Syeikh Mahfudz al-Jawi’ – Ulama Besar Madzhab Asy-Syafi’i


Beliau adalah Al Allamah Al Muhaddits Al Musnid Al Faqih Al Ushuli As Syeikh Muhammad Mahfudz. Lahir di Tarmas (Termas) Jawa Tengah pada tanggal 12 Jumadi Al Ula 1285 H, dikala ayah beliau bermukim di Makkah. Beliau diasuh oleh ibu dan para pamanya.

Memperoleh ilmu dasar fiqih di usia muda dari beberapa ulama Jawa, dan beliau juga menghafal Al Qur’an. Kemudian ayah beliau, Al Allamah Al Faqih Syeikh Abdullah At Tarmusi memanggilnya untuk belajar di Makkah. Pada tahun 1291 beliau berangkat menemui sang ayah dan bermukim di Makkah untuk membaca beberapa kitab di hadapan beliau. Kemudian Syeikh Mahfudz kembali ke Jawa dan berguru kepada Al Allamah Syeikh Shalih bin Umar As Samarani (Semarang), juga untuk membaca beberapa kitab.

Kemudian,Syeikh Mahfudz melakukan rihlah thalab al ilmiuntuk kedua kalinya ke Makkah dan mengambil berbagai disiplin ilmu dari para ulama besarnya. Diantara para guru Syeikh Mahfudz adalah Al Allamah As Sayyid Abi Bakr bin Muhammad Syatha Al Makki, yang merupakan pijakan Syeikh Mahfudz dalam periwayatan hadits. Syeikh Mahfudz juga menyimak banyak kitab hadits dan musthalah-nya dari Al Allamah Al Muhaddits As Sayyid Husain bin Muhammad Al Habsyi Al Makki yang dikenal sebagai “Ibnu Mufti” (Anak Mufti). Beliau juga banyak membaca kitab hadits dan ilmunya di hadapan Al Allamah Syeikh As Syafi’iyah Makkah Syeikh Muhammad Sa’id Ba Bashil. Beliau juga memperoleh ilmu qira’at 14 dari Al Allamah Syeikh Muhammad As Syarbini Ad Dimyathi.

Dalam menuntut ilmu, beliau benar-benar bermujahadah dengan terjaga di malam hari, hingga terlihat kelebihan beliau dalam hadits dan ilmu-ilmunya, juga menguasai fiqih dan ushulnya, serta ilmu qira’at. Sehingga para guru beliau memberikan izin untuk mengajar. Syeikh Mahfudz mengajar di Bab As Shafa Masjid Al Haram dan di rumah tempat beliau tinggal.

Dari beliau, keluar para ulama baik, yang berasal dari tanah Jawa maupun Arab. Mereka adalah Kyiai Raden Dahlan As Samarani (Semarang), Kyiai Muhammad Dimyathi At Tarmusi (Termas), Kyiai Khalil Al Lasimi (Lasem), Kyiai Muhammad Hasyim bin Asy’ari Al Jumbani (Jombang), Kyiai Muhammad Faqih bin Abdi Al Jabbar Al Maskumbani (Maskumambang), Kyiai Baidhawi, Kyiai Abdu Al Muhaimin putra Abdul Aziz Al Lasimi, Kyiai Nawawi Al Fasuruwani (Pasuruan), Kyai Abbas Buntet As Syirbuni (Cirebon), Kyiai Abdul Muhith bin Ya’kub As Sidarjawi As Surabawi (Sidoarjo-Surabaya).

Yang juga meriayatkan dari Syeikh Mahfudz adalah As Syeikh Muhammad Al Baqir bin Nur Al Jukjawi (Jogja), Kyiai Ma’shum bin Ahmad Al Lasimi (Lasem), Kyiai Shiddiq bin Abdillah Al Lasimi (Lasem), Kyiai Abdul Wahhab bin Hasbullah Al Jumbani (Jombang).

Sedangkan para ulama Arab dan lainnya yang mengambil periwayatan dari Syeikh Mahfudz adalah Al Muhaddits Syeikh Habibullah As Syanqithi, Muhaddits Al Harmain As Syeikh Hamdan, Syeikh Ahmad Al Mukhalilati, Syeikh Umar bin Abi Bakr Ba Junaid Al Makki, Syeikh Muhammad Abdul Baqi Al Ayubi Al Laknawi.

Beliau mengajar dengan menggunakan bahasa Arab fuskha (fasih) sebagai pengantar, walau terkadang beliau campur dengan bahasa Jawa. Karya-karya beliau antara lain, Al Manhaj Dzawi An Nadhr fi Syarh Alfiyah Al Atsar, Al Mauhibah Dzi Al Fadhl fi Hasyiyah Muqaddimah Ba Fadhal (4 jilid), Nail Al Ma’mul Hasyiyah Ghayah Al Wushul ala Lubb Al Ushul (3 jilid), Is’af Al Mathali’ bi Syarh Al Badr Al Lami’ Nadzmi Jam’i Al Jawami’ (2 jilid) Hasiyah Takammulah Al Minhaj Al Qawim (1 jilid), Ghunyah At Thalabah bi Syarh At Thayyibah fi Al Qaira’at Al Asyrah (1 jilid), Kifayah Al Mustafid li Ma Ala Asanid, yang berisi periwayatan Syeikh Mahfudz dalam semua disiplin ilmu dan lainnya.

Syeikh Mahfudz At Tarmusi memang pantas untuk dikagumi, apalagi bagi kalangan ahlu al isnad, yang mengatahui dari siapa saja beliau memperoleh ilmu dan dari kitab apa saja. Tidak hanya dalam bidang hadits saja, untuk kitab-kitab tafsir, fikih, qira’at, nahwu-sharaf, akhlak-tashawuf, bahkan sampai amalan dzikir, semuanya berasal dari para ulama yang memilki sanad bersambung hingga penulis kitab-kitab tersebut.

Berikut ini nama-nama kitab yang beliau pelajari dari berbagai disiplin ilmu yang seluruhnya bersanad hingga penulisnya, yang ditulis oleh Syeikh Al Muahfudz dalam karya beliau yang berjudul, Kifayah Al Mustafid li Ma ‘Ala min Al Asanid.

Tafsir

Syaikh Mahfudz At Tarmusi telah mengkaji beberapa kitab tafsir seperti Tafsir Al Jalalain, yang merupakan karya Imam Jalaluddin Al Mahalli (864 H) dan Imama Jalaluddin As Suyuthi (911 H), Tafsir Al Baidhawi (691 H), Tafsir Imam Al Fakhr Ar Razi (626 H), Tafsir Al Baghawi (516 H), Tafsir Al Khatabi As Syarbini (977 H), juga Ad Dur Al Mantsur karya Imam As Suyuthi. Semua kajian Syeikh Mahfudz At Tarmusi terhadap kitab-kitab tersebut bersanad yang sampai kepada para penulisnya.

