapi Taliban bukanlah ‘Wahhabi.’ Mereka diketahui sebagai tarekat Deobandi; dinamakan sebagai Deobandi sebagai nisbat kepada suatu kota kecil, Deoband, Himalaya, India. Di sinilah gerakan tersebut didirikan, pada tahun 1860-an di masa pendudukan Inggris.”

Pada 9 November, Hamid Mir dari harian Pakistan, The Dawn, mewawancarai Osama bin Laden, sesaat setelah Kabul jatuh.

Hamid Mir :       “Setelah pengeboman Amerika ke Afghanistan pada 7 Oktober, anda mengatakan kepada TV Al-Jazeera bahwa serangan 11 September dilakukan oleh sebagian muslim. Bagaimana anda mengetahui bahwa mereka adalah muslim?”

Bin Laden: “Amerika sendirilah yang menyebarkan daftar tersangka 11 September. Mereka mengatakan bahwa nama-nama mereka terlibat dalam serangan tersebut.

Mereka semua adalah muslim. 15 di antara mereka diketahui berasal dari Arab Saudi, 2 dari Uni Emirat Arab (UEA) dan 1 dari Mesir.

Berdasarkan informasi yang penulis miliki, mereka semua adalah penumpang. Al-Fatihah telah dibacakan untuk mereka di rumah-rumah mereka. Namun Amerika mengatakan bahwa mereka adalah pembajak.”

Maksud pernyataan bin Laden “Al-Fatihah telah dibacakan untuk mereka di rumah-rumah mereka” adalah pembacaan surat pembuka dalam Al-Qur’an untuk jiwa-jiwa yang telah meninggal—praktek yang umum dilakukan oleh kaum Sufi.

Perbuatan yang seperti ini tidak ada dasarnya dalam Islam, baik dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah atau pun contoh perbuatan dari generasi pertama Islam. Atau lebih tepatnya, ini adalah praktek bid’ah yang dibuat-buat oleh orang-orang Sufi.

Pernyatan tersebut mengindikasikan bahwa Osama bin Laden tidak memiliki pengetahuan tentang Islam.

Jika demikian, bagaimana bisa ia diidentikkan dengan prinsip dan praktek-praktek “Wahhabi”?

Bin Laden Adalah Seorang Quthbi[2]

Berkat kemakmuran yang dihasilkan oleh perusahaan Bin Laden,[3] Osama bin Laden menggunakan uang keluarganya untuk hidup bebas dengan gaya hidup yang serba luks. Karena hal ini, dia tidak pernah duduk dengan ulama “Wahhabi,” sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu atau tekun dalam mempelajari akidah Islam.

Ketidaktahuannya terus berlanjut, bahkan, setelah menjadi seorang yang religius dan berangkat ke Afghanistan—bertempur dengan Uni Soviet.

Kenyataan bahwa ia gagal dalam mengambil manfaat dari belajar di bawah pengawasan para ulama di Arab Saudi membuatnya mencampuradukkan pemikiran Quthbi baru yang sedang naik daun.

Pada akhirnya, dia benar-benar menolak metode “Wahhabi” dan mengeluarkan orang banyak dari lingkaran Islam. Oleh karena itu, bagaimana bisa dikatakan bahwa Osama bin Laden adalah seorang “Wahhabi”?

Pada akhirnya, Osama bin Laden dan Al-Qaeda-nya bukanlah “Wahhabi,” tetapi Quthbi.

Melihat urgensi hal ini, Robert Worth dari New York Times mengatakan, “Tapi jika ada satu orang yang layak disebut sebagai bapak intelektual Osama bin Laden dan teman-teman terorisnya, mungkin ia adalah seorang penulis dan aktivis Mesir: Sayyid Quthub.”[4]

Keberadaan Quthbiyah Sebagai Ideologi

Dalam sebuah artikel yang berjudul “Terror, Islam and Democracy,” Ladan dan Roya Boroumand menyatakan dengan tepat bahwa “kebanyakan kader muda Islam hari ini adalah intelektual dan pewaris spiritual dari Quthbiyah, salah satu sayap dari gerakan Ikhwanul Muslimin.”

