Muhammadiyah – BIANG KEKACAUAN


.
TheSalt Asin – merubah judul Naskah ini menjadi
.

Muhammadiyah bermain Dengan Aqidah

Kiai Ahmad Dahlan dan Kiai Hasyim Asy’ari itu sekawan, sama-sama menunut ilmu agama di Arab Saudi.

Sama-sama ahli Hadits dan sama-sama ahli fikih.

Saat hendak pulang ke tanah air, keduanya membuat kesepakatan menyebarkan islam menurut skil dan lingkungan masing-masing.

Kiai Ahmad bergerak di bidang dakwah dan pendidikan perkotaan, karena berasal dari kuto Ngayogyokarto.

Sementara kiai Hasyim memilih pendidikan pesantren karena wong ndeso, Jombang.

Keduanya adalah orang hebat, ikhlas dan mulia.

Allahummaghfir lahum.

Keduanya memperjuangkan kemerdekaan negeri

ini dengan cara melandasi anak bangsa dengan pendidikan dan agama.

Kiai Ahmad mendirikan organisasi Muhammadiyah

dan

kiai Hasyim mendirikan Nahdlatul Ulama (NU).

.

.

Saat beliau berdua masih hidup,

tata ibadah yang diamalkan di masyarakat umumnya sama meski ada perbedaan yang sama sekali tidak mengganggu.

.

Contoh kesamaan praktek ibadah kala itu antara lain :

Pertama,

Shalat tarawih, sama-sama dua puluh rakaat.

Kiai Ahmad Dahlan sendiri disebut-sebut sebagai imam shalat tarawih dua puluh rakaat di masjid Syuhada Yogya.

Kedua,

Talqin mayit di kuburan, bahkan ziarah kubur dan kirim doa dalam Yasinan dan tahlilan (?).

Ketiga,

Baca doa qunut Shubuh.

Keempat,

Sama-sama gemar membaca shalawat (diba’an).

Kelima,

Dua kali khutbah dalam shalat Id, Idul Ftri dan Idul Adha.

Keenam,

Tiga kali takbir, “Allah Akbar”, dalam takbiran.

Ketujuh,

Kalimat Iqamah (qad qamat al-shalat) diulang dua kali,

Kedelapan

Dan yang paling monumental adalah

itsbat hilal

sama-sama pakai rukyah.

Yang terakhir

Kesembilan inilah yang menarik direnungkan, bukan dihakimi mana yang benar dan mana yang salah.

Semua amaliah tersebut di atas berjalan puluhan tahun dengan damai dan nikmat.

Semuanya tertulis dalam kitab Fiqih Muhammadiyah yang terdiri dari tiga jilid, yang diterbitkan oleh :

Muhammadiyah Bagian Taman Pustaka Jogjakarta,tahun 1343 an H.

Namun

Ketika Muhammadiyah membentuk Majlis Tarjih, di sinilah mulai ada penataan praktik ibadah yang rupanya ” harus beda ” dengan apa yang sudah mapan dan digariskan oleh pendahulunya.

Otomatis berbeda pula dengan pola ibadahnya kaum Nahdhiyyin.

Perkara dalil, nanti difikir bareng dan dicari-carikan.

Disinyalir,

tampil beda itu lebih dipengaruhi politik ketimbang karena keshahihan hujjah atau afdhaliah ibadah.

Untuk ini, ada sebuah Tesis yang meneliti Hadits-hadits yang dijadikan rujukan Majlis Tarjih Muhammadiyah dalam menetapkan hukum atau pola ibadah yang dipilih.

Setelah uji takhrij berstandar mutawassith,

kesimpulannya adalah :

Bahwa mayoritas Hadits-Hadits yang pakai hujjah Majlis Tarjih adalah:

dha’if.

Itu belum dinaikkan pakai uji takhrij berstandar mutasyaddid versi Ibn Ma’in.

Hal mana, menurut mayoritas al-Muhadditsin, hadits dha’if tidak boleh dijadikan hujjah hukum, tapi ditoleransi sebagai dasar amaliah berfadhilah atau Fadha’il al-a’mal.

Tahun 1995 an, Penulis masih sempat membaca tesis itu di perpustakaan Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Soal dalil yang dicari-carikan kemudian tentu berefek pada perubahan praktik ibadah di masyarakat, kalau tidak disebut sebagai membingungkan.

Contoh,

ketika Majlis Tarjih memutuskan jumlah rakaat shalat Tarawih depalan plus tiga witir,

…………………..lalu bagaimana praktiknya………………….

Awal-awal instruksi itu, pakai komposisi : 4,4,3.

Empat rakaat satu salam,

empat rakaat satu salam.

Ini untuk tarawih.

Dan tiga rakaat untuk witir.

Model witir tiga sekaligus ini versi madzahab Hanafi.

Sementara wong NU pakai dua-dua semua dan ditutup satu witir.

ini versi al-Syafi’ie.

.

Bab

Aqidah dipermak total

@

Kira kira Tahun 1987 anPraktik shalat tarawih empat-empat itu diubah menjadi dua-dua.

Hal tersebut atas seruan KH Shidiq Abbas Jombang ketika halaqah di masjid al-Falah Surabaya.

Beliau tampilkan hadits dari Shahih Muslim yang meriwayatkan begitu.

Karena, kualitas hadis Muslim lebih shahih ketimbang Hadis empat-empat, maka semua peserta tunduk.

Akibatnya,

tahun itu ada selebaran keputusan majlis tarjih yang diedarkan ke semua masjid dan mushallah di lingkungan Muhammadiyah, bahwa praktik shalat tarawih pakai komposisi dua-dua, hingga sekarang, meski sebagian masih ada yang tetap bertahan pada empat-empat.