Hadits

Kitab-kitab hadits yang pernah dipelajari oleh Syeikh Mahfudz melingkupi Al Jami’ As Shahih yang ditulis oleh Imam Al Bukhari (256), yang beliau simak 4 kali khatam dari Syeikh As Sayyid Abu Bakr Syatha. Beliau juga memiliki jalan periwayatan lain yang lebih pendek tentang kitab ini dari As Sayyid Husain bin Muhammad Al Habsyi. Selain Shahih Al Bukhari, beliau juga telah mempelajari Shahih Muslim (261 H), Sunan Abu Dawud (275 H), Sunan At Tirmidzi (279 H), Sunan An Nasa`i (303 H), Sunan Ibnu Majah (273 H), dengan bersanad.

Sanad hadits Syeikh Mahfudz juga sampai kepada para ulama mujtahid madzhab yang membukakan hadits. Diantaranya adalah Al Muwaththa’ Imam Malik (179 H) riwayat Yahya bin Yahya, Musnad Imam As Syafi’I (204 H), Musnad Abu Hanifah (200 H), Musnad Ahmad (241 H), Mukhtashar Ibnu Abi Jamrah (695 H), As Syifa` Qadhi Iyadh (544 H), As Syamail At Tirmidzi, Al Arba’in An Nawawiyah (676 H), Al Jami’ As Saghir karya Imam As Suyuthi, Al Mawahib karya Al Qasthalani (923 H). Dalam kitab sejarah, kitab As Sirah Al Halabiyah karya Ali Al Halabi (1044 H) serta As Sirah karya As Sayyid Ahmad Dahlan (1304 H), Syeikh Mahfudz pun memiliki sanadnya.

Fiqih

Beberapa kitab fikih yang dikaji oleh Syeikh At Tarmusi juga sanadnya menyambung kepada penulis. Di antaranya adalah Tuhfah Al Muhtaj dan karya Ibnu Hajar Al Haitami (964 H) lainnya. Selain itu ada juga Nihayah Al Muhtaj dan lainnya dari karya Imam Ar Ramli, Al Iqna dan Mughni Al Muhtaj karya Khatib As Syarbini. Periwayatan kitab-kitab karya Imam An Nawawi (676 H) dan Imam Ar Rafi’i (623 H) juga beliau miliki.

Ilmu Alat

Kitab-kitab ilmu alat yang dipilajari Syeikh Mahfudz juga diambil dari para ulama yang sanadnya sampai kepada penulis. Dari kitab-kitab tersebut adalah Matn Al Ajurrumiyah, karya Muhammad As Shanhaji (723 H), Al Alfiyah Ibnu Malik (672 H), Mughni Al Labib karya Ibnu Hisyam (761 H), Kitab Sibawaih (180 H), As Shihah karya Imam Al Jauhari (393 H), Al Qamus karya Fairuz Abadi (816 H), Talhis Al Miftah karya Khatib Jalal Ad Din Al Qazwini (739 H), Arus Al Afrah karya Bahauddin As Subki (763 H), Uqud Al Juman karya Imama As Suyuthi, As Syathibiyah (590 H), Syarh Al Baiquniyah, karya Az Zurqani (1122 H), serta Syarh An Nukhbah karya Ibnu Hajar serta Alfiyah Al Iraqi (806 H) yang disyarah oleh Ibnu Hajar.

Ilmu Ushul dan Aqidah

Kitab-kitab ilmu ushul fiqih yang sanadnya dimiliki oleh Syeikh At Tarmusi juga bersambung kepada para penulisnya antara lain, Al Waraqat karya Imam Al Haramain (478 H), Syrah Mukhtashar Ibnu Hajib karya Adhad Ad Din Al Iji (756 H), Minhaj Al Wushul karya Imam Al Baidhawi, serta Jam’u Al Jawami’ karya Taj Ad Din As Subki (771 H). Sedangkan dalam kitab aqidah seperti Al Jauharah karya Imam Al Laqani dan Al Umm Al Barahin karya Imam As Sanusi (895 H), Syeikh At Tarmusi juga memiliki sanadnya.

Akhlak dan Tashawuf

Untuk Kitab-kitab yang berkenaan dengan tashawuf dan akhlak seperti Al Hikam karya Ibnu Athaillah As Sakandari (709 H), Ar Risalah Al Qusyairiyah (475 H), Minhaj Al Abdidin dan Al Ihya’ karya Imam Al Ghazali (505 H), Awarif wa Al Ma’arif karya Imam As Suhrawardi (632 H), Syeikh Mahfudz At Tarmusi juga memiliki sanadnya hingga para penulisnya.

Tidak hanya kitab, namun amalan-amalan juga sampai kepada para ulama, salah satunya adalah hizb An Nawawi yang diamalkan oleh Imam An Nawawi.

Masih banyak kitab lainnya dimiliki periwayatannya oleh Syeikh Mahfudz At Tarmusi, karena banyak kitab yang tidak beliau sebutkan judulnya, namun beliau cukupkan dengan penulisnya, dengan menyebutkan semisal, “seluruh karya Imam Al Ghazali”.

Membukukan Guru dan Periwayatan, Tradisi para Ulama

Dengan demikian, di samping menjaga tradisi para salaf dalam mencari ilmu, memperoleh ilmu dengan cara mengambil dari guru yang memiliki sanad sampai ke penulis kitab, meminimalkan kesalahan pemahaman menganai isi kitab tersebut.

Sedangkan Syeikh Mahfudz At Tarmusi mencatat sanad yang beliau miliki, juga dalam rangka meneladani para ulama sebelumnya. Sebagaimana juga Imam An Nawawi menjelaskan bahwa hendaknya pengajar ilmu dan para pencarinya memahami sanad, dinilai buruk bagi mereka yang jahil terhadapnya, karena para guru manusia dalam ilmu merupakan bapak-bapak mereka dalam dien, yang menyambungkan antara dia dan Rabb Al Alamin. Sebagaimana juga diriwayatkan oleh Ibnu Umar secara marfu,” Ilmu adalah dien dan shalat adalah dien. Maka lihatlah dari siapa kalian mengambil ilmu dan bagaimana kalian melaksanakan shalat tersebut. Sesungguhnya kalian ditanya pada hari kiamat.” (Riawayat Ad Dailami)

Dalam tradisi para ulama, buku yang ditulis seorang ulama untuk menjelaskan para guru dan periwayatan dari mereka, disebut sebagai tsabat, dengan bentuk plural atsbat. Yang kemungkinan berasal dari kata at tsabt, yang bermakna hujjah. Dengan demikian kitab tersebut merupakan hujjah bagi penulisnya, karena disebutkan di dalamnya para guru dan sanadnya. Hal ini berlaku bagi ahlu al masyriq, yakni mereka yang hidup di belahan bumi bagian timur. Sedangkan kalangan ahlu al maghrib (penduduk dunia bagian barat) menyebutnya sebagai fahras.

Kelebihan Syeikh Mahfudz dikenal di berbagai kalangan, dari ketawadhu’an hingga kebaikan akhlak. Beliau juga tidak terlibat hal-hal yang tidak berguna. Datang dari Jawa ke Tanah Suci dengan perbekalan seadanya. Beliau juga dikenal sebagai alim yang wara’. Rumah beliau banyak didatangi para pencari ilmu, baik untuk sekedar mengucap salam maupun untuk mencari ilmu.

