QAUL QADIM – QAUL JADID / Imam Shalat.



.

Yang berhak menjadi imam bagi suatu kaum dalam shalat berjama’ah menurut sunnah Nabi Muhammad saw.

adalah orang yang paling ahli dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an dan paling mengerti hukum-hukum fiqih.

Hal ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad saw. yang diriwayatkan oleh Abu Mas’ud Al-Badri:

يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ وَأَكْثَرُهُمْ قِرَاءَةً. فَإِنْ كَانَتْ قِرَاءَتُهُمِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً . فَإِنْ كَانُوْا فِي الْهِجْرَةِ سَوًاءً فَأَكْبَرُهُمْ سَنًّا .

 Yang boleh mengimami kaum itu adalah orang yang paling pandai di antara mereka dalam memahami kitab Allah (Al Qur’an) dan yang paling banyak bacaannya di antara mereka. Jika pemahaman mereka terhadap Al-Qur’an sama, maka yang paling dahulu di antara mereka hijrahnya ( yang paling dahulu taatnya kepada agama). Jika hijrah (ketaatan) mereka sama, maka yang paling tua umurnya di antara mereka 

.

Fuqaha lebih utama 

Sahabat Nabi saw. yang paling banyak memahami kitab Al-Qur’an adalah orang yang paling banyak pengetahuannya terhadap fiqih.

Karena mereka membaca ayat Al-Qur’an dan mempelajari hukum-hukumnya.

Oleh karena shalat itu memerlukan keabsahan kepada bacaan Al-Qur’an dan fiqih.

Maka orang yang ahli membaca Al-Qur’an dan ahli fiqih harus didahulukan daripada selainnya.

Jika salah seorang di antara para ma’mum lebih pandai membaca Al-Qur’an dan lebih pandai dalam fiqih, maka dia didahulukan dari pada lainnya.

Fuqaha lebih utama dari Hafidz.

Jika salah seorang di antara para ma’mum pandai dalam bidang fiqih, sedang yang lain lebih pandai membaca Al-Qur’an, maka yang lebih pandai fiqih adalah lebih utama.

Alasannya :

Karena barangkali dalam shalat tersebut terjadi sesuatu kejadian yang memerlukan kepada ijtihad.

.

.

Jika ada dua orang yang sama pandainya dalam bidang fiqih dan bacaan Al-Qur’an, dalam hal ini ada dua pendapat:

Imam Asy-Syafi’i dalam QAUL QADIM berpendapat:

.

YANG HARUS DIDAHULUKAN MENJADI IMAM SHALAT.

 

  • Yang didahulukan adalah orang yang

  • lebih mulia kedudukannya dalam masyarakat,

  • lalu orang yang lebih dahulu hijrahnya


  • kemudian orang yang lebih tua umurnya

dan inilah pendapat yang lebih kuat.

.

Orang yang lebih dahulu hijrahnya lebih didahulukan dari pada orang yang lebih tua umurnya adalah berdasarkan hadits dari Abu Mas’ud Al-Badri.

.

Orang Mulya Kedudukannya didahulukan atas yang berHijrah.

Tidak ada perbedaan pendapat mengenai orang yang mulia kedudukannya di masyarakat lebih didahulukan dari pada orang yang lebih dahulu hijrahnya.

Yang ber Hijrah lebih utama dari dari Orang Tua.

Jika orang yang lebih dahulu hijrahnya lebih didahulukan dari pada orang yang lebih tua umurnya, maka mendahulukan orang yang lebih mulia keduduknya di masyarakat daripada orang yang lebih dahulu hijrahnya adalah lebih utama.

.

  • Dalam QAUL JADID  Imam Asy-Syafi’i berpendapat bahwa orang yang lebih tua umurnya harus didahulukan
  • Kemudian orang yang lebih mulia kedudukannya di masyarakat,
  • Kemudian orang yang lebih dahulu hijrahnya.

Hal ini berdasarkan riwayat Malik bin Huwairits bahwa Nabi Muhammad saw. telah bersabda:

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّي وَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَ  .

Mendahulukan orang yang umurnya lebih tua, adalah karena orang yang lebih tua itu lebih khusyu’ dalam shalat, sehingga lebih utama.

.

Yang sudah lama memeluk Islam.

Umur yang berhak untuk didahulukan menjadi imam adalah umur dalam masuk agama Islam.

Adapun jika seseorang menjadi tua dalam kekafiran, kemudian masuk Islam, maka tidak didahulukan atas pemuda yang tumbuh dalam Islam.

Orang mulia yang berhak untuk didahulukan adalah apabila orang tersebut dari golongan Quraisy.

Yang dimaksud dengan hijrah di sini adalah dari orang yang berhijrah dari Makkah kepada Rasulullah saw., atau dari anak cucu mereka.

Apabila ada dua orang yang sama dalam ketentuan-ketentuan tersebut, maka sebagian dari para ulama’ terdahulu berpendapat bahwa yang didahulukan adalah orang yang paling baik di antara mereka.

Di antara para pendukung madzhab Syafi’i ada orang yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan orang yang paling baik tersebut adalah orang yang paling baik rupanya. ( rupawan ).

Di antara mereka ada orang yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan orang yang paling  di sini adalah orang yang paling baik sebutannya di masyarakat.

Utamakan Pemilik Rumah / Tempat.

Jika orang-orang yang berhak menjadi imam yang telah disebutkan di atas berkumpul dengan pemilik rumah, maka pemilik rumah adalah lebih utama menjadi imam daripada mereka.

Hal ini sesuai dengan apa yang diriwayatkan dari Abu Mas’ud Al-Badri bahwa Nabi Besar Muhammad saw. bersabda:

.

لاَ يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي أَهْلِهِ وَلاَ سُلْطَانِهِ وَلاَ يَجْلِسْ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلاَّ بِإِذْنِهِ.

