Qobliyah / Ba’diyah pada Shalat Jum’at.


..

Para ulama sepakat bahwa shalat sunnat yang di lakukan setelah shalat Jum’at adalah sunnah dan termasuk rawatib ba’diyah Jum’at. seperti yang di riwayatkan oleh Imam muslim dan Imam Bukhari. Sedangkan shalat sunnah sebelum shalat Jum’at terdapat dua kemungkinan:

1./ Shalat sunnat mutlaq,

hukumnya sunnat. Waktu pelaksanannya berakhir pada saat imam memulai khutbah.

2./ Shalat sunnat Qobliyah Jum’at.

Para ulama berbeda pendapat seputar masalah ini, yaitu sbb. :

a./ Dianjurkan untuk melaksanakannya. Pendapat ini di kemukakan oleh Imam abu Hanifah, pengikut Imam Syafi’i (menurut pendapat yang dalilnya lebih jelas) dan pendapat Pengikut Imam Ahmad bin Hanbal dalam riwayatnya yang tidak masyhur.

b./ Tidak di anjurkan untuk melaksanakannya.yaitu pendapat imam Malik, pengikut Imam Ahmad bin Hanbal dalam riwayatnya yang masyhur. Dalil yang menyatakan dianjurkannya shalat sunnat qobliyah Jum’at:

1./ Hadist Rasul yang artinya

Semua shalat fardlu itu pasti diikuti oleh shalat sunnat qobliyah dua rakaat 

(HR.Ibnu Hibban yang telah dianggap shahih dari hadist Abdullah Bin Zubair).

Hadist ini secara umum menerangkan adanya shalat sunnat qobliyah tanpa terkecuali shalat Jum’at.

2./ Hadist Rasul yang artinya

” Di antara dua adzan dan iqomat terdapat shalat sunnat,diantara dua adzan dan iqomat terdapat shalat sunnat, di antara dua adzan dan iqomat terdapat shalat sunnat bagi yang ingin melakukannya 

( HR- Imam Muslim rahimahullah).

3./ Perbuatan Nabi yang disaksikan oleh Ali Bin Abi Thalib yang berkata :

Nabi telah melakukan shalat sunnah empat rakaat sebelum dan setelah shalat jumu’at dengan salam di akhir rakaat ke empat

( HR.Thabrani dalam kitab Al-Ausath dari riwayat Imam Ali Bin Abi Thalib ).

  4./ Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yazid telah menceritakan kepada kami Said dia adalah anak dari Abu Ayyub berkata, telah menceritakan kepada saya Ja’far bin Rabi’ah dari ‘Irak bin Malik dari Abu Salamah dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata:

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa mengerjakan shalat ‘Isya’ kemudian shalat malam delapan raka’at dan dua raka’at dengan duduk dan dua raka’at antara dua adzan dan tidaklah Beliau pernah meninggalkannya. .

(HR-Imam Bukhari rahimahullah).

Tetapi dalam dalam kitab yang sama lewat riwayat Abi Hurairah berkata :

Nabi telah melakukan shalat sunnat dua rakaat qobliyah dan ba’diyah Jum’at

.

Dalil yang menerangkan tidak dianjurkannya shalat sunnat qobliyah Jum’at adalah sbb :

Hadist dari Saib Bin Yazid :

” pada awalnya, adzan Jum’at dilakukan pada saat imam berada di atas mimbar yaitu pada masa Nabi, Abu bakar dan Umar, tetapi setelah zaman Ustman dan manusia semakin banyak maka Sahabat Ustman menambah adzan menjadi tiga kali ( memasukkan iqomat ), menurut riwayat Imam Bukhari menambah adzan menjadi dua kali ( tanpa memasukkan iqamat ). ( H.R. riwayat Jama’ah kecuali Imam Muslim ). Dengan hadist di atas Ibnu al-Qoyyim berpendapat “

ketika Nabi keluar dari rumahnya langsung naik mimbar kemudian Bilal mengumandangkan adzan. Setelah adzan selesai Nabi langsung berkhotbah tanpa adanya pemisah antara adzan dan khotbah, lantas kapan mereka itu melaksanakan shalat sunnat qobliyah Jum’at?

Catatan :

Permasalahan ini adalah khilafiyah furu’iyyah.

perbedaan dalam cabang hukum agama

maka tidak boleh fanatik di antara dua pendapat di atas.

Dalam kaidah fiqh mengatakan

la yunkaru al-mukhtalaf fih wa innama yunkaru al- mujma’ alaih.

Seseorang boleh mengikuti salah satu pendapat yang diperselisihkan ulama dan kita tidak boleh mencegahnya untuk melakukan hal itu, kecuali permasalahan yang telah disepakati ulama

Wassalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

By : Dewan pengasuh Pesantren Virtual -Machmudi

.

Tanggapan lainnya  .

JIKA MASUK MASJID SEDANG IMAM TENGAH MEMBERI KHUTBAH JUM’AT

.

Jika seorang muslim masuk masjid sedang imam tengah menyampaikan khutbah Jum’at, maka hendaklah dia tidak duduk sehingga mengerjakan shalat tahiyyatul masjid dua rakaat seraya meringankannya. Yang demikian itu didasarkan pada dalil berikut ini.

Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan :

“ Sulaik Al-Ghathfani pernah datang pada hari Jum’at ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tengah menyampaikan khutbah, lalu dia duduk, maka beliau berkata kepadanya : ‘Wahai Sulaik, berdiri dan kerjakanlah shalat dua raka’at dan bersegera dalam mengerjakannya’. Kemudian beliau bersabda.

“Jika salah seorang diantara kalian datang pada hari Jum’at sedang imam tengah berkhutbah maka hendaklah dia mengerjakan shalat dua raka’at dan hendaklah dia bersegera dalam mengerjakan keduanya ”

Diriwayatkan oleh Asy-Syaikhani

= Lihat /> Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari secara ringkas di beberapa tempat, yang di antaranya adalah di didalam Kitaabul Jumu’ah, bab Idzaa Ra’al Imaam Rajulan Wahuwa Yakhthuhu Amarahu an Yushaliyya Rak’atain no. 930. Dan diriwayatkan oleh Muslim, di dalam Kitaabul Jumu’ah, bab At-Tahiyyaat wal Imaam Yakhthuhu no. 875. Dan lafazh di atas adalah miliknya

Disalin dari kitab Bughyatul Mutathawwi Fii Shalaatit Tathawwu, Edisi Indonesia Meneladani Shalat-Shalat Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Penulis Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul,

Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i 

.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda.

Barangsiapa mandi kemudian dia menghadiri shalat Jum’at, lalu mengerjakan shalat yang telah ditetapkan baginya, selanjutnya dia diam sehingga imam selesai dari khutbahnya dan kemudian dia mengerjakan shalat bersamanya, maka akan diberikan ampunan baginya atas dosa antara satu jum’at itu dengan jum’at yang lain dan ditambah tiga hari

Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Muslim, di dalam Kitaabul Jumu’ah, bab Fadhlu Man Istama’a wa anshata fila Khutbbah (hadits no. 857)

Dan sebuah riwayat dari Abu Dawud

Barangsiapa mandi hari jum’at dan memakai pakaian yang terbaik serta memakai wangi-wangian jika ia memilikinya, kemudian ia menghadiri shalat Jum’at, dan tidak juga melangkahi leher (barisan) orang-orang, lalu dia mengerjakan shalat yang telah ditetapkan baginya, selanjutnya diam jika imam telah keluar (menuju ke mimbar) sampai selesai dari shalatnya, maka ia akan menjadi kaffarah baginya atas apa yang terjadi antara hari itu dengan hari Jum’at sebelumnya

Dia menceritakan, Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

Dan ditambah tiga hari

Dia juga mengatakan

Sesungguhnya (balasan) kebaikan itu sepuluh kali lipatnya

Diriwayatkan oleh Abu Daud di dalam Kitab Kitaabuth Thaharah, bab Fil Ghusl Yaumal Jumu’ah, no. 343.

Dinilai shahih oleh Al-Albani di dalam kitab, Shahih Sunan Abi dawud I/70
.

[ رَبَّنَا هَبْ لَنَ مِنْ أَزْوَاجِـنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةً أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا ]

.

Ghuluw

عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حُنَيْنٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ نَهَانِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ التَّخَتُّمِ بِالذَّهَبِ وَعَنْ لِبَاسِ الْقَسِّيِّ وَعَنْ الْقِرَاءَةِ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ وَعَنْ لِبَاسِ الْمُعَصْفَرِ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdu bin Humaid; Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazaq;

Telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Ibrahim bin ‘Abdullah bin Hunain dari Bapaknya dari ‘Ali bin Abu Thalib

ia berkata;

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarangku memakai cincin emas, pakaian yang dibordir (disulam) dengan sutera, membaca Al Qur’an ketika ruku’ dan sujud, serta pakaian yang di celup warna kuning.

 [ HR – Imam Bukhari rahimahullah}

Ibnu Taimiyah – benarkah sudah bertobat.


.

Suatu perkara yang membingungkan  orang adalah sebagaimana yang disebutkan pada sebagian sumber bahwa Syaikhul Islam telah menulis sebuah surat yang di dalamnya terdapat aqidah yang menyalahi apa yang beliau dakwahkan dan fatwakan sepanjang hidupnya, bahkan menjadi sebab beliau dimasukkan kedalam penjara.

ADA APA DENGAN  IBNU TAIMIYAH sang SYAIKHUL  ISLAM….sang MUJASIMAH             

[ Kisah rujuknya beliau (kedalam aqidah Asy’ari.)]

Muridnya -Ibnu Abdil Hadi- (Wafat tahun 744 Hijriah) Seperti yang terdapat pada (Uqududduriyyah: 197) yang dinukil dari Adz-Dzahabi.

Adz Dzahabi (Wafat tahun 748 Hijriah) –muridnya- seperti yang telah dinukil oleh Ibnu Abdil Hadi diatas:

Lafaznya adalah seperti berikut :

“….terjadi perkara yang panjang, kemudian dikirim surat Sultan ke Syam untuk memasukkannya ke dalam penjara, maka dibaca di hadapan ramai orang, maka orang-orang pun menjadi sedih. Dia dipenjara satu tahun setengah ( yaitu pada tahun 707 Hijriah ) kemudian dikeluarkan, dan dia diminta untuk menulis surat, diancam dan dijanjikan untuk dibunuh jika tidak menulisnya. Dia bermukim di Mesir membacakan Ilmu dan manusia berkumpul di sisinya….”

Ibnul Muallim (Wafat tahun 725 Hijriah) di dalam kitab Najmul Muhtadi wa Rajmil Mubtadi(Naskah di Paris no: 638) dan Nuwairi (Wafat tahun 733 Hijriah) di dalam Kitab Nihayatul Arab -lihat Kitab Aljami’ lishirathi syaikhil Islam Ibnu Taimiyah halaman: 181-182, pada kitab tersebut diterangkan bahwasanya Majelis (taubat, pent) tersebut setelah kedatangan Amir Husamuddin Muhinnan (Rabi’ul Akhir 707 Hijriah) dan Syaikhul Islam dibebaskan pada hari Juma’at bersamaan 23 Rabi’ul Awal 707 Hijriah.

Kemudian An-Nuwairy menukilkan kandungan surat tersebut yang menceritakan apa yang terjadi, bahwa (Syaikhul Islam) telah menyebutkan bahwa dia adalah “Asy’ari”, dan meletakkan kitab Asy’ari diatas kepalanya, serta rujuk (kembali) pada beberapa masalah (‘Arasy, al-Qur’an, nuzul, dan Istiwa) dari mazhabnya –ahlussunnah-. Surat tersebut bersamaan 25 Rabi’ul Awal 707 Hijriah.