Mereka berdua juga menyatakan,

“Saat rezim otoriter dari Presiden Gamal Abdul Nasser menekan Ikhwanul Muslimin pada tahun 1954 (yang pada akhirnya berakhir dengan penggantungan Sayyid Quthub pada 1966), banyak dari mereka yang mengasingkan diri ke Aljazair, Arab Saudi, Irak, Suriah dan Maroko. Dari sana, mereka menyebarkan pemahaman revolusi Islam—termasuk alat-alat pengorganisasian dan ideologi yang dipinjam dari pemahaman totaliter Eropa.”[5]

Mengomentari hubungan yang berkembang antara ideologi revolusi Eropa dengan doktrin Quthbiyah, John Gray dari The Independent berargumen dalam sebuah artikel berjudul “How Marx Turned Muslim” bahwa Quthbiyah bukanlah berasal dari tradisi Islam, tapi jauh lebih berakar di dalam sumber pemikiran Eropa.

Dia menjelaskan bahwa Sayyid Quthub “Menyatukan banyak unsur yang diambil dari ideologi yang berasal dari Barat[6] ke dalam pemikirannya.” Quthbiyah juga dapat dilihat sebagai “campuran eksotis, hasil kawin silang, dalam pertemuan antara ideologi radikal Eropa dengan intelektualitas Islam.”[7]

Gray menjelaskan bahwa Quthbiyah adalah gerakan revolusioner modern dan tidak merepresentasikan bentuk asli dari Islam yang sebenarnya.

“Inspirasi dari pemikiran Quthbi tidak banyak yang berasal dari Al-Qur’an, tapi cenderung kepada pemikiran Barat yang berasal para pemikir mereka seperti Nietzsche,[8] Kierkegaard[9] dan Heidegger[10]. Pemikiran Quthbiyah—yang merupakan bingkai pemikiran untuk pengembangan politik dan teologi Islam radikal—adalah respon terhadap pengalaman Eropa pada abad ke-20 berupa ‘the death of God[11] yang merupakan sesuatu yang besar dalam tradisi Islam.[12] Quthbiyah sama sekali tidak tradisional.

Seperti semua ideologi fundamentalis,[13] ini tidak salah lagi sangatlah modern.”[14]

Berbicara tentang hubungan yang tidak terbantahkan lagi dan betul-betul ada antara Bin Laden dengan Quthbiyah, Amir Taheri dari Arab News mengatakan, “Pada saat ini, Maududiyah-Quthbiyah[15] menyediakan sebuah ideologi yang Bin Laden bisa tumbuh di dalamnya.” [16]

Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali, ulama salaf yang diketahui telah menulis beberapa buku bantahan terhadap kesalahan-kesalahan Sayyid Quthub, menyimpulkan tentang Quthbiyah sebagai berikut.

“Quthbi adalah para pengikut Sayyid Quthub. Segala yang kalian lihat berupa kesengsaraan, pertumpahan darah dan masalah-masalah yang terjadi pada dunia Islam hari ini adalah berasal dari metode (orang ini).”[17]

Sebuah Kegagalan dalam Membedakan

Pada tanggal 26 Oktober 2001, The Guardian mencetak sebuah laporan berjudul “Salafee Views Unite Terror Suspects: The Binding Tie” yang dibuat oleh John Hooper dan Brian Whitaker. Mereka mengklaim, “Beragam kelompok teroris yang melancarkan serangan 11 September 2001 terlihat menganut dasar pondasi yang sama dengan Salafi dalam menginterpretasikan Islam.”

Dengan kelicikan untuk mencoba menghubungkan antara metodologi Al-Qaeda dengan “Wahhabi,” mereka melaporkan sebuah laporan yang menyesatkan sebagai berikut,

“Para penyelidik yang memburu jaringan Osama Bin Laden telah menemukan bahwa seluruh tersangka teroris yang ditangkap di Eropa dalam 10 bulan terakhir mengikuti kelompok Salafi dalam menafsirkan Islam.”

Selanjutnya, mereka menghubung-hubungkan interpretasi Islam seperti ini dengan keyakinan yang dihasilkan dari wilayah Arab Saudi dan institusi-institusi pendidikannya.[18]

“Hubungan antara Salafi dengan jaringan teroris Bin Laden akan amat sangat mempermalukan Arab Saudi, sedangkan keluarga Kerajaan Arab Saudi telah menginvestasikan jumlah yang tidak sedikit untuk menyebarkan manhaj salaf. Pusat untuk pendidikan dan pengekspor pemikiran Salafi adalah Universitas Islam Madinah, Arab Saudi, yang didirikan oleh rajanya pada 1961 ‘untuk menyampaikan pesan abadi Islam  ke seluruh dunia’.”