Inilah fakta sejarah.

…………………………………………………………………………

.

Kini soal itsbat hilal pakai rukyah.

Tolong, lapangkan dada sejenak, jangan emosi  dan jangan dibantah kecuali ada bukti kuat.

tarik nafas dari mulut …… keluarkan dari hidung

Semua ahli falak, apalagi dari Muhammadiyah pasti mengerti dan masih ingat bahwa Muhammadiyah dulu dalam penetapan hilal selalu pakai rukyah bahkan dengan derajat cukup tinggi.

Hal itu berlangsung hingga era orde baru pimpinan pak Harto.

Karena orang-orang Muhammdiyah menguasai deprtemen Agama,

maka tetap bertahan pada rukyah derajat tinggi,

Yang diterima hanya tiga derajat ke atas

dan

Menolak keras hilal batasan dua derajat.

Dan inilah yang selalu pakai pemerintah.

Sementara ahli falak Nadhliyyin juga sama  mengunakan rukyah tapi menerima dua derajat sebagai sudah bisa dirukyah.

Dalil mereka sama, pakai Hadis rukyah dan ikmal.

.

Oleh karena itu,

tahun 1990 an,

tiga kali berturut-turut orang NU lebaran duluan karena hilal dua derajat nyata-nyata sudah bisa dirukyah,

sementara Pemerintah-Muhammadiyah tidak menerima karena standar yang dipakai adalah hilal tinggi dan harus ikmal atau istikmal.

Ada lima titik atau lebih tim rukyah gabungan menyatakan hilal terukyah, tapi tidak diterima oleh departemen agama, meski pengadilan setempat sudah menyumpah dan melaporkan ke Jakarta.

karena Deartemen Agama dibawah MUHAMMADIYAH

Itulah perbedaan standar derajat hilal antara Muhammadiyah dan NU. Masing-masing bertahan pada pendiriannya.

.

Setelah pak Harto lengser dan Gus Dur menjadi presiden,

orang-orang  Muhammadiyah berpikir cerdas dan tidak mau dipermalukan di hadapan publiknya sendiri.

Artinya,

jika masih pakai standar hilal tinggi, sementara mereka tidak lagi menguasai pemeritahan, pastilah akan lebaran belakangan terus.

Dan itu berarti lagi-lagi kalah start dan kalah cerdas.

Maka segera mengubah MINDSET dan POLA PIKIR soal itsbat hilal.

Mereka tampil radikal dan meninggalkan cara rukyah berderajat tinggi.

Tapi tak menerima hilal derajat, karena AKAN sama dengan NU.

……………………………………………………………………………………

…………………………………………………….

……….o….. JREEENG …..o……….

…………………………..MAKA………………………………..

dibuatlah

 

Rekayasa alHilal

 

Artinya,

pokoknya hilal menurut ILMU HISAB atau ASTRONOMI sudah muncul di atas ufuk,

seberapapun derajatnya,

nol koma sekalipun,

sudah dianggap hilal penuh atau tanggal satu.

Maka tak butuh rukyah-rukyahan seperti dulu,

apalagi tim rukyah yang diback up pemerintah.

MEMANG LUCU

Hadits yang dulu dielu-elukan, ayat al-Qur’an berisikan seruan

taat kepada Allah, Rasul dan Ulil amr

dibuang dan sangat alergi mendengar.

.

Lalu dicari-carikan dalil baru sesuai dengan selera.

.

Populerkah metode ” wujud al-hilal ”

dalam tradisi keilmuwan falak ?.

Sama sekali tidak, baik ulama dulu maupu sekarang.

Di sini,

Muhammadiyah membuat beda lagi dengan NU.

Kalau dulu,

Muhammadiyah  hilal harus berajat tinggi untuk bisa dirukyah,

hal mana pasti melahirkan beda keputusan dengan NU,

kini membuang derajat-derajatan secara total dan tak perlu rukyah-rukyahan.

Menukik lebih tajam,

yang penting hilal sudah muncul berapapun derajatnya.

.

.

Sementara NU tetap pada standar rukyah,

meski derajat dua atau kurang sedikit.

Tentu saja beda lagi dengan NU.

Maka,

selamanya tak kan bisa disatukan,

karena sengaja harus tampil beda.

Dan itu sah-sah saja.

.

.

Dilihat dari fakta sejarah,

Pembaca bisa menilai sendiri sesungguhnya siapa yang sengaja membuat beda, sengaja tidak mau dipersatukan, siapa biang persoalan di kalangan umat ?.

.

Menyikapi lebaran dua versi,

warga Muhammadiyah pasti bisa tenang karena sudah biasa diombang-ambingkan dengan perubahan pemikiran pimpinannya.

Persoalannya, apakah sikap, ulah atau komentar mereka bisa menenangkan orang lain ?.

Perkara dalil nash atau logika,

ilmu falak klasik atau neutik, rubu’ atau teropong moderen sama-sama punya. Justru,

bila dalil-dalil itu dicari-cari belakangan dan dipaksakan, sungguh mudah sekali dipatahkan.

Hebatnya,

semua ilmuwan Muhammadiyah yang akademis dan katanya kritis-kritis itu bungkam dan tunduk semua kepada keputusan majlis tarjih.

Tidak ada yang mengkritik,

padahal kelamahan akademik pasti ada.

atau mungkin kelemahan akal

.

.sEBENARNYA mENURUT pANDANGAN dARI tHEsALT aSIN

LEBARAN KITA MASIH BISA KETEMU SETIAP 4 TH

YAAA…..MENENG-MENENG  BAE……

Minal aidin al-faizin,

mohon maaf lahir dan batin.

.