Kemudian diadakan majelis berikutnya, dia (syaikhul Islam) menulis serupa dengan tulisan sebelumnya pada Rabi’ul Akhir 707 Hijriah dan dia disumpah.

Ad-Duwadi (Wafat setelah tahun 736 H) menyebutkan dalam Kitab “Kanzud Durar” bahwa mereka mengadakan majelis berikutnya pada tarikh 12 Rabi’ul akhir 707 Hijriah setelah kepergian amir Husamuddin, dan terjadi kesepakatan untuk mengubah lafaz-lafaz tentang Aqidah dan berakhirnya majelis dalam keadaan baik.

Ibnu Rajab (Wafat tahun 795 H) menyebutkan Dalam Kitab Dzail Alat Thabaqatil Hanabilah serupa dengan yang disebutkan oleh Ibnu Abdil Hadi pada Kitab Al-Uqud. Kemudian dia berkata :

Adz-Dzahabi, Al-Barzali dan lain-lain telah menyebutkan bahwa Syaikh telah menulis sebuah surat secara Mujmal (global) yang mengandungi perkataan dan lafadz ketika dia di ancam untuk dibunuh.

[[[...........Benarkah............................( aku sendiri bingung ).............]]]

Ibnu Hajar (Wafat Tahun 752 H) dalam Kitab Ad-Durarul Kaminah serupa dengan apa yang disebutkan oleh An-Nuwairi dalam Kitab “Nihayatul Arab” kemudian Ibnu Hajar mengaitkan nukilan tersebut kepada Tarikh Al-Barzaliy.

Ibnu Taghri Bardi (Wafat tahun 874 H) dalam kitab Al-Minhal As-Shufi serupa dengan apa yang disebutkan oleh Ibnu Hajar. Konteks penukilan menunjukkan bahawa dia menukil dari kitab Kamaluddin bin Zamlakani -permusuhannya dengan Syaikhul Islam sangat terkenal-. Di dalam kitab tersebut terdapat biografi Syaikhul Islam, dia juga telah menukil dari kitab An-Nujum Az-Zahirah.

Ada pun Barzaliy (Wafat tahun 739 H) -Sahabatnya- tidak menulis sama sekali kejadian-kejadian tersebut pada tahun-tahun tersebut. (Aljami’ lishirathi syaikhil Islam Ibnu Taimiyah: 213-214).

CK= Didalam kitab tarikhnya, Al-Barzali memang tidak menyebutkan apapun tentang surat dan rujuk, tetapi penukilan sekelompok ahli sejarah (Ibnu Hajar dan Ibnu Rajab misalnya, pent) kepada kitab tersebut. Menunjukkan bahwa Al-Barzalli telah menyebutkan sesuatu tentang perkara tersebut. Kemungkinan dia menyebutkan pada kitab tarikhnya yang tidak diketahui, atau pada kitab lain semisal Mu’jam syuyukh.

Ibnu Katsir hanya menyebutkan kisah yang berkaitan dengan taubat tersebut pada peristiwa yang terjadi pada tahun 706 Hijriah tanpa menyebutkan kelanjutannya dengan cerita sebagai berikut:

“Dan pada malam Idul Fitri ,  Al-Amiir menghadirkan Saifuddin Salaar perwakilan Mesir, 3 hakim, dan sekelompok Fuqaha’. Tiga hakim tersebut adalah dari mazhab Asy-Syafi’i, Al-Maaliki, dan Al-Hanafi,

sedangkan fuqaha’ yang hadir adalah Al-Baaji, Al-Jazarii, dan An-Namruwy, dan mereka mengharapkan agar Syeikh Taqiyuddin bin Taimiyyah dikeluarkan dari penjara. Sebahagian hadirin mensyaratkan dengan beberapa syarat, di antaranya:

Beliau mestilah merujuk dari sebahagian aqidah dan mereka mengirim utusan agar beliau hadir di tempat itu dan berbicara kepada mereka.

Tetapi beliau menolak hadir ( ke majelis tersebut ) dan tetap hati ( untuk tidak hadir ).

Utusan itu kembali sehingga 6 kali. Beliau tetap kukuh pada pendirian untuk tidak hadir, tidak menoleh pada mereka, dan tidak menjanjikan apapun.

Maka majelis itu pun dibubarkan dan mereka pun kembali tanpa mendapat balasan”. Cerita tersebut memberi kesan bahwa sebahagian kisah taubat ini memang ada, namun akhir dari kisah tersebut adalah justru menguatkan pendapat bahwa Ibnu Taimiyah lantas menulis surat yang menguatkan Aqidahnya, bukan surat yang menyatakan bahwa dia Adalah Asy’ariyah.

Ibnu Katsir tidak mengisyaratkan penulisan surat di sini tetapi di tempat lain disebutkan bahawa Ibnu Taimiyah menulis jawaban ringkas terhadap undangan taubat dan menulis bantahan terperinci dalam kitab yang kemudian dinamakan Tis’iniyat. Akan datang penjelasan tentang sebab ditulisnya kitab ini disisi ketiga tertolaknya kisah akhir taubat Ibnu Taimiyah. Dari uraian di atas jelaslah bahawasanya:

Sebahagian Ahli Sejarah tidak menyebutkan kisah tersebut dan juga sama sekali tidak ditulis.

Sebagian dari Ahli Sejarah hanya mengisyaratkan adanya kisah tersebut tanpa memperincikan surat yang ditulis dan atau menyebutkan bahwa penulisan surat tersebut disertai gertakan dan ancaman pembunuhan.

Sebahagian dari Ahli Sejarah ada yang memperincikan dan menyebutkan teks surat tersebut, tetapi tanpa menyebutkan bahawa penulisan surat disertai gertakan dan ancaman pembunuhan.

Dari uraian tersebut kita dapat mengungkapkan bahwa sesungguhnya Ibnul Muallam dan An-Nuwairi telah menyendiri (asing) diantara orang-orang yang hidup sezaman dengan Syaikhul Islam tentang permasalah rujuknya beliau dari segi konteks tulisannya. Dan itu diikuti oleh sebagian Ahli Sejarah.
Oleh karena itu, dari berita ini dapat diambil salah satu sikap seperti berikut:

Kita mendustakan semua yang telah disebutkan oleh para Ahli Sejarah baik secara global maupun terperinci, dan kita katakan bahwa semua itu tidak mungkin terjadi.

Kita menetapkan asas kisah tersebut, tanpa menetapkan apapun berkaitan rujuk dari Aqidah  dan tidak menetapkan tulisan yang penyelisihannya jelas dengan apa yang telah didakwahkan oleh Syaikhul Islam sebelum tarikh tersebut dan setelahnya.

Kita menetapkan seluruh tulisan yang Ibnul Muallim dan An-Nuwairi telah menyendiri berkaitan masalah rujuk dan surat.

Sikap pertama menusuk dada sendiri.

Sedangkan sikap ketiga .

sama saja dengan menetapkan penyendirian dan keganjilan serta mendahulukan keduanya atas pendapat lain yang masyhur dan lebih banyak.

Yang tsabit berdasarkan pemeriksaan dan tarjih adalah sikap yang kedua: yaitu Syaikhul Islam telah menulis ungkapan secara global setelah diancam dan digertak.

Tetapi di dalam ungkapan tersebut tidak terdapat kata rujuk dari Aqidahnya, tidak melakukan jenaka terhadap aqidah yang batil, dan tidak menulis hal itu seluruhnya.
Hal tersebut disebabkan beberapa sebab yang dapat dilihat dari 3 sisi:

1. Riwayat cerita

Dari periwayatan tersebut, orang-orang yang tidak berpihak kepada Ibnu Taimiyah menggunakan riwayat dari Ibnul Muallam, An-Nuwairy dan Ibnu Hajar yang menukil dari Tarikh Ar-Barzaly tanpa sama sekali mempedulikan riwayat-riwayat lain yang bertentangan atau berbeza dengan riwayat tersebut.

Khusus untuk Ibnu Hajar, kemungkinan beliau salah menukil atau menukil dari orang lain, karena dalam Tarikh Al-Barzaly tidak disebutkan cerita tersebut, justru Ibnu Rajab mengatakan bahwa Al-Barzaly (beliau tidak menyebutkan kitab Tarikh) dan juga Adz-Dzahabi menyebutkan sebagian kisah yang mengatakan bahwa hal itu terjadi di atas paksaan dan tanpa ada kata-kata taubat kecuali kata-kata umum saja.

Jika kita membandingkan riwayat-riwayat diatas, maka jelaslah kualiti periwayatan pihak-pihak yang mendokong Ibnu Taimiyah lebih unggul kerana terdiri dari para Huffaz yang telah disepakati dan juga sezaman dengan Ibnu Taimiyah, artinya riwayatnya lebih ‘ali.

CK=Riwayat dengan rantai sanad yang lebik pendek, dan susunan sanad seperti ini merupakan nilai lebih, karena mempermudah pemeriksaan dan mengurangi kesalahan.

Adapun Ibnu Hajar, beliau menyalahi periwayatan Al-Barzaly, Adz-Dzahabi, Ibnu Abdil Hadi dan juga Ibnu Rajab. Lagi pula beliau menukil cerita tersebut karena tidak Muasharah dengan Ibnu Taimiyah dan penukilannya dilihat sebagai Syaz

CK=Riwayat seorang tsiqah yang menyalahi riwayat perawi lain yang lebih tsiqah atau lebih banyak jumlahnya.

2. Realita setelah peristiwa tersebut

Sisi ini menguatkan sikap kedua berdasarkan fakta-fakta berikut:

Tulisan ini menyelisihi Aqidah Syeikh yang beliau dakwahkan dan perjuangkan sepanjang hidupnya, sebelum kejadian tersebut dan sesudahnya.

Tidak terdapat sedikitpun jejak di dalam kitab dan karangannya yang menunjukkan beliau telah rujuk, isyarat yang menunjukkan surat ini, atau isi dari tulisan ini. Padahal kisah tersebut terjadi sekitar tahun 707 Hijriah, sedangkan beliau Wafat tahun 728 Hijriah. Itu artinya beliau dikatakan beraqidah Asy’ari selama kurun tersebut atau sekitar 21 tahun lamanya.

Ini amat mustahil karena Ibnu Taimiyah telah mengarang banyak kitab-kitab Salafiyah setelah tahun-tahun tersebut. Kitab Dar’ut Taarrud dikarang oleh Ibnu Taimiyah setelah kembalinya beliau dari Mesir seperti yang telah dijelaskan oleh Muhaqqiqnya dengan bukti-bukti yang amat jelas pada Muqaddimah Kitab tersebut.

Kitab tersebut sangat terkenal dan kemudian dibantah oleh oleh tokoh Asyairah yang bernama Kamaluddin bin Syarisyi, kemudian dijawab oleh Ibnu Taimiyah dengan sebuah karangan sebagaimana yang telah disebutkan oleh Ibnu Rajab, Ibnu Abdul Hadi, Adz-Dzahabi, dan Lain-lain.