Jika saja John Hopper dan Briant Whitaker meneliti asal mula dari ideologi Al-Qaeda—seperti diungkapkan sebelum ini—yang dibentuk atas dasar tulisan tangan Sayyid Quthub—seorang warga Mesir dan bukan Arab Saudi, maka pembaca mereka akan mendapat manfaat yang berlipat-lipat.

Jika saja mereka meneliti subjek ini dengan hati-hati, mereka akan mengetahui bahwa apa yang diajarkan secara resmi di Universitas Islam Madinah adalah analisis mendalam tentang kekeliruan sistem kepercayaan Khawarij. Para pelajar di Universitas Islam Madinah belajar dari pengajar-pengajar yang telah disebutkan sebelumnya, (seperti) Syaikh Muhammad bin Hadi’ Al-Madkhali.

Jadi, jelas, permasalahan ideologi teroris kontemporer bukan berasal dari keyakinan Salafi, baik mereka itu berasal dari Arab Saudi atau pun bukan, baik dari dunia muslim itukah atau bukan. Media dan para pemikir Barat telah gagal untuk membedakan antara Islam yang murni, Ahlus-Sunnah, dengan gerakan revolusioner abad ke-20: Quthbiyah—yang itu adalah metode Khawarij yang dibangkitkan kembali.

Akan menjadi lebih akurat, bagi Hooper dan Whitaker, bila mengatakan bahwa semua gerakan Islam pada hari ini, yang keras atau pun tidak, bersumber dari Hasan Al-Banna, Abul A’la Al-Maududi dan Sayyid Quthub. Tidak ada dari orang-orang ini yang merupakan ulama Islam, tapi, mereka adalah orang yang pada masa kini diistilahkan sebagai “pemikir Islam.” Selain itu, Hasan Al-Banna[19] dan Sayyid Quthub adalah penganut ajaran Sufi, bukan ajaran Salaf.

Singkatnya, Osama bin Laden dan Al-Qaedanya memiliki lebih banyak ikatan emosional dengan para orientalis dan media, ketimbang kepada kambing hitam media: Salafi. Meskipun para Quthbi yang datang dari semenanjung Arab masih bertahan dengan pengakuan bahwa mereka itu Salafi atau mengutip salah satu isi perkataan ulama Ahlus-Sunnah, Salafi, sumber penyimpangan mereka tetap berasal dari keyakinan Khawarij, Mu’tazilah dan Sufi dari negeri-negeri muslim melalui orang-orang seperti Sayyid Quthub. Kelompok Salafi berlepas diri dari orang-orang seperti Sayyid Quthub dan Osama bin Laden.

وَمِنَ الإِبْلِ اثْنَيْنِ وَمِنَ الْبَقَرِ اثْنَيْنِ قُلْ آلذَّكَرَيْنِ حَرَّمَ أَمِ الأُنثَيَيْنِ أَمَّا اشْتَمَلَتْ عَلَيْهِ أَرْحَامُ الأُنثَيَيْنِ أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاء إِذْ وَصَّاكُمُ اللّهُ بِهَـذَا فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللّهِ كَذِباً لِيُضِلَّ النَّاسَ بِغَيْرِ عِلْمٍ إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Dan sepasang dari unta dan sepasang dari lembu. Katakanlah: “Apakah dua yang jantan yang diharamkan ataukah dua yang betina, ataukah yang ada dalam kandungan dua betinanya. Apakah kamu menyaksikan di waktu Allah menetapkan ini bagimu? Maka siapakah yang lebih lalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan?” Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” (Q.S. Al-An’am [6]:144).

SUMBER : Naskah pracetak Buku VIRUS WAHABI (Mitos Negatif Bagi Salafi) , Penerbit Toko Bagus Publishing Bandung, 2010 untuk http://kaahil.wordpress.com


[1] Ajaran sufi tidak dikenal pada masa Rasulullahn dan para sahabatnya. Tidak pula diketahui pada masa tiga generasi awal umat Islam. Sufi pertama kali muncul di Bashrah, Irak, saat semua orang berlebihan dalam beribadah dan menghindari kehidupan dunia—sesuatu yang telah diperingatkan dalam Al-Qur’an,“Dan mereka mengada-adakan kehidupan rahib, padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka.” (Q.S. Al-Hadiid [57] : 27).