.
 http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150268506916712

 Catatan:
Penulis adalah Direktur Madrasatul Qur’an Tebuireng KH. Musta’in Syafi’i, M.Ag.

Antara Ahmadiah – AlBani dan Hizbut Tahrir.


Beragamnya tanggapan tentang Ahmadiyah membuktikan bahwa sebagian kaum muslimin masih ada yang belum paham tentang aqidah islamiyah. Padahal pemahaman terhadap masalah ini sangat penting dan mendasar.

Orang yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat tidak boleh salah dalam mamahami masalah satu ini. Sebab jika keliru, bisa menyebabkannya kufur dari agama Allah.

Aqidah islamiyah adalah  keyakinan yang dipegang teguh oleh Rasulullah dan para sahabat serta menjadi ijmak ( kesepakatan ) para ulama.

Secara bahasa aqidah diambil dari kata dasar “ Al Aqdu ” yang berarti ikatan. Secara istilahi ia artinya keimanan yang kokoh dan ketetapan yang pasti yang tidak mengandung suatu keraguan sedikit pun.

Orang yang hatinya sudah terpaku dengan aqidah, akan menjadikannya sebagai mazhab dan agama. Jika keimanan yang kokoh dan ketetapan yang pasti itu benar, otomatis aqidahnya juga benar.

Sebaliknya, jika keimanannya batil maka agidahnya menjadi batil.

Contoh masalah aqidah diantaranya tentang keyakinan nabi terakhir. Berita dari Rasulullah dan keyakinan para sahabat dan pemahaman para ulama, tegas menyatakan bahwa nabi terakhir adalah Nabi Muhammad.

Contoh lain yaitu keyakinan tentang alQur an.

Ajaran yang benar seperti yang diberitakan Rasulullah dan dipahami oleh para sahabat, ulama salaf dan yang mengikutinya, bahwa al-Qur’an itu kalamullah dan  bukan makhluk.

Demikian pula keyakinan tentang hadits nabi.

Sejak jaman Nabi Muhammad, para sahabat dan ulama setelannya, meyakini bahwa hadits adalah sumber hukum kedua setelah al-Qur’an.

Mereka juga meyakini bahwa hadits adalah wahyu Allah yang bersifat maknawi dan lafadnya dari Rasulullah.

Sedang AlQur’an, makna dan lafadnya dari Allah.

Yang juga termasuk aqidah yaitu tentang keyakinan orang islam yang masuk neraka.

Ajaran yang benar dari Rasulullah, seorang muslim yang telah melakukan dosa besar akan masuk neraka, tapi tidak kekal di dalamnya selama dalam hatinya ada iman.

Itulah beberapa contoh masalah aqidah dan masih banyak lagi lainnya, dimana setiap muslim tidak boleh menyelisihinya.

Orang yang  sengaja menyelisihi aqidah Rasulullah dan para sahabat berarti terjerumus dalam kesesatan.

Dalam masalah yang satu ini tidak boleh ada perbedaan diantara umat Islam.

Islam dengan tegas melarang perbedaan dalam hal pokok ( ushul ), yaitu menyangkut masalah aqidah pada umumnya, pemahaman masalah hukum-hukum Islam yang telah jelas dan menjadi kesepakatan para ulama ( jumhur ulama ).

Karena itulah orang yang menyelisihi masalah ini dihukumi sesat sebagaimana yang terjadi pada Ahamadiyah, Ingkarsunnah dan lain-lainnya.

Adapun berkaitan dengan masalah furuiyah ( cabang ) dibolehkan berbeda pendapat.

Sebab masalah ini tidak menyalahi al-Qur’an dan Sunnah serta pemahaman para sahabat.

Beberapa contoh berkaitan dengan masalah furuiyah antara lain tentang adzan sekali atau dua kali dalam shalat jum’at.

Kemudian qunut Shubuh, angkat tangan atau tidak angkat tangan dalam berdo’a, mengucapkan bismillah dengan keras atau pelan saat membaca surat al-fatihah dalam shalat dan tentang jumlah rakaat dalam shalat tarawih dan lain-lainnya.

Berkaitan dengan hal ini, tidak dibenarkan mengklaim bahwa salah satunya yang benar dan lainnya salah.

Apalagi sampai menyesatkan.Kita hanya boleh mengatakan bahwa pendapat yang satu lebih rajin (kuat) dibanding pendapat lainnya.

Persoalan furuiyah ini merupakan masalah ijtihadiyah di kalangan para ulama ( sahabat, tabiin dan tabiut tabiin ) yang semuanya berdasar pada al-Qur’an dan Sunnah.

Perbedaan mereka hanya berkisar pada masalah-masalah fiqiyah yang rumit-rumit. Sedang masalah aqidah mereka tidak berbeda.

Deteksi Dini Aliran Sesat Rasulullah bersabda “ Akan keluar suatu kaum diakhir jaman, orang-orang muda berfaham jelek. Mereka banyak mengucapkan perkataan”Khairil Bariyah” (maksudnya: mengucapkan firman-firman Tuhan yang dibawa oleh Nabi). Iman mereka tidak melampaui kerongkongan  mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana meluncurnya anak panah dari busurnya. Kalau orang-orang ini berjumpa denganmu lawanlah mereka. ” ( HR.Bukhari ).

Persoalan aqidah dan furuiyah ini sebenarnya sudah dijelaskan oleh para ulama.

Namun sayang, masih banyak umat islam yang belum memahami dengan baik.

Padahal kesalahan pemahaman terhadap masalah memiliki konsekwensi yang berbeda, sebagaiman dijelaskan diatas.

Dari kedua hal itu yang harus menjadi perhatian utama adalah masalah aqidah.