Beliau wafat di Makkah di tanggal 1 Rajab, sesaat sebelum adzan Maghrib hati Ahad, malam Senin tahun 1336 H. Jenazah beliau diantar banyak orang, dan dimakamkan di pemakaman Al Ma’la. Beliau meninggalkan satu anak, yakni Kyiai Muhammad bin Mahfudz. Semoga Allah merahmati beliau.

Sanad Fiqih Imam As Syafi’i


Sanad Fiqih Imam As Syafi’i

  Sanad hadits para ulama yang sampai kepada Rasulullah Shallallabhu Alaihi Wasallam amatlah banyak jumlahnya, karena mereka hanya meriwayat matan hadits. Berbeda dengan sanad keilmuan fiqih, karena membutuhkan waktu lama untuk mempelajarinya. Nah, kali ini kita akan mengupas mengenai sanad fiqih Imam As Syafi’i Radhiyallahu ‘Anhu.

Syeikh Syihab Ad Din Ahmad bin Ahmad bin Salamah Al Qalyubi (1069 H),

menyebutkan salah satu rangkaian sanad dalam fiqih ulama mujtahid dari Quraisy ini (lihat, Hasyiyatani Qalyubi wa Umairah, hal. 9, vol. 1) dengan rangkaian sanad berikut:

Tidak ada salahnya, jika kita membahas para ulama yang keilmuannya menyambungkan fiqih Imam Syafi’i hingga Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam satu-persatu.

Muslim bin Khalid Az Zanji (180 H)

Beliau adalah imam, mufti dan faqih Makkah. Beliaulah yang menyarankan Imam As Syafi’i untuk mendalami fiqih. Imam As Syafi’i saat hendak keluar untuk belajar adab dan nahwu, Muslim bin Khalid menemui dan bertanya mengenai asal-usul beliau. Setelah tahu bahwa As Syafi’i termasuk kabilah Abdu Al Manaf, Muslim bin Khalid menyarankan agar beliau belajar fiqih. Dan kepada beliau, akhirnya Imam As Syafi’i menimba ilmu. Muslim bin Khalid jugalah yang memerintahkan Imam As Syafi’i untuk berfatwa, padahal saat itu beliau masih berumur 15 tahun (lihat, muqadimah Al Majmu Syarh Al Muhadzdzab, hal. 13 dan 17, vol.1).

Muhammad bin Juraij (150 H)

Penduduk Makkah mengatakan bahwa guru Muslim bin Khalid ini, ajaran shalatnya memiliki sanad hingga Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Imam Malik sendiri mengatakan bahwa Ibnu Juraij adalah ahli qiyam. Abdu Ar Razak juga menyebutkan bahwa tidak ada orang yang shalatnya lebih baik dari Ibnu Juraij. Disamping memiliki kelebihan dalam hal ibadah beliau juga dinilai sebagai orang yang pertama menulis kitab. Keilmuan beliau sendiri tidak diragukan, sebab itulah para ulama menjuluki beliau sebagai wadah (au’iyah) ilmu (lihat, Taqrib At Tahdzib, hal. 520, vol. 1).

Atha’ bin Abi Rabah (114, 115, 117 H)

Atha’ bin Abi Rabah adalah salah satu dari dua ulama yang diizinkan berfatwa di Makkah saat itu, selain Mujahid. Selain seorang faqih beliau juga dikenal sebagai ulama yang memiliki banyak periwayatan hadits. Beliau juga bertemu dengan 200 sahabat. Bahkan, yang menggantikan posisi Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu sebagi mufti di Makkah adalah Atha’, yang juga murid beliau. (Lihat, Tahdzib At Tahdzib, hal. 119-203, vol.7)

Ibnu Abbas (68 H)

Ibnu Abbas adalah seorang faqih dari kalangan sahabat. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sendiri pernah mendoakan, agar beliau difaqihkan dalam dien. Ibnu Abbas juga sering mendampingi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sejak kecilnya, karena bibi beliau Maimunah adalah istri beliau. Tak heran, beliau termasuk sahabat yang banyak meriwayatkan hadits.

 

http://almanar.wordpress.com/2010/05/05/sanad-fiqih-imam-as-syafi%E2%80%99i/

USHUL FIQIH DAN AS-SYAFI’I


USHUL FIQH DAN AS-SYAFI’I

Written by Miftah AhimyKamis, 20 November 2008

Untuk menganalisa dan sampai pada suatu kesimpulan hukum, Para Mujtahid dihadapkan kepada jalan panjang ; jalan dimana mereka harus menggunakan penalaran akal terhadap apa yang kita kenal dengan Adillah.

Adillah adalah sumber-sumber yang dijadikan dasar kerangka fikir. Sumber-Sumber untuk menetapkan hukum ini banyak macamnya ; yaitu Quran , Sunnah , Istishab , Ijma , Qiyas , Qaul Shahabi , Syara’ man Qablana , Istihsan , Istishlah , Istiqra , Muraa’tul A’raf wal ‘Awaid.

Berbagai macam metode inilah yang akan mengantarkan seorang Mujtahid untuk sampai pada kesimpulannya dalam sebuah hukum.

Sejatinya metode-metode ini –dari urutan ketiga sampai akhir- tidak terlepas dari perselisihan pendapat Ulama tentang keabsahan atau tidaknya untuk dipergunakan. Ini patut diketahui.

Kalau kita mencoba untuk menganalisa lebih jauh lagi, kesebelas sumber metode penetapan hukum di atas akan terbagi menjadi dua ;

Pertama , ada yang menunjukkan hukum yang memang dia sebagai sumber aslinya, dan

Kedua, ada yang menunjukkan hukum tetapi bukan sebagai sumber asli, melainkan mengikut kepada sumber asli.

Yang termasuk dari golongan Pertama adalah Qur an , Sunnah , dan Istishab , selebihnya masuk dalam golongan kedua.

Golongan pertama dari dua bagian ini mempunyai tingkat masing-masing, karena pada dasarnya sumber agama secara asli hanya satu ; Quran ; yang berasal dari Allah SWT secara makna dan lafadz, sehingga hal inilah yang menjadikan-nya berada di urutan level tertinggi.

Adapun Sunnah berada di bawah Al-Quran karena ia merupakan keterangan dari Nabi untuk menjelaskan ayat Al-Quran. Sunnah maknanya dari Allah SWT, dan lafadznya dari Nabi.

Meskipun demikian, Sunnah juga tergolong Sumber asli karena ia bukan semata-mata perkataan dari Nabi sendiri, maka dalam hal ini ia kita kelompok-kan kedalam golongan pertama.

Hal yang sama –pertautan level- juga terjadi pada golongan kedua.

Golongan ini tidak menjadi sumber hukum sebagai sumber asli karena ia membutuhkan sandaran dan tidak dapat berdiri sendiri. Ijmak menjadi sumber hukum karena ada dasar pijakan-nya, baik Quran maupun Sunnah.

Qiyas menjadi sumber hukum karena ada pembandingnya yang ditetapkan Quran ataupun Sunnah.

Qaul Shahabi (Perkataan para Sahabat) menjadi sumber hukum karena ia tidak didasari dari hawa nafsu atau kemauan Sahabat belaka, melainkan atas dasar pemahaman mereka terhadap Quran maupun Sunnah.