 Janganlah sekali-kali seseorang laki-laki mengimami orang laki-laki lain pada keluarga laki-laki lain tersebut dan janganlah seseorang laki-laki duduk pada tempat duduk yang khusus bagi laki-laki lain, kecuali dengan izinnya 

.

Penyewa Rumah lebih utama

Jika datang pemilik rumah dan orang yang menyewa rumah tersebut, maka penyewa rumah lebih utama untuk menjadi imam. Karena penyewa rumah lebih berhak mempergunakan manfaat-manfaat dari rumah tersebut.

Bapak  belian

Jika datang pemilik budak belian dan budak belian dalam sebuah rumah yang dibangunkan oleh majikan (pemilik budak) untuk tempat tinggal budak tersebut, maka sang majikan lebih utama untuk menjadi imam. Karena majikan tersebut adalah pemilik rumah tersebut pada hakikatnya, bukan si budak belian.

Budak Belian

Jika berkumpul selain majikan dan budak dalam rumah budak tersebut, maka si budak lebih utama menjadi imam. Karena budak tersebut lebih berhak dalam mengatur rumah tersebut.

Imam Masjid utamakan

Jika orang-orang tersebut di atas berkumpul di masjid bersama imam masjid, maka imam masjid tersebut adalah lebih utama untuk dijadikan imam.

Karena telah diriwayatkan bahwa Abdullah Umar mempunyai budak yang shalat dalam masjid, kemudian Ibnu Umar datang dan budaknya meminta beliau berdiri di depan sebagai imam.

Ibnu Umar ra berkata:

Engkau lebih berhak menjadi imam di masjidmu “

.

Imam Masjid dengan pemilik Rumah

Jika imam dari orang-orang muslim berkumpul dengan pemilik rumah atau dengan imam masjid, maka imam dari orang-orang muslim tersebut adalah lebih utama, karena kekuasaannya adalah bersifat umum dan karena dia adalah pemimpin sedang orang-orang tersebut adalah orang-orang yang dipimpin;

sehingga mendahulukan pemimpin adalah lebih utama.

Status Musafir dengan Musafir.

Jika berkumpul orang musafir dan orang mukim, maka orang yang mukim adalah lebih utama.

Status Mukim / Pribumi.

Karena sesungguhnya jika orang mukim menjadi imam, maka seluruhnya menyempurnakan shalat sehingga mereka tidak berbeda.

Status Mukim dengan Musafir.

Dan jika orang musafir yang menjadi imam, maka mereka berbeda-beda dalam jumlah rakaat.

Status Budak Belian.

Jika orang merdeka berkumpul dengan budak belian, maka orang merdeka lebih utama. Karena menjadi imam itu adalah tempat kesempurnaan, sedangkan orang merdeka itu adalah yang lebih sempurna.

Status Orang Fasik.

Jika orang yang adil dan orang yang fasik berkumpul, maka orang yang adil adalah lebih diutamakan, karena dia lebih utama.

Status Anak hasil Zina

Jika anak zina berkumpul dengan lainnya, maka lainnya adalah lebih utama. Sayyidina Umar ra. dan Mujahid menganggap makruh anak zina menjadi imam, sehingga selain anak zina adalah lebih utama dari pada anak zina.

Yang Buta dan yang Melihat – haknya sama.

Jika berkumpul orang yang dapat melihat dengan orang yang buta, maka menurut ketentuan nas dalam hal menjadi imam adalah bahwa kedua orang tersebut sama. Sebab orang yang buta itu mempunyai kelebihan karena dia tidak melihat hal-hal yang dapat melengahkannya. Sedang orang yang dapat melihat juga memiliki kelebihan, yaitu dapat menjauhkan diri dari najis.

Abu Ishaq Al-Maruzi berpendapat bahwa orang yang buta lebih utama.

Sedangkan menurut Abu Ishaq As-Syairazi orang yang dapat melihat adalah lebih utama. Karena dia dapat menjauhi barang najis yang dapat merusak shalat.

Sedang orang yang buta dapat meninggalkan memandang kepada hal-hal yang dapat melengahkannya – dan hal tersebut tidak merusak shalat.

http://infopesantren.web.id/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/menuju_kesempurnaan_shalat/03.single#top

Mazhab-Mazhab Fiqih dan Pengertiannya.


 

.

Istilah madzhab merupakan sighat isim makan dari fi’il madli yaitu Dzahaba. Dzahaba artinya pergi; oleh karena itu mazhab artinya: tempat pergi atau jalan. Kata-kata yang semakna ialah: maslak, thariiqah dan sabiil, yang kesemuanya berarti jalan atau cara. Demikian pengertian mazhab menurut bahasa.

Pengertian madzhab menurut istilah dalam kalangan umat Islam ialah, “Sejumlah dari fatwa-fatwa dan pendapat-pendapat seorang alim besar di dalam urusan agama, baik ibadah maupun lainnya.”

Setiap mazhab punya guru dan tokoh-tokoh yang mengembangkannya. Biasanya mereka punya lembaga pendididikan yang mengajarkan ilmu-ilmu kepada ribuan muridnya.

Berkembangnya suatu madzhab di sebuah wilayah sangat bergantung dari banyak hal. Salah satunya dari keberadaan pusat-pusat pengajaran madzhab itu sendiri.

Selain itu sedikit banyak dipengaruhi juga oleh madzhab yang dianut oleh penguasa, di mana penguasa biasanya mendirikan universitas keagamaan dan mengajarkan mazhab tertentu di dalamnya.

Nanti para mahasiswa yang berdatangan dari berbagai penjuru dunia akan membuka perguruan tinggi dan akan menyebarkan madzhab tersebut di negeri masing-masing.

Bila pengelilaan perguruan itu berjalan baik dan berhasil, biasanya akan mempengaruhi ragam madzhab penduduk suatu negeri.

Di Mesir misalnya, madzhab As-Syafi’i di sana berhasil mengajarkan dan mendirikan perguruan tinggi, lalu punya banyak murid di antaranya dari Indonesia.

Maka di kemudian hari, madzhab As-Syafi’i pun berkembang banyak di Indonesia.

.

Sekilas tentang 4 Mazhab

.

1. Mazhab Hanafi

Pendiri madzhab Hanafi ialah: Nu’man bin Tsabit bin Zautha.

Dilahirkan pada masa sahabat, yaitu pada tahun 80 H = 699 M.

Beliau wafat pada tahun 150 H bertepatan dengan lahirnya Imam Syafi’i R.A. Beliau lebih dikenal dengan sebutan: Abu Hanifah An Nu’man.

Abu Hanifah adalah seorang mujtahid yang ahli ibadah. Dalam bidang fiqh beliau belajar kepada Hammad bin Abu Sulaiman pada awal abad kedua hijriah dan banyak belajar pada ulama-ulama Ttabi’in, seperti Atha bin Abi Rabah dan Nafi’ Maula Ibnu Umar.

Madzhab Hanafi adalah sebagai nisbah dari nama imamnya, Abu Hanifah.

Jadi madzhab Hanafi adalah nama dari kumpulan-kumpulan pendapat-pendapat yang berasal dari Imam Abu Hanifah dan murid-muridnya serta pendapat-pendapat yang berasal dari para pengganti mereka sebagai perincian dan perluasan pemikiran yang telah digariskan oleh mereka yang kesemuanya adalah hasil dari pada cara dan metode ijtihad ulama-ulama Irak ( Ahlu Ra’yi ).

Maka disebut juga mazhab Ahlur Ra’yi masa Tsabi’it Tabi’in.

Dasar-dasar Mazhab Hanafi

Abu Hanifah dalam menetapkan hukum fiqh terdiri dari tujuh pokok, yaitu:

Al-Kitab, As Sunnah, Perkataan para Sahabat, Al-Qiyas, Al-Istihsan, Ijma’ dan Uruf.

Murid-murid Abu Hanifah adalah sebagai berikut:

a. Abu Yusuf bin Ibrahim Al-Anshari (113-183 H)
b. Zufar bin Hujail bin Qais al-Kufi (110-158 H)
c. Muhammad bin Hasn bin Farqad as Syaibani (132-189 H)
d. Hasan bin Ziyad Al-Lu’lu Al-Kufi Maulana Al-Anshari (….-204 H).

Daerah-daerah Penganut Mazhab Hanafi

Madzhab Hanafi mulai tumbuh di Kufah (Irak), kemudian tersebar ke negara-negara Islam bagian Timur. Dan sekarang ini mazhab Hanafi merupakan mazhab resmi di Mesir, Turki, Syiria dan Libanon.

Dan madzhab ini dianut sebagian besar penduduk Afganistan, Pakistan, Turkistan, Muslimin India dan Tiongkok.

2. Mazhab Maliki

Madzhab Maliki adalah merupakan kumpulan pendapat-pendapat yang berasal dari Imam Malik dan para penerusnya di masa sesudah beliau meninggal dunia.

Nama lengkap dari pendiri madzhab ini ialah: Malik bin Anas bin Abu Amir. Lahir pada tahun 93 M = 712 M di Madinah.

Selanjutnya dalam kalangan umat Islam beliau lebih dikenal dengan sebutan Imam Malik. Imam Malik terkenal dengan imam dalam bidang hadits Rasulullah SAW.

Imam Malik belajar pada ulama-ulama Madinah.

Yang menjadi guru pertamanya ialah Abdur Rahman bin Hurmuz. Beliau juga belajar kepada Nafi’ Maula Ibnu Umar dan Ibnu Syihab Az Zuhri.

Adapun yang menjadi gurunya dalam bidang fiqh ialah Rabi’ah bin Abdur Rahman.

Imam Malik adalah imam ( tokoh ) negeri Hijaz, bahkan tokohnya semua bidang fiqh dan hadits.

Dasar-dasar Mazhab Maliki

Dasar-dasar madzhab Maliki diperinci dan diperjelas sampai tujuh belas pokok ( dasar ) yaitu:

  • Nashshul Kitab
  • Dzaahirul Kitab ( umum )
  • Dalilul Kitab ( mafhum mukhalafah )
  • Mafhum muwafaqah
  • Tanbihul Kitab, terhadap illat
  • Nash-nash Sunnah
  • Dzahirus Sunnah
  • Dalilus Sunnah
  • Mafhum Sunnah
  • Tanbihus Sunnah
  • Ijma’
  • Qiyas
  • Amalu Ahlil Madinah
  • Qaul Shahabi
  • Istihsan
  • Muraa’atul Khilaaf
  • Saddud Dzaraa’i.

Sahabat-sahabat Imam Maliki dan Pengembangan Mazhabnya

Di antara ulama-ulama Mesir yang berkunjung ke Madinah dan belajar pada Imam Malik ialah:

  1. Abu Muhammad Abdullah bin Wahab bin Muslim.
  2. Abu Abdillah Abdur Rahman bin Qasim al-Utaqy.
  3. Asyhab bin Abdul Aziz al-Qaisi.
  4. Abu Muhammad Abdullah bin Abdul Hakam.
  5. Asbagh bin Farj al-Umawi.
  6. Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam.
  7. Muhammad bin Ibrahim bin Ziyad al-Iskandari.

Adapun ulama-ulama yang mengembangkan madzhab Maliki di Afrika dan Andalus ialah:

  1. Abu Abdillah Ziyad bin Abdur Rahman al-Qurthubi.
  2. Isa bin Dinar al-Andalusi.
  3. Yahya bin Yahya bin Katsir Al-Laitsi.
  4. Abdul Malik bin Habib bin Sulaiman As Sulami.
  5. Abdul Hasan Ali bin Ziyad At Tunisi.
  6. Asad bin Furat.
  7. Abdus Salam bin Said At Tanukhi.

Sedang Fuqaha-fuqaha Malikiyah yang terkenal sesudah generasi tersebut di atas adalah sebagai berikut:

  1. Abdul Walid al-Baji
  2. Abdul Hasan Al-Lakhami
  3. Ibnu Rusyd Al-Kabir
  4. Ibnu Rusyd Al-Hafiz
  5. Ibnu ‘Arabi
  6. Ibnul Qasim bin Jizzi

Daerah-daerah yang Menganut Mazhab Maliki.

Awal mulanya tersebar di daerah Madinah, kemudian tersebar sampai saat ini di Marokko, Aljazair, Tunisi, Libia, Bahrain, dan Kuwait.

3.Mazhab Syafi’i.

Mazhab ini dibangun oleh Al-Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi’i

seorang keturunan Hasyim bin Abdul Muthalib bin Abdi Manaf.

Beliau lahir di Gaza ( Palestina ) tahun 150 H bersamaan dengan tahun wafatnya Imam Abu Hanifah yang menjadi Madzhab yang pertama.

Guru Imam Syafi’i yang pertama ialah Muslim bin Khalid, seorang Mufti di Mekah.

Imam Syafi’i sanggup hafal Al-Qur-an pada usia tujuh tahun.

Setelah beliau hafal Al-Qur-an barulah mempelajari bahasa dan syi’ir.

kemudian beliau mempelajari hadits dan fiqh.

Mazhab Syafi’i terdiri dari dua macam;

Berdasarkan atas masa dan tempat beliau mukim. Yang pertama ialah QAUL QADIM

Yaitu madzhab yang dibentuk sewaktu hidup di Irak.

Dan yang kedua ialah QAUL JADID –  yaitu madzhab yang dibentuk sewaktu beliau hidup di Mesir pindah dari Irak.

Keistimewaan Imam Syafi’i dibanding dengan Imam Mujtahidin yaitu bahwa beliau merupakan peletak batu pertama ilmu Ushul Fiqh dengan kitabnya Ar Risaalah.

Dan kitabnya dalam bidang fiqh yang menjadi induk dari mazhabnya ialah: Al-Um.

Dasar-dasar Mazhab Syafi’i

Dasar-dasar atau sumber hukum yang dipakai Imam Syafi’i dalam mengistinbat hukum sysra’ adalah:

  1. Al-Kitab.
  2. Sunnah Mutawatirah.
  3. Al-Ijma’.
  4. Khabar Ahad.
  5. Al-Qiyas.
  6. Al-Istishab.

Sahabat-sahabat beliau yang berasal dari Irak antara lain:

  1. Abu Tsaur Ibrahim bin Khalid bin Yaman al-Kalabi al-Bagdadi.
  2. Ahmad bin Hanbal yang menjadi Imam Mazhab keeempat.
  3. Hasan bin Muhammad bin Shabah Az Za’farani al-Bagdadi.
  4. Abu Ali Al-Husain bin Ali Al-Karabisi.
  5. Ahmad bin Yahya bin Abdul Aziz al-Bagdadi.

Adapun sahabat beliau dari Mesir:

  1. Yusuf bin Yahya al-Buwaithi al-Misri.
  2. Abu Ibrahim Ismail bin Yahya al-Muzani al-Misri.
  3. Rabi’ bin Abdul Jabbar al-Muradi.
  4. Harmalah bin Tahya bin Abdullah Attayibi
  5. Yunus bin Abdul A’la Asshodafi al-Misri.
  6. Abu Bakar Muhammad bin Ahmad.

Daerah-daerah yang Menganut Mazhab Syafi’i

Mazhab Syafi’i sampai sekarang dianut oleh umat Islam di: Libia, Mesir, Indonesia, Pilipina, Malaysia, Somalia, Arabia Selatan, Palestina, Yordania, Libanon, Siria, Irak, Hijaz, Pakistan, India, Jazirah Indo China, Sunni-Rusia dan Yaman.

4. Madzhab Hambali.

Pendiri Madzhab Hambali ialah: Al-Imam Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal bin Hilal Azzdahili Assyaibani.

Beliau lahir di Bagdad pada tahun 164 H. dan wafat tahun 241 H.

Ahmad bin Hanbal adalah seorang imam yang banyak berkunjung ke berbagai negara untuk mencari ilmu pengetahuan, antara lain: Siria, Hijaz, Yaman, Kufah dan Basrsh. Dan beliau dapat menghimpun sejumlah 40.000 hadits dalam kitab Musnadnya.

Dasar-dasar Madzhabnya.

Adapun dasar-dasar mazhabnya dalam mengistinbatkan hukum adalah:

  1. Nash Al-Qur-an atau nash hadits.
  2. Fatwa sebagian Sahabat.
  3. Pendapat sebagian Sahabat.
  4. Hadits Mursal atau Hadits Dha’if.
  5. Qiyas.

Dalam menjelaskan dasar-dasar fatwa Ahmad bin Hanbal ini di dalam kitabnya I’laamul Muwaaqi’in.

Pengembang-pengembang Madzhabnya

Adapun ulama-ulama yang mengembangkan madzhab Ahmad bin Hanbal adalah sebagai berikut:

  1. Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Hani yang terkenal dengan nama Al-Atsram –  dia telah mengarang Assunan Fil Fiqhi ‘Alaa Mazhabi Ahamd.
  2. Ahmad bin Muhammad bin Hajjaj al-Marwazi yang mengarang kitab As Sunan Bisyawaahidil Hadis.
  3. Ishaq bin Ibrahim yang terkenal dengan nama Ibnu Ruhawaih al-Marwazi dan termasuk ashab Ahmad terbesar yang mengarang kitab As Sunan Fil Fiqhi.

Ada beberapa ulama yang mengikuti jejak langkah Imam Ahmad yang menyebarkan madzhab Hambali, di antaranya:

  1. Muwaquddin Ibnu Qudaamah al-Maqdisi yang mengarang kitab Al-Mughni.
  2. Syamsuddin Ibnu Qudaamah al-Maqdisi pengarang Assyarhul Kabiir.
  3. Syaikhul Islam Taqiuddin Ahmad Ibnu Taimiyah pengarang kitab terkenal Al-Fataawa.
  4. Ibnul Qaiyim al-Jauziyah pengarang kitab I’laamul Muwaaqi’in dan Atturuqul Hukmiyyah fis Siyaasatis Syar’iyyah.Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qaiyim adalah dua tokoh yang membela dan mengembangkan mazhab Hambali.

Daerah yang Menganut Madzhab Hambali.

Awal perkembangannya, madzhab Hambali berkembang di Bagdad, Irak dan Mesir dalam waktu yang sangat lama.

Pada abad XII madzhab Hambali berkembang terutama pada masa pemerintahan Raja Abdul Aziz As Su’udi. ( saat ini menganut Faham Abu Hanifah …pen ).

Dan masa sekarang ini menjadi madzhab resmi pemerintahan Saudi Arabia dan mempunyai penganut terbesar di seluruh Jazirah Arab, Palestina, Siria dan Irak.

Demikian sekilas sejarah dan penjelasan dari keempat madzhab yang terkenal.

.


Ahmad Sarwat, Lc 

 

ITTIBA’


Pengertian Ittiba’   

Kata “ ittiba`” berasal dari bahasa Arab ittaba`a, yattabi`u, ittibaa`an, muttabi`un yang berarti “ menurut ” atau “ mengikut ”.
Menurut ulama agama Islam sesuai dengan yang dikerjakan Nabi Muhammad SAW.
Definisi lainnya, ittiba` ialah menerima pendapat seseorang sedangkan yang menerima itu mengetahui dari mana atau asal pendapat itu.

Pendapat Imam Madzhab tentang Ittiba’
ushul, ittiba` adalah mengikuti atau menuruti semua yang diperintahkan, yang dilarang, dan dibenarkan Rasulullah SAW. Dengan kata lain ialah melaksanakan ajaran-ajaran

.

Macam-macam Ittiba’

.

1. Ittiba` kepada Allah dan Rasul-Nya

Ulama sepakat bahwa semua kaum muslim wajib mengikuti semua perintah Allah Swt dan Rasul-Nya dan menjauhi laranganNya.

2. Ittiba` kepada selain Allah dan Rasul-Nya

Ulama berbeda pendapat, ada yang membolehkan ada yang tidak membolehkan.

Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan bahwa ittiba` itu hanya dibolehkan kepada Allah, Rasul, dan para sahabat saja, tidak boleh kepada yang lain.
Pendapat yang lain membolehkan berittiba` kepada para ulama yang dapat dikatagorikan sebagai ulama waratsatul anbiyaa ( ulama pewaris para Nabi )..

Dengan adanya ittiba` diharapkan agar setiap kaum muslimin, sekalipun ia orang awam, ia dapat mengamalkan ajaran agama Islam dengan penuh keyakinan pengertian, tanpa diselimuti keraguan sedikitpun.

Suatu ibadah atau amal jika dilakukan dengan penuh keyakinan akan menimbulkan keikhlasan dan kekhusukan.

Keikhlasan dan kekhusukan merupakan syarat sahnya suatu ibadah atau amal yang dikerjakan.

.

Penerapan Ittiba’

.

Ittiba’ dilakukan apabila pelaku Ittiba’ mengetahui dasar hukum suatu perkara yang dipermasalahkan (nash-nya).

Dengan pengetahuan yang cukup, maka seseoarang bisa melakukan Ittiba’.



 http://kabarku.com/khair/Studi-Islam/Ittiba–12664.html

ia adalah hati.

.

حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ عَنْ عَامِرٍ قَالَ سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشَبَّهَاتٌ لَا يَعْلَمُهَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ فَمَنْ اتَّقَى الْمُشَبَّهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ كَرَاعٍ يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يُوَاقِعَهُ أَلَا وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلَا إِنَّ حِمَى اللَّهِ فِي أَرْضِهِ مَحَارِمُهُ أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim Telah menceritakan kepada kami Zakaria dari ‘Amir berkata; aku mendengar An Nu’man bin Basyir berkata;

aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Yang halal sudah jelas dan yang haram juga sudah jelas.

Namun diantara keduanya ada perkara syubhat (samar) yang tidak diketahui oleh banyak orang.

Maka barangsiapa yang menjauhi diri dari yang syubhat berarti telah memelihara agamanya dan kehormatannya.

Dan barangsiapa yang sampai jatuh (mengerjakan) pada perkara-perkara syubhat, sungguh dia seperti seorang penggembala yang menggembalakan ternaknya di pinggir jurang yang dikhawatirkan akan jatuh ke dalamnya.

Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki batasan, dan ketahuilah bahwa batasan larangan Allah di bumi-Nya adalah apa-apa yang diharamkan-Nya.

Dan

ketahuilah pada setiap tubuh ada segumpal darah yang apabila baik maka baiklah tubuh tersebut dan apabila rusak maka rusaklah tubuh tersebut. Ketahuilah, ia adalah hati.

2.44/50.

Islam Agama Fleksibel – Fanatisme bukan suatu Alternatif


FIKRAH ISLAMIYYAH


 

Fanatisme bukan suatu Alternatif
Ida Sajidah Dhiauddin

Islam Agama Fleksibel

Islam adalah agama Allah yang merupakan petunjuk bagi umat manusia untuk mengantarkan tercapainya dambaan hidup sejahtera di dunia dan bahagia di akhirat.Islam,yang di wahyukan kepada nabi Muhammad SAW merupakan mata rantai terakhir agama Allah yang ditujukan kepada seluruh umat manusia sepanjang masa hingga datangnya hari kiamat kelak.Islam sebagai agama yang sempurna memberi pedoman hidup kepada umat manusia mencakup aspek-aspek aqidah,ibadah,akhlak dan muamalah duniawiyah.Sumber-sumber ajaran Islam adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah.Untuk mendalami pemahaman menuju penerapan ajaran-ajarannya dalam realitas sosial,dan untuk memecahkan masalah-masalah baru yang berkembang dalam kehidupan masyarakat,diperlukan pemikiran rasional yang disebut ijtihad.Ijtihad para ‘ulama terdahulu telah menyajikan hasil-hasil pemikiran dalam berbagai bidang ajaran islam,terutama dalam bidang kemasyarakatn,telah memperkaya khazanah ilmu keislaman yang hingga saat ini dapat dinikmati manfaatnya,bukan saja kaum muslim tetapi juga oleh umat manusia umumnya.

Dengan adanya ijtihad dari ‘ulama maka timbullah berbagai madzhab,perbedaan ini ada disebabkan adanya perbedaan madrasah fiqhiyyah,dan sebagaimana kita ketahui bahwa di Iraq timbul madrasah yang berdasarkan akal,sedangkan di Hijaz berdasarkan naql.Tetapi walaupun timbul berbagai madzahab, namun hal ini tidak membawa kepada penyelewengan agama,selama tidak keluar dari jalur-jalur rel yang digariskan oleh syari’at para pendahulu.

Penulis mengibaratkan syari’ah Islamiyah bagaikan gum,hal in terbukrti dengan adanya 2 Qaul pada Imam Syafi’i yaitu Jadid dan Qadim,Qaul Jadid ketika beliau berada di Mesir,sedangkan Qadim ketika beliau berada di Iraq.Salah satu kasus yang dapat penulis tamsilkan yaitu masalah penetapan mahar,seseorang bisa tetap mendapatkan mahar dengan sebab pertama Coitus,kedua mati.Sedangkan bila hanya pada tindakan istimta’ maka sesorang belum bisa untuk mendapatkan mahar,pernyatan ini merupakan premis dari Imam syafi’i ketika beliau di Mesir atau yang dikenal dengan Qaul Jadid,sedangkan menurut Qoul Qodim,sesorang tetap mendapatkan mahar dengan sebab tamattu’,karena merupakan jalan menuju Coitus.1}

Demikianlah salah satu contoh kelenturan dari syariah islamiyah.
Siapa Ahlussunnah?

Sudah merupakan hal yang natural bahwa dengan terbukanya negara-negara Islam di seluruh penjuru dunia, maka semakin berbondonglah orang-orang yang memeluk islam dari berbagai bangsa, jenis, kebudayaan, sehingga timbul masalah-masalah yang baru dengan sebab milive yang baru.Dari sini pula timbul pola-pola pemikiran, baik yang berdasarkan akal yang dikenal dengan sebutan Ahlul-Ro’yi, maupun yang berdasarkan naql yang dikenal dengan Ahlul- Hadits.Perbedaan utama antara kedua pola tersebut terletak pada penilaian dan penggunaan sumber hukum yang tidask tertulis (Sunnah}.Di Iraq, sunah itu secara kuantitatif terbatas dan kualitatif membutuhkan seleksi yang ketat.Sehingga volume penggunaan ra’yu menjadi besar.Oleh karenya, tokoh-tokoh yang menggunakan pola ini dikenal sebagai Ahlul-Ro’yi yang dipelopori oleh Imam Abu hanifah.Di Hijaz, perbendaharaan materi Sunnah sangat kaya dan secara kualitatif tidak membutuhkan seleksi yang ketat, karena lingkunanya masih murni. Sehingga volume penggunaan ra’yu cukup terbatas.Tokoh-tokoh yang mengguna-kan pola ini dikenal dengan sebutan Ahlul-Hadits, seperti yang dipelopori oleh Imam Malik. Namun dalam perkembangan selanjutnya, kedua pola ini saling mendekati dan dapat berbaur dan melarut dalam suatu pola baru yang dipelopori Imam Syafi’i.

Banyak orang yang berasumsi bahwa Asy-Syafiiyah adalah mereka yang beraliran sunni, padahal pandangan seperti ini adalah pandangan yang salah kaprah,sebab sebagaimaana kita ketahui bahwa tokoh-tokoh Ahlussunnah itu sangat banyak, diantaranya Imam Abu Hanifah, Imam Malik,Ibnu Hambal, Auza’i, Al-Laits, Ibnu Hazm dan lain sebagainya, mereka berijtihad sesuai dengan ruh Syarah, dari sini timbul AHNAF yaitu orang-orang yang berpedoman pada AbuHanifah, kemudian Asy-Syafiiyah yaitu orang-orang yang bermazhab kepada Imam Syafi’i dan begitu seterusnya. Jadi yang jelas bahwa jamaah Malikiyah, Syafiyah, Auzaiyyah, Hanabilah adalah mereka yang berpedoman kepada bab -bab akal dan tidak mencampuri dengan sesuatu yang sesat. Mereka adalah ‘Ulama As-Sunnah sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Baqdadi, mereka berporos dan Salafushshalih.2} Maka dapat dibuat suatu aksioma bahwa asy-Syafiiyah merupakan salah satu mazhab Ahlussunnah,bukan merupakan satu-satunya dari Ahlussunnah.
Ashab Asy-syafi’i Merupakan Mazhab Terbesar Di Indonesia.

Kitabullah dan Sunnah rasul merupakan satu kesatuan bulat dari perwujudan syariat Allah.Dan penerapanya,terutama di bidang hukum,lazim dikenal melalui Fiqh.Di Indonesia,seperti halnya di negara -negara lain,sudah beberapa abad mengenal dan memperlakukan hukum islam yang dijabarkan dalam ajaran Fiqh Asy-Syafi’iyyah itu.

Dan fiqh ini banyak berjasa dalam membentuk kesadaran hukum bagi rakyat di Indonesia dan merupakan bagian tidak tertulis dari hukum yang berlaku ditanah air kita,dan telah pula diserap kedalam hukum adat atau hukum yang hidup ditengah-tengah sebagian besar masyarakat Indonesia.Sekalipun hukum tersebut belum merupakan hukum tertulis, tetapi hal ini telah jauh berkembang.dalam Yurisprudensi, kebiasaan, dan dalam pendapat umum. Dengan demikian ia mempunyai akar yang kuat,baik dalam sumber-sumber formalnya maupun dalam sumber-sumber materialnya. Sudah kita ketahui bahwa mazhab syafi’i berkembang di negara Mesir, Iraq, Syam juga dikawasan Asia, sehingga banyak membentuk pola pemikiran Fiqh di Indonesia.3] Dengan demikian sudah suatu menjadi rumusan bahwa anutan-anutan mazhab yang terbesar di Indonesia adalah Asysyafiiyah.
Fanatisme bukan Merupakan suatu Ajang Berbangga-bangga

Madzab merupakan tempat berpijak menuju taklif yang diberikan kepada umat Islam dan mazhab bukan merupakan suatu kebenaran mutlak dengan mengenyampingkan dan melecehkan mazhab yang lain.kata Imam Ad-dahlawy bahwa fanatisme mazhab membawa kepada kemunduran umat Islam. Dan kalau kita menengok kembali kepada karangan-karangan dari para tokoh-tokoh mazhab, merekapun tidak melakukan tindakan taassub kepada mazhab mereka 4}.Kalau kita melihat kembali cerita perbuatan para tokoh agama Indonesia yaitu dua tokoh agama yang berbeda pola pemikiran adalah K.H.Hasyim Asyari, beliau adalah seorang tokoh agama dari NU dan K.H. Ahmad Dahlan ,beliau adalah tokoh agama dari Muhammadiyah.Suatu saat K.H.Hasyim Asy’ari bertandang kerumahnya guna menghadiri majlis Muzakarah yang dihadiri oleh beberapa tokoh agama, pada waktu azan shubuh menggema, mereka bersiap-siap untuk shalat berjamaah, kala itu KH.Ahmad Dahlan menjadi imam dalam shalat, ketika raka’at kedua beliau tidak membaca do’a Qunut dan semua yang menjadi ma’munpun demikian termasuk KH.Hasyim Asya’ri.5}

Dari cerita ini, dapat dijadikan ibrah bahwa toleransi bermazhab sangatlah diperlukan oleh umat islam yang mengaku dirinya beriman kepada al-Quran khususnya surah Ali Imran ayat 103.Memang masalah Qunut merupakan masa khilafiyah.Dan pernah ada satu riwayat dar ibnu Abbas bahwa Qunut adalah bid,ah,tetapi riwayat ini adalah lemah sekali,karena pernah suatu ketika Ibnu Abbaspun berqunut diwaktu shubuh.6}

Juga ada yang meriwayatkan bahwa Rasullullah, AbuBakar, Umar, Usman, Ali RadhiAllhu ‘Anhum ,mereka tidak berqunut, dan hadits ini dari Abu Malik Al-Asyja’i. tetapi ada pula salah satu riwayat yang mengatakan bahwa Qunut sunnah Mahdiyah, riwayat ini dari AbdurRahman bin Ali Laily.7}

Dengan adanya riwayat yang berbeda-beda, penulis mencoba untuk menggabungkan antara riwayat-riwayat itu bahwa Qunut atau tidak Qunut merupakan sesuatu hal yang mubah, karena Qunut merupakan zikir dan berdo’a kepada Rabb Azza Wa Jalla, dilakukan baik dan ditinggalkanpun boleh. So,perbedaan pendapat antara para alim terjadi dengan sebab ijtihad mereka masing-masing. Dan perbedaan yang terjadipun bertujuan untuk menuju kebenaran yang merupakan hasil penyelidikan dan pengorbanan pikiran serta renungan terhadap ayat-ayat Al- Qur’anul Karim dan hadits-hadits nabi serta uslub-uslub bahasa arab, dan inilah yang disebut dalam hadits nabi bahwa “Ikhtilafu Ummatii Rahmatun”.

Dan harus kita sadari bahwa perbedaan pendapat,perbedaan view janganlah membawa kepada perbedaan hati dan terpecahnya barisan umat islam dan saling mencela antara jamaah yang satu dengan yang lain Kita bisa mengaca kepada kepribadian AbuBakar dan Umar Radiyallahu Anhumaa,ketika mereka berselisih pendapat dalam masalah pengkodifikasian Al-Qur’an, namun hati mereka tetap satu, begitu pula yang terjadi antara Imam Syafi’i dan Imam Muhammad bin Hassan, yang berbeda pendapat dalam masalah parsial.Karena sesungguhnya kesatuan hati dan jiwa, kesatuan tujuan dan cita-cita merupakan dasar untuk memperbaiki dan menuju kepada ketinggian peradaban umat Islam.dan tentunya hal ini tidak akan tercapai, kecuali terdetik dari hati kita masing-masing. “Q.S.13:11”

 


JURNAL KAJIAN KEISLAMAN NUANSA
Diterbitkan oleh:
Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama, Kairo – Mesir
Web: http://www.muslims.net/KMNU, Email: kmnu@muslims.net 

TAQLID .



Pengertian Taqlid

Menurut bahasa, taqlid -bentuk masdar dari kata qallada berarti kalung yang dipakai/dikalungkan ke leher orang lain, atau seperti binatang yang akan dijadikan dam, dimana lehernya diberi kalung sebagai tanda, atau seperti kambing yang lehernya telah diikat dengan tali atau tambang yang dapat ditarik ke mana saja, tanpa disadari oleh kambing yang bersangkutan.

Analisa bahasa ini menunjukkan kepada kita seolah-olah seseorang yang telah bertaqlid kepada seorang mujtahid/imam telah memberi identitas diri dengan sebuah kalung di lehernya dan ia telah mengikat dirinya dengan pendapat mujtahid/imam tersebut.

Sedangkan taqlid menurut istilah ada beberapa rumusan, antara lain:

  • Taqlid ialah beramal berdasarkan pendapat orang lain yang pendapatnya itu tidak merupakan salah satu dalil yang dibenarkan, dan ini dilakukan tanpa berdasarkan dalil. Demikian menurut al-Kamal ibn al-hammam dalam at-Tahrir.
  • Menerima pendapat orang lain dalam kondisi anda tidak mengetahui dari mana orang itu berpendapat. Demikian menurut al-Qaffal.
  •  Beramal berdasarkan pendapat orang lain tanpa berdasarkan dalil. Demukian menurut al-Syaukany dalam Irsyad al-Fukhul.

Hukum Taqlid

1. Taqlid yang haram

Ulama sepakat haram melakukan taqlid ini. Taqlid ini ada tiga macam :

  • Taqlid semata-mata mengikuti adat kebiasaan atau pendapat nenek moyang atau orang dahulu kala yang bertentangan dengan al Qur`an Hadits.
  • Taqlid kepada orang atau sesuatu yang tidak diketahui kemampuan dan keahliannya, seperti orang yang menyembah berhala, tetapi ia tidak mengetahui kemampuan, keahlian, atau kekuatan berhala tersebut.
  • Taqlid kepada perkataan atau pendapat seseorang, sedangkan yang bertaqlid mengetahui bahwa perkataan atau pendapat itu salah.

2. Taqlid yang dibolehkan

Dibolehkan bertaqlid kepada seorang mujtahid atau beberapa orang mujtahid dalam hal yang belum ia ketahui hukum Allah dan RasulNya yang berhubungan dengan persoalan atau peristiwa, dengan syarat yang bersangkutan harus selalu berusaha menyelidiki kebenaran masalah yang diikuti itu.Jadi sifatnya sementara.

Misalnya taqlid sebagian mujtahid kepada mujtahid lain, karena tidak ditemukan dalil yang kuat untuk pemecahan suatu persoalan.

Termasuk taqlidnya orang awam kepada ulama.

Ulama muta akhirin dalam kaitan bertaqlid kepada imam, membagi kelompok masyarakat kedalam dua golongan:

  • Golongan awan atau orang yang berpendidikan wajib bertaqlid kepada salah satu pendapat dari keempat madzhab.
  •  Golongan yang memenuhi syarat-syarat berijtihad, sehingga tidak dibenarkan bertaqlid kepada ulama-ulama.

Golongan awam harus mengikuti pendapat seseorang tanpa mengetahui sama sekali dasar pendapat itu (taqlid dalam pengertian bahasa).

3. Taqlid yang diwajibkan

Wajib bertaqlid kepada orang yang perkataannya dijadikan sebagai dasar hujjah, yaitu perkataan dan perbuatan Rasulullah SAW.

Pendapat Imam Madzhab tentang Taqlid

  • Imam Abu Hanifah (80-150 H)

Beliau merupakan cikal bakal ulama fiqh. Beliau mengharamkan orang mengikuti fatwa jika orang itu tidak mengetahui dalil dari fatwa itu.

  • Imam Malik bin Anas (93-179 H)

Beliau melarang seseorang bertaqlid kepada seseorang walaupun orang itu adalah orang terpandang atau mempunyai kelebihan.

Setiap perkataan atau pendapat yang sampai kepada kita harus diteliti lebih dahulu sebelum diamalkan.

  • Imam asy Syafi`i (150-204 H)

Beliau murid Imam Malik. Beliau mengatakan bahwa “ beliau akan meninggalkan pendapatnya pada setiap saat ia mengetahui bahwa pendapatnya itu tidak sesuai dengan hadits Nabi SAW.

  • Imam Hambali (164-241 H)

Beliau melarang bertaqlid kepada imam manapun, dan menyuruh orang agar mengikuti semua yang berasal dari Nabi SAW dan para sahabatnya. Sedang yang berasal dari tabi`in dan orang-orang sesudahnya agar diselidiki lebih dahulu. Mana yang benar diikuti dan mana yang salah ditinggalkan.

Penerapan Taqlid

Taqlid dilakukan umat Islam apabila tidak jelas nash yang sebenarnya, mengikuti tindak tanduk mujtahid/imam tanpa mengetahui nash yang sebenarnya.

 

http://kabarku.com/khair/Studi-Islam/Taqlid-12665.html

ANJING

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ سَمِعْتُ أَبِي عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَجُلًا رَأَى كَلْبًا يَأْكُلُ الثَّرَى مِنْ الْعَطَشِ فَأَخَذَ الرَّجُلُ خُفَّهُ فَجَعَلَ يَغْرِفُ لَهُ بِهِ حَتَّى أَرْوَاهُ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَأَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ وَقَالَ أَحْمَدُ بْنُ شَبِيبٍ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ يُونُسَ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ حَدَّثَنِي حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَتْ الْكِلَابُ تَبُولُ وَتُقْبِلُ وَتُدْبِرُ فِي الْمَسْجِدِ فِي زَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَكُونُوا يَرُشُّونَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ

 Telah menceritakan kepada kami Ishaq telah mengabarkan kepada kami ‘Abdush Shamad telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Dinar aku mendengar Bapakku dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

bahwa ada seorang laki-laki melihat seekor anjing menjilat-jilat tanah karena kehausan, lalu orang itu mengambil sepatunya dan mengisinya air untuk kemudian diminumkan kepada anjing tersebut hingga kenyang.

Allah lalu berterima kasih kepadanya dan memasukkannya ke dalam surga.

Ahmad bin Syabib berkata, telah menceritakan kepada kami Bapakku dari Yunus dari Ibnu Syihab berkata, telah menceritakan kepadaku Hamzah bin ‘Abdullah dari Bapaknya,

bahwa pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ada beberapa anjing yang kencing dan membuang kotoran di dalam masjid,

namun para sahabat tidak menyiramnya dengan sesuatu.

4.37/168. 

IMAM BUKHARI RAHIMAHULLAH