ITTIBA’


Pengertian Ittiba’   

Kata “ ittiba`” berasal dari bahasa Arab ittaba`a, yattabi`u, ittibaa`an, muttabi`un yang berarti “ menurut ” atau “ mengikut ”.
Menurut ulama agama Islam sesuai dengan yang dikerjakan Nabi Muhammad SAW.
Definisi lainnya, ittiba` ialah menerima pendapat seseorang sedangkan yang menerima itu mengetahui dari mana atau asal pendapat itu.

Pendapat Imam Madzhab tentang Ittiba’
ushul, ittiba` adalah mengikuti atau menuruti semua yang diperintahkan, yang dilarang, dan dibenarkan Rasulullah SAW. Dengan kata lain ialah melaksanakan ajaran-ajaran

.

Macam-macam Ittiba’

.

1. Ittiba` kepada Allah dan Rasul-Nya

Ulama sepakat bahwa semua kaum muslim wajib mengikuti semua perintah Allah Swt dan Rasul-Nya dan menjauhi laranganNya.

2. Ittiba` kepada selain Allah dan Rasul-Nya

Ulama berbeda pendapat, ada yang membolehkan ada yang tidak membolehkan.

Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan bahwa ittiba` itu hanya dibolehkan kepada Allah, Rasul, dan para sahabat saja, tidak boleh kepada yang lain.
Pendapat yang lain membolehkan berittiba` kepada para ulama yang dapat dikatagorikan sebagai ulama waratsatul anbiyaa ( ulama pewaris para Nabi )..

Dengan adanya ittiba` diharapkan agar setiap kaum muslimin, sekalipun ia orang awam, ia dapat mengamalkan ajaran agama Islam dengan penuh keyakinan pengertian, tanpa diselimuti keraguan sedikitpun.

Suatu ibadah atau amal jika dilakukan dengan penuh keyakinan akan menimbulkan keikhlasan dan kekhusukan.

Keikhlasan dan kekhusukan merupakan syarat sahnya suatu ibadah atau amal yang dikerjakan.

.

Penerapan Ittiba’

.

Ittiba’ dilakukan apabila pelaku Ittiba’ mengetahui dasar hukum suatu perkara yang dipermasalahkan (nash-nya).

Dengan pengetahuan yang cukup, maka seseoarang bisa melakukan Ittiba’.



 http://kabarku.com/khair/Studi-Islam/Ittiba–12664.html

ia adalah hati.

.

حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ عَنْ عَامِرٍ قَالَ سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشَبَّهَاتٌ لَا يَعْلَمُهَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ فَمَنْ اتَّقَى الْمُشَبَّهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ كَرَاعٍ يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يُوَاقِعَهُ أَلَا وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلَا إِنَّ حِمَى اللَّهِ فِي أَرْضِهِ مَحَارِمُهُ أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim Telah menceritakan kepada kami Zakaria dari ‘Amir berkata; aku mendengar An Nu’man bin Basyir berkata;

aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Yang halal sudah jelas dan yang haram juga sudah jelas.

Namun diantara keduanya ada perkara syubhat (samar) yang tidak diketahui oleh banyak orang.

Maka barangsiapa yang menjauhi diri dari yang syubhat berarti telah memelihara agamanya dan kehormatannya.

Dan barangsiapa yang sampai jatuh (mengerjakan) pada perkara-perkara syubhat, sungguh dia seperti seorang penggembala yang menggembalakan ternaknya di pinggir jurang yang dikhawatirkan akan jatuh ke dalamnya.

Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki batasan, dan ketahuilah bahwa batasan larangan Allah di bumi-Nya adalah apa-apa yang diharamkan-Nya.

Dan

ketahuilah pada setiap tubuh ada segumpal darah yang apabila baik maka baiklah tubuh tersebut dan apabila rusak maka rusaklah tubuh tersebut. Ketahuilah, ia adalah hati.

2.44/50.

Islam Agama Fleksibel – Fanatisme bukan suatu Alternatif


FIKRAH ISLAMIYYAH


 

Fanatisme bukan suatu Alternatif
Ida Sajidah Dhiauddin

Islam Agama Fleksibel

Islam adalah agama Allah yang merupakan petunjuk bagi umat manusia untuk mengantarkan tercapainya dambaan hidup sejahtera di dunia dan bahagia di akhirat.Islam,yang di wahyukan kepada nabi Muhammad SAW merupakan mata rantai terakhir agama Allah yang ditujukan kepada seluruh umat manusia sepanjang masa hingga datangnya hari kiamat kelak.Islam sebagai agama yang sempurna memberi pedoman hidup kepada umat manusia mencakup aspek-aspek aqidah,ibadah,akhlak dan muamalah duniawiyah.Sumber-sumber ajaran Islam adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah.Untuk mendalami pemahaman menuju penerapan ajaran-ajarannya dalam realitas sosial,dan untuk memecahkan masalah-masalah baru yang berkembang dalam kehidupan masyarakat,diperlukan pemikiran rasional yang disebut ijtihad.Ijtihad para ‘ulama terdahulu telah menyajikan hasil-hasil pemikiran dalam berbagai bidang ajaran islam,terutama dalam bidang kemasyarakatn,telah memperkaya khazanah ilmu keislaman yang hingga saat ini dapat dinikmati manfaatnya,bukan saja kaum muslim tetapi juga oleh umat manusia umumnya.

Dengan adanya ijtihad dari ‘ulama maka timbullah berbagai madzhab,perbedaan ini ada disebabkan adanya perbedaan madrasah fiqhiyyah,dan sebagaimana kita ketahui bahwa di Iraq timbul madrasah yang berdasarkan akal,sedangkan di Hijaz berdasarkan naql.Tetapi walaupun timbul berbagai madzahab, namun hal ini tidak membawa kepada penyelewengan agama,selama tidak keluar dari jalur-jalur rel yang digariskan oleh syari’at para pendahulu.

Penulis mengibaratkan syari’ah Islamiyah bagaikan gum,hal in terbukrti dengan adanya 2 Qaul pada Imam Syafi’i yaitu Jadid dan Qadim,Qaul Jadid ketika beliau berada di Mesir,sedangkan Qadim ketika beliau berada di Iraq.Salah satu kasus yang dapat penulis tamsilkan yaitu masalah penetapan mahar,seseorang bisa tetap mendapatkan mahar dengan sebab pertama Coitus,kedua mati.Sedangkan bila hanya pada tindakan istimta’ maka sesorang belum bisa untuk mendapatkan mahar,pernyatan ini merupakan premis dari Imam syafi’i ketika beliau di Mesir atau yang dikenal dengan Qaul Jadid,sedangkan menurut Qoul Qodim,sesorang tetap mendapatkan mahar dengan sebab tamattu’,karena merupakan jalan menuju Coitus.1}

Demikianlah salah satu contoh kelenturan dari syariah islamiyah.
Siapa Ahlussunnah?

Sudah merupakan hal yang natural bahwa dengan terbukanya negara-negara Islam di seluruh penjuru dunia, maka semakin berbondonglah orang-orang yang memeluk islam dari berbagai bangsa, jenis, kebudayaan, sehingga timbul masalah-masalah yang baru dengan sebab milive yang baru.Dari sini pula timbul pola-pola pemikiran, baik yang berdasarkan akal yang dikenal dengan sebutan Ahlul-Ro’yi, maupun yang berdasarkan naql yang dikenal dengan Ahlul- Hadits.Perbedaan utama antara kedua pola tersebut terletak pada penilaian dan penggunaan sumber hukum yang tidask tertulis (Sunnah}.Di Iraq, sunah itu secara kuantitatif terbatas dan kualitatif membutuhkan seleksi yang ketat.Sehingga volume penggunaan ra’yu menjadi besar.Oleh karenya, tokoh-tokoh yang menggunakan pola ini dikenal sebagai Ahlul-Ro’yi yang dipelopori oleh Imam Abu hanifah.Di Hijaz, perbendaharaan materi Sunnah sangat kaya dan secara kualitatif tidak membutuhkan seleksi yang ketat, karena lingkunanya masih murni. Sehingga volume penggunaan ra’yu cukup terbatas.Tokoh-tokoh yang mengguna-kan pola ini dikenal dengan sebutan Ahlul-Hadits, seperti yang dipelopori oleh Imam Malik. Namun dalam perkembangan selanjutnya, kedua pola ini saling mendekati dan dapat berbaur dan melarut dalam suatu pola baru yang dipelopori Imam Syafi’i.

