Biografi DR. Ahmad Lufti Fathullah


A. Data Pribadi

Nama: Ahmad Lutfi Fathullah
Tempat tanggal Lahir: Kuningan Jakarta, 25 Maret 1964.
Putra Betawi asli yang merupakan salah satu cucu Guru Mughni,
seorang tokoh ulama Betawi kenamaan di era akhir 1800 dan awal 1900-an.

Beristrikan Jehan Azhari, dan sudah dikaruniai 3 orang anak :
1. Hanin Fathullah
2. Muhammad Hadi Fathullah
3. Rahaf Fathullah


B. Pendidikan

  • SDN 01 Kuningan Timur Jakarta
  • Pondok Modern Gontor Ponorogo
  • Damascus University (S1)
  • Jordan University (S2)
  • University Kebangsaan Malaysia (S3)

C. Guru-guru

Di antara guru-guru yang pernah mengajar baik formal maupun non-formal antara lain :

  1. KH. Imam Zarkasyi
  2. Prof. DR. Syeikh Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi
  3. Prof. DR. Syeikh Nuruddin ‘Itr
  4. Prof. DR. Syeikh Mustafa Diib al-Bugha
  5. Prof. DR. Syeikh Wahbah al-Zuhaily
  6. Prof. DR. Syeikh Hammam Abdurrahim Sa’id
  7. Prof. DR. Muhammad al-Zuhaily
  8. Syeikh Husein al-Khattab
  9. Syeikh Abdul Qadir al-Arna’ut
  10. Syeikh Syu’aib al-Arna’ut

D. Aktifitas Akademis

Dosen Pascasarjana pada :

  • Universitas Indonesia
  • Universitas Islam Negeri Jakarta
  • Universitas Islam Negeri Bandung
  • Universitas Muhammadiyah Jakarta
  • Universitas Muhammadiyah Surakarta
  • Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta
  • Program Interdiciplyneri Islamic Studies Mc Gill Canada – UIN Jakarta
  • Universitas Islam Ibnu Khaldun Bogor
  • Universitas al-Aqidah, Jakarta
  • University Kebangsaan Malaysia, Bangi Slangor (Dosen Penguji tesis/disertasi)

Dosen pada :

  • Fak. Ushuluddin UIN Jakarta
  • Fak. Ushuluddin UIN Bandung
  • Fak. Ushuluddin IIQ Jakarta
  • Pendidikan Muballigh al-Azhar Jakarta
  • Pendidikan Kader Ulama’ Pondok Modern Gondor

Aktifitas lain:

  • Guru SD/SMPIT al-Mughni Jakarta
  • Direktur Perguruan Islam al-Mughni Jakarta
  • Pembimbing ibadah haji PT Dian Nusa Insani Jakarta

E. Majlis Ta’lim

Mengajar di Beberapa Majlis Ta’lim secara rutin dan kerap di :

  • Majlis Ta’lim Al-Bahtsi wa al-Tahqiq al-Salam, Jakarta
  • Masjid Baitul Mughni, Jakarta
  • Masjid al-Tin, Jakarta
  • Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta
  • Masjid Baitus Salam, Gedung BIP Jakarta
  • Majlis Ta’lim al-Sa’adah, Ciputat
  • Masjid al-Hijrah, Jakarta
  • Masjid Shalahuddin, Kalibata, Jakarta
  • Masjid al-Musyawarah, Kelapa Gading Jakarta
  • Pusat Islam Bogor


F. Karya Tulis

Buku:

  • Hadis-Hadis Keutamaan al-Qur’an
  • Rumus-rumus Hadis & Rijal al-Hadis
  • Seri Hadis Untuk Anak :
    • Sayangi Kami Sayangi Sesama
    • Aku Anak Muslim
    • Aku Bisa Karena Belajar
    • Menuju Generasi Qur’ani
  • Hadits-hadits Lemah & Palsu dalam Kitab Durratun Nashihin
  • Menguak Kesesatan Aliran Ahmadiyah
  • Pribadi Rasulullah SAW: Telaah kitab Taudhih al-Dala’il fi Tarjamat Hadits al-Syama’il
  • Pahala dan Keutamaan Haji, Umrah, Ziarah dalam hadis-hadis Rasulullah SAW.
  • Fiqh Khitan Perempuan
  • Fiqh Nakerwan Hongkong
  • Memulai Perubahan Menggapai Kesuksesan: Tips Mengatur Gaji Nakerwan
  • Jalan Santri menjadi Ulama : Kiat & Tips
  • Selangkah lagi Mahasiswa UIN Jadi Kiyai
  • Ketika Ulama Jakarta Harus Memilih Gubernur DKI
  • Menanti Alumni SDIT jadi Menteri
  • Membuka Pintu Rezeki melalui Wirid Pagi dan Petang
  • 40 Hadis Keutamaan Dzikir & Berdzikir
  • Membaca Pesan-pesan Nabi dalam Pantun Betawi
  • Mencerdaskan Otak, Menjaga Hati Mahasiswa – Mahasiswi

Dalam Proses Penyelesaian:

  • Ragam-ragam Hadis
  • Kamus & Rumus-rumus Hadis
  • Pengantar Ilmu Ilal Hadis
  • Fiqh Harta Gono-gini
  • Fiqh & Keutamaan Shalat Dhuha dalam Hadis-hadis Rasulullah SAW
  • Mari Berdoa : Filosofi, Fiqh, Etika dan Kumpulan
  • Pesan Allah dalam Hadis-hadis Qudsi
  • Potret Surga & Neraka dalam Hadis-hadis Rasulullah SAW
  • Mencari pintu surga di sudut-sudut kota London

G. Karya Multimedia

  • DVD: Metode Belajar Interaktif Hadis dan Ilmu Hadis
  • CD: Potret Pribadi dan Kehidupan Rasulullah SAW
  • DVD Interaktif: Hadis-hadis Keutamaan al-Qur’an
  • DVD Interaktif: Hadis Sahih Al-Bukhari, Terjemah dan Takhrij interaktif (Edisi 1)
  • DVD Interaktif: Indeks Tematik al-Quran

Dalam Proses Penyelesaian:

  • DVD Interaktif: Fiqh Ramadhan
  • DVD Interaktif: Manasik Haji dan Umrah
  • DVD Interaktif: Ensiklopedia Sholat
  • DVD Interaktif: Potret Surga dan Neraka
  • DVD Interaktif: Ensiklopedia Sholat
  • DVD Interaktif: Hadis-hadis Zikir dan Berzikir
  • DVD Interaktif: Arbain al-Nawawi

H. Karya Ilmiah Akademik

Tesis:

رسوم التحديث في علوم الحديث للجعبري: تحقيق ودراسة

Disertasi:
Kajian Hadis Kitab Durrat al-Nasihin

Karya Tulis Bersama:

  • Kamus Percakapan Amiyah Suriah-Indonesia
  • Relasi Hubungan Suami-Isteri : Kajian Baru Kitab Uqud al-Lujjain
  • Kembang Setaman Perkawinan
  • Kitab “Uqud al-Lujjayn” Tahqiq wa al-Dirasah (bahasa Arab)


I. Aktifitas lain:

  • Direktur Pusat Kajian Hadis Jakarta
  • Hikmah pagi TVRI, sebagai narasumber dalam program Kajian Kitab Kuning Sahih Bukhari

 

Ustadz Ahmad Sarwat Lc.


.

.

.

Apa sih istimewanya lahir di Mesir…?… Begitu saya bertanya saat memulai ceramah di Wisma Nusantara di Nasser City Cairo di depan para mahasiswa Indonesia yang sedang belajar disana.

Bukan apa-apa saya bertanya begitu, sebab pak MC sebelum mempersilahkan saya naik mimbar, sempat kasih komentar bahwa penceramah kita ini sangat istimewa, karena beliau lahir di Mesir.

Maka saya jawab,

Firaun juga lahir di Mesir kok. Gak ngaruh kale.

Cuma memang kadang kalau pas membaca CV saya dan melihat/tgl lahir,banyak yang bertanya, kok bisa lahir di Mesir? Gimana ceritanya?

Jawabnya ya bisa saja.

Karena kebetulan kedua orang tua saya memang pernah menimba ilmu di negeri itu. Lalu mereka menikah disana dan lahirlah saya di Cairo tahun 1969, tepatnya pada tanggal 19 September.

Saat itu Mesir masih di bawah pimpinan Gamal Abden Naser. Salah seorang tokoh yang menjadi menteri pendidikan bernama Sarwat Ukasyah.

Konon dari nama tokoh itulah saya diberi nama Sarwat, yang dalam bahasa Arab bermakna kekayaan atau potensi.

Tsarwatul alam, berarti kekayaan alam. atau rajulun tsari, berarti orang yang kaya. Tapi saya sendiri lebih senang memperkenalkan diri dengan sebutan Ahmad. Kenapa?

Karena nama itu adalah nabi Nabi Muhammad SAW, dan terdapat di dalam Al-Quran.

Dan ketika Isa ibnu Maryam berkata:

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُم مُّصَدِّقاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّراً بِرَسُولٍ يَأْتِي مِن بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءهُم بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُّبِينٌ ﴿٦
.

” Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad.”

QS. As-Shaf : 6

Selain itu buat telinga orang Indonesia, nama Ahmad lebih mudah diingat. Bahkan buat orang arab, nama Ahmad juga sangat populer. Jadi kalau kenalan, nama yang selalu saya sebut untuk diri saya adalah : Ahmad.

Tapi kalau saya bertemu dengan orang Mesir, lain lagi ceritanya. Biasanya saya akan bilang bahwa nama saya adalah Sarwat. Sambil ditambahi bahwa saya (numpang) lahir di negeri ente, ya sidi.

Biasanya orang Mesir lantas girang bukan main kalau bertemu dengan orang yang punya nama khas Mesir. Apalagi sempat numpang lahir di kampungnya.

enta mashri miah bil miah, gitu biasanya orang Mesir berkomentar. Maksudnya, kamu ini orang Mesir asli 100%.

Ala syan dzuqta muya niel, lantaran udah nyobain air sungai nil. Halah… aya-aya wae akang Mesir atuh.

Orang tua saya, baba, begitu saya menyapanya, menggenapkan 16 tahun tinggal di Mesir. Kuliah di Cairo University lalu bekerja menjadi lokal staf di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Cairo.

Sedangkan ibu saya, mama, begitu saya menyapanya, kuliah di Al-Azhar University di kuliatul banat, selepas dari kuliah di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Pernikahan mereka di tahun 1968 , boleh dibilang sejarah pertama pernikahan sesama mahasiswa dan mahasiswi Indonesia di Cairo.

Jadi konon pernikahan itu dilangsungkan secara sederhana, dihadiri oleh kawan-kawan dan juga para staf KBRI. Pak Dubes yang menjawab saat itu kalau tidak salah adalah Jenderal Mokoginta.

Baba sebelum menikah sudah tinggal di sebuah flat di kawasan Sayyidah Zaenab, salah satu pojokan Cairo. Dan di rumah itulah kemudian kami tinggal. Di dekatnya ada masjid peninggalan sejarah, yaitu masjid Sayyidah Zaenab, puteri Rasulullah SAW.

Di usia 2-3 tahun, baba mama memutuskan untuk mengamalkan ilmu mereka di tanah air, walau pun hidup di Cairo -konon- lebih enak dan sudah establish. Apalagi punya kedudukan sebagai staf di KBRI, gajinya dolar pula.

Tapi panggilan tugas untuk berdakwah dan membenahi umat di tanah air sebagaimana cita-cita kedua orang tua dulu tidak bisa ditampik. Maka pulanglah kami ke tanah air di tahun 1972. Praktis saya cuma numpang lahir doang di Mesir. Bisa sih ngomong Mesir dikit-dikit, paling cuma bisa bilang, yakhrab betak….uppss.

Urusan belajar bahasa Arab tidak saya dapatkan sewaktu di Mesir, tapi ketika kuliah di LIPIA Jakarta. Tapi dosen-dosen yang mengajar memang orang Mesir asli. Jadi kalau dibilang saya belajar bahasa arab dari orang Mesir, sebenarnya tidak salah-salah amat.

Bahkan sampai sekarang pun saya masih menjalin kontak dengan Doktor Syihab An-Namir, dosen sewaktu di LIPIA yang kini tinggal di Hadaiq Hilwan, pinggiran Cairo. Beliau dulu mengajar Nahwu sewaktu saya di LIPIA. Dan ketika kemarin saya sempat menginjakkan kaki kembali ke Cairo, beliau sempat saya temui di flatnya.

Dan kini Mesir menjadi negeri sejuta kenangan buat saya pribadi. Di Mesir saya lahir dan dari bangsa Mesir belajar bahasa arab dan Syariah Islam.

Ketika baca novel karya Habiburrahman, saya hanya senyum-senyum saja.

