Al Qur’an bukan makhluk


 

.

Telah tetap dari imam Al Karobisi Rohimahullah sesungguhnya beliau berkata:لفظى بالقرآن مخلوق lafazku dengan al-Quran itu makhluk” dan perkataan ini pun di fahami juga dari perkataan Imam Abu Hanifah RODIYALLAHU Anhu,dan juga di fahami dari sebagian perkataan Imam Al muhaddis AL Bukhari RA yang memiliki kita As Sohih Al Jami ,walau pun ada sebagian orang yang kurang memahami perkataan Al Bukhari ini,adapun Imam Ahmad,maka beliau menisbatkan label jahmiyah bagi orang yang berkata seperti itu,dan menyatakan bidah bagi yg berkata;Alquran bukan mahluk”, maka sebenarnya dalam masalah ini perlu perincian dan penjelasan yang detail,dengan meminta pertolongan Allah seraya memujiNya,aku berkata:

Abu Ĥaniifah yang jelas termasuk salaf menjelaskan apa yang dimaksud dengan ungkapan: “Al-Qur’an tidak diciptakan” ketika beliau mengatakan dalam Al-Fiqh Al-Akbar:

 

والقرآن كلام الله تعالى في المصاحف مكتوب, وفي القلوب محفوظ وعلى الألسن مقروء, وعلى النبي عليه الصلاة والسلام منزل, ولفظنا بالقرآن مخلوق وكتابتنا له مخلوقة وقرائتنا له مخلوقة والقرآن غير مخلوق. 

 

:Al-Qur’an adalah kalam Allah Taalaa, yang ditulis pada halaman (muşĥafs), dihafal di dalam hati, diucapkan di lidah, dan di turunkan kepada Nabi (sall-Allahu alaihi wa sallam),Dan Ucapan kami dgn bacaan Al-Qur’an itu diciptakan, dan bacaan kami dari Al-Qur’an itu dibuat[MAHLUK], tetapi Al-Qur’an tidak diciptakan.

 

Maka kata “Al-Qur’an”, dalam ujung perkataan beliau itu maksudnya adalah sifat kalam Allah” yakni kalimat “al Qur’an” DALAM PERKATAAN itu mengacu pada SIFAT kalam Allah yang qodim/ kekal yang bukan berupa huruf, jadi tdk ada perbedaan antara kalimat: “sifat kalam ” dan kalimat “Al-Qur’an,” keduanya adalah sinonim. abu hanifah lebih membuat jelas lagi ketika ia mengatakan dalam beberapa paragraf berikutnya:

 

ويتكلم لا ككلامنا ونحن نتكلم بالآلات والحروف والله تعالى يتكلم بلا آلة ولاحروف. 

Allah berbicara, tetapi tidak seperti pembicaraan kita,kita berbicara melalui instrumen (pita suara, anggota badan, huruf,suara] tetapi Allah berbicara tanpa instrumen atau pun huruf.

 

والحروف مخلوقة وكلام الله تعالى غير مخلوق. 

 

huruf adalah ciptaan, dan kalam Allah itu tidak diciptakan.

 

Jadi Abuu Ĥaniifah mengatakan bahwa “Al-Qur’an itu kalam Allah,” dan kemudian berkata: “Allah berbicara dgn tanpa instrumen atau huruf.” lebih lanjut ia menekankan hal ini dengan mengatakan “huruf adalah ciptaan, dan kalam Allah itu tidak diciptakan,yakni sifat kalam Allah bukan dgn huruf…

 

Dari ungkapan beliau ini dapat disimpulkan bahwa kalaimat “Al-Qur’an” itu memiliki dua makna, Yang pertama adalah sifat kalam qodim Allah , sedangkan makna yang kedua adalah huruf, bahasa Arab fasih dalam mushaf, contoh makna ke dua ini seperti ketika seseorang berkata: “tolong bawakan al-Quran di rak”, yakni maksudnya mushaf. Ketika salaf berkata: “Al-Qur’an tidak diciptakan,”maka jelas yang dimaksud oleh mereka adalah makna yang pertama, bukan yang kedua.

Inilah penjabaran daripada perkataan Imam Abu Hanifah RA YANG MESTI KITA KETAHUI, Karena SELANJUTNYA kita akan menjumpai perkataan Al Imam Ahmad RA yg berkata;

 

ومن قال لفظي بالقرآن مخلوق فهو جهمي، ومن قال لفظي بالقرآن غير مخلوق فهو مبتدع 

 

: barang siapa berkata :lafazku dengan al-Quran adalah makhluk’ maka dia seorang Jahmi dan barang siapa berkata : ‘pelafadan Al Quran bukan makhluk’ maka dia mubtadi[ahli bidah]‘ 

 

sedangkan sebagaimana telah di sebutkan bahwa imam Abu Hanifah berkata: ولفظنا بالقرآن مخلوق lafad kami dengan Al quran itu mahluk’ “maka ibarat dari perkataan beliau ini memungkinkan muncul pemaknaan atau penafsiran yg salah dan juga MUNGKIN  MAKNA yg benar.sebagaimana akan kita ketahui di depan

 

 

Adapun perkataan Imam Ahmad RA:

ومن قال لفظي بالقرآن مخلوق فهو جهمي، ومن قال لفظي بالقرآن غير مخلوق فهو مبتدع 

 

barang siapa berkata : lafazku dengan al-Quran adalah makhluk’ maka dia seorang Jahmi dan barang siapa berkata : ‘pelafadan Al Quran bukan makhluk’ maka dia mubtadi [ahli bidah] ‘

Maksud SEBENARNYA BELIAU DENGAN PERKATAANNYA TERSEBUT ADALAH sebuah bentuk larangan beliau atas dasar waronya beliau, supaya siapa pun jangan membahas dan berkata”lafad alquran itu mahluk atau pun bukan mahluk.

 

lalu jika seseorang berkata;lafadz kami dengan Al quran adalah mahluk /Al quran mahluk, “,perkataannya ini memiliki dua kemungkinan :

 

pertama jika maksud dari perkataan ” Al Quran ”  adalah bahwa bacaannya,huruf huruf dan suara dalam mushaf adalah mahluk, maka ini adalah benar,walau pun Salaf mengatakan bahwa perkataan Al-Qur’an mahluq/diciptakan dengan maksud huruf yang tertera dalam mushaf adalah mahluk, adalah bidah atau sebuah inovasi jelek,alasannya karena dapat menyesatkan seseorang,yakni  akan menimbulkan orang utk berpikir bahwa sifat Allah yakni kalamNya itu di ciptakan/dibuat. Ibnu Aabidiin dalam Ĥaasħiyah nya 3/712 (Dar Al-Fikr ) mengatakan: “Intinya bahwa yang tidak diciptakan itu adalah Al-Qur’an dgn makna “kalam Allah” yaitu sifat (abadi) yang tetap pada Diri-Nya, dan bukan “alquran” dalam arti ungkapkan huruf dalam mushaf. sehingga bukan makna ini yang dimaksudkan.

 

Kedua jika yang di maksud dengan perkataan ‘Al quran” itu adalah hanya tex dalam mushaf yg di baca lafadnya dan di sertai meniadakan sifat Kalam Allah ,dengan meyakini bahwa kalamnya hanyalah sesuatu yg di ciptakanNya yg di tulis di mushaf,atau di papan DLL,maka ini adaLah jahmi

 

Maka apa yang di maksud oleh imam Ahmad dari perkataan “lafadz alquran” itu memiliki dua makna:

Pertama adalah muta’aliq malfud;sesuatu yang taaluq dengan yang di lafadkan yakni sifat Kalam Allah,maka ini tdk ada kekuasaan bagi hamba dan tdk mungkin bisa di lakukannya,

Kedua adalah talafud; melafadkan tex dalam mushaf,maka ini adalah perbuatan hamba.

Nah jika seseorang berkata: “Al-Qur’an mahluq/diciptakan,” maka itu akan memberi waham;sangkaan atas makna yg pertama yakni sifat kalam Allah itu di ciptakan,maka ini jelas salah.dan begitu juga jika seseorang berkata Alquran tidak di ciptakan:,maka ini pun akan memberi waham; sangkaan atas makna yang kedua yakni sangkaan bahwa text huruf2 mushaf dan suara yg membaca mushaf tidak di ciptakan,dan ini pun salah, oleh sebab itu maka Imam Ahmad mengambil sikap melarang menyebutkan alquran mahluk atau pun bukan mahluk,karena keduanya akan menimbulkan waham;salah sangka. itulah kenapa Imam Ahmad RA berkata:

 

 

ومن قال لفظي بالقرآن مخلوق فهو جهمي، ومن قال لفظي بالقرآن غير مخلوق فهو مبتدع 

 

: barang siapa berkata :lafazku dengan al-Quran adalah makhluk’ maka dia seorang Jahmi dan barang siapa berkata : ‘pelafadan Al Quran bukan makhluk’ maka dia mubtadi[ahli bidah]‘ 

 

Lalu Imam Abdullah Al bukhari menjelaskan dan memisahkan juga membedakan antara sesuatu yg berdiri pada Allah dengan sesuatu yang berdiri pada Hamba, Imam Bukhari menyebut mahluk bagi pelafadzan/lafad alquran yang ada pada mushaf alquran,begitu juga beliau menyatakan kemahlukan suara ,gerakan dan penulisan alquran,dan beliau menafikan kemahlukkan daripada mutaaliq malfud; yang di taaluqi oleh lafad Alquran yakni Kalam Allah,sebagaimana masalah ini telah di beberkannya dalam kitab kholqu af’al al ibad,di dalamnya beliau telah mendatangkan penjelasan dan perbedaan dengan luas antara keduanya yg dengannya hilanglah subhat dan jelaslah al haq,Berkata Al Bukhari RA DALAM KITABNYA KHOLQU AF’AL AL IBAD 2/119:

 

 بل المعروف عن أحمد وأهل العلم أن كلام الله تعالى غير مخلوق وما سواه فهو مخلوق وأنهم كرهوا البحث والتفتيش عن الأشياء الغامضة وكان يجتنب أهل الكلام والخوض والتنازع إلا فيما جاء به العلم وبينه النبي صلى الله عليه وسلم. 

 

:Bahkan yang maruf dari Imam Ahmad dan dari ahli ilmu sesungguhnya KALAM ALLAH itu tidak di ciptakan [bukan mahluk] dam adapun selainNya itu di ciptakan[mahluk] dan sesungguhnya mereka tidak suka membahas dan memperdalam atas hal hal yg samar dan karena itu imam ahmad menjauhi ahli kalam dan menjauhi memperdalam juga berselisih kecuali \dalam sesuatu yg datang ilmunya [yg qot'i] dan di jelaskan oleh Nbai SAW.

 

Dan telah mashur di kalangan salaf bahwa yg berkata lafad alquran mahluk adalah jahmi,dan yg berkata lafad alquran bukan mahluk itu adalah mubtadi[ahli bidah] yakni kebidahan selain bidah jahmiyah, karena perkataan ini [lafad alquran itu mahluk] memiliki dua makna;pertama mutaaliq malfud;yang taaluq dari sesuatu yg diBACA [Alquran] dengan maksud sifat kalam Allah yang bukan perbuatan hamba dan tdk kuasa di lakukannya, yang kedua adalah melafadkannya,ini adalah perbuatan hamba, dan ketika di katakan alquran mahluk dengan makna yg kedua, maka itu mencakup juga makna yg pertama,dan ini adalah perkataan jahmiyah,dan ketika pun di balik yakni berkata Alquran bukan mahluk,maka ini pun mencakup juga makna yg kedua,maka ini adalah biDah yg lain lagi yakni bidah kaum ittihad; allah/sifat Allah menyatu dgn mahluk,maka jelas perkataan “lafad alquran” ini memiliki makna yg mustarok;berbarengan antara makna talafud;melafAdkan dan makna mutaaliq malfud bih;yg taaluq dengan yg di lafadkan yakni SIFAT kalam Allah,ini berbeda dengan perkataan salaf:  

 

الصوت صوت القارئ ، والكلام كلام الباري

 

;Suara adalah suara yang membaca ,dan perkataan [kalam] adalah kalam Al bari [Allah]

 

maka sesungguhnya suara itu husus dengan perbuatan hamba dan tidak mencakup pada bacaan yang menjadi sebab adanya suara tersebut,berbeda dengan lafad sebagaimana di jelaskan sebelumnya,jika di maksud dengan lafad adalah sesuatu yg taaluq dgn yg dilafadkannya yakni alquran [dengan makna sifat Kalam Allah] dan meyakini bahwa itu di ciptakan maka ia adalah muktazilah karena kalam Allah tidak di ciptakan,tetapi jika maksudnya bahwa suara dan perkataanya itu mahluk,dan bukan apa yg di ucapkan dengannya yakni bukan yg taaluk dgn lafad tersebut [sifat kalam Allah] ,maka tidak apa apa,sebagaimana kita berkata:tinta mahluk yaitu sesuatu yg di pakai menulis alquran,suhuf mahluk,suara manusia itu mahluk,dan kita ketika berbicara itu mahluk,tetapi dengan keyakinan bahwa mutaaliq almalfudz; sesuatu yang taaluq dgn apa yg di baca dari alquran itu bukan mahluk,yaitu kalam Allah yg merupakan salah satu sifat daripada sifatNya. 