Jangan sampai kita yang sudah masuk islam memiliki aqidah yang salah dan keliru.

Kekeliruan dalam masalah ini bisa menyebabkan kita sesat jalan.

Jauh sebelumnya Rasulullah telah mengisyaratkan akan munculnya kelompok atau orang yang menyelisihi aqidah yang benar.

Rasulullah bersabda, “Akankeluar suatu kaum akhir jaman, orang-orang muda berfaham jelek. Mereka banyak mengucapkan perkataan “Khairil Bariyah”(maksudnya: mengucapkan firman-firman Tuhan yang dibawa oleh Nabi). Iman mereka tidak melampaui kerongkongan mereka. mereka keluar dari agama sebagaimana meluncurnya anak panah dari busurnya. Kalau orang-orang ini berjumpa denganmu lawanlah mereka.’(HR.Bukhari).
Dari Ibnu Abbas r.a berkata Rasulullah, “Sesungguhnya diwaktu yang akan datang akan ada peperangan diantara orang-orang yang beriman.” Seorang sahabat bertanya:

“ Mengapa kita (orang-orang yang beriman) memerangi orang yang beriman, yang mereka itu sama berkata: ‘Kami telah beriman’.”

Rasulullah SAW bersabda: “ Ya,karena mengada-adakan di dalam agama, mereka mengerjakan agama dengan pendapat fikirannya, padahal di dalam agama itu tidak ada pendapat fikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” ( HR.Ath-Thabarani ).

Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa akan muncul sekelompok atau orang yang memahami al-Qur’an berdasar hawa nafsu dan akalnya yang dangkal tanpa ilmu,serta tidak mau mengikuti penjelasan Rasulullah dan pemahaman para sahabat.

Mereka mengambil kesimpulan hukum istinbath/ dan menafsirkan al-Qur an tanpa bekal ilmu yang memadai seperti bahasa Arab, hadits dan penafsiran para sahabat.

Akibatnya, hasil penafsirannya menyelisihi aqidah yang benar.Kalau sekedar membaca dan menerjemahkan al-Qur’an secara lafdiyah serta membaca tafsir yang mu’tabar ( diakui ), tidak ada masalah, bahkan hal itu mendapat pahala.

Yang tidak boleh adalah menafsirkan atau mengintepretasikan al-Qur’an tanpa bekal ilmu yang memadai.

Sebab hal itu bisa merusak maksud dan makna al-Qur’an yang sebenarnya.

Berkaitan dengan masalah aqidah, kita harus memiliki keimanan yang benar dengan mengikuti jejak ulama yang berpegang teguh pada al-Qur’an sesuai penjelasan Rasulullah dan pemahaman para sahabat.

Bukan mengikuti orang-orang  jahil ( bodoh ) yang berani menyelisihi aqidah Rasulullah.

Kita memohon kepada Allah agar menyelamatkan aqidah kita dari ajaran yang menyimpang dan menyesatkan.

Amin

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

HIZBUT TAHRIR – Menyingkap Aqidah Qodariyah.


Hizbut Tahrir selama ini kita kenal sebagai organisasi yang gigih memperjuangkan berdirinya khilafah islam. Jargon-jargon islam selalu menyertai setiap gerakan mereka. Namun tidak banyak yang tahu sesungguhnya di balik itu, mereka membawa paham keagamaan yang bertentangan dengan Ahlussunnah wal jamaah, baik di bidang akidah maupun syari’ah.

Organisasi Hizbuttahrir  didirikan pada tahun1953 di Jerussalem oleh Taqiyuddin An-Nabhani (penting dicatat, ini bukan Syeh Yusuf Annabhani, ulama’ sunni yang terkenal itu)

Taqiyuddin dibantu para koleganya yang telah memisahkan diri dari organisasi Ikhwanul Muslimin di Mesir. An-Nabhani adalah lulusan Al-Azhar Mesir yang berprofesi sebagai guru sekolah agama dan hakim. Ia berasal dari Ijzim Palestina Utara.

AQIDAH

Di bidang akidah, mereka cenderung berpaham Qodariyah, paham yang menganggap manusia bisa menentukan sendiri keinginannya tanpa terikat ketentuan Allah. Berikut beberapa buktinya:

  1. Dalam kitab As-Syakhshiyah Al-Islamiyah juz I bab Al qadha’ wal qodar (cet. Darul Ummah hal 94-95) Taqiyuddin berkata:

«وهذه الأفعال ـ أي أفعال الإنسان ـ لا دخل لها بالقضاء ولا دخل للقضاء بها، لأن الإنسان هو الذي قام بها بإرادته واختياره، وعلى ذلك فإن الأفعال الاختيارية لا تدخل تحت القضاء» اهـ الشخصية الإسلامية الجزء الأول باب القضاء والقدر: ص94 ـ 95

“Segala perbuatan manusia tidak terkait dengan Qadla (kepastian) Allah. Karena setiap manusia dapat menentukan kemauan dan keinginannya sendiri. Maka semua perbuatan yang mengandung unsur kesengajaan dan kehendak manusia tidak masuk dalam Qadla.”

  1. Pada As-Syakhshiyah Al-Islamiyah juz I bab Alhuda wad Dlolal (cet. Darul Ummah hal 98) penulis menyatakan

«فتعليق المثوبة أو العقوبة بالهدى والضلال يدل على أن الهداية والضلال هما من فعل الإنسان وليسا من الله» اهـ (الشخصية الإسلامية الجزء الأول : باب الهدى والضلال ص 98)

“Jadi mengaitkan adanya pahala sebagai balasan bagi kebaikan dan siksa sebagai balasan dari kesesatan, menunjukkan bahwa petunjuk dan kesesatan adalah murni perbuatan manusia itu sendiri, bukan berasal dari Allah.”

Ini jelas pendapat kaum Qodariyah yang menyimpang dari ajaran ahlussunnah wal jamaah karena bertentangan dengan ayat Al-Qur’an dan Hadits. Allah berfirman

وَاللهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

“Allah menciptakan kalian dan Allah menciptakan perbuatan kalian”  (QS As Shaffat :96)

Ibn Abbas RA berkata :

«إن كلام القدرية كفر»

Sesungguhnya perkataan kaum Qodariyah adalah kufur”.

Bisa juga maksud Ibn Abbas dengan “kufur” di sini sebagai ‘warning’ bahwa hal itu mengarah pada kekafiran. Namun yang jelas mereka adalah ahli bid’ah.

Diriwayatkan pula dari Umar bin Abdul Aziz, Imam Malik bin Anas dan Imam Awza’i :

«انهم يستتابون فإن تابوا وإلا قُتلوا»

“Sesungguhnya mereka ( kaum Qodariyah ) diminta untuk bertaubat, jika menolak maka mereka dibunuh.”

Ma’mar meriwayatkan dari Towus, dari bapaknya. Bahwa seseorang berkata kepada Ibnu Abbas: “Banyak orang mengatakan perbuatan buruk bukanlah qodar ( kepastian ) Allah SWT,” maka Ibnu Abbas menjawab: “Yang membedakan aku dan pengikut Qodariyah adalah Ayat ini:

قُلْ فَلِلَّهِ الْحُجَّةُ الْبَالِغَةُ فَلَوْ شَاءَ لَهَدَاكُمْ أَجْمَعِينَ -الأنعام/149

“Katakan! Allah mempunyai hujjah yang jelas lagi kuat, maka jika Dia menghendaki, pasti Dia memberi petunjuk kepada kamu semuanya. “QS.Al-An’am: 149.”

 

Tak cukup itu, HIzbut Tahrir malah menuduh ahlussunnah sama dengan kelompok sesat Jabariyyah, tanpa menyertakan bukti yang memadai. Taqiyuddin menyatakan dalam kitab As-Syakhsiyyah Al-Islamiyah juz 1 hal. 73:

والحقيقة هو ان رأيهم _ اي اهل السنة_ورأي الجبرية واحد فهم جبريون

Pada hakikatnya, pendapat mereka – ahlussunnah wal jama’ah – dan pendapat jabariyah adalah satu, maka mereka adalah termasuk kelompok jabariyah”.

SYARIAH

Di bidang syari’ah, HTI tidak mau terikat kepada salah satu dari madzhab empat – Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali – dan lebih mendahulukan ijtihad mereka sendiri, mereka juga tidak mengakui ijma’ sebagai dasar hukum selain ijma’ sahabat. Berikut beberapa contoh fatwa nyleneh mereka.

Dalam kitab mereka, At-Tafkir hal. 149

متى أصبح قادرًا على الاستنباط فإنه حينئذ يكون مجتهدًا، ولذلك فإن الاستنباط أو الاجتهاد ممكن لجميع الناس، وميسر لجميع الناس ولا سيما بعد أن أصبح بين أيدي الناس كتب في اللغة العربية والشرع الإسلامي ، – كتاب التفكير ص/149

” Sesungguhnya apabila seseorang mampu menggali hukum dari sumbernya, maka telah menjadi mujtahid. Oleh karenanya, maka menggali hukum atau ijtihad dimungkinkan bagi siapa pun, dan mudah bagi siapa pun, apalagi setelah mempunyai kitab lughot ( tata bahasa arab ) dan fiqh islam.”

Perkataan ini mengesankan terbukanya kemungkinan untuk berijtihad meskipun dengan modal pengetahuan yang sedikit.

DIALOG

Pada tanggal 23 – Sya’ban -1428H/ 5 – September – 2007M, beberapa pengurus PCNU kab. Pasuruan dan Habib Taufiq bin Abdul Qadir Assegaf selaku musytasyar PCNU Kab.Pasuruan berdialog dengan salah satu tokoh DPP HTI mewakili DPP HTI, di PP. Sunniyah Salafiyah Kraton, setelah membuat janji terlebih dahulu dengan DPP HTI. Dalam dialog tersebut jelas sekali perbedaan faham antara ahlussunnah wal jamaah dengan HTI, khususnya terkait masalah qodho’ dan qodar,

Tokoh HTI ini berterus terang mengakui secara lisan bahwa HTI memang tidak mengikuti rumusan Imam Asy’ari dan Imam Maturidi sebagaimana dianut ahlussunnah wal jama’ah. Rekaman dialog terdokumentasi dengan baik di Sunniyah Salafiyah

Alhasil, Hizbut Tahrir nyata-nyata berseberangan dengan Ahlussunnah. Pun demikian ini hanyalah sedikit dari penyimpangan mereka, masih banyak fakta-fakta yang belum terungkap. Tim FS

Usamah Bin Laden – terkapar.


Hari ini hari kegembiraan bagi orang-orang Amerika dan Eropah karena berhasil membunuh Usamah Bin Laden yang selama ini terus di cari dan di kejar oleh pasukkan khusus Amerika.
Keberhasilan mereka pula di ikuti dengan rasa ketakutan atas ancaman serangan balas dendam dari anggota al-Qaidah yang berada di seluruh dunia, bukan saja tidak memungkinkan bahwa mereka akan mengusik keamanan dan kepentingan Amerika di merata dunia.
Di sebalik itu sebahagian umat islam merasa simpati dengan wafatnya Usamah Bin Laden dan bahkan ada sebahagianya pula yang mengakui  bahwa Usamah Bin Laden merupakan Syahid yang mati di medan perang, terlepas dari anggapan dan akuan seseorang terhadap kepribadian Usamah bin Laden.
Mari kita melihat bagaimana ulama dan umat islam memandang Usamah Bin Laden selama ini.
Pemerintah Saudi Arabiyah menyatakan bahwa Usamah Bin Laden merupakan pemimpin Khawarij yang keluar dari ta`at kepada pemerintah, hal ini di perkuat oleh mufti agung Saudi Arabiyyah Syeikh Abdul Aziz Ali Syeikh yang memfatwakan bahwa Usamah Bin Laden Khawarij karena telah keluar dari ketaatan terhadap pemerintah yang sah, Usamah di kenal suka menghujum dan menyalahkan Raja-Raja Saudi, tak terlepas juga dengan aksi-aksi pengikutnya yang meledakkan bom di daerah Riyadh, Jeddah dan lain-lain, di sini seolah-olah pemerintah Saudi berlepas tangan dengan apa yang telah di lakukan oleh Usamah dan para pengikutnya, padahal mereka semua keluar dari madrasah yang sama yaitu Madrasah Muhammad Abdul Wahab pendiri gerakkan Wahabi, sebab itulah pemerintahan Saudi tidak mengizinkan Usamah bin Laden di kuburkan di tanah Saudi.
Semantara di Mesir sebelum ini kebanyakkan ulamanya menganggap bahwa Usamah adalah sosok pemimpin khawarij yang membawa kekerasan dan membunuh orang-orang yang tak berdosa, adi mulai Syeikh al-Azhar Muhammad Sayyid Tontowi sampai kepada Syeikh kami al-Muhaddis al-Mufassir Muhammad Ibrahim al-Kattani, mereka mengatakan bahwa tindakkan Usamah dan para pengikutnya tidak mencerminkan ajaran islam yang penuh dengan rahmat dan kasih sayang.
Sementera petinggi gerakkan Ikhwan Muslimin Doktor Isham Uryan mengatakan sebagai mana yang di kutip oleh surat kabar harian “” Yaoum Sabi` 3 Mei 2011 : “” Bin Ladin merupakan seorang yang berjihad di jalan Allah, beliau seorang yang berijtihad, orang yang berijtihad mungin benar mungkin juga salah, sementara Bin Laden banyak membuat kesalahan karena menggunakan kekerasan menghadapi rakyat sipil yang tidak bersalah, sebab Syari`at kita melarang menggunakan kekerasan menghadapi masyarakat yang tidak bersalah, kita hanya dapat berharap agar Allah mengasihinya.
Sementara Syeikh al-Azhar Syeikh Ahmad Toyyib dan Mufti Agung Mesir Syeikh Ali Jum`ah diam tidak memberikan komentar tentang Bin Laden, tetapi mereka menghujum Amerika yang tidak memiliki rasa kemanusiaan, dan meminta agar Usamah bin Laden di kuburkan di dalam tanah sesuai dengan SYari`at islamiyyah bukan dengan cara mencampakkannya ke dalam dasar lautan, sebab menurut Syeikh Azhar dan Mufti bagaimana pun Usamah bin Laden merupakan penganut islam yang semestinya mendapat peguburan dengan cara islam pula.
.

Muhammad Husni Ginting

 Medan : Sumatra Utara : Indonesia

About Me

Lahir di Besitang Langkat tarikh 26 Dzulqa`idah 1400 H,Tamat SDN 050780 thn 1992, Ijazah Tsanawiyah Negeri 31 Mei 1996,Ijazah Tsanawiyah Ma`had Musthafawiyah 1997 M, Musthafa,Ijazah Mas 29 Mei 1999 M, Ijazah Lisence Universitas Al-Azhar 2004 M, Ijazah Defloma Master Ma`had Ali Darasat Islamiyah 17 Januari 2007 M, Kuliyah Usuluddin al-Azhar Jurusan Hadits Syarif.Account Number Card : The United Bank ,Zaqaziq 355527

Sahah al-Langkatiyah al-Husofiyah

JAWA TIMUR – kemelut khilafah.


Ketua PWNU Jawa Timur KH Mutawakkil Alallah meminta pemerintah bersikap tegas terhadap organisasi kemasyarakatan yang tidak berasas Pancasila. Kalau perlu dibubarkan, karena mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Hal ini disampaikan ketua PW NU saat hadir dalam Harlah NU ke 85 yang digelar PC NU Jombang di GOR Merdeka Jombang, Ahad (10/7) yang juga dihadiri ketua PBNU H Saifullah Yusuf yang juga wakil Gubernur Jawa Timur.

Dikatakan Mutawakkil, sekarang ini marak bemunculan ormas yang terang-terangan mengajarkan khilafah dan tidak mengakui adanya asas Pancasila. ”Mereka menginginkan NKRI diganti khilafah, jika Indonesia ingin makmur,” ujarnya dihadapan ribuan jamaah.

Menjamurnya gerakan khilafah ini, lanjut KH Mutawakkil, karena pemerintah tidak tegas menyikapi. Disamping itu masih banyaknya warga yang dalam kondisi miskin terutama masyarakat bawah serta penegakan hukum yang kurang memicu aliran radikal ini.

”Selama persoalan kemiskinan, hukum masih seperti sekarang, aliran radikalisme semacam ini akan terus berkembang,” ujarnya seraya mengatakan faham ini sekarang juga sudah merambah Jawa Timur yang merupakan basis NU.

Selama ini, lanjut pengasuh Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo ini mengatakan, pemerintah belum berani melakukan tindakan atau pembubaranan. Padahal undang-undang keormasan yang merupakan konstitusi bersama sudah tegas mengatur.” Mengapa itu (membubarkan) tidak berani dilakukan. Itu yang kita sayangkan,” pungkasnya.

Karenanya, Ketua PWNU Jawa Timur ini meminta pemerintah tegas untuk menindak bahkan membubarkan ormas yang jelas-jelas menolak asas pancasila. Dikatakannya, karena berada di Indonesia maka setiap ormas harus berasakan Pancasila.

”Jika tidak, maka harus ditutup karena melanggar undang-undang. Dan yang telah berasaskan pancasila juga harus mendapatkan pengawasan,” tandas pengasuh pondok pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo ini juga mengingatkan.

KH Mutawakkil menegaskan, bahwa siapapun dan apapun ormasnya yang mengganggu asas pancasisla dan keutuhan NKRI, maka akan berhadapan dengan NU. ”Siapaun mengganggu Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) akan berhadapan dengan NU,” tukasnya.

Dalam kegiatan harlah NU yang dihadiri Bupati Suyanto dan Wakil Bupati Widjono Soeparno juga digelar donor darah. Tidak kurang 50 jamaah dari Banser Ansor, IPNU dan IPPNU melakukan donor darah. (pz/nu-online)

http://www.eramuslim.com/berita/nasional/waduh-nu-jatim-minta-pemerintah-bubarkan-ormas-penganjur-khilafah.htm

MUHAMMADIYAH – Aqidah yang menyendiri.


.

Cara Takbir Zawaid dalam Shalat Idain

oleh Fatwa Majlis Tarjih Muhammadiyah pada 27 Mei 2011 jam 0:13

.

CARA TAKBIR ZAWAID DALAM SHALAT IDAIN

.

Pertanyaan Dari:

Arief Fadhillah, Bandung Jawa Barat

(disidangkan pada Jum’at, 23 Muharram 1429 H / 1 Februari 2008 M)

.

Pertanyaan:

.

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Selama 2 (dua) tahun terakhir kami telah mengikuti pelaksanaan ibadah shalat Idain (Idul Fithri dan Idul Adha) di 4 (empat) tempat yang berbeda, dan terakhir kami mengikuti shalat Idul Fithri tanggal 12 Oktober 2007 yang diselenggarakan oleh warga Muhammadiyah Sukamenak Bandung Jawa Barat. Dalam pelaksanaan shalat Id di Bandung tersebut ada perbedaan dengan apa yang biasa dilakukan oleh Pemerintah dan Muhammadiyah di tempat lain.

.

Pertanyaan kami:

1.      Mengapa sesama Muhammadiyah terdapat perbedaan pada cara pelaksanaan takbir shalat Idain?

2.      Apa yang menyebabkan adanya perbedaan dalam pelaksanaan takbir shalat Idain tersebut?

Kami mohon penjelasan dari Majlis Tarjih dan Tajdid tentang perbedaan tata cara pelaksanaan shalat Id tersebut.

.

Jawaban:

Persoalan yang saudara tanyakan sama dengan apa yang telah ditanyakan oleh saudara Muhammad Parigi dari Sulawesi Tengah, dan jawaban lengkap tentang itu bisa dibaca pada buku Tanya Jawab Agama jilid 1 hal. 113-115. Secara ringkas dapat kembali kami sampaikan: Muktamar Tarjih ke-20 di Garut tahun 1976 telah memutuskan bahwa takbir dalam shalat Idain ialah tujuh kali (takbir) pada rakaat pertama dan lima kali (takbir) pada rakaat kedua. Keputusan Muktamar Tarjih tersebut telah ditanfidzkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada tahun 1397/1977.

Adapun keputusan itu berbunyi:

.

ثُمَّ يُكَبِّرُ بَعْدَ تَكْبِيْرَةِ الإِحْرَامِ سَبْعَ تَكْبِيْرَاتٍ لِلرَّكْعَةِ الأُوْلَى وَخَمْسًا لِلثَّانِيَةِ.

  “ Kemudian sesudah takbiratul-ihram, membaca tujuh kali takbir pada rakaat pertama dan lima kali takbir pada rakaat kedua.”

.

Sedangkan dalil-dalil yang dijadikan alasan adalah:

1- أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَبَّرَ فِي الْعِيدَيْنِ فِي اْلأُولَى سَبْعًا قَبْلَ الْقِرَاءَةِ وَفِي اْلآخِرَةِ خَمْسًا قَبْلَ الْقِرَاءَةِ. [رواه الترمذى]

  “ Sesungguhnya Nabi saw. bertakbir pada shalat dua hari raya tujuh kali (takbir) pada rakaat pertama dan lima kali (takbir) pada rakaat kedua sebelum membaca (surat).” 

[HR. at-Tirmidzi]

.

2- أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَبَّرَ فِي عِيدٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ تَكْبِيرَةً سَبْعًا فِي اْلأُولَى وَخَمْسًا فِي اْلآخِرَةِ وَلَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلاَ بَعْدَهَا. [رواه أحمد]

 “Sesungguhnya Nabi saw. bertakbir pada (shalat) hari raya dua belas kali takbir, pada rakaat pertama tujuh kali (takbir) dan pada rakaat yang terakhir (kedua) lima kali (takbir), dan beliau tidak shalat (sunnah) baik sebelum maupun sesudahnya.”

 [HR Ahmad]

.

3- عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ قَالَ نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ التَّكْبِيرُ فِي الْفِطْرِ سَبْعٌ فِي اْلأُولَى وَخَمْسٌ فِي اْلآخِرَةِ وَالْقِرَاءَةُ بَعْدَهُمَا كِلْتَيْهِمَا. [رواه أبو داود]

 “ Diriwayatkan dari Abdillah bin ‘Amr bin ‘Ash ia berkata, Nabi saw bersabda: Takbir di hari raya fithri tujuh kali (takbir) pada (rakaat) pertama dan lima kali (takbir) pada rakaat yang akhir (kedua), dan bacaan sesudah kedua-duanya.”