Semua tempat yang diceritakan di novelnya itu memang pernah saya kunjungi. Bahkan gaya kehidupan Mesir yang khas itu pun memang sangat saya kenal. Kenapa? Karena saya lahir di Mesir

 

http://aburedza.wordpress.com/category/ahmad-sarwat/

Shalat berjamaah di MASJID

.

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ سُمَيٍّ مَوْلَى أَبِي بَكْرٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ السَّمَّانِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي التَّهْجِيرِ لَاسْتَبَقُوا إِلَيْهِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي الْعَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

.
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya dia berkata, saya membaca di hadapan Malik dari Sumai maula Abu Bakar dari Abu Shalih as-Samman dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Kalau manusia tahu pahala dalam adzan dan shaf pertama kemudian mereka tidak mendapatkan jalan keluar untuk mendapatkannya kecuali dengan cara mengundi, niscaya mereka akan mengadakan undian.

Dan seandainya mereka mengetahui pahala bersegera ke masjid, niscaya mereka akan bersegera kepadanya.

Dan kalau mereka mengetahui pahala shalat Isya’ dan shubuh, niscaya mereka akan mendatangi keduanya walaupun dengan cara merangkak

Nasihat dari [ PPPA ] Sang Ustadz


 

 

KEBERKAHAN PAGI HARI

pada 30 Maret 2011 jam 15:07

Islam ternyata sangat peduli dengan dinamika dan semangat beraktivitas di awal waktu. Setiap hari selalu diawali dengan datangnya waktu pagi. Waktu pagi merupakan waktu istimewa. Ia selalu diasosiasikan sebagai simbol kegairahan, kesegaran dan semangat. Barangsiapa merasakan udara pagi niscaya dia akan mengatakan bahwa itulah saat paling segar alias fresh sepanjang hari. Pagi sering dikaitkan dengan harapan dan optimisme. Pagi sering dikaitkan dengan keberhasilan dan sukses. Sehingga dalam peradaban barat-pun dikenal suatu pepatah berbunyi: ”The early bird catches the worm.” (Burung yang terbang di pagi harilah yang bakal berhasil menangkap cacing).

 

Dalam sebuah hadits ternyata Nabi Muhammad shallallahu ’alaih wa sallam juga memberi perhatian kepada waktu pagi. Sehingga di dalam hadits tersebut beliau mendo’akan agar ummat Islam peduli dan mengoptimalkan waktu spesial dan berharga ini.

 

Nabi shallallahu ’alaih wa sallam berdo’a:

“Yaa Allah, berkahilah ummatku di pagi hari.” Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam biasa mengirim sariyyah atau pasukan perang di awal pagi dan Sakhru merupakan seorang pedagang, ia biasa mengantar kafilah dagangnya di awal pagi sehingga ia sejahtera dan hartanya bertambah.”

(HR Abu Dawud 2239)


Melalui do’a di atas Rasulullah shallallahu ’alaih wa sallam ingin melihat umatnya menjadi kumpulan manusia yang gemar beraktifitas di awal waktu. Dan hanya mereka yang sungguh-sungguh mengharapkan keberhasilan dan keberkahan-lah yang bakal sanggup berpagi-pagi dalam kesibukan beraktifitas. Oleh karenanya, saudaraku, janganlah kita kecewakan Nabi kita. Janganlah kita jadikan do’a beliau tidak terwujud. Marilah kita menjadi ummat yang pandai bersyukur dengan adanya waktu pagi.  Marilah kita me-manage jadwal kehidupan kita sehingga di waktu pagi kita senantiasa dilimpahkan berkah karena kita didapati Allah dalam keadaan ber’amal.

 

Janganlah kita menjadi seperti sebagian orang di muka bumi yang membiarkan waktu pagi berlalu begitu saja dengan aktifitas tidak produktif, seperti tidur misalnya. Biasanya mereka yang mengisi waktu pagi dengan tidur menjadi fihak yang sering kalah dan merugi. Bagaimana tidak kalah dan merugi? Pagi merupakan waktu yang paling segar dan penuh gairah… Bila di saat paling baik saja seseorang sudah tidak produktif, bagaimana ia bisa diharapkan akan sukses beraktifitas di waktu-waktu lainnya yang kualitasnya tidak lebih baik dari waktu pagi hari…???

 

Maka, di antara kiat-kiat agar insyaAllah kita selalu memperoleh keberkahan di pagi hari adalah:

 

Pertama,

jangan biasakan begadang di malam hari. Usahakanlah agar setiap malam kita bersegera tidur malam. Idealnya kita jangan tidur malam melebihi jam sepuluh malam. Kalaupun banyak tugas, maka pastikan mulai tidur  jangan lebih lambat dari jam sebelas. Kalaupun tugas sedemikian bertumpuknya, maka pastikan bahwa pukul duabelas tengah malam merupakan batas akhir kita masih bangun.

 

 

Kedua,

pastikan bahwa sedapat mungkin kita bisa bangun di tengah malam sebelum azan Subuh untuk mengerjakan shalat tahajjud dan witir. Idealnya kita selalu berusaha untuk shalat malam sebagaimana Rasulullah shallallahu ’alaih wa sallam, yaitu sebanyak delapan rakaat tahajjud dan tiga rakaat witir. Namun jika tidak tercapai, maka kurangilah jumlah rakaatnya sesuai kesanggupan fisik dan ruhani sehingga minimal dua rakaat tahjjud dan satu rakaat witir. Tapi ingat, ini hanya dikerjakan bila kita terpaksa karena tidur terlalu  larut malam mendekati jam duabelas malam.  Yang jelas, usahakanlah setiap malam agar kita selalu bisa melaksanakan shalat malam (tahjjud plus witir). Karena Nabi shallallahu ’alaih wa sallam menjamin bahwa orang yang menyempatkan diri untuk bangun malam dan sholat malam, maka ia bakal memperoleh semangat dan kesegaran di pagi harinya. Dan sebaliknya, barangsiapa yang tidak menyempatkan diri untuk bangun dan shalat malam, maka di pagi hari ia bakal memiliki perasaan buruk dan malas.

 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu bahwa Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda:

“ Syetan akan mengikat tengkuk salah seorang di antara kamu apabila ia tidur dengan tiga ikatan. Syetan men-stempel setiap simpul ikatan atas kalian dengan mengucapkan: Bagimu malam yang panjang maka tidurlah. Apabila ia bangun dan berdzikir kepada Allah ta’aala maka terbukalah satu ikatan. Apabila ia wudhu, terbuka pula satu ikatan. Apabila ia sholat, terbukalah satu ikatan. Maka, di pagi hari ia penuh semangat dan segar. Jika tidak, niscaya di pagi hari perasaannya buruk dan malas.

(HR Bukhari 4/310)


Ketiga,

pastikan diri tidak kesiangan shalat subuh. Dan khusus bagi kaum pria usahakanlah untuk shalat subuh berjamaah di masjid. Sebab sholat subuh berjamaah di masjid merupakan sarana untuk membersihkan hati dari penyakit kemunafikan.


Bersabda Rasulullah shallallahu ’alaih wa sallam:

“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi kaum munafik adalah shalat isya dan subuh (berjamaah di masjid). Andai mereka tahu apa manfaat di dalam keduanya niscaya mereka akan mendatanginya walaupun harus merangkak-rangkak.

( HR Muslim 2/123 )


Dan sungguh dahulu pada masa Nabi Muhammad shallallahu ’alaih wa sallam tiada seorang tertinggal dari shalat berjama’ah

kecuali orang-orang munafiq yang terang kemunafiqannya

(HR Muslim 3/387)


Keempat,

Janganlah tidur sesudah shalat subuh. Segeralah isi waktu dengan sebaik-baiknya. Entah itu dengan bersegera membaca wirid atau ma’tsurat pagi atau apapun kegiatan bermanfaat lainnya. Barangkali bisa membaca buku, berolah-raga atau menulis buku atau bahkan berdagang sebagaimana kebiasaan sahabat Sakhru bin Wada’ah.

Orang yang tidur di waktu pagi berarti menyengaja dirinya tidak menjadi bagian dari umat Islam yang didoakan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam memperoleh berkah Allah di pagi hari.

Ia menyia-nyiakan kesempatan berharga. Pagi merupakan saat paling berkualitas sepanjang hari. Alangkah naifnya orang yang sengaja membiarkan waktu pagi berlalu begitu saja tanpa aktifitas bermanfaat dan produktif. Tak heran bila Nabi shallallahu ’alaih wa sallam justru memobilisasi pasukan perangnya untuk berjihad fi sabilillah senantiasa di awal hari yakni di waktu pagi sehingga fihak musuh terkejut dan tidak siap menghadapinya.

 

KAMARANA BARAYA ANA


 

Aku berkata : Sesungguhnya musuh Umat Islam itu adalah :  Orang yang mengaku ISLAM , tapi tidak mau melaksanakan Shalat  .

Wassalam

 


Abu Thalib – dalam renungan. 2/2.


.

Nabi Musa

.

Awal muncul saling Kafir-pengkafiran terhadap sesama umat Islam , yaitu ketika pada jaman kekuasaan dinasti Mu’awayah bin Abi Sufyan r.a, berlanjut terus sampai terjadi pembantaian terhadap cucu Rasulullah saw. Pengkafiran terhadap Sahabat , terhadap keluarga Rasul Muhammad saw , terhadap umat Islam ( yang politiknya tidak sefaham ).

Ayahnya dikafirkan , anaknya juga dikafirkan, cucu dan keturunannya pun dibantai.

[ sampai ada Ulama bermulut Besar Sekte WAHABI menyatakan : bahwa seluruh keturunan Rasulullah saw sudah musnah ]

Walaupun kekuasaan dinasti Mu’awiyah bin Abu Sufyan r.a , sudah berahir, pengkafiran berlanjut terus walau tidak sederas pendahulunya .

Pada jaman itulah . Umat Islam digoyang oleh fitnah, dan tidak sedikit pembuat Hadits Palsu menyebar luaskan hasil karyanya , untuk melanggengkan kekuasaan atau meraih jabatan . Bersamaan dengan itu, maka didengungkanlah kasidah “ Wa maa jaraa bainas-shahabaati-naskutu “ ( kita diamkan apa yang terjadi di antara para sahabat-Nabi ).

Beberapa Sya’ir Abu Thalib,yang sempat di abadikan di dalam beberapa Kitab yang menunjukan pembelaan dan keimanannya terhadap Rasulullah saw.

Ibnu Abdil Hadid dalam ” Syarh Nahjil Balaghah “ banyak mengetengahkan Sya’ir-sya’ir klasik Pusaka Abu Thalib yang menunjukan dukungan, pembelaan dan keimanannya kepada Rasulullah saw .

Dalam ” Syarh Najhil Balaghah Jilid – XIV , halaman 71- ” Abu Thalib dengan Sya’irnya mengatakan :

Pokok dari maknanya sebagai berikut :

Mereka (kaum musyrikin quraisy), berencana jahat terhadap kami, namun mereka tak akan dapat mencapainya tanpa melalui peperangan dan perlawanan.

Mereka ingin kami membiarkan Muhammad (saw) dibunuh dan kami tidak mengayun pedang kami berdarah….Tidak , demi Allah (swt), kalian membual.

Niat kalian tak akan tercapai sebelum banyak Tengkorak berserakan di Rukn Hathim dan di sekitar Zamzam…..sebelum putus semua tali kekerabatan…sebelum kekasih melupakan kesayangan…….dan sebelum larangan demi larangan tak diindahkan orang.

Itulah akibat dari kebencian, kedurhakaan dan dosa dari kesalahan kalian…..
Akibat kelaliman kalian terhadap seorang Nabi yang datang menunjukan jalan lurus dan membawa perintah Tuhan penguasa ‘Arsy.

Janganlah kalian menyangka kami akan menyerahkan Muhammad (saw). Orang seperti dia , dimanapun tak akan diserahkan oleh kaum kerabatnya..!!..

Pada halaman ,72 buku tersebut , Abu Thalib dengan Sya’irnya berkata menentang pemboikotan kaum Musyrikin Quraisy , sebagai berikut :

Pokok dari maknanya sebagai berikut :

Tidak kalian tahu bahwa kami memandang Muhammad (saw) seperti Nabi Musa (as), yang sudah disuratkan dalam kitab-kitab terdahulu..??..yang telah ditakdirkan menjadi kesayangan ummat Manusia..?? ..tidak diragukan lagi bahwa Allah (swt)menganugerahkan kasih sayang yang istimewa kepadanya.

Sadarlah, sadarlah sebelum banyak ilmu digali orang , hingga yang tidak bersalah senasib dengan yang bersalah..!!..janganlah kalian mengikuti perintah orang-orang jahat serta memutuskan tali persaudaraan dan kekerabatan.

Janganlah kalian mengobarkan peperangan yang mengerikan, yang akibat nya dirasa lebih pahit oleh mereka yang menjadi korban..!!.