 

 

Dan oleh sebab itu Ad dzahabi membenarkan perkataan Al karobisi dan i’tidzar pada Imam Ahmad dengan perkataan beliau dakam siyar alam nubala 12/82:

 

 

ولا ريب أن ما ابتدعه الكرابيسي، وحرره في مسألة التلفظ، وأنه مخلوق هو حق، لكن أباه الامام أحمد لئلا يتذرع به إلى القول بخلق القرآن، فسد الباب، لانك لا تقدر أن تفرز التلفظ من الملفوظ الذي هو كلام الله إلا في ذهنك

 

:“Tidak diragukan, sesuatu bid’ah yang dilakukan Karabisi dan ditulisnya tentang masalah pelafalan Al-Qur’an dan menyatakan bahwa itu makhluk’ hal itu adalah benar, akan tetapi Al-Imam Ahmad menolaknya dengan alasan supaya tidak mengantarkan pada pendapat ”Al-Qur’an [sifat kalam Allah] makhluk,” Maka beliau (Al-Imam Ahmad) menutup pintu itu, karena engkau tidak dapat membedakan (kepada para pendengarmu) antara at-talaffuzh (perbuatanmu dalam melafazkan) dan al-malfuzh (yang di lafazkan) yaitu kalamullah kecuali hanya dalam benakmu sendiri.”

perkataan Imam dzahabi ini benar benar telah membuang kekeliruan dalam masalah ini…

 

 

kesimpulan:

Sesungguhnya ketika seseorang berkata:Pelafazan Alquran adalah mahluk /Alquran adalah mahluk,maka kita tanya:apakah yang di maksud oleh anda adalah perbuatan anda yg berupa gerakan lidah,bibir dan suara yg di dengar?? atau maksud anda adalah sesuatu yang taaluq dengan bacaan anda yakni sifat kalam Allah ??? jika maksudnya yang kedua, yaitu sifat kalam Allah,maka itu bukanlah mahluk. 

 

Maka sesungguhnya perkataan : Lafadz Alquran bukan mahluk dengan sikap menafikan atau menetapkannya”, itu tidak benar,Dan adapun dengan di rinci yaitu seandainya yang di maksud dengan lafad disana adalah talafud:melafadkannya yg merupakan perbuatan hamba,maka benar itu adalah mahluk,karena seorang hamba dan juga perbuatannya itu di ciptakan [mahluk],dan seandainya yang dimaksud dengan perkataan tersebut adalah sesuatu yg taaluq dengan lafad yg di bacanya yaitu Al quran [Kalam Allah] SEBAGAIMANA makna pertama “alquran”yg telah di sebutkan di atas,maka itu bukanlah mahluk,karena kalamNya adalah sifatNya dan sifatNya tidaklah di ciptakan [mahluk],nah rincian ini sesuai dengan isarah Imam Ahmad dalam perkataannya: 

 

من قال : لفظي بالقرآن مخلوق يريد به القرآن فهو جهمي “

 

:Barang siapa berkata:lafadku terhadap Alquran adalah Mahluk, maksudnya adalah Alquran maka ia adalah jahmi.

 

 

Maka perkataan beliau: “maksudnya adalah Alquran”, itu menunjukan bahwa jika seseorang mengatakan lafad Al quran adalah mahluk dan maksud dari perkataan tersebut adalah talafud;melafadkan tex alquran yang mana itu adalah perbuatan hamba,maka orang tersebut bukanlah jahmi…walllaohu a’lam.

 

AL-ASY’ARI MELALUI 7 FASE PEMIKIRAN AQIDAH


.

HATI-HATI KITAB ULAMA MADZHAB IMAM ASY-SYAFI’I DISELEWENGKAN OLEH SEKTE WAHABI ARAB SAUDI

Buku yang atas ini disusun atas selera Sekte Wahabi

Judul Buku : Abul Hasan Al-Asy’ari Imam yang terdzalimi
tebal : 246 Hal
Ukuran : 15,5 x 24

OOO==OOO

Camera 360Buku yang ini disusun atas selera dari para Khawarij

Detail Buku

51 Ijma’ Serat-serat Aqidah Ahlus-Sunnah wal Jama’ah

Penulis : Abul Hasan al Asy’ari; Muh. Dawam Sukardi;
Penerbit : Pustaka Azzam
Subjek : TAUHID/AQIDAH;
Bahasa : INDONESIA
Tahun : 2001
Fisik : 222 hal.; 21 cm.
No Panggil : KK 2X3 ASY s 2001

IMAM AL-ASY’ARI BERMADZHAB IMAM AHMAD BIN HAMBAL

PENERBIT BUKU INI ( DIATAS dan DIATASNYA LAGI ) ADALAH DIBAWAH KUASA ARAB SAUDI – ISINYA MENGIKUTI VERSI KERAJAAN ARAB SAUDI.

APABILA KITA BACA DAN DIFAHAMI , MAKA KITA TIDAK AKAN MARAH TERHADAP KELANCANGAN PARA PEMUKA SEKTE DARI ARAB SAUDI TELAH MENYELEWENGKAN SEJARAH ISLAM , TAPI MALAH  GELI DAN MENGGELIKAN ATAS KETOLOLAN NYA .

=

Supaya lebih semarak kisahnya

Bahwa sesungguhnya Imam al-Asy’ari ini dalam kehidupannya melalui 7 alam dalam menentukan warna Aqidahnya :

1. / Mengikuti Sekte Zamaksyari , karena tidak puas maka pindah  Sekte ke…

2. / Mengikuti Sekte Ibnu Taimiyah , karena tidak puas maka pindah  Sekte ke…

3. /Mengikuti Sekte Zahiriyah , karena tidak puas maka pindah  Sekte ke…

4./ Mengikuti Sekte Abdul Wahab , karena tidak puas maka pindah  Sekte ke…

5. / Mengikuti Sekte Free Masonri , karena tidak puas maka pindah  Sekte ke…

6. / Mengikuti Sekte Abduh , karena tidak puas maka pindah  Sekte ke…

7. / Sekarang Imam Al-Asy’ari lagi StandBy… , lagi tunggu Imam Abdul Wahab muncul lagi di arah matahari tenggelam ( nejed )…karena menurut kepercayaan , bahwa Abdul Wahab itu tidak mati ….tapi menghilang dan satu saat akan muncul kembali bersama dajjal.

Jadi sebenarnya Imam Ai-Asy’ari itu terakhir memilih Madzhabnya Abduh dan kemudian mempelajari kitab Suci Al-Manar Al-Masonry dan bergabung dengan  Sekte Wahhabi/Sekte Salafi.

OOO===OOO

SEJARAH IMAM AL-ASY’ARI YANG SEBENARNYA ADALAH MADZHAB IMAM SYAFI’I , DAPAT DIBACA PADA BUKU YANG DIBAWAH INI

Judul: Madzhab Al-Asy’ari Benarkah Ahlussunnah Wal-Jama’ah?
Penerbit: Khalista
Penulis: Muhammad Idrus Ramli
Tebal: 312 halaman

“ Kalau memang Nahdlatul Ulama mengklaim Mengikuti madzhab Ahlussunnah Wal-Jama’ah , mengapa mengikuti madzhab al-Asy’ari , kok tidak mengikuti madzhab ulama salaf yang saleh saja yang memang benar-benar Ahlussunnah Wal-Jama’ah ? ”

“Apakah dalil-dalil yang menunjukkan bahwa madzhab al-Asy’ari itu Ahlussunnah Wal-Jama’ah atau al- firqah al-najiyah?”

“Mengapa Ahlussunnah Wal-Jama ‘ah hanya mewajibkan mengetahui sifat dua puluh yang wajib bagi Allah? Bukankah dalam al-Asma’al-Husna sendiri, nama-nama dan sifat-sifat Allah berjumlah sembilan puluh sembilan ?”

Tiga pertanyaan menggelitik itu datang pada penulis di forum Seminar.

Pertama, dari peserta yang tampaknya beraliran Salafi.

Kedua, walaupun lebih baik dari pertanyaan sebelumnya , namun juga menunjukkan bahwa pada saat ini, hal-hal yang sebenarnya dianggap sebagai ideologi dan keyakinan di kalangan masyarakat , ternyata seringkali digugat kebenarannya.

Ketiga , tampak semacam gugatan yang bernada filosofis.

Kalau pertanyaan-pertanyaan itu tidak segera dijawab akan memunculkan pertanyaan berantai.

Sebab, kesimpulan yang bisa ditangkap dari pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah bahwa madzhab al-Asy’ari bukan Ahlussunnah Wal-Jama’ah.

Madzhab al-Asy’ari tidak mengikuti ajaran ulama salaf yang saleh , dan pada gilirannya Nahdlatul Ulama bukan Ahlussunnah Wal-Jama’ah? Benarkah…?

Nah, dari berbagai pertanyaan itulah buku ini disusun oleh seorang aktivis Bahtsul Masa’il di lingkungan NU.

Di sini sarat akan kajian sejarah , metodologi , sistematika , profil tokoh -ahli tafsir , hadits , fiqih , teologi dan tashawwuf-, ulasan kitab , kesaksian dan pengakuan para ulama , serta dalil-dalil madzhab al-Asy’ari.

000==000

 http://www.anwarbadruzzaman.com/2013/05/benarkah-al-imam-abu-hasan-al-asyari.html

Oleh Abu Zahrah 

KhUSUS kepada mereka yang JUJUR ingin memahami tentang jawaban daripada tuduhan golongan Wahhabi mengenai al- Imam Abu al-Hassan al- Asy`ari bertaubat dari manhaj yang disusun oleh beliau yang kita ketahui sekarang ini.

Kami sediakan artikel ini agar kekeliruan yang di cetuskan oleh golongan Wahhabi ini dapat di hindarkan.

Artikel ini perlu dibaca hingga tuntas, jika tidak, anda tidak akan faham. Baca perlahan-lahan dan jauhkan membaca dalam keadaan emosi.

Ada artikel yang tersebar di kalangan sebagian pakar, khususnya di kalangan golongan wahhabi yang mengatakan bahwa perjalanan pemikiran al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari melalui tiga fase dalam kehidupan beliau.

( Lihat Mauqif Ibn Taimiyah min al-Asya`irah, Abd al-Rahman bin Saleh al-Mahmud(1995),Maktabah al- Rusyd,Riyadh,hal. 378.)

  • Pertama: Fase ketika al Imam Abu al-Hassan al- Asy`ari mengikuti pemahaman Muktazilah dan menjadi salah satu tokoh Mu’tazilah hingga berusia 40 tahun.
  • Kedua: Fase di mana al Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari keluar dari aliran Mu’tazilah dan merintis madzhab pemikiran teologis ( ilmu akidah ) dengan mengikuti mazhab Ibn Kullab.
  • Ketiga: Fase di mana al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari keluar daripada madzhab yang dirintisnya yaitu mengikuti madzhab Ibn Kullab dan kembali kepada Ahl al-Sunnah Wa al Jama`ah yang mengikut manhaj Salaf al-Salih dengan mengarang sebuah kitab yang berjudul al Ibanah `an Usul al-Diyanah.

 

Berdasarkan hal ini , Sekte Wahhabi/Sekte Salafi membuat kesimpulan bahwa madzhab al-Asy`ari yang berkembang dan diikuti oleh majoritas kaum muslimin hingga saat ini adalah pemikiran al- Imam Abu al- Hassan al-Asy`ari pada fase kedua yaitu mengikuti madzhab Ibn Kullab yang bukan dari pemahaman Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah dan telah dibuang oleh al-Imam al-Asy`ari , dengan kitab terakhir yang ditulis oleh al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari yaitu al-Ibanah `an Usul al-Diyanah.

 

Oleh karena itu , menurut Sekte Wahhabi/Sekte Salafi madzhab al-Asy`ari yang ada sekarang sebenarnya mengikuti madzhab Ibn Kullab yang tidak mengikuti pemahaman Ahl al-Sunnah Wa al- Jama`ah dan tidak mengikuti madzhab al-Asy`ari pada fase ketiga yang asli yaitu Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah.

 

Inilah kenyataan daripada artikel yang direka oleh Sekte Wahhabi/Sekte Salafi dan tuduhan   yang disebar secara menyeluruh oleh mereka pada dewasa ini.

Oleh karena hal itu, artikel yang dibuat oleh Sekte Wahhabi/Sekte Salafi ini sudah tentu mempunyai banyak pendustaan mengenai fakta sejarah dan fakta ilmiah.

Sebelum kita mengkaji artikel di atas satu persatu, ada baiknya kita memperinci terlebih dahulu makna yang tersembunyi ( hidden meaning ) di balik artikel mereka itu. Apabila hal tersebut dikaji , ada tiga makna yang tersembunyi di balik artikel tersebut.