Banyak orang yang berasumsi bahwa Asy-Syafiiyah adalah mereka yang beraliran sunni, padahal pandangan seperti ini adalah pandangan yang salah kaprah,sebab sebagaimaana kita ketahui bahwa tokoh-tokoh Ahlussunnah itu sangat banyak, diantaranya Imam Abu Hanifah, Imam Malik,Ibnu Hambal, Auza’i, Al-Laits, Ibnu Hazm dan lain sebagainya, mereka berijtihad sesuai dengan ruh Syarah, dari sini timbul AHNAF yaitu orang-orang yang berpedoman pada AbuHanifah, kemudian Asy-Syafiiyah yaitu orang-orang yang bermazhab kepada Imam Syafi’i dan begitu seterusnya. Jadi yang jelas bahwa jamaah Malikiyah, Syafiyah, Auzaiyyah, Hanabilah adalah mereka yang berpedoman kepada bab -bab akal dan tidak mencampuri dengan sesuatu yang sesat. Mereka adalah ‘Ulama As-Sunnah sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Baqdadi, mereka berporos dan Salafushshalih.2} Maka dapat dibuat suatu aksioma bahwa asy-Syafiiyah merupakan salah satu mazhab Ahlussunnah,bukan merupakan satu-satunya dari Ahlussunnah.
Ashab Asy-syafi’i Merupakan Mazhab Terbesar Di Indonesia.

Kitabullah dan Sunnah rasul merupakan satu kesatuan bulat dari perwujudan syariat Allah.Dan penerapanya,terutama di bidang hukum,lazim dikenal melalui Fiqh.Di Indonesia,seperti halnya di negara -negara lain,sudah beberapa abad mengenal dan memperlakukan hukum islam yang dijabarkan dalam ajaran Fiqh Asy-Syafi’iyyah itu.

Dan fiqh ini banyak berjasa dalam membentuk kesadaran hukum bagi rakyat di Indonesia dan merupakan bagian tidak tertulis dari hukum yang berlaku ditanah air kita,dan telah pula diserap kedalam hukum adat atau hukum yang hidup ditengah-tengah sebagian besar masyarakat Indonesia.Sekalipun hukum tersebut belum merupakan hukum tertulis, tetapi hal ini telah jauh berkembang.dalam Yurisprudensi, kebiasaan, dan dalam pendapat umum. Dengan demikian ia mempunyai akar yang kuat,baik dalam sumber-sumber formalnya maupun dalam sumber-sumber materialnya. Sudah kita ketahui bahwa mazhab syafi’i berkembang di negara Mesir, Iraq, Syam juga dikawasan Asia, sehingga banyak membentuk pola pemikiran Fiqh di Indonesia.3] Dengan demikian sudah suatu menjadi rumusan bahwa anutan-anutan mazhab yang terbesar di Indonesia adalah Asysyafiiyah.
Fanatisme bukan Merupakan suatu Ajang Berbangga-bangga

Madzab merupakan tempat berpijak menuju taklif yang diberikan kepada umat Islam dan mazhab bukan merupakan suatu kebenaran mutlak dengan mengenyampingkan dan melecehkan mazhab yang lain.kata Imam Ad-dahlawy bahwa fanatisme mazhab membawa kepada kemunduran umat Islam. Dan kalau kita menengok kembali kepada karangan-karangan dari para tokoh-tokoh mazhab, merekapun tidak melakukan tindakan taassub kepada mazhab mereka 4}.Kalau kita melihat kembali cerita perbuatan para tokoh agama Indonesia yaitu dua tokoh agama yang berbeda pola pemikiran adalah K.H.Hasyim Asyari, beliau adalah seorang tokoh agama dari NU dan K.H. Ahmad Dahlan ,beliau adalah tokoh agama dari Muhammadiyah.Suatu saat K.H.Hasyim Asy’ari bertandang kerumahnya guna menghadiri majlis Muzakarah yang dihadiri oleh beberapa tokoh agama, pada waktu azan shubuh menggema, mereka bersiap-siap untuk shalat berjamaah, kala itu KH.Ahmad Dahlan menjadi imam dalam shalat, ketika raka’at kedua beliau tidak membaca do’a Qunut dan semua yang menjadi ma’munpun demikian termasuk KH.Hasyim Asya’ri.5}

Dari cerita ini, dapat dijadikan ibrah bahwa toleransi bermazhab sangatlah diperlukan oleh umat islam yang mengaku dirinya beriman kepada al-Quran khususnya surah Ali Imran ayat 103.Memang masalah Qunut merupakan masa khilafiyah.Dan pernah ada satu riwayat dar ibnu Abbas bahwa Qunut adalah bid,ah,tetapi riwayat ini adalah lemah sekali,karena pernah suatu ketika Ibnu Abbaspun berqunut diwaktu shubuh.6}

Juga ada yang meriwayatkan bahwa Rasullullah, AbuBakar, Umar, Usman, Ali RadhiAllhu ‘Anhum ,mereka tidak berqunut, dan hadits ini dari Abu Malik Al-Asyja’i. tetapi ada pula salah satu riwayat yang mengatakan bahwa Qunut sunnah Mahdiyah, riwayat ini dari AbdurRahman bin Ali Laily.7}

Dengan adanya riwayat yang berbeda-beda, penulis mencoba untuk menggabungkan antara riwayat-riwayat itu bahwa Qunut atau tidak Qunut merupakan sesuatu hal yang mubah, karena Qunut merupakan zikir dan berdo’a kepada Rabb Azza Wa Jalla, dilakukan baik dan ditinggalkanpun boleh. So,perbedaan pendapat antara para alim terjadi dengan sebab ijtihad mereka masing-masing. Dan perbedaan yang terjadipun bertujuan untuk menuju kebenaran yang merupakan hasil penyelidikan dan pengorbanan pikiran serta renungan terhadap ayat-ayat Al- Qur’anul Karim dan hadits-hadits nabi serta uslub-uslub bahasa arab, dan inilah yang disebut dalam hadits nabi bahwa “Ikhtilafu Ummatii Rahmatun”.

Dan harus kita sadari bahwa perbedaan pendapat,perbedaan view janganlah membawa kepada perbedaan hati dan terpecahnya barisan umat islam dan saling mencela antara jamaah yang satu dengan yang lain Kita bisa mengaca kepada kepribadian AbuBakar dan Umar Radiyallahu Anhumaa,ketika mereka berselisih pendapat dalam masalah pengkodifikasian Al-Qur’an, namun hati mereka tetap satu, begitu pula yang terjadi antara Imam Syafi’i dan Imam Muhammad bin Hassan, yang berbeda pendapat dalam masalah parsial.Karena sesungguhnya kesatuan hati dan jiwa, kesatuan tujuan dan cita-cita merupakan dasar untuk memperbaiki dan menuju kepada ketinggian peradaban umat Islam.dan tentunya hal ini tidak akan tercapai, kecuali terdetik dari hati kita masing-masing. “Q.S.13:11”

 


JURNAL KAJIAN KEISLAMAN NUANSA
Diterbitkan oleh:
Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama, Kairo – Mesir
Web: http://www.muslims.net/KMNU, Email: kmnu@muslims.net 

TAQLID .



Pengertian Taqlid

Menurut bahasa, taqlid -bentuk masdar dari kata qallada berarti kalung yang dipakai/dikalungkan ke leher orang lain, atau seperti binatang yang akan dijadikan dam, dimana lehernya diberi kalung sebagai tanda, atau seperti kambing yang lehernya telah diikat dengan tali atau tambang yang dapat ditarik ke mana saja, tanpa disadari oleh kambing yang bersangkutan.

Analisa bahasa ini menunjukkan kepada kita seolah-olah seseorang yang telah bertaqlid kepada seorang mujtahid/imam telah memberi identitas diri dengan sebuah kalung di lehernya dan ia telah mengikat dirinya dengan pendapat mujtahid/imam tersebut.

Sedangkan taqlid menurut istilah ada beberapa rumusan, antara lain:

  • Taqlid ialah beramal berdasarkan pendapat orang lain yang pendapatnya itu tidak merupakan salah satu dalil yang dibenarkan, dan ini dilakukan tanpa berdasarkan dalil. Demikian menurut al-Kamal ibn al-hammam dalam at-Tahrir.
  • Menerima pendapat orang lain dalam kondisi anda tidak mengetahui dari mana orang itu berpendapat. Demikian menurut al-Qaffal.
  •  Beramal berdasarkan pendapat orang lain tanpa berdasarkan dalil. Demukian menurut al-Syaukany dalam Irsyad al-Fukhul.