Demi Allah (swt) kami tidak akan menyerahkan Muhammad(saw ) untuk memuaskan orang-orang yang akan ditelan dan dilanda bencana.
Bukankah orang tua kami, Hasyim, mewasiatkan anak-anak keturunannya supaya gigih berperang..??..Kami tak akan jemu berperang sebelum peperangan menjemukan kami, dan kami pun tak akan mengeluh menghadapai malapetaka..!!..

Pada halaman betikutnya,( yakni halaman , 73 ). buku tersebut, Abu Thalib dengan Sya’irnya yang masih berkata tentang pemboikotan, sebagai berikut :

Pokok dari maknanya sebagai berikut :

Janganlah kalian menuruti perintah jahat orang-orang kalap ..!!..Kalau Kalian berharap akan dapat membunuh Muhammad (saw)..!!.. Sungguh, harapan kalian itu tidak lebih dari hanya impian belaka.

Demi Allah(swt), kalian tak akan dapat mebinasakannya sebelum kalian menyaksikan kepala-kepala kami jatuh bergelimpangan.
Kalian menyangka kami akan menyerahkan Muhammad(saw)dan kalian mengira kami tak sanggup membelanya..!!..dialah manusia terpercaya yang dicintai oleh umat manusia dan dianugerahi cap kenabian olehTuhan yang maha Jaya.

Semua orang menyaksikan tanda-tanda kenabian dan kewibawaannya. Namun, orang pandir dikalangan kaumnya tentu tak sama dengan orang yang cerdik dan pandai. Ia seorang Nabi penerima wahyu dari Tuhannya. Akan menyesallah orang yang berkata ……….. “ TIDAK “..

Ketika Abu Thalib mendengar kegagalan Abu Jahal yang hendak menghantam kan batu besar ke kepala Rasulullah saw, dikala beliau sedang bersujud , ia berkata dalam Sya’irnya ( lihat – Syarh Nahjil Balaghah jilid XIV, halaman 74 ).

Pokok dari maknanya sebagai berikut :

Sadarlah wahai Anak-anak pamanku,..!..Hentikanlah kesalahan sikap kalian . Hentikanlah tuduhan dan ucapan seperti itu..!..bila tidak , aku khawatir kalian akan ditimpa bencanaseperti yang dahulu menimpa kaum ‘Aad dan Tsamud..!. Adakah diantara mereka yang masih tinggal ( selain kepunahan ).

Sebuah riwayat yang terkenal luas memberitakan bahwa ‘Abdullah bin Ma’mun memastikan keislaman Abu Thalib , karena ia berkata dalam Sya’irnya


Yang pokok maknanya sebagai berikut :

Kubela seorang Rasul utusan Maharaja , Penguasa segala Raja , dengan Pedang Putih berkilau laksana kilat (halilintar-pen…). Kulindungi dan kubela utusan Tuhan dengan perlindungan sepenuh kasih sayang.

Sya’ir berikut , ditujukan kepada Hamzah bin ‘Abdul Mutthalib ra ( saudaranya ), Abu Talib , berkata : ( lihat Syarh Nahjil Balaghah XIV halaman , 76 ).

{({…….ADA TEKS YANG RUSAK/…….})}

Pokok dari maknanya sebagai berikut :

Hai …Abu Ya’la ( nama panggilan yang khas untuk Hamzah ). Tabahlah berpegang kepada Agama Muhammad (saw) , dan jadilah engkau pembela yang gigih. Kawallah orang yang datang membawa kebenaran dari Tuhannya dengan jujur dan sungguh-sungguh..!!..

Hai Hamzah janganlah sekali-kali engkau mengingkarinya..!!.Beapa senang hatiku mendengar engkau sudah beriman . Hendaklah engkau tetap membela utusan Allah (swt).

Hadapilah orang-orang Quraisy secara terang-terangan dengan keimananmu , dan katakanlah : Muhammad (saw) bukan tukang sihir..!!..

Abu Thalib dengan Sya’ir-sya’irnya mengakui kenabian Muhammad (saw), antara lain berkata : (lihat dalam Syarh Nahjil Balaghah,halaman,76 )

Pokok dari maknanya sebagai berikut :

Muhammad , engkau adalah seorang Nabi, dimana masa mudamu , engkau lebih dihormati dan dimulyakan oleh kaum kerabatmu.Bahagialah mereka yang menghormatimu dan bahagialah kelahiranmu di dunia.

Aku menjadi saksi bahwa apa yang engkau katakan adalah benar , tidak berlebih-lebihan , sejak usia kanak-kanak hingga kapanpun , engkau tetap berkata benar..!!..

Abu Thalib memberikan dorongan kepada Rasulullah saw, supaya menyampaikan Da’wah Risalahnya secara terang-terangan kepada semua orang. Mengenai hal itu, Abu Thalib berkata dengan Sya’irnya ( lihat Syarh Nahjil Balaghah , halaman , 77 ).

Pokok dari maknanya sebagai berikut :

Tangan-tangan jahat dan gangguan suara tak akan mampu menghalangi kebenaran tugasmu. Dalam menghadapi cobaan dan musibah tanganmu adalah tangankudan jiwamu adalah jiwaku.
Abu Thalib dalam memperlihatkan kepercayaannya kepada Rasulullah saw, dengan Sya’ir-sya’irnya , ia berkata kepada kaum Musyrikin, ( lihat Syarh Nahjil Balaghah , halaman , 79 ).

Pokok dari maknanya sebagai berikut :

Tidakkah kalian tahu bahwa anakku ini tidak didustakan dikalangan kaum kerabatku , karena ia tidakpernah mengatakan hal-hal yang bathil..??..

DEMI ALLAH (swt), aku merasa wajib menjaga dan mencintai Muhammad (saw)dengan sepenuh jiwaku , Ia harus kulindungi dan kubela dengan segenap kekuatanku.

Dunia ini akan senantiasa indah bagi mereka yang membela Muhammad (saw) , dan akan selalu buruk bagi mereka yang memusuhnya.
Tuhan penguasa Manusia akan tetap memperkuat serta menolongnya dan memenangkan kebenaran AgamaNya yang mengandung kebatilan apapun juga.

Pendapat Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan :

Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, beliau adalah seorang Ulama terkemuka di MAKKAH, dalam penjelasannya mengenai keimanan Abu Thalib , yang sempat dituangkan dalam sebuah kitab Syarhnya , yang berjudul – Asnal Mathalib Fi Najati Abi Thalib , antara lain ia mengatakan sebagai berikut :

Abu Thalib secara Dzahir tidak mengikuti pimpinan Nabi Muhammad saw, karena ia menghawatirkan keselamatan putra saudaranya (yakni – Nabi Muhammad saw. ) Abu Thalib lah orang yang selama itu melindungi , menolong dan membela Nabi Muhammad saw.

Menurut kenyataan kaum Musyrikin Quraisy mengurangi gangguan mereka terhadap Rasulullah saw. Berkat pengawasan dan perlindungan yang diberikan oleh Abu Thalib.

Sebagai pemimpin Masyarakat Quraisy perintah Abu Thalib dipatuhi oleh Masyarakat Quraisy. Dan perlindungan yang diberikannya kepada Nabi Muhammad sw tidak dapat diabaikan begitu saja, sebab mereka yakin bahwa Abu Thalib itu masih tetap satu kepercayaan dengan mereka , kalau saja mereka tahu telah memeluk Islam dan mengikuti Agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw, mereka tentu tidak akan lagi mengindahkan lagi perlindungan kepada keponakannya.yaitu Nabi Muhammad saw.

Mereka tentu akan terus menerus mengganggu dan memerangi beliau , bahkan Abu Thalib sendiri .Mereka akan melancarkan perlawanan yang dahsyat dari pada perlawanan yang mereka lancarkan terhadap Nabi Muhammad saw. Tidak diragukan lagi semuanya itu merupakan alasan yang kuat bagi Abu Thalib untuk tidak memperlihatkan secara terang-terangan sikapnya yang membenarkan dan mendukung kenabian Muhammad saw.

Kaum Musyrikin Quraisy, memandang Abu Thalib sama dengan mereka. Perlindungan , dukungan dan pembelaan Abu Thalib kepada Rasulullah saw dipandang hanya sebagai kewajiban Tradisional Masyarakat Arab Jahiliyah yang mengharuskan setiap kabilah melindungi dan membela anggautanya dari gangguan dan serangan fihak lain.

Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, kemudian mengetengahkan wasiat Abu Thalib yang di ucapkannya beberapa saat sebelum wafat, yaitu :

“…Kuwasiatkan kepada kalian supaya bersikap baik-baik terhadap Muhammad (saw) . Ia tepercaya dikalangan Quraisy. Orang yang selalu berkata benar dikalangan Masyarakat Arab, dan pada dirinya tercakup semua yang kuwasiatkan kepada kalian , Ia datang membawa persoalan yang dapat diterima oleh hati Nurani , tetapi diingkari dengan lidah hanya karena takut orang menghadapi kebencian fihak lain….”

….”…Hay Orang-orang Quraisy, jadilah kalian Orang-orang yang setia kepadanyadan Orang-orang yang melindungi kaumnya Demi Allah (swt) siapa yang mengikuti jalannya ia pasti beroleh petunjuk, dan barang siapa mengikuti Hidayahnya, ia pasti beroleh kebahagiaan . Bila aku masih mempunyai kesempatan dan ajalku dapat ditangguhkan , ia pasti akan tetap kulindungi dari semua gangguan dan kuselamatkan dari mara bahaya ….”.

Wasiat Abu Thalib tersebut oleh Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan dikaitkan dengan dengan beberapa bait Sya’ir yang pernah diucapkan oleh paman Rasulullah saw , itu sebagai berikut :

“ …Telah kuketahui Agama Muhammad (saw), Agama terbaik untuk Manusia..!!.. Tidakkah kalian tahu , kami mendapati Muhammad (saw)sebagai Nabi seperti Musa (as), dibenarkan oleh semua Kitab Suci…” ( Taurat – Injil )

Sayyid Ahmad Zaini bin Zaini Dahlan , berkomentar lebih dalam lagi :

“…Kami sependapat dengan para Ulama yang menfatwakan , bahwa meng kafir-kafirkan Abu Thalib adalah perbuatan yang menyinggung dan menyakiti Rasulullah saw .

Walaupun kami tidak berpendapat bahwa pernyataan seperti itu ( sudah dapat dijadikan dasar Hukum Syara’ untuk menetapkan kekufuran seseorang ,). namun kami berani mengatakan , mengkafir-kafirkan Abu Thalib tidak dapat dipertanggungjawabkan. Sebab, apabila dibandingkan dengan perjuangan Abu Thalib , yang telah andil dalam perjuangan melindungi , membantu dan membela Nabi Muhammad Rasulullah saw , dan Agama Islam, barangkali , perjuangan kita dalam membela dan berjuang untuk Agama Islam , belum mencapai seperseratusnya dari perjuangan Abu Thalib.

Dan alangkah mulyanya , apabila kita berpegang saja pada saran yang dikemukakan oleh : Syeikh Muhammad bin Salamah al-Qudha’iy-yaitu :

…. “ Dalam menyebut Abu Thalib, hendaknya Orang membatasi diri hanya pada soal-soal perlindungan , Pertolongan dan Pembelaanyang telah diberikan olehnya kepada Rasulullah saw, dengan berpegang pada kenyataan Sejarah yang Obyektif itu, ia akan selamat , tidak akan tergelincir ke dalam hal-hal  yang sukar dipertanggungjawabkan “.

Siratul Mushthafa Saw

Mudah-mudahan sumbangsih dari – H.M.H. AL-HAMID AL-HUSAINI , akan menambah pengenalan ummat Islam Indonesia kepada Nabi dan Junjungannya , Muhammad Rasulullah saw

Terakhir : Wamaa Taufiiqii illa billah , ‘alaihi tawakaltu wa ilaihi uniib .

[ رَبَّنَا هَبْ لَنَ مِنْ أَزْوَاجِـنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةً أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا ]

.

RENUNGAN

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ خَالِدٍ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ يَزِيدَ عَنْ أَبِي الْخَيْرِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْإِسْلَامِ خَيْرٌ قَالَ تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ

 Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Khalid berkata, Telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Yazid dari Abu Al Khair dari Abdullah bin ‘Amru; Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam;

Islam manakah yang paling baik..?

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab

Kamu memberi makan, mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal.


Abu Thalib – Dalam Renungan. 1/2.


.

Conquests of Prophet Muhammad and the Rashidun...
Image via Wikipedia

.