 

Pertama : Perkembangan pemikiran al-Imam Abu al- Hassan al-Asy`ari melalui tiga fase di dalam kehidupannya,1.Mu’tazilah ,2. mengikuti madzhab Ibn Kullab dan terakhir beliau kembali kepada ajaran Ahl al- Sunnah Wa al-Jama`ah. Ini adalah artikel pokok yang dipropagandakan oleh Sekte Wahhabi/Sekte Salafi. Artikel ini mengandung dua artikel  .

 

Kedua : Abdullah bin Sa`id bin Kullab bukan pengikut Ahl al- Sunnah Wa al-Jama`ah.

 

Ketiga : Kitab al-Ibanah `an Usul al- Diyanah merupakan fase terakhir dalam kehidupan al-Imam Abu al- Hassan al-Asy`ari yaitu fase kembalinya al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari kepangkuan ajaran Salaf al-Salih atau Ahl al- Sunnah Wa al-Jama`ah.

 

SANGGAHAN/BANTAHAN.

 

Pertama,Pemikiran al Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari melalui tiga fase?

Benarkah pemikiran al-Imam Abu Hassan al-Asy`ari melaui tiga peringkat perkembangan di dalam kehidupannya?

 

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus mengamati dan mengkaji sejarah kehidupan al- Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari yang ditulis oleh para alim ulama’.

 

Al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari merupakan salah seorang tokoh kaum Muslimin yang sangat masyhur dan mempunyai fakta yang jelas.

 

Beliau bukan tokoh kontroversial dan bukan tokoh yang misteri yaitu perjalanan hidupnya tidak diketahui orang , lebih-lebih lagi berkaitan dengan hal yang amat penting seperti yang kita bicarakan ini.

 

Seandainya kehidupan al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari seperti kenyataan dalam artikel yang di reka oleh Sekte Wahhabi/Sekte Salafi itu , menyatakan bahwa al-Imam Abu al-Hassan al- Asy`ari melalui tiga fasa perkembangan pemikiran , maka sudah tentu para sejarawan akan menyatakannya dan menjelaskannya di dalam buku- buku sejarah.

 

Maklumat mengenai ini juga sudah pasti akan masyhur dan tersebar luas sebagaimana fakta sejarah hanya menyatakan bahwa al-Imam Abu al-Hassan al- Asy`ari hanya bertaubat dan meninggalkan faham Mu’tazilah saja.

 

Semua sejarawan yang menulis biografi al-Imam Abu al-Hassan al- Asy`ari hanya menyatakan kisah naiknya al-Imam Abu al- Hassan al- Asy`ari ke atas mimbar di masjid Jami`Kota Basrah dan berpidato dengan menyatakan bahwa beliau telah keluar daripada faham Mu’tazilah.

 

Di sini kita bertanya , adakah sejarawan yang menyatakan kisah al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari keluar dari pemahaman pemikiran Abdullah bin Sa`id bin Kullab…?…  Sudah tentu jawabannya , tidak ada.

 

Apabila kita menelaah atau meneliti buku-buku sejarah , kita tidak akan mendapatkan fakta atau maklumat yang mengatakan al-Imam Abu al- Hassan al-Asy`ari bertaubat dari ajaran Ibn Kullab baik secara jelas maupun samar.

 

Oleh karena itu , maklumat atau fakta yang kita dapati ialah kesepakatan para sejarawan bahwa setelah al-Imam Abu Hassan al-Asy`ari bertaubat daripada faham Mu’tazilah , beliau kembali kepada ajaran Salaf al-Salih seperti kitab al- Ibanah dan lain-lain yang ditulisnya dalam rangka membela madzhab Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah.

 

Al-Imam Abu Bakr bin Furak berkata : ” Syaikh Abu al-Hassan Ali bin Ismail al-Asy`ari radiyallahu`anhu berpindah daripada madzhab Mu’tazilah kepada madzhab Ahl al- Sunnah Wa al- Jama`ah dan membelanya dengan hujjah-hujjah rasional dan menulis karangan- karangan dalam hal tersebut…”

( Tabyin Kidzb al- Muftari, al-Hafiz Ibn Asakir (1347 H) tahqiq Muhammad Zahid al- Kautsari, Maktabah al-Azhariyyah li at-Turats, cet.1, 1420H, hal 104 ).

 

Sejarawan terkemuka , al-Imam Syamsuddin Ibn Khallikan berkata : ” Abu al-Hassan al-Asy`ari adalah perintis pokok-pokok akidah dan berupaya membela madzhab Ahl al- Sunnah.

 

Pada mulanya Abu al- Hassan adalah seorang Mu’tazilah , kemudian beliau bertaubat dari pandangan tentang keadilan Tuhan dan kemakhlukan al-Quran di masjid Jami` Kota Basrah pada hari Jumaat “.

( Wafayat al -A’yan, al-Imam Ibn Khallikan, Dar Shadir,Beirut, ed. Ihsan Abbas, juz 3, hal. 284 ).

 

Sejarawan al-Hafiz adz-Dzahabi berkata : ” Kami mendapat informasi bahwa Abu al- Hassan adz-Asy`ari bertaubat dari faham Mu’tazilah dan naik ke mimbar di Masjid Jami’ Kota Basrah dengan berkata : Dulu aku berpendapat bahawa al-Quran itu makhluk dan…Sekarang aku bertaubat dan bermaksud membantah terhadap faham  Mu’tazilah “.

( Syiar A`lam al-Nubala, al- Hafidz adz- Dzahabi,Muassasah al-Risalah, Beirut, ed. Syuaib al-Arnauth, 1994, hal. 89).

 

Sejarawan terkemuka , Ibn Khaldun berkata : ” Hingga akhirnya tampil Syaikh Abu al-Hassan al- Asy`ari dan berdebat dengan Sebagian tokoh Mu’tazilah tentang masalah-masalah shalah dan aslah, lalu dia membantah metodologi mereka ( Mu’tazilah ) dan mengikut pendapat Abdullah bin Said bin Kullab , Abu al-Abbas al-Qalanisi dan al-Harith al-Muhasibi daripada kalangan pengikut Salaf dan Ahl al-Sunnah “.

( Ibn Khaldum (2001), al-Muqaddimah, Dar al-Fikr, Beirut, ed. Khalil Syahadah, h. 853 ).

 

Fakta yang dikemukakan oleh Ibn Khaldum tersebut menyimpulkan bahwa setelah al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari keluar daripada faham Mu’tazilah, beliau mengikuti madzhab Abdullah bin Sa`id bin Kullab, al-Qalanisi dan al-Muhasibi yang merupakan pengikut ulama’ Salaf dan Ahl al- Sunnah Wa al Jama`ah.

 

Demikian juga, maklumat atau fakta sejarah yang dinyatakan di dalam buku- buku sejarah yang menulis biografi al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari seperti : Tarikh Baghdad karya al-Hafiz al-Khatib al-Baghdadi , Tabaqat al- Syafi`iyyah al-Kubra karya al- Subki , Syadzarat al-Dzahab karya Ibn al-Imad al-Hanbali , al-Kamil fi al-Tarikh karya Ibn al-Atsir , Tabyin Kizb al-Muftari karya al-Hafiz Ibn Asakir , Tartib al-Madarik karya al- Hafiz al-Qadhi Iyadh , Tabaqat al-Syafi`iyyah karya al-Asnawi , al- Dibaj al-Muadzahhab karya Ibn Farhun , Mir`at al-Janan karya al- Yafi`I dan lain-lain ,  semunya sepakat bahwa setelah al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari keluar dari faham Mu’tazilah , beliau kembali kepada madzhab Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah yang mengikuti metodologi Salaf.

 

Disamping itu , seandainya al-Imam Abu Hassan al-Asy`ari ini melalui tiga peringkat aliran pemikiran , maka sudah tentu hal tersebut akan diketahui dan dikutip oleh murid-murid dan para pengikutnya karena mereka semua adalah orang yang paling dekat dengan al-Imam Abu al- Hassan al-Asy`ari dan orang yang melakukan kajian tentang pemikiran dan sejarah perjalanan hidupnya.

 

Oleh karena  itu sudah semestinya mereka akan lebih mengetahui daripada orang lain yang bukan pengikutnya , lebih- lebih lagi melibatkan tokoh besar yaitu al-Imam Abu al-Hassan al- Asy`ari yang pasti menjadi buah bibir pelajar dan para alim ulama’.

 

Maka dari itu jelaslah , bahwa ternyata selepas kita merujuk kepada kenyataan murid-murid dan para pengikut al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari , kita tidak akan menemui fakta sejarah yang menyatakan bahwa al-Imam Abu al-Hassan telah melalui tiga fasa pemikiran yang di dakwa oleh Sekte Wahhabi/Sekte Salafi ????!!!.

 

Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari dan para pengikutnya bersepakat bahwa al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari telah meninggalkan faham Mu’tazilah dan beliau berpindah kepada Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah seperti yang diikuti oleh al-Harith al-Muhasibi , Ibn Kullab , al Qalanisi , al-Karabisi dan lain-lain.

 

Apabila kita mengkaji karya-karya para alim ulama’ yang mengikuti dan pendukung madzhab al-Asy`ari seperti karya-karya yang dikarang oleh al-Qadhi Abu Bakar al- Baqillani , al-Syaikh Abu Bakr bin Furak , Abu Bakr al-Qaffal al-Syasyi , Abu Ishaq al-Syirazi , al-Hafiz al-Baihaqi dan lain-lain.

 

Kita semua tidak akan menemukan satu fakta pun yang menyatakan bahwa al-Imam Abu al-Hassan al- Asy`ari meninggalkan madzhab yang dihidupkan kembali olehnya yaitu Ahl al- Sunnah Wa al-Jama`ah , sehingga tidak rasional apabila Sekte Wahhabi/Sekte Salafi dakwaan mengatakan al-Imam Abu al- Hassan al- Asy`ari telah meninggalkan madzhabnya tanpa diketahui oleh para murid- muridnya dan pendukungnya.

 

APAKAH WAHABI YG SALAH MENGARTIKAN AQIDAH SALAF ATAU MAYORITAS ULAMA YG KETEMU SALAF LANGSUNG YG SALAH MEMAHAMI PENDAPAT 2 SALAF?? …(  inilah ketololan Sekte Wahhabi/Sekte Salafi ).

 

Tapi Yang nyata ( menurut mereka ) , bahwa seluruh ulama salaf yang ingin selamat , wajib mengikuti aqidahnya Ibnu Taimiyah sesuai dengan sejarah Sekte Wahhabi/Sekte Salafi.

 

Ini adalah kenyataan yang tidak masuk akal dan dusta sama sekali yang jauh dari kebenaran.

 

Sekte Wahhabi/Sekte Salafi menyatakan bahwa al-Imam Abu al- Hassan al-Asy`ari meninggalkan madzhab yang dirintiskan olehnya bersandarkan metodologi al- Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari di dalam kitabnya al- Ibanah `an Usul al-Diyanah dan sebagian kitab-kitab lainnya yang mengikuti metodologi tafwidh berkaitan sifat-sifat Allah di dalam al-Quran dan al-Sunnah.

 

Metodologi tafwidh ini adalah metodologi majoriti ulama’- ulama’ Salaf al-Salih.

 

Berdasarkan hal ini , al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari dianggap menyalahi atau meninggalkan metodologi Ibn Kullab yang tidak mengikuti metodologi salaf sebagaimana yang di tuduhkan oleh Sekte Wahhabi/Sekte Salafi ini.

 

Dari sini lahirlah sebuah pertanyaan, apakah isi kitab al- Ibanah yang di klaim sebagai madzhab Salaf bertentangan dengan metodologi Ibn Kullab , atau dengan kata lain , adakah Ibn Kullab bukan pengikut madzhab Salaf seperti yang ditulis oleh al- Imam Abu al- Hassan al-Asy`ari di dalam kitab al-Ibanah…???…

 

Pertanyaan di atas membawa kepada kita untuk mengkaji kenyataan berikutnya.

 

KEDUA,

IBN KULLAB BUKAN ULAMA’ SALAF DAN AHL AL- SUNNAH WA AL- JAMA`AH …???…

 

Setelah al-Imam Abu al-Hassan al- Asy`ari meninggalkan faham Muktazilah , dia mengikuti metodologi Abdullah bin Sa`id bin Kullab al-Qaththan al-Tamimi.

 

Artikel tersebut telah menjadi kesepakatan bagi kita dengan kelompok yang mengatakan bahwa pemikiran al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari melalui tiga fase tetapi mereka berbeda dengan kita , karena kita mengatakan bahwa metodologi Ibn Kullab sebenarnya sama dengan metodologi Salaf , karena Ibn Kullab sendiri termasuk dalam kalangan tokoh ulama’ Ahl al- Sunnah Wa al-Jama`ah yang mengikuti metodologi Salaf.

 

Hal ini bisa dilihat dengan memperhatikan pernyataan para pakar berikut ini.