Sufi adalah salah satu madzhab yang terpengaruh oleh pemikiran yang percaya bahwa ilmu dan keselamatan dibawa oleh jiwa melalui pelatihan spiritual. Ahlus Sunnah percaya bahwa ilmu yang benar dan keselamatan bisa dicapai melalui ibadah yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Para Sufi percaya bahwa syaikh mereka juga dapat dijadikan rujukan dalam masalah ibadah. Mereka akan memerintahkan untuk melakukan suatu ibadah yang tidak ada dasarnya dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Orang yang ekstrem di kalangan mereka seringkali mengaku-aku bahwa Allah berada di dalam salah satu ciptaanNya (seperti  dalam hati manusia). Secara terus-menerus, mereka menganggap atribut dan kekuatan yang ada pada syaikh Sufi mereka adalah milik Allah, seperti kekuatan untuk melihat yang gaib. Mereka seringkali mengaku bahwa dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah makna kulit, makna lahir, sama baiknya dengan makna yang lebih dalam, makna batin. Mereka yang memegang makna kulit, makna lahir, adalah mereka yang diketahui mempraktekkan Islam Ahlus Sunnah. Makna mendalam, makna batin, dari Al-Qur’an dan As-Sunnah hanya diketahui oleh mereka. Syaikh-syaikh ini seringkali mengaku, karena mereka telah memahami makna dalam dan makna batin, maka mereka tidak perlu lagi untuk shalat, puasa, atau apa pun—yang bahkan Rasulullahn tidak mendapat keringanan dalam hal-hal semisal itu.

[2] Quthbi adalah mereka yang mengikuti dan menganut  pemikiran Sayyid Quthub, seorang dai modern berpemikiran revolusioner. Ideologi mereka diistilahkan dengan Quthbiyah.

[3] Adalah Muhammad bin Awad bin Laden, pendiri Saudi Bin Laden Group. Pada tahun 1931, ia mendirikan perusahaan konstruksi untuk kepentingan pembangunan jalan-jalan di beberapa kota di Kerajaan Arab Saudi. Bermula dari pembangunan jalan-jalan itu, perusahaan ini terus merambah ke berbagai hal di bidang konstruksi bangunan, sampai kemudian publik mengenalnya sebagai satu perusahaan favorit sang raja Saudi; Muhammad bin Laden menjadi kontraktor favorit raja Abdul Aziz bin Saud, pendiri Kerajaan Arab Saudi modern. Salah satu proyek prestisius perusahaan Bin Laden ini adalah renovasi Masjid Al-Harom pada tahun-tahun 70-an, abad 20 kemarin. (Ed.)

[4] Robert Worth, “The deep intellectual roots of Islamic Terror,” The New York Times, 13 Oktober, 2001.

[5] Ladan dan Loya Boroumand, “Terror, Islam and Democracy,” The Journal of Democracy, April 2002.

Catatan: Sejak Ladan dan Laya Boroumand menghubungkan Quthbiyah dengan Totaliterisme Eropa dengan benar, maka dapat kita katakan bahwa tidak benar orang-orang tersebut (baca: Quthbi) disebut sebagai Islamis. Bahkan, lebih tepat untuk menjuluki mereka sebagai aktivis muslim. Meskipun mereka itu muslim, ideologi revolusioner mereka tidak dapat disandarkan kepada Islam.

[6] Berkaitan dengan pengaruh Eropa terhadap para pengikut Quthub, Robert Worth dari The New York Times mencatat bahwa ini “sebagaimana Fathi Yakan, salah satu murid Quthub, yang pada tahun 1960 menulis, ‘Peletak dasar revolusi Perancis diletakkan oleh  Rousseau, Voltaire dan Montesquieu. Rencana revolusi komunis terwujud berkat Marx, Engels dan Lenin. Begitu juga pada kita’.” Robert Worth, “The Deep Intellectual Roots of Islamic Terror,” The New York Times, 13 Oktober 2001.

[7] Pemikir-pemikir revolusioner seperti Abul A’la Al-Maududi, Sayyid Quthub, Hasan Turabi dari Sudan dan pemikir berkebangsaan Iran, Ali Syariati, dari sisi pemikiran, terpengaruh Barat setelah mereka menetap di sana. Meskipun mereka menolak gaya hidup barat dan menyangkalnya, mereka juga terpengaruh oleh hal itu, lalu memformulasikan ideologi reformasi radikal. Mereka adalah orang-orang yang tidak banyak tahu soal Islam dan akidahnya, kemudian mereka membuat pemikiran dan analisis politik sebagai dasar akidah mereka sendiri serta “mengislamkannya.”