Kitab tersebut telah diringkaskan oleh Badruddin Al-Hakari, seorang Qadhi bermazhab Syafi’i. Syeikh Rasyad selaku Muhaqqiq berpedoman kepada ringkasan tersebut dan sembilan naskah lainnya. Naskah tersebut ada yang berbeza dan ada yang saling membenarkan. Kemudian setelah itu, Ibnu Taimiyah mengarang Minhajus-Sunnah, iaitu salah satu kitab salafiyyahnya yang paling terkenal.

Syaikhul Islam Rahimahullah telah banyak diperlecehkan dalam berbagai masalah sebelum tarikh kejadian tersebut maupun setelahnya, dipenjara karena masalah tersebut, dan dicela. Tapi beliau tidak sedikitpun diketahui rujuk dari pendapatnya sedikitpun.

Paling kurang beliau hanya berhenti berfatwa sebentar, kemudian kembali melakukan hal itu dan berkata:

Saya tidak dapat menyembunyikan ilmu,

seperti pada masalah Thalaq (Al-Uqud halaman 325), Bagaimana mungkin kali ini beliau menulis surat kepada mereka apa yang bertentangan dengan Aqidah Ahlussunnah dan bersetuju dengan Mazhab Ahli Bid’ah.

Keadaan musuh beliau adalah seperti yang beliau sifatkan sendiri ketika dikatakan kepada beliau:

Wahai Tuanku! Sungguh telah banyak orang yang menentangmu 

Beliau berkata:

Sesungguhnya mereka seperti lalat, kemudian beliau mengangkat telapak tangannya kemulutnya dan meniupnya.” (Al-Uqud Halaman 268). Imam Adz-Dzahabi mensifatkan keteguhan Syaikhul Islam di depan musuh-musuhnya dengan mengatakan:

“…..Hingga menentangnya sekelompok Ulama Mesir dan Syam dengan penentangan yang tidak ada bandingannya… dan dia orang yang teguh tidak terpujuk dan tidak suka, malah beliau tetap mengatakan kebenaran yang pahit sesuai dengan ijtihadnya, ketajaman fikiran, dan keluasan pengetahuannya pada qaul-qaul dan sunan…..”

Pemalsuan terhadap fatwa beliau amat sering dilakukan.

Ibnu Katsir mengisahkan cerita penahanan beliau dalam peristiwa yang terjadi di tahun 726 Hijriah karena berfatwa masalah ziarah kubur yang diadukan kepada sultan.

Pengadunya mengatakan bahwa Ibnu Taimiyah telah menulis surat yang isinya pengharaman untuk menziarahi kubur nabi dan orang-orang shaleh berdasarkan Ijma.

Lalu Ibnu Katsir membela gurunya dengan mengatakan bahwa itu adalah pemalsuan karena gurunya tidak berfatwa tentang keharaman berziarah secara umum,

namun yang haram adalah mengadakan musafir semata-mata untuk berziarah.

Adapun berziarah tanpa melakukan musafir justru dianggap mustahab (sunnah) oleh gurunya.

Pemalsuan fatwa beliau diakui banyak Huffaz diantaranya  Adz-Dzahabi, Ibnu Abdil Hadi, Al-Barzali dan beliau sendiri di dalam Majmu’ Fatawa dan salah satu pengakuan tersebut juga terdapat dalam Muqaddimah Kitab Tis’iniyat yang ditulis khusus untuk membantah kalam nafsi dan Aqidah Asy’ariyah.

Kisah Ini terjadi Bulan Rabi’ul Awal tahun 707 Hijriah, sebelumnya yaitu akhir-akhir tahun 706 Hijriah beliau masih dalam penjara di Mesir dan dijanjikan pembebasan jika mau mengubah beberapa perkara berkait Aqidahnya, namun Ibnu Katsir menjelaskan bahwa di akhir tahun 706 Hijriah ketika utusan dari sultan bolak-balik untuk mengundang beliau dan bahkan dijanjikan pembebasan, beliau tetap teguh dengan pendiriannya. Namun dia tidak menyebutkan teks perkataan dan tulisannya.

3. Riwayat dari Syaikhul Islam sendiri.

DR. Muhammad Bin Ibrahim Al-Ajalan telah mentahqiq sebuah Kitab Ibnu Taimiyah yang berjudul “At-Tis’iniyyat” yaitu sebuah Kitab yang dikarang untuk membantah Aqidah Asy’ari secara terperinci dan sebagian besarnya tentang kalaamun-Nafsi

CK=Keyakinan khas Asy’ariyah tentang kalamullah dimana mereka mengatakan bahwa Kalam itu Qadim, Menyatu dengan Zat-Nya (Qaaimun Bizatihi), tanpa suara dan Huruf, adapun Al-Qur’an yang sekarang di dunia merupakan ta’bir atau interpretasi tafsiran dari kalamullah yang dilakukan oleh Malaikat Jibril ‘alaihissalam.

Dari Muqaddimah kitab ini dapat dilihat dengan jelas lengkapnya peristiwa yang disebutkan oleh Ibnu Katsir pada peristiwa-peristiwa yang terjadi di akhir Ramadhan di malam Idul Fitri tahun 706 Hijriah tentang adanya utusan yang menginginkan kehadiran Syaikhul Islam dalam sebuah majelis dimana beliau diminta untuk menarik fatwa-fatwanya berkenaan Kalamullah, Jihad dan Tahayyuz, dan ‘Arasy agar sesuai dengan Aqidah Asy’ariyah dengan hadiah pembebasannya dari Penjara.

Namun beliau tetap teguh untuk tidak menghadiri acara tersebut dan hanya menulis jawapan ringkas dalam sebuah surat serta menulis jawapan terperinci dengan menulis sebuah kitab khusus. Dr. Muhammad bin Ibrahim Al-Ajalan memastikan berdasarkan Awal cerita di dalam Kitab tersebut bahwa Ibnu Taimiyah mulai mengarangnya pada Tahun 706 Hijriah disebabkan oleh permintaan untuk menghadiri majelis yang disana beliau diharapkan membuat sebuah pengakuan dan menarik fatwa-fatwa tentang Aqidah sebagaimana yang telah saya sebutkan.

CK=Lihat tarikh Ta’lif kitab tersebut pada halaman 55 kitab Tis’iniyat.

Selanjutnya di awal kitab tersebut halaman 111 diterangkan bahwa utusan tersebut tersebut sebelumnya pernah datang juga membawa tulisan dari Ibnu Makhluf yang menggambarkan Aqidah Ibnu Taimiyah, namun ternyata tulisan tersebut isinya dusta kerana sesuai dengan Aqidah mereka. Ibnu Taimiyah Memarahi utusan tersebut dan menyuruh mereka berlaku Adil.

Begitu seterusnya, dimana utusan-demi utusan datang untuk meminta kehadiran beliau dalam majelis yang diadakan oleh Amir pada saat itu. Namun beliau selalu menolak hadir dan hanya menulis surat namun surat beliau didustakan.

CK=Lihat dan renungkanlah halaman 109-119 rangkaian kisah tersebut yang merupakan bukti paling kuat bahawa kisah taubat tersebut adalah dusta.

Oleh karena itu sangat berkemungkinan surat palsu itulah yang dibacakan dalam majelis yang tidak dihadiri oleh Ibnu Taimiyah tersebut lalu dinukil oleh sebagian kecil ahli sejarah.

Kesimpulan dari pembahasan ini adalah perlunya penguatan dan penggabungan beberapa cerita tentang rujuknya beliau kepada Aqidah Asy’ari agar mendapat kesimpulan yang adil dan jauh dari ketidakadilan.

Dari penguatan dan penggabungan riwayat-riwayat tersebut jelaslah bahwa Kita dapat menetapkan asas kisah tersebut, tanpa menetapkan apapun berkaitan tentang rujuk dari aqidah salaf dan tidak menetapkan tulisan yang penyelisihannya jelas dengan apa yang telah didakwahkan oleh Syaikhul Islam sebelum tanggal tersebut dan setelahnya.

CK - Catatan/Komentar

Komentarku :

Sejak dari awal memang terdapat kejanggalan yang cukup jelas dari kisah pertaubatan, andai Beliau memang menyesal dengan ke MUJASIMAH annya  – tentu segala sesuatunya yang lahir dari IBNU TAIMIYAH tidak akan pernah lagi digelar dalam Arena Aqidah Wahabiyah

Wallahu A’lam – Wassalam.

Sumber Naskah Al Jaami Lishirathi Syaikhil Islamdengan beberapa  tambahan/perubahan

ooo

naskah sebelumnya

Ibnu Taimiyah – yang tersesat dalam fatwa

[ رَبَّنَا هَبْ لَنَ مِنْ أَزْوَاجِـنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةً أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا ]

.

Renungan

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ الْجُعْفِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ الْعَقَدِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad Al Ju’fi dia berkata,

Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Amir Al ‘Aqadi yang berkata, bahwa Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal dari Abdullah bin Dinar dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

beliau bersabda:

Iman memiliki lebih dari enam puluh cabang, dan malu adalah bagian dari iman.

HR – Imam Bukhari rahimahullah

Piagam Madinah.


.

Quba Mosque

.

.

PIAGAM MADINAH : PERLEMBAGAAN PERTAMA DI DUNIA

Berikut adalah perlembagaan yang ditulis oleh Rasulullah s.a.w ketika umat Islam mendirikan sebuah negara Islam di Madinah pada tahun 622 M. bersamaan 1 Hijriyah.
Lahirnya negara ini menandakan bermulanya konsep sekaligus praktik sebuah negara berperlembagaan pertama di dunia selain perlembagaan bertulis pertama dalam sejarah.
Sebelum itu tiada satu negara pun yang memiliki perlembagaan, kerana dalam sistem monarki sabda raja adalah undang-undang.
Dalam perlembagaan yang cukup maju ini Rasulullah menggariskan beberapa prinsip yang penting dalam bernegara seperti prinsip persamaan
  • (pasal 2; 16),  keadilan
  • (pasal 45; 47; 20; 36 ), persaudaraan dan perpaduan
  • (pasal 12; 14; 19; 37), kedaulatan hukum Shari’ah
  • ( pasal 42; 23), kebebasan bersuara atau amar makruf nahi munkar
  • (pasal 13; 47), hak-hak dan kewajipan kaum minoriti
  • (25; 24; 36-38; 46), kewajipan rakyat dalam mempertahankan negara
  • (18; 38; 46), kesetiaan kepada negara
  • (pasal 37; 46), pengakuan Rasulullah sebagai ketua negara dan ketua hakim
  • (42; 23) dan lain-lain.
Dengan nama Allah Yang Maha pemurah lagi Maha pengasih.
Sesungguhnya ini adalah dokumen dari Muhammad pesuruh Allah, (yang mengurus perhubungan) antara orang-orang beriman dan Islam (terdiri daripada) kaum Quraysh dan Yathrib, dan mereka yang mengikuti dan bekerja bersama mereka.
PEMBENTUKAN UMMAT
Pasal 1
Sesungguhnya mereka adalah satu ummat, bebas dari (pengaruh dan kekuasaan) manusia lainnya.