Al-Imam Tajuddin al-Subki telah berkata : Bagaimanapun Ibn Kullab termasuk Ahl al Sunnah… Aku melihat al-Imam Dhiyauddin al- Khatib ,  ayah al-Imam Fakhruddin al-Razi , menyebutkan Abdullah bin Said bin Kullab di dalam akhir kitabnya Ghayat al-Maram fi Ilm al-Kalam , berkata :  Di antara teologi Ahl al-Sunnah pada masa khalifah al-Makmun adalah Abdullah bin Said al-Tamimi yang telah mengalahkan Mu’tazilah di dalam majlis al-Makmun dan memalukan mereka dengan hujjah-hujjahnya

( Al-Subki (t.t), Tabaqat al-Syafi`eyyah al-Kubra, Dar Ihya’ al-Kutub, Beirut, ed Abdul Fattah Muhammad dan Mahmud al-Tanahi, juz 2, hal. 300 ).

 

Al-Hafiz Ibn Asakir alDimasyqi telah berkata : Aku pernah membaca tulisan Ali ibn Baqa’ al- Warraq , ahli hadith dari Mesir ,  berupa risalah yang ditulis oleh Abu Muhammad Abdullah ibn Abi Zaid al-Qairawani ,  seorang ahli fiqih madzhab al-Maliki.

 

Dia adalah seorang tokoh terkemuka madzhab al-Imam Malik di Maghrib ( Moroko pen ) pada zamannya.

 

Risalah itu ditujukan kepada Ali ibn Ahmad ibn Ismail al- Baghdadi al- Mu’tazili sebagai jawapan terhadap risalah yang ditulisnya kepada kalangan pengikut madzhab Maliki di Qairawan karena telah memasukkan pandangan-pandangan Muktazilah.

 

Risalah tersebut sangat panjang sekali , dan sebagian jawaban yang ditulis oleh Ibn Abi Zaid kepada ali bin Ahmad adalah sebagaimana berikut :  ” Engkau telah menisbahkan Ibn Kullab kepada bid`ah ,  padahal engkau tidak pernah menceritakan suatu pendapat dari Ibn Kullab yang membuktikan dia memang layak disebut ahli bid`ah.

Dan kami sama sekali tidak mengetahui adanya orang ( ulama’- pen ) yang menisbahkan Ibn Kullab kepada bid`ah.

Justru maklumat yang kami terima , Ibn Kullab adalah pengikut sunnah ( ahl al- Sunnah pen ) yang melakukan bantahan terhadap Jahmiyyah dan pengikut ahli bid`ah lainnya , dia adalah Abdullah ibn Sa’id ibn Kullab ( al- Qaththan, wafat 240H pen ).

( Tabyin Kidzb al-Muftari oleh al- Hafiz Ibn Asakir ( 1347 H ) tahqiq Muhammad Zahid al- Kautsari,Maktabah al- Azhariyyah li at- Turats, cet.1, 1420 H, hal 298 299 ).

 

Data sejarah yang disampaikan oleh al-Hafiz Ibn Asakir di atas memuatkan kesaksian yang sangat penting dari ulama’ sekaliber al-Imam Ibn Abi Zaid al-Qairawani terhadap Ibn Kullab , bahawa ia termasuk pengikut Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah dan bukan pengikut ahli bid`ah.

 

Al-Hafiz adz-Dzahabi telah berkata : Ibn Kullab adalah seorang tokoh ahli kalam ( teologi – ilmu berkenaan dengan ketuhanan ) daerah Bashrah pada zamannya .

Selanjutnya adz- Dzahabi berkata : Ibn Kullab adalah ahli kalam yang paling dekat kepada Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah bahkan ia adalah juru debat mereka (terhadap Mu’tazilah pen).

Ia mempunyai karya diantaranya al-Shifat , Khalq al-Af’al dan al-Radd ala al- Mu’tazilah.

(Lihat Siyar A’lam al- Nubala , Maktabah al-Shafa , cet.1, 1424 H, juz 7, hal 453).

 

Di dalam kitab Siyar A’lam an- Nubala yang ditahqiqkan oleh Syeikh Syuaib al-Arnauth , pernyataan adz- Dzahabi tersebut dipertegas oleh al-Syeikh Syuaib al- Arnauth dengan komentarnya mengatakan : Ibn Kullab adalah pemimpin dan rujukan Ahl al- Sunnah pada masanya . Al-Imam al-Haramain menyebutkan di dalam kitabnya al-Irsyad bahwa dia termasuk sahabat kami ( madzhab al- Asy`ari).

(Siyar A’lam an-Nubala cetakan Muassasah al- Risalah (1994), Beirut, ed. Syuaib al-Arnauth, juz 11, hal. 175).

 

Demikian pula al-Hafiz Ibn Hajar al- `Asqalani menyatakan bahwa Ibn Kullab sebagai pengikut Salaf dalam hal meninggalkan takwil terhadap ayat-ayat dan hadits-hadits mutasyabihat yang berkaitan dengan sifat Allah. Mereka juga disebut dengan golongan mufawwidhah ( yang melakukan tafwidh ).

( Ibn Hajar al- `Asqalani (t.t.), Lisan al-Mizan, Dar, al-Fikr, Beirut, juz 3, hal. 291 ).

 

Dari paparan di atas dapatlah disimpulkan bahwa al-Imam Ibn Kullab termasuk dalam kalangan ulama’ Ahl al-Sunnah Wa al- Jama`ah dan konsisten dengan metodologi Salaf al- Salih dalam pokok-pokok akidah dan keimanan . Mazhabnya menjadi inspirasi al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari ( perintis mazhab al- Asy`ari ).

 

Di sini mungkin ada yang bertanya apakah metodologi Ibn Kullah hanya diikuti oleh al-Imam al- Asy`ari …???…

 

Jawabannya adalah tidak.

 

Metodologi Ibn Kullab tidak hanya diikuti oleh al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari saja , akan tetapi diikuti juga oleh ulama’ besar seperti al-Imam al-Bukhariyaitu pengarang Sahih al-Bukhari , kitab hadits yang menduduki peringkat terbaik dalam segi kesahihannya.

 

Dala konteks ini , al-Hafiz Ibn Hajar al-`Asqalani telah berkata :  ” Al-Bukhari dalam semua yang disajikannya berkaitan dengan penafsiran lafaz-lafaz yang gharib ( aneh ) , mengutipnya dari pakar- pakar bidang tersebut seperti Abu Ubaidah , al-Nahzar bin Syumail , al-Farra’ dan lain-lain.

Adapun kajian-kajian fiqh , sebagian besar diambilnya dari al-Syafi’i , Abu Ubaid dan semuanya. Sedangkan permasalahan-permasalahan teologi ( ilmu kalam ) , sebagian besar diambilnya dari al-Karrabisi , Ibn Kullab dan sesamanya ” .

( Ibn Hajar al-`Asqalani (t.t), Syarh Sahih al-Bukhari ,Salafiyyah,  Cairo , juz 1,hal. 293 ).

 

Pernyataan al-Hafiz Ibn Hajar al- `Asqalani tersebut menyimpulkan bahwa al- Imam Abdullah bin Said bin Kullab adalah Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah yang mengikuti metodologi ulama’ Salaf ,  oleh karena itu dia juga diikuti oleh al- Imam al-Bukhari , Abu al-Hassan al- Asy`ari dan lain-lain.

 

Di sini mungkin ada yang bertanya , apabila Ibn Kullab termasuk salah seorang tokoh ulama’ Salaf dan mengikuti Ahl al- Sunnah Wa al-Jama`ah , beliau ( Ibn Kullab ) juga diikuti oleh banyak ulama’ seperti al-Imam al-Bukhari dan lain- lain , lalu mengapa Ibn Kullab dituduh menyimpang dari metodologi Salaf atau Ahl al- Sunnah Wa al-Jama`ah…??…

 

ATAU WAHABI YG TDK TAU MAKSUD UCAPAN SALAF? MANA PENGAKUAN PARA ULAMA TRHADAP FMAHAMAN WAHABI??

 

Hal tersebut sebenarnya datang daripada satu persoalan , yaitu tentang pendapat apakah bacaan seseorang terhadap al-Quran termasuk makhluk atau tidak.

 

Al- Imam Ahmad bin Hanbal dan pengikutnya berpandangan untuk tidak menetapkan apakah bacaan seseorang terhadap al-Quran itu makhluk atau bukan.

 

Menurut al-Imam Ahmad bin Hanbal , pandangan bahwa bacaan seseorang terhadap al-Quran termasuk makhluk adalah bid`ah.

 

Sementara al-Karabisi , Ibn Kullab , al-Muhasibi , al-Qalanisi , al-Bukhari , Muslim dan lain-lain berpandangan tegas , bahwa bacaan seseorang terhadap al-Quran adalah makhluk.

 

Berangkat dari perbedaan pandangan tersebut akhirnya kelompok al-Imam Ahmad bin Hanbal menganggap kelompok Ibn Kullab termasuk ahli bid`ah , meskipun sebenarnya kebenaran dalam hal tersebut berada di pihak Ibn Kullab dan kelompoknya.

 

Dalam konteks ini al-Hafiz adz- Dzahabi telah berkata : ” Tidak diragukan lagi bahwa pandangan yang dibuat dan ditegaskan oleh al-Karabisi tentang masalah pelafazan al- Quran ( oleh pembacanya ) dan bahwa hal itu adalah makhluk , adalah pendapat yang benar . Akan tetapi al-Imam Ahmad enggan membicarakannya karena khuatir membawa kepada pandangan kemakhlukan al-Quran .  Sehingga al-Imam Ahmad lebih cenderung menutup pintu tersebut rapat- rapat ” .

( Al-Dzahabi (1994), Siyar A`lam al- Nubala, Muassasah al- Risalah, Beirut, ed, Syuaib al- Arnauth, juz 12, hal. 82 dan juga juz 11, hal. 510 ).

 

Lebih jelas baca di Meluruskan keslahfahaman perkataan alquran bukan mahluk

 

Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa Ibn Kullab bukanlah ulama’ yang menyimpang dari metodologi Salaf yang mengikuti fahaman Ahl al-Sunnah Wa al Jama`ah , sehingga madzhabnya juga diikuti oleh al-Imam al Bukhari , al-Asy`ari dan lain- lain.

 

Sekarang apabila demikian adanya , dari mana asal- usul pendapat bahwa al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari telah meninggalkan madzhab dan pendapat-pendapatnya yang mengikuti Ibn Kullab ..?..

 

Pertanyaan ini mengajak kita untuk mengkaji artikel yang terakhir berikut ini.

 

KETIGA,

KITAB AL-IBANAH AN USUL AL-DIYANAH

 

Kitab al-Ibanah `an Usul al- Diyanah di dakwa sebagai hujjah bagi golongan yang mengatakan bahwa pemikiran al-Imam Abu al- Hassan al-Asy`ari melalui tiga fasa perkembangan di dalam kehidupannya.

 

Memang harus diakui , bahwa al-Imam Abu al- Hassan al-Asy`ari di dalam kitab al-Ibanah dan sebagian kitab-kitab yang lain juga dinisbahkan terhadapnya mengikuti metodologi yang berbeda dengan kitab-kitab yang pernah dikarang olehnya.

 

Di dalam kitab al-Ibanah , al-Imam Abu al-Hassan al Asy`ari mengikuti metodologi tafwidh makna yang diikuti oleh majoritas ulama’ Salaf berkaitan dengan ayat-ayat mutasyabihat.

 

Berdasarkan hal ini , sebagian golongan memahami bahwa al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari sebenarnya telah meninggalkan madzhabnya yang kedua yaitu madzhab Ibn Kullab ,  dan kini beralih kepada metodologi Salaf.

 

Di atas telah kami paparkan , bahwa Ibn Kullab bukanlah ahli agama yang menyalahi ulama’ Salaf.

 

Bahkan dia termasuk dalam kalangan ulama’ Salaf dan konsisten mengikuti metodologi tafwidh sebagaimana yang dijelaskan oleh al-Hafiz Ibn Hajar al-`Asqalani di dalam kitabnya Lisan al-Mizan.

 

HANYA SAJA Sekte Wahhabi/Sekte Salafi TIDAK MEMAHAMI MAKSUD TAFWID!!  karena telah terikat oleh faham Ibnu Taimiyah , ATAU MEREKA LEBIH TAHU METODE SALAF DARIPADA ULAMA YG KETEMU LANGSUNG DENGAN SALAF??

 

Paparan di atas sebenarnya telah cukup untuk membatalkan klaim yang mengatakan bahwa al-Imam Abu al-Hassan al- Asy`ari meninggalkan metodologi Ibn Kullab dan berpindah ke metodologi Salaf , kerana Ibn Kullab sendiri termasuk dalam kalangan ulama’ Salaf yang konsisten dengan metodologi Salaf.