Syara’ Man Qablana (Syariat Nabi-nabi terdahulu) tidak dapat menjadi sumber hukum jika tidak disebutkan lagi dalam Syariat kita (Quran atau Sunnah).

Istihsan, Istishlah (sebagian ahli ushul menyebutnya mashalih mursalah) , Istiqra, Mura’atul A’raf wal ‘Awaid pada dasarnya ia bukanlah Adillah sama sekali, Penulis memandangnya lebih dekat kepada sebuah metode tata fikir, karena kesemuanya lebih didominasi oleh peran akal, sedangkan akal sendiri masih dalam perdebatan Ahli Ushul tentang statusnya sebagai sumber hukum atau tidak.

Hal inilah yang menjadikan Istihsan, Istishlah, Istiqra, Muraa’tul A’raf wal ‘Awaid sebagai medan pertempuran akal dalam menganalisa. Ini patut dicermati.

Mengenai akal, Abu Nasr Al Farabi yang dilahirkan pada 870 M berpendapat; bahwa akal terdiri dari dua bagian; yaitu praktis dan teoritis. Akal praktis bekerja menghasilkan kesimpulan dan akal teoritis mencari potensi, kebiasaan dan penemuan.

Mekanisme kerja akal ketika dibenturkan pada sebuah persoalan sebagai berikut; sederhana saja, pertama akal akan menangkap dan menggambarkan wujud benda dengan segala kemungkinan-nya yang akan terjadi, lalu akal teoritis berusaha untuk mengambil hal-hal yang dapat disimpulkan, setelah itu barulah akal praktis menyimpulkan apa yang ditemukan oleh akal teoritis.

Maka dalam hal ini, karena ia lebih dekat kepada produk akal, Istihsan, Istishlah, Istiqra dan Muraa’tul A’raf wal ‘Awaid kita kategorikan dalam golongan kedua sebagai sumber yang mengikut kepada sumber asli. Ini patut disadari.

Di arena semacam inilah naluri keilmiahan dan kemampuan tata fikir seorang Mujtahid dituntut habis-habisan.

Mujtahid tidak cukup untuk hanya memahami secara benar akan makna dari nash saja, melainkan juga dituntut untuk mampu menganalisa situasi dan kondisi yang terjadi, lalu mengkomunikasikan apa yang difahaminya dari nash dengan apa yang difahaminya dari situasi dan kondisi dalam sebuah bingkai keputusan yang tepat.

Seorang mujtahid diduga kuat akan kehilangan fungsinya manakala lemah dalam hal ini.

Berkaitan dengan apa yang telah kita uraikan di atas, ada hal menarik yang dapat kita pelajari terhadap apa yang telah dicapai oleh Muhammad bin Idris As Syafi’i yang diwafatkan pada tahun 150 H. dan yang kita kenal akrab dengan panggilan Imam Syafi’i.

Peletak pokok-pokok bahasan ilmu Ushul Fiqh. Sebuah Ilmu yang menuntun seorang mujtahid untuk mengambil suatu kesimpulan hukum.

Seorang Imam yang senantiasa menggunakan analisa mendalam dan jitu pada madzhabnya, sehingga tidak heran jika madzhabnya dianut oleh sebagian besar dari penduduk muslim di dunia.

Salah satu dari banyaknya kelebihan imam Syafi’i yang sangat menarik adalah metode beliau yang kita kenal dengan Istiqra (Penelitian/penjelajahan lapangan).

Artinya dalam merampungkan sebuah pendapat, beliau tidak hanya berpegang pada analisa terhadap Quran, Sunnah, Ijmak maupun Qiyas, akan tetapi juga memperhatikan serta menganalisa kondisi dan situasi masyarakat di mana pendapat tersebut harus dikeluarkan, lebih jauh nash-nash yang akan diaplikasikan-nya haruslah dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat. Ini patut kita renungi.

Misalnya, untuk menentukan usia di mana seorang wanita sudah mulai haid, maka beliau harus menemui lebih dari 40 wanita untuk menanyakan langsung kepada mereka tentang kapan mulai memasuki usia haid.

Baru setelah itu menyimpulkan pendapat dari jawaban mereka yang telah dikomunikasikan dengan pertimbangan Nash.

Diriwayatkan bahwa seseorang bertanya kepada Imam Syafi’i yang ketika itu sedang duduk di atas untanya;

“Berapa jumlah kaki unta tuan?”. As-Syafi’i tidak langsung menjawab, beliau segera turun dari untanya dan memastikan keadaan empat kaki unta itu satu persatu, lalu akhirnya menjawab “Jumlahnya empat”. Riwayat ini menunjukkan bahwa beliau adalah seorang mujtahid yang sangat teliti penganalisaan-nya dan tidak mencoba untuk menarik sebuah pendapat kecuali setelah perenungan dan penelitian lapangan yang benar-benar otentik.

Kenyataan inilah yang menjadi jabang bayi dan bukti dari apa yang kita kenal sekarang dengan istilah Qaul Qadim dan Qaul Jadid. Yaitu pendapat-pendapat beliau yang dihasilkan di tempat berbeda. Pendapat yang diputuskan di Irak adalah Qaul Qadim, sedangkan Qaul Jadid adalah pendapat beliau yang diputuskan di Mesir.

Kedua negara ini tentu memiliki perbedaan yang cukup menonjol, masing-masing memiliki adat, situasi dan kondisi yang berbeda.

Antara Qaul Qadim dengan Qaul Jadid tentunya tidak dapat terlepas dari perbedaan, meskipun dibangun dari nash yang sama dan analisa mujtahid –As-Syafi’i- yang sama.

Yang menjadi sumber perbedaan di antara keduanya adalah perbedaan Irak dan Mesir yang menjadi pertimbangan analisa Syafi’i sehingga hal itu menjadikan Beliau harus membuat keputusan berbeda sesuai dengan perbedaan situasi dan kondisi kedua negara tersebut.

Apa yang telah dicapai As-Syafi’I telah menunjukkan kepiawaian metode berfikir beliau, terutama dengan metode istiqra-nya.

Pembaca dapat menemukannya secara gamblang dan mendalam tentang kedua pendapat-pendapat beliau ini dalam buku “ al-Imam as-Syafii Baina Madzhabayhi ; al-Qadimi wa al-Jadidi ” karangan Pak Nahrowi Abdussalam; seorang ulama dari betawi lulusan al-Azhar, Cairo. Menurut hemat Penulis, sudah saatnya-lah kita menjadi Syafi’i-syafi’i kecil. Ini patut kita pelajari.

Oleh : Miftahudin Ahimy

IMAM ASY-SYAFI’I -Tingkatan Rujukan yang Berjenjang.


.

Tingkatan Rujukan Imam as-Syafi’i Rahimahullah Secara Berurutan Dalam Ijtihad

Siapa yang tak kenal Imam Muhammad ibn Idris asy-Syafi’i rahimahullah? Beliau adalah seorang ‘aalim, mujtahid muthlaq, pakar ushul fiqih, hadits, tafsir dan bahasa.

Beliau juga merupakan pendiri salah satu madzhab fiqih terbesar saat ini, yaitu madzhab Syafi’i. ‘Ulama pun sepakat mendudukkan beliau sebagai mujaddid abad ke-2 hijriyah.

Kali ini saya akan menyampaikan sebagian metode beliau dalam melakukan ijtihad. Referensi saya adalah kitab Tafsir al-Imam asy-Syafi’i karya Dr. Ahmad ibn Mushthafa al-Farran.

Salah satu rujukan yang digunakan oleh Dr. Ahmad ibn Mushthafa al-Farran adalah kitab asy-Syafi’i Hayatuhu wa ‘Ashruhu karya Syaikh Muhammad Abu Zahrah, selain rujukan-rujukan yang lain tentunya.

Beberapa hal yang perlu kita renungi

Imam asy-Syafi’i rahimahullah membagi ‘ilm menjadi dua, yaitu ‘ilm ‘aammah dan ‘ilm khaashshah.

‘Ilm ‘aammah merupakan ilmu yang wajib diketahui oleh setiap muslim yang mukallaf, seperti kewajiban shalat lima waktu dan puasa Ramadhan serta keharaman zina dan meminum khamr.

‘Ilm khaashshah ini merupakan kajian para fuqaha’ dan mujtahid, hukumnya fardhu kifayah untuk dipelajari.

Dalam proses ijtihad, Imam asy-Syafi’i menggunakan beberapa tingkatan rujukan yang digunakan secara berurutan.

Maksudnya, beliau akan menggunakan tingkatan pertama terlebih dulu, jika tidak ada baru beliau menggunakan tingkatan kedua, demikian seterusnya.

Berikut tingkatan rujukan yang digunakan oleh Imam asy-Syafi’i:

1. Merujuk kepada al-Kitab dan as-Sunnah ash-Shahihah.

Imam asy-Syafi’i meletakkan al-Kitab dan as-Sunnah ash-Shahihah dalam satu tingkatan, karena as-Sunnah berfungsi untuk menjelaskan isi al-Kitab dan memperincinya.

Dan mencukupkan diri dengan al-Qur’an jika tidak ada tambahan penjelasan dari as-Sunnah ash-Shahihah.

2. Merujuk kepada Ijma’ ‘Ulama jika tidak terdapat dalam al-Kitab dan as-Sunnah ash-Shahihah.

Ijma’ ‘Ulama yang dimaksud adalah ijma’ ‘ulama yang memiliki ‘ilm khaashshah ( faqih dan mujtahid ).

Dan ijma’ ini haruslah tidak berdasarkan ra’y ( pendapat ‘aqli, tanpa nash yang jelas ), karena jika berdasarkan ra’y tentulah ‘ulama akan berselisih dan tidak akan bersepakat ( ber-ijma’ ).

3. Perkataan sebagian shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan ra’y, tanpa diketahui ada satu orang shahabat pun yang menyelisihinya.

Menurut Imam asy-Syafi’i, ra’y shahabat lebih baik dari ra’y selain mereka, termasuk ra’y beliau sendiri.

Dengan syarat, periwayatan ra’y shahabat tersebut aman dari berbagai kekeliruan.

4. Perselisihan pendapat shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu perkara.

Yang dipilih adalah yang paling mendekati al-Kitab dan as-Sunnah ash-Shahihah atau yang dikuatkan oleh qiyas.

5. Melakukan qiyas pada satu perkara yang telah diketahui hukumnya berdasarkan empat tingkatan sebelumnya.

Yaitu qiyas terhadap perkara yang sudah ada nash-nya dalam al-Kitab dan atau as-Sunnah ash-Shahihah, atau diketahui hukumnya berdasarkan ijma’, atau qiyas terhadap perkara yang diketahui hukumnya berdasarkan perkataan sebagian shahabat tanpa ada yang menyelisihinya dan yang terdapat perselisihan di antara mereka.

Blog Abu Furqan

oooooooooooooooo

QAUL QADIM – QAUL JADID / Imam Shalat.



.

Yang berhak menjadi imam bagi suatu kaum dalam shalat berjama’ah menurut sunnah Nabi Muhammad saw.

adalah orang yang paling ahli dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an dan paling mengerti hukum-hukum fiqih.

Hal ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad saw. yang diriwayatkan oleh Abu Mas’ud Al-Badri:

يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ وَأَكْثَرُهُمْ قِرَاءَةً. فَإِنْ كَانَتْ قِرَاءَتُهُمِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً . فَإِنْ كَانُوْا فِي الْهِجْرَةِ سَوًاءً فَأَكْبَرُهُمْ سَنًّا .

 Yang boleh mengimami kaum itu adalah orang yang paling pandai di antara mereka dalam memahami kitab Allah (Al Qur’an) dan yang paling banyak bacaannya di antara mereka. Jika pemahaman mereka terhadap Al-Qur’an sama, maka yang paling dahulu di antara mereka hijrahnya ( yang paling dahulu taatnya kepada agama). Jika hijrah (ketaatan) mereka sama, maka yang paling tua umurnya di antara mereka 

.

Fuqaha lebih utama 

Sahabat Nabi saw. yang paling banyak memahami kitab Al-Qur’an adalah orang yang paling banyak pengetahuannya terhadap fiqih.

Karena mereka membaca ayat Al-Qur’an dan mempelajari hukum-hukumnya.

Oleh karena shalat itu memerlukan keabsahan kepada bacaan Al-Qur’an dan fiqih.

Maka orang yang ahli membaca Al-Qur’an dan ahli fiqih harus didahulukan daripada selainnya.

Jika salah seorang di antara para ma’mum lebih pandai membaca Al-Qur’an dan lebih pandai dalam fiqih, maka dia didahulukan dari pada lainnya.

Fuqaha lebih utama dari Hafidz.

Jika salah seorang di antara para ma’mum pandai dalam bidang fiqih, sedang yang lain lebih pandai membaca Al-Qur’an, maka yang lebih pandai fiqih adalah lebih utama.

Alasannya :

Karena barangkali dalam shalat tersebut terjadi sesuatu kejadian yang memerlukan kepada ijtihad.

.

.

Jika ada dua orang yang sama pandainya dalam bidang fiqih dan bacaan Al-Qur’an, dalam hal ini ada dua pendapat:

Imam Asy-Syafi’i dalam QAUL QADIM berpendapat:

.

YANG HARUS DIDAHULUKAN MENJADI IMAM SHALAT.

 

  • Yang didahulukan adalah orang yang

  • lebih mulia kedudukannya dalam masyarakat,

  • lalu orang yang lebih dahulu hijrahnya


  • kemudian orang yang lebih tua umurnya

dan inilah pendapat yang lebih kuat.

.

Orang yang lebih dahulu hijrahnya lebih didahulukan dari pada orang yang lebih tua umurnya adalah berdasarkan hadits dari Abu Mas’ud Al-Badri.

.

Orang Mulya Kedudukannya didahulukan atas yang berHijrah.

Tidak ada perbedaan pendapat mengenai orang yang mulia kedudukannya di masyarakat lebih didahulukan dari pada orang yang lebih dahulu hijrahnya.

Yang ber Hijrah lebih utama dari dari Orang Tua.