Hukum Taqlid

1. Taqlid yang haram

Ulama sepakat haram melakukan taqlid ini. Taqlid ini ada tiga macam :

  • Taqlid semata-mata mengikuti adat kebiasaan atau pendapat nenek moyang atau orang dahulu kala yang bertentangan dengan al Qur`an Hadits.
  • Taqlid kepada orang atau sesuatu yang tidak diketahui kemampuan dan keahliannya, seperti orang yang menyembah berhala, tetapi ia tidak mengetahui kemampuan, keahlian, atau kekuatan berhala tersebut.
  • Taqlid kepada perkataan atau pendapat seseorang, sedangkan yang bertaqlid mengetahui bahwa perkataan atau pendapat itu salah.

2. Taqlid yang dibolehkan

Dibolehkan bertaqlid kepada seorang mujtahid atau beberapa orang mujtahid dalam hal yang belum ia ketahui hukum Allah dan RasulNya yang berhubungan dengan persoalan atau peristiwa, dengan syarat yang bersangkutan harus selalu berusaha menyelidiki kebenaran masalah yang diikuti itu.Jadi sifatnya sementara.

Misalnya taqlid sebagian mujtahid kepada mujtahid lain, karena tidak ditemukan dalil yang kuat untuk pemecahan suatu persoalan.

Termasuk taqlidnya orang awam kepada ulama.

Ulama muta akhirin dalam kaitan bertaqlid kepada imam, membagi kelompok masyarakat kedalam dua golongan:

  • Golongan awan atau orang yang berpendidikan wajib bertaqlid kepada salah satu pendapat dari keempat madzhab.
  •  Golongan yang memenuhi syarat-syarat berijtihad, sehingga tidak dibenarkan bertaqlid kepada ulama-ulama.

Golongan awam harus mengikuti pendapat seseorang tanpa mengetahui sama sekali dasar pendapat itu (taqlid dalam pengertian bahasa).

3. Taqlid yang diwajibkan

Wajib bertaqlid kepada orang yang perkataannya dijadikan sebagai dasar hujjah, yaitu perkataan dan perbuatan Rasulullah SAW.

Pendapat Imam Madzhab tentang Taqlid

  • Imam Abu Hanifah (80-150 H)

Beliau merupakan cikal bakal ulama fiqh. Beliau mengharamkan orang mengikuti fatwa jika orang itu tidak mengetahui dalil dari fatwa itu.

  • Imam Malik bin Anas (93-179 H)

Beliau melarang seseorang bertaqlid kepada seseorang walaupun orang itu adalah orang terpandang atau mempunyai kelebihan.

Setiap perkataan atau pendapat yang sampai kepada kita harus diteliti lebih dahulu sebelum diamalkan.

  • Imam asy Syafi`i (150-204 H)

Beliau murid Imam Malik. Beliau mengatakan bahwa “ beliau akan meninggalkan pendapatnya pada setiap saat ia mengetahui bahwa pendapatnya itu tidak sesuai dengan hadits Nabi SAW.

  • Imam Hambali (164-241 H)

Beliau melarang bertaqlid kepada imam manapun, dan menyuruh orang agar mengikuti semua yang berasal dari Nabi SAW dan para sahabatnya. Sedang yang berasal dari tabi`in dan orang-orang sesudahnya agar diselidiki lebih dahulu. Mana yang benar diikuti dan mana yang salah ditinggalkan.

Penerapan Taqlid

Taqlid dilakukan umat Islam apabila tidak jelas nash yang sebenarnya, mengikuti tindak tanduk mujtahid/imam tanpa mengetahui nash yang sebenarnya.

 

http://kabarku.com/khair/Studi-Islam/Taqlid-12665.html

ANJING

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ سَمِعْتُ أَبِي عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَجُلًا رَأَى كَلْبًا يَأْكُلُ الثَّرَى مِنْ الْعَطَشِ فَأَخَذَ الرَّجُلُ خُفَّهُ فَجَعَلَ يَغْرِفُ لَهُ بِهِ حَتَّى أَرْوَاهُ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَأَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ وَقَالَ أَحْمَدُ بْنُ شَبِيبٍ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ يُونُسَ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ حَدَّثَنِي حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَتْ الْكِلَابُ تَبُولُ وَتُقْبِلُ وَتُدْبِرُ فِي الْمَسْجِدِ فِي زَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَكُونُوا يَرُشُّونَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ

 Telah menceritakan kepada kami Ishaq telah mengabarkan kepada kami ‘Abdush Shamad telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Dinar aku mendengar Bapakku dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

bahwa ada seorang laki-laki melihat seekor anjing menjilat-jilat tanah karena kehausan, lalu orang itu mengambil sepatunya dan mengisinya air untuk kemudian diminumkan kepada anjing tersebut hingga kenyang.

Allah lalu berterima kasih kepadanya dan memasukkannya ke dalam surga.

Ahmad bin Syabib berkata, telah menceritakan kepada kami Bapakku dari Yunus dari Ibnu Syihab berkata, telah menceritakan kepadaku Hamzah bin ‘Abdullah dari Bapaknya,

bahwa pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ada beberapa anjing yang kencing dan membuang kotoran di dalam masjid,

namun para sahabat tidak menyiramnya dengan sesuatu.

4.37/168. 

IMAM BUKHARI RAHIMAHULLAH

QAUL QADIM-QAUL JADID / Qaul Imam Syafi’i.


Macam-Macam Qaul dalam Madzhab (Syafi’iyyah)

.

1. Qaul Qadim
Yaitu perkataan lama Imam Syafi’I yang berdasarkan kajiannya dari sumber Alqur’an, Hadits Nabi, atau nash-nash yang lain, yang pernah dikeluarkan sewaktu beliau menetap di Baghdad pada zaman pemerintahan Khalifah Harun Ar-Rasyid

2. Qaul Jadid
Yaitu perkataan baru Imam Syafi’I yang dikeluarkan di Mesir setelah dikaji semula semua qaul-qaul beliau yang lama sewaktu di Baghdad (qaul qadim). Dalam penetapan Ashhab Syafi’I, ulama Syafi’iyyah, bahwa qaul jadid (perkataan yang baru) itulah yang lebih kuat untuk diikuti dalam fatwa hukum-hukum agama.

3. Qaul Shahih
Yaitu perkataaan yang benar/kuat (lawannya adalah qaul dhaif) yang diputuskan oleh para Ashhab Syafi’I setelah membandingkan antara beberapa wajah yang ada.

4. Qaul Ashah
Yaitu perkataan yang “lebih dibenarkan/dikuatkan” dari kata-kata yang ada (lawannya adalah qaul qawi), apabila bertemu semua kata-kata ini, maka yang dipegang ialah qaul yang ashah.

5. Qaul Azhhar
Yaitu perkataan yang diunggulkan dari segi pertimbangan para Ashhab Syafi’I (lawannya juga waul dhaif)

6. Qaul Rajih
Yaitu kata yang diberatkan dari beberapa perkataan Imam Syafi’i menurut pandangan para Ashhab. Apabila bertemu beberapa qaul yang diberatkan para ulama, mereka sering men-tarjihkan satu diantaranya yang dinamakan qaul arjah, yiatu kata yang diberatkan, yang kemudian dianggap sebadai qaul mu’tamad, yakni qaul yang dipegang.

7. Qaul Dhaif
Yaitu perkataan lemah yang tidak boleh dijadikan hujjah/difatwakan.

8. Qaul Syaz
Yaitu perkataan yang luar biasa atau langka, yang tidak boleh digunakan sebagai sandaran hukum.

9. Qaul Masyhur
Yaitu perkataan yang tersebar di antara beberapa qaul.

.

http://aldyllah.wordpress.com/2010/09/24/macam-macam-qaul-dalam-madzhab-syafi%E2%80%99iyyah/

IJTIHAD – Imam asy-Syafi’i.


A. Pengertian iijtihad

Ijtihad menurut bahasa adalah mencurahkan segala kemampuan dalam segala perbuatan.
Ijtihad menurut istilah ahli ushul fiqh :

1. Menurut Imam as-Syaukani :

“ Mencurahkan kemampuan guna mendapatkan hukum syara’ yang bersifat operasional dengan cara istimbat (mengambil kesimpulan hukum)”

2. Menurut Imam al-Midi :

“Mencurahkan semua kemampuan untuk mencari hukum syara’ yang bersifat dhonni, sampai merasa tidak mampu untuk mencari tambahan kemampuannya itu”

Namun demikian definisi dari Imam as-Syaukani sudah dianggap cukup, sebab mukallaf tidaklah dibebani kewajiban kecuali sekedar mencurahkan kemampuannya saja.

Sebagaimana firman Allah :
“Tidaklah Allah membebani seseorang melainkan sesuai kemampuannya”. (Q.S. al-Baqarah : 286)

B. Syarat-syarat Mujtahid

1. Mengetahui Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam dan sumber utama syari’at serta ajaran Islam.

Sebagaimana Firman Allah AWT. :
“Kami turunkan kepada kamu al-kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rhmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri”. (Q.S. an-Nahl : 89).

Oleh sebab itu seorang mujtahid harus mengetahui Al-Qur’an secara mendalam

2. Mengetahui As-Sunnah

Yang dimaksud dengan As-Sunnah adalah : ucapan, perbuatan atau ketentuan yang diriwayatkan dari Nabi SAW.

Para ulama’ tidak mensyaratkan untuk mengetahui semua hal yang berhubungan dengan As-Sunnah, sebab sunnah atau hadist merupakan suatu lautan yang laus.

Tetapi mereka mensyaratkan untuk mengetahui hadist-hadist yang ada hubungannya dengan hukum saja.

3. Mengetahui Bahasa Arab

Wajib bagi seorang mujtahid untuk mengetahui bahasa Arab dalam artian, menguasai bahasa Arab dan ilmu-ilmunya sehingga mampu memahami pembicaraan orang-orang arab.

Hal ini diharuskan karena Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab yang jelas dan As-Sunnah juga diucapkan oleh seorang Nabi yang berbahasa Arab pula, tentunya ini yang berkenaan dengan hadist-hadist qauli (ucapan).

Sedangkan hadist fi’li (perbuatan) dan hadist taqriri (ketetapan Rasul) dinukil pula oleh para sahabat yang berbahasa Arab.

C. Fungsi Ijtihad

Meskipun Al-Qur’an sudah diturunkan secara sempurna dan lengkap, tidak berarti semua hal dalam kehidupan manusia diatur secara detail oleh Al-Qur’an maupun As-Sunnah.

Selain itu ada perbedaan keadaan pada saat turunnya Al-Qur’an dengan kehidupan modern. Sehingga setiap saat masalah baru akan terus berkembang dan diperlukan aturan-aturan baru dalam melaksanakan ajaran Islam dalam kehidupan beragama sehari-hari.

Jika terjadi persoalan baru bagi kalangan umat Islam disuatu tempat atau disuatu masa waktu tertentu maka persoalan tersebut dikaji apakah perkara yang dipersoalkan itu sudah ada dah jelas ketentuannya dalam Al-Qur’an atau As-Sunnah.

Sekiranya sudah ada maka maka persoalan tersebut harus mengikuti ketentuan yang ada sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an atau As-Sunnah itu.

Namun jika persoalan tersebut merupakan perkara yang ridak jelas atau tidak ada ketentuannya dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, pada saat itulah maka umat Islam memerlukan ketetapan ijtihad.

Tetapi yang berhak membuat Ijtihad adalah mereka yang mengerti dan paham Al-Qur’an dan As-Sunnah.

D. Penerapan ijtihad

Dunia akan terus berkembang dengan banyak perubahan dan perbedaan. Dengan banyaknya perubahan dan perbedaan, maka hukum Islam akan mengikutinya.

Karena itu , untuk mengatsi banyaknya perubahan dan perkembangan, umat Islam perlu melakukan Ijtihad guna menentukan hukum permasalahan yang pada zaman Rasulullah SAW tidak ada dan muncul dizaman sekarang.

Dengan tetap berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Apabila syarat-syarat untuk menjadi mujtahid terpenuhi maka seseoarang diperbolehkan untuk ber-Ijtihad.

E. Pembagian ijtihad

= Ijma’

Pengertian Ijma’

Ijma’ menurut bahasa Arab berarti kesepakatan atau sependapat tentang sesuatu hal.
Ijma’ menurut istilah adalah kesepakatan mujtahid ummat Islam tentang hukum syara’ dari peristiwa yang terjadi setelah Rasulullah SAW meninggal dunia.

Dasar hukum Ijma’

Dasar hukum Ijma’ berupa al-Qur’an, As-Sunnah dan akal pikiran.

1. Al-qur’an

Allah SWT berfirman :
“Hai orang –orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-nya dan ulil amri diantara kamu”.(an-Nisa’ : 59)
Kata amri yang terdapat pada ayat diatas berarti hal, keadaan atau urusan yang bersifat umum meliputi urusan dunia dan akhirat.

Ulil amri dalam urusan dunia ialah raja, kepala Negara, pemimpin atau penguasa, sedangkan ulil amri urusan agama ialah para mujtahid.

2. As-Sunnah

Bila para Mujtahid talah melakukan Ijma’ tentang hukum syara’ dari suatu peristiwa atau kejadian, maka ijma’ itu hendaklah diikuti, karena mereka tidak mungkin melakukan kesepakatan untuk melakukan kesalahan apalagi kemaksiatan dan dusta.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
“Umatku tidak akan besepakat untuk melakukan kesalaha.”(HR. Abu Daus dan Tirmidzi)

3. Akal pikiran

Setiap Ijma’ yang dilakuakn atas hukum syara’, hendaklah dilakukan dan dibina atas asas-asas pokok ajaran Islam.

Karena itu setiap Mujtahid dalam berIjtihad hendaklah mengetahui dasar-dasar pokok ajaran Islam, batas-batas yang telah ditetapkan dalam berIjtihad serta hukum-hukum yang telah ditetapkan.

Bila ia berIjtihad dan dalam berIjtihad itu ia menggunakan nash, maka Ijtihadnya tidak boleh melampaui batas maksimum dari yang mungkin dipahami dari nash itu. Begitu juga sebaliknya.

= Qiyas.

Pengertian Qiyas

Qiyas menurut bahasa Arab berarti menyamakan, membandingkan atau mengukur, seperti menyamakan  si A dengan si B, karena kedua orang itu mempunyai tinggi yang sama, bentuk tubuh yang sama, wajah yang sama dan sebagainya.

Qiyas juga berarti mengukur, seperti mengukur tanah dengan meteran atau alat pengukur lainnya.

Demikian pula membandingkan sesuatu dengan yang lain dengan mencari persamaan-persamaannya.

Menurut para ulama’ Ushul Fiqh, ialah menetapkan hukum suatu kejadian atau peristiwa yang tidak ada dasar nashnya dengan cara membandingkannya kepada suatu kejadian atau peristiwa yang lain yang telah ditetapkan hukumnya berdasarkan nash karena ada persamaan ‘illat antara kedua kejadian atau peristiwa itu.

Dasar hukum Qiyas

1. Al-Qur’an

“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nyat dan ulil amri kamu, kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia pada Allah dan Rasul, jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat. Yang demikian itu lebih baik (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”(an-Nisa’ : 59)

Dari data di atas dapat diambilah pengertian bahwa Allah SWT memerintahkan kaum muslimin agar menetapkan segala sesuatu berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Jika tidak ada dalam al-Qur’an dan As-Sunnah hendaklah mengikuti pendapat ulil amri.

Jika tidak ada pendapat ulil amri boleh menetapkan hukum dengan mengembalikannya kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, yaitu dengan menghubungkan atau memperbandingkannya dengan yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Dalam hal ini banyak cara yang dapat dilakukan antara lain dengan melakukan Qiyas.

2. As-Sunnah

Rasulullah SAW pernah menggunakan qiyas waktu menjawab pertanyaan yang dikemukakan oleh sahabat kepadanya, seperti :

“Sesungguhnya seorang wanita dari qabilah Juhainiah pernah menghadap Rasulullah SAW ia berkata : sesungguhnya ibuku telah bernadzar melaksanakan ibadah haji, tetapi ia tidak sempat melaksanakannya sampai ia meninggal dunia, apakah aku berkewajiban melaksanakan hajinya?

Rasulullah SAW menjawab : benar, laksanakanlah haji untuknya, tahukah kamu, seandainya ibumu mempunyai hutang, tentu kamu yang akan melunasinya.

Bayarlah hutang kepada Allah, karena hutang kepada Allah lebih utama untuk dibayar.”(HR. Bukhari dan an-Nasa’i)

Pada Hadist di atas Rasulullah mengqiyaskan hutang kepada Allah dengan  hutang kepada manusia.

Seorang perempuan menyatakan bahwa ibunya telah meninggal dunia dalam keadaan berhutang kepada Allah, yaitu belum sempat menunaikan nadzarnya untuk menunaikan ibadah haji.

Kemudian Rasulullah SAW menjawab dengan mengqiyaskannya kepada hutang.

Jika seorang ibu meninggal dunia dalam keadaan berhutang, maka anaknya wajib melunasinya.

Beliau menyatakan hutang kepada Allah lebih utama disbanding dengan hutang kepada manusia.

Jika hutang kepada manusia wajib dibayar tentulah hutang kepada Allah lebih utama harus dibayar.

3. Perbuatan sahabat

Khalifah Umar bin Khattab pernah menuliskan surat kepada Abu Musa al-Asy’ari yang memberikan petunjuk bagaimana seharusnya sikap dan cara seorang hakim mengambil keputusan. Diantaranya isi surat beliau itu adalah :

“Kemudian pahamilah benar-benar persoalan yang dikemukakan kepadamu tentang perkara yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

 Kemudian lakukanlah Qiyas dalam keadaan demikian terhadap perkara-perkara itu dan carilah contoh-contohnya, kemudian berpeganglah kepada pendapat engkau yang paling baik sesuai dengan kebenaran”

= Istihsan

Pengertian Istihsan

Istihsan menurut bahasa berarti menganggap baik atau mencari yang baik. Menurut ulama’ ushul fiqh, ialah meninggalkan hukum yang telah ditetapkan pada suatu peristiwa atau kejadian yang ditetapkan berdasar dalil syara’, menuju (menetapkan) hukum lain dari peristiwa atau kejadian itu juag, karena ada suatu dalil syara’ yang mengharuskan untuk meninggalkannya. Dalil yang terakhir disebut sandaran istihsan.

Dasar hukum Istihsan

Yang berpegang kepada dalil istihsan adalah Madzhab Hanafi, menurut mereka istihsan sebenarnya semacan qiyas, yaitu memenangkan qiyas khafi (qiyas yang ‘illatnya mungkin dijadikan ‘illat dan mungkin pula tidak dijadikan ‘illat) atas qiyas jail (qiyas yang ‘illatnya berdasarkan dalil yang pasti) atau mengubah hukum yang telah ditetapkan pada suatu peristiwa atau kejadian yang ditetapkan berdasar ketentuan umum kepada ketentuan khusus karena ada suatu kepentingan yang membolehkannya.

Menurut mereka jika dibolehkan menetapkan hukum berdasarkan qiyas jail atau mashlahat mursalah, tentulah melakukan istihsan diperbolehkan karena kedua hal itu pada hakikatnya dama, hanya namanya saja yang berbeda.

= Istishab

Pengertian Istishab

Istishab menurut bahasa berarti mencari sesuatu yang ada hubungannya. Menurut istilah ulama’ ushul fiqh ialah tetap berpegang kepada hukum yang telah ada dari suatu peristiwa atau kejadian sampai ada dalil yang mengubah hukum tersebut.

Atau dengan kata lain, ialah menyatakan tetapnya hukum pada masa yang lalu, sampai ada dalil yang mengubah ketetapan hukum itu.

Dasar hukum Istishab

Pada dasarnta Istishab bukanlah suatu cara menetapkan hukum, tetapi ia pada hakikatnya ialah menguatkan atau manyatakan tetap berlaku suatu hukum yang pernah ditetapkan karena tidak ada yang mengubah atau mengecualikannya.

Pernyataan ini sangat diperlukan untuk menjaga jangan sampai terjadi penetapan hukum yang berlawanan antara yang satu dengan yang lain.

= Mashlalat Murshalah

Pengertian Mashlahat Murshalah

Mashlahat Murshalah adalah suatu kemaslahatan yang tidak disinggung oleh syara’ dan tidak ada dalail-dalil yang manyuruh untuk menggerjakan atau meninggalkannya, sedang jika dikerjakan akan mendatangkan kebaikan yang besar atau kemaslahatan.

Dasar hukum Mashlahat Murshalah

Persoalan yang dihadapi manusia selalu tumbuh dan berkembang, demikian pula kepentingan dan keperluan hidupnya.

Kenyataan menunjukkan bahwa banyak hal-hal atau persoalan yang tidak terjadi pada masa Rasulullah SAW, kemudian timbul dan terjadi pada masa-masa sesudahnya bahkan ada yang terjadi tidak lama setelah Rasulullah SAW meninggal dunia.

Seandainya tidak ada dalil yang dapat memecahkan hal-hal yang demikian berarti akan sempitlah kahidupan manusia.

= Sududz Dzariah

Pengertian Sududz Dzariah

Sududz Dzariah adalah tindakan memutuskan sesuatu yang mubah menjadi makruh atau haran demi kepentingan umat.

Dasar hukum Sududz Dzariah

1. Al-Qur’an

Firman Allah SWT :
“…dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan…”(an-Nur : 31)

Wanita menghentakkan kakinya sehingga terdengar gemrincing gelangkakinya tidaklah dilarang, tetapi karena perbuatan itu akan menarik hati laki-laki lain untuk mengajaknya berbuat zina, maka perbuatan itu dilarang pula sebagai usaha untuk menutup pintu yang menuju kearah perbuatan zina.

2. As-Sunnah

Nabi Muhammad SAW bersabda :

“ketahuilah, tanaman Allah adalah (perbuatan) maksiat yang (dilakukan) keadaan-Nya. Barang siapa mengembalakan (ternaknya) sekitar tanaman itu, ia akan terjerumus ke dalamnya.”(HR. Bukhari dan Muslim)

= ‘Urf

Pengertian ‘Urf

‘Urf adalah tindakan menentukan masih bolehnya suatu adat –istiadat dan kebiasaan masyarakat setempat selama kegiatan tersebut tidak bertentangan dengan aturan-aturan principal dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

‘Urf merupakan sesuatu yang telah dikenal oleh masyarakat dan merupakan kebiasaan dikalangan mereka baik berupa perkataan maupun perbuatan. Oleh sebagian ulama’, ‘Urf disebut juga dengan adat (adat kebiasaan).

Dasar hukum ‘Urf

Para ulama’ sepakat bahwa ‘urf shahih dapat dijadikan dasar hujjah selama tidak bertentangan dengan syara’. Ulama’ Malikiyah terkenal pernyataan mereka bahwa amal ulama’ Madinah dapat dijadikan hujjah,, demikian pula ulama’ Hanafiyah menyatakan bahwa pendapat ulama’ Kufah dapat dijadikan dasar hujjah.

 Imam Syafi’I terkenal dengan qaul qadim dan qaul jadidnya.

Ada suatu kejadian tetapi beliau menetapkan hukum yang berbeda pada waktu beliau masih berada di Mekkah (qaul qadim) dengan setelah beliau berada di Mesir (qaul Jadid).

Hal ini menunjukkan bahwa ketiga madzhab itu berhujjah dengan ‘urf.

 http://kabarku.com/khair/Studi-Islam/Ijtihad-12662.html

Qaul Qadim – Qaul Jadid / ketika hendak Sujud.


Ahmad Ar Rifa’i

Makin tahkiknya ilmu membuat para tholibul ilmi menemukan hal-hal baru yang mungkin berbeda dengan apa yang diamalkan oleh para pendahulunya, termasuk di dalamnya adalah bab sujud.

Di Indonesia khususnya sebagai pengikut fanatik madzhab Syafi’I telah berabad-abad mempraktekkan bahwa ketika seorang musholli hendak sujud,

maka ia akan mendahulukan lututnya baru kemudian tangannya, seakan-akan hal ini merupakan sebuah kebenaran mutlak yang tidak bisa ditawar-tawar.

Akan tetapi seiring dengan diterimanya kajian-kajina kitab lintas madzhab, maka saat ini banyak dijumpai orang yang mendahulukan tangan daripada lututnya saat bersujud.

Dan tidak jarang masing-masing mengklaim bahwa apa yang dipraktekkannya tersebut adalah yang paling benar dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw sembari bersifat sinis terhadap orang yang berbeda dengannya.

Untuk mengetahui lebih jauh tentang hal tersebut, penulis menyempatkan waktu untuk sedikit membuka-buka kitab koleksi penulis yang jauh dari kata memadai. Dan hasilnya adalah sebagai berikut.

.

Mendahulukan tangan  adalah Hadits Dha’if

Imam Nafi’ berkata bahwasanya Ibnu Umar meletakkan kedua tangannya sebelum lututnya ( ketika bersujud ).

Hadist ini diriwayatkan secara muallaq dan mauquf oleh Imam Bukhari dalam shahihnya. Berdasarkan hadits inilah Imam malik berpendapat bahwa disunnahkan mendahulukan kedua tangan sebelum lutut saat bersujud.

Lebih lanjut beliau berkata bahwa cara itulah yang terbaik dalam menghadirkan kekhusus’an dan ketenangan dalam shalat. ( Irsyadussari Syarah Shahih Bukhari ,al hafidz Al Qasthalaniy, Juz 2 halaman 515 ).

.

Akan tetapi sekali lagi hadist diatas adalah muallaq yang dalam disiplin ilmu hadits masuk dalam kategori hadits dha’if yang tertolak untuk dijadikan sebagai hujjah karena sanadnya tidak muttashil, satu atau lebih sanadnya dibuang. ( Taisirul Mushtholahil hadits,DR Mahmud Thohan, Halaman 70 ). Dengan demikian ia runtuh untuk dijadikan dalil.

.

Seperti turunnya Onta – hadits hasan li ghairihi

Dalam hadist lain dari Abu Hurairah bahwa Nabi Saw bersabda, Ketika salah satu diantara kalian bersujud maka janganlah kalian turun sebagaimana turunnya onta, maka dahulukanlah tangan sebelum kedua lututnya ( Hadist Riwayat tsalatsah. Imam Bukhari, Turmudzi dan Daruquthniy mencacatkannya.)

Lebih lanjut imam bukhari berkata, Muhammad Bin Abdillah Bin Hasan tidak boleh untuk diikuti dan aku tidak tahu apakah ia mendengar dari Abi Zanad ataukah tidak.

Imam Turmudzi mengatakan hadits ini gharib, kami tidak mengetahuinya dari hadits Abi zanad. ( Subulussalam, Imam Shan’ani Juz 1 halaman 187 ).

Dengan demikian hadits inipun kualitasnya dha’if tidak dapat digunakan sebagai hujjah, akan tetapi  Ibnu Hajjar Al Asqolaniy dalam Bulughul Maram mengatakan bahwa Hadits ini lebih kuat dibandingkan dengan hadits wail sebab terdapat penguatnya yaitu hadits Ibnu Umar yang diriwayatkan oleh Imam bukhari secara muallaq diatas. ( Bulughul Maram, Ibnu Hajjar Al asqolaniy, halaman 63 ).

Dengan demikian derajat hadits Abu Hurairah diatas meningkat menjadi hadits hasan li ghairihi dan sah digunakan sebagai hujjah, sebab hadits dha’if yang tidak parah kedha’ifannya akan dapat meningkat menjadi hadist hasan li ghoirihi jika terdapat Syawahid (penguatnya ).

Turunnya Unta mendahalukan tangan

Sementara itu tiga madzhab lainnya yaitu Hanafi, syafi’I dan Hanbali dan sesuai dengan pendapat jumhur ulama merajihkan pendapat yang mendahulukan kedua lutut sebelum kedua tangannya, hal ini berdasarkan hadits Wa’il Bin hajjar Al marwiy yang mengatakan, aku melihat Nabi shalat, ketika sujud beliau meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya, hadits riwayat Arba’ah.

Imam Turmudzi berkata ini hadits hasan.

Imam Khathabiy mengomentari bahwa hadits ini lebih tsabit dibanding dengan hadits yang mendahulukan tangan.

Akan tetapi Imam ad Daruquthniy mengutip pernyataan Abu Dawud bahwa pada hadits diatas Syuraik meriwayatkannya secara sendirian, sementara itu Syuraik bukanlah rawi yang kuat terhadap hadits yang diriwayatkannya secara sendirian, berarti haditsnya dha’if. ( Irsyadussari, Al Qasthalaniy, Juz 2 halaman 515 ).

Imam Bukhari, Turmudzi, Abu Dawud dan Baihaqiy berkata : Syuraik meriwayatkannya secara sendirian akan tetapi hadits ini mempunyai penguat yaitu dari ‘ashim al ahwal dari Anas, beliau berkata ; aku melihat Rasulullah Saw turun dengan bertakbir sehingga kedua lutut beliau mendahului kedua tangannya, hadits riwayat Ad daruquthniy, al hakim dan Baihaqi. ( Subulussalam, Ash Shan’ani, Juz 1 hal 188 ).

Dengan demikian hadits inipun kualitasnya meningkat menjadi hadits hasan li ghoirihi yang sah digunakan sebagai hujjah.

Oleh sebab itu imam Nawawi dalam Al majmu’ berkata : Tidak dapat dirajihkan pendapat salah satu madzhab mengalahkan madzhab yang lain dari segi sunnah, akan tetapi pengikut madzhab ini ( Syafi’I)  merajihkan hadits Wail .

Bahkan Ibnu Qayyim Al Jauzy dalam kitab Zaadul Ma’ad, tidak hanya merajihkan hadits wail yang menyatakan Nabi shalat, ketika beliau sujud, beliau mendahulukan lutut daripada tangannya, namun beliau juga mengomentari hadits Abu Hurairah dan mengatakan bahwa hadist tersebut terbalik, sebab sebagaimana telah diketahui bahwa turunnya onta adalah mendahulukan kedua tangan atas kedua kakinya. ( Zaadul Maad, Ibnu Qayyim, Juz 1 Hal 58 ).

Jika demikian hadits Abu Hurairah dan Hadist Wail ini cocok dan saling menguatkan berdasarkan tahkiknya Ibnu Qayyim di atas.

.

AlBani : Menyelisihi Zaadul Maad, Ibnu Qayyim

Namun argumentasi Ibnu Qayyim ini dibantah oleh seorang ulama hadits kontemporer yaitu Syaikh Nashiruddin al albani dalam Shifat Shalat Nabi nya.

Dengan panjang lebar beliau memaparkan hujjah-hujjahnya dan berusaha meyakinkan khalayak bahwa onta itu ketika turun dia mendahulukan lututnya sebab lututnya onta itu ada dikedua tangannya, dengan demikian kesimpulannya bahwa sujud harus mendahulukan kedua tangannya sebelum lututnya. ( shifat Shalat Nabi, Nashiruddin al Albani, halaman 147 )

.

Pendapat Penulis

Setelah menelaah sekelumit hadits-hadits di atas maka penulis berkesimpulan diperbolehkannya mengamalkan kedua tata cara sujud diatas.

Baik yang mendahulukan tangan sebelum lutut ataupun yang mendahulukan lutut sebelum tangan keduanya adalah hadits hasan li ghoirihi yang sah untuk diamalkan.

Wallahu A’lam

Madzhab Syafi’i: Pelopor Ilmu Ushul Fiqih


Banyumas Pesantren-Madzhab Syafi’i: Madzhabnya Pelopor Ilmu Ushul Fiqih

Madzhab ini sangat populer di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Pendirinya adalah ulama jenius kelahiran Palestina yang berguru kepada imam-imam madzhab sebelumnya.

Pada tulisan yang lalu kami telah menulis Madzhab Hanafi, dan Madzhab Maliki, pada kali ini kami akan mengulas madzhab fiqih lain yang memiliki pengikut tak kalah banyak, Madzhab Syafi’i.

Dalam perjalanannya madzhab ini sempat mendominasi di Mesir dan Irak, mengalahkan Madzhab Hanafi yang telah lebih dulu tersebar.

Namun belakangan madzhab Asy-Syafii ini lebih banyak tersebar di Hadramaut ( Yaman ) dan negeri-negeri di Asia Tenggara.

Madzhab ini dicetuskan untuk pertama kalinya oleh sang pendiri Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i melalui pengajian-pengajiannya di Masjidil Haram, Makkah, dan halaqah ilmiahnya di Irak.

Setelah Imam Syafi’i hijrah ke Mesir, madzhabnya pun ikut tersebar di Afrika Utara. Kemudian oleh murid-muridnya, madzhab ini menyebar ke seluruh dunia.

Madzhab ini, menurut pendirinya, disusun dengan metodologi yang merupakan penyempuranaan dari metodologi yang di pakai oleh gurunya Imam Malik (pendidi madzhab Maliki) dan Imam Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani Al-Hanafi ( murid pendiri madzhab Hanafi, Imam Nu’man bin Tsabit ).

Dan setelah hijrah ke Mesir, Imam Syafi’i menambah daftar mujtahid rujukannya dengan mengadopsi pemikiran Imam Al-Laits bin Sa’ad Al-Fahmi.

Meski pada zaman ketiga ulama rujukannya tersebut metodologi penggalian hukum ( cikal bakal ushul fiqh) sudah ada, namun Imam Syafi’ilah yang pertama kali menyusunnya dalam sebuah konsep yang tersusun rapi.

Konsep metodologi ijtihad itu ditulis secara apik dalam kitab Ar-Risalah, yang diikuti oleh ulama berbagai madzhab generasi berikutnya.

Imam Syafi’i menggariskan konsep istinbath ( penggalian hukum) madzhabnya dengan bersumber kepada lima hal yang berurutan: 1./ Kitab suci Al-Quran – 2./ Sunnah Rasulullah SAW yang telah jelas keshahihannya- 3./ I  Ijma’ ( kesepakatan ulama mujtahid pada satu masa atas persoalan yang belum ada hukumnya dalam Al-Quran dan sunnah)-4./ Pendapat sahabat Nabi SAW yang diyakini tidak diperselisihkan oleh sahabat lainnya, lalu pendapat sahabat yang diperselisihkan-5./ Terakhir qiyas, analogi.

Dalam sumber hukum ini Imam Syafi’i berbeda pendapat dengan gurunya, Imam Malik.

Dengan berpegangan kepada konsep ijma’-nya yang harus mencakup seluruh mujtahid di satu masa, Imam Syafi’i menolak keberadaan ijma’ penduduk Madinah.

Sebab penduduk Madinah setelah era khulafaur rasyidin hanya sebagian kecil dari seluruh ulama mujtahid pada satu masa.

.

Qaul Qadim dan Qaul Jadid

Menggunakan Al-Quran, sunnah dan pendapat salafus shalih termasuk sahabat nabi dan ulama mujtahid memang sangat dipentingkan oleh Imam Syafi’i.

Setelah dalam keempat sumber pertama tidak ditemukan hukum suatu masalah, barulah Imam Syafi’i menggunakan senjata pamungkasnya yakni berijtihad.

Dan metode utama yang digunakan oleh Imam Syafi’i dalam berijtihad adalah qiyas atau menganalogikan suatu masalah yang belum ada hukumnya dalam keempat sumber utama, dengan masalah yang yang sudah ada hukumnya, dengan mencari kesamaan illat ( faktor hukum ) nya.

Imam Syafi’i merumuskan pemikirannya dalam beberapa kitab karyanya.

Konsep ushul fiqihnya yang terkenal, misalnya, ia tuangkan dalam kitab Ar-Risalah.

Sementara pemikiran fiqihnya yang belakangan dikenal sebagi Madzhab Syafi’i, ia ulas secara panjang lebar dalam kitab Al-Hujjah yang berisi qaul qadim, dan dalam kitab Al-Umm, yang berisi qaul jadid.

.

Qaul qadim dan qaul jadid adalah sebutan untuk fatwa-fatwa Imam Syafi’i

Yang pembagiannya terpisahkan oleh waktu.

Qaul Qadim difatwakan ketika sang imam masih berdomisili di Makkah dan Baghdad –  sedangkan qaul jadid adalah kumpulan fatwa Imam Syafi’i setelah beliau hijrah dan menghabiskan sisa umurnya di Mesir.

Qaul jadid, menurut para fuqaha, adalah versi revisi dan penyempurnaan dari qaul qadim.

Revisi ini muncul sebagai respon semakin matang dan luasnya ilmu dan pengetahuan sang imam.

.

Contoh qaul qadim

Adalah fatwa Imam Syafi’i bahwa persentuhan kulit antar lawan jenis membatalkan wudhu, tak peduli keduanya mempunyai hubungan mahram ( haram dinikahi ) atau tidak.

Fatwa ini disandarkan kepada pengertian umum dari kata an-nisa dalam ayat keenam surah Al-Maidah, yang berarti perempuan-perempuan.

Setelah menetap di Mesir, Imam Syafi’i mengubah pendapatnya, dengan menyatakan bahwa persentuhan kulit pria dan wanita yang mempunyai hubungan mahram tidak membatalkan wudhu.

Alasannya, hubungan mahram diantara keduanya mengecilkan kemungkinan dugaan akan munculnya nafsu syahwat saat bersentuhan.

Meski menurut sejarahnya qaul kedua besifat nasikh ( pembatalan ) atas qaul pertama, namun pada praktiknya di dunia fuqaha, kedua qaul itu masih dipakai.

Para ahli fiqih yang dikenal banyak menukil qaul qadim yang bersumber dari kitab Al-Hujjah karyanya antara lain Imam Ahmad bin Hanbal ( murid Imam Syafi’i yang juga dikenal sebagai pendiri madzhab Hanbali ), Imam Hasan bin Ibrahim bin Muhammad Shahab Az-Za’farani ( wafat 260 H ), Al-Karabisyi dan Abu Saur.

Sementara ahli fiqih yang banyak menukil qaul jadid yang termaktub dalam kitab Al-Umm antara lain Imam Yusuf bin Yahya Al-Buwaiti ( wafat 231 H ), Syaikh Abu Ibrahim Ismail bin Yahya Al-Muzani ( wafat 264 H ) dan Imam Ar-Rabi’ bin Sulaiman Al-Marawi ( wafat 270 H ). Ketiga murid Imam Syafi’i inilah yang dianggap paling berjasa dan terpercaya dalam mengumpulkan dan meriwayatkan qaul-qaul jadid Imam Syafi’i. Sehingga bila ada perbedaan pendapat dalam menukil qaul jadid Imam Syafi’i, periwayatan ketiga ulama itulah dianggap paling shahih.

.

Perbedaan Waktu Maghrib

Bagi Imam Syafi’i, QAUL JADID lah yang dianggap sebagai madzhabnya, karena merupakan hasil akhir dari penelitiannya.

Bahkan dalam sebuah kesempatan, sang imam pernah menegaskan, tidak dibenarkan menganggap QAUL QADIM sebagai madzhabnya.

Meski begitu, sebagian besar ulama madzhab Syafi’i generasi berikutnya meyakini bahwa pernyataan tersebut tidak dimaksudkan untuk menghapus semua qaul qadim.

Imam Nawawi ( Abu Zakariyya Yahya bin Syaraf An-Nawawi ), Misalnya, adalah salah satu ulama besar madzhab Syafi’i yang berpendapat bahwa QAUL JADID hanya menghapus sebagian qaul qadim.

Imam Nawawi menetapkan syarat boleh diamalkannya qaul qadim sebagai berikut :

Pertama, QAUL QADIM tersebut harus didukung oleh hadits shahih yang diperselisihkan oleh hadits-hadits lain.

Kedua, QAUL QADIM tersebut tidak bertentangan dengan QAUL JADID atau tidak pernah disinggung di dalamnya. Dalam arti, tidak ada keterangan yang bahwa QAUL QADIM itu telah direvisi.

Contoh kasus QAUL QADIM yang masih diamalkan oleh ulama syafi’iyyah generasi selanjutnya adalah waktu shalat maghrib.

 Menurut QAUL QADIM , waktu maghrib memanjang sampai hilang semburat merah dari langit.

Pendapat ini didasarkan pada hadits shahih yang diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Asy’ari.

Dalam QAUL JADID Imam Syafi’i mengubah pendapatnya dengan mengatakan bahwa waktu maghrib sangat pendek, yakni selama waktu yang dihabiskan untuk berwudhu, shalat maghrib tiga rakaat dan shalat sunnah dua rakaat.

Mayoritas ulama Syafi’iyah di Asia Tenggara hingga kini masih menggunakan QAUL QADIM sebagai penentu waktu maghrib.

Alasannya, QAUL QADIM itu menggunakan hadits yang shahih dan secara eksplisit tidak bertentangan dengan QAUL JADID

dalam kasus tersebut lebih dipahami sebagai waktu yang afdhal untuk mendirikan shalat maghrib.

Dalam masalah menggunakan hadits, Imam Syafi’i memang dikenal sangat ketat dan berhati-hati.

.

Sebagai Ulama Pembela Sunah

Tak heran oleh ulama berbagai golongan ia dijuluki nashirussunnah ( pembela sunnah ). Kebetulan Imam Syafi’i sendiri sebenarnya seorang muhaddits ( ahli hadits ) besar.

Hanya karena prestasi sang imam di bidang fiqih lebih fenomenal, ke-muhadditsannya menjadi tertutupi.

Imam Syafi’i tidak akan mengguatkan suatu hadits yang dha’if atau lemah untuk membangun pendapatnya.

Kalau pun ada hadits yang beliau gunakan dan dituduhkan sebagai hadits yang lemah, sesungguhnya tidak demikian, namun boleh jadi ia mempunyai jalur dan sanad khusus yang tidak dimiliki oleh para muhaddits lainnya.

Yang menarik, ternyata silsilah yang beliau miliki adalah silsilah yang paling shahih yang pernah ada di muka bumi.

Sebab As-Syafi’i adalah murid Al-Imam Malik dan mengambil riwayat dari imam hadits besar itu.

Dan dalam dunia hadits, kita mengenal ada istilah silsilah dzahabiyah ( silsilah keemasan ), jalur periwayatan yang paling shahih, yaitu jalur sanad dari Imam Malik, dari Nafi’, dari Ibnu Umar.

Al-Bukhari mengatakan tidak ada jalur periwayatan yang lebih shahih dari jalur ini.

Dan Al-Imam Asy-Syafi’i berada di dalam jalur ini, karena ia mengambil hadits dari Al-Imam Malik.

Bahkan kitab Al-Muwaththa’ karya Al-Imam Malik telah dihafalnya dalam waktu hanya 9 hari di usia 13 tahun.

.

Pernyataan Imam Ahmad bin Hambal dan Ar-Razi

Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya, apakah Imam Syafi’i seorang ahli hadits..?.. Maka imam ahli hadits ini menjawab dengan sangat tegas,

Demi Allah, beliau adalah ahli hadits. Demi Allah, beliau adalah ahli hadits. Demi Allah, beliau adalah ahli hadits.”

Al-Imam Ar-Razi pernah berkata bahwa Asy-Syafi’i menulis kitab hadits secara khusus, yaitu Musnad Asy-Syafi’i.

Itu adalah kitab hadits yang teramat masyhur di dunia ini.

Tidak ada seorang pun dari ahli hadits dan mengerti ilmunya yang bisa mengkritik kitab ini.

Kalau pun ada penolakan, datangnya dari mereka yang sama sekali tidak mengerti ilmu hadits, yaitu dari para ahli ra’yi ( ahli akal ).

Karena kedalaman ilmu dan kecintaannya terhadap hadits ini pula Imam Syafi’i pernah mengatakan,

Jika sebuah hadits shahih bertentangan dengan perkataanku, maka ia ( hadits ) adalah madzhabku, dan buanglah perkataanku di belakang tembok.

Ulama menjelaskan, ucapan tersebut muncul karena Imam Syafi’i yakin tidak ada satu pun pendapatnya yang bertentangan dengan hadits nabi SAW.

.

Masih banyak lagi keistimewaan madzhab Syafi’i dan –terlebih– sosok Imam Syafi’i sebagai pendirinya.

Imam Syafi`i ( 150H-204H ) memiliki nama lengkap Abu ‘Abdullah Muhammad bin Idris bin ‘Abbas bin ‘Utsman bin Syafi’i bin As-Saib bin ‘Ubaid bin ‘Abdu Yazid bin Hisyam bin al-Mutallib bin ‘Abdu Manaf bin Qusaiy bin Kilab bin Murrah bin Ka‘ab bin Luaiy bin Ghalib Al-Qurasyi Asy-Syafi‘i. Nasabnya bertemu dengan Rasulullah SAW pada Abdul Manaf.

Imam Syafi’i lahir di Ghazzah atau Ghuzzah, sebuah kota pelabuhan di selatan Palestina yang kini dikenal dengan sebutan Jalur Gazza pada tahun 150 H. Tahun lahirnya Imam Syafi’i bertepatan dengan tahun wafatnya Abu Hanifah. Seakan keduanya diciptakan untuk saling menggantikan maqam keimaman dalam ranah fiqih.

Ayahnya meninggal ketika Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i belum genap berusia dua tahun. Karena khawatir gagal mendidik anaknya di negeri orang, ibunda Imam Syafi’i membawa putranya hijrah ke kota asal leluhurnya, Makkah Al-Mukarramah.

Sejak kecil Syafi’i dikenal cerdas dan mempunyai hafalan yang kuat.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, Asy-Syaf’i telah hafal Quran di usia 5 tahun.

Selain Quran, beliau juga banyak menghafal syair sastra Arab yang indah.

Syafi’i muda juga dikenal sangat pandai dalam ilmu bahasa Arab.

Sampai-sampai Al-Ashma’i, seorang ahli bahasa Arab, berkata,

Saya mentashih syair-syair Bani Hudzail dari seorang pemuda dari Quraisy yang disebut Muhammad bin Idris.

Di Makkah, Imam Syafi’i berguru ilmu fiqih kepada mufti kota suci itu, Muslim bin Khalid Az-Zanji.

Karena ketekunannya, semua ilmu fiqih dilalapnya dengan cepat.

Beliau juga cerdas dan benar-benar seorang yang berbakat menjadi mufti.

Az-Zanji kemudian mengakui kemampuan muridnya yang luar biasa itu dan mengizinkannya memberi fatwa, meski usia Imam Syafi’i waktu itu baru 15 tahun.

Hal itu bukan hal yang tidak luar biasa. Menjadi mufti di Masjid Al-Haram Makkah, tempat yang begitu mendunia yang dihuni oleh puluhan ulama besar dan didatangi jutaan umat manusia setiap tahunnya.

Meski keilmuan fiqihnya sudah diakui oleh semua pihak, Imam Syafi’i tak berpuas diri.

Ketika mendengar di Madinah ( Masjid Nabawi ) ada seorang alim besar yang ilmunya sangat luas dan mendalam, ia tergerak untuk mendatanginya dan berguru kepadanya. Ulama itu adalah Imam Malik bin Anas, pendiri madzhab Maliki.

Hafal Muwaththa 9 Hari

Tapi ada satu masalah yang mengganjal.

Majelis Imam Malik adalah majelis khusus untuk ulama besar, bukan untuk remaja berusia belasan tahun.

Namun Imam Syafi’i pantang mundur.

Dengan tekad baja, ia menghafal Al-Muwaththa,’ kitab tebal berisi ribuan hadits yang disusun oleh Imam Malik, dalam tempo sembilan hari.

Berbekal hafalan itu ia mendaftarkan diri dan diterima oleh Imam Malik.

Puas menyerap semua ilmu Al-Imam Malik, Imam Syafi’i kemudian pergi ke Yaman dan bekerja sebentar di sana.

Kemudian ia hijrah lagi ke Baghdad ( 183  H dan tahun 195 H ) untuk menimba ilmu dari Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani, ulama besar madzhab Hanafi dan murid langsung Imam Nu’man bin Tsabit Al-Hanafi. ( Mengenai kedua pendiri madzhab itu baca alkisah edisi 15/2008 dan 16/2008 )

Imam Ahmad bin Hanbal, murid utama Imam Syafi’i saat di Makkah, berkata tentang sang guru :

Beliau adalah orang yang paling faqih dalam Al-Quran dan As Sunnah. Tidak seorang pun yang pernah memegang pena dan tinta ( ilmu ) melainkan Allah memberinya di ‘leher’ Syafi’i.”

Syaikh Thasy Kubri mengatakan dalam kitab Miftahus Sa’adah,

Ulama ahli fiqh, ushul, hadits, bahasa, nahwu, dan disiplin ilmu lainnya sepakat bahwa Syafi’i memiliki sifat amanah ( terpercaya ), ‘adalah ( kredibel dalam agama dan moral ), zuhud, wara’, taqwa, dermawan, tingkah lakunya yang baik, derajatnya yang tinggi.

Oleh : Ahmad Iftah Sidik, ( Santri Asal Tangerang ).

Madzhab Syafi’i: Madzhabnya Pelopor Ilmu Ushul Fiqih