 

Oleh sebab itu , bagaimana dengan kitab al-Ibanah yang menjadi dasar kepada kelompok yang mengatakan bahawa al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari telah meninggalkan pendapatnya yang mengikuti Ibn Kullab…?…

 

Di sini , dapatlah kita ketahui bahwa kitab al-Ibanah yang asli telah membatalkan kenyataan Sekte Wahhabi/Sekte Salafi yang mengatakan bahwa al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari telah meninggalkan pendapatnya yang mengikuti Ibn Kullab , kerana kitab al-Ibanah di tulis untuk mengikuti metodologi Ibn Kullab , sehingga tidak mungkin dakwaan yang mengatakan bahwa al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari telah meninggalkan pendapat tersebut.

 

Ada beberapa fakta sejarah yang mengatakan bahwa al-Imam Abu al-Hassan al- Asy`ari menulis kitab al-Ibanah dengan mengikut metodologi Ibn Kullab , kenyataan ini disebut oleh al-Hafiz Ibn Hajar al-`Asqalani di dalam kitabnya Lisan al-Mizan yaitu : ” Metodologi Ibn Kullab diikuti oleh al-Asy`ari di dalam kitab al- Ibanah”.

(Ibn Hajar al-`Asqalani (t.t.) , Lisan al-Mizan , Dar, al-Fikr, Beirut, juz 3, hal. 291).

 

Pernayataan al-Hafiz Ibn Hajar al- `Asqalani ini menambah keyakinan kita bahwa Ibn Kullab konsisten dengan metodologi Salaf al-Salih dan termasuk ulama’mereka , karena kitab al-Ibanah yang dikarang oleh al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari pada akhir hayatnya dan mengikuti metodologi Salaf , juga mengikuti metodologi Ibn Kullab.

 

Hal ini membawa kepada kesimpulan bahwa metodologi Salaf dan metodologi Ibn Kullab ADALAH SAMA , dan itulah yang diikuti oleh al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari setelah keluar dari Muktazilah.

 

Dengan demikian , kenyataan al- Hafiz Ibn Hajar al-`Asqalani tersebut juga telah membatalkan dakwaan Sekte Wahhabi/Sekte Salafi melalui kenyataan mereka yang mengatakan bahwa pemikiran al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari mengalami tiga fase perkembangan.

 

Bahkan kenyataan tersebut dapat menguatkan lagi kenyataan yang menyatakan bahwa pemikiran al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari hanya mengalami dua fase perkembangan saja yaitu fase ketika mengikuti faham Muktazilah dan fase kembalinya al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari kepada metodologi Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah yang sebenar sebagaimana yang diikuti oleh Ibn Kullab , al-Muhasibi , al-Qalanisi , al- Karabisi , al-Bukhari , Muslim , Abu Tsaur , al-Tabari dan lain-lain.

 

Dalam fase kedua ini al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari mengarang kitab al-Ibanah.

 

Dalil lain yang menguatkan lagi bahawa kitab al-Ibanah yang dikarang oleh al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari sesuai dengan mengikut metodologi Ibn Kullab adalah fakta sejarah , karena al- Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari pernah menunjukkan kitab al- Ibanah tersebut kepada sebagian ulama’ Hanabilah di Baghdad yang sangat menitik beratkan tentang fakta , mereka telah menolak kitab al-Ibanah tersebut karena tidak setuju terhadap metodologi al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari.

 

Di dalam hal ini , al-Hafiz adz-Dzahabi telah berkata :  ” Ketika al-Asy`ari datang ke Baghdad , dia mendatangi Abu Muhammad al Barbahari berkata : ” Aku telah membantah al Jubba’i . Aku telah membantah Majusi . Aku telah membantah Kristian “ . Abu Muhammad menjawab , ” Aku tidak mengerti maksud perkataanmu dan aku tidak mengenal kecuali apa yang dikatakan oleh al-Imam Ahmad “.

Kemudian al-Asy`ari pergi dan menulis kitab al-Ibanah .

Ternyata al-Barbahari tetap tidak menerima al-Asy`ari ” .

(Al-Dzahabi (1994), Siyar A`lam al-Nubala, Muassasah al-Risalah, Beirut, ed,Syuaib al-Arnauth, juz 12, hal. 82 dan juga juz 15, hal. 90 dan Cetakan Maktabah al-Shafâ, cet.1, 1424H, vol.9, hal.372;Ibn Abi Ya’la al-Farra’(t.t.) Tabaqat al- Hanabilah, Salafiyyah, Cairo, ed. Hamid al-Faqi, juz 2, hal. 18).

 

Fakta sejarah di atas menyimpulkan , bahwa al- Barbahari dari sebagian kelompok Hanabilah tidak menerima konsep yang ditawarkan oleh al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari.

 

Kemudian al- Imam Abu al- Hassan al-Asy`ari menulis kitab al-Ibanah dan diajukan kepada al-Barbahari , ternyata ditolaknya juga.

 

Hal ini menjadi bukti bahwa al- Ibanah yang asli ditulis oleh al-Imam Abu al-Hassan al- Asy`ari tidak sama dengan kitab al-Ibanah yang kini diikuti oleh Sekte Wahhabi/Sekte Salafi…. AYO ADA APA YA????

 

Kitab al-Ibanah yang asli sebenarnya mengikut metodologi Ibn Kullab.

 

Perlu diketahui pula , bahwa sebelum fase al-Imam Abu al- Hassan al-Asy`ari , kelompok Hanabilah yang cenderung kepada penelitian fakta itu telah menolak metodologi yang ditawarkan oleh Ibn Kullab , al-Bukhari , Muslim , Abu Tsaur , ath-Thabari dan lain-lain berkaitan dengan MASALAH BACAAN SESEORANG TERHADAP AL- QURAN APAKAH TERMASUK MAKHLUK ATAU BUKAN.

 

Sekarang , apabila kitab al- Ibanah yang asli sesuai dengan metodologi Ibn Kullab , lalu bagaimana dengan kitab al-Ibanah yang tersebar dewasa ini yang menjadi dasar kaum Wahhabi untuk mendakwa bahwa al- Asy`ari telah membuang madzhabnya?

 

Berdasarkan kajian yang mendalam , para pakar telah membuat kesimpulan bahwa kitab al-Ibanah yang dinisbahkan kepada al-Imam Abu al-Hassan al-Asy`ari tersebut telah tersebar dewasa ini penuh dengan tahrif/ distoris , pengurangan dan penambahan.

 

Terutama kitab al- Ibanah yang diterbitkan di Saudi Arabia dan ditahqiqkan oleh Sekte Wahhabi/Sekte Salafi !!! Dan untuk lebih panjang lebar tentang penjelasan ini , baca dalam risalah yang berbahasa arab , nama risalahnya adalah شبهة الأطوار الثلاثة لأبى الحسن الأشعرى التي يروج لها الوهابية  dan bisa di download di 4shared ana,klik:  شبهة

00-00

Al-Quran – Makhluk

http://www.anwarbadruzzaman.com/2013/04/meluruskan-kesalah-fahaman-ungkapanal.html

000==000

 

Ulama Besar Ahlussunnah Syaikh Said Ramadhan Al Buthi Tewas di Bom


ledakan di masjid syiria

MADINATULIMAN (Damaskus) – Ledakan terjadi di sebuah masjid di ibukota Suriah pada hari Kamis (21/3) dan menewaskan sedikitnya 42 orang, termasuk seorang ulama besar Ahlussunnah wal Jama’ah al-’Alim al-Allamah al-Syaikh Dr. Said Ramadhan Al Buthi rahimahullah dan cucu beliau. Ledakan tersebut juga melukai sekitar 84 orang lainnya.

Syaikh Said Ramadhan al Buthi, ulama besar berumur 84 tahun ini tewas oleh ledakan bom bunuh diri didalam masjid yang dilakukan oleh kelompok teroris ekstrimis salafy ketika mengisi Ta’lim ba’da Maghrib di Masjid al-Iman di Kota Damaskus, Suriah.

Al bouthi tewas di bom extrimis khawarij

Biografi Syaikh Said Ramadhan Al Buthi

Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi adalah salah seorang tokoh ulama dunia yang menjadi sumber rujukan masalah-masalah keagamaan.

Ketika kritikan terhadap tradisi Mau­lid dan dzikir berjama’ah, misalnya, di­lon­tarkan para pengklaim “muslim se­jati”, Al-Buthi hadir menjawab kritikan itu. Tak tanggung-tanggung, dalil yang di­gunakan sama persis dengan dalil yang diambil para pengkritik itu.

Pada sisi lainnya, ia juga mengkritik dengan tajam pola pikir Barat. Ujaran-ujar­annya membuat stereotip yang ne­gatif tentang Islam dan ketimuran pun luruh.

Siapakah tokoh ulama kontemporer yang begitu alim ini? Sa’id Ramadhan Al-Buthi lahir pada tahun 1929 di Desa Jilka, Pulau Buthan (Ibn Umar), sebuah kampung yang terletak di bagian utara perbatasan antara Turki dan Irak. Ia berasal dari suku Kurdi, yang hidup da­lam berbagai tekanan kekuasaan Arab Irak selama berabad-abad.

Bersama ayahnya, Syaikh Mula Ramadhan, dan anggota keluarganya yang lain, Al-Buthi hijrah ke Damaskus pada saat umurnya baru empat tahun. Ayahnya adalah sosok yang amat dikaguminya.

Pendidikan sang ayah sangat mem­be­kas dalam sisi kehidupan intelektual­nya. Ayahnya memang dikenal sebagai seorang ulama besar di Damaskus. Bu­kan saja pandai mengajar murid-murid dan masyarakat di kota Damaskus, Syaikh Mula juga sosok ayah yang pe­nuh perhatian dan tanggung jawab bagi pendidikan anak-anaknya.

Dalam karyanya yang mengupas biografi kehidupan sang ayah, Al-Fiqh al-Kamilah li Hayah asy-Syaikh Mula Al-Buthi Min Wiladatihi Ila Wafatihi, Syaikh Al-Buthi mengurai awal perkembangan Syaikh Mula dari masa kanak-kanak hingga masa remaja saat turut berpe­rang dalam Perang Dunia Pertama. Ke­mudian menceritakan pernikahan ayah­nya, berangkat haji, hingga alasan ber­hijrah ke Damaskus, yang di kemudian hari menjadi awal kehidupan baru bagi keluarga asal Kurdi itu.

Masih dalam karyanya ini, Al-Buthi menceritakan kesibukan ayahnya dalam belajar dan mengajar, menjadi imam dan berdakwah, pola pendidikan yang dite­rapkannya bagi anak-anaknya, ibadah dan kezuhudannya, kecintaannya ke­pada orang-orang shalih yang masih hi­dup maupun yang telah wafat, hubungan baik ayahnya dengan para ulama Da­maskus di masa itu, seperti Syaikh Abu Al-Khayr Al-Madani, Syaikh Badruddin Al-Hasani, Syaikh Ibrahim Al-Gha­layayni, Syaikh Hasan Jabnakah, dan lainnya, yang menjadi mata rantai tabarruk bagi Al-Buthi. Begitu besarnya atsar (pengaruh) dan kecintaan sang ayah, hingga Al-Buthi begitu terpacu untuk menulis karyanya tersebut.

Dari Damaskus ke Kairo

Sa’id Ramadhan Al-Buthi muda me­nyelesaikan pendidikan menengahnya di Institut At-Tawjih Al-Islami di Damas­kus. Kemudian pada tahun 1953 ia me­ninggalkan Damaskus untuk menuju Me­sir demi melanjutkan studinya di Univer­sitas Al-Azhar. Dalam tempo dua tahun, ia berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana S1 di bidang syari’ah. Pada ta­hun berikutnya di universitas yang sama, ia mengambil kuliah di Fakultas Bahasa Arab hingga lulus dalam waktu yang cu­kup singkat dengan sangat memuaskan dan mendapat izin mengajar bahasa Arab.

Kemahiran Al-Buthi dalam bahasa Arab tak diragukan. Sekalipun bahasa ini adalah bahasa ibu orang-orang Arab seperti dirinya, sebagaimana bahasa-bahasa terkemuka dalam khazanah per­adaban dunia, ada orang-orang yang me­mang dikenal kepakarannya dalam bidang bahasa, dan Al-Buthi adalah sa­lah satunya yang menguasai bahasa ibu­nya tersebut. Di samping itu, kecende­rungan kepada bahasa dan budaya mem­buatnya senang untuk menekuni ba­hasa selain bahasa Arab, seperti ba­hasa Turki, Kurdi, bahkan bahasa Ing­gris.

Selulusnya dari Al-Azhar, Al-Buthi kembali ke Damaskus. Ia pun diminta untuk membantu mengajar di Fakultas Syari’ah pada tahun 1960, hingga ber­turut-turut menduduki jabatan struktural, dimulai dari pengajar tetap, menjadi wa­kil dekan, hingga menjadi dekan di fakul­tas tersebut pada tahun 1960.

Lantaran keluasan pengetahuannya, ia dipercaya untuk memimpin sebuah lembaga penelitian theologi dan agama-agama di universitas bergengsi di Timur Tengah itu.