II

HAK ASASI MANUSIA

Pasal 2
Kaum Muhajirin dari Quraisy tetap mempunyai hak asli mereka, yaitu saling tanggung-menanggung, membayar dan menerima uang tebusan darah (diyat) di antara mereka (karena suatu pembunuhan), dengan cara yang baik dan adil di antara orang-orang beriman.
Pasal 3
  1. Banu ‘Awf (dari Yatsrib) tetap mempunyai hak asli mereka, tanggung menanggung uang tebusan darah (diyat).
  2. Dan setiap keluarga dari mereka membayar bersama akan uang tebusan dengan baik dan adil di antara orang-orang beriman.
Pasal 4
  1. Banu Sa’idah (dari Yatsrib) tetap atas hak asli mereka, tanggung menanggung uang tebusan mereka.
  2. Dan setiap keluarga dari mereka membayar bersama akan uang tebusan dengan baik dan adil di antara orang-orang beriman.
Pasal 5
  1. Banul-Harts (dari suku Yatsrib) tetap berpegang atas hak-hak asli mereka, saling tanggung-menanggung untuk membayar uang tebusan darah (diyat) di antara mereka.
  2. Setiap keluarga (tha’ifah) dapat membayar tebusan dengan secara baik dan adil di kalangan orang-orang beriman.
Pasal 6
  1. Banu Jusyam (dari suku Yatsrib) tetap berpegang atas hak-hak asli mereka, tanggung-menanggung membayar uang tebusan darah (diyat) di antara mereka.
  2. Setiap keluarga (tha’ifah) dapat membayar tebusan dengan secara baik dan adil di kalangan orang-orang beriman.
Pasal 7
  1. Banu Najjar (dari suku Yatsrib) tetap berpegang atas hak-hak asli mereka, tanggung-menanggung membayar uang tebusan darah (diyat) dengan secara baik dan adil.
  2. Setiap keluarga (tha’ifah) dapat membayar tebusan dengan secara baik dan adil di kalangan orang beriman.
Pasal 8
  1. Banu ‘Amrin (dari suku Yatsrib) tetap berpegang atas hak-hak asli mereka, tanggung-menanggung membayar uang tebusan darah (diyat) di antara mereka.
  2. Setiap keluarga (tha’ifah) dapat membayar tebusan dengan secara baik dan
    adil di kalangan orang-orang beriman.
Pasal 9
  1. Banu An-Nabiet (dari suku Yatsrib) tetap berpegang atas hak-hak asli mereka, tanggung-menanggung membayar uang tebusan darah (diyat) di antara mereka.
  2. Setiap keluarga (tha’ifah) dapat membayar tebusan dengan secara baik dan adil di kalangan orang-orang beriman.
Pasal 10
  1. Banu Aws (dari suku Yatsrib) berpegang atas hak-hak asli mereka, tanggung-menanggung membayar uang tebusan darah (diyat) di antara mereka.
  2. Setiap keluarga (tha’ifah) dapat membayar tebusan dengan secara baik dan adil di kalangan orang-orang beriman.

III

PERSATUAN SEAGAMA

Pasal 11
Sesungguhnya orang-orang beriman tidak akan melalaikan tanggungjawabnya untuk memberi sumbangan bagi orang-orang yang berhutang, karena membayar uang tebusan darah dengan secara baik dan adil di kalangan orang-orang beriman.
Pasal 12
Tidak seorang pun dari orang-orang yang beriman dibolehkan membuat persekutuan dengan teman sekutu dari orang yang beriman lainnya, tanpa persetujuan terlebih dahulu dari padanya.
Pasal 13
  1. Segenap orang-orang beriman yang bertaqwa harus menentang setiap orang yang berbuat kesalahan , melanggar ketertiban, penipuan, permusuhan atau pengacauan di kalangan masyarakat orang-orang beriman.
  2. Kebulatan persatuan mereka terhadap orang-orang yang bersalah merupakan
    tangan yang satu, walaupun terhadap anak-anak mereka sendiri.
Pasal 14
  1. Tidak diperkenankan seseorang yang beriman membunuh seorang beriman lainnya karena lantaran seorang yang tidak beriman.
  2. Tidak pula diperkenankan seorang yang beriman membantu seorang yang kafir untuk melawan seorang yang beriman lainnya.
Pasal 15
  1. Jaminan Allah adalah satu dan merata, melindungi nasib orang-orang yang lemah.
  2. Segenap orang-orang yang beriman harus jamin-menjamin dan setiakawan sesama mereka daripada (gangguan) manusia lainnya.
IV
PERSATUAN SEGENAP WARGANEGARA
Pasal 16
Bahwa sesungguhnya kaum-bangsa Yahudi yang setia kepada (negara) kita, berhak mendapatkan bantuan dan perlindungan, tidak boleh dikurangi haknya dan tidak boleh diasingkan dari pergaulan umum.
Pasal 17
  1. Perdamaian dari orang-orang beriman adalah satu
  2. Tidak diperkenankan segolongan orang-orang yang beriman membuat perjanjian tanpa ikut sertanya segolongan lainnya di dalam suatu peperangan di jalan Allah, kecuali atas dasar persamaan dan adil di antara mereka.
Pasal 18
Setiap penyerangan yang dilakukan terhadap kita, merupakan tantangan terhadap semuanya yang harus memperkuat persatuan antara segenap golongan.
Pasal 19
  1. Segenap orang-orang yang beriman harus memberikan pembelaan atas tiap-tiap darah yang tertumpah di jalan Allah.
  2. Setiap orang beriman yang bertaqwa harus berteguh hati atas jalan yang baik dan kuat.
Pasal 20
  1. Perlindungan yang diberikan oleh seorang yang tidak beriman (musyrik) terhadap harta dan jiwa seorang musuh Quraisy, tidaklah diakui.
  2. Campur tangan apapun tidaklah diijinkan atas kerugian seorang yang beriman.
Pasal 21
  1. Barangsiapa yang membunuh akan seorang yang beriman dengan cukup bukti atas perbuatannya harus dihukum bunuh atasnya, kecuali kalau wali (keluarga yang berhak) dari si terbunuh bersedia dan rela menerima ganti kerugian (diyat).
  2. Segenap warga yang beriman harus bulat bersatu mengutuk perbuatan itu, dan tidak diijinkan selain daripada menghukum kejahatan itu.
Pasal 22
  1. Tidak dibenarkan bagi setiap orang yang mengakui piagam ini dan percaya kepada Allah dan hari akhir, akan membantu orang-orang yang salah, dan memberikan tempat kediaman baginya.
  2. Siapa yang memberikan bantuan atau memberikan tempat tinggal bagi pengkhianat-pengkhianat negara atau orang-orang yang salah, akan mendapatkan kutukan dan kemurkaan Allah di hari kiamat nanti, dan tidak diterima segala pengakuan dan kesaksiannya.
Pasal 23
Apabila timbul perbedaan pendapat di antara kamu di dalam suatu soal, maka kembalikanlah penyelesaiannya pada (hukum) Allah dan (keputusan) Muhammad SAW.

V

GOLONGAN MINORITI

Pasal 24
Warganegara (dari golongan) Yahudi memikul biaya bersama-sama dengan kaum beriman, selama negara dalam peperangan.
Pasal 25
  1. Kaum Yahudi dari suku ‘Awf adalah satu bangsa-negara (ummat) dengan warga yang beriman.
  2. Kaum Yahudi bebas memeluk agama mereka, sebagai kaum Muslimin bebas memeluk agama mereka.
  3. Kebebasan ini berlaku juga terhadap pengikut-pengikut/sekutu-sekutu mereka, dan diri mereka sendiri.
  4. Kecuali kalau ada yang mengacau dan berbuat kejahatan, yang menimpa diri orang yang bersangkutan dan keluarganya.
Pasal 26
Kaum Yahudi dari Banu Najjar diperlakukan sama seperti kaum Yahudi dari Banu ‘Awf di atas
Pasal 27
Kaum Yahudi dari Banul-Harts diperlakukan sama seperti kaum Yahudi dari Banu ‘Awf di atas
Pasal 28
Kaum Yahudi dari Banu Sa’idah diperlakukan sama seperti kaum Yahudi dari Banu ‘Awf di atas
Pasal 29
Kaum Yahudi dari Banu Jusyam diperlakukan sama seperti kaum Yahudi dari Banu ‘Awf di atas
Pasal 30
Kaum Yahudi dari Banu Aws diperlakukan sama seperti kaum Yahudi dari Banu ‘Awf di atas
Pasal 31
  1. Kaum Yahudi dari Banu Tsa’labah, diperlakukan sama seperti kaum yahudi dari Banu ‘Awf di atas
  2. Kecuali orang yang mengacau atau berbuat kejahatan, maka ganjaran dari pengacauan dan kejahatannya itu menimpa dirinya dan keluarganya.
Pasal 32
Suku Jafnah adalah bertali darah dengan kaum Yahudi dari Banu Tsa’labah, diperlakukan sama seperti Banu Tsa’labah
Pasal 33
  1. Banu Syuthaibah diperlakukan sama seperti kaum Yahudi dari Banu ‘Awf di atas.
  2. Sikap yang baik harus dapat membendung segala penyelewengan.
Pasal 34
Pengikut-pengikut/sekutu-sekutu dari Banu Tsa’labah, diperlakukan sama seperti Banu Tsa’labah.
Pasal 35
Segala pegawai-pegawai dan pembela-pembela kaum Yahudi, diperlakukan sama seperti kaum Yahudi.

VI

TUGAS WARGA NEGARA

Pasal 36
  1. Tidak seorang pun diperbolehkan bertindak keluar, tanpa ijinnya Muhammad SAW.
  2. Seorang warga negara dapat membalaskan kejahatan luka yang dilakukan orang kepadanya
  3. Siapa yang berbuat kejahatan, maka ganjaran kejahatan itu menimpa dirinya dan keluarganya, kecuali untuk membela diri
  4. Allah melindungi akan orang-orang yang setia kepada piagam ini
Pasal 37
  1. Kaum Yahudi memikul biaya negara, sebagai halnya kaum Muslimin memikul biaya negara
  2. Di antara segenap warga negara (Yahudi dan Muslimin) terjalin pembelaan untuk menentang setiap musuh negara yang memerangi setiap peserta dari piagam ini
  3. Di antara mereka harus terdapat saling nasihat-menasihati dan berbuat kebajikan, dan menjauhi segala dosa
  4. Seorang warga negara tidaklah dianggap bersalah, karena kesalahan yang dibuat sahabat/sekutunya
  5. Pertolongan, pembelaan, dan bantuan harus diberikan kepada orang/golongan yang teraniaya
Pasal 38
Warga negara kaum Yahudi memikul biaya bersama-sama warganegara yang beriman, selama peperangan masih terjadi

VII

MELINDUNGI NEGARA

Pasal 39
Sesungguhnya kota Yatsrib, Ibukota Negara, tidak boleh dilanggar kehormatannya oleh setiap peserta piagam ini
Pasal 40
Segala tetangga yang berdampingan rumah, harus diperlakukan sebagai diri-sendiri, tidak boleh diganggu ketenteramannya, dan tidak diperlakukan salah
Pasal 41
Tidak seorang pun tetangga wanita boleh diganggu ketenteraman atau kehormatannya, melainkan setiap kunjungan harus dengan ijin suaminya
VIII
PIMPINAN NEGARA
Pasal 42
  1. Tidak boleh terjadi suatu peristiwa di antara peserta piagam ini atau terjadi pertengkaran, melainkan segera dilaporkan dan diserahkan penyelesaiannya menurut (hukum ) Allah dan (kebijaksanaan) utusan-Nya, Muhammad SAW
  2. Allah berpegang teguh kepada piagam ini dan orang-orang yang setia kepadanya
Pasal 43
Sesungguhnya (musuh) Quraisy tidak boleh dilindungi, begitu juga segala orang yang membantu mereka
Pasal 44
Di kalangan warga negara sudah terikat janji pertahanan bersama untuk menentang setiap agresor yang menyergap kota Yatsrib

IX

POLITIK PERDAMAIAN

Pasal 45
  1. Apabila mereka diajak kepada perdamaian (dan) membuat perjanjian damai (treaty), mereka tetap sedia untuk berdamai dan membuat perjanjian damai
  2. Setiap kali ajakan perdamaian seperti demikian, sesungguhnya kaum yang beriman harus melakukannya, kecuali terhadap orang (negara) yang menunjukkan permusuhan terhadap agama (Islam)
  3. Kewajiban atas setiap warganegara mengambil bahagian dari pihak mereka untuk perdamaian itu
Pasal 46
  1. Dan sesungguhnya kaum Yahudi dari Aws dan segala sekutu dan simpatisan mereka, mempunyai kewajiban yang sama dengan segala peserta piagam untuk kebaikan (perdamaian) itu
  2. Sesungguhnya kebaikan (perdamaian) dapat menghilangkan segala kesalahan

X

PENUTUP

Pasal 47
  1. Setiap orang (warganegara) yang berusaha, segala usahanya adalah atas dirinya
  2. Sesungguhnya Allah menyertai akan segala peserta dari piagam ini, yang menjalankannya dengan jujur dan sebaik-baiknya
  3. Sesungguhnya tidaklah boleh piagam ini dipergunakan untuk melindungi orang-orang yang zalim dan bersalah
  4. Sesungguhnya (mulai saat ini), orang-orang yang bepergian (keluar), adalah aman
  5. Dan orang yang menetap adalah aman pula, kecuali orang-orang yang dhalim dan berbuat salah
  6. Sesungguhnya Allah melindungi orang (warganegara) yang baik dan bersikap taqwa (waspada)
  7. Dan (akhirnya) Muhammad adalah Pesuruh Allah, semoga Allah mencurahkan shalawat dan kesejahteraan atasnya

Keterangan dan Rujukan:

Menurut riwayat Ibnu Ishaq dalam bukunya Sirah an-Nabi SAW juz II hal 119-123, dikutip Ibnu Hisyam (wafat : 213 H.828 M). Diterjemahkan ke dalam bahasa inggris oleh A. Guillaume, The Life of Muhammad (1955) dan Muhammad Hamidullah, The First Written Constitution in the World (1965). disistematisasikan ke dalam pasal-pasal oleh Dr. AJ Wensinck dalam bukunya Mohammad en de Yoden le Medina (1928), pp. 74-84, dan W Montgomery Watt dalam bukunya Mohammad at Medina (1956), pp. 221-225

By : Sumber Naskah

Wassalam

.

[ رَبَّنَا هَبْ لَنَ مِنْ أَزْوَاجِـنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةً أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا ]

Renungan

حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ عَنْ أَبِي أَحْمَدَ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرَاهُ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى يَشْتِمُنِي ابْنُ آدَمَ وَمَا يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَشْتِمَنِي وَيُكَذِّبُنِي وَمَا يَنْبَغِي لَهُ أَمَّا شَتْمُهُ فَقَوْلُهُ إِنَّ لِي وَلَدًا وَأَمَّا تَكْذِيبُهُ فَقَوْلُهُ لَيْسَ يُعِيدُنِي كَمَا بَدَأَنِي

Telah bercerita kepadaku ‘Abdullah bin Abu Syaibah dari Abu Ahmad dari Sufyan dari Abu Az Zanad dari Al A’raj dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata,

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda

Aku diperlihatkan ketika Allah berfirman

Anak Adam mencaciku padahal tidak pantas dia mencaci-KU dan dia mendustakan-KU padahal tidak patut baginya.

Caciannya kepadaKU yaitu ucapannya yang mengatakan bahwa AKU punya anak dan pendustaannya adalah ucapannya yang mengatakan bahwa tidak ada yang dapat mengemballikannya (setelah hancur dimakan tanah/mati) sebagaimana awal penciptaan-KU.

[ HR - Imam Bukhari ]

.

Abdullah Ibnu Mubarak – Dalam Sejarah. 1.


Zuhud adalah yakin kepada Allah SWT – disertai cinta terhadap kefakiran.
Dia adalah seseorang yang syahwat dunia dihatinya telah rapuh, dan sungai godaan dihadapannya telah kering. Dia adalah Abdullah ibnu Mubarak bin Wadhih at-Taimi al-Marwaji.

Abu Abdullah, pemimpin orang -orang yang bertaqwa. Ulama Maroko yang paling alim, dan Imamnya kaum Muslimin. Dia adalah seorang Hafizh, Mujahid, juga seorang Pedagang. Dia belajar dari mulai berusia dua puluh tahun. Dia habiskan usianya untuk Haji dan untuk Jihad.

Dia sangat menguasai ilmu Fiqih, Hadits, Bahasa Arab dan Sejarah, hatinya tertarik untuk bermajelis dengan para Faqih, dan dia menceburkan dirinya kedalam lautan ilmu dan taman wara’. Dia memberikan makan kepada orang-orang, tapi dia sendiri perpuasa.

Yahya bin Mu’in , berkata, ” Ibnu Mubarak adalah salah seorang kaum Muslimin.”

Fudhail bin ’Iyadh mendatangi Ibnu Mubarak untuk bertanya: “ bagaimana kedudukannya dihadapan halayak.” Dia menjawab: “ Sebagai Ulama. “ Fudail bertanya. “ Lalu bagaimana kedudukannya didepan raja-raja. ” Dia menjawab “ Sebagai Zahid. ”.

Ibnu Mubarak berkata, ” Hampir saja adab menduduki Dua pertiga agama. ”

Dia orang yang wara’ dan banyak ber infaq kepada orang-orang fakir. Selama setahun dia berinfak Seratus Ribu Dirham dan menutupi hutang orang-orang yang membutuhkan. Dia berkata : ” Menolak satu Dirham yang bersumber dari syubhat itu lebih kusukai, daripada bersedekah Seratus Ribu hingga Sembilan Ratus Ribu Dirham.”

Suatu hari Hasan al Basri’ menemui Ibnu Mubarak, lalu dia mendapati seekor burung merpati terbang disekitar rumah. Lalu Ibnu Mubarak berkata: “ Dahulu kami mendapatkan manfaat dari telur burung Merpati ini, tapi…hari ini kami tidak mengambil manfaat darinya. ”
Hasan al Basri’ bertanya, “ Mengapa..??. “ Ibnu Mubarak , menjawab, “ Dia telah bercampur dengan burung merpati lainnya dan mengawininya. Karena itu, kami tidak suka mengambil keuntungan dari telurnya.

Ibnu Mubarak, pernah meminjam sebuah pena dari seorang temannya di Syam, namun dia lupa mengembaikan kepada pemiliknya. Ketika dia tiba di kota marwa. Maka dia mengamati barang-barangnya, dan ternyata pena tersebut masih bersamanya. Maka, dia segera kembali ke Syam untuk mengembalikan pena tersebut kepada pemiliknya.

Suara Azan berkumandang, dan Ibnu Mubarak berjalan diatas kendaraannya . Lalu dia turun untuk Shalat Zhuhur, dan hewan tunggangannya itu merumput di tanaman sebuah desa milik Sultan. Hewan tersebut memakan tanaman-tanaman yang tumbuh disana.

Sehingga Ibnu Mubarak meninggalkan hewan tersebut karena sifat wara’ dan tidak mau menungganginya lagi.

Harun ar-Rasyid tiba di kota Raqqah. Dan bertepatan dengan kedatangan Abdullah Ibnu Mubarak. Maka, orang-orang bergegas, berlari sehingga sandal-sandal pada putus, suara gemuruh, Kota Raqqah menjadi gegap-gempita, setiap orang keluar rumah, hanya ingin bertemu atau sekedar melihat Ibnu Mubarak.

Seorang istri Amirul-Mukminin, Harun ar-Rasyid, mengamati suasana ramai, dia melihat dari Kastilnya di Istana Kayu. Ketika dia melihat banyak orang sepeti itu, maka dia bertanya:
“ Ada apa itu, “ seseorang menjawab: “ Seorang Ulama dari Khurasan telah tiba di Raqqah. Dia bernama Abdullah bin Mubarak. “

Wanita itu berkata, “ Demi Allah, dia itulah Raja yang sebenar-benarnya, bukan Harun yang tidak sanggup mengumpulkan Manusia, kecuali dengan pasukan dan bala bantuan. “

Abdullah Ibnu Mubarak. Dia memiliki Karomah dan Do’a yang Mustajab.

Suatu hari, Ibnu Mubarak melewati seorang yang buta, lalu orang itu berkata: “ Ya Ibnu Mubarak aku mohon kepadamu, berdo’alah kepada Allah, semoga Dia mengembalikan penglihatanku. “ Lalu Ibnu Mubarak mengangkat kedua tangannya dan berdo’a kepada Allah SWT. Lalu Allah mengembalikan penglihatan orang itu.

Ibnu Mubarak mencintai khalwat dan bergadang untuk merenungi riwayat kehidupan Nabi saw, dan para Sahabatnya. Seseorang datang menghampiri dan bertanya kepadanya: “ Tidakkah engkau merasa kesepian..??.” Ibnu Mubarak ,menjawab: “ Bagaimana mungkin aku merasa kesepian sementara aku bersama Nabi saw, dan para Sahabat beliau r.a..?.”

Abdullah bin Mubarak wafat di Het, sebuah kota kecil di tepi sungai Efrat,
Beliau wafat sepulang berperang pada tanggal 3 Ramadhan tahun 181 H / 797 M dalam usia 63 tahun.

Ketika mendengar kematian ibnu Mubarak. Harun ar-Rasyid berkata:

Junjungan para Ulama telah meninggal

Wassalam

[ رَبَّنَا هَبْ لَنَ مِنْ أَزْوَاجِـنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةً أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا ]

Sejarah dan Keutamaan Ayat Kursi = Al-Baqarah -255.


Abu Hurairah r.a. berkata :

“Rasulullah Saw. telah mewakilkan kepadaku untuk menjaga Zakat Ramadhan. -(dalam mimpiku) Datanglah seseorang mengambil (menyedok) makanan dari hasil zakat , lalu aku mengambilnya kembali dari orang tersebut dan aku berkata, “Sesungguhnya aku akan mengadukan hal ini kepada Rasulullah Saw”.

Kemudian laki-laki itu berkata, “Sesungguhnya aku sedang butuh. Aku mempunyai keluarga, dan aku sedang mempunyai hajat yang mendesak”, lalu ia melanjutkan perkataannya, “aku akan meninggalkan perbuatan ini”.

Pada pagi harinya, Rasulullah Saw,bertanya, “Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan tawananmu kemarin ?” .

Abu hurairah r.a. menjawab, “Wahai Rasulullah, ia mengadukan kepada bahwa ia mempunyai keperluan yang sangat mendesak, maka aku mengasihinya dan melepaskannya”.

Rasulullah Saw, berkata “Orang tersebut telah membohongimu, ia akan kembali lagi kepadamu”, aku tahu bahwa ia akan kembali lagi, sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah Saw. maka aku berjaga-jaga untuk kedatangannya.

Untuk keduakalinya laki-laki tadi mengambil makanan (dari hasil zakat) lalu aku mengambilnya kembali dari orang tersebut dan berkata, “Aku akan mengadukan hal ini kepada Rasulullah Saw”.

Kemudian laki-laki itu berkata, “Aku sedang butuh. aku mempunyai keluarga, dan aku sedang mempunyai hajat yang mendesak” – aku akan meninggalkan perbuatan ini”.

Pada pagi harinya Rasulullah Saw, bertanya, “Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan tawananmu kemarin ?”.

Abu Hurairah menjawab, “Wahai Rasulullah, ia mengadukan bahwa ia mempunyai keperluan yang mendesak, maka aku mengasihinya dan melepaskannya”.

Rasulullah Saw, berkata,”Orang tersebut telah membohongimu, namun ia akan kembali lagi kepadamu”.

Maka akupun berjaga-jaga akan kedatangannya.

Laki-laki tersebut datang lagi dan mengambil makanan (dari hasil zakat). aku mengambilnya kembali dari orang itu dan berkata, “Aku akan mengadukan hal ini kepada Rasulullah Saw, ini ketigakalinya kamu berjanji tidak akan kembali, tapi kamu tetap kembali”.

Laki-laki tersebut berkata, “Biarkan aku mengajarkanmu kalimat yang bermanfaat disisi Allah”.

Lalu aku berkata, “Apa kalimat itu” ,

Ia menjawab, “Jika kamu ingin beranjak ke tempat tidurmu-untuk beristirahat-maka bacalah Ayat Kursi sampai ahir ayatnya, niscaya Allah akan menjagamu dan setan tidak akan mendekatimu sampai waktu pagi tiba” Akhirnya aku melepaskannya.

Pada pagi harinya, Rasulullah Saw bertanya kepadaku, “Apa yang dilakukan tawananmu kemarin ?”,

Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, ia mengajarkan kalimat yang jika aku baca niscaya bermanfaat di sisi Allah, maka aku melepaskannya”.

Lalu beliau bertanya “apa kalimat itu ?”.

Aku menjawab, ” Laki-laki itu berkata kepadaku, ” Jika kamu ingin beranjak ketempat tidurmu, maka bacalah Ayat Kursi-dari awal hingga akhir ayatnya-niscaya Allah senantiasa menjagamu, dan setan tidak mendekatimu sampai pagi hari tiba “,

Lalu Nabi Saw, berkata , ” Orang itu telah berkata benar kepadamu, sekalipun ia seorang pembohong, tahukah kamu siapa yang berbicara kepadamu sejak tiga malam lalu, wahai Abu Hurairah ?”.

Abu Hurairah menjawab, “tidak”,

Beliau menjawab, “Laki-laki itu adalah setan”.

Abu Hurairah r.a. berkata, “Rasulullah Saw. Bersabda-Didalam Surah Al-Baqarah ( ayat : 255, ) terdapat satu ayat yang merupakan tuan dari Ayat Al Quran. Jika ayat tersebut dibaca didalam rumah yang ada setannya, maka setan itu akan keluar dari rumah tersebut, Ayat itu adalah Ayat Kursi.

Abu Umamah r.a. berkata, “Rasulullah Saw, bersabda : Orang yang tidak putus membaca Ayat Kursi disetiap akhir Shalat semasa hidup mereka, bagi mereka pahala surga”. Wassalam.

Wallahu A’lam

[ رَبَّنَا هَبْ لَنَ مِنْ أَزْوَاجِـنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةً أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا ]

Pengertian Bid’ah Menurut Empat Imam Madzhab


إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ‪.

” Sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah kitab Allah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad SAW, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara baru, setiap perkara baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu tempatnya di neraka. “

( HR. An-Nasa’i )

Hadits ini merupakan salah satu dari sekian banyak hadits yang berbicara tentang bid’ah. Namun untuk memahami perkara bid’ah ini tidak asal begitu saja kita pahami secara harfiah atau tekstual dari hadits tersebut, sehingga siapapun menjadi mudah untuk mengklaim saudara-saudaranya semuslim yang melakukan satu perkara yang tidak pernah dilakukan di zaman nabi SAW kita anggap sebagai pelaku bid’ah yang sesat, dan jika ia sesat berarti tempatnya di neraka. Agar tidak berkesan tergesa-gesa ada baiknya kita memahami terlebih dahulu masalah ini melalui kajian-kajian dari para ulama salafush-shalih kita yang telah terebih dahalu mengkajinya.

Definisi Bid’ah

Untuk mengetahui pengertian bid’ah yang benar maka kita harus terlebih dahulu memahami arti bid’ah secara bahasa (etimologi) dan istilah (terminologi/syariat).

Bid’ah Menurut Bahasa (Etimologi)

Yaitu hal baru yang disisipkan pada syariat setelah setelah ia sempurna. Ibnu As-Sikkit berpendapat bahwa bid’ah adalah segala hal yang baru. Sementara istilah pelaku bid’ah (baca: mubtadi’) menurut adat terkesan tercela.

Adapun Abu Adnan berpendapat bahwa bid’ah adalah melakukan satu perbuatan yang nyaris belum pernah dilakukan oleh siapapun, seperti perkataan Anda: si fulan berbuat bid’ah dalam perkara ini, artinya ia telah mendahului untuk melakukan hal itu sebelum orang lain.

Bid’ah Menurut Istilah (Terminologi/Syariat)

Ada dua cara yang ditempuh para ulama untuk mendefinisikan bid’ah menurut syara’.

Segala hal yang tidak pernah dilakukan Nabi SAW adalah Bid’ah

Pandangan ini dimotori oleh Al Izz bin Abdussalam (ulama madzhab Syafi’i), dia menganggap bahwa segala hal yang tidak pernah dilakukan Nabi SAW sebagai bid’ah. Bid’ah ini pun terbagi kepada hukum yang lima. Berikut perkataan Al Izz:

“Amal perbuatan yang belum pernah ada di zaman Nabi SAW atau tidak pernah dilakukan di zaman beliau terbagi lima macam:

  1. Bid’ah wajib.
  2. Bid’ah haram
  3. Bid’ah sunah
  4. Bid’ah makruh
  5. Bid’ah mubah

Adapun untuk mengetahui semua itu adalah mengembalikan semua perbuatan yang dinggap bid’ah itu di hadapan kaidah-kaidah syariat, jika ia masuk atau sesuai dengan kaidah atau prinsip wajib maka perbuatan itupun menjadi wajib (bid’ah wajib), jika ia masuk atau sesuai dengan kaidah atau prinsip haram maka perbuatan itupun menjadi haram (bid’ah haram), jika ia masuk atau sesuai dengan kaidah atau prinsip sunah maka perbuatan itupun menjadi sunah (bid’ah sunah), jika ia masuk atau sesuai dengan kaidah atau prinsip mubah (boleh) maka perbuatan itupun menjadi mubah (bid’ah mubah). (Lihat Qawa’id Al Ahkam fi Mashalihil Anam, juz 2. h. 204)

Makna tersebut juga dikatakan oleh Imam An-Nawawi yang berpendapat bahwa segala perbuatan yang tidak pernah ada di zaman Nabi dinamakan bid’ah, akan tetapi hal itu ada yang baik dan ada yang kebalikannya/buruk. (lihat Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al Asqalani. Juz 2.h. 394).

Definisi Bid’ah Syariat Lebih Khusus

Cara kedua yang ditempuh para ulama untuk mendefinisikan bid’ah adalah: menjadikan pengertian bid’ah menurut syariat lebih khusus dari pada menurut bahasa. Sehingga istilah bid’ah hanya berlaku untuk suatu perkara yang tercela saja, dan tidak perlu ada penamaan bid’ah wajib, sunah, mubah dan seterusnya seperti yang diutarakan oleh Al Izz bin Abdussalam.

Cara kedua ini membatasi istilah bid’ah pada suatu amal yang diharamkan saja. Cara kedua ini diusung oleh Ibnu Rajab Al Hambali, ia pun memjelaskan bahwa bid’ah adalah suatu perbuatan yang tidak memiliki dasar syariat yang menguatkannya, adapun jika suatu perbuatan ini memiliki dasar syariat yang menguatkannya maka tidak dinamakan bid’ah, sekalipun hal itu bid’ah menurut bahasa. (lihat Jami’ Al Ulum Wa Al Hikam h. 223)

Sebenarnya kedua cara yang ditempuh para ulama ini sepakat mengenai hakikat pegertian bid’ah, perbedaan mereka terjadi pada pintu masuk yang akan mengantarkan pada pengertian yang disepakati ini, yaitu bahwa bid’ah yang tercela (madzmumah) adalah yang berdosa jika megerjakannya, dimana perbuatan itu tidak memiliki dasar syar’i yang menguatkannya, inilah makna yang dimaksud dari sabda Nabi SAW,

‫كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

”  Setiap perbuatan bid’ah itu sesat. “

Definisi yang jelas inilah yang dipegang oleh para ulama, ahli fikih dan imam yang diikuti. Imam Syafi’i–sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi–bahwa beliau berkata,

Perkara baru yang tidak ada di zaman nabi SAW itu ada dua kategori :

  1. Perkara baru yang bertolak belakang dengan Al Qur’an, Sunnah, pendapat sahabat atau Ijma, maka itu termasuk bid’ah yang sesat (bid’ah dhalalah).
  2. Perkara baru yang termasuk baik (hasanah), tidak bertentangan dengan Al Qur’an, Sunnah, pendapat sahabat atau Ijma, maka perkara baru ini tidak tercela.”

(Riwayat Al Baihaqi. Lihat kitab Manaqib Asy-Syafi’i, juga oleh Abu Nu’aim dalam kitab Hilyatul Auliya’. 9/113)

Sementara Hujjatul Islam, Abu Hamid Al Ghazali berpendapat bahwa tidak semua perkara baru yang tidak dilakukan di zaman nabi SAW itu dilarang, akan tetapi yang dilarang adalah perkara bid’ah yang bertolak belakang dengan Sunnah dan menghilangkan apa yang sudah ditetapkan syari’at. (Lih.Ihya’ Ulumuddin, juz 2, h. 248)

Imam An-Nawawi telah menukil dari Sulthanul ulama, Imam Izzuddin bin Abdussalam, dia berkata di akhir kitab Qawa’id Al Ahkam (kaidah-kaidah hukum),

“Bid’ah itu terbagi kepada wajib, sunah, mubah, haram dan makruh … “

Di kesempatan lain, dalam pembicaraan tentang hukum bersalaman usai shalat, dia juga berkata,

“Ketahuilah bahwa bersalaman ini disunahkan pada setiap pertemuan, adapun orang-orang membiasakan bersalaman pada setiap kali usai shalat maka ini tidak ada dasarnya sama sekali, akan tetapi hal itu tidak mengapa dilakukan, karena dasar bersalaman itu adalah Sunnah. Adapun mereka yang membiasakannya pada kondisi tertentu seperti usai shalat maka hal ini tidak keluar dari keberadaan bersalaman yang disinggung oleh dasar syariat (Sunnah).” (lihat An-Nanawi dalam Al Adzkar)

Adapun Ibnu Al Atsir berkata,

“Bid’ah itu ada dua macam, bid’ah huda (yang berpetunjuk) dan bid’ah dhalal (sesat), jika perkaranya bertolak belakang dengan apa yang diperintahkan Rasulullah SAW maka itu termasuk tercela dan dikecam. Jika perkara itu termasuk yang disunahkan dan dianjurkan maka perkara itu terpuji. Dia pun menambahkan: bid’ah yang baik pada dasarnya adalah sunah.”

Karena itu hadits Nabi SAW,

Bahwa setiap perkara baru itu bid’ah.”

Dipahami jika perkara baru itu bertentangan dengan dasar-dasar syariat dan bertolak belakang dengan Sunnah.” (lihat An-Nihayah, karangan Ibnu Al Atsir juz 1. h. 80)

Ibnu Al Manzhur juga memiliki pendapat yang bagus mengenai definisi bid’ah secara istilah syar’i, menurutnya:

Bid’ah itu ada dua macam, bid’ah berpetunjuk (huda) dan bid’ah yang sesat (dhalal). Jika perkara itu bertolak belakang dengan perintah Allah dan Rasul-Nya maka itu termasuk tercela dan dikecam. Adapun jika perkaranya termasuk atau sesuai dengan apa yang dianjurkan Allah dan Rasul-Nya maka itu termasuk perkara terpuji.

Adapun perkara yang tidak ada contohnya di zaman nabi SAW seperti macam-macam jenis kebaikan dan kedermawanan serta perbuatan baik lainnya maka itu termasuk perbuatan yang terpuji (seperti bersedekah dengan pulsa, voucher, mengucapkan selamat via email dan SMS atau MMS, mengaji via Telepon,Intern, Photo , Film , Pesawat dan lain sebagainya–Red).”

Perkara baru ini tidak boleh bertentangan dengan dasar-dasar syariat, karena Nabi SAW telah menilai perbuatan ini (yang sesuai dengan dasar-dasar syari’at) berhak mendapatkan pahala:

beliau bersabda,

Siapa yang memulai perbuatan baik maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya.”

Pada perbuatan kebalikannya beliau bersabda pula,

Siapa yang memulai suatu kebiasaan buruk, maka dia mendapatkan dosanya, dan dosa orang yang mengamalkannya.

Hal itu terjadi jika perbuatannya bertentangan dengan perintah Allah dan Rasul-Nya.

Begitupula dengan yang dikatakan Umar,

Ini (shalat Tarawih berjama’ah) bid’ah yang baik “.

Jika perbuatan itu termasuk katagori kebaikan dan terpuji maka dinamakannya dengan bid’ah yang baik dan terpuji, karena Nabi SAW tidak menyunahkan shalat Tarawih secara berjamaah kepada mereka, Rasulullah hanya melakukannya beberapa hari lalu meninggalkannya dan tidak lagi mengumpulkan jamaah untuk melakukan shalat Tarawih.

Praktik shalat Tarawih berjamaah ini juga tidak dilakukan pada masa Abu Bakar. Namun hal itu dipraktikkan di masa Umar bin Al Khaththab, beliau menganjurkannya serta membiasakannya, sehingga Umar menamakannya dengan bid’ah pula, namun pada hakikatnya praktik tersebut adalah sunah, berdasarkan sabda Nabi SAW,

وَعَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِيِّ أَنَّهُ قَالَ خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَيْلَةً فِي رَمَضَانَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلَاتِهِ الرَّهْطُ فَقَالَ عُمَرُ إِنِّي أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلَاءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلَاةِ قَارِئِهِمْ قَالَ عُمَرُ نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ وَالَّتِي يَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنْ الَّتِي يَقُومُونَ يُرِيدُ آخِرَ اللَّيْلِ وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ

 Dan dari Ibnu Syihab dari Urwah bin Az Zubair dari ‘Abdurrahman bin ‘Abdul Qariy bahwa dia berkata; Aku keluar bersama ‘Umar bin Al Khaththob radliallahu ‘anhu pada malam Ramadhan menuju masjid, ternyata orang-orang shalat berkelompok-kelompok secara terpisah-pisah, ada yang shalat sendiri dan ada seorang yang shalat diikuti oleh ma’mum yang jumlahnya kurang dari sepuluh orang. Maka ‘Umar berkata: Aku pikir seandainya mereka semuanya shalat berjama’ah dengan dipimpin satu orang imam, itu lebih baik. Kemudian Umar memantapkan keinginannya itu lalu mengumpulkan mereka dalam satu jama’ah yang dipimpin oleh Ubbay bin Ka’ab. Kemudian aku keluar lagi bersamanya pada malam yang lain dan ternyata orang-orang shalat dalam satu jama’ah dengan dipimpin seorang imam, lalu ‘Umar berkata: Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini. Dan mereka yang tidur terlebih dahulu adalah lebih baik daripada yang shalat awal malam, yang ia maksudkan untuk mendirikan shalat di akhir malam, sedangkan orang-orang secara umum melakukan shalat pada awal malam.

Ikutilah Sunnahku, dan sunah khulafa rasyidun setelahku.”

Juga sabda beliau lainnya,

Ikuti orang-orang setelahku, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali ...”

Adapun hadits nabi SAW,

Setiap perkara baru adalah bid’ah

Dipahami jika perkara itu bertolak belakang dengan dasar-dasar syariat dan tidak sesuai dengan Sunnah. (lihat Lisan Al ‘Arab juz 8. h. 6)

Sikap Para Ulama terhadap Definisi Bid’ah

Jumhur ulama (mayoritas ulama) berpendapat bahwa bid’ah terbagi beberapa macam, hal ini nampak pada pendapat imam Asy-Syafi’i dan para pengikutnya seperti, Al Izzu bin Abdussalam, An-Nawawi dan Abu Syamah. Dari Madzhab Maliki seperti, Al Qarafi dan Az-Zarqani. Dari Madzhab Hanafi, seperti Ibnu Abidin. Dari Madzhab Hambali, seperti Ibnu Al Jauzi. Dari madzhab Zhahiriyah, seperti Ibnu Hazm.

Semua ini tercermin dalam definisi yang diberikan Al Izz bin Abdussalam mengenai bid’ah, yaitu perbuatan atau amal yang tidak pernah ada di zaman Nabi SAW, dan hal ini tebagi pada bid’ah wajib, sunah, haram, makruh dan mubah.

Para ulama ini memberikan contoh-contoh mengenai pembagian bid’ah ini:

  • Bid’ah wajib
    Seperti mempelajari ilmu nahwu dan sharaf (gramatika bahasa Arab) yang dengannya dapat memahami kalam Ilahi dan sabda Rasulullah. Ini termasuk bid’ah wajib, karena ilmu ini berfungsi untuk menjaga kemurnian syariat, sebagaimana dijelaskan dalam kaidah fikih,

‎‫مَا لاَيَتِمُّ الوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ

Sesuatu yang tanpanya kewajiban tidak akan berjalan sempurna maka sesuatu itu pun menjadi wajib hukumnya

  • Bid’ah haram
    Seperti pemikiran sekte Al Qadariyah, sekte Al Jabariyah, sekte Al Murji’ah dan sekte Al Khawarij, paham bahwa Al Qur’an adalah produk budaya, dan paham bahwa zamantini masih jahiliyah sehingga hukum-hukum Islam belum bisa diterapkan, dan lain sebagainya.
  • Bid’ah sunah
    Seperti merenovasi sekolah, membangun jembatan, shalat tarawih secara bejamaah dengan satu imam, dan adzan dua kali pada shalat Jum’at.
  • Bid’ah makruh
    Seperti menghiasi atau memperindah Masjid dan Kitab Al Qur’an.
  • Bid’ah mubah
    Seperti, bersalaman usai shalat jamaah, tahlil, memperingati Maulid Nabi SAW, berdoa dan membaca Al Qur’an di kuburan, dzikir secara berjamaah dengan dipimpin imam usai shalat, dzikir dengan suara keras secara berjamaah, dan keanekaragaman bentuk pakaian dan makanan.Mengenai bid’ah mubah ini diperlukan sikap toleransi yang tinggi di kalangan umat Islam untuk menjaga persatuan dan persaudaraan yang hukumnya wajib, artinya siapa saja boleh melakukan dan meninggalkannya, jangan sampai ada pemaksaan sedikitpun dalam melakukannya apalagi saling merasa benar atau menyalahkan kelompok lainnya.

Adapun dalil yang menjadi dasar pembagian bid’ah ini menjadi lima adalah:

  1. Perkataan Umar tentang shalat tarawih berjamaah di masjid pada bulan Ramadhan dengan mengatakan,

نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ

Ini sebaik-baik bid’ah.

Diriwayatkan dari Abdurrahaman bin Abdul Qari, dia berkata:
Aku keluar rumah bersama Umar bin Khaththab pada malam bulan Ramadhan menuju masjid. Kami menyaksikan orang-orang terbagi-bagi, masing masing melakukan shalat sendirian. Kemudian Umar berkata,

Aku berpandangan andai saja aku bisa mengumpulkan mereka pada satu imam maka ini lebih baik dan ideal. “

Beliaupun bertekad mengumpulkan mereka dengan imamnya Ubai bin Ka’ab. Kemudian aku keluar ke masjid pada hari berikutnya bersama beliau, kamipun melihat orang-orang sedang shalat dibelakang satu imam. Umar lalu berkata,

نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ

Inilah sebaik-baik bid’ah.

Adapun melakukannya di akhir malam maka itu lebih afdhal daripada melakukannya di awal malam.

(HR. Bukhari)

  1. Abdullah bin Umar menilai shalat Dhuha yang dilakukan secara berjamaah di masjid adalah bid’ah, padahal itu merupakan perkara baik.Diriwayatkan dari Mujahid, dia berkata:
    Aku dan Urwah bin Zubair masuk masjid, ternyata ada Abdullah bin Umar sedang duduk di samping serambi rumah Aisyah, lalu ada sekelompok orang melakukan shalat Dhuha secara berjamaah. Kamipun menanyakan hukum shalat mereka ini kepadanya, diapun menjawab,” Bid’ah “. ( HR. Bukhari dan Muslim ).
  2. Hadits-hadits yang menunjukkan pembagian bid’ah menjadi bid’ah baik dan buruk diantaranya adalah yang diriwayatkan secara marfu’ ( shahih dan sampai pada nabi SAW ):Siapa yang memulai suatu perbuatan baik maka ia akan mendapatkan pahalanya, dan pahala dari orang yang mengikutinya sampai hari kiamat. Siapa yang memulai suatu perbuatan buruk maka ia akan mendapatkan dosanya dan dosa dari orang yang mengikutinya sampai hari kiamat. “ (HR. Muslim)

Dari apa yang disampaikan dapat kita simpulkan bahwa mengenai bid’ah ini ada dua pandangan para ulama:

  1. Seperti yang dikemukan oleh Ibnu Rajab Al Hambali dan selainnya, bahwa semua perbuatan yang diberi pahala dan disyariatkan melakukannya tidak dinamakan bid’ah, sekalipun hal itu pantas dinamakan bid’ah dari segi bahasa, yaitu perbuatan baru yang belum pernah ada yang melakukannya, akan tetapi penamaan bid’ah terhadap perbuatan ini tidak dimaksudkan sebagai bid’ah yang tercela apalagi sesat.
  2. Pandangan perincian macam-macam bid’ah seperti yang dikemukakan oleh Al Izz bin Abdissalam sebagaimana yang telah kami paparkan sebelumnya.
  3. Wassalam.

Penulis: Syaikh Prof. Dr. Ali Jum’ah (Mufti Republik Mesir)

Note :

Bid’ah yang terucap oleh Nasharuddin Al-AlBani , sudah pada taraf pengkafiran

Biografi – alhabib munzir bin fuad almusawa.


Al-Allamah wal Fahamah Sayyidi Syarif Al-Habib Munzir bin Fuad bin Abdurrahman bin Ali bin Abdurrahman bin Ali bin Aqil bin Ahmad bin Abdurrahman bin Umar bin Abdurrahman bin Sulaiman bin Yaasin bin Ahmad Al-musawa bin Muhammad Muqallaf bin Ahmad bin Abubakar Assakran bin Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Mauladdawilah bin Ali bin Alwi Alghayur bin Muhammad Faqihil Muqaddam bin Ali bin Muhammad Shahib Marbath bin Ali Khali’ Qasim bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Almuhajir bin Isa Arrumiy bin Muhammad Annaqib bin Ali Al Uraidhiy bin Jakfar Asshadiq bin Muhammad Albaqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein Dari Fathimah Azahra Putri Rasul SAW.

Nama beliau Munzir bin Fuad bin Abdurrahman Almusawa, dilahirkan di Cipanas Cianjur Jawa barat, pada hari jum’at 23 februari 1973, bertepatan 19 Muharram 1393H, setelah beliau menyelesaikan sekolah menengah atas, beliau mulai mendalami Ilmu Syariah Islam di Ma’had Assaqafah Al Habib Abdurrahman Assegaf di Bukit Duri Jakarta Selatan, lalu mengambil kursus bhs.Arab di LPBA Assalafy Jakarta timur, lalu memperdalam lagi Ilmu Syari’ah Islamiyah di Ma’had Al Khairat, Bekasi Timur, kemudian beliau meneruskan untuk lebih mendalami Syari’ah ke Ma’had Darul Musthafa, Tarim Hadhramaut Yaman pada tahun 1994, selama empat tahun, disana beliau mendalami Ilmu Fiqh, Ilmu tafsir Al Qur;an, Ilmu hadits, Ilmu sejarah, Ilmu tauhid, Ilmu tasawuf, mahabbaturrasul saw, Ilmu dakwah, dan ilmu ilmu syariah lainnya.

Habib Munzir Al-Musawa kembali ke Indonesia pada tahun 1998, dan mulai berdakwah, dengan mengunjungi rumah rumah, duduk dan bercengkerama dg mereka, memberi mereka jalan keluar dalam segala permasalahan, lalu atas permintaan mereka maka mulailah Habib Munzir membuka majlis, jumlah hadirin sekitar enam orang, beliau terus berdakwah dengan meyebarkan kelembutan Allah swt, yang membuat hati pendengar sejuk, beliau tidak mencampuri urusan politik, dan selalu mengajarkan tujuan utama kita diciptakan adalah untuk beribadah kepada Allah swt, bukan berarti harus duduk berdzikir sehari penuh tanpa bekerja dll, tapi justru mewarnai semua gerak gerik kita dengan kehidupan yang Nabawiy, kalau dia ahli politik, maka ia ahli politik yang Nabawiy, kalau konglomerat, maka dia konglomerat yang Nabawiy, pejabat yang Nabawiy, pedagang yang Nabawiy, petani yang Nabawiy, betapa indahnya keadaan ummat apabila seluruh lapisan masyarakat adalah terwarnai dengan kenabawian, sehingga antara golongan miskin, golongan kaya, partai politik, pejabat pemerintahan terjalin persatuan dalam kenabawiyan, inilah Dakwah Nabi Muhammad saw yang hakiki, masing masing dg kesibukannya tapi hati mereka bergabung dg satu kemuliaan, inilah tujuan Nabi saw diutus, untuk membawa rahmat bagi sekalian alam. Majelisnya mengalami pasang surut, awal berdakwah ia memakai kendaraan umum turun naik bus, menggunakan jubah dan surban, serta membawa kitab-kitab. Tak jarang beliau mendapat cemoohan dari orang-orang sekitar. Beliau bahkan pernah tidur di emperan toko ketika mencari murid dan berdakwah. Kini majlis taklim yang diasuhnya setiap malam selasa di Masjid Al-Munawar Pancoran Jakarta Selatan, yang dulu hanya dihadiri tiga sampai enam orang, sudah berjumlah sekitar 10.000 hadirin setiap malam selasa, Habib Munzir sudah membuka puluhan majlis taklim di seputar Jakarta dan sekitarnya, beliau juga membuka majelis di rumahnya setiap malam jum’at bertempat di jalan kemiri cidodol kebayoran, juga sudah membuka majlis di seputar pulau jawa, yaitu:

Jawa barat :

Ujungkulon Banten, Cianjur, Bandung, Majalengka, Subang.

Jawa tengah :

Slawi, Tegal, Purwokerto, Wonosobo, Jogjakarta, Solo, Sukoharjo, Jepara, Semarang,

Jawa timur :

Mojokerto, Malang, Sukorejo, Tretes, Pasuruan, Sidoarjo, Probolinggo.

Bali :

Denpasar, Klungkung, Negara, Karangasem.

NTB

Mataram, Ampenan

Luar Negeri :

Singapura, Johor, Kualalumpur.

Buku-buku yang sering menjadi rujukan beliau di majelisnya antara lain: kitab As-syifa (Imam Fadliyat), Samailul Muhammadiyah (Imam Tirmidzi), Mukasyifatul Qulub (Imam Ghazali), Tambili Mukhdarim (Imam Sya’rani), Al-Jami’ Ash-Shahih/Shahih Bukhari (Imam Bukhari), Fathul Bari’ fi Syarah Al-Bukhari (Imam Al-Astqalani), serta kitab karangan Imam Al-Haddad dan kitab serta pelajaran yang didapat dari guru beliau Habib Umar bin Hafidh.

Nama Rasulullah SAW sengaja digunakan untuk nama Majelisnya yaitu “Majelis Rasulullah SAW”, agar apa-apa yang dicita-citakan oleh majelis taklim ini tercapai. Sebab beliau berharap, semua jamaahnya bisa meniru dan mencontoh Rasulullah SAW dan menjadikannya sebagai panutan hidup.

Adapun guru-guru beliau antara lain:

Habib Umar bin Hud Al-Athas (cipayung), Habib Aqil bin Ahmad Alaydarus, Habib Umar bin Abdurahman Assegaf, Habib Hud Bagir Al-Athas, di pesantren Al-Khairat beliau belajar kepada Ustadz Al-Habib Nagib bin Syeikh Abu Bakar, dan di Hadramaut beliau belajar kepada Al-Imam Al-Allamah Al-Hafizh Al-Arifbillah Sayyidi Syarif Al-Habib Umar bin Muhammad bin Hafidh bin Syeikh Abu Bakar bin Salim (Rubath Darul Mustafa), juga sering hadir di majelisnya Al-Allamah Al-Arifbillah Al-Habib Salim Asy-Syatiri (Rubath Tarim).

Dan yang paling berpengaruh didalam membentuk kepribadian beliau adalah Guru mulia Al-Imam Al-Allamah Al-Hafizh Al-Arifbillah Sayyidi Syarif Al-Habib Umar bin Muhammad bin Hafidh bin Syeikh Abu Bakar bin Salim.

Salah satu sanad Guru beliau adalah:

Al-Habib Munzir bin fuad Al-Musawa berguru kepada Guru Mulia Al-Imam Al-Allamah Al-Hafizh Al-Musnid Al-Arifbillah Sayyidi Syarif Al-Habib Umar bin Muhammad bin Hafidh bin Syeikh Abu Bakar bin Salim,

Dan beliau berguru kepada Al-Allamah Al-Musnid Al-Habib Abdulqadir bin Ahmad Assegaf,

Dan beliau berguru kepada Al-Allamah Al-Musnid Al-Habib Abdullah Assyatiri,

Dan beliau berguru kepada Al-Allamah Al-Hafizh Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi (simtuddurar),

Dan beliau berguru kepada Al-Allamah Al-Musnid Al-Habib Abdurrahman Al-Masyhur (shohibulfatawa),

Dan beliau berguru kepada Al-Allamah Al-Hafizh Al-Habib Abdullah bin Husen bin Thohir,

Dan beliau berguru kepada Al-Allamah Al-Hafizh Al-Habib Umar bin Seggaf Assegaf,

Dan beliau berguru kepada Al-Allamah Al-Musnid Al-Habib Hamid bin Umar Ba’alawiy,

Dan beliau berguru kepada Al-Allamah Al-Habib Al-Hafizh Ahmad bin Zein Al-Habsyi,

Dan beliau berguru kepada Al-Imam Al-Allamah Al-Hafizh Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad (shohiburratib),

Dan beliau berguru kepada Al-Allamah Al-Musnid Al-Habib Husein bin Abubakar bin Salim,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Imam Al-Allamah Al-Habib Abubakar bin Salim (fakhrulwujud),

Dan beliau berguru kepada Al-Allamah Al-Hafizh Al-Habib Ahmad bin Abdurrahman Syahabuddin,

Dan beliau berguru kepada Al-Allamah Al-Hafizh Al-Habib Abdurrahman bin Ali (Ainulmukasyifiin),

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Musnid Al-Habib Ali bin Abubakar (assakran),

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Hafizh Al-Habib Abubakar bin Abdurrahman Assegaf,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Hafizh Al-Habib Abdurrahman Assegaf,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Musnid Al-Habib Muhammad Mauladdawilah,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Musnid Al-Habib Ali bin Alwi Al-ghayur,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Hafizh Al-Imam faqihilmuqaddam Muhammad bin Ali Ba’alawiy,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Ali bin Muhammad Shahib Marbath,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Muhammad Shahib Marbath bin Ali,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Ali Khali’ Qasam bin Alwi,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Alwi bin Muhammad,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Muhammad bin Alwi,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Alwi bin Ubaidillah,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Ahmad Al-Muhajir bin Isa Arrumiy,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Isa Arrumiy bin Muhammad Annaqib,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Muhammad Annaqib bin Ali Al-Uraidhiy,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Ali Al-Uraidhiy bin Ja’far Asshadiq,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Ja’far Asshadiq bin Muhammad Al-Baqir,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Ali Zainal Abidin Assajjad,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Imam Husein ra,

Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Imam Ali bin Abi Thalib ra,

Dan beliau berguru kepada Semulia-mulia Guru,

Sayyidina Muhammad Rasulullah SAW, maka sebaik-baik bimbingan guru adalah bimbingan Rasulullah SAW.

Sanad guru beliau sampai kepada Rasulullah SAW, begitu pula nasabnya. Demikian biografi singkat ini dibuat mohon maaf apabila ada kesalahan.

Wassalam

Diposkan oleh BLOG ROI SHIRO

[ رَبَّنَا هَبْ لَنَ مِنْ أَزْوَاجِـنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةً أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا ]

Kunci keghaiban ada lima

 

حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَفَاتِيحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا اللَّهُ لَا يَعْلَمُ مَا تَغِيضُ الْأَرْحَامُ إِلَّا اللَّهُ وَلَا يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ إِلَّا اللَّهُ وَلَا يَعْلَمُ مَتَى يَأْتِي الْمَطَرُ أَحَدٌ إِلَّا اللَّهُ وَلَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِلَّا اللَّهُ وَلَا يَعْلَمُ مَتَى تَقُومُ السَّاعَةُ إِلَّا اللَّهُ

 Telah menceritakan kepada kami Khalid bin Makhlad telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Dinar dari Ibn Umar radliyallahu’anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

Kunci keghaiban ada lima ; tidak mengetahuinya selain Allah,

tidak ada yang mengetahui kandungan yang mengempes (gugur, berkurang) selain Allah,

tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi esok hari selain Allah,

tidak ada yang mengetahui kapan hujan datang selain Allah,

dan

tidak ada siapapun manusia yang tahu di bumi mana berada akan meninggal selain Allah,

dan tidak ada yang mengetahui kapan kiamat terjadi selain Allah.”