Sebagian Jama’ah ahlus-Sunnah, sebagian Ulama Fiqh dan Ulama Tafsir mengatakan: “ Abu Thalib wafat sebagai Musyrik , atau Kafir, ia termasuk penghuni Neraka, namun Allah swt berkenan memberikan keringanan hingga ia hanya ditempatkan di Neraka yang paling dangkal ( Dhadhah minan-nar ), ”
Mereka memandang lemah Hadits yang meriwayatkan ke Islam an Abu Thalib, yang menurut Hadits –hadits tersebut –Abu Thalib telah mengucapkan Dua Kalimah Syahadat pada detik-detik akhir hayatnya. Mereka berpegang pada sebuah Hadits yang mereka pandang sebagai Hadits Shahih (Al-Bukhari), yaitu ucapan Rasulullah saw, yang mengatakan: “ Abu Thalib ditempatkan pada bagian Neraka yang paling dangkal sebagai pemberian keringanan adzab kepadanya.”

Ibnu Sa’ad, Mengetengahkan dalam kitabnya yang berjudul “ At-Thabaqatul-Kubra “ bahwa Abu Thalib menjelang ahir hayatnya, memanggil semua orang Bani Abdul Muththalib, kaum kerabatnya yang terdekat. Kepada mereka ia dengan tegas menganjurkan: “ Kalian akan tetap baik, bila kalian mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh Muhammad(saw) dan mengikuti agamanya, karena itu hendaklah kalian mengikuti dan membantunya, kalian pasti mendapatkan petunjuk yang benar. “
Pesan dari Abu Thalib itu ,banyak dikemukakan oleh para penulis sejarah Islam klasik, antara lain : Ibnul – Jauzi Al-Hambali dibukukan dalam “ Tadzkiratul-Khawash “,- An-Nasa’iy , dalam “ Al-Khasha’ish “ Al-Halabiy dalam “ As-Sirah Al-Halabiyyah “ dan di buku Sejarah islam lainnya.

Kepada sementara orang yang mengatakan, bahwa ,“ Abu Thalib itu Kafir dan Musyrik, masuk Neraka.”
Kami ingin bertanya : “ Apakah Mungkin, atau …apakah dapat dibayangkan, seorang yang mempunyai prinsip pendirian , atau..seorang yang meyakini adanya kebenaran dalam satu agama, ia akan secara sukarela dan dengan sekuat tenaga membantu serta membela prinsip pendirian atau agama lain yang memusuhi agamanya sendiri…??.

Andai ada orang yang mengatakan: “ Pembelaan Abu Thalib kepada Rasulullah saw, itu dilandasi oleh semangat kekerabatan, — “ Abu Lahab bin Abdul Muthalib pun paman Rasulullah saw,—lalu kenapa Abu Lahab tidak berbuat seperti halnya Abu Thalib, ( melindungi dan membela ). Malah dengan sengit, Abu Lahab memusuhi Rasulullah saw, dan kaum Muslimin..??. bahkan ketika Abu Lahab sudah mati pun masih banyak kerabat Rasulullah saw, yang masih antipati dan masih menyembah Berhala.

Sebagian ahli riwayat mengatakan, ketika Abu Thalib mendengar da’wah yang dilakukan oleh Rasulullah saw, ia menyuruh anak-anaknya untuk mengikuti beliau. Kepada mereka ia berkata : “ Muhammad (saw) tidak mengajak kalian selain pada kebajikan “ Tidak hanya sampai disitu saja, Abu Thalib malah memberikan dorongan dan membangkitkankan semangat mereka supaya menempuh jalan yang dipilh oleh Rasulullah saw, Bagi keselamatan mereka.
Kalau sikap yang demikian itu disamakan dengan sikap orang Musyrik atau Kafir, bukankah Islam itu agama yang mengakui ke Esa an Allah swt dan kenabian Muhammad saw…??.

Pembelaan Abu Thalib kepada Rasulullah saw. Dan dukungannya kepada Da’wah beliau dapat kita temukan dalam sya’ir-sya’irnya yang dikumandangkan dalam berbagai kesempatan.

Ba’it demi ba’it dalam sya’ir. Semuanya menunjukan, betapa gigihnya Abu Thalib menjadi pembela Rasulullah saw, Islam dan kaum Muslimin, pertanyaan diatas kami sodorkan, karena kami yakin, melindungi dan membela Rasulullah saw , dari serangan musuh-musuhnya tidak dapat diartikan lain, kecuali melindungi dan membela Islam beserta kaum Muslimin. Sebaliknya, sekalipun orang mengaku ber agama Islam, jika ia memusuhi Rasulullah saw. Tidak dapat diartikan sebagai pembela Islam, julukan yang cocok adalah musuh Islam dan musuh kaum Muslimin.

Dapat kita bayangkan, seumpama ketika itu Abu Thalib memeluk Islam dengan cara seperti yang dilakukan oleh Hamzah bin abdul muththalib r.a., atau Ali bin Abu Thalib r.a., atau juga mungkin seperti Utsman bin ‘Affan r.a. – , tentunya ia tidak akan dapat memberikan perlindungan dan pembelaan kepada Rasulullah saw, beserta para Sahabatnya. Sebab, kaum Musyrikin Quraisy pasti akan memandang Abu Thalib sebagai orang yang harus dimusuhi dan dilawan.

Jika demikian, maka ia akan kehilangan wibawa dan pengaruh dihadapan tokoh Quraisy. Bila mereka tidak mengakui lagi kepemimpinannya, tentu ia tidak akan dapat menumpulkan atau menekan perlawanan mereka terhadap Rasulullah saw. Dan tidak akan dapat lagi membentengi dakwah beliau sebagaimana yang telah dilakukannya selama ini, adalah benar.

Pada lahirnya , Abu Thalib tampak seagama ( keberhalaan ) dengan mereka, tetapi apa yang ada didalam batinnya, hanya Allah saja yang Maha Mengetahui.
Tiap orang Mukmin tidak meragukan dan tidak dapat mengingkari kenyataan , bahwa Abu Thalib memainkan peranan besar dalam melindungi dan membela da’wah Islam, yakni peran melindungi dan membela kebenaran, untuk itu ia rela menghadapi tantangan dan kesulitan. Ia bersama beberapa orang dari Bani Hasyim dan Bani Al-Muththalib rela menerima syarat-syarat penghidupan yang serba kekurangan demi tegaknya kebenaran yang dibawakan oleh Muhammad Rasulullah saw.

Pertanyaan kedua : “ Setelah Abu Thalib menunjukan pengabdian dan jasa-jasanya dalam melindungi dan membela Da’wah Islam,…apakah ia wafat sebagai Kafir atau Musyrik, tanpa iman sedikitpun nyangkut dalam hatinya…??.
Ibnu Ishaq mengataka, ketika kaum musyrikin Quraisy mendengar berita tentang penyakit Abu thalib bertambah kritis, mereka berkata satu sama lainnya : Hamzah bin ‘Umar, sekarang telah memeluk Islam dan persoalan Muhammad (saw) ( da’wahnya ) , telah meluas diantara kabilah-kabilah Arab. Sebaiknya kita datang kepada Abu Thalib untuk memper oleh penyelesaian soal itu.

Setelah mereka menjumpai Abu Thalib , lalu berkata ; “ Sebagaimana anda ketahui, sekarang anda dalam kondisi yang sangat menghawatirkan. Anda sangat mengetahui apa yang selama ini terjadi, antara kami dan kemenakan anda ( yaitu Muhammad saw ) . Sebaiknya anda memanggilnya hadir untuk kami ajak saling menerima dan saling memberi ( berkompromi ), agar dia tidak lagi mengganggu kami, dan kamipun tidak akan lagi mengganggu dia, dia harus membiarkan kami berpegang pada kepercayaan kami, dan kami pun akan membiarkan dia berpegang pada agamanya. “

Atas permintaan mereka itu, Abu Thalib menyuruh orang memanggil Rasulullah saw. Dan setelah Rasulullah saw menemuinya, maka Abu Thalib berkata : “ Anakku, orang-orang terkemuka dari kaummu( Bani Quraisy ). bersepakat hendak mengajakmu saling menerima dan saling memberi. “ Rasulullah saw menjawab : “ Paman, kalau mereka mau memberi (menyatakan ) satu kalimat saja, mereka akan menguasai seluruh orang Arab, dan akan dipatuhi oleh orang-orang bukan Arab……..” belum lagi Rasulullah saw mengahiri kata-katanya, ‘Amr bin Hisyam ( Abu Jahal ) menukas : “ jangankan satu kalimat, sepuluh kalimat pun akan kami berikan .!..” Rasulullah saw , melanjutkan : “ …Hendaklah kalian mengucapkan kalimat ‘ La ilaha ilallah ’ dan meninggalkan selama ini yang kalian sembah-sembah. “

Ucapan beliau, ditanggapi oleh mereka dengan cemoohan dan ejekan, kemudian mereka berujar :” hai, Muhammad(saw), apakah engkau hendak membuat tuhan-tuhan yang banyak itu menjadi satu tuhan,.??. sungguh aneh..! “
Mereka lalu berkata satu sama lain: “ Dia (Muhammad saw ), tidak akan memberikan sesuatu yang kita ingini. Marilah kita bubar saja, dan kita tetap pertahankan keyakinan pada agama nenek moyang kita. Biarlah apa yang akan menjadi kenyataan nanti antara kita dan dia . “ Abu Thalib pun berkata pada Rasulullah saw : “ Anakku, demi Allah, aku berpendapat permintaanmu itu tidaklah berlebih-lebihan, “ Ucapan Abu Thalib , menimbulkan kesan pada fikiran beliau, bahwa pamandanya, bersedia mengucapkan Syahadat. Karenanya beliau lalu berkata : “ Paman, ucapkanlah kalimat itu ( syahadat ). Dengan kalimat itu , pada hari kiyamat kelak akan kumohonkan syafaat (pertolongan ) kepada Allah swt bagi paman.” Dengan suara yang terputus-putus, Abu Thalib berkata : ”Anakku, demi Allah, kalau bukan karena aku khawatir orang Quraisy akan mencemoohkan diriku dan aku takut pada saat menghadapi maut, tentu kalimat itu sudah kuucapkan. “ ( dalam hal ini , Jelas – Abu Thalib tidak menolak, tapi tidak mengucapkan syahadat. )

Sekaitan dengan berita dari Hadis tersebut, Imam Bukhari meriwayatkan : “ Ketika Rasulullah saw, minta kepada Abu Thalib supaya mengucapkan kalimat “ La ilaha ilallah “, ‘amr bin hisyam ( Abu Lahab ) dan Abdullah bin Umayyah , bertanya kepada Abu Thalib : “ Tidakkah anda berpegang pada agama Abdul-Mutthalib..??.” Berulang-ulang dua orang itu mendesak pertanyaan tersebut, dan akhirnya Abu Thalib menjawab : “ Pada agama ‘Abdul-Mutthalib “ .Riwayat yang diketengahkan oleh Imam Bukhari itu, menunjukan bahwa Abu Thalib tidak mengucapkan kalimat syahadat. Karena Rasulullah saw berkata: “ Akan kumohonkan ampunan bagimu paman, selagi aku tidak dilarang berbuat itu ( syafaat )“.

Mengenai persoalan itu, Ibnu Katsir mengatakan : “ Abu Thalib tahu dan mengerti , bahwa Rasulullah saw, itu benar, tidak dusta, tetapi hati Abu Thalib tidak beriman .” disini kita bisa melihat, seakan-akan Ibnu Katsir hendak menyamakan pengertian Abu Thalib mengenai kenabian Muhammad saw, dengan pengertian , kaum Yahudi mangenai beliau.

Sebagai contoh, Ibnu Katsir merujuk pada firman allah swt dalam Surah Al-Qur’an : Al-Baqarah, 146- yang maknanya : “ Orang-orang Yahudi dan Nasrani yang telah kami beri Al-Kitab ( Taurat dan Injil), mengenai Muhammad (saw)seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. “ akan tetapi mereka tidak berbuat sesuai dengan pengenalan atau pengertian mereka. Jadi mereka itu benar-benar mengerti, bahwa Muhammad Saw, itu seorang Nabi, tetapi mereka mengingkarinya, demikian menurut Ibnu Katsir.

Kami berpendapat, menyamakan pengertian kaum Yahudi mengenai kenabian Muhammad saw. dengan pengertian Abu Thalib mengenai beliau…samasekali tidak pada tempatnya. Jauh sekali antara pengertian Abu Thalib mengenai Allah swt dan da’wah Rasul-Nya dari pengertian kaum Yahudi mengenai hal itu. Pengertian Abu Thalib disertai dengan, sikap membenarkan, mendukung, membela, dan melindungi agama Islam .

Sikap seperti itu mustahil tanpa disertai keyakinan dan kepercayaan ; sedang keyakinan dan kepercayaan mengenai hal tesebut, bukan lain adalah karena adanya iman ,Kalau dalam hal itu masih terdapat kekurangan pada Abu Thalib, kekurangan itu adalah karena ia tidak mengucapkan Syahadat dengan lisannya ( tidak disaksikan oleh manusia ). Atas dasar semuanya ini kami dapat mengatakan, Abu Thalib, sama sekali bukan orang Kafir atau orang Musyrik, tapi seorang muslim yang menyembunyi kan keimanannya.