Tak lama kemudian, Al-Buthi diutus pimpinan rektorat kampusnya untuk melanjutkan program doktoral bidang ushul syari’ah di Al-Azhar hingga lulus dan berhak mendapatkan gelar doktor di bidang ilmu-ilmu syari’ah.

Aktivitasnya sangat padat. Ia aktif mengikuti berbagai seminar dan konfe­rensi tingkat dunia di berbagai negara di Timur Tengah, Amerika, maupun Eropa. Hingga saat ini ia masih menjabat salah seorang anggota di lembaga pene­li­tian kebudayaan Islam Kerajaan Yordania, anggota Majelis Tinggi Pena­sihat Yayasan Thabah Abu Dhabi, dan anggota di Majelis Tinggi Senat di Universitas Oxford Inggris.

Penulis yang Sangat Produktif

Al-Buthi adalah seorang penulis yang sangat produktif. Karyanya menca­pai lebih dari 60 buah, meliputi bidang syari’ah, sastra, filsafat, sosial, masalah-masalah kebudayaan, dan lain-lain. Be­berapa karyanya yang dapat disebutkan di sini, antara lain, Al-Mar‘ah Bayn Thughyan an-Nizham al-Gharbiyy wa Latha‘if at-Tasyri’ ar-Rabbaniyy, Al-Islam wa al-‘Ashr, Awrubah min at-Tiqniyyah ila ar-Ruhaniyyah: Musykilah al-Jisr al-Maqthu’, Barnamij Dirasah Qur‘aniyyah, Syakhshiyyat Istawqafatni, Syarh wa Tahlil Al-Hikam Al-‘Atha‘iyah, Kubra al-Yaqiniyyat al-Kauniyyah, Hadzihi Musy­ki­latuhum, Wa Hadzihi Musykilatuna, Kalimat fi Munasabat, Musyawarat Ijtima’iyyah min Hishad al-Internet, Ma’a an-Nas Musyawarat wa Fatawa, Manhaj al-Hadharah al-Insaniyyah fi Al-Qur‘an, Hadza Ma Qultuhu Amama Ba’dh ar-Ru‘asa‘ wa al-Muluk, Yughalithunaka Idz Yaqulun, Min al-Fikr wa al-Qalb, La Ya‘tihi al-Bathil, Fiqh as-Sirah, Al-Hubb fi al-Qur‘an wa Dawr al-Hubb fi Hayah al-Insan, Al-Islam Maladz Kull al-Muj­tama’at al-Insaniyyah, Azh-Zhullamiyyun wa an-Nuraniyyun.

Gaya bahasa Al-Buthi istimewa dan menarik. Tulisannya proporsional de­ngan tema-tema yang diusungnya. Tu­lisannya tidak melenceng dan keluar dari akar permasalahan dan kaya akan sum­ber-sumber rujukan, terutama dari sum­ber-sumber rujukan yang juga diambil lawan-lawan debatnya.

Akan tetapi bahasanya terkadang ti­dak bisa dipahami dengan mudah oleh ka­langan bukan pelajar, disebabkan un­sur falsafah dan manthiq, yang memang ke­ahliannya. Oleh karena itu, majelis dan ha­laqah yang diasuhnya di berbagai tempat di keramaian kota Damaskus menjadi sarana untuk memahami karya-karyanya.

Walau demikian, sebagaimana di­tuturkan pecinta Al-Buthi, di samping mam­pu membedah logika, kata-kata Al-Buthi juga sangat menyentuh, sehingga mampu membuat pembacanya berurai air mata.

Beda mazhab tetap satu - imam adalah syekh al bouthi

Pembela Madzhab yang Empat

Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi mengasuh halaqah pengajian di masjid Damaskus dan beberapa masjid lainnya di seputar kota Damaskus, yang diasuhnya hampir tiap hari. Majelis yang diampunya selalu dihadiri ribuan ja­ma’ah, laki-laki dan perempuan.

Selain mengajar di berbagai hala­qah, ia juga aktif menulis di berbagai me­dia massa tentang tema-tema keislaman dan hukum yang pelik, di antaranya ber­bagai pertanyaan yang diajukan kepada­nya oleh para pembaca. Ia juga menga­suh acara-acara dialog keislaman di be­berapa stasiun televisi dan radio di Timur Tengah, seperti di Iqra‘ Channel dan Ar-Risalah Channel.

Dalam hal pemikiran, Al-Buthi diang­gap sebagai tokoh ulama Ahlussunnah wal Jama’ah yang gencar membela kon­sep-konsep Madzhab yang Empat dan aqidah Asy’ariyah, Maturidiyah, Al-Gha­zali, dan lain-lain, dari rongrongan pemi­kiran dan pengkafiran sebahagian go­longan yang menganggap hanya mere­ka­lah yang benar dalam hal agama. Ber­bekal pengetahuannya yang amat men­dalam dan diakui berbagai pihak, ia me­re­dam berbagai permasalahan yang tim­bul dengan fatwa-fatwanya yang ber­ta­bur hujjah dari sumber yang sama yang dijadikan dalil para lawan debatnya. Ujar­an-ujaran Al-Buthi juga menyejuk­kan bagi yang benar-benar ingin mema­hami pemikirannya.

Al-Buthi bukan hanya seorang yang pandai di bidang syari’ah dan bahasa, ia juga dikenal sebagai ulama Sunni yang multidisipliner. Ia dikenal alim da­lam ilmu filsafat dan aqidah, hafizh Qur’an, mengua­sai ulumul Qur’an dan ulu­mul hadits de­ngan cermat. Sewaktu-waktu ia melaku­kan kritik atas pemikiran filsafat materia­lisme Barat, di sisi lain ia juga melakukan pembelaan atas ajaran dan pemikiran madzhab fiqih dan aqidah Ahlussunnah, terutama terhadap tuding­an kelompok yang menisbahkan dirinya sebagai go­longan Salafiyah dan Waha­biyah.

Dalam hal yang disebut terakhir, ia menulis dua karya yang meng-counter ber­bagai tudingan dan klaim-klaim me­reka, yakni kitab berjudul Al-Lamadz­habiyyah Akbar Bid’ah Tuhaddid asy-Syari’ah al-Islamiyyah dan kitab As-Salafiyyah Marhalah Zamaniyyah Muba­rakah wa Laysat Madzhab Islamiyy. Be­gitu pula hubungannya dengan gerakan-gerakan propaganda keislaman seperti Ikhwanul Muslimin Suriah yang tampak kurang baik, tentunya dengan berbagai perbedaan pandangan, yang menjadi­kan ketidaksetujuannya itu tampak da­lam sebuah karya yang berjudul Al-Jihad fi al-Islam, yang terbit pada tahun 1993.

Tawassuth

Di era 1990-an, Al-Buthi telah me­nam­pakkan intelektualitasnya dengan menggunakan sarana media informasi, seperti televisi dan radio. Ini demi meng­usung pemikiran-pemikirannya yang ta­wassuth (menengah) di tengah gerakan-gerakan fundamentalisme Islam yang bermunculan.

Statement-statement beliau yang dianggap pro pemerintah, pada dasarnya hanya sebagai tanggung jawab beliau akan keadaan yang terjadi. Beliau berbicara atas nama syari’at agama bukan kepentingan pribadi, pemerintah ataupun oposisi. (*/)

http://generasisalaf.wordpress.com/2013/03/22/ulama-besar-ahlussunnah-syaikh-said-ramadhan-al-buthi-tewas-di-bom/

Mengusap Wajah setelah berdo’a


Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

.

1. Dalam masalah mengusap wajah, para ulama berbeda pendapat. Penyebabnya karena para ahli hadits berbeda pendapat dalam menetapkan kekuatan dalilnya. Dan selama suatu masalah masih merupakan khilafiyah di kalangan ulama, setiap muslim berhak untuk memilih mana yang sekiranya lebih dipilihnya.

Sebagian dari mereka mendhaifkan hadits tentang mengusap wajah setelah berdoa, seperti Syaikh Nasiruddin Al-Albani dan lain-lainnya. Bahkan beliau sampai mengatakan bid’ah. Di antanya adalah hadits-hadits ini:

فإذا فرغتم فامسحوا بها وجوهكم

Apabila kalian telah selesai (berdoa), maka usapkan tangan ke wajah kalian.

Beliau mengatakan bahwa lafadz di atas adalah syahid yang tidak benar dan mungkar karena ada di antara para perawinya ada yang muttaham fil wadh’i. Abu Zar’ah juga mengatakan bahwa hadit ini mungkar dan dikhawatirkan tidak ada asalnya. Demikian disebutkan dalam As-Silsilah As-Shahihah jilid 2 halaman 146.

Sedangkan ulama lainnya yang sama-sama mendha’ifkan hadits tentang itu, tidak sampai mengatakan bid’ah. Di antara mereka ada Ibnu Taimiyah, Al-’Izz ibnu Abdissalam dan lainnya. Lantaran hadits yang dianggap dha’if masih bisa digunakan asal untuk masalah fadhailul a’mal (keutamaan amal).

Ibnu Taimiyah berkata, “Sedangkan mengusap wajah dengan dua tangan, hanya ada dasar satu atau dua hadits yang tidak bisa dijadikan hujjah.” (Lihat Majmu’ Fatawa jilid 22 halaman 519).

Al-’Izz ibnu Abdissalam berkata, ” Tidak ada orang yang mengusap tangan ke wajahnya setelah berdoa kecuali orang yang jahil.”

عن عمر بن الخطاب أنه قال:‏ كان رسول اللَّه صلى الله عليه وسلم إذا رفع يديه فى الدعاء لم يحطهما حتى يمسح بهما وجهه.‏ رواه الترمذى

Dari Umar bin Al-Khattab ra. berkata, “Rasulullah SAW bila mengangkat kedua tangannya untuk berdoa, tidak melepaskannya kecuali setelah mengusapkan keduanya ke wajahnya.” (HR Tirmizy)

Perawi hadits ini yaitu Imam At-Tirmizy mengatakan bahwa hadits ini gharib, maksudnya perawinya hanya satu orang saja.

Hadits yang sama namun lewat jalur Ibnu Abbas ra. dengan esensi yang sama, diriwayatkan oleh Abu Daud dalam kitab Sunannya. Namun Imam An-Nawawi mengatakan bahwa hadits ini bahwa dalam isnadnya, setiap orang ada kelemahannya. (Lihat Al-Azkar An-Nawawi halaman 399).

Di pihak lain, sebagian ulama tetap bisa menerima masyru’iyah mengusap tangan ke wajah, meski masing-masing haditsnya dhaif. namun saling menguatkan satu dengan lainnya. Selain telah menjadi umumnya pendapat ulama bahwa bila hadits dha’if digunakan untuk ha-hal yang bersifat keutamaan, masih bisa dijadikan hujjah, asalkan kedha’ifannya tidak terlalu parah.

Maka Imam Ibnu Hajar Al-’Asqalani dalam kitabnya Subulus-Salam mengatakan bahwa meski hadits-hadits tentang mengusap wajah itu masing-masing dhaif, namun satu sama lain saling menguatkan. Sehingga derajatnya naik menjadi hasan. (Lihat Subulus-salam jiid 4 halaman 399).

Kesimpulan masalah ini memang para ulama berbeda pendapat dalam masalah hukumnya. Ada yang menjadikannya mustahab (sunnah), tetapi ada juga yang meninggalkannya.

2. Shalat yang ditunda pelaksaannya sebenarnya tetap sah, meski nilainya berbeda. Asalkan dikerjakan masih di dalam waktunya sebagaimana ditetapkan dalam syariah.

Namun juga masih harus dilihat kasus dan sebabnya. Mengapa suatu shalat ditunda pelaksanaannya. Khusus untuk shalat Isya’, ada dalil yang malah menganjurkan untuk diakhirkan.

Namun tidak benar kalau dipahami bahwa shalat yang dikerjakan bukan di awal waktu lalu tidak sah atau tidak ada pahalanya di sisi Allah. Shalat itu tetap sah dan tetap ada pahalanya, namun berbeda dengan bila dikerjakan di awal waktu.

3. Sejajar antara imam dan makmum dibenarkan, asalkan makmum tidak melewati imam. Sebaiknya agak ke belakang sedikit untuk memastikan makmum tidak melanggar batas imam.

4. Yang biasanya dijadikan ‘illat para ulama adalah karena bawang itu bila dimakan akan membuat mulut berbau dan mengganggu pergaulan, sehingga hukumnya makruh. Tapi bila tidak sampai mengganggu pergaulan, misalnya setelah itu menyikat gigi atau tidak bertemu dengan banyak orang, tidak ada masalah tentunya.

Wallahu a’lam bishshawab wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc.

(eramuslim)

Imam menghadap Makmum setelah salam


 

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Apa yang seringkali anda saksikan tentang imam shalat yang berputar posisi menghadap ke jamaah atau ke kanan atau ke kiri, semua memang ada dalil haditsnya. Semua merupakan rekaman para shahabat ketika ikut shalat berjamaah bersama Rasulullah SAW.