Jika orang yang lebih dahulu hijrahnya lebih didahulukan dari pada orang yang lebih tua umurnya, maka mendahulukan orang yang lebih mulia keduduknya di masyarakat daripada orang yang lebih dahulu hijrahnya adalah lebih utama.

.

  • Dalam QAUL JADID  Imam Asy-Syafi’i berpendapat bahwa orang yang lebih tua umurnya harus didahulukan
  • Kemudian orang yang lebih mulia kedudukannya di masyarakat,
  • Kemudian orang yang lebih dahulu hijrahnya.

Hal ini berdasarkan riwayat Malik bin Huwairits bahwa Nabi Muhammad saw. telah bersabda:

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّي وَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَ  .

Mendahulukan orang yang umurnya lebih tua, adalah karena orang yang lebih tua itu lebih khusyu’ dalam shalat, sehingga lebih utama.

.

Yang sudah lama memeluk Islam.

Umur yang berhak untuk didahulukan menjadi imam adalah umur dalam masuk agama Islam.

Adapun jika seseorang menjadi tua dalam kekafiran, kemudian masuk Islam, maka tidak didahulukan atas pemuda yang tumbuh dalam Islam.

Orang mulia yang berhak untuk didahulukan adalah apabila orang tersebut dari golongan Quraisy.

Yang dimaksud dengan hijrah di sini adalah dari orang yang berhijrah dari Makkah kepada Rasulullah saw., atau dari anak cucu mereka.

Apabila ada dua orang yang sama dalam ketentuan-ketentuan tersebut, maka sebagian dari para ulama’ terdahulu berpendapat bahwa yang didahulukan adalah orang yang paling baik di antara mereka.

Di antara para pendukung madzhab Syafi’i ada orang yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan orang yang paling baik tersebut adalah orang yang paling baik rupanya. ( rupawan ).

Di antara mereka ada orang yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan orang yang paling  di sini adalah orang yang paling baik sebutannya di masyarakat.

Utamakan Pemilik Rumah / Tempat.

Jika orang-orang yang berhak menjadi imam yang telah disebutkan di atas berkumpul dengan pemilik rumah, maka pemilik rumah adalah lebih utama menjadi imam daripada mereka.

Hal ini sesuai dengan apa yang diriwayatkan dari Abu Mas’ud Al-Badri bahwa Nabi Besar Muhammad saw. bersabda:

.

لاَ يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي أَهْلِهِ وَلاَ سُلْطَانِهِ وَلاَ يَجْلِسْ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلاَّ بِإِذْنِهِ.

 Janganlah sekali-kali seseorang laki-laki mengimami orang laki-laki lain pada keluarga laki-laki lain tersebut dan janganlah seseorang laki-laki duduk pada tempat duduk yang khusus bagi laki-laki lain, kecuali dengan izinnya 

.

Penyewa Rumah lebih utama

Jika datang pemilik rumah dan orang yang menyewa rumah tersebut, maka penyewa rumah lebih utama untuk menjadi imam. Karena penyewa rumah lebih berhak mempergunakan manfaat-manfaat dari rumah tersebut.

Bapak  belian

Jika datang pemilik budak belian dan budak belian dalam sebuah rumah yang dibangunkan oleh majikan (pemilik budak) untuk tempat tinggal budak tersebut, maka sang majikan lebih utama untuk menjadi imam. Karena majikan tersebut adalah pemilik rumah tersebut pada hakikatnya, bukan si budak belian.

Budak Belian

Jika berkumpul selain majikan dan budak dalam rumah budak tersebut, maka si budak lebih utama menjadi imam. Karena budak tersebut lebih berhak dalam mengatur rumah tersebut.

Imam Masjid utamakan

Jika orang-orang tersebut di atas berkumpul di masjid bersama imam masjid, maka imam masjid tersebut adalah lebih utama untuk dijadikan imam.

Karena telah diriwayatkan bahwa Abdullah Umar mempunyai budak yang shalat dalam masjid, kemudian Ibnu Umar datang dan budaknya meminta beliau berdiri di depan sebagai imam.

Ibnu Umar ra berkata:

Engkau lebih berhak menjadi imam di masjidmu “

.

Imam Masjid dengan pemilik Rumah

Jika imam dari orang-orang muslim berkumpul dengan pemilik rumah atau dengan imam masjid, maka imam dari orang-orang muslim tersebut adalah lebih utama, karena kekuasaannya adalah bersifat umum dan karena dia adalah pemimpin sedang orang-orang tersebut adalah orang-orang yang dipimpin;

sehingga mendahulukan pemimpin adalah lebih utama.

Status Musafir dengan Musafir.

Jika berkumpul orang musafir dan orang mukim, maka orang yang mukim adalah lebih utama.

Status Mukim / Pribumi.

Karena sesungguhnya jika orang mukim menjadi imam, maka seluruhnya menyempurnakan shalat sehingga mereka tidak berbeda.

Status Mukim dengan Musafir.

Dan jika orang musafir yang menjadi imam, maka mereka berbeda-beda dalam jumlah rakaat.

Status Budak Belian.

Jika orang merdeka berkumpul dengan budak belian, maka orang merdeka lebih utama. Karena menjadi imam itu adalah tempat kesempurnaan, sedangkan orang merdeka itu adalah yang lebih sempurna.

Status Orang Fasik.

Jika orang yang adil dan orang yang fasik berkumpul, maka orang yang adil adalah lebih diutamakan, karena dia lebih utama.

Status Anak hasil Zina

Jika anak zina berkumpul dengan lainnya, maka lainnya adalah lebih utama. Sayyidina Umar ra. dan Mujahid menganggap makruh anak zina menjadi imam, sehingga selain anak zina adalah lebih utama dari pada anak zina.

Yang Buta dan yang Melihat – haknya sama.

Jika berkumpul orang yang dapat melihat dengan orang yang buta, maka menurut ketentuan nas dalam hal menjadi imam adalah bahwa kedua orang tersebut sama. Sebab orang yang buta itu mempunyai kelebihan karena dia tidak melihat hal-hal yang dapat melengahkannya. Sedang orang yang dapat melihat juga memiliki kelebihan, yaitu dapat menjauhkan diri dari najis.

Abu Ishaq Al-Maruzi berpendapat bahwa orang yang buta lebih utama.

Sedangkan menurut Abu Ishaq As-Syairazi orang yang dapat melihat adalah lebih utama. Karena dia dapat menjauhi barang najis yang dapat merusak shalat.

Sedang orang yang buta dapat meninggalkan memandang kepada hal-hal yang dapat melengahkannya – dan hal tersebut tidak merusak shalat.

http://infopesantren.web.id/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/menuju_kesempurnaan_shalat/03.single#top

Mazhab-Mazhab Fiqih dan Pengertiannya.


 

.

Istilah madzhab merupakan sighat isim makan dari fi’il madli yaitu Dzahaba. Dzahaba artinya pergi; oleh karena itu mazhab artinya: tempat pergi atau jalan. Kata-kata yang semakna ialah: maslak, thariiqah dan sabiil, yang kesemuanya berarti jalan atau cara. Demikian pengertian mazhab menurut bahasa.

Pengertian madzhab menurut istilah dalam kalangan umat Islam ialah, “Sejumlah dari fatwa-fatwa dan pendapat-pendapat seorang alim besar di dalam urusan agama, baik ibadah maupun lainnya.”

Setiap mazhab punya guru dan tokoh-tokoh yang mengembangkannya. Biasanya mereka punya lembaga pendididikan yang mengajarkan ilmu-ilmu kepada ribuan muridnya.

Berkembangnya suatu madzhab di sebuah wilayah sangat bergantung dari banyak hal. Salah satunya dari keberadaan pusat-pusat pengajaran madzhab itu sendiri.

Selain itu sedikit banyak dipengaruhi juga oleh madzhab yang dianut oleh penguasa, di mana penguasa biasanya mendirikan universitas keagamaan dan mengajarkan mazhab tertentu di dalamnya.

Nanti para mahasiswa yang berdatangan dari berbagai penjuru dunia akan membuka perguruan tinggi dan akan menyebarkan madzhab tersebut di negeri masing-masing.

Bila pengelilaan perguruan itu berjalan baik dan berhasil, biasanya akan mempengaruhi ragam madzhab penduduk suatu negeri.

Di Mesir misalnya, madzhab As-Syafi’i di sana berhasil mengajarkan dan mendirikan perguruan tinggi, lalu punya banyak murid di antaranya dari Indonesia.

Maka di kemudian hari, madzhab As-Syafi’i pun berkembang banyak di Indonesia.

.

Sekilas tentang 4 Mazhab

.

1. Mazhab Hanafi

Pendiri madzhab Hanafi ialah: Nu’man bin Tsabit bin Zautha.

Dilahirkan pada masa sahabat, yaitu pada tahun 80 H = 699 M.

Beliau wafat pada tahun 150 H bertepatan dengan lahirnya Imam Syafi’i R.A. Beliau lebih dikenal dengan sebutan: Abu Hanifah An Nu’man.

Abu Hanifah adalah seorang mujtahid yang ahli ibadah. Dalam bidang fiqh beliau belajar kepada Hammad bin Abu Sulaiman pada awal abad kedua hijriah dan banyak belajar pada ulama-ulama Ttabi’in, seperti Atha bin Abi Rabah dan Nafi’ Maula Ibnu Umar.

Madzhab Hanafi adalah sebagai nisbah dari nama imamnya, Abu Hanifah.

Jadi madzhab Hanafi adalah nama dari kumpulan-kumpulan pendapat-pendapat yang berasal dari Imam Abu Hanifah dan murid-muridnya serta pendapat-pendapat yang berasal dari para pengganti mereka sebagai perincian dan perluasan pemikiran yang telah digariskan oleh mereka yang kesemuanya adalah hasil dari pada cara dan metode ijtihad ulama-ulama Irak ( Ahlu Ra’yi ).

Maka disebut juga mazhab Ahlur Ra’yi masa Tsabi’it Tabi’in.

Dasar-dasar Mazhab Hanafi

Abu Hanifah dalam menetapkan hukum fiqh terdiri dari tujuh pokok, yaitu:

Al-Kitab, As Sunnah, Perkataan para Sahabat, Al-Qiyas, Al-Istihsan, Ijma’ dan Uruf.

Murid-murid Abu Hanifah adalah sebagai berikut:

a. Abu Yusuf bin Ibrahim Al-Anshari (113-183 H)
b. Zufar bin Hujail bin Qais al-Kufi (110-158 H)
c. Muhammad bin Hasn bin Farqad as Syaibani (132-189 H)
d. Hasan bin Ziyad Al-Lu’lu Al-Kufi Maulana Al-Anshari (….-204 H).

Daerah-daerah Penganut Mazhab Hanafi

Madzhab Hanafi mulai tumbuh di Kufah (Irak), kemudian tersebar ke negara-negara Islam bagian Timur. Dan sekarang ini mazhab Hanafi merupakan mazhab resmi di Mesir, Turki, Syiria dan Libanon.

Dan madzhab ini dianut sebagian besar penduduk Afganistan, Pakistan, Turkistan, Muslimin India dan Tiongkok.

2. Mazhab Maliki

Madzhab Maliki adalah merupakan kumpulan pendapat-pendapat yang berasal dari Imam Malik dan para penerusnya di masa sesudah beliau meninggal dunia.

Nama lengkap dari pendiri madzhab ini ialah: Malik bin Anas bin Abu Amir. Lahir pada tahun 93 M = 712 M di Madinah.

Selanjutnya dalam kalangan umat Islam beliau lebih dikenal dengan sebutan Imam Malik. Imam Malik terkenal dengan imam dalam bidang hadits Rasulullah SAW.

Imam Malik belajar pada ulama-ulama Madinah.

Yang menjadi guru pertamanya ialah Abdur Rahman bin Hurmuz. Beliau juga belajar kepada Nafi’ Maula Ibnu Umar dan Ibnu Syihab Az Zuhri.

Adapun yang menjadi gurunya dalam bidang fiqh ialah Rabi’ah bin Abdur Rahman.

Imam Malik adalah imam ( tokoh ) negeri Hijaz, bahkan tokohnya semua bidang fiqh dan hadits.

Dasar-dasar Mazhab Maliki

Dasar-dasar madzhab Maliki diperinci dan diperjelas sampai tujuh belas pokok ( dasar ) yaitu:

  • Nashshul Kitab
  • Dzaahirul Kitab ( umum )
  • Dalilul Kitab ( mafhum mukhalafah )
  • Mafhum muwafaqah
  • Tanbihul Kitab, terhadap illat
  • Nash-nash Sunnah
  • Dzahirus Sunnah
  • Dalilus Sunnah
  • Mafhum Sunnah
  • Tanbihus Sunnah
  • Ijma’
  • Qiyas
  • Amalu Ahlil Madinah
  • Qaul Shahabi
  • Istihsan
  • Muraa’atul Khilaaf
  • Saddud Dzaraa’i.

Sahabat-sahabat Imam Maliki dan Pengembangan Mazhabnya

Di antara ulama-ulama Mesir yang berkunjung ke Madinah dan belajar pada Imam Malik ialah:

  1. Abu Muhammad Abdullah bin Wahab bin Muslim.
  2. Abu Abdillah Abdur Rahman bin Qasim al-Utaqy.
  3. Asyhab bin Abdul Aziz al-Qaisi.
  4. Abu Muhammad Abdullah bin Abdul Hakam.
  5. Asbagh bin Farj al-Umawi.
  6. Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam.
  7. Muhammad bin Ibrahim bin Ziyad al-Iskandari.

Adapun ulama-ulama yang mengembangkan madzhab Maliki di Afrika dan Andalus ialah:

  1. Abu Abdillah Ziyad bin Abdur Rahman al-Qurthubi.
  2. Isa bin Dinar al-Andalusi.
  3. Yahya bin Yahya bin Katsir Al-Laitsi.
  4. Abdul Malik bin Habib bin Sulaiman As Sulami.
  5. Abdul Hasan Ali bin Ziyad At Tunisi.
  6. Asad bin Furat.
  7. Abdus Salam bin Said At Tanukhi.