[8] Friedrich Nietzsche—seperti yang dikenal banyak orang—adalah salah seorang pemikir Jerman yang paling berpengaruh terhadap pemikir-pemikir Eropa pada abad ke-19. Lahir pada tahun 1844, ia tumbuh di bawah asuhan ibunya. Dengan keadaan seperti itu, ia kemudian belajar di Universitas Bonn dan Universitas Leipzig, di Jerman sekarang. Sekitar dekade 80-an, abad 19, ia banyak menelurkan karya-karya tulis. Salah satu karyanya yang banyak diterbitkan dan dibaca orang adalah Also Sprach Zarathustra. Memperhatikan dan menyikapi rasionalitas orang-orang di Eropa dan kaitan dengan agama mereka pada waktu itu, ia adalah orang yang pernah menyimpulkan ke publik luas, “Tuhan telah mati.” Dalam karyanya yang lain, Anti-Christ, nyata sekali kebenciannya terhadap agama Kristen. Pada tahun 1889, akhirnya, ia menjadi gila. Meskipun gila, lewat buku-buku yang ditulisnya, ia turut mempengaruhi Adolf Hitler sampai mendorongnya melakukan pemusnahan massal orang-orang Yahudi pada Perang Dunia II. Pada tahun 1900, dalam usia yang tergolong muda, ia meninggal dunia. (Ed.)

[9] Lahir pada tanggal 5 Mei tahun 1813, ia dikenal publik dengan nama Sǿren Kierkegaard. Ia adalah seorang pemikir Denmark yang religius dan banyak mempengaruhi pemikiran tokoh-tokoh filsafat Eropa. Banyak berkarya—sekitar 20 buku lebih dalam 14 tahun, ia menerbitkan karya-karyanya tersebut dengan nama samaran (pseudonyms). Kini, banyak kalangan yang mencoba (dan memang) mengaitkan filsafat eksistensialisme dengan pemikiran filsafatnya. Pada tahun 1855, dalam usia yang sangat muda, ia meninggal dunia. (Ed.)

[10] Lahir pada tahun 1889, Martin Heidegger dikenal sebagai seorang pemikir Jerman yang berpengaruh pada abad ke-20 kemarin. Ia belajar di Universitas Freiburg dan diangkat menjadi asisten Edmund Husserl—bapak aliran filsafat fenomenologi. Heidegger sendiri mulai mengajar di universitas pada tahun 1915. Kemudian, dari tahun 1923 sampai tahun 1928 ia pindah mengajar ke Universitas Marburg. Karena dukungannya terhadap Adolf Hitler dan partai Nazinya, ia dipecat dari aktifitas mengajar. Heidegger banyak berbicara tentang “ada.” Manusia, menurutnya, harus mengerti tentang “ada,” sebab ini penting. Karena itu, fokus pandangan filsafatnya adalah “ada” ini (Apa itu “ada”? Mengapa kita ada? Bagaimana cara kita untuk ber-ada?). Ia kemudian meninggal dunia pada tahun 1976. (Ed.)

[11] Bermula dari keinginan untuk memisahkan agama dan politik, kemudian beralih untuk memisahkan antara agama dan sains, orang-orang Eropa, pada abad ke-19 menyadari bahwa memang agama dan sains tidak akan bisa bersatu, tidak akan berjalan selaras. Mereka yang setuju akan pandangan ini menjadikan buku Charles Darwin (1809 – 1882), The Origin of Species by Means of Natural Selection, sebagai bukti telak dunia sains-ilmiah yang pertama akan anggapan ini. Karena itu, manusia, menurut mereka, harus memilih salah satu: agama atau rasionalitas sains. Orang-orang yang memilih rasio (akal), yang ternyata lebih banyak, meyakini bahwa kebenaran adalah sesuatu yang dapat dibuktikan dengan akal; rasionalitas adalah “agama” itu sendiri. Lebih dari itu, mereka yakin bahwa hanya orang-orang dungu yang percaya kepada Tuhan. Mereka menolak Tuhan atau—dengan meminjam kata-kata Nietzsche—mereka telah membunuh Tuhan. “Kita telah membunuhNya,” tulis Nietzsche dalam bukunya, The Gay Science, “kau dan aku—kita semua pembunuhNya.” Ternyata, ketiadaan Tuhan tersebut, dan ini disadari oleh sebagian mereka, pada satu titik tertentu, membuat semacam lubang kosong di dalam diri-diri mereka, yang pada suatu waktu sebelum itu pernah diisi oleh Tuhan. (Ed.)

[12] Konsep yang menyatakan kematian Tuhan ini, baik itu secara tersurat atau pun tersirat, adalah sangat tidak mungkin. Allah l berfirman dalam Al-Qur’an,

“Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup lagi tidak mati. Bertasbihlah dengan memuji-Nya. Cukuplah dia Maha mengetahui dosa-dosa hambaNya.” (Q.S Al- Furqaan [25] : 58).