 [HR. Abu Dawud]

.

Untuk menjawab pertanyaan saudara (mengapa sesama Muhammadiyah ada perbedaan dalam pelaksanaan takbir shalat Id dan apa yag menyebabkan adanya perbedaan tersebut), sesuai dengan hasil pembacaan kami terhadap dokumen Tarjih yang ada kaitannya dengan pertanyaan saudara, perlu kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut:

Mengenai jumlah takbir zawaid di dalam shalat Idain terdapat dua pendapat.

Pertama, pendapat yang mengatakan bahwa takbir zawaid itu tujuh dan lima, yakni sesudah takbiratul ihram membaca tujuh kali takbir pada rakaat pertama, dan lima kali takbir pada raka’at kedua setelah takbir intiqal.

Kedua, pendapat yang mengatakan bahwa takbir dalam shalat Idain itu satu–satu, yaitu takbir dalam shalat Idain dilakukan satu kali pada raka’at pertama dan kedua sebagaimana halnya shalat biasa seperti shalat jum’at dan lain-lain.

Pendapat pertama

(takbir zawaid berjumlah tujuh–lima)

Beralasan pada hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud dan at-Tirmidzy sebagaimana dijelaskan di atas. Juga berdasarkan kepada Qaidah Tarjih tentang “hadits-hadits dhaif  yang dapat dijadikan hujjah”. Qaidah yang dimaksud adalah:

الأَحَادِيْثُ الضَّعِيْفَةُ يَعْضَدُ بَعْضُهَا بَعْضًا لاَيُحْتَجُّ بِهَا إِلاَّ مَعَ كَثْرَةِ طُرُقِهَا وَفِيْهَا قَرِيْنَةٌ تَدُلًّ عَلَى ثُبُوْتِ أَصْلِهَا وَلمَ ْ تُعَارِضِ الْقُرْآنَ وَالْحَدِيْثَ الصَّحِيْحَ.

 “ Hadits-hadits dhaif yang menguatkan satu pada lainnya tidak dapat digunakan sebagai hujjah, kecuali apabila banyak jalannya dan terdapat padanya qarinah yang menunjukkan ketetapan asalnya dan tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits Shahih.”

.

Dari qaidah tersebut dapat dipahami bahwa hadits-hadits tentang takbir zawaid, meskipun tingkatannya tidak sampai pada derajat hadits shahih bahkan dikatakan dha’if, tetapi jalannya banyak dan terdapat qarinah yang menunjukkan asalnya, yaitu bahwa  takbir tujuh–lima dipraktekkan oleh beberapa shahabat.

Pendapat kedua:

(Takbir  zawaid satu kali – satu kali )

Takbir dalam shalat Idain itu satu–satu seperti yang dipegangi oleh Muhammadiyah Jawa Barat,

Beralasan bahwa hadits-hadits yang menunjukkan takbir tujuh–lima semuanya tidak ada yang sampai pada derajat shahih, dan hadits dhaif meskipun banyak jumlahnya tidak bisa saling kuat menguatkan untuk dijadikan hujjah.

Muhammadiyah Jawa Barat belum menerima Qaidah ” hadits-hadits dhaif yang dapat dijadikan hujjah”, karena bertentangan dengan (pemahaman) definisi “as-sunnah ash-shahihah” yang terdapat dalam definisi ad-Din menurut keputusan Tarjih.

Menurut Muhammadiyah Jawa Barat, yang dimaksud as-sunnah ash-shahihah dalam definisi ad-Din adalah hadits shahih, sedangkan hadits hasan, baik hasan lidzatih atau hasan lighairih tidak termasuk hadits shahih. Definisi ad-Din yang telah diputuskan oleh Majlis Tarjih pada tahun 1954 adalah sebagai berikut:

الدِّيْنُ (أى الدين الإسلامي) الَّذِى جَاءَ بِهِ مُحَمَّدٌ صلى الله عليه وسلّم هُوَ مَا أَنْزَلَهُ اللهُ فِى الْقُرْآن ِوَمَا جَاءَتْ بِهِ السُّنَّةُ الصَّحِيْحَةُ مِنَ اْلأَوَامِرِ وَالنَّوَاهِى وَاْلإِرْشَادَاتِ لِصَلاَحِ اْلعِبَادِ دُنْيَاهُمْ وَأُخْرَاهُمْ.

 “Agama (agama Islam) adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. ialah apa yang diturunkan Allah di dalam al-Qur’an dan yang tersebut dalam sunnah yang shahih, berupa perintah-perintah dan larangan-larangan serta petunjuk untuk kebaikan manusia di dunia dan di akhirat.

Demikianlah penjelasan atau jawaban yang dapat kami sampaikan semoga menjadikan wawasan bagi kita semua.

Wallahu a’lam bishshawab. *A.56h)

Tim Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

E-mail: tarjih_ppmuh@yahoo.com dan ppmuh_tarjih@yahoo.com

 .

 [ رَبَّنَا هَبْ لَنَ مِنْ أَزْوَاجِـنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةً أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا ]

.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِى الدِّينِ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِى الدِّينِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Wahai sekalian manusia, jauhilah sikap berlebih-lebihan (ghuluw) dalam beragama. Sesungguhnya yang membinasakan umat-umat sebelum kalian adalah sikap berlebih-lebihan dalam agama ”

HR Ibnu Majah >Ibnu Abbas,