Sedang Fuqaha-fuqaha Malikiyah yang terkenal sesudah generasi tersebut di atas adalah sebagai berikut:

  1. Abdul Walid al-Baji
  2. Abdul Hasan Al-Lakhami
  3. Ibnu Rusyd Al-Kabir
  4. Ibnu Rusyd Al-Hafiz
  5. Ibnu ‘Arabi
  6. Ibnul Qasim bin Jizzi

Daerah-daerah yang Menganut Mazhab Maliki.

Awal mulanya tersebar di daerah Madinah, kemudian tersebar sampai saat ini di Marokko, Aljazair, Tunisi, Libia, Bahrain, dan Kuwait.

3.Mazhab Syafi’i.

Mazhab ini dibangun oleh Al-Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi’i

seorang keturunan Hasyim bin Abdul Muthalib bin Abdi Manaf.

Beliau lahir di Gaza ( Palestina ) tahun 150 H bersamaan dengan tahun wafatnya Imam Abu Hanifah yang menjadi Madzhab yang pertama.

Guru Imam Syafi’i yang pertama ialah Muslim bin Khalid, seorang Mufti di Mekah.

Imam Syafi’i sanggup hafal Al-Qur-an pada usia tujuh tahun.

Setelah beliau hafal Al-Qur-an barulah mempelajari bahasa dan syi’ir.

kemudian beliau mempelajari hadits dan fiqh.

Mazhab Syafi’i terdiri dari dua macam;

Berdasarkan atas masa dan tempat beliau mukim. Yang pertama ialah QAUL QADIM

Yaitu madzhab yang dibentuk sewaktu hidup di Irak.

Dan yang kedua ialah QAUL JADID –  yaitu madzhab yang dibentuk sewaktu beliau hidup di Mesir pindah dari Irak.

Keistimewaan Imam Syafi’i dibanding dengan Imam Mujtahidin yaitu bahwa beliau merupakan peletak batu pertama ilmu Ushul Fiqh dengan kitabnya Ar Risaalah.

Dan kitabnya dalam bidang fiqh yang menjadi induk dari mazhabnya ialah: Al-Um.

Dasar-dasar Mazhab Syafi’i

Dasar-dasar atau sumber hukum yang dipakai Imam Syafi’i dalam mengistinbat hukum sysra’ adalah:

  1. Al-Kitab.
  2. Sunnah Mutawatirah.
  3. Al-Ijma’.
  4. Khabar Ahad.
  5. Al-Qiyas.
  6. Al-Istishab.

Sahabat-sahabat beliau yang berasal dari Irak antara lain:

  1. Abu Tsaur Ibrahim bin Khalid bin Yaman al-Kalabi al-Bagdadi.
  2. Ahmad bin Hanbal yang menjadi Imam Mazhab keeempat.
  3. Hasan bin Muhammad bin Shabah Az Za’farani al-Bagdadi.
  4. Abu Ali Al-Husain bin Ali Al-Karabisi.
  5. Ahmad bin Yahya bin Abdul Aziz al-Bagdadi.

Adapun sahabat beliau dari Mesir:

  1. Yusuf bin Yahya al-Buwaithi al-Misri.
  2. Abu Ibrahim Ismail bin Yahya al-Muzani al-Misri.
  3. Rabi’ bin Abdul Jabbar al-Muradi.
  4. Harmalah bin Tahya bin Abdullah Attayibi
  5. Yunus bin Abdul A’la Asshodafi al-Misri.
  6. Abu Bakar Muhammad bin Ahmad.

Daerah-daerah yang Menganut Mazhab Syafi’i

Mazhab Syafi’i sampai sekarang dianut oleh umat Islam di: Libia, Mesir, Indonesia, Pilipina, Malaysia, Somalia, Arabia Selatan, Palestina, Yordania, Libanon, Siria, Irak, Hijaz, Pakistan, India, Jazirah Indo China, Sunni-Rusia dan Yaman.

4. Madzhab Hambali.

Pendiri Madzhab Hambali ialah: Al-Imam Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal bin Hilal Azzdahili Assyaibani.

Beliau lahir di Bagdad pada tahun 164 H. dan wafat tahun 241 H.

Ahmad bin Hanbal adalah seorang imam yang banyak berkunjung ke berbagai negara untuk mencari ilmu pengetahuan, antara lain: Siria, Hijaz, Yaman, Kufah dan Basrsh. Dan beliau dapat menghimpun sejumlah 40.000 hadits dalam kitab Musnadnya.

Dasar-dasar Madzhabnya.

Adapun dasar-dasar mazhabnya dalam mengistinbatkan hukum adalah:

  1. Nash Al-Qur-an atau nash hadits.
  2. Fatwa sebagian Sahabat.
  3. Pendapat sebagian Sahabat.
  4. Hadits Mursal atau Hadits Dha’if.
  5. Qiyas.

Dalam menjelaskan dasar-dasar fatwa Ahmad bin Hanbal ini di dalam kitabnya I’laamul Muwaaqi’in.

Pengembang-pengembang Madzhabnya

Adapun ulama-ulama yang mengembangkan madzhab Ahmad bin Hanbal adalah sebagai berikut:

  1. Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Hani yang terkenal dengan nama Al-Atsram –  dia telah mengarang Assunan Fil Fiqhi ‘Alaa Mazhabi Ahamd.
  2. Ahmad bin Muhammad bin Hajjaj al-Marwazi yang mengarang kitab As Sunan Bisyawaahidil Hadis.
  3. Ishaq bin Ibrahim yang terkenal dengan nama Ibnu Ruhawaih al-Marwazi dan termasuk ashab Ahmad terbesar yang mengarang kitab As Sunan Fil Fiqhi.

Ada beberapa ulama yang mengikuti jejak langkah Imam Ahmad yang menyebarkan madzhab Hambali, di antaranya:

  1. Muwaquddin Ibnu Qudaamah al-Maqdisi yang mengarang kitab Al-Mughni.
  2. Syamsuddin Ibnu Qudaamah al-Maqdisi pengarang Assyarhul Kabiir.
  3. Syaikhul Islam Taqiuddin Ahmad Ibnu Taimiyah pengarang kitab terkenal Al-Fataawa.
  4. Ibnul Qaiyim al-Jauziyah pengarang kitab I’laamul Muwaaqi’in dan Atturuqul Hukmiyyah fis Siyaasatis Syar’iyyah.Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qaiyim adalah dua tokoh yang membela dan mengembangkan mazhab Hambali.

Daerah yang Menganut Madzhab Hambali.

Awal perkembangannya, madzhab Hambali berkembang di Bagdad, Irak dan Mesir dalam waktu yang sangat lama.

Pada abad XII madzhab Hambali berkembang terutama pada masa pemerintahan Raja Abdul Aziz As Su’udi. ( saat ini menganut Faham Abu Hanifah …pen ).

Dan masa sekarang ini menjadi madzhab resmi pemerintahan Saudi Arabia dan mempunyai penganut terbesar di seluruh Jazirah Arab, Palestina, Siria dan Irak.

Demikian sekilas sejarah dan penjelasan dari keempat madzhab yang terkenal.

.


Ahmad Sarwat, Lc