[13] Akan terasa lebih tepat kalau Gray mengatakan, “Seperti semua ideologi ekstrimis, tidak salah lagi ini modern” daripada menggunakan kata yang bermakna ambigu “fundamentalis.”

[14] John Gray, “How Marx turned Muslim,” The Independent, 27 Juli, 2002.

[15] Taheri merujuk kepada hubungan antara Abul A’la Al-Maududi, “pemikir” muslim Asia Selatan, dengan Sayyid Quthub, yang sangat terpengaruh oleh tulisan-tulisan Al-Maududi. Berkenaan dengan hal ini, tentang Sayyid Quthub The Telegraph menyatakan, “Penulis dan Pemikir Mesir, mengambil ide Abul A’la Al-Maududi (1903 – 1979) yang menyatakan bahwa dunia muslim kini telah kembali kepada masa jahiliyah yang tidak bertuhan.” “A-Z of Islam,” The Telegraph, 15 November 2002.

[16] Amir Taheri, “Bin Laden no longer exist: Here is why,” The Arab News, 29 Agustus, 2002.

[17] Syaikh Rabi’ bin Hadi dalam “Imaam al-Albaanee dan Irjaa.” (sumber: 11 Januari 2002, Telelink dari Inggris, www.salafipublications.com (Article ID: MSC060014)).

[18] Dalam sebuah wawancara yang berjudul “Arab Saudi’s Wahhabis Are Not Spreading Intolerance,” The New Perspective Quarterly mewawancari Dr. Khaled M. Al-Ankary—menteri pendidikan tinggi Arab Saudi dan ketua dari Konferensi Islam untuk Pendidikan yang Lebih Tinggi. Ia ditanya, “Banyak kritik yang menyatakan bahwa sejak pembajak-pembajak pesawat dan pembom bunuh diri datang dari Arab Saudi, maka pasti ada sesuatu dalam sistem pendidikan dan pengajaran yang mendasari mereka menjadi teroris. Sebagai menteri yang bertanggung jawab atas pendidikan, bagaimana anda menanggapinya?”

Dr. Al-Ankary menjawab dengan mengatakan, “Apakah ada fakta statistik atau logis pada pendapat ini? Jika seandainya ya, maka sistem pendidikan di Amerika Serikat juga perlu untuk diperiksa karena kasus penembakan di Columbine atau bahkan di Waco, Texas. Jika seandainya ya, maka sistem di Kerajaan Inggris perlu untuk diubah karena IRA.”

Catatan: Maksud Al-Ankary, Al-Qaeda dan IRA sama-sama menjuluki diri mereka sendiri sebagai “pejuang kebebasan” yang bertempur atas dasar agama. Kedua kelompok ini jelas-jelas adalah organisasi teroris, namun tidak ada seorang pun yang berbicara untuk mengganti dasar dari sistem pendidikan di Irlandia atau mengubah agama, budaya dan masyarakat di sana.

“Arab Saudi Wahhabis Are Not Spreading Intolerance,” New Perspective Quarterly, Jilid 19 #2, Musim panas 2002.

[19] Hasan Al-Banna (1906 – 1949), seorang pemikir Sufi dan aktivis politik, adalah pendiri Ikhwanul-Muslimin. Dia mengaku sendiri bahwa ia meluangkan waktu untuk mengunjungi kuburan-kuburan dan tempat-tempat keramat dalam jangka waktu beberapa minggu sekali yang kebanyakan perbuatan syirik dilakukan di sana. Dalam bukunya, Mudhakkiratud-Da’wah, Al-Banna mengungkapkan daya tariknya kepada ajaran Sufi; bagaimana ia menyertai aliran Sufi Hasafiyyah dan bagaimana ia menyisihkan waktu yang banyak di tempat keramat di Damanhur. Hasan al-Banna, Mudhakiratud-Da’wah, hal. 24-30. Terjemah oleh: Salafi Publications.

Catatan: Hasan Al-Banna, Abul A’la Al-Maududi, Sayyid Quthub dan semua pengikut mereka jelas bukan “Wahhabi.”

Sumber : http://kaahil.wordpress.com/2010/05/11/kegagalan-dalam-membedakan-wahabi-salafy-osama-bin-laden-sufi-thaliban-dan-pengikut-sayyid-qutb/comment-page-1/#comment-1365