Beberapa di antara hadits yang menyebutkan tentang perbuatan Rasulullah SAW ketik

a selesai shalat kemudian menghadapkan wajahnya kepada makmum adalah hadits berikut ini:

.

عن سمرة رضي الله عنه قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا صلى صلاة أقبل علينا بوجهه – رواه البخاري

Dari Samurah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bila selesai shalat, beliau menghadapkan wajahnya kepada kami.

(HR. Bukhari)

Terkadang beliau tidak sepenuhnya menghadap kepada makmum, melainkan hanya berputar 90 ke arah kanan, sehingga makmum ada di sisi kanan dan kiblat ada di sisi kiri beliau. Sebagaimana disebutkan di dalam hadits berikut ini.

عن أنس رضي الله عنه قال: أكثر ما رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم ينصرف عن يمينه – رواه مسلم

Dari Anas ra berkata,”Seringkali aku melihat Rasulullah SAW berputar ke kanan (setelah shalat).”

(HR. Muslim)

Namun terkadang beliau malah menghadap ke arah kiri 90 derajat, sehingga makmum ada di sisi kiri dan kiblat ada di sisi kanan, sebagaimana juga ada dalilnya berikut ini.

عن قصيبة بن هلب عن أبيه أنه صلى مع النبي صلى الله عليه وسلم فكان ينصرف عن شقيه – رواه أبو داود وابن ماجة والترمذي وقال حيث حسن

Dari Qushaibah bin Hulb dari ayahnya bahwa dia shalat bersama Nabi SAW, beliau berputar ke dua arah (kanan dan kiri). (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, At-Tirmizy)

Bahkan ada hadits yang menyebutkan beliau menghadap ke kanan dan ke kiri.

عن ابن مسعود رضي الله عنه قال: أكثر ما رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم ينصرف عن شمله – رواه البخاري ومسلم

Dari Ibnu Mas’ud ra berkata,”Seringkali aku melihat Rasulullah SAW berputar ke kiri (setelah shalat).”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Imam An-Nawawi dalam kitab Syarah Muslim menyebutkan bahwa dengan adanya beberapa dalil di atas, bisa disimpulkan bahwa memang terkadang beliau SAW selesai shalat menghadap ke belakang, terkadang menghadap ke samping kanan dan terkadang menghadap ke samping kiri.

Karena demikian rupa Rasulullah SAW melakukannya, maka buat kita hal itu menjadi teladan dan ikutan dalam ibadah shalat. Meski pun demikian, dari segi hukum tidak sampai kepada wajib, tetapi sunnah dan anjuran.

Jarak Antara Salam dan Bergeser

Adapun pertanyaan anda tentang berapa lama jarak antara salam dengan memutar tubuh menghadap ke belakang atau ke samping, kita juga menemukan beberapa hadits yang berbicara tentang itu. Yaitu sekedar beliau membaca istighfar tiga kali, lalu membaca lafadz Allahumma antassalam dan seterusnya, kemudian beliau segera merubah posisi atau bergeser atau berputar.

عن ثوبان كان رسول الله إذا انصرف من صلاته استغفر ثلاثا وقال: اللهم أنت السلام… – رواه مسلم

Dari Tsauban bahwa Rasulullah SAW bila selesai dari shalatnya, beliau bersitighfar tiga kali kemudian mengucapkan: Allahumma antas-salam.” (HR. Muslim)

عن عائشة كان رسول الله إذا سلم لم يقعد إلا مقدار ما يقول: اللهم أنت السلام ومنك السلام تباركت ياذا الجلال والإكرام – رواه مسلم

Dari Aisyah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bila salam (dari shalat) tidak duduk kecuali sekedar membaca: Allahumma antassalam wa minkassalam tabarakta ya dzal jalali wal ikram.

(HR Muslim)

Hikmah Bergeser
Beberapa ulama mencoba menuliskan sisi lain dari apa yang beliau SAW lakukan. Di antaranya adalah apa yang ditulis oleh Ibn Qudamah di dalam kitab Al-Mughni jilid 1 halaman 561. Beliau mengatakan bahwa berubahnya arah duduk imam adalah untuk memastikan telah selesainya shalat itu bagi imam. Artinya agar makmum bisa memastikan bahwa imam telah benar-benar selesai dari shalatnya.

Sebab dengan mengubah arah duduk, imam akan meninggalkan arah kiblat, dan hal itu jelas akan membatalkan shalatnya.

Ada juga yang mengatakan bahwa dengan menggeser arah duduk ke belakang atau ke samping, berarti imam sudah yakin 100% bahwa rangkaian shalatnya sudah selesai seluruhnya dan terputus. Tidak sah lagi bila tiba-tiba teringat mau sujud sahwi atau kurang satu rakaat. Demikian disebutkan di dalam kitab Hasyiyatu Ibnu Qasim ‘alar-Raudhah jilid 12 halaman 354-355.

Makmum Tidak Bergeser Kecuali Setelah Imam Bergeser

Apa yang anda perhatikan bahwa para makmum berpindah duduk setelah imam mengubah posisi, sesungguhnya berangkat dari sebuah hadits yang melarang makmum bergeser sebelum imam berubah posisi.

عن أنس قال صلى بنا رسول الله ذات يوم فلما قضى الصلاة أثبل علينا بوجهه فقال: أيها الناس إني إمامكم فلا تسبقوني بالركو ولا بالسجود ولا بالقيام ولا بالانصراف – رواه مسلم

Dari Anas ra berkata bahwa suatu hari Rasulullah SAW shalat mengimami kami, ketika selesai shalat beliau menghadapkan wajah kepada kami dan bersabda,”Wahai manusia, aku adalah imam kalian. Janganlah kalian mendahului aku dalam ruku,sujud, berdiri atau berpindah.”

(HR. Muslim)

Dengan landasan hadits ini maka di dalam kitab kitab Fatawa-nya jilid 22 halaman 505 Imam Ibnu Taymiyah mengatakan hendaknya makmum tidak berdiri pergi meninggalkan tempat shalat kecuali setelah imam berpindah atau menggeser arah duduknya dari arah kiblat.

Sehingga wajar bila anda menyaksikan bahwa para makmum berpindah posisi setelah imam berputar arah. Semua berangkat dari hadits ini.

Wallahu a’lam bishshawab wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Ahmad Sarwat, Lc

(eramuslim)

Shalat Jum’at vs Shalat Ied – apanya yang gugur


Oleh: Ahmad Sarwat, Lc

warnaislam.com – Masalah ini memang sering ditanyakan ke saya, yaitu masihkah kita wajib shalat Jumat kalau pagi harinya kita sudah shalat Ied? Atau dengan kata lain, apakah shalat Idul Adha yang jatuh di hari Jumat, akan menggugurkan kewajiban shalat Jumat di siang harinya.

Jawabnya, masalah ini adalah masalah yang telah disepakati oleh jumhur ulama, namun ada satu mazhab, yaitu al-hanabilah, yang punya pandangan berbeda.

 1. Pendapat Jumhur Ulama

Jumhur ulama, [ selain Al-hanabilah ], meski ada beberapa dalil hadits, sepakat bahwa shalat Jum at tetap wajib dilakukan, meski hari itu adalah hari raya, baik Idul fithri maupun Idul Adha.

Mereka yang secara sengaja meninggalkan shalat Jumat di hari itu, selain berdosa juga wajib melaksanakan shalat Dzhuhur.

Sebab dalam pandangan mereka, shalat Jumat tetap wajib hukumnya.

Dalam pandangan mereka, kekuatan dalil-dalil qath’i atas kewajiban untuk melaksanakan shalat Jumat di hari raya tidak bisa dikalahkan oleh dalil tentang bolehnya tidak shalat Jumat.

Sebab kewajiban shalat Jumat didasari oleh Al-Quran, As-sunnah dan ijma’ seluruh umat Islam.

.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kalian kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

(QS. Al-Jumu’ah : 9)

Ada banyak hadits nabawi yang menegaskan kewajiban shalat jumat. Diantaranya adalah hadits berikut ini :

.

وَعَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ  قَالَ مَمْلُوكٌ وَامْرَأَةٌ وَصَبِيٌّ وَمَرِيضٌ  رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ

Dari Thariq bin Syihab radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Shalat Jumat itu adalah kewajiban bagi setiap muslim dengan berjamaah, kecuali (tidak diwajibkan) atas 4 orang. [1] Budak, [2] Wanita, [3] Anak kecil dan [4] Orang sakit.”

(HR. Abu Daud)

Hadits ini menegaskan bahwa yang menggugurkan kewajiban shalat Jumat hanya hal-hal tersebut. Dan tidak ada dijelaskan bahwa shalat idul fitri dan idul adha berfungsi menggugurkan shalat jumat.

.

مَنْ تَرَكَ َثلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا طبَعَ الله عَلىَ قَلْبِهِ

Dari Abi Al-Ja`d Adh-dhamiri radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Orang yang meninggalkan 3 kali shalat Jumat karena lalai, Allah akan menutup hatinya.”

(HR. Abu Daud, Tirmizy, Nasai, Ibnu Majah dan Ahmad)

Selain itu, ancaman buat orang yang meninggalan shalat jumat secara sengaja sangat berat. Bentuknya sampai disebut-sebut bahwa Allah akan menutup hati seseorang, sehingga tidak bisa menerima hidayah dari Allah SWT.

.

لَيَنتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ الجُمُعَةَ أَوْ لَيَخْتَمَنَّ الله عَلَى قُلُوْبِهِمْ  ثُمَّ لَيَكُوْنَنَّ مِنَ الغَافِلِيْنَ

Dari Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa mereka mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda di atas mimbar,”Hendaklah orang-orang berhenti dari meninggalkan shalat Jumat atau Allah akan menutup hati mereka dari hidayah sehingga mereka menjadi orang-orang yang lupa”.

(HR. Muslim, An-Nasai dan Ahmad)

Berdasarkan dalil-dalil qath’i di atas, meninggalkan shalat jum’at termasuk dosa-dosa besar.

.

Al-Hafidz Abu Al-Fadhl Iyadh bin Musa bin Iyadh dalam kitabnya Ikmalul Mu’lim Bifawaidi Muslim   berkata:  “Ini menjadi hujjah yang jelas akan kewajiban pelaksanaan shalat Jum’at dan merupakan ibadah Fardhu, karena siksaan, ancaman, penutupan dan penguncian hati itu ditujukan bagi dosa-dosa besar (yang dilakukan), sedang yang dimaksud dengan menutupi di sini adalah menghalangi orang tersebut untuk mendapatkan hidayah sehingga tidak bisa mengetahu mana yang baik dan mana yang munkar”.

Sedangkan dalil yang membolehkan sebagian shahabat untuk tidak shalat Jumat dalam kasus itu hanya didasari oleh beberapa hadits, yang sebagiannya tidak shahih, atau setidaknya bermasalah.

Lagi pula kalau dalam kasus itu ada keringanan dari Rasululah SAW kepada sebagian shahabat, ternyata Rasulullah SAW sendiri tetap melaksanakan shalat Jumat.

Kalau Rasulullah SAW sendiri tetap melaksanakannya, kenapa harus mengikuti apa yang dilakukan oleh sebagian shahabat. Bukankah kita ini shalat mengikuti Rasulullah?

a. Pendapat Al-hanafiyah dan Al-Malikiyah

Mewakili pendapat jumhur ulama, para ulama Hanafi dan Maliki berpendapat bahwa suatu shalat tidaklah bisa menggantikan shalat yang lainnya dan sesungguhnya setiap dari shalat itu tetap dituntut untuk dilakukan.

Suatu shalat tidaklah bisa menggantikan suatu shalat lainnya bahkan tidak diperbolehkan menggabungkan (jama’) diantara keduanya. Sesungguhnya jama’ adalah keringanan khusus terhadap shalat zhuhur dan ashar atau maghrib dan isya.

b. Pendapat As-Syafi’iyah

Mewakili juga kalangan jumhur ulama, mazhab Asy-Syafi’iyah mengatakan bahwa kebolehan tidak shalat Jumat itu hanya berlaku khusus buat penduduk suatu kampung yang jumlahnya tidak mencukupi angka 40 orang.

Selain itu, orang yang tinggal di tempat terpencil jauh dari peradaban dan tidak mendengar adzan jumat, juga tidak wajib shalat Jumat. tapi mereka yang mendengar suara adzan dari negeri lain yang disana dilaksanakan shalat jum’at maka hendaklah berangkat untuk shalat jum’at.

Dalil mereka adalah perkataan Utsman didalam khutbahnya,” Wahai manusia sesungguhnya hari kalian ini telah bersatu dua hari raya (jum’at dan id, pen). Maka barangsiapa dari penduduk al ‘Aliyah—Nawawi mengatakan : ia adalah daerah dekat Madinah dari sebelah timur—yang ingin shalat jum’at bersama kami maka shalatlah dan barangsiapa yang ingin beranjak (tidak shalat jum’at) maka lakukanlah.