Alasan yang kami kemukakan sebagai berikut : — 1/. Abu Thalib menolak dan tidak membenarkan pernyataan serta sikap kaum musyrikin Quraisy mengenai kenabian Muhammad saw,… Bahkan ia mendukung , membenarkan , membela dan melindungi da’wah tauhid yang diperintahkan Allah swt kepada Rasulullah saw. – 2/. Abu Thalib membela prinsip Tauhid dan para penganutnya , sehingga ia harus menghadapi tentangan dan tantangan sepeti yang dihadapi oleh setiap orang beriman. – 3/. Abu Thalib dengan keras menyatakan , bahwa Muhammad saw. Tidak berdusta dan semua yang dikatakan oleh Muhammad saw adalah benar.

Kalau ada fihak yang bimbang , ragu memasukan Abu Thalib kedalam golongan kaum Mu’minin atau Muslimin, kami juga tidak akan ragu mengeluarkan Abu Thalib dari golongan kaum Kafir dan kaum Musyrik .

Kalau benar riwayat yang memberitakan Abu Thalib pada detik-detik terahir hayatnya mengucapkan kalimat ; “ Pada agama ‘Abdul Muththalib “ , kalimat yang diucapkan itu tidak akan menghapus jasa-jasa serta pengabdiannya dalam membela dan melindungi Muhammad Rasulullah saw. .. yang berarti pula, membela dan melindungi da’wah agama Islam. Ucapan itupun tidak akan menghapus pernyataan-pernyataannya yang tegas, da’wah Rasulullah saw, itu benar dan tidak dusta.

Ibnu Katsir tidak menutup-nutupi kenyataan yang sebenarnya mengenai Abu Thalib. Ibnu Katsir dengan tegas mengatakan : “ Abu Thalib menghalangi dan mencegah gangguan yang tertuju kapada Rasulullah saw, dan para sahabatannya dengan segala kesanggupan yang ada pada dirinya : dengan kata-kata, dengan jiwa-raga juga dengan harta benda. Namun Allah swt belum berkenan mentakdirkannya sebagai orang yang beriman seperti yang lain-lain. Dalam hal ini pasti tersirat hikmah besar dan hujjah yang wajib kita yakini dan kita terima. Seumpama Allah swt, tidak melarang memohonkan ampunan dan karunia rahmat bagi Abu Thalib, “ —-Demikian , Ibnu Katsir menulis dalam “ Al-Bidayah wan-Nihayah “, Jilid dua halaman 131 ; yaitu suatu pernyataan yang mengandung dua arus yang berlawanan. Disatu fihak ia mengakui jasa-jasa pengabdian Abu Thalib dalam membela dan melindungi Rasulullah saw, Islam dan kaum Muslimin. Tetapi dilain fihak, ia dengan kalimat terpulas mengatakan…. Abu Thalib, dia seorang Musyrik . !.??..

Dari penelitian kita dalam persoalan Abu Thalib yang kontroversial itu, kami dapat menyimpulkan : Abu Thalib bukan musyrik dan bukan kafir. Sebab , tiap orang Musyrik pasti memuja-muja berhala dan sesembahannya yang lain, atau…menyekutukannya dengan Allah saw. Karena itulah kami berpendapat, Abu Thalib bukan orang Musyrik dan juga bukan orang Kafir. Hanya Allah swt sajalah yang mengetahui semua yang tersimpan didalam dadanya da semua yang tersembunyi dikedalaman jiwanya.

Beberapa Dalil tentang keimanan Abu Thalib dan tanggapan para Ulama dan Ahli Riwayat.

Persoalan Abu Thalib sengaja kami kuak selebar mungkin , untuk melihat lebih kedalam lagi dalam rangka mengatasi suara sumbang dari fihak yang sampai sekarang MENGKAFIR – KAFIRKAN pamanda Rasulullah Muhammad saw.

Abu Thalib- seorang yang sudah berjasa besar bagi Islam dan kaum Muslimin. Mereka mengetengahkan beberapa buah Hadits mengenai persoalan Abu Thalib – terlepas apakah Hadits –hadits yang mereka kemukakan itu , Hadits Shahih atau Hadits Maudlu ‘ – tetapi mereka tidak mengetengahkan semua Hadits yang berkaitan dengan ABU Thalib. Disini , kami akan mengetengahkan beberapa Hadits yang lain dan beberapa riwayat pendukung , tanggapan dari para Ulama , mengenai persoalan Abu Thalib , yang menunjukan pada ke Imanan paman Rasulullah saw.

Ibnu Sa’ad , dalam –Thabaqat – Kubra , Jilid, I halaman , 105. Mengetengahkan sebuahHadits berasal dari ‘Ubaidillah bin Rafi’ yang menerimanya langsung dari Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhahu . Imam ‘Ali r.a. berkata: “ Wafatnya Abu Thalib kuberitahukan kepada Rasulullah saw. Beliau menangis , kemudian berkata : “ Pergilah engkau dan mandikanlah dia, lalu kafankan dan kemudian kebumikan. Allah mengampuni dia dan merahmatinya, “.

Dari Hadits tersebut dapat ditarik kesimpulan : Kalau Abu Thalib seorang Musyrik seperti Musyrikin Quraisy , mungkinkah Rasulullah saw. Mengucapkan kalimat : – Allah mengampuni dan merahmatinya – sedangkan Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an : Allah tidak akan mengampuni dosa Syirik , dan mengampuni dosa selain itu, bagi siapa saja yang dikehendakinya, “ ( An-Nisa – 48 ).

Mungkin ada yang mengomentari :… Ya.. tetapi Rasulullah saw, tidak turut mengantarkan Jenazah Abu Thalib ke kubur dan tidak di Shalatkan jenazahnya. — Pertanyaan tersebut sudah dapat jawabannya dari para Ulama, diantaranya adalah : Ibnul- ‘Asakir , sebagaimana tercantum di dalam kitab : “ Asnal-Mathalib “ , halaman, 21—Al-Baihaqiy , didalam kitab : “ Dala’ilun-Nubuwwah “ —Ibnul-Jauziy didalam kitab : “ At-Tadzkirah “ , halaman, 6.—Ibnu Abil Hadid didalam kitab : “ Syarh Nahjil-Balaghah “ ,Jilid 3. Halaman 314.—Al-Halabiy didalam “ Sirah “ nya , jilid I halaman, 373. Sayyid Ahmad bin Zaini didalam “ Syarh-Nya “ mengenai kitab : “ As-Sirah Al-Halabiyyah “ , Jilid I , halaman, 90.— Al-Barzanjiy, didalam kitabnya : “ Najatu Abi Thalib “ , sebagaimana termaktub didalam kitab : “ Asnal-Mathalib “ ,halaman, 35.–Demikian juga , dalam kitab: Abu Dawud , Ibnul Jarud , Ibnu Khuzaimah , yang semuanya menjelaskan ;

Bahwa Rasulullah saw : tidak turut serta mengantarkan Jenazah Abu Thalib ke kubur, semata-mata untuk menghindari gangguan dan serangan dari kaum Musyrikin Quraisy. Bahwa Rasulullah saw : juga , tidak melakukan Shalat jenazah bagi Abu Thalib… jelas , karena waktu itu Shalat Jenazah belum di Syari’atkan.

Semua ahli riwayat dan para penulis sejarah Islam , sepakat bahwa tahun wafatnya Abu Thalib dan Siti Khadijah r.a, sebagai “ Tahun Duka-cita “ , atau: “ Amul – Huzn “. Bahkan sementara riwayat mengatakan, penamaan itu diberikan oleh Rasulullah saw , sendiri.
(Menurut Al-Aslamiy dan lain-lainnya, menerangkan: “ Abu Thalib wafat dalam bulan Syawwal tahun ke , 10 . setelah bi’tsah : sedangkan Sitti Khadijah r.a, wafat , 1 bulan + 5 hari, setelah wafatnya Abu Thalib.)

Betapa parahnya hati Rasulullah saw, ditinggal wafat oleh Abu Thalib dan kemudian menyusul Sitti Khadijah r.a. Dua orang kecintaan dan kesayangan beliau , dua orang itulah yang membenarkan , mendukung , membantu , melindungi dan membela Rasulullah saw, dalam melaksanakan tugas risalahnya : sebelum ada orang lain mau berbuat seperti mereka berdua. Semua para ahli riwayat dan para penulis sejarah Islam mengakui kenyataan itu, tak ada seorangpun yang mengingkarinya.

Apabila Abu Thalib itu seorang Musyrik dan Kafir , mungkinkah Rasulullah saw , sedih dan berduka-cita ditinggal wafat olehnya,..??.apabila ada orang yang mengatakan : “ Beliau sedih karena Abu Thalib itu pamandanya,” , lalu , kenapa Rasulullah saw , tidak berduka-cita dan tidak bersedih , ketika ditinggal mati oleh Abu Lahab , yang juga paman beliau sendiri..??. ( pada saat itu, Surah Al-Lahab , belum turun ) .

Mengenai musibah yang menyedihkan Rasulullah saw, dan mengenai “ Amul –Huzn “ , kita dapat membacanya pada kitab : Thabaqat – Qubra ( Ibnu Sa’ad ) Jilid I halaman 106. / kitab : Al – Imta ( Al – Muqriziy ) halaman 27. / kitab : Tarikh Ibnu Katsir ( Ibnu Katsir ) jilid III halaman 134, / kitab : Sirah Al-Halabiyyah , jilid I halaman 373. / kitab : Sirah – Nabawiyyah ( Sayyid Zaini Dahlan ) jilid I halaman 291, dan kitab : Asnal – Mathalib ( Ibnul – ‘Asakir ) halaman 11.

Ishaq bin ‘Abdullah bin Al-Harits mengetengahkan sebuah berita Hadits , yang mengatakan : Al-‘Abbas ,paman Rasulullah saw , pernah mengatakan : “ Ya Rasulullah(saw) , apa yang kau harap bagi Abu Thalib ..??.” , Rasulullah saw menjawab : “ Baginya aku mengharapkan semua yang baik dari Allah , Tuhanku “.
Berita Hadits tersebut diketengahkan oleh Ibnu Sa’ad di dalam kitab : Thabaqat – Qubra , jilid I -halaman 106. Dengan isnad Shahih dan para perawinya terdiri dari orang-orang yang dapat dipercaya ( tsiqah ) , seperti : ‘Affan bin Muslim, Hammad bin Salmah dan Tsabit Al-Bannaniy. Hadits di atas juga di tulis dan di abadikan oleh : Ibnu Katsir juga mengabadikan Hadits tersebut, didalam kitab : Al – Khasha’ishul — Kubra , jilid III, halaman 87.

Seorang Ulama Fiqh Madzhab Hanafiy ; Syeikh Ibrahim Ad-Danuriy, dalam kitab : Nihayatut – Thalab. Ibnu Thawus , dalam kitab : At – Thara’if , halaman 68. Ibnu Abdil Hadid, dalam kitab : Syarh Nahjil – Balaghah , jilid III – halaman 311. As- Sayuthiy , dalam kitab : At – Ta’dzim Wal – Minnah , halaman 8.

Tidak sedikit, kelompok yang menyatakan , bahwa Abu Thalib itu Musyrik dan Kafir, tapi..juga banyak para Ulama dan para penulis Sejarah Islam yang menyatakan keimanan pamanda Rasulullah saw itu.
Seorang Ulama besar berMadzhab Hanafi , yang bernama : Ahmad bin Al-Husain Al-Maushiliy , dalam uraiannya ( syarhnya ) mengenai kitab “ Syihabul – Akbar “ yang ditulis oleh : Al-‘ Allamah Muhammad bin Salmah Al-Qudha’iy ( wafat – 454 H ), dengan tegas mengatakan : “ Membenci Abu Thalib adalah Kufur “ .

Demikian juga Ulama besar dari Madzhab Malikiy, yang bernama : Al-‘Allamah ‘Ali Al-Ajhuriy. Dalam fatwanya mengenai Abu Thalib, ia menandaskan : “ membenci Abu Thalib berarti Kufur “ . Mereka mengatakan demikian, karena mereka yakin benar bahwa Abu Thalib seorang mu’min pertama yang melindungi dan membela Rasulullah saw.

Meskipun penilaian kami terhadap sikap yang mengkafir-kafirkan Abu Thalib itu tidak sejauh penilaian kedua Ulama besar madzhab Hanafiy dan Madzhab Malikiy, namun kami dapat memahami mengapa mereka berfatwa sekeras itu. Siapakah yang tidak tertusuk perasaannya mendengar suara mengkafir-kafirkan orang yang mengasuh dan membesarkan Muhammad Rasulllah saw, sejak dari usia 8 th hingga dewasa: kemudian membenarkan , membantu , melindung , membela beliau dalam melaksanakan tugas Risalahnya..??.

Betapa hancurnya hati Rasulullah saw , jika semasa hidupnya mendengar suara sumbang seperti itu tertuju kepada pamandanya. Dikala beliau masih hidup ditengah umatnya tidak seorangpun yang mengkafir-kafirkan Abu Thalib, atau menuduhnya sebagai Musyrik. Kaum Musyrikin Quraisy yang kemudian memeluk Islam semuanya mengetahui dengan mata kepala sendiri bahwa Abu Thalib adalah orang pertama yang membenarkan, mendukung, membela dan melindungi Rasulullah saw, setelah wafatnya isteri beliau sendiri Sitti Khadijah r.a. Ketika Rasul Muhammad saw , dan kaum muslimin sudah punya posisi yang cukup kuat, Pembela , pelindung , dan segala sesuatu yang menjadi kebutuhan Rasulullah saw , diambil alih oleh para sahabat , mereka bekerja sama saling bahu membahu , apabila ada yang berani menghina Islam atau Rasulullah saw, resikonya mereka harus berhadapan dengan pedang…..> berlanjut…>>…Abu Thalib—–2/2–

 

Wassalam

 H.M.H. Al-Hamid Al-Maliki Al-Husaini.

[ رَبَّنَا هَبْ لَنَ مِنْ أَزْوَاجِـنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةً أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا ]

.

Renungan

و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ عَنْ الْعَلَاءِ بْنِ يَعْقُوبَ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبِي أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَمْ تَرَوْا الْإِنْسَانَ إِذَا مَاتَ شَخَصَ بَصَرُهُ قَالُوا بَلَى قَالَ فَذَلِكَ حِينَ يَتْبَعُ بَصَرُهُ نَفْسَهُ و حَدَّثَنَاه قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ يَعْنِي الدَّرَاوَرْدِيَّ عَنْ الْعَلَاءِ بِهَذَا الْإِسْنَادِ

 Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rafi’ telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij dari Al ‘Ala` bin Ya’qub ia berkata, telah mengabarkan kepadaku bapakku bahwa ia mendengar Abu Hurairah berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 Bukankah kalian telah menyaksikan bahwa jika seseorang meninggal dunia matanya akan terbelalak…? …Para sahabat menjawab, Ya, kami telah menyaksikan. Beliau bersabda: Itu terjadi sa’at pandangan matanya mengikuti ruhnya (ketika keluar dari jasad-pent). Dan telah menceritakannya kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz Ad Darawardi dari Al Ala` dengan isnad ini.

HR-Imam Muslim

Adz-Dzahabi – yang mengusung kebencian.


.

Selama ini kita seakan sangat mengenal kredibilitas  Al-Hafidz  Asy-Syaikh Syamsuddin adz-Dzahabi sebagai pakar sejarah dan atau penulis biografi ulama.

Dengan bangga sering kita menyandarkan rujukan Biografi Ulama kepada karya Adzhahabi sebagai referensi yang jujur.

Akan tetapi ternyata fakta lapangan telah membantah dengan tegas bahwa ternyata Adz-Dzahabi bukan penulis biografi yang terpercaya.

Rasa benci yang ada pada dirinya menyebabkan tulisan biografinya tidak bermutu sehingga dikritik habis-habisan oleh seorang Ulama Ahlussunnah Wal Jamaah.

Untuk mengetahuinya secara lebih detail mari kita ikuti kritik tajam kepada Adz-Dzahabi oleh  Imâm Tajuddin as-Subki (w 771 H) dalam Thabaqât asy-Syâfi’iyyah,  dan diterjemahkan secara apik dan jelas oleh Abou fateh berikut ini…..

Kebencian adz-Dzahabi Terhadap al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari Dan Kaum Asy’ariyyah

.


.

disusun oleh :

.

.

Al-Imâm Tajuddin as-Subki (w 771 H) dalam Thabaqât asy-Syâfi’iyyah menuliskan bahwa adz-Dzahabi (w 748 H) memiliki sifat sinis terhadap al-Imâm al-Asy’ari. Adz-Dzahabi sama sekali tidak apresiatif, bahkan selalu memojokan faham-faham al-Imâm al-Asy’ari dalam berbagi kesempatan.Perlakuan adz-Dzahabi dalam meremehkan al-Imâm al-Asy’ari ini sebagimana ia tuangkan dalam karyanya sendiri; Târîkh adz-Dzahabi.Dalam menuliskan biografi al-Imâm al-Asy’ari, adz-Dzahabi sama sekali tidak memiliki keinginan untuk menempatkannya secara proporsional sesuai keagungannya.

Al-Imâm Tajuddin as-Subki mengatakan bahwa adz-Dzahabi memiliki kebencian yang sangat besar terhadap al-Imâm al-Asy’ari, hanya saja ia tidak sanggup untuk mengungkapkan itu semua karena takut diserang balik oleh Ahl al-Haq dari para pemuka Ahlussunnah. Di sisi lain adz-Dzahabi juga tidak sabar untuk mendiamkan ajaran-ajaran al-Imâm al-Asy’ari yang menurutnya sebagai ajaran yang tidak benar. Dalam menuliskan biografi al-Imâm al-Asy’ari, adz-Dzahabi tidak banyak berkomentar, di akhir tulisannya ia hanya berkata: “Barangsiapa yang ingin mengenal lebih jauh tantang al-Asy’ari maka silahkan untuk membaca kitab Tabyîn Kadzib al-Muftarî karya Abu al-Qasim Ibn Asakir”[1]. Târîkh adz-Dzahabi..

Yang lebih mengherankan lagi di akhir tulisan itu kemudian adz-Dzahabimenuliskan ungkapan doa sebagai berikut: “Ya Allah, matikanlah kami di dalam Sunnah Nabi-Mu dan masukan kami ke surga-Mu. Jadikanlah jiwa-jiwa kami ini tenang. Kami mencintai para wali-Mu karena-Mu, dan kami membenci para musuh-Mu karena-Mu. Kami meminta ampun kepada-Mu bagi hamba-hamba-Mu yang telah melakukan maksiat. Jadikan kami mengamalkan ayat-ayat muhkamât dari kitab-Mu dan beriman dengan ayat-ayat mutsyâbihât-nya. Dan jadikan kami sebagai orang-orang yang mensifati-Mu sebagaimana Engkau mensifati diri-Mu sendiri” [ Târîkh adz-Dzahabi..]

Simak tulisan al-Imâm Tajuddin as-Subki dalam mengomentari tulisan adz-Dzahabi di atas:

.
“Dari sini nyata bagimu bahwa adz-Dzahabi ini sangat aneh dan mengherankan. Engkau melihat sendiri bagaimana sikap orang miskin ini, dia benar-benar seorang yang celaka. Saya telah mengatakan berulang-ulang bahwa adz-Dzahabi ini sebenarnya guru saya, dan saya banyak mengambil ilmu hadits darinya, hanya saja kebenaran lebih berhak untuk diikuti,

 dan karenanya saya wajib menjelaskan kebenaran ini. Maka saya katakan:

“ Wahai adz-Dzahabi, orang sepertimu bagaimana mungkin hanya menyuruh orang lain untuk membaca kitab Tabyîn Kadzib al-Muftarî sementara engkau sendiri malalaikan pujian terhadap Syaikh al-Asy’ari?! Padahal engkau sama sekali tidak meninggalkan nama seorangpun dari kaum Mujassimah kecuali engkau menuliskan biografinya secara langkap.

Bahkan bukumu itu sampai menyebut-nyebut biografi beberapa orang dari madzhab Hanbali yang datang belakangan dan tidak memiliki kapasitas memadai secara keilmuan.

Semua itu engkau tuliskan biografinya dengan sangat rinci dan lengkap. Lantas apakah engkau tidak mampu untuk menuliskan biografi Syaikh al-Asy’ari secara proporsional?!

Padahal derajat Syaikh al-Asy’ari berada  jauh ribuan tingkat di atas orang-orang mujasim yang engkau tuliskan itu?! Tidak lain ini adalah hawa nafsu dan kebencian yang telah mencapai puncaknya.

Aku bersumpah demi Allah, engkau melakukan ini tidak lain hanya karena engkau tidak senang nama al-Asy’ari disebut-sebut dengan segala kebaikannya.

 Dan di sisi lain engkau tidak mampu untuk mengungkapkan kepada orang-orang Islam akan apa yang ada dalam hatimu dari kebencian kepada Syaikh al-Asy’ari, karena engkau sadar bila kebencian itu engkau ungkapkan seutuhnya maka engkau akan berhadapan dengan kekuatan seluruh orang Islam.

Sementara itu doamu yang engkau ungkapkan di akhir tulisan biografi Syaikh yang sangat ringkas itu, adakah kalimat-kalimat itu pada tempatnya wahai orang miskin?!

Kemudian ungkapanmu “…dan jadikanlah kami orang-orang yang membenci musuh-musuh-Mu” adalah tidak lain karena manurutmu Syaikh al-Asy’ari adalah musuh Allah,

 dan engkau benar-benar sangat membencinya. Kelak nanti engkau akan berdiri di hadapan hukum Allah untuk bertanggung jawab terhadap Syaikh, sementara semua ulama dari empat madzhab, orang-orang saleh dari kaum sufi, dan para pemuka Huffâzh al-hadîts berada di dalam barisan Syaikh al-Asy’ari.

Engkau kelak saat itu akan merangkak dalam kegelapan akidah tajsîm, yang engkau mengaku-aku telah bebas dari akidah sesat tersebut, padahal engkau adalah orang terdepan dalam menyeru kepada akidah sesat tersebut.

Engkau mengaku ahli dalam masalah Ilmu Tauhid, padahal engkau sama sekali tidak memahaminya walaupun hanya seukuran atom atau seukuran tipisnya kulit biji kurma sekalipun.

 Aku katakan bagimu: “Siapakah sebenarnya yang mensifati Allah sesuai dengan keagungan-Nya sebagaimana Allah mensifati diri-Nya sendiri?! Adakah orang itu yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya seperti dirimu?! Ataukah yang benar-benar memahami bahwa :

“Allah tidak menyerupai apapun dari segala makhluk-Nya” (QS. As-Syura: 11)?!”.

Sebenarnya, secara khusus bagiku tidak harus banyak bicara dalam masalah ini, namun demikian hal ini harus saya sampaikan.

Dalam penulisan biografi Syaikh al-Asy’ari sebagaimana anda tahu sendiri, bahwa sebenarnya tidak akan cukup dengan hanya dituangkan dalam beberapa lembar saja.

 Dalam kitab yang saya tulis ini, saya juga memerintahkan kepada para pembaca yang ingin mengenal lebih jauh tentangSyaikh al-Asy’ari untuk merujuk kepada kitab Tabyîn Kadzib al-Muftarî (karya al-Hâfizh Ibn Asakir).

 Namun anjuran saya ini berbeda dengan anjuran adz-Dzahabi. Saya menganjurkan anda untuk membaca Tabyîn Kadzib al-Muftarî agar anda benar-benar mengenal sosok al-Asy’ari dan mengetahui keagungan serta bertambah kecintaan kepadanya, sementara adz-Dzahabi menganjurkan hal tersebut tidak lain hanya untuk menutup mata anda, karena sebenarnya dia telah bosan dengan menyebut-nyebut kebaikan orang-orangnya sendiri yang tidak senang kepada Syaikh al-Asy’ari” Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, j. 3, h. 352-354 ]

Pada bagian lain dalam kitab yang sama al-Imâm Tajuddin as-Subki dalam penulisan biografi al-Hâfizh Ahmad ibn Shaleh al-Mishri menuliskan kaedah yang sangat berharga dalam metode penilaian al-jarh (Klaim negatif terhadap orang lain).

 Kesimpulannya ialah bahwa apabila seseorang melakukan al-jarh terhadap orang lain yang memiliki amal saleh lebih banyak dari pada perbuatan maksiatnya, dan orang-orang yang memujinya lebih banyak dari pada yang mencacinya, serta orang-orang yang menilai positif baginya (al-Muzakkûn) lebih banyak dari pada yang menilai negatif atasnya (al-Jârihûn), maka penilaian orang ini tidak dapat diterima, sekalipun ia punya penjelasan dalam penilainnya tersebut.

Terlebih lagi apabila orang yang menilai al-jarh ini berlandaskan karena Fanatisme madzhab, atau karena kecemburuan masalah duniawi dan lainnya.

Kemudian pada akhir tulisan kaedah al-jarh ini, al-Imâm Tajuddin as-Subki menuliskan:

“… dan adz-Dzahabi ini adalah guru kami. Dari sisi ini ia adalah seorang yang memiliki ilmu dan memiliki sikap teguh dalam beragama. Hanya saja dia memiliki kebencian berlebihan terhadap para ulama Ahlussunnah. Karena itu adz-Dzahabi ini tidak boleh dijadikan sandaran”.

Masih dalam kitab Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, al-Imâm Tajuddin as-Subkijuga mengutip tulisan al-Imâm al-Hâfizh Shalahuddin Khalil ibn Kaikaldi al-Ala-i dalam penilainnya terhadap adz-Dzahabi, sebagai berikut:

“Al-Hâfizh asy-Syaikh Syamsuddin adz-Dzahabi tidak saya ragukan dalam keteguhan beragamanya, sikap wara’-nya, dan ketelitiannya dalam memilih berbagai pendapat dari orang lain. Hanya saja dia adalah orang yang berlebihan dalam memegang teguh madzhab itsbât dan dia sangat benci terhadap takwil hingga ia melalaikan akidah tanzîh. Sikapnya ini telah memberikan pengaruh besar terhadap tabi’atnya, hingga ia berpaling dari Ahl at-Tanzîh dan sangat cenderung kapada Ahl al-Itsbât.

Jika ia menuliskan biografi seseorang yang berasal dari Ahl al-Itsbât maka dengan panjang lebar ia akan mengungkapkan segala kebaikan yang ada pada diri orang tersebut, walaupun kebaikan-kebaikan itu hanya sebatas prasangka saja ia tetap akan menyebut-nyebutnya dan bahkan akan melebih-lebihkannya, dan terhadap segala kesalahan dan aib orang ini ia akan berpura-pura melalaikannya dan menutup mata, atau bahkan ia akan membela orang tersebut.

Namun apa bila yang ia menuliskan biografi seorang yang ia anggap tidak sepaham dengannya, seperti Imam al-Haramain, al-Imâm al-Ghazali, dan lainnya maka sama sekali ia tidak mengungkapkannya secara proporsional, sebaliknya ia akan menuliskan nama-nama orang yang mencaci-maki dan menyerangnya.

Ungkapan-ungkapan cacian tersebut bahkan seringkali ia tulis berulang-ulang untuk ia tampakkan itu semua dengan nyata, bahkan ia meyakini bahwa menuliskan ungkapan-ungkapan cacian semacam itu sebagai bagian dari agama. Di sini ia benar-benar berpaling dari segala kebaikan para ulama agung tersebut, dan karena itu dengan sengaja pula ia tidak menuliskan kebaikan-kebaikan mereka.

Sementara bila ia menemukan cacat kecil saja pada diri mereka maka ia tidak akan melewatkannya. Perlakuan ini pula yang ia lakukan terhadap para ulama yang hidup semasa dengan kami.

Dalam menuliskan biografi para ulama tersebut jika ia tidak mampu secara terus terang mengungkapkan cacian atas diri mereka (karena takut diserang balik) maka ia akan menuliskan ungkapan “Allâh Yushlihuh” (semoga Allah menjadikan dia seorang yang lurus), atau semacamnya. Ini semua tidak lain adalah karena akidah dia yang berbeda dengan mereka” [ Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, j. 1, h. 185.]

Setelah mengutip pernyataan al-Hâfizh al-Ala-i di atas, al-Imâm Tajuddin as-Subki lalu menuliskan komentar berikut:

“Sebenarnya, keadaan guru kita adz-Dzahabi ini lebih parah dari pada apa yang digambarkan oleh al-Hâfizh al-Ala-i.

Benar, dia adalah syaikh kita dan guru kita, hanya saja kebenaran lebih berhak untuk diikuti dari pada dirinya. Ia memiliki fanatisme yang berlebihan hingga mencapai batas yang tercela.

Saya khawatir atas dirinya di hari kiamat nanti bahwa ia akan dituntut oleh mayoritas ulama Islam dan para Imam yang telah membawa syari’at Rasulullah kepada kita, karena sesungguhnya mayoritas mereka adalah kaum Asy’ariyyah.

Sementara adz-Dzahabi apa bila ia menemukan seorang yang bermadzhab Asy’ari maka ia tidak akan tinggal diam untuk mencelanya. Yang saya yakini bahwa para ulama Asy’ariyyah tersebut, walaupun yang paling rendah di antara mereka di hari kiamat nanti kelak akan menjadi musuh-musuhnya.

Hanya kepada Allah kita berharap agar bebannya diringankan, semoga Allah memberi ilham kepada para ulama tersebut untuk memaafkannya, juga semoga Allah memberikan syafa’at mereka baginya. Sementara itu, para ulama yang semasa dengan kami mengatakan bahwa semua pendapat yang berasal dari dirinya tidak boleh di anggap dan tidak boleh dijadikan sandaran”[  Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, j. 1, h. 190 dalam penyebutan biografi Ahmad ibn Shaleh al-Mishri ]

Pada bagian lain, masih dalam kitab Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, al-Imâm Tajuddin as-Subki juga menuliskan sebagai berikut:

“Adapun kitab at-Târîkh karya guru kami; adz-Dzahabi, semoga Allah memberikan ampunan kepadanya, sekalipun sebuah karya yang bagus dan menyeluruh, namun di dalamnya penuh dengan fanatisme berlebihan, semoga Allah memaafkannya. Di dalamnya ia telah banyak mencaci-maki para ahli agama, yaitu mencaci maki kaum sufi, padahal mereka itu adalah orang-orang saleh. Ia juga banyak menjelekan para Imam terkemuka dari kalangan madzhab Syafi’i dan madzhab Hanafi.

Ia memiliki kebencian yang berlebihan terhadap kaum Asy’ariyyah. Sementara terhadap kaum Mujassimah ia memiliki kecenderungan bahkan ia memuji-muji mereka.

Walau demikian ia tetap salah seorang Hâfizh terkemuka dan Imam yang agung. Jika sejarawan ( Mu’arrikh ) sekelas adz-Dzahabi saja memiliki kecenderungan fanatisme madzhab berlebihan hingga batas seperti ini, maka bagaimana lagi dengan para sejarawan yang berada jauh di bawah tingkatan adz-Dzahabi…?!… Karena itu pendapat kami ialah bahwa penilaian al-Jarh ( cacian ) dan al-Madh ( pujian ) dari seorang sejarawan tidak boleh diterima kecuali apa bila terpenuhi syarat-syarat yang telah dinyatakan oleh Imam agung umat ini ( Habr al-Ummah ), yaitu ayahanda kami ( al-Imâm Taqiyuddin as-Subki ), semoga rahmat Allah selalu tercurah atasnya ”.

Al-Imâm al-Hâfizh Jalaluddin as-Suyuthi dalam kitabnya karyanya berjudul Qam’u al-Mu’âridl Bi Nushrah Ibn Fâridl menuliskan sebagai berikut:

Anda jangan merasa heran dengan sikap sinis adz-Dzahabi. Sungguh adz-Dzahabi ini memiliki sikap benci dan sangat sinis terhadap al-Imâm Fakhruddin ar-Razi, padalah ar-Razi adalah seorang Imam yang agung.

Bahkan ia juga sangat sinis terhadap Imam yang lebih agung dari pada Fakhruddin ar-Razi, yaitu kepada al-Imâm Abu Thalib al-Makki ; penulis kitab Qût al-Qulûb. Bahkan lebih dari pada itu, ia juga sangat sinis dan sangat benci terhadap al-Imâm yang lebih tinggi lagi derajatnya dari pada Abu Thalib al-Makki, yaitu kepada al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari.

Padahal siapa yang tidak kenal al-Asy’ari…?!…Namanya harum semerbak di seluruh penjuru bumi. Sikap buruk adz-Dzahabi ini ia tulis sendiri dalam karya-karyanya, seperti al-Mîzân, at-Târikh, dan Siyar A’lâm an-Nubalâ’. Adakah anda akan menerima penilaian buruk adz-Dzahabi ini terhadap para ulama agung tersebut…?!… Demi Allah sekali-kali jangan, anda jangan pernah menerima penilaian adz-Dzahabi ini. Sebaliknya anda harus menempatkan derajat para Imam agung tersebut secara proporsional sesuai dengan derajat mereka masing-masing”Ar-Raf’u Wa at-Takmîl Fî al-Jarh Wa at-Ta’dîl, h. 319-320 karya asy-Syaikh Abd al-Hayy al-Laknawi mengutip dari risalah Qam’u al-Mu’âridl karya al-Hâfizh as-Suyuthi. Tidak sedikit para ulama dalam karya mereka masing-masing menuliskan sikap buruk adz-Dzahabi ini terhadap al-Imâm Abu al-Hasan al-Asy’ari, kaum Asy’ariyyah, dan secara khusus kebenciannya terhadap kaum sufi, di antaranya salah seorang sufi terkemuka al-Imâm Abdullah ibn As’ad al-Yafi’i al-Yamani dengan karyanya berjudul Mir’âh al-Janân Wa ‘Ibrah al-Yaqzhân, dan al-Imâm Abd al-Wahhab asy-Sya’rani dengan karyanya berjudul al-Yawâqît Wa al-Jawâhir Fî Bayân ‘Aqâ’id al-Akâbir, termasuk beberapa karya yang telah kita sebutkan di atas.]

Asy-Syaikh al-Imâm Ibn al-Wardi dalam kitab Târîkh Ibn al-Wardi pada bagian akhir dari juz ke dua dalam penulisan biografi adz-Dzahabi mengatakan bahwa di akhir hayatnya adz-Dzahabi bersegera menyelesaikan kitab Târîkh-nya. Dalam kitab at-Târîkh ini adz-Dzahabi menuliskan biografi para ulama terkemuka di daratan Damaskus dan lainnya. Metode penulisan yag dipakai adalah dengan bertumpu kepada peristiwa-peristiwa yang terjadi di antara mereka dari masa ke masa. Hanya saja buku ini kemudian berisi sinisme terhadap beberapa orang ulama terkemuka [ Barâ’ah al-Asy’ariyyîn mengutip dari Târîkh Ibn al-Wardi, j. 2, h. 13 ]

Saya Abou Fateh, penulis buku yang lemah ini, –sama sekali bukan untuk tujuan mensejajarkan diri dengan para ulama di atas dalam menilai adz-Dzahabi, tapi hanya untuk saling mengingatkan di antara kita–, menambahkan:

“Al-Hâfizh Syamsuddin adz-Dzahabi ini adalah murid dari Ibn Taimiyah.Kebanyakan apa yang diajarkan oleh Ibn Taimiyah telah benar-benar diserap olehnya, tidak terkecuali dalam masalah akidah. Salah satu karya adz-Dzahabi yang sekarang ini merupakan salah satu rujukan utama kaum Wahhabiyyah dalam menetapkan akidah tasybîh mereka adalah sebuah buku berjudul :

al-‘Uluww Li al-‘Aliyy al-‘Azhîm”.

Buku ini wajib dihindari dan dijauhkan dari orang-orang yang lemah di dalam masalah akidah. Karena ternyata, –dan ini yang membuat miris penulis–, tidak sedikit di antara generasi muda kita sekarang yang terlena dengan ajaran-ajaran Ibn Taimiyah dan faham-faham Wahhabiyyah hingga menjadikan buku adz-Dzahabi ini sebagai salah satu rujukan dalam menetapkan akidah tasybîh mereka. Hasbunallâh.

http://ummatipress.com/2011/09/20/adz-dzahabi-sanad-awal-kebencian-terhadap-pengikut-aqidah-asyariyah/

حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا أَبُو جَمْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ زَهْدَمَ بْنَ مُضَرِّبٍ قَالَ سَمِعْتُ عِمْرَانَ بْنَ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرُكُمْ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ قَالَ عِمْرَانُ لَا أَدْرِي أَذَكَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدُ قَرْنَيْنِ أَوْ ثَلَاثَةً قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ بَعْدَكُمْ قَوْمًا يَخُونُونَ وَلَا يُؤْتَمَنُونَ وَيَشْهَدُونَ وَلَا يُسْتَشْهَدُونَ وَيَنْذِرُونَ وَلَا يَفُونَ وَيَظْهَرُ فِيهِمْ السِّمَنُ

 Telah menceritakan kepada kami Adam telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah menceritakan kepada kami Abu Jamrah berkata,,

aku mendengar Zahdam bin Mudharrib berkata;

aku mendengar ‘Imran bin Hushain radliallahu ‘anhuma berkata;

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Sebaik-baik kalian adalah yang hidup pada zamanku (generasiku) kemudian orang-orang yang datang setelah mereka kemudian orang-orang yang datang setelah mereka.

‘Imran berkata:

Aku tidak tahu apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan lagi setelah (generasi beliau) dua atau tiga generasi setelahnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Sesungguhnya setelah kalian akan ada kaum yang suka berkhianat (sehingga) mereka tidak dipercaya, mereka suka bersaksi padahal tidak diminta persaksian mereka, mereka juga suka memberi peringatan padahal tidak diminta berfatwa dan nampak dari ciri mereka orangnya berbadan gemuk-gemuk.

2457

Nama asli saya Nio Cwan Chung = Sang Imam.


-

Masa Kecil Sudah Tertarik Dengan Islam

.

Saya lahir di Sukabumi, Jawa Barat, 12 mei 1965.

Nama asli saya Nio Cwan Chung.

Saya adalah WNI keturunan Tionghoa.

Sejak kecil saya mengenal dan menganut ajaran Konghucu,

karena ayah saya seorang pendeta Konghucu.

Selain mengenal ajaran Konghucu, saya juga mengenal ajaran Islam melalui pergaulan di lingkungan rumah dan sekolah.

Saya sering memperhatikan cara-cara ibadah orang-orang muslim. Kerena terlalu sering memperhatikan tanpa sadar saya diam-diam suka melakukan shalat. Kegiatan ibadah orang lain ini saya lakukan walaupun saya belum mengikrarkan diri menjadi seorang muslim.

Kehidupan keluarga saya sangat memberikan kebebasan dalam memilih agama. Sehingga saya memilih agama Kristen Protestan menjadi agama saya. Setelah itu saya berganti nama menjadi Pilot Sagaran Antonio.

Kepindahan saya ke agama Kristen Protestan tidak membuat ayah saya marah. Ayah akan sangat kecewa jika saya sekeluarga memilih Islam sebagai agama.

Sikap ayah saya ini berangkat dari image gambaran buruk terhadap pemeluk Islam.

Ayah saya sebenarnya melihat ajaran Islam itu bagus.

Apalagi dilihat dari sisi Al Qur’an dan hadits.

Tapi, ayah saya sangat heran pada pemeluknya yang tidak mencerminkan kesempurnaan ajaran agamanya.

Image Islam Identik Dengan Kemiskinan

Gambaran buruk tentang kaum muslimin itu menurut ayah saya terlihat dari banyaknya umat Islam yang berada dalam kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan.

Bahkan, sampai mencuri sandal di mushola pun dilakukan oleh umat Islam sendiri. Jadi keindahan dan kebagusan ajaran Islam dinodai oleh prilaku umatnya yang kurang baik.

Kendati demikian buruknya citra kaum muslimin di mata ayah, tak membuat saya kendur untuk mengetahui lebih jauh tentang agama islam.

Untuk mengetahui agama Islam, saya mencoba mengkaji Islam secara komparatif (perbandingan) dengan agama-agama lain. Dalam melakukan studi perbandingan ini saya menggunakan tiga pendekatan, yakni pendekatan sejarah, pendekatan alamiah, dan pendekatan nalar rasio biasa. Sengaja saya tidak menggunakan pendekatan kitab-kitab suci agar dapat secara obyektif mengetahui hasilnya.

Berdasarkan tiga pendekatan itu, saya melihat Islam benar-benar agama yang mudah dipahami ketimbang agama-agama lain. Dalam Islam saya temukan bahwa semua rasul yang diutus Tuhan ke muka bumi mengajarkan risalah yang satu, yaitu Tauhid.

Selain itu, saya sangat tertarik pada kitab suci umat Islam, yaitu Al-Qur’an. Kitab suci ini penuh dengan kemukjizatan, baik ditinjau dari sisi bahasa, tatanan kata, isi, berita, keteraturan sastra, data-data ilmiah, dan berbagai aspek lainnya.

Islam Adalah Agama Yang Lengkap

Ajaran Islam juga memiliki system nilai yang sangat lengkap dan komprehensif, meliputi system tatanan akidah, kepercayaan, dan tidak perlu perantara dalam beribadah. Dibanding agama lain, ibadah dalam islam diartikan secara universal. Artinya, semua yang dilakukan baik ritual, rumah tangga, ekonomi, sosial, maupun budaya, selama tidak menyimpang dan untuk meninggikan siar Allah, nilainya adalah ibadah.

Selain itu,dibanding agama lain, terbukti tidak ada agama yang memiliki system selengkap agama Islam.Hasil dari studi banding inilah yang memantapkan hati saya untuk segera memutuskan bahwa Islam adalah agama yang dapat menjawab persoalan hidup.

Masuk Islam

Setelah melakukan perenungan untuk memantapkan hati, maka di saat saya berusia 17 tahun dan masih duduk di bangku SMA, saya putuskan untuk memeluk agama Islam.

Oleh K.H.Abdullah bin Nuh al-Ghazali  saya dibimbing untuk mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat pada tahun 1984.

Nama saya kemudian diganti menjadi Syafii Antonio.

Keputusan yang saya ambil untuk menjadi pengikut Nabi Muhammad saw.

Ternyata mendapat tantangan dari pihak keluarga. Saya dikucilkan dan diusir dari rumah. Jika saya pulang, pintu selalu tertutup dan terkunci. Bahkan pada waktu shalat, kain sarung saya sering diludahi.

Perlakuan keluarga terhadap diri saya tak saya hadapi dengan wajah marah, tapi dengan kesabaran dan perilaku yang santun. Ini sudah konsekuensi dari keputusan yang saya ambil.

Alhamdulillah,perlakuan dan sikap saya terhadap mereka membuahkan hasil. Tak lama kemudian mama menyusul jejak saya menjadi pengikut Nabi Muhammad saw.

Setelah mengikrarkan diri, saya terus mempelajari Islam, mulai dari membaca buku, diskusi, dan sebagainya.

Kemudian saya mempelajari bahasa Arab di Pesantren an-Nidzom, Sukabumi, dibawah pimpinan K.H.Abdullah Muchtar.

Lulus SMA saya melanjutkan ke ITB dan IKIP, tapi kemudian pindah ke IAIN Syarif Hidayatullah. Itupun tidak lama, kemudian saya melanjutkan sekolah ke University of yourdan (Yordania).

Selesai studi S1 saya melanjutkan program S2 di international Islamic University (IIU) di Malaysia, khusus mempelajari ekonomi Islam.

Selesai studi, saya bekerja dan mengajar pada beberapa universitas. Segala aktivitas saya sengaja saya arahkan pada bidang agama.

Untuk membantu saudara-saudara muslim Tionghoa, Saya aktif pada Yayasan Haji Karim Oei. Di yayasan inilah para mualaf mendapat informasi dan pembinaan. Mulai dari bimbingan shalat, membaca Al-Qur’an, diskusi, ceramah, dan kajian Islam, hingga informasi mengenai agama Islam.

(Hamzah, mualaf.com) Redaksi : Saat ini M Syafii Antonio aktif diberbagai Lembaga Keuangan Islam/Syariah baik Bank maupun Non Bank, dan membina berbagai pendidikan syariah

Dr. Muhammad Syafii Antonio, MSc

  • Doktor Banking & Micro Finance, University of Melbourne, 2004
  • Master of Economic, International Islamic University, Malayasia, 1992
  • Sarjana Syariah, University of Jordan, 1990
  • Komite Ahli Pengembangan Perbankan Syariah pada Bank Indonesia
  • Dewan Komisaris Bank Syariah Mega Indonesia
  • Dewan Syariah BSM
  • Dewan Syariah Takaful
  • Dewan Syariah PNM
  • Dewan Syariah Nasional, MUI

Perbankan dan Syariah serta Pesantren

Muhammad Syafii Antonio adalah seorang alumni pesantren yang tercebur ke dunia perbankan.

Masuk pesantren dengan alasan ingin mendalami Islam sebagai agama yang baru dianutnya,

Syafii menapak sukses hingga menjadi pakar ekonomi syariah nasional saat ini. Ia memulai pendidikan pesantrennya pada 1985,

ketika lulus dari SMU. Ia masuk pesantren tradisional An-Nizham, Sukabumi. Alasannya ketika itu ingin mendalami ilmu keislaman secara utuh.

“ Jika ingin menjadi muslim yang komprehensif, pesantren adalah tempat yang ideal.”

Tiga tahun di pesantren, ia melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Ia mendaftar ke ITB, IKIP, dan IAIN. Meski diterima, karena ia ingin lebih besar untuk mempelajari Islam, Syafii memilih belajar ke luar negeri . Lewat Muhammadiyah, ia mendapat kesempatan belajar di Yordania untuk studi Islam bidang syariah. Di saat yang sama ia juga mengambil kuliah ekonomi.

Lalu ia melanjutkan ke Al-Azhar untuk memperdalam studi Islam.

Perjalanan hidupnya berbelok ketika ia batal melanjutkan ke Manchester University karena Perang Teluk. Akhirnya, ia mendaftar ke International Islamic University Malaysia.

Ia mengambil studi Banking and Finance dan selesai pada 1992. Syafii berkecimpung di perbankan syariah mulai tahun itu juga saat ia bertemu delegasi Indonesia yang akan mendirikan bank syariah setelah melihat contoh bank syariah di Malaysia.

Kembali ke Indonesia, ia bergabung dengan Bank Muamalat, bank dengan sistem syariah pertama di Indonesia.

Dua tahun setelah itu, ia mendirikan Asuransi Takaful, lalu berturut-turut reksa dana syariah.

Empat tahun membesarkan Bank Muamalat, ia mundur dan mendirikan Tazkia Group yang memiliki beberapa unit usaha dengan mengembangkan bisnis dan ekonomi syariah.

Sebagai alumni pesantren, Syafii mengungkapkan ketidakyakinannya bahwa kurikulum pesantren bisa menghasilkan seseorang dengan mental teroris.

“ Apalagi pesantren tradisional atau salafi,” katanya.

Pada pesantren ini, tuntutan untuk tasawufnya cukup tinggi sehingga mereka menekankan pada akhlak dan etika.

“ Bahkan saya melihat beberapa pesantren bisa terjerumus pada zuhud yang negatif dan sangat berseberangan dengan apa yang saya dorong sekarang,” katanya.

Begitu pula di beberapa pesantren modern dan progresif seperti Gontor, Darunnajah, dan lain-lain, pendekatan metode belajarnya sudah diperbarui.

“ Santrinya sudah menggunakan dua bahasa asing dan tidak terlalu terikat pada mazhab tertentu dari sisi fiqih dan akidah.”

Kemudian ada jenis pesantren lainnya, yaitu yang mencoba tidak hanya berkutat pada aspek teologi dan teori, tapi mungkin mereka mencoba untuk merespons tantangan modernisasi dan westernisasi sebagai realisasi amar ma’ruf nahi munkar.

“ Kalau yang terakhir ini yang dikembangkan beberapa pesantren di Indonesia, tanpa saya berhak menyebut nama, mungkin itu bisa jadi yang paling dekat pada pergerakan-pergerakan yang lebih progresif,” katanya.

Toh, kalau pun ada tersangka teroris, itu tak bisa disebut mewakili pesantren dan ajaran Islam. Sebagai alumni pesantren, Syafii juga memiliki kritik terhadap pendidikan pesantren saat ini.

“ Saya lihat kurikulumnya harus ditinjau ulang,” katanya. Ia mencontohkan kitab-kitab klasik yang diajarkan di pesantren. “

” Konteks dan contohnya sudah sangat klasik dan belum tentu selesai dipelajari dalam dua-tiga tahun,” katanya.

Ia mengimbau agar kurikulum pesantren memadatkan apa saja yang harus dipelajari santri.

“ Ada target yang harus dirancang untuk santri,” katanya.

Selain itu, gaya belajar pesantren juga masih terpusat pada satu-dua kiai.

“ Tak ada regenerasi dan tentu sangat berat bagi para kiai itu untuk mengajar sekian banyak santri,” katanya.

Karenanya, tak heran jika terdapat jarak yang jauh dalam penguasaan ilmu antara kiai dan asistennya. Syafii melihat para kiai ilmunya sangat banyak dan ikhlas, tapi kurang responsnya terhadap masalah-masalah sosial, ekonomi, dan kemasyarakatan. Dalam media apa pun, tulisan kiai sangat jarang sekali.

Ketika muncul pemikiran frontal, mereka cenderung reaktif, bukan proaktif.

“ Seharusnya jika ada ide-ide jernih langsung dituliskan dan disampaikan ke masyarakat,” katanya.

(dari berbagai sumber)

http://blog.muslim-indonesia.com/muhammad-syafii-antonio-sekilas-tentang-saya.html/comment-page-1#comment-210

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ مَحْبُوبٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ قَالَ تَذَاكَرْنَا عِنْدَ إِبْرَاهِيمَ الرَّهْنَ فِي السَّلَفِ فَقَالَ حَدَّثَنِي الْأَسْوَدُ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اشْتَرَى مِنْ يَهُودِيٍّ طَعَامًا إِلَى أَجَلٍ مَعْلُومٍ وَارْتَهَنَ مِنْهُ دِرْعًا مِنْ حَدِيدٍ

 Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mahbub telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid telah menceritakan kepada kami Al A’masy berkata;

Kami pernah saling menceritakan dihadapan Ibrahim tentang jual beli As-Salaf, maka dia berkata;

Telah telah menceritakan kepada saya Al Aswad dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah membeli makanan dari orang Yahudi (dengan pembayaran di belakang dengan ketentuan waktu tertentu) dan beliau gadaikan baju besi Beliau (sebagai jaminan) .

-HR-Imam Bukhari rahimahullah-