2. Pendapat Al-Hanabilah

Mazhab ini menyimpulkan bahwa shalat Jumat gugur apabila pada pagi harinya seseorang telah melaksanakan shalat ‘Ied.

Dalil yang mereka kemukakan ada beberapa hadits, antara lain :

.

أن زيد بن أرقم شهد مع الرسول ـ صلى الله عليه وسلم ـ عيدين اجتمعا فصلى العيد أول النهار ثم رخص في الجمعة وقال: ” من شاء أن يجمع فليجمع” في إسناده مجهول فهو حديث ضعيف.

Bahwa Zaid bin Arqam menyaksikan bersama Rasulullah SAW dua hari raya (Ied dan Jumat), beliau shalat Ied di pagi hari kemudian memberikan keringanan untuk tidak shalat Jumat dan bersabda,” Siapa yang mau menggabungkan silahkan.”

(HR. Ahmad Abu Daud Ibnu Majah dan An-Nasai)

Hadits ini isnadnya majhul dan merupakan hadits yang dhaif (lemah).

.

عن أبي هريرة أنه صلى الله عليه وسلم قال: “قد اجتمع في يومكم هذا عيدان؛ فمن شاء أجزأه من الجمعة وإنا مُجَمّعُون” رواه أبو داود

Dari Abu Hurairah RA bahwa Nabi saw bersabda,”Sungguh telah bersatu dua hari raya pada hari kalian. Maka barangsiapa yang ingin menjadikannya pengganti (shalat) jum’at. Sesungguhnya kami menggabungkannya.”

 (HR. Abu Daud)

Terdapat catatan didalam sanadnya. Sementara Ahmad bin Hambal membenarkan bahwa hadits ini mursal, yaitu tidak terdapat sahabat di dalamnya.

Mazhab Al-Hanabilah mengatakan bahwa orang yang melaksanakan shalat id maka tidak lagi ada kewajiban atasnya shalat jum’at. Namun pandangan ini tetap mewajibkan seorang imam untuk tetap melaksanakan shalat Jumat, jika terdapat jumlah orang yang cukup untuk sahnya suatu shalat jum’at. Adapun jika tidak terdapat jumlah yang memadai maka tidak diwajibkan untuk shalat jum’at.

Kesimpulan :

1. Kebolehan tidak shalat Jumat lantaran jatuh pada hari raya Idul Fithr atau Idul Adha adalah pendapat satu mazhab yaitu mazhab Imam Ahmad. Selebihnya, mayoritas ulama, seperti mazhab Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah dan Asy-Syafi’iyah, tetap mewajibkan shalat Jumat.

2. Seandainya ada saudara kita yang kelihatan cenderung kepada pendapat Al-Hanabilah yang menganggap shalat Jumat telah gugur, kita perlu menghormati hal itu sebagai sebuah pendapat. Beda pendapat itu bukan berarti kita harus bermusuhan kepada mereka.

3. Pendapat mayoritas ulama termasuk di dalamnya Asy-Syafi’iyah yang tetap mewajibkan shalat Jumat, menurut pandangan saya -wallahu a’lam- lebih kuat, selain karena pendapat mayoritas ulama, juga karena beberapa alasan :

a. Dalil tentang wajibnya shalat Jumat adalah dalil yang bersifat Qath’i, didukung oleh Quran, Sunnah yang shahih dan ijma’ seluruh umat Islam sepanjang 14 abad.

b. Dalil tentang bolehnya tidak shalat Jumat adalah dalil yang hanya didasari oleh beberapa hadits saja.

c. Bila ada dua kelompok dalil yang bertentangan, maka kebiasaan para ulama adalah mencari titik temu keduanya. Dan dalam pandangan saya, titik temunya adalah bahwa yang diberikan keringanan untuk tidak shalat Jumat adalah mereka yang tinggal di luar kota Madinah. Dimana pada dasarnya, di luar momentum hari Raya sekalipun, mereka memang sudah tidak wajib shalat Jumat.

Dan karena pada hari raya mereka masuk ke kota dan ikut shalat Id, maka kalau siangnya mereka tidak mau ikut shalat Jumat, tentu tidak mengapa. Karena mereka itu pada hakikatnya bukan termasuk orang yang muqim di kota Madinah. Mereka adalah penduduk bawadi (tempat yang tidak dihuni manusia).

Sedangkan kita yang memang penduduk yang bermukim di tempat yang dihuni manusia, sejak awal memang sudah wajib untuk melaksanakan shalat Jumat. Sehingga kalau dalil-dali kebolehan tidak shalat Jumat di atas mau dipakai untuk kita, ada perbedaan konteks.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

AlBani – Shalat Jum’at vs Shalat Ied


Fatwa Syaikh AlBani dalam Kitab Al Ajwibah An Nafi’ah

.

ظاهر حديث زيد بن أرقم عند أحمد وأبي داود والنسائي وابن ماجه بلفظ:

“أنه صلى الله عليه وسلم صلى العيد ثم رخص في الجمعة فقال: “من شاء أن يصلي فليصل”. يدل على أن الجمعة تصير بعد صلاة العيد رخصة لكل الناس فإن تركها

الناس جميعا فقد عملوا بالرخصة وإن فعلها بعضهم فقد استحق الأجر وليست بواجبة عليه من غير فرق بين الإمام وغيره
وهذا الحديث قد صححه ابن المديني وحسنه النووي. وقال ابن الجوزي:
هو أصح ما في الباب
وأخرج أبو داود والنسائي والحاكم عن وهب بن كيسان قال:
اجتمع عيدان على عهد ابن الزبير فأخر الخروج حتى تعالى النهار ثم خرج فخطب فأطال الخطبة ثم نزل فصلى ولم يصل الناس يومئذ الجمعة فذكر ذلك لابن عباس رضي الله عنهما فقال: أصاب السنة.
ورجاله رجال الصحيح.
وأخرجه أيضا أبو داود عن عطاء بنحو ما قال وهب ابن كيسان ورجاله رجال الصحيح
وجميع ما ذكرناه يدل على أن الجمعة بعد العيد رخصة لكل أحد وقد تركها ابن الزبير في أيام خلافته كما تقدم ولم ينكر عليه الصحابة ذلك.

zahir hadits Zaid bin Arqam dalam riwayat Ahmad, ABu Daud, An ansa;i, Ibnu Majah dengan lafaz:

“Bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa Sallam shalat id pada hari jumat dan dia memberikan keringanan untuk shalat jumat.” Dia bersabda: “barangsiapa yang mau silahkan dia shalat (jumat).”

Ini menunjukkan bahwa shalat jumat setelah shalat id telah menjadi keringanan bagi semua manusia.
seandainya semua manusia meninggalkannya, maka mereka telah mengamalkan rukhshah (dispensasi). jika sebagainnya ada yang melaksanakannya maka dia berhak mendapatkan pahala, dan tidak wajib baginya untuk tanpa adanya perbedaan dengan imam dan lainnya.

hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan dihasankan oleh an nawawi. dan Ibnul Jauzi mengatakan dalam bab ini, inilah hadits paling shahih.

Abu Daud, An nasali, dan Al hakim meriwayatkan dari Wahb bin kaisan: katanya:

Telah bertepatan dua hari raya (Jumat dan hari raya) di masa Ibnu Zubair, dia berlambat-lambat keluar, sehingga matahari meninggi. Di ketika matahari telah tinggi, dia pergi keluar ke mushala lalu berkhutbah, kemudian turun dari mimbar lalu shalat. Dan dia tidak shalat untuk orang ramai pada hari Jumat itu (dia tidak mengadakan shalat Jumat lagi). Saya terangkan yang demikian ini kepada Ibnu Abbas. Ibnu Abbas berkata: Perbuatannya itu sesuai dengan sunnah.”

rijal (perawi) hadits ini adalah perawi hadits shahih.

Abu Daud juga meriwayatkan dari Atha’ hadits yang seperti Wahb bin Kaisan, dan rijalnya juga rijal hadits shahih.

Semua hadits yang kami (Syaikh Al Albani) sebutkan ini menunjukkan bahwa shalat jumat setelah shalat id merupakan rukhshah (dispensasi) bagi semua arang. Ibnu Zubeir pernah meninggalkan shalat jumat pada saat dia menjadi khalifah sebagaimana penjelasan yang lalau dan tidak ada sahabat nabi yang mengingkarinya.”

Syakh Al Albani, Al Ajwibah An Nafi’ah, Hal. 86-88. Cet. 1, 1420H – 2000M. Maktabatul Ma’arif

o==+==o

Ustadz Ahmad Sarwat, Lc  mengomentari :

Pendapat Al-Hanabilah

Mazhab ini menyimpulkan bahwa shalat Jumat gugur apabila pada pagi harinya seseorang telah melaksanakan shalat ‘Ied.

Dalil yang mereka kemukakan ada beberapa hadits, antara lain :

أن زيد بن أرقم شهد مع الرسول ـ صلى الله عليه وسلم ـ عيدين اجتمعا فصلى العيد أول النهار ثم رخص في الجمعة وقال: ” من شاء أن يجمع فليجمع” في إسناده مجهول فهو حديث ضعيف.

Bahwa Zaid bin Arqam menyaksikan bersama Rasulullah SAW dua hari raya (Ied dan Jumat), beliau shalat Ied di pagi hari kemudian memberikan keringanan untuk tidak shalat Jumat dan bersabda,”Siapa yang mau menggabungkan silahkan. (HR. Ahmad Abu Daud Ibnu Majah dan An-Nasai)

Hadits ini isnadnya majhul dan merupakan hadits yang dhaif (lemah).

عن أبي هريرة أنه صلى الله عليه وسلم قال: “قد اجتمع في يومكم هذا عيدان؛ فمن شاء أجزأه من الجمعة وإنا مُجَمّعُون” رواه أبو داود

Dari Abu Huraiah RA bahwa Nabi saw bersabda,”Sungguh telah bersatu dua hari raya pada hari kalian. Maka barangsiapa yang ingin menjadikannya pengganti (shalat) jum’at. Sesungguhnya kami menggabungkannya.”(HR. Abu Daud)

Terdapat catatan didalam sanadnya. Sementara Ahmad bin Hambal membenarkan bahwa hadits ini mursal, yaitu tidak terdapat sahabat di dalamnya.

Mazhab Al-Hanabilah mengatakan bahwa orang yang melaksanakan shalat id maka tidak lagi ada kewajiban atasnya shalat jum’at. Namun pandangan ini tetap mewajibkan seorang imam untuk tetap melaksanakan shalat Jumat, jika terdapat jumlah orang yang cukup untuk sahnya suatu shalat jum’at. Adapun jika tidak terdapat jumlah yang memadai maka tidak diwajibkan untuk shalat jum’at.

Kesimpulan :

1. Kebolehan tidak shalat Jumat lantaran jatuh pada hari raya Idul Fithr atau Idul Adha adalah pendapat satu mazhab yaitu mazhab Imam Ahmad. Selebihnya, mayoritas ulama, seperti mazhab Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah dan Asy-Syafi’iyah, tetap mewajibkan shalat Jumat.

2. Seandainya ada saudara kita yang kelihatan cenderung kepada pendapat Al-Hanabilah yang menganggap shalat Jumat telah gugur, kita perlu menghormati hal itu sebagai sebuah pendapat. Beda pendapat itu bukan berarti kita harus bermusuhan kepada mereka.

3. Pendapat mayoritas ulama termasuk di dalamnya Asy-Syafi’iyah yang tetap mewajibkan shalat Jumat, menurut pandangan saya -wallahu a’lam- lebih kuat, selain karena pendapat mayoritas ulama, juga karena beberapa alasan :

a. Dalil tentang wajibnya shalat Jumat adalah dalil yang bersifat Qath’i, didukung oleh Quran, Sunnah yang shahih dan ijma’ seluruh umat Islam sepanjang 14 abad.

b. Dalil tentang bolehnya tidak shalat Jumat adalah dalil yang hanya didasari oleh beberapa hadits saja.

c. Bila ada dua kelompok dalil yang bertentangan, maka kebiasaan para ulama adalah mencari titik temu keduanya. Dan dalam pandangan saya, titik temunya adalah bahwa yang diberikan keringanan untuk tidak shalat Jumat adalah mereka yang tinggal di luar kota Madinah. Dimana pada dasarnya, di luar momentum hari Raya sekalipun, mereka memang sudah tidak wajib shalat Jumat.

Dan karena pada hari raya mereka masuk ke kota dan ikut shalat Id, maka kalau siangnya mereka tidak mau ikut shalat Jumat, tentu tidak mengapa. Karena mereka itu pada hakikatnya bukan termasuk orang yang muqim di kota Madinah. Mereka adalah penduduk bawadi (tempat yang tidak dihuni manusia).

Sedangkan kita yang memang penduduk yang bermukim di tempat yang dihuni manusia, sejak awal memang sudah wajib untuk melaksanakan shalat Jumat. Sehingga kalau dalil-dali kebolehan tidak shalat Jumat di atas mau dipakai untuk kita, ada perbedaan konteks.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc